• Profil

    Pesantren Terpadu Daru Ulil Albab

  • INFORMASI PENDAFTARAN SANTRI BARU TAHUN 2019

  • Wakaf Tunai

    Gerakan Wakaf Sejuta Umat Ulul Albab

  • Mujahadah

    Jadwal Mujahadah

  • A. Muqaddimah.
    Umat Islam, khususnya para pemimpin, pada tingkatan dan bidang apapun memiliki figur contoh dan teladan yang sempurna dalam menjalani kehidupan, baik secara pribadi maupun sebagai 'profesional' yaitu seorang anak manusia yang dilahirkan di Padang pasir Saudi Arabia, di kota tua Makkah Al Mukaromah, yang bernama Muhammad bin Abdullah.
    Beliau adalah seorang suami, juga bapak, juga kakek yang sukses merintis karir dan perjuangan mulai dari kerja buruh menggembala kambing orang kaya, buruh menyirami kebun kurma dan anggur, menjualkan dagangan saudagar kaya dan menjadi menejer kafilah dagang ke luar negeri. Sampai akhirnya menjadi seorang nabi, Rasulullah, yang otomatis sebagai kepala agama dan kepala negara sekaligus, yang jaya dan berkuasa penuh. Akhirnya menjadi manusia yang paling berpengaruh di alam semesta.
    Fenomena umat Islam pada dasa Warsa sekarang ini adalah masa yang sangat memprihatinkan, umat terpecah belah dan saling menghancurkan, di antara firqah-firqah dan aliran-aliran politik dan pemikiran. Di berbagai negara Islam yang seharusnya menjadi negara yang aman dan nyaman sebagai mana adanya di zaman kejayaan. Justru kondisinya sangat pilu dan memprihatikan.
    Kondisi seperti ini menimbulkan pertanyaan dalam benak kita, bagaimana peran para pemimpin kita, tidak bisakah mereka kembali membawakan keamanan dan kenyamanan untuk bangsa dan negaranya ? Apakah mereka tidak bisa lagi memprofil diri sebagai mana figur 'sempurna' tuntunan umat Islam yang sempurna lagi bisa menyempurnakan, yaitu Rasulullah Muhammad Saw.
    Tulisan ini sebagai usaha untuk menampilkan gambar figur pemberi solusi untuk semua jenis persoalan, yaitu biografi Kanjeng Nabi Muhammad Saw.
    B. Latar belakang kehidupan Sang Nabi.
    Nabi Muhammad Saw dilahirkan di zaman jahiliah (abad kegelapan), peradaban rimbawi yang berlaku di hampir seluruh penjuru dunia, khususnya di jazirah Arabia. Di hari Senin tanggal 12 robiul Awwal tahun 571 m.
    Tahun diserangnya Ka'bah (untuk dihancurkan) oleh Raja Abrahah dari Afrika, seorang Nasrani yang mendirikan gereja yang megah agar bisa menyaingi popularitas Ka'bah, tetapi tidak terwujud.
    Muhammad bin Abdullah, lahir sudah tidak ketemu dengan bapaknya. Sang ayah (Abdullah) meninggal tatkala beliau masih baru dua bulan di kandungan sang ibu. Selama dua tahun, sang bayi suci itu disusui dan di asuh oleh Ibu Halimah dari suku Bani Sa'ad, suku Arab yang terkenal paling baik budi dan bahasanya. Kemudian diasuh oleh ibundanya sendiri sampai umur 6 tahun. Ibunda sang calon nabi (Aminah), wanita yang sangat amanah ini meninggalkan putra satu-satunya itu pada usia 6 tahun, sebagai praktis Muhammad kecil ini sudah yatim piatu ketika masih umur 6 tahun tersebut. Selanjutnya sang Nabi kecil diasuh oleh kakeknya (Abdul Muthalib), selama dua tahun, dan di bawah asuhan pamannya (Abu Tholib), mulai umur 8 tahun sampai beliau menikah dengan Khadijah binti Khuwailid, seorang janda yang kaya raya, saudagar (ekspor impor).
    Muhammad bin Abdullah, memiliki garis nasab dan silsilah kenabian yang agung dan suci. Melalui bapak dan ibunya, sambung menyambung sampai kepada Nabi Agung Ibrahim sang Abul Anbiya' (bapak para nabi), Melalui Nabi Asmail As. Walaupun hidup di era jahiliah dan kaum penyembah berhala, seluruh jalur lurus dari pihak bapak dan ibunya, serta pengasuhnya terdiri dari orang-orang yang beragama hanif, bersih dan penyembah berhala dan perzinaan. Beliau pernah bersabda "saya punya 500 ibu, semua nya bersih dari perzinaan dan penyembahan berhala". Kakek dan paman yang mengasuh beliau adalah ketua takmir Masjidil haram. Tokoh agama yang paling dihormati di kalangan masyarakat Arab pada saat itu. 

    C. Pendidikan Calon Nabi.
    Muhammad bin Abdullah, sang kandidat Nabi dan Rasulullah Saw juga super leader,  mengalami proses pendidikan kehidupan dan karakter yang sangat berat. Sekalipun tidak dalam bentuk pendidikan formal.
    Masa balita Muhammad pada usia dini dua-tiga hari sampai usia sempurna dua tahun, beliau disusui oleh Ibu Halimah di sebuah kampung suku Sa'ad yang terkenal dengan keaslian bahasa Arabnya. Juga dengan  kehalusan budinya. Ibu Halimah sesuai dengan namanya, beliau juga berkepribadian yang Halim (sederhana, halus Budi lagi santun).
    Penitipan bayi untuk disusukan pada "profesional" dari kalangan orang desa adalah merupakan adat dan tradisi dari masyarakat elit Arab (suku Quraisy) pada saat itu. 
    Di masa pendidikan usia dini (paud) ini dan di bawah susuan dan asuhan Bu Halimah as Sa'diyyah sang calon rasul,  mengalami operasi spiritual (tazkiyatun nafsi) yang pertama, yang dilakukan oleh malaikat Jibril. Ketika Muhammad kecil lagi bermain dengan saudara sesusuan putra Ibu Halimah. Dengan bentuk animasi yang dilihat dan dirasakan oleh beliau seperti dibelah nya dada dan didicucinya jantung hati beliau, serta diisinya dada dengan betu permata dan mutiara. Sehingga beliau semenjak itu telah memiliki jiwa yang bersih dan hikmah dan kearifan yang luar biasa.
    Setelah selesai masa penyusuan, pendidikan sang calon rasul, dilanjutkan oleh ibunya sendiri berada dengan kakeknya. Keduanya sangat sayang kepada Muhammad kecil ini. Siti Aminah, sang ibu adalah penanam pertama dan utama. Sebagai mana namanya sang ibu ini seorang yang sangat amanah, karena itulah pada diri nabi, semenjak kecilnya, sudah populer digelari dengan Al Amin, karena memang beliaulah orang yang paling amanah di muka bumi ini.
    Ibunda ini juga yang mengajarkan berbakti kepada orang tua. Diajaknya beliau berziarah ke makam bapaknya (Abdullah suami Aminah), putra Abdul Muthalib yang paling disayang oleh bapaknya. Di daerah perkampungan antara perjalanan Makkah dan Madinah, di Desa Abwak.  Dan ibunda tercinta ini meninggal dunia dalam perjalanan pulang dari ziarah ini. Sehingga Muhammad kecil ini lengkap menyandang gelar yatim piatu ketika beliau masih berumur delapan tahun. Beliau yang sangat halus budi ini terpukul berat dengan kenyataan ini, bahkan beliau sampai mengalami shock dan sakit panas sampai tak sadarkan diri sekitar 2 atau 3 hari. Dan inilah pelajaran hidup yang paling membekas di dalam jiwa manusia yang paling mulia ini, pelajaran tentang rasa cinta dan kemanusiaan.
    Setelah meninggalnya Ibunda tercinta Muhammad kecil diasuh oleh kakeknya yang sangat mencintainya. Usia beliau pada saat itu baru 6 tahun. Abdul Muthalib, sang kakek ini orangnya sangat bijaksana, beliaulah yang memberi nama cucunda tercinta ini dengan nama yang sangat tepat dan filosofis "Muhammad" yang artinya orang yang terpuji, sebagai bentuk dhohir yang melengkapi nama "azali" nya yang telah diberikan oleh Allah SWT "Ahmad" yang artinya suka memuji atau berkecenderungan di dalam hal-hal yang terpuji.

    Sang kakek inilah yang menorehkan psikologi ke'arifan di dalam jiwa sang Nabinya Akhlak mulia,  yang akhlaknya adalah Al Qur'an. Ditanamkannya dengan penuh cinta kasih, sebagai cucu tercinta yang orang Jawa punya istilah 'gantelane ati" (tambatan hati). Karena sang cucu ini adalah anak dari putra kesayangannya (Abdullah) yang meninggal dunia di usia muda (+-18 tahun), di kala sang calon nabi masih berusia 2 bulan di kandungan ibunya. Muhamad berada di bawah asuhan sang kakek selama dua tahun. Selanjutnya beliau amanahkan langsung dan khusus Muhammad kecil ini kepada putranya yang paling sholih, yang bernama Abu Tholib, paman nabi sekaligus bapaknya sang ksatria agung Ali bin Abi Tholib, karromallaahu wajhahu.
    Semenjak usia 8 tahun, setelah meninggalnya sang kakek, Muhammad kecil berada di bawah asuhan dan pendidikan sang paman "Abu Tholib". Seperti halnya bapaknya, Abu Tholib mengasuh keponakan dengan penuh kasih sayang, sebagai mana mengasuh putra sendiri. Abu Thalib senantiasa mengajarkan kemandirian, tanggung jawab dan sikap kesatria. Dilibatkannya sang keponakan dalam berbagai bentuknya kehidupan. Mulai dari kehidupan rumah tangga, bekerja mencari nafkah, membela suku bangsa,  dan kehidupan beragama.

    Bersambung insya Allah...
     

    Nabi Muhammad Profil Figur Teladan

    Posted at  08.50  |  in  Profil Nabi Muhammad SAW  |  Read More»

    A. Muqaddimah.
    Umat Islam, khususnya para pemimpin, pada tingkatan dan bidang apapun memiliki figur contoh dan teladan yang sempurna dalam menjalani kehidupan, baik secara pribadi maupun sebagai 'profesional' yaitu seorang anak manusia yang dilahirkan di Padang pasir Saudi Arabia, di kota tua Makkah Al Mukaromah, yang bernama Muhammad bin Abdullah.
    Beliau adalah seorang suami, juga bapak, juga kakek yang sukses merintis karir dan perjuangan mulai dari kerja buruh menggembala kambing orang kaya, buruh menyirami kebun kurma dan anggur, menjualkan dagangan saudagar kaya dan menjadi menejer kafilah dagang ke luar negeri. Sampai akhirnya menjadi seorang nabi, Rasulullah, yang otomatis sebagai kepala agama dan kepala negara sekaligus, yang jaya dan berkuasa penuh. Akhirnya menjadi manusia yang paling berpengaruh di alam semesta.
    Fenomena umat Islam pada dasa Warsa sekarang ini adalah masa yang sangat memprihatinkan, umat terpecah belah dan saling menghancurkan, di antara firqah-firqah dan aliran-aliran politik dan pemikiran. Di berbagai negara Islam yang seharusnya menjadi negara yang aman dan nyaman sebagai mana adanya di zaman kejayaan. Justru kondisinya sangat pilu dan memprihatikan.
    Kondisi seperti ini menimbulkan pertanyaan dalam benak kita, bagaimana peran para pemimpin kita, tidak bisakah mereka kembali membawakan keamanan dan kenyamanan untuk bangsa dan negaranya ? Apakah mereka tidak bisa lagi memprofil diri sebagai mana figur 'sempurna' tuntunan umat Islam yang sempurna lagi bisa menyempurnakan, yaitu Rasulullah Muhammad Saw.
    Tulisan ini sebagai usaha untuk menampilkan gambar figur pemberi solusi untuk semua jenis persoalan, yaitu biografi Kanjeng Nabi Muhammad Saw.
    B. Latar belakang kehidupan Sang Nabi.
    Nabi Muhammad Saw dilahirkan di zaman jahiliah (abad kegelapan), peradaban rimbawi yang berlaku di hampir seluruh penjuru dunia, khususnya di jazirah Arabia. Di hari Senin tanggal 12 robiul Awwal tahun 571 m.
    Tahun diserangnya Ka'bah (untuk dihancurkan) oleh Raja Abrahah dari Afrika, seorang Nasrani yang mendirikan gereja yang megah agar bisa menyaingi popularitas Ka'bah, tetapi tidak terwujud.
    Muhammad bin Abdullah, lahir sudah tidak ketemu dengan bapaknya. Sang ayah (Abdullah) meninggal tatkala beliau masih baru dua bulan di kandungan sang ibu. Selama dua tahun, sang bayi suci itu disusui dan di asuh oleh Ibu Halimah dari suku Bani Sa'ad, suku Arab yang terkenal paling baik budi dan bahasanya. Kemudian diasuh oleh ibundanya sendiri sampai umur 6 tahun. Ibunda sang calon nabi (Aminah), wanita yang sangat amanah ini meninggalkan putra satu-satunya itu pada usia 6 tahun, sebagai praktis Muhammad kecil ini sudah yatim piatu ketika masih umur 6 tahun tersebut. Selanjutnya sang Nabi kecil diasuh oleh kakeknya (Abdul Muthalib), selama dua tahun, dan di bawah asuhan pamannya (Abu Tholib), mulai umur 8 tahun sampai beliau menikah dengan Khadijah binti Khuwailid, seorang janda yang kaya raya, saudagar (ekspor impor).
    Muhammad bin Abdullah, memiliki garis nasab dan silsilah kenabian yang agung dan suci. Melalui bapak dan ibunya, sambung menyambung sampai kepada Nabi Agung Ibrahim sang Abul Anbiya' (bapak para nabi), Melalui Nabi Asmail As. Walaupun hidup di era jahiliah dan kaum penyembah berhala, seluruh jalur lurus dari pihak bapak dan ibunya, serta pengasuhnya terdiri dari orang-orang yang beragama hanif, bersih dan penyembah berhala dan perzinaan. Beliau pernah bersabda "saya punya 500 ibu, semua nya bersih dari perzinaan dan penyembahan berhala". Kakek dan paman yang mengasuh beliau adalah ketua takmir Masjidil haram. Tokoh agama yang paling dihormati di kalangan masyarakat Arab pada saat itu. 

    C. Pendidikan Calon Nabi.
    Muhammad bin Abdullah, sang kandidat Nabi dan Rasulullah Saw juga super leader,  mengalami proses pendidikan kehidupan dan karakter yang sangat berat. Sekalipun tidak dalam bentuk pendidikan formal.
    Masa balita Muhammad pada usia dini dua-tiga hari sampai usia sempurna dua tahun, beliau disusui oleh Ibu Halimah di sebuah kampung suku Sa'ad yang terkenal dengan keaslian bahasa Arabnya. Juga dengan  kehalusan budinya. Ibu Halimah sesuai dengan namanya, beliau juga berkepribadian yang Halim (sederhana, halus Budi lagi santun).
    Penitipan bayi untuk disusukan pada "profesional" dari kalangan orang desa adalah merupakan adat dan tradisi dari masyarakat elit Arab (suku Quraisy) pada saat itu. 
    Di masa pendidikan usia dini (paud) ini dan di bawah susuan dan asuhan Bu Halimah as Sa'diyyah sang calon rasul,  mengalami operasi spiritual (tazkiyatun nafsi) yang pertama, yang dilakukan oleh malaikat Jibril. Ketika Muhammad kecil lagi bermain dengan saudara sesusuan putra Ibu Halimah. Dengan bentuk animasi yang dilihat dan dirasakan oleh beliau seperti dibelah nya dada dan didicucinya jantung hati beliau, serta diisinya dada dengan betu permata dan mutiara. Sehingga beliau semenjak itu telah memiliki jiwa yang bersih dan hikmah dan kearifan yang luar biasa.
    Setelah selesai masa penyusuan, pendidikan sang calon rasul, dilanjutkan oleh ibunya sendiri berada dengan kakeknya. Keduanya sangat sayang kepada Muhammad kecil ini. Siti Aminah, sang ibu adalah penanam pertama dan utama. Sebagai mana namanya sang ibu ini seorang yang sangat amanah, karena itulah pada diri nabi, semenjak kecilnya, sudah populer digelari dengan Al Amin, karena memang beliaulah orang yang paling amanah di muka bumi ini.
    Ibunda ini juga yang mengajarkan berbakti kepada orang tua. Diajaknya beliau berziarah ke makam bapaknya (Abdullah suami Aminah), putra Abdul Muthalib yang paling disayang oleh bapaknya. Di daerah perkampungan antara perjalanan Makkah dan Madinah, di Desa Abwak.  Dan ibunda tercinta ini meninggal dunia dalam perjalanan pulang dari ziarah ini. Sehingga Muhammad kecil ini lengkap menyandang gelar yatim piatu ketika beliau masih berumur delapan tahun. Beliau yang sangat halus budi ini terpukul berat dengan kenyataan ini, bahkan beliau sampai mengalami shock dan sakit panas sampai tak sadarkan diri sekitar 2 atau 3 hari. Dan inilah pelajaran hidup yang paling membekas di dalam jiwa manusia yang paling mulia ini, pelajaran tentang rasa cinta dan kemanusiaan.
    Setelah meninggalnya Ibunda tercinta Muhammad kecil diasuh oleh kakeknya yang sangat mencintainya. Usia beliau pada saat itu baru 6 tahun. Abdul Muthalib, sang kakek ini orangnya sangat bijaksana, beliaulah yang memberi nama cucunda tercinta ini dengan nama yang sangat tepat dan filosofis "Muhammad" yang artinya orang yang terpuji, sebagai bentuk dhohir yang melengkapi nama "azali" nya yang telah diberikan oleh Allah SWT "Ahmad" yang artinya suka memuji atau berkecenderungan di dalam hal-hal yang terpuji.

    Sang kakek inilah yang menorehkan psikologi ke'arifan di dalam jiwa sang Nabinya Akhlak mulia,  yang akhlaknya adalah Al Qur'an. Ditanamkannya dengan penuh cinta kasih, sebagai cucu tercinta yang orang Jawa punya istilah 'gantelane ati" (tambatan hati). Karena sang cucu ini adalah anak dari putra kesayangannya (Abdullah) yang meninggal dunia di usia muda (+-18 tahun), di kala sang calon nabi masih berusia 2 bulan di kandungan ibunya. Muhamad berada di bawah asuhan sang kakek selama dua tahun. Selanjutnya beliau amanahkan langsung dan khusus Muhammad kecil ini kepada putranya yang paling sholih, yang bernama Abu Tholib, paman nabi sekaligus bapaknya sang ksatria agung Ali bin Abi Tholib, karromallaahu wajhahu.
    Semenjak usia 8 tahun, setelah meninggalnya sang kakek, Muhammad kecil berada di bawah asuhan dan pendidikan sang paman "Abu Tholib". Seperti halnya bapaknya, Abu Tholib mengasuh keponakan dengan penuh kasih sayang, sebagai mana mengasuh putra sendiri. Abu Thalib senantiasa mengajarkan kemandirian, tanggung jawab dan sikap kesatria. Dilibatkannya sang keponakan dalam berbagai bentuknya kehidupan. Mulai dari kehidupan rumah tangga, bekerja mencari nafkah, membela suku bangsa,  dan kehidupan beragama.

    Bersambung insya Allah...
     

    Belajar Tasawuf dengan Bahasa Milenial
    Oleh: Kharisuddin Aqib

    A. Pengantar
    Tahun 2000-an adalah era milenium ketiga. Era ini didominasi oleh menguatnya peran dan fungsi teknologi informasi, serta filsafat informatika. Sehingga informasi dan ilmu pengetahuan membanjiri semua daratan, lautan dan dirgantara. Dengan informasi antara 'barat' dan 'timur' telah menjadi satu. Dan dengan informasi dunia dan akhirat menjadi satu, serta dengan informasi pula jasmani dan rohani kini telah menjadi satu. Dan informasi itulah ilmu. Sehingga terbuktilah sabda Sang Nabi;
    "Man arodad dun ya, fa'alaihi bil 'ilmi, wa aroodal akhiroh fa'alaihi bil'ilmi, wa man aroda Huma fa'alaihi bil'ilmi". Dan teknologi informasi adalah teknologi untuk mendapatkan, mengembangkan dan menyebarkan ilmu tersebut. Termasuk di dalamnya adalah ilmu keruhanian dalam Islam (TASAWUF).
    Di era milenium ketiga ini barat telah mendapatkan hidayah Allah SWT. Bahkan 'matahari' telah terbit dari barat. Sehingga di era ini kebenaran risalah (surat) yang dibawa oleh para rasul menjadi tampak begitu jelas. Ilmu para nabi seakan - akan bisa kita dapatkan dan kita nikmati. Termasuk di dalamnya ilmu lempit bumi dan lorong waktu (eskatologi).
    Ilmu yang telah diberikan oleh Allah SWT kepada Nabi Adam as masih tersimpan di Baitul Izzah (rumah data), di langit dunia di atas planet bumi. Tekhnologi informasi milinial adalah 'qalam' untuk menuliskan, menggambarkan dan merealisasikan ilmu Allah yang telah diturunkan di alam semesta ini. Yang berupa ilmu dhohir (eksoterik), syariat dan pengetahuan alam semesta. Sedangkan hakekatnya ilmu (bukan tentang ilmu hakekat) atau ilmu keruhanian, atau ilmu tasawuf, sistem transmisinya tetap menggunakan teknologi informasi kenabian, dan tidak bisa diperoleh dengan tekhnologi informatika Milenial. Tetapi keduanya ada kesamaan cara kerja. Sehingga dapat dikatakan, bahwa teknologi informasi Milenial adalah bayangan atau gambaran teknologi informasi kenabian.
    Dan tulisan saya ini,  in syaa'a Allah akan menjelaskan tentang  ilmu tasawuf dengan bahasa atau pendekatan ilmu informatika, sehingga tulisan saya ini bisa dikatakan sebagai Ilmu Mustiko- Informatika.

    B. Istilah Praktis dan Pengertiannya.
    teknologi informasi, serta filsafat informatika. Sehingga informasi dan ilmu pengetahuan membanjiri semua daratan, lautan dan dirgantara. Dengan informasi antara 'barat' dan 'timur' telah menjadi satu. Dan dengan informasi dunia dan akhirat menjadi satu, serta dengan informasi pula jasmani dan rohani kini telah menjadi satu. Dan informasi itulah ilmu. Sehingga terbuktilah sabda Sang Nabi;
      
    Organ Komputer dan Organ Manusia.

    a. Fisik Jasmaniah.
    •  Cessing = pakaian pembungkus dan penghias diri manusia.
    •  Hardware = perangkat keras atau fisikal manusia, seperti otak, kepala, dada,  badan dll.
    •  Des box = kepala, sebagai wadah perangkat keras yang utama.
    •  Prosesor = otak sebagai pemrosesan data pengetahuan dan ketrampilan.
    • Hardisk/SSD = sama juga terletak di otak tapi berfungsi sebagai memori penyimpanan data ingatkan manusia.
    • Desktop = dada sebagai tempat layar tampilan menu, aplikasi,  karakter, Nafs, qalb, ruh dll. Juga kondisi psikologis.
    • Antena dan alat sensor = peralatan panca indera (mata, telinga, lidah, kulit, dan hidung).
    • Alat sistem energi = sistem pencernaan makanan, peredaran darah, dan pernafasan. Juga hormonal.
    b. Perangkat non Fisik dan Ruhaniah.
    • Software = perangkat lunak, atau organ kerohanian, seperti nafs, qalb, ruh dll.
    • Soft being = wujud lembut, atau ruh yang belum bersama dengan jasad.
    • Soft system' = sistem kerja keruhanian menyeluruh di dalam tubuh, atau jiwa atau nafs.
    • Software Aqal = aplikasi kesadaran indrawi neorologis.
    • Software Nafs = .aplikasi keruhanian untuk kesadaran intelektual indrawi, atau disebut Lathifatun nafsu.
    • S.Qalbi = aplikasi sistem kesadaran emosional paling luar, atau disebut Lathifatul qalbi.
    • Software Ruhi = sistem aplikasi kesadaran emosional tingkat dua yang bersifat intuitif, biasa disebut Lathifatur ruhi.
    • Software Sirri = aplikasi sistem kesadaran spiritual tingkat dasar, yang biasa disebut Lathifatus Sirri.
    • Software khofi = sistem kesadaran spiritual tingkat dua, yang biasa disebut Lathifatul khofi.
    • Software Akhfa = aplikasi sistem kesadaran spiritual tingkat tinggi, biasa disebut Lathifatul Akhfa.
    • Softwer Qalab = aplikasi sistem kesadaran menyeluruh (fisikal, intelektual, emosional dan spiritual) sekaligus. Kesadaran ini terkonsentrasi pada otak tengah  (messen cefalon) manusia. Dengan wilayah luar ubun-ubun kepala.

    C. Memahami Sistem Tranmisi Keilmuan.
    Dalam kajian ini (Mustiko Informatika), keilmuan semuanya berasal dari Allah yang maha berilmu (Al 'Alim). Dia memancarkan ilmu-Nya dengan cara emanasi (pancaran), seperti matahari memancarkan sinarnya atau atau lampu memancarkan cahayanya, atau seperti pemancar TV, radio, maupun satelit dan provider memancarkan sinyalnya.
    Allah, sebagai Al Khaliq (Sang pencipta), menciptakan media informasi dan komunikasi untuk semua makhluk atau ciptaannya, berupa alam semesta, berupa taburan dzarrah (partikel cahaya) di seluruh wilayah kekuasaan-Nya (dairotul imkan).
    Allah sebagai Al Mudabbir (desainer) memprogram sistem informasi dan komunikasi. Allah sebagai Al Badi' menghiasi seluruh perangkat alat komunikasi dan informasi dengan sangat indah dan menakjubkan. Allah sebagai Al Kalim mengkomunikasikan informasi dan ilmu, khususnya kepada Sang khalifah (wakil-Nya) di alam semesta, Yakni manusia. Yang merupakan profil figur 'sempurna' sebagai gambaran DIA yang Maha Kuasa. Karena memang manusia diciptakan sebagai gambaran Al-Rahman.
    Pancaran ilmu, energi, dan daya Allah (Al Faydl Al Robbani), melalui dzarrah yang ditransformasikan sebuah energi hidup (bio energy), supra sonik dengan gelombang cahaya super pendek yang sebut malak atau malaikat, yang bersifat spesifik dan profesional dalam tugas dan fungsinya. Mereka para malaikat  sebagai utusan Allah di alam metafisika (alam ghaib), sebagai mana Rasul adalah utusan Allah di alam dunia fisik (alam syahadah).
    Al Faydl Al Robbani ditransformasikan oleh malaikat secara profesional kepada makhluk-Nya yang support sesuai dengan jenis Faydl dan kesesuaian kebutuhan sang makhluk. Dan manusia adalah makhluk yang memiliki antena  tertinggi ('aql) dalam menerima Faydl Robbani yang berupa ilmu. Manusia juga telah dilengkapi oleh Allah SWT hardware keilmuan yang disebut otak dengan lebih satu triliun jaringan seluler biologis. Aktifasi otak manusia, khususnya otak tengah, akan memancarkan sinyal-sinyal biologis sehingga bisa menerima sinyal Faydl Robbani, khususnya yang berupa ilmu dan intuisi (Ilham atau Wahyu). Dengan tafakur (berfikir yang mendalam) dan tadzakur (mengheningkan Sang Pencipta yang mendalam), sinyal kerohaniannya akan memancar keluar terkoneksi dengan Faydl Robbani.

    E. Manusia - manusia ber 'anten' Spiritual.
    Orang-orang yang memiliki sinyal yang aktif pada hakikatnya adalah seorang yang yang memiliki antena spiritual (lubbun, jamaknya albaab). Mereka para pemilik lubbun (Ulul Albab) adalah orang-orang yang memiliki antena spiritual yang aktif. Mereka adalah terdiri dari para nabi, wali (Filosof maupun Sufi), atau para mistikus dan ahli kebatinan.
    Mereka mendapatkan ilmu pengetahuan dengan cara hudluri (menghadirkan ilmu pengetahuan) kepada sinyal yang dipancarkan oleh lubbun (antena spiritual) dari dalam aplikasi keruhanian software ruh (Lathifatur ruhi). Dengan mengheningkan cipta, menyedikitkan makan dan tidur, antena spiritual akan aktif dan menguat. Sehingga sinyalnya akan tersambung dengan sinyal akal ke sepuluh (malaikat Jibril). Berbeda dengan manusia biasa penduduk bumi. Mereka mendapatkan ilmu pengetahuan dengan mempergunakan panca indera dan akal intelektual, serta emosionalnya.
    Sehingga ilmunya disebut ilmu kasbi (usaha fisikal). Sedangkan ilmu pengetahuan yang didapatkan dengan cara hudluri (spiritual), adalah ilmu hikmah (ilmu hakekat atau ilmu filsafat). Sebuah pengetahuan konklusif (induk dan inti pengetahuan) yang dapat diuraikan dengan panjang lebar dengan referensi dan dalil fenomena alam semesta.

    Bagi para Nabi kelas tertinggi (Rasulullah yang Ulul Azmi), maka pengetahuan yang didapatkan bisa jadi sangat detail, riil dan alamiah. Ada yang bersifat seperti video, audio, dan gambar atau bayangan dan cahaya simbolik dan mereka Faham di dalam hatinya. Tetapi kebanyakan yang didapatkan oleh para waliyullah biasa adalah bahasa Ruhani yang berupa intuisi (Ilham)  didapatkan melalui mimpi di waktu tidur. Dan impian yang dialami oleh orang yang sholih adalah bagian dari 60 macam jenis Wahyu kenabian.

    F. Istilah-istilah Praktis Sufistik Informatikal.
    Ada tiga metode agar seorang manusia bisa sambung (wushul atau terkoneksi) dengan Allah SWT,  Yaitu; metode takhalli, tahalli dan tajalli.
    1. Takhalli atau mengosongkan diri atau membersihkan diri (tazkiyatun nafsi atau self scanning), yaitu menghilangkan sifat, perasaan, keinginan dan bahkan pikiran, yang buruk menurut ajaran agama Islam. Baik yang bersifat permanen maupun yang lintasan pikiran saja. Dengan cara menyedikitkan makan, minum dan tidur atau perbuatan lain yang bisa meningkatkan dorongan syahwat (keinginan) dan ghodhob (emosi).
    Atau kegiatan konsentrasi khusus meniadakan ingatan dengan dunia (semua hal yang selain Allah).
    Kegiatan ini akan berdampak pada bersihnya kabel ruhaniah kita, sehingga koneksi dengan Allah akan menjadi semakin jernih dan cepat. Proses Takhliyah atau self scanning terhadap kabel ruhaniah yang terbungkus di dalam badan jasmani kita. Lapisan kabel ruhaniah ini harus dibersihkan terlebih dahulu dari isolator yang menjadi pembungkus nya. Mulai lapisan paling luar (material najis dan hukum najis, hadats,  dosa-dosa, dan penyakit ruhaniah). Proses riil self scanning yang paling efektif adalah dengan dzikrullah, khususnya dzikir Sirri atau dzikir khafi yang difokuskan pada tombol aplikasi ruhaniah tertentu.

    2. Tahalli atau menghiasi diri dengan akhlak dan atau amaliah yang utama  yang disunnahkan oleh Rasulullah.
    Tahalli adalah sebuah metode untuk bisa wushul atau connecting dengan Allah SWT. Tahalli atau menghiasi diri dengan akhlak dan atau amaliah yang utama lagi mulia. Maksudnya seorang salik atau murid (orang yang ingin mendekatkan diri atau menemui Allah), dengan memfokuskan diri dan mengistikomah diri untuk berakhlak dan beramal shaleh, khususnya Amaliah yang telah menjadi Sunnah Rasulullah Saw. Dengan metode tahalli keburukannya juga akan hilangnya, sehingga dia akan dekat dengan Allah dan dicintai oleh Allah, Rasulullah dan juga orang-orang yang shaleh yang ada di sekitarnya. Dengan beramal dan berakhlak mulia secara istiqamah, seorang salik (seorang yang berjalan menuju Allah), akan bersinergi, terkoneksi  dengan Allah yang maha suci dan maha baik. Misalnya, selalu menjaga kesucian diri (daimul wudlu'), selalu sholat Sunnah, selalu qiyamullail dll.
    3. Tajalli, memperjelas diri dengan akhlak Rabbani (akhlak ketuhanan). Tajalli sebenarnya lebih tepat jika anggap sebagai hasil, bukan metode. Yakni, jika seseorang telah menerapkan takhalli dan tahalli, pasti akan tajalli (dia akan berkarakter seperti karakter Allah, seperti arrahman (pengasih), arrahiim (penyayang), Al quds (suci), dll.  Juga dia akan sangat faham akan sifat-sifat dan karakter Allah yang terpancarkan di alam semesta.
    Tetapi tajalli juga dapat digunakan sebagai metode, yaitu usaha maksimal untuk berakhlak mulia secara istiqamah meniru akhlaknya Allah dan rasul-Nya. Dengan demikian seseorang akan bisa merasakan kebersamaannya dengan Allah SWT. Juga menjadi bayangan atau cerminan Allah SWT.

    G. Cara Belajar Tasawuf dalam Tradisi Para Sufi.
    Ilmu tasawuf atau tasawuf sebagai ilmu adalah dalam kategori ilmu praktis artistik (seni) dengan standar rasa (dzauq), bukan praktis scaintifik (ilmiah) dengan standar rasio. Oleh karena itu ilmu tasawuf memiliki paradigma dan tehnik tersendiri dalam tatacara untuk menguasainya. Sebagai mana halnya ilmu kesenian, seperti seni musik, seni lukis dan seni sastra.
    Secara tradisional (Sunnah Rasulullah dan para salafus sholih) adalah sebagai berikut:

    1. Mencari guru pembimbing (Mursyid).
    Berusaha keras dan berdoa (memohon kepada Allah SWT), untuk mendapatkan guru pembimbing. Seseorang yang dapat menuntunnya berjalan di jalan Allah dan menuju kepada-Nya. Sebagai mana para sahabat mencari Rasulullah. Tanpa guru pembimbing sangat dikawatirkan dibimbing oleh hawa nafsu dan setan laknatullaah.
    Guru pembimbing (Mursyid), adalah manusia hidup, yang mendapatkan hak dan mandat dari Mursyid sebelumnya untuk menjadi Mursyid.
    Guru Mursyid bagi para murid ibaratnya seperti repiter (pemancar ulang), sehingga seorang murid mendapatkan sinyal kuat untuk berkomunikasi dengan Allah SWT. Juga bisa diibaratkan sebagai stop kontak yang menjadi colokan listrik, untuk charging untuk mengisi baterai ruhaniahnya. Mursyid juga bisa diibaratkan sebagai imam sholat bagi makmumnya.
    2. Berbai'at di hadapan Guru Mursyid.
    Setelah menemukan guru pembimbing (Mursyid), dengan kreteria umum yang disepakati, memiliki silsilah yang bersambung sampai dengan Rasulullah sebagai Mursyid dan ajarannya tidak bertentangan dengan syariat dan Sunnah Rasulullah. Juga kemantapan pribadi, karena akhlak dan keilmuannya, selanjutnya seorang murid berjanji setia (bai'at) sebagai murid.  Setia untuk ta'at dan setia untuk istiqamah mengamalkan ajarannya. Berbai'at tidak semua secara sharih (jelas dengan kata-kata), seringkali kehadiran di hadapan Guru untuk minta diajari dzikir atau ilmu tasawuf, berarti sudah dianggap bai'at, sehingga diajari dzikrullah. Bai'at ini sangat penting dan menentukan kesuksesan seseorang dalam meniti jalan kehidupan spiritual seseorang, khususnya kenaikan tingkat maqomatnya (kedudukan spiritual).
    Dengan berbai'at seorang telah mengikatkan jiwa atau ruhani kepada jiwa dan Ruhani gurunya. Dia akan berjalan dengan naik dan turun dalam perjalanan Ruhani bersama dengan guru nya. Tanpa bai'at maka tidak ada pertalian resmi diantara keduanya. Sehingga kemungkinan sangat kecil akan terjadi sebuah perjalanan ruhani, juga perubahan Kwalitas akhlak dan keruhaniannya.

    3. Menerima pengajaran dari Guru Mursyid.
    Langkah ketiga dari belajar tasawuf menurut tradisi para sufi adalah menerima pengajaran dari guru mursyid (talqin). Dalam tradisi Jawa disebut "diwejangan".
    Pengajaran guru mursyid (talqin dzikir),  sangat penting bagi seorang murid. Karena talqin atau pengajaran oleh mursyid dapat  dianalogikan sebagai proses install aplikasi dzikir. Dengan talqinnya mursyid, seorang murid bisa berdzikir secara istiqamah. Talqin dzikir secara tradisional ibarat penyulutan api pada sumbu lampu hati kita oleh seseorang yang telah membawa api suci dari Rasulullah.
    Seorang murid harus membuka pintu hatinya untuk menerima pengajaran dari guru mursyidnya, dengan senang hati, cinta kasih dan penuh harap. Bahkan berkeyakinan positif, bahwa tanpa pengajaran dan bimbingan dari guru mursyidnya, dia tidak akan sampai kepada Allah. Talqin juga berfungsi sebagai pembersih kotoran jiwa yang paling keras, juga sebagai pencabut akar akhlak buruk dan penanaman bijih kalimat thoyyibah yang tentunya akan menumbuhkan pohon akhlak  yang terpuji.
    Proses talqin ini harus difoto dan diabadikan di dalam hati atau ingatan seorang murid. Karena foto  guru pembimbing di dalam batin seorang murid adalah ruhaniahnya guru itu sendiri. Sehingga mengingat nya  berarti adalah menyambungnya.
    Tanpa talqin dari sang mursyid seorang murid tidak memiliki bijih kalimat thoyyibah yang bisa menumbuhkan pohon akhlak mulia. Atau seperti orang yang lampu hatinya tidak menyali. Atau seperti orang yang mau membuka hp tetapi tidak mempunyai pass word atau kode pembukanya.

    4. Mengamalkan dan mushohabah dengan Guru Mursyid.
    Langkah selanjutnya metode belajar tasawuf dalam tradisi para sufi adalah mengamalkan ajaran dan mushohabah dengan Guru Mursyidnya. Artinya, seorang murid yang telah diberikan pengajaran atau wejangan atau talqin, selanjutnya harus mengamalkan ajaran mursyidnya dengan yakin, penuh harap dan istiqamah.
    a. Mengamalkan ilmu wejangan dan talqin dari guru mursyidnya.
    Pengamalan ilmu harus sesuai dengan pengajaran dari sang mursyid, persis. Tanpa perubahan dan tafsir sama sekali. Dengan dasar mahabbah (cinta) dan husnudhon (prasangka baik), atas kesempurnaan sang guru. Di samping itu, pengamalan ajaran diperjuangkan untuk bisa istiqamah (komitmen dan konsisten). Presisi dan keistiqomahan dalam pengamalan ajaran sang guru oleh seorang murid akan sangat menentukan keberhasilan seseorang mencapai target pendidikan. Yakni terjadinya perubahan karakter (akhlak) seseorang. Dari akhlak yang tercela (madzmumah) berubah menjadi akhlak yang terpuji (mahmudah). Dengan sistem gradual (bertahap), dari maqab ke maqom yang lebih tinggi, sehingga sempurna sebagai gambaran Al Rohman (shuroti Ar Rahman). Sehingga menjadi bahagia yang hakiki. Jasmani dan rohani, dunia dan akhirat.
    b. Mushohabah dengan Guru Mursyid.
    Murid yang Shodiq (bener), akan mengikuti tradisi para sahabat Rasulullah Saw. Yakni menemani Rasulullah di dalam suka dan dukanya kanjeng rasul. Karena Rasulullah adalah bapak ruhaninya, atau stop kontak tempat nge-charge energi batinnya, atau WiFi dan repiter untuk mendapatkan sinyal ketuhanan yang akan menyambungkan  ruhaninya dengan yang maha kuasa.
    Berdasarkan intensitas hubungan para sahabat dengan Rasulullah, dapat dikelompokkan menjadi empat, kelas, yaitu ; kelas, a, b, c, dan d.
    Kelas a, para sahabat yang menemani Nabi Full Time, bahkan mereka tinggal di serambi masjid Rasulullah, mereka adalah ahlus suffah.
    Kelas b, adalah para sahabat yang selalu menemani sang Rasul setiap pengajian dan jama'ah sholat lima waktu. Mereka berangkat dari rumah masing-masing.
    Kelas c, adalah para sahabat yang menemani sang Rasul ketika beliau dalam kerepotan atau kegiatan perjuangan tertentu saja.
    Kelas d, para sahabat yang menemani sang Rasul hanya pada kegiatan rutin tertentu, mingguan, bulanan atau tahunan.  Bahkan ada yang hanya sekali saja bertemu dengan beliau selama hidupnya. Bagi murid yang Shodiq guru pembimbingnya adalah WiFi dan tipiter  kepanjangan jaringan seluler (silsilah ruhaniah) dari Rasulullah Saw. Sehingga sang murid selalu berusaha untuk mendekatkan diri dan bersama-sama dengan sang mursyid.  Agar kedekatan dan kebersamaan murid terhadap sang guru memberi manfaat yang besar bagi murid (mendapatkan barokah), yang berupa pancaran cahaya ilahi, maka sang murid harus selalu menjaga adab yang baik, sebagai mana para sahabat beradab kepada Rasulullah. Yang secara garis besar adalah hurmat (memuliakan),  ta'dhim (mengagungkan), dan khidmat (melayani), terhadap sang guru dan apa saja yang terkait dengannya. Keluarga, harta benda dan juga kehormatannya. Dengan penuh rasa cinta.

    5. Keutamaan Belajar Tasawuf versi Para Sufi. 
    Belajar ilmu tasawuf dengan metode para sufi, sebagai pelestarian tradisi para sahabat, memiliki manfaat yang besar dan pengaruh yang luar biasa. Dan berbeda dengan belajar dengan metode para ilmuwan atau ulama' yang lain, (metode mengisi dan mengasah kecerdasan intelektual (kognitif). Dengan metode belajar seperti itu, seseorang akan menjadi 'alim (berpengetahuan luas), tetapi tidak bisa menjadi pengamal dan penghayat atas ajaran tasawuf, serta tidak akan bisa merubah karakter atau akhlak seseorang.
    Sebaliknya, dengan metode belajar para sufi, seorang murid akan mengalami proses perubahan karakter yang sangat ekstrim dengan cara bertahap. Serta akan mendapatkan kebahagiaan yang hakiki, yaitu kebahagiaan dunia dan akhirat sekaligus. Material fisikal dan spiritual ruhaniah.
    Dengan belajar mengikuti metode para seorang murid akan mengalami, pengalaman spiritual, perubahan karakter, dan kepuasan hakiki.
    a. Pengalaman spiritual. Murid yang istiqamah dalam melakukan hal-hal yang diajarkan sang guru mursyid, akan mengalami pengalaman spiritual, berupa nikmatnya ibadah, berita dan bimbingan, serta petunjuk Allah melalui mimpi-mimpi maupun isyarat dhohir dari fenomena alam sekitar.
    b. Perubahan karakter
    Dengan belajar tasawuf metode para sufi akan terjadi proses tazkiyatun nafsi (pembersihan jiwa), proses taroqqi (meningkatnya kwalitas akhlak) dan transferensi (duplikasi  akhlak guru dalam diri murid). Ketika terjadi proses tazkiyatun nafsi, secara berangsur-angsur sifat-sifat buruk akan menghilang dan sifat-sifat baik akan muncul sebagai cerminan dari asma-asma Allah yang indah (Al Asma'Al Husna), berangsur-angsur menjadi jelas tampak dalam diri dan kepribadiannya.
    Dari proses tazkiyatun nafsi, sampai terbentuk sebuah karakter yang jelas sebagai petunjuk posisi dirinya di hadapan Allah SWT, yang biasa disebut Maqam. Beberapa maqam yang mesti dilalui oleh seorang murid (maqamat), baik maqam kehambaan (taubat, Zuhud, wara' dll), maupun maqam kekhalifahan ('abdur Rohman, 'abdur Rohim, Abdus salam dst).  secara tertahap akan dimiliki oleh seorang murid yang istiqamah dalam SULUK nya sehingga mencapai kesempurnaan karakter yang mulia sehingga menjadi pribadi yang sempurna (insan Kamil), sebagai mana manusia Rasulullah Saw, Sang Manusia sempurna (Al Insan Al Kamil).

    H.  Suluk, Maqamat dan Ahwal.

    Suluk sebagai konsep dalam ilmu tasawuf adalah sebuah proses sekaligus sebuah sistem pendidikan keruhanian kaum sufi.
    Yang artinya perjalanan serius menuju Allah SWT, dengan Istiqamah menjalani ajaran, wejangan dan talqin guru Mursyid, inilah pengertian umum Suluk.
     Tetapi suluk juga sering diartikan sebagai kholwat (menyepi) di pesantren sang mursyid, melakukan ibadah secara intensif dalam beberapa hari dalam bimbingan langsung sang guru. Inilah pengertian Suluk secara khusus.
    Di dalam program Suluk, baik dalam pengertian umum maupun khusus, Suluk memiliki empat komponen, Yaitu:  Salik (murid), mursyid (guru pembimbing), Amaliah (pengamalan pelajaran dan ajaran), Adab (tata Krama dan aturan dalam kegiatan Suluk). Keberhasilan dalam SULUK sangat terpengaruhi oleh komitmen,  konsistensi dan adab (sikap mental positif seorang murid terhadap sang guru).
    Selama dalam proses Suluk, seorang salik harus selalu Mushohabah dengan guru pembimbingnya; menemani, mentaati, menghormati dan mengistimewakan sang guru. Sedangkan sang guru hendaknya selalu menyayangi, membimbing dan mendoakannya.  Doa, restu dan ridho sang guru adalah kabel penghantar turunnya faidl Robbani ke dalam hati seorang murid sehingga murid bisa wushul kepada Allah.
    MAQAMAT, atau posisi - posisi seorang hamba Allah di hadapan Tuhannya, adalah terwujudkan dalam bentuk akhlak atau karakter permanen yang terbentuk dari istiqamah seorang salik dalam SULUK nya. Karena efek dzikrullah yang sungguh-sungguh dan intensif, maka jiwa bergetar, cair dan berubah wujud sedikit demi sedikit, sehingga terjadi perasaan tertentu (Ahwal), seperti; khauf (takut), roja' (penuh harap), damai, rindu dll. Sehingga terbentuk akhlak yang permanen, seperti; taubat (kembali kepada Allah), Zuhud (tidak terkesan dengan materi), waro' (berhati-hati) dalam kehidupan, sabar (tahan dan setia terhadap hambatan dan rintangan), Syukur (berterimakasih kepada Allah) dll.
    Di samping berbentuk akhlak atau karakter kehambaan tersebut, maqamat juga ada yang karakter yang bersifat ilahiah, karena manusia sebagai khalifatullah fiddunya (Wakil Allah di dunia). Maqamat pada sisi ini adalah karakter cerminan dari asma-asma Allah yang indah (Al Asma' al Husna), seperti; Abdurrahman, Abdurrahim, Abdul Malik dan Abdul Qudus.
    Baik maqam kehambaan maupun maqam kekhalifahan, keduanya, keduanya sama-sama perbuatan atau sikap mental yang telah terasakan mudah, ringan dan bahkan menyenangkan. Karena maqamat berarti memang posisi dan karakter dirinya, bukan perbuatan yang diusahakan dan diperjuangkan. Sehingga beda antara bersabar dengan maqam sabar, bersyukur dengan maqam syukur. Dan sebagainya.
    Sedangkan Ahwal (beberapa kondisi) adalah suasana hati seorang Salik (orang yang lagi Suluk), seperti; khauf (takut,  khawatir dan pesimis terhadap respon Allah) atas keberadaan diri dan ibadahnya. Roja' (penuh harap, mantap dan optimistis), terhadap respon Allah atas keberadaan diri dan amal ibadah. Syauq (rindu), untuk bertemu, bermunajat dan beribadah kepada Allah. Isyq, uns dan lain sebagainya.

    I.  Ikhtitam (penutup).
    Belajar tasawuf, baik ilmu, filsafat, seni dan Amalia pada dasarnya adalah sama saja, yakni dengan cara langsung atau praktek, sebagai mana tradisi para sufi. Baik di era klasik, modern maupun milenial, materi kajian tasawuf adalah sama saja juga,  yang beda adalah bahasa dan filsafat serta dalil-dalil rasionalnya (berbeda-beda). Era Milenial ini tasawuf mendapatkan dalil dan landasan filosofis informatika. Ilmu dan teknologi informasi di era digital pada milenium ketiga ini merupakan perwujudan integrasi antara peradaban barat dan timur. Peradaban barat telah mampu melesaikan dan menggabungkan antara soft material (materi lembut) dan hard material (materi keras) menjadi dua buah perangkat yang bersinergi (software dan hardware) menjadi sebuah teknologi canggih yang disebut komputer. Tekhnologi ini telah mewujudkan 'manusia buatan' dengan cara pandang peradaban timur, yakni manusia yang terdiri dari ruh dan jasad. Ruh sebagai software, dan jasad sebagai hardware.
    Ilmu tasawuf adalah ilmu untuk perawatan software manusia yang disebut ruh atau nafs atau jiwa itu.
    Ilmu tasawuf yang dimiliki oleh penulis adalah anugerah Allah SWT yang diberikan kepadanya melalui para guru mursyidnya, khususnya Syekh KH. Zamroji Saerozi dan Syekh KH. Muhammad Luthfil Hakim Muslih. Beliau berdua menerima dari Syekh KH. Muslih bin Abdurrahman, beliau dari Syekh KH. Abdurrahman Menur, beliau dari Syekh KH.Ibrohim Al Brumbungi, beliau dari Syekh KH Abdul Karim Al Bantani. Syekh Abdul Karim dari Syekh Ahmad Khatib as Sambasi, beliau dari Syekh Syamsuddin, dari Syekh Murod, dari Syekh Abdul Fattah, dari Syekh Usman, dari Syekh Abdurrahim, dari Syekh Abu bakar, dari Syekh Yahya, dari Hisyamuddin, dari Syekh Waliyuddin, Syek Nuruddin, dari Syekh Syarifuddin, dari Syekh Syamsuddin. Beliau dari Syekh Hattaq, dari Syekh Abdul Aziz, dari Syekh Abdul Qodir Jaelani, dari Syekh Abu Sa'id Al Mubarok Al Majzumi, dari Syekh Abdul Hasan Ali Al Karokhi, dari Syekh Abul Farraj Al Turtusi, dari Abdul Wahid Al Tamimi, dari Abu Bakar Al Syibli, dari Syekh Abu Qasim Junaedi Al Baghdadi, dari Syekh Sarri Al Saqathi, dari Syekh Ma'ruf Al Karokhi, dari Sayyid Ali bin Musa Al Ridlo, beliau dari Sayyid Musa Al Kadhim, dari Sayyid Ja'far as Shadiq, dari Sayyid Muhammad Al Baqir, dari Sayyid Zainal Abidin, dari Sayyidina Husain bin Ali, dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib, dari Sayyidina wa Nabiyuna Muhammad Saw, dari Malaikat Jibril as, dari Allah Rabbil'aalamiin.

    Baarokallaah lii wa lakum wa lii saairil muslimiin. Walhamdu lillaahi robbil'aalamiin.

    Kelutan, 7 Mei 2019

    Abdullah Kharisuddin Aqib.

    Belajar Tasawuf dengan Bahasa Milenial.

    Posted at  13.14  |  in  ulul albab  |  Read More»

    Belajar Tasawuf dengan Bahasa Milenial
    Oleh: Kharisuddin Aqib

    A. Pengantar
    Tahun 2000-an adalah era milenium ketiga. Era ini didominasi oleh menguatnya peran dan fungsi teknologi informasi, serta filsafat informatika. Sehingga informasi dan ilmu pengetahuan membanjiri semua daratan, lautan dan dirgantara. Dengan informasi antara 'barat' dan 'timur' telah menjadi satu. Dan dengan informasi dunia dan akhirat menjadi satu, serta dengan informasi pula jasmani dan rohani kini telah menjadi satu. Dan informasi itulah ilmu. Sehingga terbuktilah sabda Sang Nabi;
    "Man arodad dun ya, fa'alaihi bil 'ilmi, wa aroodal akhiroh fa'alaihi bil'ilmi, wa man aroda Huma fa'alaihi bil'ilmi". Dan teknologi informasi adalah teknologi untuk mendapatkan, mengembangkan dan menyebarkan ilmu tersebut. Termasuk di dalamnya adalah ilmu keruhanian dalam Islam (TASAWUF).
    Di era milenium ketiga ini barat telah mendapatkan hidayah Allah SWT. Bahkan 'matahari' telah terbit dari barat. Sehingga di era ini kebenaran risalah (surat) yang dibawa oleh para rasul menjadi tampak begitu jelas. Ilmu para nabi seakan - akan bisa kita dapatkan dan kita nikmati. Termasuk di dalamnya ilmu lempit bumi dan lorong waktu (eskatologi).
    Ilmu yang telah diberikan oleh Allah SWT kepada Nabi Adam as masih tersimpan di Baitul Izzah (rumah data), di langit dunia di atas planet bumi. Tekhnologi informasi milinial adalah 'qalam' untuk menuliskan, menggambarkan dan merealisasikan ilmu Allah yang telah diturunkan di alam semesta ini. Yang berupa ilmu dhohir (eksoterik), syariat dan pengetahuan alam semesta. Sedangkan hakekatnya ilmu (bukan tentang ilmu hakekat) atau ilmu keruhanian, atau ilmu tasawuf, sistem transmisinya tetap menggunakan teknologi informasi kenabian, dan tidak bisa diperoleh dengan tekhnologi informatika Milenial. Tetapi keduanya ada kesamaan cara kerja. Sehingga dapat dikatakan, bahwa teknologi informasi Milenial adalah bayangan atau gambaran teknologi informasi kenabian.
    Dan tulisan saya ini,  in syaa'a Allah akan menjelaskan tentang  ilmu tasawuf dengan bahasa atau pendekatan ilmu informatika, sehingga tulisan saya ini bisa dikatakan sebagai Ilmu Mustiko- Informatika.

    B. Istilah Praktis dan Pengertiannya.
    teknologi informasi, serta filsafat informatika. Sehingga informasi dan ilmu pengetahuan membanjiri semua daratan, lautan dan dirgantara. Dengan informasi antara 'barat' dan 'timur' telah menjadi satu. Dan dengan informasi dunia dan akhirat menjadi satu, serta dengan informasi pula jasmani dan rohani kini telah menjadi satu. Dan informasi itulah ilmu. Sehingga terbuktilah sabda Sang Nabi;
      
    Organ Komputer dan Organ Manusia.

    a. Fisik Jasmaniah.
    •  Cessing = pakaian pembungkus dan penghias diri manusia.
    •  Hardware = perangkat keras atau fisikal manusia, seperti otak, kepala, dada,  badan dll.
    •  Des box = kepala, sebagai wadah perangkat keras yang utama.
    •  Prosesor = otak sebagai pemrosesan data pengetahuan dan ketrampilan.
    • Hardisk/SSD = sama juga terletak di otak tapi berfungsi sebagai memori penyimpanan data ingatkan manusia.
    • Desktop = dada sebagai tempat layar tampilan menu, aplikasi,  karakter, Nafs, qalb, ruh dll. Juga kondisi psikologis.
    • Antena dan alat sensor = peralatan panca indera (mata, telinga, lidah, kulit, dan hidung).
    • Alat sistem energi = sistem pencernaan makanan, peredaran darah, dan pernafasan. Juga hormonal.
    b. Perangkat non Fisik dan Ruhaniah.
    • Software = perangkat lunak, atau organ kerohanian, seperti nafs, qalb, ruh dll.
    • Soft being = wujud lembut, atau ruh yang belum bersama dengan jasad.
    • Soft system' = sistem kerja keruhanian menyeluruh di dalam tubuh, atau jiwa atau nafs.
    • Software Aqal = aplikasi kesadaran indrawi neorologis.
    • Software Nafs = .aplikasi keruhanian untuk kesadaran intelektual indrawi, atau disebut Lathifatun nafsu.
    • S.Qalbi = aplikasi sistem kesadaran emosional paling luar, atau disebut Lathifatul qalbi.
    • Software Ruhi = sistem aplikasi kesadaran emosional tingkat dua yang bersifat intuitif, biasa disebut Lathifatur ruhi.
    • Software Sirri = aplikasi sistem kesadaran spiritual tingkat dasar, yang biasa disebut Lathifatus Sirri.
    • Software khofi = sistem kesadaran spiritual tingkat dua, yang biasa disebut Lathifatul khofi.
    • Software Akhfa = aplikasi sistem kesadaran spiritual tingkat tinggi, biasa disebut Lathifatul Akhfa.
    • Softwer Qalab = aplikasi sistem kesadaran menyeluruh (fisikal, intelektual, emosional dan spiritual) sekaligus. Kesadaran ini terkonsentrasi pada otak tengah  (messen cefalon) manusia. Dengan wilayah luar ubun-ubun kepala.

    C. Memahami Sistem Tranmisi Keilmuan.
    Dalam kajian ini (Mustiko Informatika), keilmuan semuanya berasal dari Allah yang maha berilmu (Al 'Alim). Dia memancarkan ilmu-Nya dengan cara emanasi (pancaran), seperti matahari memancarkan sinarnya atau atau lampu memancarkan cahayanya, atau seperti pemancar TV, radio, maupun satelit dan provider memancarkan sinyalnya.
    Allah, sebagai Al Khaliq (Sang pencipta), menciptakan media informasi dan komunikasi untuk semua makhluk atau ciptaannya, berupa alam semesta, berupa taburan dzarrah (partikel cahaya) di seluruh wilayah kekuasaan-Nya (dairotul imkan).
    Allah sebagai Al Mudabbir (desainer) memprogram sistem informasi dan komunikasi. Allah sebagai Al Badi' menghiasi seluruh perangkat alat komunikasi dan informasi dengan sangat indah dan menakjubkan. Allah sebagai Al Kalim mengkomunikasikan informasi dan ilmu, khususnya kepada Sang khalifah (wakil-Nya) di alam semesta, Yakni manusia. Yang merupakan profil figur 'sempurna' sebagai gambaran DIA yang Maha Kuasa. Karena memang manusia diciptakan sebagai gambaran Al-Rahman.
    Pancaran ilmu, energi, dan daya Allah (Al Faydl Al Robbani), melalui dzarrah yang ditransformasikan sebuah energi hidup (bio energy), supra sonik dengan gelombang cahaya super pendek yang sebut malak atau malaikat, yang bersifat spesifik dan profesional dalam tugas dan fungsinya. Mereka para malaikat  sebagai utusan Allah di alam metafisika (alam ghaib), sebagai mana Rasul adalah utusan Allah di alam dunia fisik (alam syahadah).
    Al Faydl Al Robbani ditransformasikan oleh malaikat secara profesional kepada makhluk-Nya yang support sesuai dengan jenis Faydl dan kesesuaian kebutuhan sang makhluk. Dan manusia adalah makhluk yang memiliki antena  tertinggi ('aql) dalam menerima Faydl Robbani yang berupa ilmu. Manusia juga telah dilengkapi oleh Allah SWT hardware keilmuan yang disebut otak dengan lebih satu triliun jaringan seluler biologis. Aktifasi otak manusia, khususnya otak tengah, akan memancarkan sinyal-sinyal biologis sehingga bisa menerima sinyal Faydl Robbani, khususnya yang berupa ilmu dan intuisi (Ilham atau Wahyu). Dengan tafakur (berfikir yang mendalam) dan tadzakur (mengheningkan Sang Pencipta yang mendalam), sinyal kerohaniannya akan memancar keluar terkoneksi dengan Faydl Robbani.

    E. Manusia - manusia ber 'anten' Spiritual.
    Orang-orang yang memiliki sinyal yang aktif pada hakikatnya adalah seorang yang yang memiliki antena spiritual (lubbun, jamaknya albaab). Mereka para pemilik lubbun (Ulul Albab) adalah orang-orang yang memiliki antena spiritual yang aktif. Mereka adalah terdiri dari para nabi, wali (Filosof maupun Sufi), atau para mistikus dan ahli kebatinan.
    Mereka mendapatkan ilmu pengetahuan dengan cara hudluri (menghadirkan ilmu pengetahuan) kepada sinyal yang dipancarkan oleh lubbun (antena spiritual) dari dalam aplikasi keruhanian software ruh (Lathifatur ruhi). Dengan mengheningkan cipta, menyedikitkan makan dan tidur, antena spiritual akan aktif dan menguat. Sehingga sinyalnya akan tersambung dengan sinyal akal ke sepuluh (malaikat Jibril). Berbeda dengan manusia biasa penduduk bumi. Mereka mendapatkan ilmu pengetahuan dengan mempergunakan panca indera dan akal intelektual, serta emosionalnya.
    Sehingga ilmunya disebut ilmu kasbi (usaha fisikal). Sedangkan ilmu pengetahuan yang didapatkan dengan cara hudluri (spiritual), adalah ilmu hikmah (ilmu hakekat atau ilmu filsafat). Sebuah pengetahuan konklusif (induk dan inti pengetahuan) yang dapat diuraikan dengan panjang lebar dengan referensi dan dalil fenomena alam semesta.

    Bagi para Nabi kelas tertinggi (Rasulullah yang Ulul Azmi), maka pengetahuan yang didapatkan bisa jadi sangat detail, riil dan alamiah. Ada yang bersifat seperti video, audio, dan gambar atau bayangan dan cahaya simbolik dan mereka Faham di dalam hatinya. Tetapi kebanyakan yang didapatkan oleh para waliyullah biasa adalah bahasa Ruhani yang berupa intuisi (Ilham)  didapatkan melalui mimpi di waktu tidur. Dan impian yang dialami oleh orang yang sholih adalah bagian dari 60 macam jenis Wahyu kenabian.

    F. Istilah-istilah Praktis Sufistik Informatikal.
    Ada tiga metode agar seorang manusia bisa sambung (wushul atau terkoneksi) dengan Allah SWT,  Yaitu; metode takhalli, tahalli dan tajalli.
    1. Takhalli atau mengosongkan diri atau membersihkan diri (tazkiyatun nafsi atau self scanning), yaitu menghilangkan sifat, perasaan, keinginan dan bahkan pikiran, yang buruk menurut ajaran agama Islam. Baik yang bersifat permanen maupun yang lintasan pikiran saja. Dengan cara menyedikitkan makan, minum dan tidur atau perbuatan lain yang bisa meningkatkan dorongan syahwat (keinginan) dan ghodhob (emosi).
    Atau kegiatan konsentrasi khusus meniadakan ingatan dengan dunia (semua hal yang selain Allah).
    Kegiatan ini akan berdampak pada bersihnya kabel ruhaniah kita, sehingga koneksi dengan Allah akan menjadi semakin jernih dan cepat. Proses Takhliyah atau self scanning terhadap kabel ruhaniah yang terbungkus di dalam badan jasmani kita. Lapisan kabel ruhaniah ini harus dibersihkan terlebih dahulu dari isolator yang menjadi pembungkus nya. Mulai lapisan paling luar (material najis dan hukum najis, hadats,  dosa-dosa, dan penyakit ruhaniah). Proses riil self scanning yang paling efektif adalah dengan dzikrullah, khususnya dzikir Sirri atau dzikir khafi yang difokuskan pada tombol aplikasi ruhaniah tertentu.

    2. Tahalli atau menghiasi diri dengan akhlak dan atau amaliah yang utama  yang disunnahkan oleh Rasulullah.
    Tahalli adalah sebuah metode untuk bisa wushul atau connecting dengan Allah SWT. Tahalli atau menghiasi diri dengan akhlak dan atau amaliah yang utama lagi mulia. Maksudnya seorang salik atau murid (orang yang ingin mendekatkan diri atau menemui Allah), dengan memfokuskan diri dan mengistikomah diri untuk berakhlak dan beramal shaleh, khususnya Amaliah yang telah menjadi Sunnah Rasulullah Saw. Dengan metode tahalli keburukannya juga akan hilangnya, sehingga dia akan dekat dengan Allah dan dicintai oleh Allah, Rasulullah dan juga orang-orang yang shaleh yang ada di sekitarnya. Dengan beramal dan berakhlak mulia secara istiqamah, seorang salik (seorang yang berjalan menuju Allah), akan bersinergi, terkoneksi  dengan Allah yang maha suci dan maha baik. Misalnya, selalu menjaga kesucian diri (daimul wudlu'), selalu sholat Sunnah, selalu qiyamullail dll.
    3. Tajalli, memperjelas diri dengan akhlak Rabbani (akhlak ketuhanan). Tajalli sebenarnya lebih tepat jika anggap sebagai hasil, bukan metode. Yakni, jika seseorang telah menerapkan takhalli dan tahalli, pasti akan tajalli (dia akan berkarakter seperti karakter Allah, seperti arrahman (pengasih), arrahiim (penyayang), Al quds (suci), dll.  Juga dia akan sangat faham akan sifat-sifat dan karakter Allah yang terpancarkan di alam semesta.
    Tetapi tajalli juga dapat digunakan sebagai metode, yaitu usaha maksimal untuk berakhlak mulia secara istiqamah meniru akhlaknya Allah dan rasul-Nya. Dengan demikian seseorang akan bisa merasakan kebersamaannya dengan Allah SWT. Juga menjadi bayangan atau cerminan Allah SWT.

    G. Cara Belajar Tasawuf dalam Tradisi Para Sufi.
    Ilmu tasawuf atau tasawuf sebagai ilmu adalah dalam kategori ilmu praktis artistik (seni) dengan standar rasa (dzauq), bukan praktis scaintifik (ilmiah) dengan standar rasio. Oleh karena itu ilmu tasawuf memiliki paradigma dan tehnik tersendiri dalam tatacara untuk menguasainya. Sebagai mana halnya ilmu kesenian, seperti seni musik, seni lukis dan seni sastra.
    Secara tradisional (Sunnah Rasulullah dan para salafus sholih) adalah sebagai berikut:

    1. Mencari guru pembimbing (Mursyid).
    Berusaha keras dan berdoa (memohon kepada Allah SWT), untuk mendapatkan guru pembimbing. Seseorang yang dapat menuntunnya berjalan di jalan Allah dan menuju kepada-Nya. Sebagai mana para sahabat mencari Rasulullah. Tanpa guru pembimbing sangat dikawatirkan dibimbing oleh hawa nafsu dan setan laknatullaah.
    Guru pembimbing (Mursyid), adalah manusia hidup, yang mendapatkan hak dan mandat dari Mursyid sebelumnya untuk menjadi Mursyid.
    Guru Mursyid bagi para murid ibaratnya seperti repiter (pemancar ulang), sehingga seorang murid mendapatkan sinyal kuat untuk berkomunikasi dengan Allah SWT. Juga bisa diibaratkan sebagai stop kontak yang menjadi colokan listrik, untuk charging untuk mengisi baterai ruhaniahnya. Mursyid juga bisa diibaratkan sebagai imam sholat bagi makmumnya.
    2. Berbai'at di hadapan Guru Mursyid.
    Setelah menemukan guru pembimbing (Mursyid), dengan kreteria umum yang disepakati, memiliki silsilah yang bersambung sampai dengan Rasulullah sebagai Mursyid dan ajarannya tidak bertentangan dengan syariat dan Sunnah Rasulullah. Juga kemantapan pribadi, karena akhlak dan keilmuannya, selanjutnya seorang murid berjanji setia (bai'at) sebagai murid.  Setia untuk ta'at dan setia untuk istiqamah mengamalkan ajarannya. Berbai'at tidak semua secara sharih (jelas dengan kata-kata), seringkali kehadiran di hadapan Guru untuk minta diajari dzikir atau ilmu tasawuf, berarti sudah dianggap bai'at, sehingga diajari dzikrullah. Bai'at ini sangat penting dan menentukan kesuksesan seseorang dalam meniti jalan kehidupan spiritual seseorang, khususnya kenaikan tingkat maqomatnya (kedudukan spiritual).
    Dengan berbai'at seorang telah mengikatkan jiwa atau ruhani kepada jiwa dan Ruhani gurunya. Dia akan berjalan dengan naik dan turun dalam perjalanan Ruhani bersama dengan guru nya. Tanpa bai'at maka tidak ada pertalian resmi diantara keduanya. Sehingga kemungkinan sangat kecil akan terjadi sebuah perjalanan ruhani, juga perubahan Kwalitas akhlak dan keruhaniannya.

    3. Menerima pengajaran dari Guru Mursyid.
    Langkah ketiga dari belajar tasawuf menurut tradisi para sufi adalah menerima pengajaran dari guru mursyid (talqin). Dalam tradisi Jawa disebut "diwejangan".
    Pengajaran guru mursyid (talqin dzikir),  sangat penting bagi seorang murid. Karena talqin atau pengajaran oleh mursyid dapat  dianalogikan sebagai proses install aplikasi dzikir. Dengan talqinnya mursyid, seorang murid bisa berdzikir secara istiqamah. Talqin dzikir secara tradisional ibarat penyulutan api pada sumbu lampu hati kita oleh seseorang yang telah membawa api suci dari Rasulullah.
    Seorang murid harus membuka pintu hatinya untuk menerima pengajaran dari guru mursyidnya, dengan senang hati, cinta kasih dan penuh harap. Bahkan berkeyakinan positif, bahwa tanpa pengajaran dan bimbingan dari guru mursyidnya, dia tidak akan sampai kepada Allah. Talqin juga berfungsi sebagai pembersih kotoran jiwa yang paling keras, juga sebagai pencabut akar akhlak buruk dan penanaman bijih kalimat thoyyibah yang tentunya akan menumbuhkan pohon akhlak  yang terpuji.
    Proses talqin ini harus difoto dan diabadikan di dalam hati atau ingatan seorang murid. Karena foto  guru pembimbing di dalam batin seorang murid adalah ruhaniahnya guru itu sendiri. Sehingga mengingat nya  berarti adalah menyambungnya.
    Tanpa talqin dari sang mursyid seorang murid tidak memiliki bijih kalimat thoyyibah yang bisa menumbuhkan pohon akhlak mulia. Atau seperti orang yang lampu hatinya tidak menyali. Atau seperti orang yang mau membuka hp tetapi tidak mempunyai pass word atau kode pembukanya.

    4. Mengamalkan dan mushohabah dengan Guru Mursyid.
    Langkah selanjutnya metode belajar tasawuf dalam tradisi para sufi adalah mengamalkan ajaran dan mushohabah dengan Guru Mursyidnya. Artinya, seorang murid yang telah diberikan pengajaran atau wejangan atau talqin, selanjutnya harus mengamalkan ajaran mursyidnya dengan yakin, penuh harap dan istiqamah.
    a. Mengamalkan ilmu wejangan dan talqin dari guru mursyidnya.
    Pengamalan ilmu harus sesuai dengan pengajaran dari sang mursyid, persis. Tanpa perubahan dan tafsir sama sekali. Dengan dasar mahabbah (cinta) dan husnudhon (prasangka baik), atas kesempurnaan sang guru. Di samping itu, pengamalan ajaran diperjuangkan untuk bisa istiqamah (komitmen dan konsisten). Presisi dan keistiqomahan dalam pengamalan ajaran sang guru oleh seorang murid akan sangat menentukan keberhasilan seseorang mencapai target pendidikan. Yakni terjadinya perubahan karakter (akhlak) seseorang. Dari akhlak yang tercela (madzmumah) berubah menjadi akhlak yang terpuji (mahmudah). Dengan sistem gradual (bertahap), dari maqab ke maqom yang lebih tinggi, sehingga sempurna sebagai gambaran Al Rohman (shuroti Ar Rahman). Sehingga menjadi bahagia yang hakiki. Jasmani dan rohani, dunia dan akhirat.
    b. Mushohabah dengan Guru Mursyid.
    Murid yang Shodiq (bener), akan mengikuti tradisi para sahabat Rasulullah Saw. Yakni menemani Rasulullah di dalam suka dan dukanya kanjeng rasul. Karena Rasulullah adalah bapak ruhaninya, atau stop kontak tempat nge-charge energi batinnya, atau WiFi dan repiter untuk mendapatkan sinyal ketuhanan yang akan menyambungkan  ruhaninya dengan yang maha kuasa.
    Berdasarkan intensitas hubungan para sahabat dengan Rasulullah, dapat dikelompokkan menjadi empat, kelas, yaitu ; kelas, a, b, c, dan d.
    Kelas a, para sahabat yang menemani Nabi Full Time, bahkan mereka tinggal di serambi masjid Rasulullah, mereka adalah ahlus suffah.
    Kelas b, adalah para sahabat yang selalu menemani sang Rasul setiap pengajian dan jama'ah sholat lima waktu. Mereka berangkat dari rumah masing-masing.
    Kelas c, adalah para sahabat yang menemani sang Rasul ketika beliau dalam kerepotan atau kegiatan perjuangan tertentu saja.
    Kelas d, para sahabat yang menemani sang Rasul hanya pada kegiatan rutin tertentu, mingguan, bulanan atau tahunan.  Bahkan ada yang hanya sekali saja bertemu dengan beliau selama hidupnya. Bagi murid yang Shodiq guru pembimbingnya adalah WiFi dan tipiter  kepanjangan jaringan seluler (silsilah ruhaniah) dari Rasulullah Saw. Sehingga sang murid selalu berusaha untuk mendekatkan diri dan bersama-sama dengan sang mursyid.  Agar kedekatan dan kebersamaan murid terhadap sang guru memberi manfaat yang besar bagi murid (mendapatkan barokah), yang berupa pancaran cahaya ilahi, maka sang murid harus selalu menjaga adab yang baik, sebagai mana para sahabat beradab kepada Rasulullah. Yang secara garis besar adalah hurmat (memuliakan),  ta'dhim (mengagungkan), dan khidmat (melayani), terhadap sang guru dan apa saja yang terkait dengannya. Keluarga, harta benda dan juga kehormatannya. Dengan penuh rasa cinta.

    5. Keutamaan Belajar Tasawuf versi Para Sufi. 
    Belajar ilmu tasawuf dengan metode para sufi, sebagai pelestarian tradisi para sahabat, memiliki manfaat yang besar dan pengaruh yang luar biasa. Dan berbeda dengan belajar dengan metode para ilmuwan atau ulama' yang lain, (metode mengisi dan mengasah kecerdasan intelektual (kognitif). Dengan metode belajar seperti itu, seseorang akan menjadi 'alim (berpengetahuan luas), tetapi tidak bisa menjadi pengamal dan penghayat atas ajaran tasawuf, serta tidak akan bisa merubah karakter atau akhlak seseorang.
    Sebaliknya, dengan metode belajar para sufi, seorang murid akan mengalami proses perubahan karakter yang sangat ekstrim dengan cara bertahap. Serta akan mendapatkan kebahagiaan yang hakiki, yaitu kebahagiaan dunia dan akhirat sekaligus. Material fisikal dan spiritual ruhaniah.
    Dengan belajar mengikuti metode para seorang murid akan mengalami, pengalaman spiritual, perubahan karakter, dan kepuasan hakiki.
    a. Pengalaman spiritual. Murid yang istiqamah dalam melakukan hal-hal yang diajarkan sang guru mursyid, akan mengalami pengalaman spiritual, berupa nikmatnya ibadah, berita dan bimbingan, serta petunjuk Allah melalui mimpi-mimpi maupun isyarat dhohir dari fenomena alam sekitar.
    b. Perubahan karakter
    Dengan belajar tasawuf metode para sufi akan terjadi proses tazkiyatun nafsi (pembersihan jiwa), proses taroqqi (meningkatnya kwalitas akhlak) dan transferensi (duplikasi  akhlak guru dalam diri murid). Ketika terjadi proses tazkiyatun nafsi, secara berangsur-angsur sifat-sifat buruk akan menghilang dan sifat-sifat baik akan muncul sebagai cerminan dari asma-asma Allah yang indah (Al Asma'Al Husna), berangsur-angsur menjadi jelas tampak dalam diri dan kepribadiannya.
    Dari proses tazkiyatun nafsi, sampai terbentuk sebuah karakter yang jelas sebagai petunjuk posisi dirinya di hadapan Allah SWT, yang biasa disebut Maqam. Beberapa maqam yang mesti dilalui oleh seorang murid (maqamat), baik maqam kehambaan (taubat, Zuhud, wara' dll), maupun maqam kekhalifahan ('abdur Rohman, 'abdur Rohim, Abdus salam dst).  secara tertahap akan dimiliki oleh seorang murid yang istiqamah dalam SULUK nya sehingga mencapai kesempurnaan karakter yang mulia sehingga menjadi pribadi yang sempurna (insan Kamil), sebagai mana manusia Rasulullah Saw, Sang Manusia sempurna (Al Insan Al Kamil).

    H.  Suluk, Maqamat dan Ahwal.

    Suluk sebagai konsep dalam ilmu tasawuf adalah sebuah proses sekaligus sebuah sistem pendidikan keruhanian kaum sufi.
    Yang artinya perjalanan serius menuju Allah SWT, dengan Istiqamah menjalani ajaran, wejangan dan talqin guru Mursyid, inilah pengertian umum Suluk.
     Tetapi suluk juga sering diartikan sebagai kholwat (menyepi) di pesantren sang mursyid, melakukan ibadah secara intensif dalam beberapa hari dalam bimbingan langsung sang guru. Inilah pengertian Suluk secara khusus.
    Di dalam program Suluk, baik dalam pengertian umum maupun khusus, Suluk memiliki empat komponen, Yaitu:  Salik (murid), mursyid (guru pembimbing), Amaliah (pengamalan pelajaran dan ajaran), Adab (tata Krama dan aturan dalam kegiatan Suluk). Keberhasilan dalam SULUK sangat terpengaruhi oleh komitmen,  konsistensi dan adab (sikap mental positif seorang murid terhadap sang guru).
    Selama dalam proses Suluk, seorang salik harus selalu Mushohabah dengan guru pembimbingnya; menemani, mentaati, menghormati dan mengistimewakan sang guru. Sedangkan sang guru hendaknya selalu menyayangi, membimbing dan mendoakannya.  Doa, restu dan ridho sang guru adalah kabel penghantar turunnya faidl Robbani ke dalam hati seorang murid sehingga murid bisa wushul kepada Allah.
    MAQAMAT, atau posisi - posisi seorang hamba Allah di hadapan Tuhannya, adalah terwujudkan dalam bentuk akhlak atau karakter permanen yang terbentuk dari istiqamah seorang salik dalam SULUK nya. Karena efek dzikrullah yang sungguh-sungguh dan intensif, maka jiwa bergetar, cair dan berubah wujud sedikit demi sedikit, sehingga terjadi perasaan tertentu (Ahwal), seperti; khauf (takut), roja' (penuh harap), damai, rindu dll. Sehingga terbentuk akhlak yang permanen, seperti; taubat (kembali kepada Allah), Zuhud (tidak terkesan dengan materi), waro' (berhati-hati) dalam kehidupan, sabar (tahan dan setia terhadap hambatan dan rintangan), Syukur (berterimakasih kepada Allah) dll.
    Di samping berbentuk akhlak atau karakter kehambaan tersebut, maqamat juga ada yang karakter yang bersifat ilahiah, karena manusia sebagai khalifatullah fiddunya (Wakil Allah di dunia). Maqamat pada sisi ini adalah karakter cerminan dari asma-asma Allah yang indah (Al Asma' al Husna), seperti; Abdurrahman, Abdurrahim, Abdul Malik dan Abdul Qudus.
    Baik maqam kehambaan maupun maqam kekhalifahan, keduanya, keduanya sama-sama perbuatan atau sikap mental yang telah terasakan mudah, ringan dan bahkan menyenangkan. Karena maqamat berarti memang posisi dan karakter dirinya, bukan perbuatan yang diusahakan dan diperjuangkan. Sehingga beda antara bersabar dengan maqam sabar, bersyukur dengan maqam syukur. Dan sebagainya.
    Sedangkan Ahwal (beberapa kondisi) adalah suasana hati seorang Salik (orang yang lagi Suluk), seperti; khauf (takut,  khawatir dan pesimis terhadap respon Allah) atas keberadaan diri dan ibadahnya. Roja' (penuh harap, mantap dan optimistis), terhadap respon Allah atas keberadaan diri dan amal ibadah. Syauq (rindu), untuk bertemu, bermunajat dan beribadah kepada Allah. Isyq, uns dan lain sebagainya.

    I.  Ikhtitam (penutup).
    Belajar tasawuf, baik ilmu, filsafat, seni dan Amalia pada dasarnya adalah sama saja, yakni dengan cara langsung atau praktek, sebagai mana tradisi para sufi. Baik di era klasik, modern maupun milenial, materi kajian tasawuf adalah sama saja juga,  yang beda adalah bahasa dan filsafat serta dalil-dalil rasionalnya (berbeda-beda). Era Milenial ini tasawuf mendapatkan dalil dan landasan filosofis informatika. Ilmu dan teknologi informasi di era digital pada milenium ketiga ini merupakan perwujudan integrasi antara peradaban barat dan timur. Peradaban barat telah mampu melesaikan dan menggabungkan antara soft material (materi lembut) dan hard material (materi keras) menjadi dua buah perangkat yang bersinergi (software dan hardware) menjadi sebuah teknologi canggih yang disebut komputer. Tekhnologi ini telah mewujudkan 'manusia buatan' dengan cara pandang peradaban timur, yakni manusia yang terdiri dari ruh dan jasad. Ruh sebagai software, dan jasad sebagai hardware.
    Ilmu tasawuf adalah ilmu untuk perawatan software manusia yang disebut ruh atau nafs atau jiwa itu.
    Ilmu tasawuf yang dimiliki oleh penulis adalah anugerah Allah SWT yang diberikan kepadanya melalui para guru mursyidnya, khususnya Syekh KH. Zamroji Saerozi dan Syekh KH. Muhammad Luthfil Hakim Muslih. Beliau berdua menerima dari Syekh KH. Muslih bin Abdurrahman, beliau dari Syekh KH. Abdurrahman Menur, beliau dari Syekh KH.Ibrohim Al Brumbungi, beliau dari Syekh KH Abdul Karim Al Bantani. Syekh Abdul Karim dari Syekh Ahmad Khatib as Sambasi, beliau dari Syekh Syamsuddin, dari Syekh Murod, dari Syekh Abdul Fattah, dari Syekh Usman, dari Syekh Abdurrahim, dari Syekh Abu bakar, dari Syekh Yahya, dari Hisyamuddin, dari Syekh Waliyuddin, Syek Nuruddin, dari Syekh Syarifuddin, dari Syekh Syamsuddin. Beliau dari Syekh Hattaq, dari Syekh Abdul Aziz, dari Syekh Abdul Qodir Jaelani, dari Syekh Abu Sa'id Al Mubarok Al Majzumi, dari Syekh Abdul Hasan Ali Al Karokhi, dari Syekh Abul Farraj Al Turtusi, dari Abdul Wahid Al Tamimi, dari Abu Bakar Al Syibli, dari Syekh Abu Qasim Junaedi Al Baghdadi, dari Syekh Sarri Al Saqathi, dari Syekh Ma'ruf Al Karokhi, dari Sayyid Ali bin Musa Al Ridlo, beliau dari Sayyid Musa Al Kadhim, dari Sayyid Ja'far as Shadiq, dari Sayyid Muhammad Al Baqir, dari Sayyid Zainal Abidin, dari Sayyidina Husain bin Ali, dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib, dari Sayyidina wa Nabiyuna Muhammad Saw, dari Malaikat Jibril as, dari Allah Rabbil'aalamiin.

    Baarokallaah lii wa lakum wa lii saairil muslimiin. Walhamdu lillaahi robbil'aalamiin.

    Kelutan, 7 Mei 2019

    Abdullah Kharisuddin Aqib.

    Memahami Hakikat Aswaja dan Aswaja Haqiqi
    Oleh: Kharisuddin Aqib

    A. Pengantar
    Keberadaan 'ideologi' Ahli Sunnah wal jama'ah yang biasa disingkat menjadi Aswaja di dunia Islam, khususnya di Indonesia, sampai saat ini masih sangat hegemonik terhadap pemikiran keagamaan kaum muslimin. Bahkan di kalangan tertentu terkesan sakral dan disakralkan  oleh setiap pengikut aliran yang berbeda.
    Sehingga terjadi claimming truth (pengakuan monopoli kebenaran), yang ujung-ujungnya juga berdampak pada terwujudnya 'ashobiyah dan 'aqidah takfiri, yang bersifat merusak ukhuwah islamiah. Oleh karena itu penting bagi kita memahami perbedaan hakikat Aswaja dengan Aswaja yang Haqiqi.

    B. Hakekat Aswaja.
    Ahlussunah wal jama'ah adalah nama sebuah kumpulan firqah-firqah ahli sunnah (beberapa aliran dalam Islam, yang meyakini bahwa sunnah Rasulullah adalah sumber ajaran Islam) di samping Al Qur'an. Berbeda dengan ahli ra'yi (aliran dalam Islam yang meyakini bahwa akal adalah sumber ajaran Islam di samping Al Qur'an), di antara mereka yang ekstrim disebut munkirus sunnah. Gerakan ahli Sunnah wal jama'ah (Ahli Sunnah grup), dimobilisir pertama kali adalah dalam rangka melawan tirani kaum mu'tazilah di bawah pemerintahan Mu'tashim Billah dan Al Mutawakkil (Keduanya adalah Khalifah Dinasti Abbasiyah). Juga antisipatif terhadap kaum Syi'ah. Sehingga pada hakikatnya, Ahlus sunnah wal jama'ah (Ahli Sunnah Grup's) adalah sebuah partai politik poros tengah zaman klasik.
    Kebangkitan Aswaja pada saat itu terjadi prakarsa dan wibawa seorang tokoh teologi pendiri firqah konvergensi mu'tazilah plus,  (ahlurro'yi + ahlus sunnah) yang dikenal Firqah Asy'ariah. Beliau adalah mantan tokoh utama kaum mu'tazilah. Aswaja terdiri dari banyak aliran dalam Islam, bahkan hampir seluruh aliran dalam Islam adalah Ahli Sunnah. Para fuqoha' , para ahli hadits, para ahli tasawuf dan para mutakallimun (teolog), pada umumnya adalah ahli sunnah. Kecuali kaum mu'tazilah dan qadariyah dan Syiah sebagai gerakan politik.

    C. Aswaja Haqiqi
    Di dalam 9 kitab  hadits yang otoritatif (kutubut tis'ah) tidak kita temukan kalimat ahlussunah wal jama'ah, tetapi yang kita temui hanyalah kata ahlussunah, dan kata ahlul jama'ah saja. Memang Ahlussunah wal jama'ah, artinya adalah Ahlussunah Grup. Sehingga kalau mencari siapa sebenarnya Aswaja yang Haqiqi ya siapa saja yang paling sesuai dengan definisi yang diberikan oleh Rasulullah Saw tentang ahlussunah, yaitu;
    "maa Ana  'alaihil yauma wa ash haabii".
    (Orang yang seperti aku dan para sahabat ku hari ini). Bagaimana kondisi nabi dan para sahabat pada saat itu ? Gerak hidup dan kehidupannya semata-mata dalam rangka mencari ridlo Allah SWT (tholibul ridlo). Ahlussunah yang Haqiqi adalah firqah an najiah (kelompok yang selamat) dari api neraka. Sedangkan 72 yang lainnya, pasti tidak akan selamat dan akan masuk neraka. Siapa mereka yang termasuk 72 itu;
    1. 24 kelompok orang dari Kalangan para pemimpin.
    2. 24 kelompok orang dari kalangan kelompok menengah.
    3. 24 kelompok orang dari kalangan rakyat jelata.
    Baik dari kalangan tokoh pemimpin, kelas menengah maupun rakyat jelata ada yang ujung-ujungnya adalah pencari kekayaan, pencari kenikmatan, pencari kedudukan, dan pencari pujian. Dengan 3 cara pencarian yang sesuai dengan tabiatnya. 1. Ada yang dengan cara kasar atau paksaan, 2. dengan cara licik atau tipuan, dan 3. dengan cara resmi atau kewajaran. Dari kesemua 'pencari dunia' tersebut , modelnya tidak terlepas dari dua macam, yakni; ada yang terang-terangan dan ada yang sembunyi - sembunyi. Sehingga lengkaplah menjadi 72 firqah yang tidak akan selamat dari siksa api neraka. Karena menyalahi tujuan Allah menciptakan kita sebagai manusia. Dan hanya satu dari semua manusia dalam semua kelas sosialnya yang selamat, yakni  ahlussunah (pengikut Sunnah Rasulullah dan para sahabatnya) sebagai pencari ridlo Allah SWT. Itulah Aswaja yang Haqiqi.

    D. Penutup.
    Kesimpulan dari judul Hakekat Aswaja adalah kumpulan para pengikut aliran aqidah Islam yang meyakini sunnah Rasulullah sebagai sumber hukum dan ajaran Islam, sebagai organisasi gerakan politik keagamaan zaman klasik.
    Sedangkan Aswaja yang Haqiqi adalah firqah ahlussunah (kelompok orang yang konsisten mengikuti sunnah Rasulullah dalam seluruh totalitas aqidah dan akhlaknya), yaitu pencari ridlo Allah SWT.  Bukan dalam bentuk-bentuk fisik syari'at, ritual dan sosial politiknya.
    Oleh karena itu marilah kita bersama-sama berusaha keras untuk selalu menjadi ahli sunnah  yang Haqiqi, dengan mengikuti Sunnah Rasulullah dan para sahabatnya, yaitu beramal dan beribadah semata -mata mengharapkan ridho Allah SWT.

    Wallahu a'lam bis showab.
    TTD
    Kharisuddin Aqib

    Memahami Hakikat Aswaja dan Aswaja Haqiqi

    Posted at  11.03  |  in  pondok kelutan  |  Read More»

    Memahami Hakikat Aswaja dan Aswaja Haqiqi
    Oleh: Kharisuddin Aqib

    A. Pengantar
    Keberadaan 'ideologi' Ahli Sunnah wal jama'ah yang biasa disingkat menjadi Aswaja di dunia Islam, khususnya di Indonesia, sampai saat ini masih sangat hegemonik terhadap pemikiran keagamaan kaum muslimin. Bahkan di kalangan tertentu terkesan sakral dan disakralkan  oleh setiap pengikut aliran yang berbeda.
    Sehingga terjadi claimming truth (pengakuan monopoli kebenaran), yang ujung-ujungnya juga berdampak pada terwujudnya 'ashobiyah dan 'aqidah takfiri, yang bersifat merusak ukhuwah islamiah. Oleh karena itu penting bagi kita memahami perbedaan hakikat Aswaja dengan Aswaja yang Haqiqi.

    B. Hakekat Aswaja.
    Ahlussunah wal jama'ah adalah nama sebuah kumpulan firqah-firqah ahli sunnah (beberapa aliran dalam Islam, yang meyakini bahwa sunnah Rasulullah adalah sumber ajaran Islam) di samping Al Qur'an. Berbeda dengan ahli ra'yi (aliran dalam Islam yang meyakini bahwa akal adalah sumber ajaran Islam di samping Al Qur'an), di antara mereka yang ekstrim disebut munkirus sunnah. Gerakan ahli Sunnah wal jama'ah (Ahli Sunnah grup), dimobilisir pertama kali adalah dalam rangka melawan tirani kaum mu'tazilah di bawah pemerintahan Mu'tashim Billah dan Al Mutawakkil (Keduanya adalah Khalifah Dinasti Abbasiyah). Juga antisipatif terhadap kaum Syi'ah. Sehingga pada hakikatnya, Ahlus sunnah wal jama'ah (Ahli Sunnah Grup's) adalah sebuah partai politik poros tengah zaman klasik.
    Kebangkitan Aswaja pada saat itu terjadi prakarsa dan wibawa seorang tokoh teologi pendiri firqah konvergensi mu'tazilah plus,  (ahlurro'yi + ahlus sunnah) yang dikenal Firqah Asy'ariah. Beliau adalah mantan tokoh utama kaum mu'tazilah. Aswaja terdiri dari banyak aliran dalam Islam, bahkan hampir seluruh aliran dalam Islam adalah Ahli Sunnah. Para fuqoha' , para ahli hadits, para ahli tasawuf dan para mutakallimun (teolog), pada umumnya adalah ahli sunnah. Kecuali kaum mu'tazilah dan qadariyah dan Syiah sebagai gerakan politik.

    C. Aswaja Haqiqi
    Di dalam 9 kitab  hadits yang otoritatif (kutubut tis'ah) tidak kita temukan kalimat ahlussunah wal jama'ah, tetapi yang kita temui hanyalah kata ahlussunah, dan kata ahlul jama'ah saja. Memang Ahlussunah wal jama'ah, artinya adalah Ahlussunah Grup. Sehingga kalau mencari siapa sebenarnya Aswaja yang Haqiqi ya siapa saja yang paling sesuai dengan definisi yang diberikan oleh Rasulullah Saw tentang ahlussunah, yaitu;
    "maa Ana  'alaihil yauma wa ash haabii".
    (Orang yang seperti aku dan para sahabat ku hari ini). Bagaimana kondisi nabi dan para sahabat pada saat itu ? Gerak hidup dan kehidupannya semata-mata dalam rangka mencari ridlo Allah SWT (tholibul ridlo). Ahlussunah yang Haqiqi adalah firqah an najiah (kelompok yang selamat) dari api neraka. Sedangkan 72 yang lainnya, pasti tidak akan selamat dan akan masuk neraka. Siapa mereka yang termasuk 72 itu;
    1. 24 kelompok orang dari Kalangan para pemimpin.
    2. 24 kelompok orang dari kalangan kelompok menengah.
    3. 24 kelompok orang dari kalangan rakyat jelata.
    Baik dari kalangan tokoh pemimpin, kelas menengah maupun rakyat jelata ada yang ujung-ujungnya adalah pencari kekayaan, pencari kenikmatan, pencari kedudukan, dan pencari pujian. Dengan 3 cara pencarian yang sesuai dengan tabiatnya. 1. Ada yang dengan cara kasar atau paksaan, 2. dengan cara licik atau tipuan, dan 3. dengan cara resmi atau kewajaran. Dari kesemua 'pencari dunia' tersebut , modelnya tidak terlepas dari dua macam, yakni; ada yang terang-terangan dan ada yang sembunyi - sembunyi. Sehingga lengkaplah menjadi 72 firqah yang tidak akan selamat dari siksa api neraka. Karena menyalahi tujuan Allah menciptakan kita sebagai manusia. Dan hanya satu dari semua manusia dalam semua kelas sosialnya yang selamat, yakni  ahlussunah (pengikut Sunnah Rasulullah dan para sahabatnya) sebagai pencari ridlo Allah SWT. Itulah Aswaja yang Haqiqi.

    D. Penutup.
    Kesimpulan dari judul Hakekat Aswaja adalah kumpulan para pengikut aliran aqidah Islam yang meyakini sunnah Rasulullah sebagai sumber hukum dan ajaran Islam, sebagai organisasi gerakan politik keagamaan zaman klasik.
    Sedangkan Aswaja yang Haqiqi adalah firqah ahlussunah (kelompok orang yang konsisten mengikuti sunnah Rasulullah dalam seluruh totalitas aqidah dan akhlaknya), yaitu pencari ridlo Allah SWT.  Bukan dalam bentuk-bentuk fisik syari'at, ritual dan sosial politiknya.
    Oleh karena itu marilah kita bersama-sama berusaha keras untuk selalu menjadi ahli sunnah  yang Haqiqi, dengan mengikuti Sunnah Rasulullah dan para sahabatnya, yaitu beramal dan beribadah semata -mata mengharapkan ridho Allah SWT.

    Wallahu a'lam bis showab.
    TTD
    Kharisuddin Aqib

    Ringkasan Sejarah Islam di Indonesia
    Oleh; Kharisudin Aqib   

    A. Pengantar

    Untuk memahami kondisi umat Islam di Indonesia sekarang, baik secara politik, ekonomi dan sosial budaya termasuk model keislamannya, tidak mungkin bisa memahaminya dengan baik kecuali telah memahami sejarah kedatangan umat Islam dan perkembangannya di Indonesia.
    Setidaknya ada tujuh fase historis penting yang mempengaruhi corak dan warna warni serta subur dan kurusnya keislaman umat di Indonesia, ketujuh fase ini adalah; fase dakwah infirodiyah (individual), dakwah rosmiyah (formal); masa kewalian dan masa kesultanan, masa kolonial (penjajahan), masa kebangkitan, masa kemerdekaan dan masa kini (kontemporer).
    In syaa'a Allah ke tujuh fase tersebut akan saya tulis  walaupun sekedar ringkasannya saja. Semoga bermanfaat dan berkah untuk semua.
    B. Fase Dakwah Individual (abad 7-13 M).
    Islam sudah masuk di kawasan Nusantara, sudah cukup lama, yakni sekitar tahun 650 (masa ke khalifahan Sahabat Usman bin Affan). Islam dibawa oleh para pedagang Arab yang telah menguasai peta laut dan navigasi. Juga secara individual dilakukan oleh para sufi dan dzurriyyah Nabi. Sehingga sebenarnya Islam sudah masuk di kawasan Nusantara sangat lama. Akan tetapi belum bisa tumbuh subur dan menjulang tinggi ke permukaan peradaban. Islam hanya menjalar di dalam 'tanah' sebagai akar budaya. Kelas elit politik dan sosial kawasan Nusantara belum bisa menerima Islam lebih karena para da'inya. Dalam pandangan agama Hindu dan Budha, sebagai agama penguasa kawasan ini pada masa itu, para petani, pedagang dan tukang adalah kasta (kelas sosial) yang paling rendah, mereka tidak berhak 'berbicara' perkara sakral dan suci (agama). Sehingga pada era ini (abad 7-13), Islam hanya berwujud agama budaya dalam komunitas proletar (rakyat jelata).
    C. Fase Dakwah Resmi (abad 14-16 M)
    Sekitar dua setengah abad (14-16 M), meliputi dua era, yakni era kewalian dan era kesultanan. Era ini sempat moncer dan bersinar terang, menerangi seluruh kepulauan Nusantara.
    Bersamaan dengan meredupnya pamor kerajaan-kerajaan Hindu Budha di kawasan Nusantara, karena kejahatan dan menguatnya kekuatan hitam (Tantrayana kiri), sehingga wilayah Nusantara, khususnya pulau Jawa, menjadi daerah yang 'suram' jalmo Moro jalmo mati (setiap orang yang datang pasti mati). Maka kekhalifahan Islam di Turki (Khalifah Muhammad 2) mengubah strategi dakwahnya di wilayah Nusantara dengan mengirimkan tim da'i profesional, yang dikenal di Pulau Jawa dengan istilah WALI SONGO. Mereka adalah para ulama' Sufi yang Zuhud lagi memiliki keahlian yang sangat tinggi. Mereka antara lain didatangkan dari Palestina, Maroko, Kamboja dan Mesir. Konon organisasi ini berjalan selama 6 pereode dengan jumlah selalu 9 orang, pada area dakwah 9 daerah kewalian (9 wilayah). Tugas para wali tersebut di samping berdakwah mengajak masyarakat untuk masuk dan memeluk agama Islam, melaksanakan kepemimpinan umat juga membentuk pemerintahan Islam yang resmi di bawah otoritas Kekhalifahan Dinasti Usmaniyah yang berpusat di Turki dan wakil kekhalifahan di Makkah, (Syarif, wali kota Makkah).
    Pemerintahan Islam yang dibentuk oleh para Walisongo adalah kesultanan, yang wilayah kerjanya mungkin setara dengan Gubernuran.
    Pada era inilah warna keislaman di Nusantara, khususnya Indonesia menjadi sangat jelas, yakni Islam sufistik, yang bermazhab Syafi'i. Sebagaimana marna keislaman Kekhalifahan turki Usmani.
    D. Fase Kolonialisme (Abad 17-20 M).
    Dalam sejarah Indonesia, abad ini disebut Fase kolonialisme. Dari sisi sejarah Islam Indonesia, fase ini masih masuk fase kesultanan. Karena pada fase ini umat Islam masih di bawah pemerintahan para sultan dan Adipati, khususnya sampai awal abad 19-an. Sekalipun pemerintahan Islam kebanyakan sudah tidak berdaya dan sangat 'tua' menghadapi hegemoni para kompeni (pedagang) dari Belanda, yang lebih maju dalam hal teknologi (tranportasi dan militer), dan cara berfikir. Sehingga pada era ini, umat Islam berada di dalam beberapa kondisi politik; melemahnya politik Islam, penjajahan Belanda, kebangkitan nasionalisme Islam. Kebangkitan nasionalisme Indonesia dan kemerdekaan.
    1. Fase melemahnya politik Islam.
    Kedatangan bangsa Eropa (Portugis, Spanyol, Inggris dan Belanda), di kawasan Nusantara ini sangat besar pengaruhnya terhadap 'kesehatan' politik umat Islam. Dengan taktik 'Devide at Ampera' (memecah belah dan menguasai), secara sistematis kesultanan dan Islam politik bisa dibonsai dan dikuasai, dengan pelan-pelan tetapi pasti. Sehingga Islam di Indonesia belum pernah muncul sebagai kekuatan puncak, tingkat nasional maupun internasional. Pemerintahan Islam di kawasan Nusantara baru bersifat lokal regional saja.
    Kekuasaan Sultan Iskandar muda dari Aceh (Samudera Pasei) dan Sultan Agung dari Mataram Surakarta, adalah puncak prestasi politik Islam. Hampir semua kesultanan dan kadipaten, runtuh karena perang saudara, dengan sutradara para politikus licik kompeni Belanda.
    2. Era Titik Nadir Sejarah Islam Indonesia.
    Sekitar abad 18 -19 M adalah titik nadir kondisi umat Islam di Indonesia, dalam hampir semua kondisinya, (ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya). Hampir seluruh kesultanan, dan kadipaten Islam di seluruh wilayah Nusantara berada di dalam cengkeraman dan penindasan kaum penjajah (Belanda, Inggris dan Portugis).
    Mulai saat itu, terjadinya dikotomi dan komunitas muslim yang beragam.
    Umat Islam yang kurang kuat iman dan ilmunya cenderung mengikuti para penjajah (menjadi pegawai dan karyawan mereka), menjadi kelas bangsawan pro penjajah (budaya, cara berfikir dan agamanya). Sementara yang imannya kuat dan dan berdaya, mengambil peran oposisi, dan mengambil garis demarkasi dengan penjajah, bahkan membuat benteng -benteng pertahanan agama dan budaya yang disebut pesantren. Dari sinilah lahir komunitas santri.  Sedangkan kelompok tengah (para pedagang dan profesi) selanjutnya berkembang menjadi yang keislaman tidak terbina dengan baik, tetapi juga tidak mengikuti agama dan budaya penjajah Belanda. Mereka itu yang di belakang hari disebut kaum abangan.
    Terjadi dikotomi pendidikan dan keilmuan, pendidikan agama (pondok pesantren-madrasah) dan umum (sekolah-universitas). Juga menguatnya keberadaan pengaruh agama Kristen dan peradaban Belanda di Indonesia.
    Ekploitasi besar-besaran terhadap sumber daya manusia dan sumber daya alam Nusantara dilakukan oleh para penjajah, baik oleh Belanda maupun yang lain. Tanam paksa untuk suplai kebutuhan pasar Eropa, maupun kerja paksa untuk pembangunan infrastruktur pendukung kelancaran roda ekonomi dan pemerintahan pada masa ini selalu dilakukan oleh pemerintah Belanda, atas rakyat kecil, (para petani dan kaum buruh) dari pedesaan.
    Pendidikan bagi rakyat biasa tidak difasilitasi oleh pemerintah, kecuali dengan sangat terbatas. Kaum muslimin menyelenggarakan sendiri pendidikannya di pondok, dan masjid serta surau - surau. Itupun hanya masalah agama saja.
    3. Era Kebangkitan dan Perlawanan Umat Islam.
    Akhir abad 18 dan  abad 19 adalah era kebangkitan Islam dan perlawanan umat terhadap para penjajah Belanda,  khususnya di kawasan Nusantara (termasuk Indonesia).
    Ketika umat Islam berada di titik nadir peradabannya, para penjajah Belanda mulai lebih intensif mengembangkan peradabannya, termasuk agamanya (Kristen, baik Katholik maupun protestan). Gereja atau tempat ibadah dan pendidikan, basis peradaban barat, banyak didirikan. Maka mulailah terjadi kebangkitan umat Islam untuk selanjutnya melakukan perlawanan terhadap pemerintah Hindia Belanda. Para sultan, pangeran dan ulama' mulai angkat senjata. Mulai dari Sabang sampai Merauke. Sultan Banten, Sultan Syarif Hidayatullah, Sultan Alauddin, Sultan Hasanuddin, Pangeran Diponegoro, dll. Inilah kebangkitan dan perlawanan umat Islam Nusantara, kebangkitan atas dasar semangat keislaman dan primordial bangsa timur vs Barat. Inilah kebangkitan umat Islam Nusantara yang pertama.
    Sedangkan kebangkitan dan perlawanan umat Islam terhadap penjajah, mulai abad 19 sampai dengan awal abad 20 adalah abad kebangkitan para pemuda, dari kalangan ilmuwan dan tokoh muda. Khususnya mulai tahun 1908 dan seterusnya. Khususnya di Pulau Jawa (Jawa timur dan Jawa tengah), pasca perang Diponegoro 1825 -1830, telah terjadi kebangkitan nasionalisme kaum santri. Para ulama' dan mantan  pengikut pangeran Diponegoro, banyak sekali yang  mendirikan pesantren, sekaligus Pesanggrahan benteng pertahanan dan perlawanan terhadap penjajah Belanda secara ideologi, agama dan budaya. Pesantren -pesantren inilah yang disebut sebagai Cagar budaya Islam Nusantara.
    Seiring dengan runtuhnya sistem pemerintahan Islam (dibubarkannya kekhalifahan Turki Usmani di Istanbul, tahun 1924), terjadilah kebangkitan umat Islam yang ke dua.  Kebangkitan ke dua umat Islam dan  masyarakat terjajah di kawasan Nusantara ini dipelopori oleh para pemuda atau kaum terpelajar muda. Awal tahun 1900an mereka mulai bangkit,  baik dari kalangan santri, priyayi dan abangan, bahkan para tokoh non muslim. Para ulama' alumni timur tengah (Makkah, Yaman dan Mesir) sarjana produk pendidikan barat (dalam dan luar negeri), dan para tokoh pergerakan serta aktifis kemasyarakatan. Semuanya bangkit bersama - sama melawan kolonialisme barat, dan penjajahan Belanda. Tahun 1928 membuat momentum sejarah NKRI, dengan "Sumpah Pemuda". Kebanyakan mereka mendirikan organisasi pergerakan, Perjuangan, dakwah dan profesi. Seperti, Serikat Dagang Islam, Budi Utomo, Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama', PKI, Masyumi dll. Semuanya mengajak masyarakat untuk bangkit melawan dan melepaskan diri dari penjajahan Belanda.
    Melalui prakarsa para santri H. Oemar Said Tjokroaminoto, pemuda Soekarno dkk. Juga segenap tokoh elemen bangsa akhirnya bangsa Indonesia bisa merdeka dan lepas dari penjajahan Belanda.
    4. Era Kemerdekaan.
    Sumpah pemuda adalah start kebangkitan nasionalisme dan patriotisme sebagai embrio bangsa Indonesia. Dan era kemerdekaan NKRI dimulai dari sini. Semua suku bangsa yang mendiami kepulauan yang terbentang dari Sabang sampai Merauke, yang menjadi jajahan kolonial Belanda, sepakat mendirikan satu negara yang disebut Indonesia. Sepakat menyatukan berbagai macam perbedaan dalam satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa, yaitu Indonesia. Dengan semboyan "Bhinneka Tunggal Ika" (berbeda-beda tetapi tetap satu tujuan).
    Era kemerdekaan ini sangat menentukan corak dan warna negara dan pemerintahan Indonesia. Para tokoh perintis kemerdekaan, khususnya 9 'wali songo' Indonesia (Ir. Soekarno, Drs. Moh.Hatta, Mr. Muhammad Yamin, AA.Maramis, KH. Wahid Hasyim, H. Agus Salim, R. Abi Kusno, R. Soebagyo).
    Terjadinya saling mempengaruhi di antara tiga ideologi politik umat Islam (nasionalis, nasionalis-relegius dan islamis), dapat kompromikan dalam bentuk konstitusi sangat simpel tapi  meliputi (baligh) yakni UUD 1945, khususnya pada bagian pembukaannya, yaitu Pancasila. Juga bentuk negara yang indah dan harmonis, NKRI, dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Konsep negara secara lengkap berhasil dideklarasikan pada tanggal 18 Agustus 1945. Inilah peran penting, kearifan dan jasa monumental, yang luar biasa para 'wali' pendiri negara kesatuan republik Indonesia. Ketidak puasan beberapa pihak minoritas yang ekstrim, khususnya kelompok komunis dan islamis sering kali menjadi  ganjalan dalam perjalanan roda pemerintahan. Dan bisa dibersihkan setelah berakhirnya pemerintahan Republik Indonesia pereode pertama (Orde lama). Berkah Rahmat Allah, dan karomahnya para wali, wilayah negeri ini selalu dalam lindungan Allah SWT dan bimbingan-Nya, dapat istiqamah dalam Islam yang modern dan moderat, sejak awal pendirian hingga saat ini.
     5. Era pasca kemerdekaan.
    Pasca kemerdekaan, keberadaan umat Islam dapat dilihat di dalam tiga orde pemerintahan,  yaitu orde lama, orde baru dan orde reformasi.
    - Orde Lama.
    Pada masa orde lama, umat Islam masih tersibukkan oleh 'rebutan peran politik' untuk mengemudikan pemerintahan,  antara kaum islamis, nasionalis-relegius, dan komunis.
    Orde lama ini mulai dari pengangkatan Ir. Soekarno dan Drs. Muhammad Hatta sebagai Presiden dan wakil presiden RI, dan berakhir dengan adanya kudeta berdarah yang gagal yang dilakukan oleh PKI, sehingga keluarnya Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret 1966).
    - Era ode baru.
    Era ini dimulai dari diangkatnya Soeharto sebagai presiden, dan berakhir dengan adanya 'kudeta tidak berdarah' yang dipelopori oleh beberapa elemen politik bangsa, khususnya kaum islamis, akademisi dan kaum tertindas.
    Pemerintahan pada era ini bergaya represif dan spirit militeristik. Dengan prioritas stabilitas pertahanan dan keamanan, demi tercapainya tujuan pembangunan nasional. Kaum ekstrimis, baik islamis (ektrim kanan) maupun sisa-sisa kaum komunis (ektrim kiri) ditekan dan 'dipenjarakan' , sehingga pembangunan nasional bisa berjalan dengan mulus tanpa hambatan. Sampai menguatnya kelas sosial baru muslim santri sebagai politisi,  pengusaha, dan  akademisi. Dan mereka inilah yang merancang terjadinya reformasi birokrasi dan pemerintahan. Sehingga terjadi era yang disebut era reformasi.
    - Era Orde Reformasi.
    Orde reformasi ini merupakan pembaharuan orde baru, dan terjadi di masa pemerintahan presiden Abdurrahman Wahid dan Megawati Soekarnoputri. Pada era ini bangsa Indonesia masa perubahan model dan gaya kepemimpinan dan birokrasi. Dari gaya militeristik represif ke dalam pemerintahan sipil liberalistik. Kebebasan terjadi dalam sebagian besar kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Bahkan kelompok - kelompok ektrim kanan dan kiri yang dipenjara oleh orde baru juga dibebaskan untuk hidup dan berkembang biak di negeri ini. Pilar-pilar tirani mayoritas dan feodalisme diruntuhkan. Bahkan egaliterian betul-betul menjadi primadona moralitas bangsa. Sehingga di era ini suara rakyat, suara publik atau suara masyarakat adalah suara 'tuhan' di dunia.
    Berbagai sekte dan  aliran dalam Islam, masuk dengan mudah dan nyaman di Indonesia. Sekte dan aliran pemikiran barat modern juga dengan lancar tumbuh subur di negeri ini, bahkan berbagai macam atheisme dan komunisme juga tumbuh dan berkembang kembali di Indonesia ini. Walaupun demikian tidak semua aliran dan sekte tersebut bisa bertahan hidup di negeri ini. Beberapa sekte dan aliran dalam Islam yang kemudian tumbuh subur di negeri ini antara lain; Hizbut Tahrir, Ikhwanul Muslimin, Jam'iyyah Tabligh, Salafi dan Wahabiyah, Serta Syiah. Mereka inilah yang selanjutnya turut mewarnai keislaman bangsa Indonesia. Orde reformasi ini merupakan titik awal pemerintahan sipil dan demokrasi yang sesungguhnya. Sehingga wujud dan keberadaan serta warna baru umat Islam Indonesia masa kini (Islam kontemporer) adalah buah dari tanaman di era reformasi ini. 
    6. Kondisi umat Islam Masa kini (kontemporer).
    Masa kini atau era kontemporer di sini saya batasi dalam durasi antara pasca era reformasi sampai dengan sekarang.
    Sedangkan kondisi umat Islam yang saya maksud adalah kondisi ideologi-politik, ekonomi dan sosial budaya.
     - Ideologi politik
    Kondisi umat Islam Indonesia masa kini berbeda spektrumnya dengan kondisi zaman sebelumnya. Pasca reformasi banyak ideologi baru yang bersifat trans nasional,  yang masuk dan berkembang secara massif di Indonesia. Melalui organisasi politik keislaman, seperti Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, Salafi, Wahabi, Syiah serta Jama'ah Tabligh wal Jaulah. Mereka sedang berjuang keras untuk mendapatkan tempat dan peran sosial di Indonesia.
    Sedangkan kelompok umat Islam dengan ideologi nasional relegius yang sudah setel, seperti Nahdlatul Ulama' dan Muhammadiyah dalam posisi yang 'terdesak' dengan berbagai gugatan dan bulian. Sedangkan politik luar negeri, juga sekarang dalam tarik ulur antara kerjasama dengan barat (Amerika) dan dengan timur (China atau Arab). Idealnya, Islam harus mandiri, laa syarqiyyah (tidak barat)  wa laa gharbiyyah (tidak timur) karena memang Islam itu unggul (exelen) dan uniq (beda dengan yang lain). Tetapi kenyataannya Islam masih mahjubun bil muslimin, keunggulan Islam masih terhalang oleh buruknya kwalitas SDM umat ada. Dan banyaknya firqah (kelompok ideologi), yang saat ini semakin marak akan lebih mempersulit proses terjadinya persatuan dan kesatuan umat Islam di Indonesia.
    - Ekonomi Umat Islam
    Kondisi ekonomi umat Islam Indonesia masa kini, sudah sangat lebih baik dari pada era orde sebelumnya. Hal ini lebih banyak karena keberhasilan program pembangunan nasional pada masa orde baru. Namun demikian dari sisi kondisi ekonomi umat Islam diprediksi akan terus meningkat seiring dengan berjalanya pembangunan infrastruktur telekomunikasi dan transportasi yang luar biasa hebatnya. Jalan tol, dermaga dan bandara. Serta jaringan internet ke seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Keberhasilan pembangunan infrastruktur di masa pemerintahan Jokowi akan menjadi pangkal tolak perkembangan perekonomian bangsa. Dan hampir dapat dipastikan  Indonesia akan mengalami pertumbuhan ekonomi yang spektakuler. Persoalannya, mampu kah umat Islam, khususnya para pengusaha muslim berkompetisi dengan pengusaha asing di era globalisasi ini ? Kita lihat saja di era yang akan datang.
    - Sosial - Budaya.
    Kondisi sosial budaya umat Islam di masa kontemporer ini, cukup menggembirakan;  pendidikan, peradaban dan moralitas umat.
    Pemerataan layanan pendidikan terus menerus mengalami pertumbuhan yang sangat besar, termasuk pendidikan keagamaan.
    Peradaban yang berbasis Islam, juga semakin meningkat, baik dalam masyarakat perkotaan maupun pedesaan. Kuantitas dan kualitas "kaum santri"
    (pemeluk Islam taat) semakin meningkat, hal ini lebih banyak disebabkan oleh meningkatnya dakwah Islam, baik oleh kalangan santri lama (NU, MD, LDII, Al Irsyad dan Persis), maupun santri baru (JT, IM, HT, Slfy, dan WHB). Santri jaringan internasional, murid-murid dari Syekh Hasan Al Banna, Syekh Taqiyuddin an Nabhani, Syekh Ilyas, Syekh Abdul Wahab dll.
    Sedangkan moralitas, umat sedang banyak dipertanyakan oleh publik, sehubungan dengan banyaknya kasus korupsi dan OTT, khususnya terkait dengan kezuhudan dan penghayatan keagamaan, dari kalangan alumni pendidikan agama dan pesantren.
    Demikian ringkasan sejarah umat Islam di Indonesia hingga saat ini.
    Wallahu a'lam bis showab.
    TTD
    Kharisuddin Aqib.

    Ringkasan Sejarah Islam di Indonesia

    Posted at  07.00  |  in  Ringkasan Sejarah Islam di Indonesia  |  Read More»

    Ringkasan Sejarah Islam di Indonesia
    Oleh; Kharisudin Aqib   

    A. Pengantar

    Untuk memahami kondisi umat Islam di Indonesia sekarang, baik secara politik, ekonomi dan sosial budaya termasuk model keislamannya, tidak mungkin bisa memahaminya dengan baik kecuali telah memahami sejarah kedatangan umat Islam dan perkembangannya di Indonesia.
    Setidaknya ada tujuh fase historis penting yang mempengaruhi corak dan warna warni serta subur dan kurusnya keislaman umat di Indonesia, ketujuh fase ini adalah; fase dakwah infirodiyah (individual), dakwah rosmiyah (formal); masa kewalian dan masa kesultanan, masa kolonial (penjajahan), masa kebangkitan, masa kemerdekaan dan masa kini (kontemporer).
    In syaa'a Allah ke tujuh fase tersebut akan saya tulis  walaupun sekedar ringkasannya saja. Semoga bermanfaat dan berkah untuk semua.
    B. Fase Dakwah Individual (abad 7-13 M).
    Islam sudah masuk di kawasan Nusantara, sudah cukup lama, yakni sekitar tahun 650 (masa ke khalifahan Sahabat Usman bin Affan). Islam dibawa oleh para pedagang Arab yang telah menguasai peta laut dan navigasi. Juga secara individual dilakukan oleh para sufi dan dzurriyyah Nabi. Sehingga sebenarnya Islam sudah masuk di kawasan Nusantara sangat lama. Akan tetapi belum bisa tumbuh subur dan menjulang tinggi ke permukaan peradaban. Islam hanya menjalar di dalam 'tanah' sebagai akar budaya. Kelas elit politik dan sosial kawasan Nusantara belum bisa menerima Islam lebih karena para da'inya. Dalam pandangan agama Hindu dan Budha, sebagai agama penguasa kawasan ini pada masa itu, para petani, pedagang dan tukang adalah kasta (kelas sosial) yang paling rendah, mereka tidak berhak 'berbicara' perkara sakral dan suci (agama). Sehingga pada era ini (abad 7-13), Islam hanya berwujud agama budaya dalam komunitas proletar (rakyat jelata).
    C. Fase Dakwah Resmi (abad 14-16 M)
    Sekitar dua setengah abad (14-16 M), meliputi dua era, yakni era kewalian dan era kesultanan. Era ini sempat moncer dan bersinar terang, menerangi seluruh kepulauan Nusantara.
    Bersamaan dengan meredupnya pamor kerajaan-kerajaan Hindu Budha di kawasan Nusantara, karena kejahatan dan menguatnya kekuatan hitam (Tantrayana kiri), sehingga wilayah Nusantara, khususnya pulau Jawa, menjadi daerah yang 'suram' jalmo Moro jalmo mati (setiap orang yang datang pasti mati). Maka kekhalifahan Islam di Turki (Khalifah Muhammad 2) mengubah strategi dakwahnya di wilayah Nusantara dengan mengirimkan tim da'i profesional, yang dikenal di Pulau Jawa dengan istilah WALI SONGO. Mereka adalah para ulama' Sufi yang Zuhud lagi memiliki keahlian yang sangat tinggi. Mereka antara lain didatangkan dari Palestina, Maroko, Kamboja dan Mesir. Konon organisasi ini berjalan selama 6 pereode dengan jumlah selalu 9 orang, pada area dakwah 9 daerah kewalian (9 wilayah). Tugas para wali tersebut di samping berdakwah mengajak masyarakat untuk masuk dan memeluk agama Islam, melaksanakan kepemimpinan umat juga membentuk pemerintahan Islam yang resmi di bawah otoritas Kekhalifahan Dinasti Usmaniyah yang berpusat di Turki dan wakil kekhalifahan di Makkah, (Syarif, wali kota Makkah).
    Pemerintahan Islam yang dibentuk oleh para Walisongo adalah kesultanan, yang wilayah kerjanya mungkin setara dengan Gubernuran.
    Pada era inilah warna keislaman di Nusantara, khususnya Indonesia menjadi sangat jelas, yakni Islam sufistik, yang bermazhab Syafi'i. Sebagaimana marna keislaman Kekhalifahan turki Usmani.
    D. Fase Kolonialisme (Abad 17-20 M).
    Dalam sejarah Indonesia, abad ini disebut Fase kolonialisme. Dari sisi sejarah Islam Indonesia, fase ini masih masuk fase kesultanan. Karena pada fase ini umat Islam masih di bawah pemerintahan para sultan dan Adipati, khususnya sampai awal abad 19-an. Sekalipun pemerintahan Islam kebanyakan sudah tidak berdaya dan sangat 'tua' menghadapi hegemoni para kompeni (pedagang) dari Belanda, yang lebih maju dalam hal teknologi (tranportasi dan militer), dan cara berfikir. Sehingga pada era ini, umat Islam berada di dalam beberapa kondisi politik; melemahnya politik Islam, penjajahan Belanda, kebangkitan nasionalisme Islam. Kebangkitan nasionalisme Indonesia dan kemerdekaan.
    1. Fase melemahnya politik Islam.
    Kedatangan bangsa Eropa (Portugis, Spanyol, Inggris dan Belanda), di kawasan Nusantara ini sangat besar pengaruhnya terhadap 'kesehatan' politik umat Islam. Dengan taktik 'Devide at Ampera' (memecah belah dan menguasai), secara sistematis kesultanan dan Islam politik bisa dibonsai dan dikuasai, dengan pelan-pelan tetapi pasti. Sehingga Islam di Indonesia belum pernah muncul sebagai kekuatan puncak, tingkat nasional maupun internasional. Pemerintahan Islam di kawasan Nusantara baru bersifat lokal regional saja.
    Kekuasaan Sultan Iskandar muda dari Aceh (Samudera Pasei) dan Sultan Agung dari Mataram Surakarta, adalah puncak prestasi politik Islam. Hampir semua kesultanan dan kadipaten, runtuh karena perang saudara, dengan sutradara para politikus licik kompeni Belanda.
    2. Era Titik Nadir Sejarah Islam Indonesia.
    Sekitar abad 18 -19 M adalah titik nadir kondisi umat Islam di Indonesia, dalam hampir semua kondisinya, (ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya). Hampir seluruh kesultanan, dan kadipaten Islam di seluruh wilayah Nusantara berada di dalam cengkeraman dan penindasan kaum penjajah (Belanda, Inggris dan Portugis).
    Mulai saat itu, terjadinya dikotomi dan komunitas muslim yang beragam.
    Umat Islam yang kurang kuat iman dan ilmunya cenderung mengikuti para penjajah (menjadi pegawai dan karyawan mereka), menjadi kelas bangsawan pro penjajah (budaya, cara berfikir dan agamanya). Sementara yang imannya kuat dan dan berdaya, mengambil peran oposisi, dan mengambil garis demarkasi dengan penjajah, bahkan membuat benteng -benteng pertahanan agama dan budaya yang disebut pesantren. Dari sinilah lahir komunitas santri.  Sedangkan kelompok tengah (para pedagang dan profesi) selanjutnya berkembang menjadi yang keislaman tidak terbina dengan baik, tetapi juga tidak mengikuti agama dan budaya penjajah Belanda. Mereka itu yang di belakang hari disebut kaum abangan.
    Terjadi dikotomi pendidikan dan keilmuan, pendidikan agama (pondok pesantren-madrasah) dan umum (sekolah-universitas). Juga menguatnya keberadaan pengaruh agama Kristen dan peradaban Belanda di Indonesia.
    Ekploitasi besar-besaran terhadap sumber daya manusia dan sumber daya alam Nusantara dilakukan oleh para penjajah, baik oleh Belanda maupun yang lain. Tanam paksa untuk suplai kebutuhan pasar Eropa, maupun kerja paksa untuk pembangunan infrastruktur pendukung kelancaran roda ekonomi dan pemerintahan pada masa ini selalu dilakukan oleh pemerintah Belanda, atas rakyat kecil, (para petani dan kaum buruh) dari pedesaan.
    Pendidikan bagi rakyat biasa tidak difasilitasi oleh pemerintah, kecuali dengan sangat terbatas. Kaum muslimin menyelenggarakan sendiri pendidikannya di pondok, dan masjid serta surau - surau. Itupun hanya masalah agama saja.
    3. Era Kebangkitan dan Perlawanan Umat Islam.
    Akhir abad 18 dan  abad 19 adalah era kebangkitan Islam dan perlawanan umat terhadap para penjajah Belanda,  khususnya di kawasan Nusantara (termasuk Indonesia).
    Ketika umat Islam berada di titik nadir peradabannya, para penjajah Belanda mulai lebih intensif mengembangkan peradabannya, termasuk agamanya (Kristen, baik Katholik maupun protestan). Gereja atau tempat ibadah dan pendidikan, basis peradaban barat, banyak didirikan. Maka mulailah terjadi kebangkitan umat Islam untuk selanjutnya melakukan perlawanan terhadap pemerintah Hindia Belanda. Para sultan, pangeran dan ulama' mulai angkat senjata. Mulai dari Sabang sampai Merauke. Sultan Banten, Sultan Syarif Hidayatullah, Sultan Alauddin, Sultan Hasanuddin, Pangeran Diponegoro, dll. Inilah kebangkitan dan perlawanan umat Islam Nusantara, kebangkitan atas dasar semangat keislaman dan primordial bangsa timur vs Barat. Inilah kebangkitan umat Islam Nusantara yang pertama.
    Sedangkan kebangkitan dan perlawanan umat Islam terhadap penjajah, mulai abad 19 sampai dengan awal abad 20 adalah abad kebangkitan para pemuda, dari kalangan ilmuwan dan tokoh muda. Khususnya mulai tahun 1908 dan seterusnya. Khususnya di Pulau Jawa (Jawa timur dan Jawa tengah), pasca perang Diponegoro 1825 -1830, telah terjadi kebangkitan nasionalisme kaum santri. Para ulama' dan mantan  pengikut pangeran Diponegoro, banyak sekali yang  mendirikan pesantren, sekaligus Pesanggrahan benteng pertahanan dan perlawanan terhadap penjajah Belanda secara ideologi, agama dan budaya. Pesantren -pesantren inilah yang disebut sebagai Cagar budaya Islam Nusantara.
    Seiring dengan runtuhnya sistem pemerintahan Islam (dibubarkannya kekhalifahan Turki Usmani di Istanbul, tahun 1924), terjadilah kebangkitan umat Islam yang ke dua.  Kebangkitan ke dua umat Islam dan  masyarakat terjajah di kawasan Nusantara ini dipelopori oleh para pemuda atau kaum terpelajar muda. Awal tahun 1900an mereka mulai bangkit,  baik dari kalangan santri, priyayi dan abangan, bahkan para tokoh non muslim. Para ulama' alumni timur tengah (Makkah, Yaman dan Mesir) sarjana produk pendidikan barat (dalam dan luar negeri), dan para tokoh pergerakan serta aktifis kemasyarakatan. Semuanya bangkit bersama - sama melawan kolonialisme barat, dan penjajahan Belanda. Tahun 1928 membuat momentum sejarah NKRI, dengan "Sumpah Pemuda". Kebanyakan mereka mendirikan organisasi pergerakan, Perjuangan, dakwah dan profesi. Seperti, Serikat Dagang Islam, Budi Utomo, Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama', PKI, Masyumi dll. Semuanya mengajak masyarakat untuk bangkit melawan dan melepaskan diri dari penjajahan Belanda.
    Melalui prakarsa para santri H. Oemar Said Tjokroaminoto, pemuda Soekarno dkk. Juga segenap tokoh elemen bangsa akhirnya bangsa Indonesia bisa merdeka dan lepas dari penjajahan Belanda.
    4. Era Kemerdekaan.
    Sumpah pemuda adalah start kebangkitan nasionalisme dan patriotisme sebagai embrio bangsa Indonesia. Dan era kemerdekaan NKRI dimulai dari sini. Semua suku bangsa yang mendiami kepulauan yang terbentang dari Sabang sampai Merauke, yang menjadi jajahan kolonial Belanda, sepakat mendirikan satu negara yang disebut Indonesia. Sepakat menyatukan berbagai macam perbedaan dalam satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa, yaitu Indonesia. Dengan semboyan "Bhinneka Tunggal Ika" (berbeda-beda tetapi tetap satu tujuan).
    Era kemerdekaan ini sangat menentukan corak dan warna negara dan pemerintahan Indonesia. Para tokoh perintis kemerdekaan, khususnya 9 'wali songo' Indonesia (Ir. Soekarno, Drs. Moh.Hatta, Mr. Muhammad Yamin, AA.Maramis, KH. Wahid Hasyim, H. Agus Salim, R. Abi Kusno, R. Soebagyo).
    Terjadinya saling mempengaruhi di antara tiga ideologi politik umat Islam (nasionalis, nasionalis-relegius dan islamis), dapat kompromikan dalam bentuk konstitusi sangat simpel tapi  meliputi (baligh) yakni UUD 1945, khususnya pada bagian pembukaannya, yaitu Pancasila. Juga bentuk negara yang indah dan harmonis, NKRI, dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Konsep negara secara lengkap berhasil dideklarasikan pada tanggal 18 Agustus 1945. Inilah peran penting, kearifan dan jasa monumental, yang luar biasa para 'wali' pendiri negara kesatuan republik Indonesia. Ketidak puasan beberapa pihak minoritas yang ekstrim, khususnya kelompok komunis dan islamis sering kali menjadi  ganjalan dalam perjalanan roda pemerintahan. Dan bisa dibersihkan setelah berakhirnya pemerintahan Republik Indonesia pereode pertama (Orde lama). Berkah Rahmat Allah, dan karomahnya para wali, wilayah negeri ini selalu dalam lindungan Allah SWT dan bimbingan-Nya, dapat istiqamah dalam Islam yang modern dan moderat, sejak awal pendirian hingga saat ini.
     5. Era pasca kemerdekaan.
    Pasca kemerdekaan, keberadaan umat Islam dapat dilihat di dalam tiga orde pemerintahan,  yaitu orde lama, orde baru dan orde reformasi.
    - Orde Lama.
    Pada masa orde lama, umat Islam masih tersibukkan oleh 'rebutan peran politik' untuk mengemudikan pemerintahan,  antara kaum islamis, nasionalis-relegius, dan komunis.
    Orde lama ini mulai dari pengangkatan Ir. Soekarno dan Drs. Muhammad Hatta sebagai Presiden dan wakil presiden RI, dan berakhir dengan adanya kudeta berdarah yang gagal yang dilakukan oleh PKI, sehingga keluarnya Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret 1966).
    - Era ode baru.
    Era ini dimulai dari diangkatnya Soeharto sebagai presiden, dan berakhir dengan adanya 'kudeta tidak berdarah' yang dipelopori oleh beberapa elemen politik bangsa, khususnya kaum islamis, akademisi dan kaum tertindas.
    Pemerintahan pada era ini bergaya represif dan spirit militeristik. Dengan prioritas stabilitas pertahanan dan keamanan, demi tercapainya tujuan pembangunan nasional. Kaum ekstrimis, baik islamis (ektrim kanan) maupun sisa-sisa kaum komunis (ektrim kiri) ditekan dan 'dipenjarakan' , sehingga pembangunan nasional bisa berjalan dengan mulus tanpa hambatan. Sampai menguatnya kelas sosial baru muslim santri sebagai politisi,  pengusaha, dan  akademisi. Dan mereka inilah yang merancang terjadinya reformasi birokrasi dan pemerintahan. Sehingga terjadi era yang disebut era reformasi.
    - Era Orde Reformasi.
    Orde reformasi ini merupakan pembaharuan orde baru, dan terjadi di masa pemerintahan presiden Abdurrahman Wahid dan Megawati Soekarnoputri. Pada era ini bangsa Indonesia masa perubahan model dan gaya kepemimpinan dan birokrasi. Dari gaya militeristik represif ke dalam pemerintahan sipil liberalistik. Kebebasan terjadi dalam sebagian besar kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Bahkan kelompok - kelompok ektrim kanan dan kiri yang dipenjara oleh orde baru juga dibebaskan untuk hidup dan berkembang biak di negeri ini. Pilar-pilar tirani mayoritas dan feodalisme diruntuhkan. Bahkan egaliterian betul-betul menjadi primadona moralitas bangsa. Sehingga di era ini suara rakyat, suara publik atau suara masyarakat adalah suara 'tuhan' di dunia.
    Berbagai sekte dan  aliran dalam Islam, masuk dengan mudah dan nyaman di Indonesia. Sekte dan aliran pemikiran barat modern juga dengan lancar tumbuh subur di negeri ini, bahkan berbagai macam atheisme dan komunisme juga tumbuh dan berkembang kembali di Indonesia ini. Walaupun demikian tidak semua aliran dan sekte tersebut bisa bertahan hidup di negeri ini. Beberapa sekte dan aliran dalam Islam yang kemudian tumbuh subur di negeri ini antara lain; Hizbut Tahrir, Ikhwanul Muslimin, Jam'iyyah Tabligh, Salafi dan Wahabiyah, Serta Syiah. Mereka inilah yang selanjutnya turut mewarnai keislaman bangsa Indonesia. Orde reformasi ini merupakan titik awal pemerintahan sipil dan demokrasi yang sesungguhnya. Sehingga wujud dan keberadaan serta warna baru umat Islam Indonesia masa kini (Islam kontemporer) adalah buah dari tanaman di era reformasi ini. 
    6. Kondisi umat Islam Masa kini (kontemporer).
    Masa kini atau era kontemporer di sini saya batasi dalam durasi antara pasca era reformasi sampai dengan sekarang.
    Sedangkan kondisi umat Islam yang saya maksud adalah kondisi ideologi-politik, ekonomi dan sosial budaya.
     - Ideologi politik
    Kondisi umat Islam Indonesia masa kini berbeda spektrumnya dengan kondisi zaman sebelumnya. Pasca reformasi banyak ideologi baru yang bersifat trans nasional,  yang masuk dan berkembang secara massif di Indonesia. Melalui organisasi politik keislaman, seperti Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, Salafi, Wahabi, Syiah serta Jama'ah Tabligh wal Jaulah. Mereka sedang berjuang keras untuk mendapatkan tempat dan peran sosial di Indonesia.
    Sedangkan kelompok umat Islam dengan ideologi nasional relegius yang sudah setel, seperti Nahdlatul Ulama' dan Muhammadiyah dalam posisi yang 'terdesak' dengan berbagai gugatan dan bulian. Sedangkan politik luar negeri, juga sekarang dalam tarik ulur antara kerjasama dengan barat (Amerika) dan dengan timur (China atau Arab). Idealnya, Islam harus mandiri, laa syarqiyyah (tidak barat)  wa laa gharbiyyah (tidak timur) karena memang Islam itu unggul (exelen) dan uniq (beda dengan yang lain). Tetapi kenyataannya Islam masih mahjubun bil muslimin, keunggulan Islam masih terhalang oleh buruknya kwalitas SDM umat ada. Dan banyaknya firqah (kelompok ideologi), yang saat ini semakin marak akan lebih mempersulit proses terjadinya persatuan dan kesatuan umat Islam di Indonesia.
    - Ekonomi Umat Islam
    Kondisi ekonomi umat Islam Indonesia masa kini, sudah sangat lebih baik dari pada era orde sebelumnya. Hal ini lebih banyak karena keberhasilan program pembangunan nasional pada masa orde baru. Namun demikian dari sisi kondisi ekonomi umat Islam diprediksi akan terus meningkat seiring dengan berjalanya pembangunan infrastruktur telekomunikasi dan transportasi yang luar biasa hebatnya. Jalan tol, dermaga dan bandara. Serta jaringan internet ke seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Keberhasilan pembangunan infrastruktur di masa pemerintahan Jokowi akan menjadi pangkal tolak perkembangan perekonomian bangsa. Dan hampir dapat dipastikan  Indonesia akan mengalami pertumbuhan ekonomi yang spektakuler. Persoalannya, mampu kah umat Islam, khususnya para pengusaha muslim berkompetisi dengan pengusaha asing di era globalisasi ini ? Kita lihat saja di era yang akan datang.
    - Sosial - Budaya.
    Kondisi sosial budaya umat Islam di masa kontemporer ini, cukup menggembirakan;  pendidikan, peradaban dan moralitas umat.
    Pemerataan layanan pendidikan terus menerus mengalami pertumbuhan yang sangat besar, termasuk pendidikan keagamaan.
    Peradaban yang berbasis Islam, juga semakin meningkat, baik dalam masyarakat perkotaan maupun pedesaan. Kuantitas dan kualitas "kaum santri"
    (pemeluk Islam taat) semakin meningkat, hal ini lebih banyak disebabkan oleh meningkatnya dakwah Islam, baik oleh kalangan santri lama (NU, MD, LDII, Al Irsyad dan Persis), maupun santri baru (JT, IM, HT, Slfy, dan WHB). Santri jaringan internasional, murid-murid dari Syekh Hasan Al Banna, Syekh Taqiyuddin an Nabhani, Syekh Ilyas, Syekh Abdul Wahab dll.
    Sedangkan moralitas, umat sedang banyak dipertanyakan oleh publik, sehubungan dengan banyaknya kasus korupsi dan OTT, khususnya terkait dengan kezuhudan dan penghayatan keagamaan, dari kalangan alumni pendidikan agama dan pesantren.
    Demikian ringkasan sejarah umat Islam di Indonesia hingga saat ini.
    Wallahu a'lam bis showab.
    TTD
    Kharisuddin Aqib.

    Tentang Kami-Pendaftaran-Contact
    Copyright © 2013 Pondok Pesantren - DARU ULIL ALBAB. Blogger Template by BloggerTheme9
    Proudly Powered by Blogger.
    back to top