• Profil

    Pesantren Terpadu Daru Ulil Albab

  • LKIR Nasional 2016

    Lomba Karya Ilmiah Remaja Nasional 2016

  • Wakaf Tunai

    Gerakan Wakaf Sejuta Umat Ulul Albab

  • Mujahadah

    Jadwal Mujahadah


  • YASOBUR

    MANAQIB DAN SILSILAH
    MBAH KH. UMAR MURTOJO – KELUTAN










    Disusun Oleh :
    DR. KHARISUDIN AQIB, MA
    (Khodimul Ilmi Ma’had Daru Ulil Albab)






    KELUTAN : 14 JULI 2002




    MANAQIB / RIWAYAT HIDUP
    MBAH KH. UMAR MURTOJO BIN KH. NUR HASAN

    (babad alas)
    Pendiri Pondok Pesantren Daru Ulil Albab Generasi Pertama

    A.    Seorang musafir pencari ilmu

    Bersama dengan kakak dan adiknya (Mustopo dan Mumbar), berangkatlah Murtojo kecil dari desa Logantung – Murisan – Dlanggu (sebuah desa di sebelah barat daya keraton surakarta),1menuju Jawa Timur, yang dituju sebenarnya adalah Kediri. Tetapi akhirnya ia sampai di pondok Pesantren Jinagan Blitar Jawa Timur. Setelah dirasa cukup, maka akhirnya ia belajar di Gurah Kediri. Setelah cukup dewasa maka selanjutnya ia masuk ke desa Beruk, mondok dan ikut berjuang bersama mbah Kyai Haji Imam Ahmad dan setelah menikah dengan putri mbah nyai Martijah. 2 (Putri tiri mbah Kyai Imam Ahmad), beliau mendirikan pesantren di desa Kelutan, Ngronggot, Nganjuk. Selain santri-santri dari daerah sekitarnya santri yang mondok di pesantren beliau banyak yang berasal dari Madiun, Ponorogo, Kedu, Begelen, Magelang dan Banyuwangi. 3 beliau terkenal ahli dalam bidang ilmu Ushul. Dan beliau meninggal sebagai Kyai di pesantren ini, sekitan tahun 1915 M. Dalam usia 97 tahun.4

    B.     Kehidupan berumah tangga.

    Kehidupan berumah tangga mbah Kyai Umar Murtojo dilalui bersama dengan dua istri, yang kedua-duanya adalah putri mbah Kyai Imam Ahmad Beruk. Istri yang pertama adalah mbah Nyai Thohirah. Beliau adalah putrid Mbah Imam Ahmad dengan Mbah Nyai Martinah, adik sepupu Mbah Nyai Martijah istri kedua Mbah Imam Ahmad. Perkawinan mbah Kyai Umar Murtojo dengan Nyai Thohirah melahirkan seorang anak laki-laki, tetapi tidak begitu lama akhirnya mbah Nyai Thohirah meninggal dunia. Begitu juga anak laki-lakinya, juga tidak sampai tumbuh dewasa. 5 setelah mbah Nyai thohirah meninggal dunia, mbah Umar Murtojo menikah dengan putri mbah Kyai Imam Ahmad. Tetapi kali ini adalah anak tirinya, yaitu putri bawaan mbah Nyai Martijah. Istri yang kedua Ini bernama Siti Marhamah binti KH. Romli Shaghir dari Banjar Melati Kediri. 6 Dari perkawinan mbah Kyai Umar Murtojo dengan nyai Marhamah melahirkan 8 anak yang samapai memberikan cucu, yaitu :
    1.      Siti Kapiyah istri Kyai Hasyim Kelutan
    2.      Kyai Abdul Basyar Klurahan
    3.      Kyai Asro Kelutan
    4.      K. Ibnu Hasyim Kelutan
    5.      Siti Rukanah istri KH. Nadzir Sekaran Kelutan
    6.      Siti Rukayah istri K. Syuhud Kelutan
    7.      KH. Abdullah Umar Kelutan
    8.      K. Atiq Kelutan
    Setelah menikah mbah Umar Murtojo membuat rumah dan tinggal di sebelah barat tambangan Kelutan. Tepatnya dilokasi Madrasah Al-Ulya Kelutan, Ngronggot Nganjuk.7 Karena di sekitar tambangan atau lokasi kediaman mbah Umar tidak Islami, di sebelah selatan tempatnya jaranan dan di sebelah utara jalan ada rumah germo (wts), maka mbah Nyai Marhamah akhirnya tidak krasan dan minta pindah rumah.8
    Bertepatan dengan keinginan  mbah Nyai Marhamah, Mbah K. Mustajab yang mempunyai tanah yang sekarang ditempati oleh anak cucu kyai Murtojo, mengutarakan keinginannya pindah ke timur sungai (Klampisan - Minggiran), kepada mbah Umar dengan maksud agar beliau bersedia membeli tanah pekarangannya. Mbah Kyai Mustajab juga mempunyai mussolla di dekat rumahnya, yaitu di sebelah barat Khairiyah sekarang tetapi akhirnya tanah pekarangan Kyai Mustajab tidak dibeli oleh Mbah Umar, melainkan cukup diganti dengan kuda putih yang sangat bagus yang memang sudah pernah dipinjam oleh K.Mustajab. karena Mbah Umar akhirnya pindah ke lokasi ini, maka tanah pekarangannya yang di utara dijual kepada Mbah Kyai Ahmad Lehar. Kemudian tanah ini diwakafkan oleh KH. Abdul Rozaq (H. Mrajak) sebagai pewaris Mbah Ahmad Lehar.
    Tanah pekarangan yang dibeli dari K. Mustajab tersebut berbentuk segi empat dengan batas-batas sebagai berikut : sebelah selatan batas desa Beruk, sebelah timur berbatasan Sungai Brantas, sebelah utara berbatasan antara rumah Khairiyah dengan rumah Mikun, dan sebelah barat berbatas dengan tanah H. Syafi’i atau tanah kang Sholeh. 10 di tanah ini beliau mendirikan musholla, pondok dan rumah kediaman. Rumah kediaman beliau berada di sebelah utara musholla, tepatnya di lokasi rumah kang Muhsin sekarang.11

    C. Seorang Kyai Pedagang
                KH. Umar Murtojo bukanlah seorang kyai yang “nglunthuk”, beliau adalah seorang kyai tokoh dan pelopor. Dengan berkendaraan kuda, beliau selalu memimpin rombongan sholat jum’at kaum – kaum muslimin dari Ngronggot dan sekitar Warungjayeng.12 demikian juga kehidupan ekonominya. Beliau bukan sekedar seorang petani biasa. Pertanian cukup ditangani oleh para santrinya, yang selalu banyak santri tinggal dipondoknya para santri yang membuat magersari yang banyak membantu usaha pertaniannya.13 Akan tetapi kehidupan ekonomi beliau banyak bertumpu pada usaha dalam bidang perdagangan.14
    Beberapa usaha perdagangan yang beliau tangani antara lain : dagang kuda, dagang hasil pertanian (agrobisnis), dan dagang kain batik di pasar. Kuda-kuda yang beliau perdagangkan diambil/dibeli dari Ngantang Malang, sedangkan bidang agrobisnis bekerjasama dengan pedagang-pedagang dari Surabaya.15 Pedagang dari Surabaya tersebut mengambil hasil-hasil bumi seperti ketela pohon, dan lain-lain, melalui sungai Brantas, dengan menggunakan perahu. Adapun dagang kain (batik) dipasar biasanya dikerjakan setiap pagi. Pagi-pagi santri yang ditugasi menangani perdagangan ini sudah berangakat ke pasar warujayeng, dengan membawa dokar. Selanjutnya setelah mengajar ngaji sekitar pk. 09.00 beliau berangkat menyusul ke pasar dengan mengendarai kuda atau blendi. 
    Dari usaha perdagangan dan pertanian beliau, kehidupan ekonomi mbah Umar cukup maju dan berkah. Beliau banyak membantu orang-orang yang tidak mampu, sekitar 80 orang santrinya yang ikut “ngawula” kepada beliau, adik-adik mbah nyai Marhamah semuanya pernah ikut beliau. Yaitu putra-putri mbah KH. Imam Ahmad, termasuk mbah K. Harun Kelutan.17 begitu juga keponakan – keponakannya (putra-putri mbah nyai Munsyarif), di penghujung akhir hidupnya ikut bersama dengan mbah Kyai Umar Murtojo, sampai dengan wafatnya. Beliau dimakamkan di belakang masjid mBeruk.18
    Karena suksesnya kehidupan ekonominya ini beliau juga dapat menunaikan ibadah haji, beliau berangkat haji bersama dengan H. Nadzir (menantunya), dan H. Ali (mindi). Dapat dengan aktif berjuang dalam kehidupan, masyarakat di antaranya turut mendirikan kemursyidan Tarikat Naqsabandiyah Kholidiyyah di Mindi beliau termasuk orang yang memboyong mbah KH. Misri dari Madiun ke Mindi Kelutan.19 katena status sosial ekonomi mbah Umar yang cukup mapan maka beliau sangat di percaya oleh para mitra bisnisnya di antara bukti kepercayaan itu adalah jika beliau butuh uang, beliau cukup menyuruh santrinya. Dengan bukti cincin beliau, yaitu cincin merah delima, santri tersebut cukup memperlihatkan kepada cina di papar, (bukan sebagai jaminan atau di tinggal), santri tersebut dapat membawa uang dan cincin itu kepada mbah Kyai Umar.20
    Dan di antara karomahnya,  beliau meninggal pada hari Raya Idul Fitri (Hari Sabtu, tepat ketika kotib turun dari mimbar), dalam keadaan sadar penuh seraya beliau berkata “Run-Harun, Haji Nadzir nek khotbah ojo oleh dowo-dowo, ikilo wes teko dhuwur udel iki”21 Meninggal dalam kedaan sadar penuh ini juga dialami oleh adiknya “K. Hasan mimbar” dengan kata-kata pesan “motoku eremno aku arep mati”22


    ___________________________________________________________
    1 Beliau berasal dari keluar besar Thoriqoh Naqsyabandiyah di Popongan Surakarta. Ayah beliau adalah KH. Nur Hasan / Nur Kholis, putra seorang mursyid agung yaitu Syekh Mansyur Popongan – Delanggu – Surakarta. Penjelasan Kyai Dasuki bin suratin bin K. Tamsyis bin K. Nur Kholis bin K. Mansyur.
    2 Istri pertama KH. Umar Murtojo ini adalah mbah Nyai Thonirah binti KH. Imam Ahmad kakak dari Nyai Afifah, mbahnya KH. Mughni Shodiq. Penjelasan KH. Mughni Shodiq.
    3 Penjelasan mbah Nyai Ruqayyah Suhud dan Nyai Rukanah Nadzir.
    4 Penjelasan Mbah KH. Abdullah Umar.
    5 Penjelasan KH. Abdullah Umar dan KH. Mughni Shodiq.
    6.Saudara seibu-sebapak dari Mbah Nyai Markamah adalah Mbah Nyai Masriyah istri Kyai Munshorif Sekaran Kelutan. Sedangkan saudara seibu saja (putra Nyai Martijah dengan KH. Imam Ahmad) adalah
    1.      Nyai H. Syafi’i
    2.      Nyai H. Idris
    3.      H. Usman
    4.      H. Abdurrohman
    5.      Abdullah
    6.      Mujahid
    7.      H. Mu’ti
    8.      Zainab
    7.Di lokasi ini beliau juga mendirikan pondok, dan musholla, yang sampai sekarang masih ada itu. Penjelasan KH. Abdullah Umar + Kang Munasih
    8 .Penjelasan Mbah KH. Abdullah Umar
    9.      9.  ibid
    10 Anak-anaknya kang Sholeh, antara lain : Kana, Mujaid, dan Khotijah.
    11 Rumah induk kan Mukhsin adalh bekas kediaman mbah KH Umar Murtojo bagian belakang (penjelasan mbah nyai Rukanah)
    12 Masjid lama Warujayeng adalah masjid yang bertempat di sebelah selatan pasar. Penjelasan mbah KH. Abdullah Umar.
    13 Magersari adalah santri-santri yang sudah berkeluargan dan membuat rumah-rumah kecil di sekitar lokasi pesantren. Setelah mbah KH. Umar Murtojo meninggal magersari tersebut kebanyakan pindah ke dukuh Banyuwangi. Penjelasan nyai Rukayah Syuhud.
    14 Jalur perekonomian mbah KH. Umar Murtojo di Surakarta sebagian besar adalah pedagang batik. Sampai dengan sekarang. Penjelasan K. Dasuki Pace Nganjuk
    15 Kelihatannya jalur perdagangan beliau ada kaitannya dengan organisasi pedagang muslim pribudi yang di pelopori oleh KH. Hasyim As’ari “Nahdlatul Tujjari” sebelum berdiri Nahdlatul ‘Ulama’
    16 Penjelasan nyai Rukayyah
    17. K. Harun Kelutan dan saudaranya adalah murid dan sekaligus anak angkat KH. Umar Murtojo. K. Hasyim (kakak Mbah Harun) diambil menantu, sedangkan K. Faqih (suami adik Mbah Harun) sebagai lurah pondok pada saat itu.
    18.Konon di Surakarta biasa di panggil Nur Kholis penjelasan K. Dasuki Pace Nganjuk
    19.Tiga orang yang memboyong K. Misri adalah: Imam Ahmad, H. Usman, KH. Umar Murtojo. Penjelasan KH. Abdullah Umar
    20. ibid
    21.Penuturan mbah K. Harun kepada mbah KH. Abdullah Umar. Ibid
    22.Penjelasan H. Ihram (H. Kardian), cucu Kyai Hasan mimbar/pelaku 





    Manaqib dan Silsilah KH. Umar Murtojo ( Pendiri Pesantren Terpadu Daru Ulil Albab, Generasi pertama)

    Posted at  08.24  |  in  Perintis  |  Read More»


    YASOBUR

    MANAQIB DAN SILSILAH
    MBAH KH. UMAR MURTOJO – KELUTAN










    Disusun Oleh :
    DR. KHARISUDIN AQIB, MA
    (Khodimul Ilmi Ma’had Daru Ulil Albab)






    KELUTAN : 14 JULI 2002




    MANAQIB / RIWAYAT HIDUP
    MBAH KH. UMAR MURTOJO BIN KH. NUR HASAN

    (babad alas)
    Pendiri Pondok Pesantren Daru Ulil Albab Generasi Pertama

    A.    Seorang musafir pencari ilmu

    Bersama dengan kakak dan adiknya (Mustopo dan Mumbar), berangkatlah Murtojo kecil dari desa Logantung – Murisan – Dlanggu (sebuah desa di sebelah barat daya keraton surakarta),1menuju Jawa Timur, yang dituju sebenarnya adalah Kediri. Tetapi akhirnya ia sampai di pondok Pesantren Jinagan Blitar Jawa Timur. Setelah dirasa cukup, maka akhirnya ia belajar di Gurah Kediri. Setelah cukup dewasa maka selanjutnya ia masuk ke desa Beruk, mondok dan ikut berjuang bersama mbah Kyai Haji Imam Ahmad dan setelah menikah dengan putri mbah nyai Martijah. 2 (Putri tiri mbah Kyai Imam Ahmad), beliau mendirikan pesantren di desa Kelutan, Ngronggot, Nganjuk. Selain santri-santri dari daerah sekitarnya santri yang mondok di pesantren beliau banyak yang berasal dari Madiun, Ponorogo, Kedu, Begelen, Magelang dan Banyuwangi. 3 beliau terkenal ahli dalam bidang ilmu Ushul. Dan beliau meninggal sebagai Kyai di pesantren ini, sekitan tahun 1915 M. Dalam usia 97 tahun.4

    B.     Kehidupan berumah tangga.

    Kehidupan berumah tangga mbah Kyai Umar Murtojo dilalui bersama dengan dua istri, yang kedua-duanya adalah putri mbah Kyai Imam Ahmad Beruk. Istri yang pertama adalah mbah Nyai Thohirah. Beliau adalah putrid Mbah Imam Ahmad dengan Mbah Nyai Martinah, adik sepupu Mbah Nyai Martijah istri kedua Mbah Imam Ahmad. Perkawinan mbah Kyai Umar Murtojo dengan Nyai Thohirah melahirkan seorang anak laki-laki, tetapi tidak begitu lama akhirnya mbah Nyai Thohirah meninggal dunia. Begitu juga anak laki-lakinya, juga tidak sampai tumbuh dewasa. 5 setelah mbah Nyai thohirah meninggal dunia, mbah Umar Murtojo menikah dengan putri mbah Kyai Imam Ahmad. Tetapi kali ini adalah anak tirinya, yaitu putri bawaan mbah Nyai Martijah. Istri yang kedua Ini bernama Siti Marhamah binti KH. Romli Shaghir dari Banjar Melati Kediri. 6 Dari perkawinan mbah Kyai Umar Murtojo dengan nyai Marhamah melahirkan 8 anak yang samapai memberikan cucu, yaitu :
    1.      Siti Kapiyah istri Kyai Hasyim Kelutan
    2.      Kyai Abdul Basyar Klurahan
    3.      Kyai Asro Kelutan
    4.      K. Ibnu Hasyim Kelutan
    5.      Siti Rukanah istri KH. Nadzir Sekaran Kelutan
    6.      Siti Rukayah istri K. Syuhud Kelutan
    7.      KH. Abdullah Umar Kelutan
    8.      K. Atiq Kelutan
    Setelah menikah mbah Umar Murtojo membuat rumah dan tinggal di sebelah barat tambangan Kelutan. Tepatnya dilokasi Madrasah Al-Ulya Kelutan, Ngronggot Nganjuk.7 Karena di sekitar tambangan atau lokasi kediaman mbah Umar tidak Islami, di sebelah selatan tempatnya jaranan dan di sebelah utara jalan ada rumah germo (wts), maka mbah Nyai Marhamah akhirnya tidak krasan dan minta pindah rumah.8
    Bertepatan dengan keinginan  mbah Nyai Marhamah, Mbah K. Mustajab yang mempunyai tanah yang sekarang ditempati oleh anak cucu kyai Murtojo, mengutarakan keinginannya pindah ke timur sungai (Klampisan - Minggiran), kepada mbah Umar dengan maksud agar beliau bersedia membeli tanah pekarangannya. Mbah Kyai Mustajab juga mempunyai mussolla di dekat rumahnya, yaitu di sebelah barat Khairiyah sekarang tetapi akhirnya tanah pekarangan Kyai Mustajab tidak dibeli oleh Mbah Umar, melainkan cukup diganti dengan kuda putih yang sangat bagus yang memang sudah pernah dipinjam oleh K.Mustajab. karena Mbah Umar akhirnya pindah ke lokasi ini, maka tanah pekarangannya yang di utara dijual kepada Mbah Kyai Ahmad Lehar. Kemudian tanah ini diwakafkan oleh KH. Abdul Rozaq (H. Mrajak) sebagai pewaris Mbah Ahmad Lehar.
    Tanah pekarangan yang dibeli dari K. Mustajab tersebut berbentuk segi empat dengan batas-batas sebagai berikut : sebelah selatan batas desa Beruk, sebelah timur berbatasan Sungai Brantas, sebelah utara berbatasan antara rumah Khairiyah dengan rumah Mikun, dan sebelah barat berbatas dengan tanah H. Syafi’i atau tanah kang Sholeh. 10 di tanah ini beliau mendirikan musholla, pondok dan rumah kediaman. Rumah kediaman beliau berada di sebelah utara musholla, tepatnya di lokasi rumah kang Muhsin sekarang.11

    C. Seorang Kyai Pedagang
                KH. Umar Murtojo bukanlah seorang kyai yang “nglunthuk”, beliau adalah seorang kyai tokoh dan pelopor. Dengan berkendaraan kuda, beliau selalu memimpin rombongan sholat jum’at kaum – kaum muslimin dari Ngronggot dan sekitar Warungjayeng.12 demikian juga kehidupan ekonominya. Beliau bukan sekedar seorang petani biasa. Pertanian cukup ditangani oleh para santrinya, yang selalu banyak santri tinggal dipondoknya para santri yang membuat magersari yang banyak membantu usaha pertaniannya.13 Akan tetapi kehidupan ekonomi beliau banyak bertumpu pada usaha dalam bidang perdagangan.14
    Beberapa usaha perdagangan yang beliau tangani antara lain : dagang kuda, dagang hasil pertanian (agrobisnis), dan dagang kain batik di pasar. Kuda-kuda yang beliau perdagangkan diambil/dibeli dari Ngantang Malang, sedangkan bidang agrobisnis bekerjasama dengan pedagang-pedagang dari Surabaya.15 Pedagang dari Surabaya tersebut mengambil hasil-hasil bumi seperti ketela pohon, dan lain-lain, melalui sungai Brantas, dengan menggunakan perahu. Adapun dagang kain (batik) dipasar biasanya dikerjakan setiap pagi. Pagi-pagi santri yang ditugasi menangani perdagangan ini sudah berangakat ke pasar warujayeng, dengan membawa dokar. Selanjutnya setelah mengajar ngaji sekitar pk. 09.00 beliau berangkat menyusul ke pasar dengan mengendarai kuda atau blendi. 
    Dari usaha perdagangan dan pertanian beliau, kehidupan ekonomi mbah Umar cukup maju dan berkah. Beliau banyak membantu orang-orang yang tidak mampu, sekitar 80 orang santrinya yang ikut “ngawula” kepada beliau, adik-adik mbah nyai Marhamah semuanya pernah ikut beliau. Yaitu putra-putri mbah KH. Imam Ahmad, termasuk mbah K. Harun Kelutan.17 begitu juga keponakan – keponakannya (putra-putri mbah nyai Munsyarif), di penghujung akhir hidupnya ikut bersama dengan mbah Kyai Umar Murtojo, sampai dengan wafatnya. Beliau dimakamkan di belakang masjid mBeruk.18
    Karena suksesnya kehidupan ekonominya ini beliau juga dapat menunaikan ibadah haji, beliau berangkat haji bersama dengan H. Nadzir (menantunya), dan H. Ali (mindi). Dapat dengan aktif berjuang dalam kehidupan, masyarakat di antaranya turut mendirikan kemursyidan Tarikat Naqsabandiyah Kholidiyyah di Mindi beliau termasuk orang yang memboyong mbah KH. Misri dari Madiun ke Mindi Kelutan.19 katena status sosial ekonomi mbah Umar yang cukup mapan maka beliau sangat di percaya oleh para mitra bisnisnya di antara bukti kepercayaan itu adalah jika beliau butuh uang, beliau cukup menyuruh santrinya. Dengan bukti cincin beliau, yaitu cincin merah delima, santri tersebut cukup memperlihatkan kepada cina di papar, (bukan sebagai jaminan atau di tinggal), santri tersebut dapat membawa uang dan cincin itu kepada mbah Kyai Umar.20
    Dan di antara karomahnya,  beliau meninggal pada hari Raya Idul Fitri (Hari Sabtu, tepat ketika kotib turun dari mimbar), dalam keadaan sadar penuh seraya beliau berkata “Run-Harun, Haji Nadzir nek khotbah ojo oleh dowo-dowo, ikilo wes teko dhuwur udel iki”21 Meninggal dalam kedaan sadar penuh ini juga dialami oleh adiknya “K. Hasan mimbar” dengan kata-kata pesan “motoku eremno aku arep mati”22


    ___________________________________________________________
    1 Beliau berasal dari keluar besar Thoriqoh Naqsyabandiyah di Popongan Surakarta. Ayah beliau adalah KH. Nur Hasan / Nur Kholis, putra seorang mursyid agung yaitu Syekh Mansyur Popongan – Delanggu – Surakarta. Penjelasan Kyai Dasuki bin suratin bin K. Tamsyis bin K. Nur Kholis bin K. Mansyur.
    2 Istri pertama KH. Umar Murtojo ini adalah mbah Nyai Thonirah binti KH. Imam Ahmad kakak dari Nyai Afifah, mbahnya KH. Mughni Shodiq. Penjelasan KH. Mughni Shodiq.
    3 Penjelasan mbah Nyai Ruqayyah Suhud dan Nyai Rukanah Nadzir.
    4 Penjelasan Mbah KH. Abdullah Umar.
    5 Penjelasan KH. Abdullah Umar dan KH. Mughni Shodiq.
    6.Saudara seibu-sebapak dari Mbah Nyai Markamah adalah Mbah Nyai Masriyah istri Kyai Munshorif Sekaran Kelutan. Sedangkan saudara seibu saja (putra Nyai Martijah dengan KH. Imam Ahmad) adalah
    1.      Nyai H. Syafi’i
    2.      Nyai H. Idris
    3.      H. Usman
    4.      H. Abdurrohman
    5.      Abdullah
    6.      Mujahid
    7.      H. Mu’ti
    8.      Zainab
    7.Di lokasi ini beliau juga mendirikan pondok, dan musholla, yang sampai sekarang masih ada itu. Penjelasan KH. Abdullah Umar + Kang Munasih
    8 .Penjelasan Mbah KH. Abdullah Umar
    9.      9.  ibid
    10 Anak-anaknya kang Sholeh, antara lain : Kana, Mujaid, dan Khotijah.
    11 Rumah induk kan Mukhsin adalh bekas kediaman mbah KH Umar Murtojo bagian belakang (penjelasan mbah nyai Rukanah)
    12 Masjid lama Warujayeng adalah masjid yang bertempat di sebelah selatan pasar. Penjelasan mbah KH. Abdullah Umar.
    13 Magersari adalah santri-santri yang sudah berkeluargan dan membuat rumah-rumah kecil di sekitar lokasi pesantren. Setelah mbah KH. Umar Murtojo meninggal magersari tersebut kebanyakan pindah ke dukuh Banyuwangi. Penjelasan nyai Rukayah Syuhud.
    14 Jalur perekonomian mbah KH. Umar Murtojo di Surakarta sebagian besar adalah pedagang batik. Sampai dengan sekarang. Penjelasan K. Dasuki Pace Nganjuk
    15 Kelihatannya jalur perdagangan beliau ada kaitannya dengan organisasi pedagang muslim pribudi yang di pelopori oleh KH. Hasyim As’ari “Nahdlatul Tujjari” sebelum berdiri Nahdlatul ‘Ulama’
    16 Penjelasan nyai Rukayyah
    17. K. Harun Kelutan dan saudaranya adalah murid dan sekaligus anak angkat KH. Umar Murtojo. K. Hasyim (kakak Mbah Harun) diambil menantu, sedangkan K. Faqih (suami adik Mbah Harun) sebagai lurah pondok pada saat itu.
    18.Konon di Surakarta biasa di panggil Nur Kholis penjelasan K. Dasuki Pace Nganjuk
    19.Tiga orang yang memboyong K. Misri adalah: Imam Ahmad, H. Usman, KH. Umar Murtojo. Penjelasan KH. Abdullah Umar
    20. ibid
    21.Penuturan mbah K. Harun kepada mbah KH. Abdullah Umar. Ibid
    22.Penjelasan H. Ihram (H. Kardian), cucu Kyai Hasan mimbar/pelaku 





    Tentang Kami-Pendaftaran-Contact
    Copyright © 2013 Pondok Pesantren - DARU ULIL ALBAB. Blogger Template by BloggerTheme9
    Proudly Powered by Blogger.
    back to top