• Profil

    Pesantren Terpadu Daru Ulil Albab

  • INFORMASI PENDAFTARAN SANTRI BARU TAHUN 2019

  • Wakaf Tunai

    Gerakan Wakaf Sejuta Umat Ulul Albab

  • Mujahadah

    Jadwal Mujahadah

  • Ringkasan Sejarah Islam di Indonesia
    Oleh; Kharisudin Aqib   

    A. Pengantar

    Untuk memahami kondisi umat Islam di Indonesia sekarang, baik secara politik, ekonomi dan sosial budaya termasuk model keislamannya, tidak mungkin bisa memahaminya dengan baik kecuali telah memahami sejarah kedatangan umat Islam dan perkembangannya di Indonesia.
    Setidaknya ada tujuh fase historis penting yang mempengaruhi corak dan warna warni serta subur dan kurusnya keislaman umat di Indonesia, ketujuh fase ini adalah; fase dakwah infirodiyah (individual), dakwah rosmiyah (formal); masa kewalian dan masa kesultanan, masa kolonial (penjajahan), masa kebangkitan, masa kemerdekaan dan masa kini (kontemporer).
    In syaa'a Allah ke tujuh fase tersebut akan saya tulis  walaupun sekedar ringkasannya saja. Semoga bermanfaat dan berkah untuk semua.
    B. Fase Dakwah Individual (abad 7-13 M).
    Islam sudah masuk di kawasan Nusantara, sudah cukup lama, yakni sekitar tahun 650 (masa ke khalifahan Sahabat Usman bin Affan). Islam dibawa oleh para pedagang Arab yang telah menguasai peta laut dan navigasi. Juga secara individual dilakukan oleh para sufi dan dzurriyyah Nabi. Sehingga sebenarnya Islam sudah masuk di kawasan Nusantara sangat lama. Akan tetapi belum bisa tumbuh subur dan menjulang tinggi ke permukaan peradaban. Islam hanya menjalar di dalam 'tanah' sebagai akar budaya. Kelas elit politik dan sosial kawasan Nusantara belum bisa menerima Islam lebih karena para da'inya. Dalam pandangan agama Hindu dan Budha, sebagai agama penguasa kawasan ini pada masa itu, para petani, pedagang dan tukang adalah kasta (kelas sosial) yang paling rendah, mereka tidak berhak 'berbicara' perkara sakral dan suci (agama). Sehingga pada era ini (abad 7-13), Islam hanya berwujud agama budaya dalam komunitas proletar (rakyat jelata).
    C. Fase Dakwah Resmi (abad 14-16 M)
    Sekitar dua setengah abad (14-16 M), meliputi dua era, yakni era kewalian dan era kesultanan. Era ini sempat moncer dan bersinar terang, menerangi seluruh kepulauan Nusantara.
    Bersamaan dengan meredupnya pamor kerajaan-kerajaan Hindu Budha di kawasan Nusantara, karena kejahatan dan menguatnya kekuatan hitam (Tantrayana kiri), sehingga wilayah Nusantara, khususnya pulau Jawa, menjadi daerah yang 'suram' jalmo Moro jalmo mati (setiap orang yang datang pasti mati). Maka kekhalifahan Islam di Turki (Khalifah Muhammad 2) mengubah strategi dakwahnya di wilayah Nusantara dengan mengirimkan tim da'i profesional, yang dikenal di Pulau Jawa dengan istilah WALI SONGO. Mereka adalah para ulama' Sufi yang Zuhud lagi memiliki keahlian yang sangat tinggi. Mereka antara lain didatangkan dari Palestina, Maroko, Kamboja dan Mesir. Konon organisasi ini berjalan selama 6 pereode dengan jumlah selalu 9 orang, pada area dakwah 9 daerah kewalian (9 wilayah). Tugas para wali tersebut di samping berdakwah mengajak masyarakat untuk masuk dan memeluk agama Islam, melaksanakan kepemimpinan umat juga membentuk pemerintahan Islam yang resmi di bawah otoritas Kekhalifahan Dinasti Usmaniyah yang berpusat di Turki dan wakil kekhalifahan di Makkah, (Syarif, wali kota Makkah).
    Pemerintahan Islam yang dibentuk oleh para Walisongo adalah kesultanan, yang wilayah kerjanya mungkin setara dengan Gubernuran.
    Pada era inilah warna keislaman di Nusantara, khususnya Indonesia menjadi sangat jelas, yakni Islam sufistik, yang bermazhab Syafi'i. Sebagaimana marna keislaman Kekhalifahan turki Usmani.
    D. Fase Kolonialisme (Abad 17-20 M).
    Dalam sejarah Indonesia, abad ini disebut Fase kolonialisme. Dari sisi sejarah Islam Indonesia, fase ini masih masuk fase kesultanan. Karena pada fase ini umat Islam masih di bawah pemerintahan para sultan dan Adipati, khususnya sampai awal abad 19-an. Sekalipun pemerintahan Islam kebanyakan sudah tidak berdaya dan sangat 'tua' menghadapi hegemoni para kompeni (pedagang) dari Belanda, yang lebih maju dalam hal teknologi (tranportasi dan militer), dan cara berfikir. Sehingga pada era ini, umat Islam berada di dalam beberapa kondisi politik; melemahnya politik Islam, penjajahan Belanda, kebangkitan nasionalisme Islam. Kebangkitan nasionalisme Indonesia dan kemerdekaan.
    1. Fase melemahnya politik Islam.
    Kedatangan bangsa Eropa (Portugis, Spanyol, Inggris dan Belanda), di kawasan Nusantara ini sangat besar pengaruhnya terhadap 'kesehatan' politik umat Islam. Dengan taktik 'Devide at Ampera' (memecah belah dan menguasai), secara sistematis kesultanan dan Islam politik bisa dibonsai dan dikuasai, dengan pelan-pelan tetapi pasti. Sehingga Islam di Indonesia belum pernah muncul sebagai kekuatan puncak, tingkat nasional maupun internasional. Pemerintahan Islam di kawasan Nusantara baru bersifat lokal regional saja.
    Kekuasaan Sultan Iskandar muda dari Aceh (Samudera Pasei) dan Sultan Agung dari Mataram Surakarta, adalah puncak prestasi politik Islam. Hampir semua kesultanan dan kadipaten, runtuh karena perang saudara, dengan sutradara para politikus licik kompeni Belanda.
    2. Era Titik Nadir Sejarah Islam Indonesia.
    Sekitar abad 18 -19 M adalah titik nadir kondisi umat Islam di Indonesia, dalam hampir semua kondisinya, (ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya). Hampir seluruh kesultanan, dan kadipaten Islam di seluruh wilayah Nusantara berada di dalam cengkeraman dan penindasan kaum penjajah (Belanda, Inggris dan Portugis).
    Mulai saat itu, terjadinya dikotomi dan komunitas muslim yang beragam.
    Umat Islam yang kurang kuat iman dan ilmunya cenderung mengikuti para penjajah (menjadi pegawai dan karyawan mereka), menjadi kelas bangsawan pro penjajah (budaya, cara berfikir dan agamanya). Sementara yang imannya kuat dan dan berdaya, mengambil peran oposisi, dan mengambil garis demarkasi dengan penjajah, bahkan membuat benteng -benteng pertahanan agama dan budaya yang disebut pesantren. Dari sinilah lahir komunitas santri.  Sedangkan kelompok tengah (para pedagang dan profesi) selanjutnya berkembang menjadi yang keislaman tidak terbina dengan baik, tetapi juga tidak mengikuti agama dan budaya penjajah Belanda. Mereka itu yang di belakang hari disebut kaum abangan.
    Terjadi dikotomi pendidikan dan keilmuan, pendidikan agama (pondok pesantren-madrasah) dan umum (sekolah-universitas). Juga menguatnya keberadaan pengaruh agama Kristen dan peradaban Belanda di Indonesia.
    Ekploitasi besar-besaran terhadap sumber daya manusia dan sumber daya alam Nusantara dilakukan oleh para penjajah, baik oleh Belanda maupun yang lain. Tanam paksa untuk suplai kebutuhan pasar Eropa, maupun kerja paksa untuk pembangunan infrastruktur pendukung kelancaran roda ekonomi dan pemerintahan pada masa ini selalu dilakukan oleh pemerintah Belanda, atas rakyat kecil, (para petani dan kaum buruh) dari pedesaan.
    Pendidikan bagi rakyat biasa tidak difasilitasi oleh pemerintah, kecuali dengan sangat terbatas. Kaum muslimin menyelenggarakan sendiri pendidikannya di pondok, dan masjid serta surau - surau. Itupun hanya masalah agama saja.
    3. Era Kebangkitan dan Perlawanan Umat Islam.
    Akhir abad 18 dan  abad 19 adalah era kebangkitan Islam dan perlawanan umat terhadap para penjajah Belanda,  khususnya di kawasan Nusantara (termasuk Indonesia).
    Ketika umat Islam berada di titik nadir peradabannya, para penjajah Belanda mulai lebih intensif mengembangkan peradabannya, termasuk agamanya (Kristen, baik Katholik maupun protestan). Gereja atau tempat ibadah dan pendidikan, basis peradaban barat, banyak didirikan. Maka mulailah terjadi kebangkitan umat Islam untuk selanjutnya melakukan perlawanan terhadap pemerintah Hindia Belanda. Para sultan, pangeran dan ulama' mulai angkat senjata. Mulai dari Sabang sampai Merauke. Sultan Banten, Sultan Syarif Hidayatullah, Sultan Alauddin, Sultan Hasanuddin, Pangeran Diponegoro, dll. Inilah kebangkitan dan perlawanan umat Islam Nusantara, kebangkitan atas dasar semangat keislaman dan primordial bangsa timur vs Barat. Inilah kebangkitan umat Islam Nusantara yang pertama.
    Sedangkan kebangkitan dan perlawanan umat Islam terhadap penjajah, mulai abad 19 sampai dengan awal abad 20 adalah abad kebangkitan para pemuda, dari kalangan ilmuwan dan tokoh muda. Khususnya mulai tahun 1908 dan seterusnya. Khususnya di Pulau Jawa (Jawa timur dan Jawa tengah), pasca perang Diponegoro 1825 -1830, telah terjadi kebangkitan nasionalisme kaum santri. Para ulama' dan mantan  pengikut pangeran Diponegoro, banyak sekali yang  mendirikan pesantren, sekaligus Pesanggrahan benteng pertahanan dan perlawanan terhadap penjajah Belanda secara ideologi, agama dan budaya. Pesantren -pesantren inilah yang disebut sebagai Cagar budaya Islam Nusantara.
    Seiring dengan runtuhnya sistem pemerintahan Islam (dibubarkannya kekhalifahan Turki Usmani di Istanbul, tahun 1924), terjadilah kebangkitan umat Islam yang ke dua.  Kebangkitan ke dua umat Islam dan  masyarakat terjajah di kawasan Nusantara ini dipelopori oleh para pemuda atau kaum terpelajar muda. Awal tahun 1900an mereka mulai bangkit,  baik dari kalangan santri, priyayi dan abangan, bahkan para tokoh non muslim. Para ulama' alumni timur tengah (Makkah, Yaman dan Mesir) sarjana produk pendidikan barat (dalam dan luar negeri), dan para tokoh pergerakan serta aktifis kemasyarakatan. Semuanya bangkit bersama - sama melawan kolonialisme barat, dan penjajahan Belanda. Tahun 1928 membuat momentum sejarah NKRI, dengan "Sumpah Pemuda". Kebanyakan mereka mendirikan organisasi pergerakan, Perjuangan, dakwah dan profesi. Seperti, Serikat Dagang Islam, Budi Utomo, Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama', PKI, Masyumi dll. Semuanya mengajak masyarakat untuk bangkit melawan dan melepaskan diri dari penjajahan Belanda.
    Melalui prakarsa para santri H. Oemar Said Tjokroaminoto, pemuda Soekarno dkk. Juga segenap tokoh elemen bangsa akhirnya bangsa Indonesia bisa merdeka dan lepas dari penjajahan Belanda.
    4. Era Kemerdekaan.
    Sumpah pemuda adalah start kebangkitan nasionalisme dan patriotisme sebagai embrio bangsa Indonesia. Dan era kemerdekaan NKRI dimulai dari sini. Semua suku bangsa yang mendiami kepulauan yang terbentang dari Sabang sampai Merauke, yang menjadi jajahan kolonial Belanda, sepakat mendirikan satu negara yang disebut Indonesia. Sepakat menyatukan berbagai macam perbedaan dalam satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa, yaitu Indonesia. Dengan semboyan "Bhinneka Tunggal Ika" (berbeda-beda tetapi tetap satu tujuan).
    Era kemerdekaan ini sangat menentukan corak dan warna negara dan pemerintahan Indonesia. Para tokoh perintis kemerdekaan, khususnya 9 'wali songo' Indonesia (Ir. Soekarno, Drs. Moh.Hatta, Mr. Muhammad Yamin, AA.Maramis, KH. Wahid Hasyim, H. Agus Salim, R. Abi Kusno, R. Soebagyo).
    Terjadinya saling mempengaruhi di antara tiga ideologi politik umat Islam (nasionalis, nasionalis-relegius dan islamis), dapat kompromikan dalam bentuk konstitusi sangat simpel tapi  meliputi (baligh) yakni UUD 1945, khususnya pada bagian pembukaannya, yaitu Pancasila. Juga bentuk negara yang indah dan harmonis, NKRI, dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Konsep negara secara lengkap berhasil dideklarasikan pada tanggal 18 Agustus 1945. Inilah peran penting, kearifan dan jasa monumental, yang luar biasa para 'wali' pendiri negara kesatuan republik Indonesia. Ketidak puasan beberapa pihak minoritas yang ekstrim, khususnya kelompok komunis dan islamis sering kali menjadi  ganjalan dalam perjalanan roda pemerintahan. Dan bisa dibersihkan setelah berakhirnya pemerintahan Republik Indonesia pereode pertama (Orde lama). Berkah Rahmat Allah, dan karomahnya para wali, wilayah negeri ini selalu dalam lindungan Allah SWT dan bimbingan-Nya, dapat istiqamah dalam Islam yang modern dan moderat, sejak awal pendirian hingga saat ini.
     5. Era pasca kemerdekaan.
    Pasca kemerdekaan, keberadaan umat Islam dapat dilihat di dalam tiga orde pemerintahan,  yaitu orde lama, orde baru dan orde reformasi.
    - Orde Lama.
    Pada masa orde lama, umat Islam masih tersibukkan oleh 'rebutan peran politik' untuk mengemudikan pemerintahan,  antara kaum islamis, nasionalis-relegius, dan komunis.
    Orde lama ini mulai dari pengangkatan Ir. Soekarno dan Drs. Muhammad Hatta sebagai Presiden dan wakil presiden RI, dan berakhir dengan adanya kudeta berdarah yang gagal yang dilakukan oleh PKI, sehingga keluarnya Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret 1966).
    - Era ode baru.
    Era ini dimulai dari diangkatnya Soeharto sebagai presiden, dan berakhir dengan adanya 'kudeta tidak berdarah' yang dipelopori oleh beberapa elemen politik bangsa, khususnya kaum islamis, akademisi dan kaum tertindas.
    Pemerintahan pada era ini bergaya represif dan spirit militeristik. Dengan prioritas stabilitas pertahanan dan keamanan, demi tercapainya tujuan pembangunan nasional. Kaum ekstrimis, baik islamis (ektrim kanan) maupun sisa-sisa kaum komunis (ektrim kiri) ditekan dan 'dipenjarakan' , sehingga pembangunan nasional bisa berjalan dengan mulus tanpa hambatan. Sampai menguatnya kelas sosial baru muslim santri sebagai politisi,  pengusaha, dan  akademisi. Dan mereka inilah yang merancang terjadinya reformasi birokrasi dan pemerintahan. Sehingga terjadi era yang disebut era reformasi.
    - Era Orde Reformasi.
    Orde reformasi ini merupakan pembaharuan orde baru, dan terjadi di masa pemerintahan presiden Abdurrahman Wahid dan Megawati Soekarnoputri. Pada era ini bangsa Indonesia masa perubahan model dan gaya kepemimpinan dan birokrasi. Dari gaya militeristik represif ke dalam pemerintahan sipil liberalistik. Kebebasan terjadi dalam sebagian besar kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Bahkan kelompok - kelompok ektrim kanan dan kiri yang dipenjara oleh orde baru juga dibebaskan untuk hidup dan berkembang biak di negeri ini. Pilar-pilar tirani mayoritas dan feodalisme diruntuhkan. Bahkan egaliterian betul-betul menjadi primadona moralitas bangsa. Sehingga di era ini suara rakyat, suara publik atau suara masyarakat adalah suara 'tuhan' di dunia.
    Berbagai sekte dan  aliran dalam Islam, masuk dengan mudah dan nyaman di Indonesia. Sekte dan aliran pemikiran barat modern juga dengan lancar tumbuh subur di negeri ini, bahkan berbagai macam atheisme dan komunisme juga tumbuh dan berkembang kembali di Indonesia ini. Walaupun demikian tidak semua aliran dan sekte tersebut bisa bertahan hidup di negeri ini. Beberapa sekte dan aliran dalam Islam yang kemudian tumbuh subur di negeri ini antara lain; Hizbut Tahrir, Ikhwanul Muslimin, Jam'iyyah Tabligh, Salafi dan Wahabiyah, Serta Syiah. Mereka inilah yang selanjutnya turut mewarnai keislaman bangsa Indonesia. Orde reformasi ini merupakan titik awal pemerintahan sipil dan demokrasi yang sesungguhnya. Sehingga wujud dan keberadaan serta warna baru umat Islam Indonesia masa kini (Islam kontemporer) adalah buah dari tanaman di era reformasi ini. 
    6. Kondisi umat Islam Masa kini (kontemporer).
    Masa kini atau era kontemporer di sini saya batasi dalam durasi antara pasca era reformasi sampai dengan sekarang.
    Sedangkan kondisi umat Islam yang saya maksud adalah kondisi ideologi-politik, ekonomi dan sosial budaya.
     - Ideologi politik
    Kondisi umat Islam Indonesia masa kini berbeda spektrumnya dengan kondisi zaman sebelumnya. Pasca reformasi banyak ideologi baru yang bersifat trans nasional,  yang masuk dan berkembang secara massif di Indonesia. Melalui organisasi politik keislaman, seperti Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, Salafi, Wahabi, Syiah serta Jama'ah Tabligh wal Jaulah. Mereka sedang berjuang keras untuk mendapatkan tempat dan peran sosial di Indonesia.
    Sedangkan kelompok umat Islam dengan ideologi nasional relegius yang sudah setel, seperti Nahdlatul Ulama' dan Muhammadiyah dalam posisi yang 'terdesak' dengan berbagai gugatan dan bulian. Sedangkan politik luar negeri, juga sekarang dalam tarik ulur antara kerjasama dengan barat (Amerika) dan dengan timur (China atau Arab). Idealnya, Islam harus mandiri, laa syarqiyyah (tidak barat)  wa laa gharbiyyah (tidak timur) karena memang Islam itu unggul (exelen) dan uniq (beda dengan yang lain). Tetapi kenyataannya Islam masih mahjubun bil muslimin, keunggulan Islam masih terhalang oleh buruknya kwalitas SDM umat ada. Dan banyaknya firqah (kelompok ideologi), yang saat ini semakin marak akan lebih mempersulit proses terjadinya persatuan dan kesatuan umat Islam di Indonesia.
    - Ekonomi Umat Islam
    Kondisi ekonomi umat Islam Indonesia masa kini, sudah sangat lebih baik dari pada era orde sebelumnya. Hal ini lebih banyak karena keberhasilan program pembangunan nasional pada masa orde baru. Namun demikian dari sisi kondisi ekonomi umat Islam diprediksi akan terus meningkat seiring dengan berjalanya pembangunan infrastruktur telekomunikasi dan transportasi yang luar biasa hebatnya. Jalan tol, dermaga dan bandara. Serta jaringan internet ke seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Keberhasilan pembangunan infrastruktur di masa pemerintahan Jokowi akan menjadi pangkal tolak perkembangan perekonomian bangsa. Dan hampir dapat dipastikan  Indonesia akan mengalami pertumbuhan ekonomi yang spektakuler. Persoalannya, mampu kah umat Islam, khususnya para pengusaha muslim berkompetisi dengan pengusaha asing di era globalisasi ini ? Kita lihat saja di era yang akan datang.
    - Sosial - Budaya.
    Kondisi sosial budaya umat Islam di masa kontemporer ini, cukup menggembirakan;  pendidikan, peradaban dan moralitas umat.
    Pemerataan layanan pendidikan terus menerus mengalami pertumbuhan yang sangat besar, termasuk pendidikan keagamaan.
    Peradaban yang berbasis Islam, juga semakin meningkat, baik dalam masyarakat perkotaan maupun pedesaan. Kuantitas dan kualitas "kaum santri"
    (pemeluk Islam taat) semakin meningkat, hal ini lebih banyak disebabkan oleh meningkatnya dakwah Islam, baik oleh kalangan santri lama (NU, MD, LDII, Al Irsyad dan Persis), maupun santri baru (JT, IM, HT, Slfy, dan WHB). Santri jaringan internasional, murid-murid dari Syekh Hasan Al Banna, Syekh Taqiyuddin an Nabhani, Syekh Ilyas, Syekh Abdul Wahab dll.
    Sedangkan moralitas, umat sedang banyak dipertanyakan oleh publik, sehubungan dengan banyaknya kasus korupsi dan OTT, khususnya terkait dengan kezuhudan dan penghayatan keagamaan, dari kalangan alumni pendidikan agama dan pesantren.
    Demikian ringkasan sejarah umat Islam di Indonesia hingga saat ini.
    Wallahu a'lam bis showab.
    TTD
    Kharisuddin Aqib.

    Ringkasan Sejarah Islam di Indonesia

    Posted at  07.00  |  in  Ringkasan Sejarah Islam di Indonesia  |  Read More»

    Ringkasan Sejarah Islam di Indonesia
    Oleh; Kharisudin Aqib   

    A. Pengantar

    Untuk memahami kondisi umat Islam di Indonesia sekarang, baik secara politik, ekonomi dan sosial budaya termasuk model keislamannya, tidak mungkin bisa memahaminya dengan baik kecuali telah memahami sejarah kedatangan umat Islam dan perkembangannya di Indonesia.
    Setidaknya ada tujuh fase historis penting yang mempengaruhi corak dan warna warni serta subur dan kurusnya keislaman umat di Indonesia, ketujuh fase ini adalah; fase dakwah infirodiyah (individual), dakwah rosmiyah (formal); masa kewalian dan masa kesultanan, masa kolonial (penjajahan), masa kebangkitan, masa kemerdekaan dan masa kini (kontemporer).
    In syaa'a Allah ke tujuh fase tersebut akan saya tulis  walaupun sekedar ringkasannya saja. Semoga bermanfaat dan berkah untuk semua.
    B. Fase Dakwah Individual (abad 7-13 M).
    Islam sudah masuk di kawasan Nusantara, sudah cukup lama, yakni sekitar tahun 650 (masa ke khalifahan Sahabat Usman bin Affan). Islam dibawa oleh para pedagang Arab yang telah menguasai peta laut dan navigasi. Juga secara individual dilakukan oleh para sufi dan dzurriyyah Nabi. Sehingga sebenarnya Islam sudah masuk di kawasan Nusantara sangat lama. Akan tetapi belum bisa tumbuh subur dan menjulang tinggi ke permukaan peradaban. Islam hanya menjalar di dalam 'tanah' sebagai akar budaya. Kelas elit politik dan sosial kawasan Nusantara belum bisa menerima Islam lebih karena para da'inya. Dalam pandangan agama Hindu dan Budha, sebagai agama penguasa kawasan ini pada masa itu, para petani, pedagang dan tukang adalah kasta (kelas sosial) yang paling rendah, mereka tidak berhak 'berbicara' perkara sakral dan suci (agama). Sehingga pada era ini (abad 7-13), Islam hanya berwujud agama budaya dalam komunitas proletar (rakyat jelata).
    C. Fase Dakwah Resmi (abad 14-16 M)
    Sekitar dua setengah abad (14-16 M), meliputi dua era, yakni era kewalian dan era kesultanan. Era ini sempat moncer dan bersinar terang, menerangi seluruh kepulauan Nusantara.
    Bersamaan dengan meredupnya pamor kerajaan-kerajaan Hindu Budha di kawasan Nusantara, karena kejahatan dan menguatnya kekuatan hitam (Tantrayana kiri), sehingga wilayah Nusantara, khususnya pulau Jawa, menjadi daerah yang 'suram' jalmo Moro jalmo mati (setiap orang yang datang pasti mati). Maka kekhalifahan Islam di Turki (Khalifah Muhammad 2) mengubah strategi dakwahnya di wilayah Nusantara dengan mengirimkan tim da'i profesional, yang dikenal di Pulau Jawa dengan istilah WALI SONGO. Mereka adalah para ulama' Sufi yang Zuhud lagi memiliki keahlian yang sangat tinggi. Mereka antara lain didatangkan dari Palestina, Maroko, Kamboja dan Mesir. Konon organisasi ini berjalan selama 6 pereode dengan jumlah selalu 9 orang, pada area dakwah 9 daerah kewalian (9 wilayah). Tugas para wali tersebut di samping berdakwah mengajak masyarakat untuk masuk dan memeluk agama Islam, melaksanakan kepemimpinan umat juga membentuk pemerintahan Islam yang resmi di bawah otoritas Kekhalifahan Dinasti Usmaniyah yang berpusat di Turki dan wakil kekhalifahan di Makkah, (Syarif, wali kota Makkah).
    Pemerintahan Islam yang dibentuk oleh para Walisongo adalah kesultanan, yang wilayah kerjanya mungkin setara dengan Gubernuran.
    Pada era inilah warna keislaman di Nusantara, khususnya Indonesia menjadi sangat jelas, yakni Islam sufistik, yang bermazhab Syafi'i. Sebagaimana marna keislaman Kekhalifahan turki Usmani.
    D. Fase Kolonialisme (Abad 17-20 M).
    Dalam sejarah Indonesia, abad ini disebut Fase kolonialisme. Dari sisi sejarah Islam Indonesia, fase ini masih masuk fase kesultanan. Karena pada fase ini umat Islam masih di bawah pemerintahan para sultan dan Adipati, khususnya sampai awal abad 19-an. Sekalipun pemerintahan Islam kebanyakan sudah tidak berdaya dan sangat 'tua' menghadapi hegemoni para kompeni (pedagang) dari Belanda, yang lebih maju dalam hal teknologi (tranportasi dan militer), dan cara berfikir. Sehingga pada era ini, umat Islam berada di dalam beberapa kondisi politik; melemahnya politik Islam, penjajahan Belanda, kebangkitan nasionalisme Islam. Kebangkitan nasionalisme Indonesia dan kemerdekaan.
    1. Fase melemahnya politik Islam.
    Kedatangan bangsa Eropa (Portugis, Spanyol, Inggris dan Belanda), di kawasan Nusantara ini sangat besar pengaruhnya terhadap 'kesehatan' politik umat Islam. Dengan taktik 'Devide at Ampera' (memecah belah dan menguasai), secara sistematis kesultanan dan Islam politik bisa dibonsai dan dikuasai, dengan pelan-pelan tetapi pasti. Sehingga Islam di Indonesia belum pernah muncul sebagai kekuatan puncak, tingkat nasional maupun internasional. Pemerintahan Islam di kawasan Nusantara baru bersifat lokal regional saja.
    Kekuasaan Sultan Iskandar muda dari Aceh (Samudera Pasei) dan Sultan Agung dari Mataram Surakarta, adalah puncak prestasi politik Islam. Hampir semua kesultanan dan kadipaten, runtuh karena perang saudara, dengan sutradara para politikus licik kompeni Belanda.
    2. Era Titik Nadir Sejarah Islam Indonesia.
    Sekitar abad 18 -19 M adalah titik nadir kondisi umat Islam di Indonesia, dalam hampir semua kondisinya, (ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya). Hampir seluruh kesultanan, dan kadipaten Islam di seluruh wilayah Nusantara berada di dalam cengkeraman dan penindasan kaum penjajah (Belanda, Inggris dan Portugis).
    Mulai saat itu, terjadinya dikotomi dan komunitas muslim yang beragam.
    Umat Islam yang kurang kuat iman dan ilmunya cenderung mengikuti para penjajah (menjadi pegawai dan karyawan mereka), menjadi kelas bangsawan pro penjajah (budaya, cara berfikir dan agamanya). Sementara yang imannya kuat dan dan berdaya, mengambil peran oposisi, dan mengambil garis demarkasi dengan penjajah, bahkan membuat benteng -benteng pertahanan agama dan budaya yang disebut pesantren. Dari sinilah lahir komunitas santri.  Sedangkan kelompok tengah (para pedagang dan profesi) selanjutnya berkembang menjadi yang keislaman tidak terbina dengan baik, tetapi juga tidak mengikuti agama dan budaya penjajah Belanda. Mereka itu yang di belakang hari disebut kaum abangan.
    Terjadi dikotomi pendidikan dan keilmuan, pendidikan agama (pondok pesantren-madrasah) dan umum (sekolah-universitas). Juga menguatnya keberadaan pengaruh agama Kristen dan peradaban Belanda di Indonesia.
    Ekploitasi besar-besaran terhadap sumber daya manusia dan sumber daya alam Nusantara dilakukan oleh para penjajah, baik oleh Belanda maupun yang lain. Tanam paksa untuk suplai kebutuhan pasar Eropa, maupun kerja paksa untuk pembangunan infrastruktur pendukung kelancaran roda ekonomi dan pemerintahan pada masa ini selalu dilakukan oleh pemerintah Belanda, atas rakyat kecil, (para petani dan kaum buruh) dari pedesaan.
    Pendidikan bagi rakyat biasa tidak difasilitasi oleh pemerintah, kecuali dengan sangat terbatas. Kaum muslimin menyelenggarakan sendiri pendidikannya di pondok, dan masjid serta surau - surau. Itupun hanya masalah agama saja.
    3. Era Kebangkitan dan Perlawanan Umat Islam.
    Akhir abad 18 dan  abad 19 adalah era kebangkitan Islam dan perlawanan umat terhadap para penjajah Belanda,  khususnya di kawasan Nusantara (termasuk Indonesia).
    Ketika umat Islam berada di titik nadir peradabannya, para penjajah Belanda mulai lebih intensif mengembangkan peradabannya, termasuk agamanya (Kristen, baik Katholik maupun protestan). Gereja atau tempat ibadah dan pendidikan, basis peradaban barat, banyak didirikan. Maka mulailah terjadi kebangkitan umat Islam untuk selanjutnya melakukan perlawanan terhadap pemerintah Hindia Belanda. Para sultan, pangeran dan ulama' mulai angkat senjata. Mulai dari Sabang sampai Merauke. Sultan Banten, Sultan Syarif Hidayatullah, Sultan Alauddin, Sultan Hasanuddin, Pangeran Diponegoro, dll. Inilah kebangkitan dan perlawanan umat Islam Nusantara, kebangkitan atas dasar semangat keislaman dan primordial bangsa timur vs Barat. Inilah kebangkitan umat Islam Nusantara yang pertama.
    Sedangkan kebangkitan dan perlawanan umat Islam terhadap penjajah, mulai abad 19 sampai dengan awal abad 20 adalah abad kebangkitan para pemuda, dari kalangan ilmuwan dan tokoh muda. Khususnya mulai tahun 1908 dan seterusnya. Khususnya di Pulau Jawa (Jawa timur dan Jawa tengah), pasca perang Diponegoro 1825 -1830, telah terjadi kebangkitan nasionalisme kaum santri. Para ulama' dan mantan  pengikut pangeran Diponegoro, banyak sekali yang  mendirikan pesantren, sekaligus Pesanggrahan benteng pertahanan dan perlawanan terhadap penjajah Belanda secara ideologi, agama dan budaya. Pesantren -pesantren inilah yang disebut sebagai Cagar budaya Islam Nusantara.
    Seiring dengan runtuhnya sistem pemerintahan Islam (dibubarkannya kekhalifahan Turki Usmani di Istanbul, tahun 1924), terjadilah kebangkitan umat Islam yang ke dua.  Kebangkitan ke dua umat Islam dan  masyarakat terjajah di kawasan Nusantara ini dipelopori oleh para pemuda atau kaum terpelajar muda. Awal tahun 1900an mereka mulai bangkit,  baik dari kalangan santri, priyayi dan abangan, bahkan para tokoh non muslim. Para ulama' alumni timur tengah (Makkah, Yaman dan Mesir) sarjana produk pendidikan barat (dalam dan luar negeri), dan para tokoh pergerakan serta aktifis kemasyarakatan. Semuanya bangkit bersama - sama melawan kolonialisme barat, dan penjajahan Belanda. Tahun 1928 membuat momentum sejarah NKRI, dengan "Sumpah Pemuda". Kebanyakan mereka mendirikan organisasi pergerakan, Perjuangan, dakwah dan profesi. Seperti, Serikat Dagang Islam, Budi Utomo, Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama', PKI, Masyumi dll. Semuanya mengajak masyarakat untuk bangkit melawan dan melepaskan diri dari penjajahan Belanda.
    Melalui prakarsa para santri H. Oemar Said Tjokroaminoto, pemuda Soekarno dkk. Juga segenap tokoh elemen bangsa akhirnya bangsa Indonesia bisa merdeka dan lepas dari penjajahan Belanda.
    4. Era Kemerdekaan.
    Sumpah pemuda adalah start kebangkitan nasionalisme dan patriotisme sebagai embrio bangsa Indonesia. Dan era kemerdekaan NKRI dimulai dari sini. Semua suku bangsa yang mendiami kepulauan yang terbentang dari Sabang sampai Merauke, yang menjadi jajahan kolonial Belanda, sepakat mendirikan satu negara yang disebut Indonesia. Sepakat menyatukan berbagai macam perbedaan dalam satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa, yaitu Indonesia. Dengan semboyan "Bhinneka Tunggal Ika" (berbeda-beda tetapi tetap satu tujuan).
    Era kemerdekaan ini sangat menentukan corak dan warna negara dan pemerintahan Indonesia. Para tokoh perintis kemerdekaan, khususnya 9 'wali songo' Indonesia (Ir. Soekarno, Drs. Moh.Hatta, Mr. Muhammad Yamin, AA.Maramis, KH. Wahid Hasyim, H. Agus Salim, R. Abi Kusno, R. Soebagyo).
    Terjadinya saling mempengaruhi di antara tiga ideologi politik umat Islam (nasionalis, nasionalis-relegius dan islamis), dapat kompromikan dalam bentuk konstitusi sangat simpel tapi  meliputi (baligh) yakni UUD 1945, khususnya pada bagian pembukaannya, yaitu Pancasila. Juga bentuk negara yang indah dan harmonis, NKRI, dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Konsep negara secara lengkap berhasil dideklarasikan pada tanggal 18 Agustus 1945. Inilah peran penting, kearifan dan jasa monumental, yang luar biasa para 'wali' pendiri negara kesatuan republik Indonesia. Ketidak puasan beberapa pihak minoritas yang ekstrim, khususnya kelompok komunis dan islamis sering kali menjadi  ganjalan dalam perjalanan roda pemerintahan. Dan bisa dibersihkan setelah berakhirnya pemerintahan Republik Indonesia pereode pertama (Orde lama). Berkah Rahmat Allah, dan karomahnya para wali, wilayah negeri ini selalu dalam lindungan Allah SWT dan bimbingan-Nya, dapat istiqamah dalam Islam yang modern dan moderat, sejak awal pendirian hingga saat ini.
     5. Era pasca kemerdekaan.
    Pasca kemerdekaan, keberadaan umat Islam dapat dilihat di dalam tiga orde pemerintahan,  yaitu orde lama, orde baru dan orde reformasi.
    - Orde Lama.
    Pada masa orde lama, umat Islam masih tersibukkan oleh 'rebutan peran politik' untuk mengemudikan pemerintahan,  antara kaum islamis, nasionalis-relegius, dan komunis.
    Orde lama ini mulai dari pengangkatan Ir. Soekarno dan Drs. Muhammad Hatta sebagai Presiden dan wakil presiden RI, dan berakhir dengan adanya kudeta berdarah yang gagal yang dilakukan oleh PKI, sehingga keluarnya Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret 1966).
    - Era ode baru.
    Era ini dimulai dari diangkatnya Soeharto sebagai presiden, dan berakhir dengan adanya 'kudeta tidak berdarah' yang dipelopori oleh beberapa elemen politik bangsa, khususnya kaum islamis, akademisi dan kaum tertindas.
    Pemerintahan pada era ini bergaya represif dan spirit militeristik. Dengan prioritas stabilitas pertahanan dan keamanan, demi tercapainya tujuan pembangunan nasional. Kaum ekstrimis, baik islamis (ektrim kanan) maupun sisa-sisa kaum komunis (ektrim kiri) ditekan dan 'dipenjarakan' , sehingga pembangunan nasional bisa berjalan dengan mulus tanpa hambatan. Sampai menguatnya kelas sosial baru muslim santri sebagai politisi,  pengusaha, dan  akademisi. Dan mereka inilah yang merancang terjadinya reformasi birokrasi dan pemerintahan. Sehingga terjadi era yang disebut era reformasi.
    - Era Orde Reformasi.
    Orde reformasi ini merupakan pembaharuan orde baru, dan terjadi di masa pemerintahan presiden Abdurrahman Wahid dan Megawati Soekarnoputri. Pada era ini bangsa Indonesia masa perubahan model dan gaya kepemimpinan dan birokrasi. Dari gaya militeristik represif ke dalam pemerintahan sipil liberalistik. Kebebasan terjadi dalam sebagian besar kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Bahkan kelompok - kelompok ektrim kanan dan kiri yang dipenjara oleh orde baru juga dibebaskan untuk hidup dan berkembang biak di negeri ini. Pilar-pilar tirani mayoritas dan feodalisme diruntuhkan. Bahkan egaliterian betul-betul menjadi primadona moralitas bangsa. Sehingga di era ini suara rakyat, suara publik atau suara masyarakat adalah suara 'tuhan' di dunia.
    Berbagai sekte dan  aliran dalam Islam, masuk dengan mudah dan nyaman di Indonesia. Sekte dan aliran pemikiran barat modern juga dengan lancar tumbuh subur di negeri ini, bahkan berbagai macam atheisme dan komunisme juga tumbuh dan berkembang kembali di Indonesia ini. Walaupun demikian tidak semua aliran dan sekte tersebut bisa bertahan hidup di negeri ini. Beberapa sekte dan aliran dalam Islam yang kemudian tumbuh subur di negeri ini antara lain; Hizbut Tahrir, Ikhwanul Muslimin, Jam'iyyah Tabligh, Salafi dan Wahabiyah, Serta Syiah. Mereka inilah yang selanjutnya turut mewarnai keislaman bangsa Indonesia. Orde reformasi ini merupakan titik awal pemerintahan sipil dan demokrasi yang sesungguhnya. Sehingga wujud dan keberadaan serta warna baru umat Islam Indonesia masa kini (Islam kontemporer) adalah buah dari tanaman di era reformasi ini. 
    6. Kondisi umat Islam Masa kini (kontemporer).
    Masa kini atau era kontemporer di sini saya batasi dalam durasi antara pasca era reformasi sampai dengan sekarang.
    Sedangkan kondisi umat Islam yang saya maksud adalah kondisi ideologi-politik, ekonomi dan sosial budaya.
     - Ideologi politik
    Kondisi umat Islam Indonesia masa kini berbeda spektrumnya dengan kondisi zaman sebelumnya. Pasca reformasi banyak ideologi baru yang bersifat trans nasional,  yang masuk dan berkembang secara massif di Indonesia. Melalui organisasi politik keislaman, seperti Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, Salafi, Wahabi, Syiah serta Jama'ah Tabligh wal Jaulah. Mereka sedang berjuang keras untuk mendapatkan tempat dan peran sosial di Indonesia.
    Sedangkan kelompok umat Islam dengan ideologi nasional relegius yang sudah setel, seperti Nahdlatul Ulama' dan Muhammadiyah dalam posisi yang 'terdesak' dengan berbagai gugatan dan bulian. Sedangkan politik luar negeri, juga sekarang dalam tarik ulur antara kerjasama dengan barat (Amerika) dan dengan timur (China atau Arab). Idealnya, Islam harus mandiri, laa syarqiyyah (tidak barat)  wa laa gharbiyyah (tidak timur) karena memang Islam itu unggul (exelen) dan uniq (beda dengan yang lain). Tetapi kenyataannya Islam masih mahjubun bil muslimin, keunggulan Islam masih terhalang oleh buruknya kwalitas SDM umat ada. Dan banyaknya firqah (kelompok ideologi), yang saat ini semakin marak akan lebih mempersulit proses terjadinya persatuan dan kesatuan umat Islam di Indonesia.
    - Ekonomi Umat Islam
    Kondisi ekonomi umat Islam Indonesia masa kini, sudah sangat lebih baik dari pada era orde sebelumnya. Hal ini lebih banyak karena keberhasilan program pembangunan nasional pada masa orde baru. Namun demikian dari sisi kondisi ekonomi umat Islam diprediksi akan terus meningkat seiring dengan berjalanya pembangunan infrastruktur telekomunikasi dan transportasi yang luar biasa hebatnya. Jalan tol, dermaga dan bandara. Serta jaringan internet ke seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Keberhasilan pembangunan infrastruktur di masa pemerintahan Jokowi akan menjadi pangkal tolak perkembangan perekonomian bangsa. Dan hampir dapat dipastikan  Indonesia akan mengalami pertumbuhan ekonomi yang spektakuler. Persoalannya, mampu kah umat Islam, khususnya para pengusaha muslim berkompetisi dengan pengusaha asing di era globalisasi ini ? Kita lihat saja di era yang akan datang.
    - Sosial - Budaya.
    Kondisi sosial budaya umat Islam di masa kontemporer ini, cukup menggembirakan;  pendidikan, peradaban dan moralitas umat.
    Pemerataan layanan pendidikan terus menerus mengalami pertumbuhan yang sangat besar, termasuk pendidikan keagamaan.
    Peradaban yang berbasis Islam, juga semakin meningkat, baik dalam masyarakat perkotaan maupun pedesaan. Kuantitas dan kualitas "kaum santri"
    (pemeluk Islam taat) semakin meningkat, hal ini lebih banyak disebabkan oleh meningkatnya dakwah Islam, baik oleh kalangan santri lama (NU, MD, LDII, Al Irsyad dan Persis), maupun santri baru (JT, IM, HT, Slfy, dan WHB). Santri jaringan internasional, murid-murid dari Syekh Hasan Al Banna, Syekh Taqiyuddin an Nabhani, Syekh Ilyas, Syekh Abdul Wahab dll.
    Sedangkan moralitas, umat sedang banyak dipertanyakan oleh publik, sehubungan dengan banyaknya kasus korupsi dan OTT, khususnya terkait dengan kezuhudan dan penghayatan keagamaan, dari kalangan alumni pendidikan agama dan pesantren.
    Demikian ringkasan sejarah umat Islam di Indonesia hingga saat ini.
    Wallahu a'lam bis showab.
    TTD
    Kharisuddin Aqib.

    Memahami Akar Sejarah
    timbulnya Aliran-aliran dalam Islam
    Oleh: Kharisuddin Aqib 

    A. Pengantar
    Warna-warni aliran pemikiran dalam Islam seperti yang kita ketahui sekarang ini terjadi melalui proses evolusi yang panjang seiring dengan perkembangan sejarah peradaban Islam itu sendiri. Mulai zaman nabi Muhammad Saw sampai dengan saat ini.
    Agama Islam di awal keberadaannya adalah sebuah dinamika dan komunikasi intensif sebuah komunitas yang terdiri dari Nabi Muhammad dengan keluarga dan para muridnya. Para keluarga (Alihi), dan para muridnya (Ashab). Praktek dinamis dalam kehidupan komunitas inilah yang disebut agama Islam (ma ana 'alaihim alyauma wa ashabihi). Keluarga nabi juga biasa disebut dengan ahlul bait, sedangkan para murid dan pengikutnya disebut sahabat atau ashab. Gambaran sederhana komunikasi antara nabi Muhammad dengan keluarga dan para sahabatnya adalah sebagai mana para kyai dengan keluarganya dan santri.
    Embrio terjadinya persoalan yang kemudian menjadi sebab munculnya aliran-aliran pemikiran dalam semua aspek kehidupan kemasyarakatan umat Islam, adalah meninggalnya Rasulullah Saw.
    Meninggalnya Rasulullah Saw sebagai figur sentral bagi umat Islam berdampak pada munculnya Persoalan Politik Praktis, yakni siapa yang berhak menjadi pengganti beliau sebagai pelanjut pemerintahan atau kepemimpinan. Baik sebagai pemimpin agama maupun pemimpin negara. Pemimpin agama Islam (sebagai Nabi) dan pemimpin negara (kepala negara Madinah). Sebagai Nabi semua umat sepakat, bahwa formal kenabian tidak bisa wariskan, dan sedangkan yang bisa dan harus dilaksanakan adalah menentukan siapa pengganti memimpin dan membimbing umat  sebagai amiril mukminin (pemimpin umat Islam). Maka mulai saat itu terjadilah dua kelompok umat Islam, yang satu sedang merawat jenazah Rasulullah (5-7 orang dari keluarga nabi), yang satunya adalah kelompok para tokoh sahabat (Muhajirin dan Anshar), menyelenggarakan Musyawarah Besar Luar Biasa untuk menentukan siapa yang paling berhak untuk menjadi pengganti Rasullullah.
    Ada beberapa persoalan yang dihadapi oleh umat Islam semenjak meninggal nya Sang Rasul tgl 12 Rabiul awal 632 M. Yang pertama dan monumental adalah persoalan politik, selanjutnya persoalan aqidah (teologi), kemudian baru persoalan syariat atau fiqih dan persoalan akhlak atau tasawuf. Dan akumulasi dari keempat persoalan inilah aliran pemikiran dalam Islam muncul, yang in syaa'a Allah akan diulas dalam kajian bersambung ini.

    B. Persoalan Politik.
    Seperti yang telah saya uraikan di pengantar, bahwa wafatnya Rasulullah menimbulkan persoalan politik yang sangat penting dan monumental. Yakni pengangkatan pelanjut pemerintahan sang Rasul (Khalifah), sebagai Amirul mukminin. Para tokoh sahabat musyawarah sendiri (dari kaum Muhajirin dan Anshar) tanpa kehadiran ahlul bait (keluarga ndalem). Ahlul bait lagi sedang berduka dan merawat jenazah Rasulullah.Keputusan akhir musyawarah para sahabat di Saqifah (tenda pertemuan) Bani Sa'ad mereka mengangkat Abu Bakar as Shiddiq sebagai Amirul mukminin. Sedangkan
    Rasulullah tidak berwasiat secara syar'i dan sharih seperti biasa beliau ajarkan. Ada wasiat Ghodir Khum atas kepemimpinan Ali bin Abi Thalib, yang hanya diakui oleh kalangan ahlul bait dan ada isyarat nabi Muhammad pada para sahabat atas peran Abu Bakar as Shiddiq, sebagai badal  imam shalat, ketika sang Rasul sakit menjelang wafatnya. Inilah faktor psikopolitis yang selanjutnya bermuara pada terjadinya keretakan di kalangan umat Islam. Dan pada akhirnya "dunia Islam" terbelah menjadi dua; Syiah dan Ahli Sunnah (Syi'i dan Sunni). Para pendukung ahlul bait, khususnya yang fanatik dengan Sahabat Ali bin Abi Thalib mengklaim bahwa para sahabat telah Ghoshob (merampas) hak kepemimpinan Sayyidina Ali, begitu juga sebaliknya para pendukung keputusan musyawarah luar biasa para sahabat, khususnya yang fanatik (plus munafik),  menuduh para pendukung 'idiologi' ahlul bait adalah sebagai pembohong (kadzdzaab). Padahal kedua terminologi ini bersifat destruktif (menghancurkan) ketsiqahan (kredibilitas) seorang periwayat hadis. Dan karena itu hadis di dunia Islam juga terbelah dua, hadis Syiah dan hadis Sunnah. Yang keduanya itu tidak  'saling menyapa'.
    Kondisi umat Islam menjadi lebih ruyam setelah kemunculan kelompok-kelompok ektrim (Ghulat) yang keras, dan ahistoris yang mengembangkan ideologi 'takfiri' (mengkafirkan kelompok lain  di luar  kelomponya), baik di kalangan Syi'ah maupun Sunnah.
    Beberapa aliran keras dan ektrim dari kalangan Syi'ah, seperti; syiah Qaramithah, Rofidloh dan hasasin, dan beberapa dari kalangan Sunnah seperti Khawarij, salafi dan wahabi. Aura kontradiksi dan permusuhan diantara belahan dunia Islam masih memancar dari jurang pemisah antara Syiah dan Sunnah, di samping jurang - jurang kecil internal keduanya. Aura tersebut muncul tidak lain karena bara api ; asobiah, jahiliah dan hiqdu wal hasad (dengki dan iri hati)
    yang memancar dari dalam hati kaum muslimin yang lemah ilmu dan imannya.

    C. Persoalan Aqidah (Teologi).
    Persoalan teologi yang muncul dan timbul di dalam diskursus dan polemik umat Islam di zaman klasik (zaman tabi'in awal sd dua generasi di belakangnya) adalah puncak persoalan politik, yaitu terjadinya fitnatul kubro (terbunuhnya Amirul mukminin,  Khalifah Utsman bin Affan), juga terjadinya beberapa peperangan diantara sesama muslim. Perang jamal (antara pasukan Ali bin Abi Thalib dengan pasukan Siti Asiah), perang Shiffin (antara pasukan Ali bin Abi Thalib dengan Muawiyah bin Abi Sufyan), Karbala dll. Yang melibatkan dan mengorbankan banyak pasukan muslimin.
    Polemik tentang bagaimana status hukum seorang muslim yang tidak berhukum dengan menggunakan hukum Allah (Al-Qur'an) ?. bagaimana status hukum pembunuh sesama muslim ? Apakah dia masih mukmin, kafir atau fasiq?. Bagaimana status keislaman dan keimanan seseorang yang berdosa besar ? Para ulama' dan zu'ama' dari kalangan umat Islam, baik yang Syi'ah maupun yang Sunnah memberikan argumentasi sesuai dengan keilmuan dan background psikologi, sosial, akademik dan keagamaan masing-masing. Kelompok orang yang tulus, lurus tetapi kurang luas ilmu dan toleransinya, berpendapat bahwa orang-orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah secara tekstual, mereka itu telah kafir dan keluar dari agama Islam, mereka itu adalah kaum khawarij,  atau kebanyakan mantan pasukan elit Ali bin Abi Thalib yang desersi.
    Para ulama' yang tekstual tetapi tidak politis cenderung berpendapat, bahwa orang-orang yang beriman tetapi tidak berpegang pada hukum Allah, tidak bisa di sebut Kafir, mereka mukmin yang fasiq. Mereka berdosa besar. Nasib mereka di akhirat kelak fii masyiatillah (terserah Allah) tidak di surga dan tidak di neraka. Senada dengan itu, orang-orang yang fatalistis (jabariyah), juga muncul, mereka berpendapat, bahwa kondisi apapun di dunia ini adalah berdasarkan kehendak mutlak Allah SWT, termasuk nasib manusia. Manusia hanyalah wayang dan Allah adalah dalangnya. Sebagai mana firman Allah SWT,
    " والله خلقكم وما تعملون".
    Artinya : "Allah lah yang telah menciptakan kalian dan perbuatan kalian". (QS. As. Shofat 96)

    Sedangkan kaum qadariyah yang cenderung rasional justru berpendapat sebaliknya. Bahwa kondisi apapun yang di alami oleh manusia adalah semata-mata karena ulah perbuatan manusia itu sendiri. Manusia, bebas dan mampu membuat nasibnya sendiri. Sebagai mana firman Allah SWT :

    إن الله لا يغير ما بقوم حتى يغيروا ما بأنفسهم...

    Artinya : "Sesungguhnya Allah tidak merubah nasib suatu kaum, sampai mereka mau merubah nasibnya sendiri" (QS. Ar Ra'd 11)

    Mereka adalah kelompok minor elite dalam Islam yang terkenal dengan sebutan kaum muktazilah.
    Persoalan teologi yang terus berkembang sehingga melahirkan banyak aliran pemikiran yang muncul, baik di zaman klasik, seperti jabariyah, qadariyah, murji'ah. Maupun zaman pertengahan, seperti; Muktazilah, Asy'ariah, maturidiah, ahli Sunnah wal jama'ah. Demikian juga di era modern dan kontemporer.

    D.  Persoalan Fiqh (pemahaman syariat Islam).
    Setelah muncul dan berkembangnya persoalan politik dan aqidah dalam realitas kehidupan umat Islam. Adalah munculnya persoalan baru yang terkait dengan fiqh atau pemahaman dalam syari'at Islam. Baik syariat dhohir (hukum Islam), maupun syariat batin (akhlak islami) atau tasawuf.
    Para ulama' fiqh (hukum Islam), baik di kalangan Sunni, maupun Syiah secara garis besar terbelah menjadi tiga kelompok pemahaman, yakni;  para ahlul hadits (tekstualis), ahlur ro'yi (rasionalis), dan ahlus sunnah (tekstualis-rasionalis).
    Demikian juga para ulama' tasawuf (kerohanian dan kebatinan dalam Islam), juga terbedakan dalam tiga karakter, yakni; sunni, falsafi dan baathini.
    Para ulama' yang konsen terhadap ajaran formal dan aturan-aturan hukum Allah, secara garis besar memiliki tiga sikap mental yang berbeda. Ada yang memahami teks aturan agama (syariat) dalam Al Qur'an dan as Sunnah sangat formal dan tektual. Mereka adalah ahlul hadits, sehingga memunculkan madzhab - madzhab salaf yang tampak lebih formal seperti madzhab Maliki.
    Para ulama' yang cenderung rasional, seperti ulama' Kufah dan Basrah memahami agama lebih kontekstual dan esensial. Seperti imam madzhab Abu Hanifah. Demikian juga para ulama' Sunni yang cenderung konvergensif, akomodatif. Mereka melahirkan madzhab fiqih yang modern dan moderat, seperti Imam Syafi'i.
    Sedangkan dalam bidang kerohanian (tasawuf) sebagai bagian dari pemahaman keagamaan. Juga terdapat tiga kelompok pemahaman yang berkembang dalam kehidupan masyarakat Islam.
    Pertama, kelompok yang cenderung mengikuti pola kesufian Rasulullah Saw. Mereka berusaha menjauhi materialisme dan hedonisme tetapi secara aktif mereka mendakwahkan ajaran Islam, khususnya ajaran akhlak dan kerohaniannya. Mereka adalah para sufi Sunni,  yang gerakannya sukses pertama kali (gerakan i'tizal dan Zuhud atas prakarsa Hasan Basri. Yang selanjutnya diperkokoh oleh Abu Qasim Junaidi Al Baghdadi, juga oleh para tokoh Sufi sunni yang lain.
    Kedua, kelompok yang cenderung mengikuti pola kesufian para
    filosof dan ahli hikmah. Mereka lebih cenderung pada aktivitas berfilsaf dan berteori. Hikmah -hikmah kerohaniannya memenuhi glosarium dunia Islam. Mereka adalah para sufi falsafi, dengan tokoh legendarisnya yang bernama Ibnu Arobi.
    Sedangkan yang ke tiga, adalah para sufi baathini.  Mereka, para sufi baathini adalah orang-orang yang keasikan kebatinannya melampaui batas-batas etika dan estetika apapun, termasuk di dalamnya batasan syariat Islam. Kebatinan transkultural ini yang selanjutnya disebut sebagai aliran tasawuf mabuk dan dianggap sesat oleh para aktivis syariat Islam.

    E. Persoalan Hegemoni Barat.
    Penyebab dan akar Sejarah timbulnya berbagai aliran keagamaan dan politik dan sosial dalam Islam, adalah adanya dominasi dan hegemoni barat atas wilayah sosial politik umat Islam.
    Setelah sekitar dua abad bangsa barat menjajah umat Islam, umat Islam mulai bangkit dan tersadarkan akan pentingnya kebangkitan umat Islam. Mulai dari Turki dan Mesir yang berhubungan dan berhadapan langsung dengan bangsa barat. Turki berhadapan dengan Italia dan Mesir berhubungan dengan Prancis (Ekspedisi Napoleon Bonaparte). Para ulama'  terbelalak melihat peradaban yang jauh lebih tinggi daripada peradaban umat. Padahal mereka sangat yakin pada Sabda nabi "Al Islam ya'lu wala Yu'laa 'alaih" (Islam adalah adalah peradaban tertinggi, tidak ada yang mengunggulinya).
    Tatkala umat Islam masih tertidur lelap di dalam selimut penjajahan barat,   khususnya;  Portugis, Inggris, Spanyol, dan Belanda. Para ulama' Islam Mesir khususnya Sayyid Jamaluddin Al Afghani, Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha, berjuang keras, menggelorakan kebangkitan umat Islam. Demikian juga para Sultan dan Khalifah Dinasti Usmaniyah di Turki, menggelorakan semangat kebangkitan melawan kolonialisme barat.  Maka terjadilah kebangkitan umat Islam di hampir seluruh penjuru dunia, atas prakarsa para sultan dan ulma' pemimpin umat.
    Termasuk kesultanan-kesultanan di wilayah Nusantara (kawasan Asia tenggara).
    Mulai kesultanan Aceh (samudra pasai) sampai dengan kesultanan Ternate dan Tidore. Kesultanan di Pulau Jawa sampai di kepulauan Sulu dan Mindanao. Semuanya bangkit melawan hegemoni dan penjajahan bangsa barat (Belanda, Inggris, Portugis dan Spanyol). Maka akhirnya muncul organisasi dan Jam'iyyah pergerakan dengan berbagai macam warna warni keislamannya.
    Dalam skala internasional, muncul Pan Islam, Ikhwanul muslimin, Wahabi dll. Sedangkan di Indonesia, muncul Serikat Dagang Islam, Budi Utomo, Al Khoiriyah, Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama' dll. Semua organisasi dan Jam'iyyah pergerakan tersebut tujuan utamanya adalah merebut kembali kemerdekaan dari tangan kolonialisme bangsa barat.
    Wallahu a'lam bis showab

    Memahami Akar Sejarah timbulnya Aliran-aliran dalam Islam

    Posted at  07.00  |  in  sejarah islam  |  Read More»

    Memahami Akar Sejarah
    timbulnya Aliran-aliran dalam Islam
    Oleh: Kharisuddin Aqib 

    A. Pengantar
    Warna-warni aliran pemikiran dalam Islam seperti yang kita ketahui sekarang ini terjadi melalui proses evolusi yang panjang seiring dengan perkembangan sejarah peradaban Islam itu sendiri. Mulai zaman nabi Muhammad Saw sampai dengan saat ini.
    Agama Islam di awal keberadaannya adalah sebuah dinamika dan komunikasi intensif sebuah komunitas yang terdiri dari Nabi Muhammad dengan keluarga dan para muridnya. Para keluarga (Alihi), dan para muridnya (Ashab). Praktek dinamis dalam kehidupan komunitas inilah yang disebut agama Islam (ma ana 'alaihim alyauma wa ashabihi). Keluarga nabi juga biasa disebut dengan ahlul bait, sedangkan para murid dan pengikutnya disebut sahabat atau ashab. Gambaran sederhana komunikasi antara nabi Muhammad dengan keluarga dan para sahabatnya adalah sebagai mana para kyai dengan keluarganya dan santri.
    Embrio terjadinya persoalan yang kemudian menjadi sebab munculnya aliran-aliran pemikiran dalam semua aspek kehidupan kemasyarakatan umat Islam, adalah meninggalnya Rasulullah Saw.
    Meninggalnya Rasulullah Saw sebagai figur sentral bagi umat Islam berdampak pada munculnya Persoalan Politik Praktis, yakni siapa yang berhak menjadi pengganti beliau sebagai pelanjut pemerintahan atau kepemimpinan. Baik sebagai pemimpin agama maupun pemimpin negara. Pemimpin agama Islam (sebagai Nabi) dan pemimpin negara (kepala negara Madinah). Sebagai Nabi semua umat sepakat, bahwa formal kenabian tidak bisa wariskan, dan sedangkan yang bisa dan harus dilaksanakan adalah menentukan siapa pengganti memimpin dan membimbing umat  sebagai amiril mukminin (pemimpin umat Islam). Maka mulai saat itu terjadilah dua kelompok umat Islam, yang satu sedang merawat jenazah Rasulullah (5-7 orang dari keluarga nabi), yang satunya adalah kelompok para tokoh sahabat (Muhajirin dan Anshar), menyelenggarakan Musyawarah Besar Luar Biasa untuk menentukan siapa yang paling berhak untuk menjadi pengganti Rasullullah.
    Ada beberapa persoalan yang dihadapi oleh umat Islam semenjak meninggal nya Sang Rasul tgl 12 Rabiul awal 632 M. Yang pertama dan monumental adalah persoalan politik, selanjutnya persoalan aqidah (teologi), kemudian baru persoalan syariat atau fiqih dan persoalan akhlak atau tasawuf. Dan akumulasi dari keempat persoalan inilah aliran pemikiran dalam Islam muncul, yang in syaa'a Allah akan diulas dalam kajian bersambung ini.

    B. Persoalan Politik.
    Seperti yang telah saya uraikan di pengantar, bahwa wafatnya Rasulullah menimbulkan persoalan politik yang sangat penting dan monumental. Yakni pengangkatan pelanjut pemerintahan sang Rasul (Khalifah), sebagai Amirul mukminin. Para tokoh sahabat musyawarah sendiri (dari kaum Muhajirin dan Anshar) tanpa kehadiran ahlul bait (keluarga ndalem). Ahlul bait lagi sedang berduka dan merawat jenazah Rasulullah.Keputusan akhir musyawarah para sahabat di Saqifah (tenda pertemuan) Bani Sa'ad mereka mengangkat Abu Bakar as Shiddiq sebagai Amirul mukminin. Sedangkan
    Rasulullah tidak berwasiat secara syar'i dan sharih seperti biasa beliau ajarkan. Ada wasiat Ghodir Khum atas kepemimpinan Ali bin Abi Thalib, yang hanya diakui oleh kalangan ahlul bait dan ada isyarat nabi Muhammad pada para sahabat atas peran Abu Bakar as Shiddiq, sebagai badal  imam shalat, ketika sang Rasul sakit menjelang wafatnya. Inilah faktor psikopolitis yang selanjutnya bermuara pada terjadinya keretakan di kalangan umat Islam. Dan pada akhirnya "dunia Islam" terbelah menjadi dua; Syiah dan Ahli Sunnah (Syi'i dan Sunni). Para pendukung ahlul bait, khususnya yang fanatik dengan Sahabat Ali bin Abi Thalib mengklaim bahwa para sahabat telah Ghoshob (merampas) hak kepemimpinan Sayyidina Ali, begitu juga sebaliknya para pendukung keputusan musyawarah luar biasa para sahabat, khususnya yang fanatik (plus munafik),  menuduh para pendukung 'idiologi' ahlul bait adalah sebagai pembohong (kadzdzaab). Padahal kedua terminologi ini bersifat destruktif (menghancurkan) ketsiqahan (kredibilitas) seorang periwayat hadis. Dan karena itu hadis di dunia Islam juga terbelah dua, hadis Syiah dan hadis Sunnah. Yang keduanya itu tidak  'saling menyapa'.
    Kondisi umat Islam menjadi lebih ruyam setelah kemunculan kelompok-kelompok ektrim (Ghulat) yang keras, dan ahistoris yang mengembangkan ideologi 'takfiri' (mengkafirkan kelompok lain  di luar  kelomponya), baik di kalangan Syi'ah maupun Sunnah.
    Beberapa aliran keras dan ektrim dari kalangan Syi'ah, seperti; syiah Qaramithah, Rofidloh dan hasasin, dan beberapa dari kalangan Sunnah seperti Khawarij, salafi dan wahabi. Aura kontradiksi dan permusuhan diantara belahan dunia Islam masih memancar dari jurang pemisah antara Syiah dan Sunnah, di samping jurang - jurang kecil internal keduanya. Aura tersebut muncul tidak lain karena bara api ; asobiah, jahiliah dan hiqdu wal hasad (dengki dan iri hati)
    yang memancar dari dalam hati kaum muslimin yang lemah ilmu dan imannya.

    C. Persoalan Aqidah (Teologi).
    Persoalan teologi yang muncul dan timbul di dalam diskursus dan polemik umat Islam di zaman klasik (zaman tabi'in awal sd dua generasi di belakangnya) adalah puncak persoalan politik, yaitu terjadinya fitnatul kubro (terbunuhnya Amirul mukminin,  Khalifah Utsman bin Affan), juga terjadinya beberapa peperangan diantara sesama muslim. Perang jamal (antara pasukan Ali bin Abi Thalib dengan pasukan Siti Asiah), perang Shiffin (antara pasukan Ali bin Abi Thalib dengan Muawiyah bin Abi Sufyan), Karbala dll. Yang melibatkan dan mengorbankan banyak pasukan muslimin.
    Polemik tentang bagaimana status hukum seorang muslim yang tidak berhukum dengan menggunakan hukum Allah (Al-Qur'an) ?. bagaimana status hukum pembunuh sesama muslim ? Apakah dia masih mukmin, kafir atau fasiq?. Bagaimana status keislaman dan keimanan seseorang yang berdosa besar ? Para ulama' dan zu'ama' dari kalangan umat Islam, baik yang Syi'ah maupun yang Sunnah memberikan argumentasi sesuai dengan keilmuan dan background psikologi, sosial, akademik dan keagamaan masing-masing. Kelompok orang yang tulus, lurus tetapi kurang luas ilmu dan toleransinya, berpendapat bahwa orang-orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah secara tekstual, mereka itu telah kafir dan keluar dari agama Islam, mereka itu adalah kaum khawarij,  atau kebanyakan mantan pasukan elit Ali bin Abi Thalib yang desersi.
    Para ulama' yang tekstual tetapi tidak politis cenderung berpendapat, bahwa orang-orang yang beriman tetapi tidak berpegang pada hukum Allah, tidak bisa di sebut Kafir, mereka mukmin yang fasiq. Mereka berdosa besar. Nasib mereka di akhirat kelak fii masyiatillah (terserah Allah) tidak di surga dan tidak di neraka. Senada dengan itu, orang-orang yang fatalistis (jabariyah), juga muncul, mereka berpendapat, bahwa kondisi apapun di dunia ini adalah berdasarkan kehendak mutlak Allah SWT, termasuk nasib manusia. Manusia hanyalah wayang dan Allah adalah dalangnya. Sebagai mana firman Allah SWT,
    " والله خلقكم وما تعملون".
    Artinya : "Allah lah yang telah menciptakan kalian dan perbuatan kalian". (QS. As. Shofat 96)

    Sedangkan kaum qadariyah yang cenderung rasional justru berpendapat sebaliknya. Bahwa kondisi apapun yang di alami oleh manusia adalah semata-mata karena ulah perbuatan manusia itu sendiri. Manusia, bebas dan mampu membuat nasibnya sendiri. Sebagai mana firman Allah SWT :

    إن الله لا يغير ما بقوم حتى يغيروا ما بأنفسهم...

    Artinya : "Sesungguhnya Allah tidak merubah nasib suatu kaum, sampai mereka mau merubah nasibnya sendiri" (QS. Ar Ra'd 11)

    Mereka adalah kelompok minor elite dalam Islam yang terkenal dengan sebutan kaum muktazilah.
    Persoalan teologi yang terus berkembang sehingga melahirkan banyak aliran pemikiran yang muncul, baik di zaman klasik, seperti jabariyah, qadariyah, murji'ah. Maupun zaman pertengahan, seperti; Muktazilah, Asy'ariah, maturidiah, ahli Sunnah wal jama'ah. Demikian juga di era modern dan kontemporer.

    D.  Persoalan Fiqh (pemahaman syariat Islam).
    Setelah muncul dan berkembangnya persoalan politik dan aqidah dalam realitas kehidupan umat Islam. Adalah munculnya persoalan baru yang terkait dengan fiqh atau pemahaman dalam syari'at Islam. Baik syariat dhohir (hukum Islam), maupun syariat batin (akhlak islami) atau tasawuf.
    Para ulama' fiqh (hukum Islam), baik di kalangan Sunni, maupun Syiah secara garis besar terbelah menjadi tiga kelompok pemahaman, yakni;  para ahlul hadits (tekstualis), ahlur ro'yi (rasionalis), dan ahlus sunnah (tekstualis-rasionalis).
    Demikian juga para ulama' tasawuf (kerohanian dan kebatinan dalam Islam), juga terbedakan dalam tiga karakter, yakni; sunni, falsafi dan baathini.
    Para ulama' yang konsen terhadap ajaran formal dan aturan-aturan hukum Allah, secara garis besar memiliki tiga sikap mental yang berbeda. Ada yang memahami teks aturan agama (syariat) dalam Al Qur'an dan as Sunnah sangat formal dan tektual. Mereka adalah ahlul hadits, sehingga memunculkan madzhab - madzhab salaf yang tampak lebih formal seperti madzhab Maliki.
    Para ulama' yang cenderung rasional, seperti ulama' Kufah dan Basrah memahami agama lebih kontekstual dan esensial. Seperti imam madzhab Abu Hanifah. Demikian juga para ulama' Sunni yang cenderung konvergensif, akomodatif. Mereka melahirkan madzhab fiqih yang modern dan moderat, seperti Imam Syafi'i.
    Sedangkan dalam bidang kerohanian (tasawuf) sebagai bagian dari pemahaman keagamaan. Juga terdapat tiga kelompok pemahaman yang berkembang dalam kehidupan masyarakat Islam.
    Pertama, kelompok yang cenderung mengikuti pola kesufian Rasulullah Saw. Mereka berusaha menjauhi materialisme dan hedonisme tetapi secara aktif mereka mendakwahkan ajaran Islam, khususnya ajaran akhlak dan kerohaniannya. Mereka adalah para sufi Sunni,  yang gerakannya sukses pertama kali (gerakan i'tizal dan Zuhud atas prakarsa Hasan Basri. Yang selanjutnya diperkokoh oleh Abu Qasim Junaidi Al Baghdadi, juga oleh para tokoh Sufi sunni yang lain.
    Kedua, kelompok yang cenderung mengikuti pola kesufian para
    filosof dan ahli hikmah. Mereka lebih cenderung pada aktivitas berfilsaf dan berteori. Hikmah -hikmah kerohaniannya memenuhi glosarium dunia Islam. Mereka adalah para sufi falsafi, dengan tokoh legendarisnya yang bernama Ibnu Arobi.
    Sedangkan yang ke tiga, adalah para sufi baathini.  Mereka, para sufi baathini adalah orang-orang yang keasikan kebatinannya melampaui batas-batas etika dan estetika apapun, termasuk di dalamnya batasan syariat Islam. Kebatinan transkultural ini yang selanjutnya disebut sebagai aliran tasawuf mabuk dan dianggap sesat oleh para aktivis syariat Islam.

    E. Persoalan Hegemoni Barat.
    Penyebab dan akar Sejarah timbulnya berbagai aliran keagamaan dan politik dan sosial dalam Islam, adalah adanya dominasi dan hegemoni barat atas wilayah sosial politik umat Islam.
    Setelah sekitar dua abad bangsa barat menjajah umat Islam, umat Islam mulai bangkit dan tersadarkan akan pentingnya kebangkitan umat Islam. Mulai dari Turki dan Mesir yang berhubungan dan berhadapan langsung dengan bangsa barat. Turki berhadapan dengan Italia dan Mesir berhubungan dengan Prancis (Ekspedisi Napoleon Bonaparte). Para ulama'  terbelalak melihat peradaban yang jauh lebih tinggi daripada peradaban umat. Padahal mereka sangat yakin pada Sabda nabi "Al Islam ya'lu wala Yu'laa 'alaih" (Islam adalah adalah peradaban tertinggi, tidak ada yang mengunggulinya).
    Tatkala umat Islam masih tertidur lelap di dalam selimut penjajahan barat,   khususnya;  Portugis, Inggris, Spanyol, dan Belanda. Para ulama' Islam Mesir khususnya Sayyid Jamaluddin Al Afghani, Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha, berjuang keras, menggelorakan kebangkitan umat Islam. Demikian juga para Sultan dan Khalifah Dinasti Usmaniyah di Turki, menggelorakan semangat kebangkitan melawan kolonialisme barat.  Maka terjadilah kebangkitan umat Islam di hampir seluruh penjuru dunia, atas prakarsa para sultan dan ulma' pemimpin umat.
    Termasuk kesultanan-kesultanan di wilayah Nusantara (kawasan Asia tenggara).
    Mulai kesultanan Aceh (samudra pasai) sampai dengan kesultanan Ternate dan Tidore. Kesultanan di Pulau Jawa sampai di kepulauan Sulu dan Mindanao. Semuanya bangkit melawan hegemoni dan penjajahan bangsa barat (Belanda, Inggris, Portugis dan Spanyol). Maka akhirnya muncul organisasi dan Jam'iyyah pergerakan dengan berbagai macam warna warni keislamannya.
    Dalam skala internasional, muncul Pan Islam, Ikhwanul muslimin, Wahabi dll. Sedangkan di Indonesia, muncul Serikat Dagang Islam, Budi Utomo, Al Khoiriyah, Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama' dll. Semua organisasi dan Jam'iyyah pergerakan tersebut tujuan utamanya adalah merebut kembali kemerdekaan dari tangan kolonialisme bangsa barat.
    Wallahu a'lam bis showab

    Mengenal Tabiat dan Karakter Diri sendiri
    Oleh:Kharisuddin Aqib

    A. Pengantar
    Ada hikmah yang sangat bagus mengatakan "man 'arofa nafsahu faqad 'arofa robbahu' artinya siapa yang mengenal dirinya sendiri, maka dia pasti bisa mengenal Tuhannya.
    Maksudnya, bagaimana bisa mengenali Tuhannya jika mengenali dirinya sendiri saja tidak bisa.
    Manusia adalah makhluk ruhaniah yang berjisim (berbadan kasar), hakekat dirinya adalah Ruhaninya. Ruhani manusia bersifat suci malaikati, karena berintegrasi (menyatu dengan badan yang material), daya hidup dan kesadarannya (jiwanya) terwarnai oleh sifat material tumbuhan dan binatang. Maka tabiat manusia dan karakternya terwarnai oleh dua karakter primitif yang rendah tersebut, sehingga manusia memiliki tabiat dasar dan karakteristik yang integratif antara daya Ruhani yang suci dan daya materi yang hayawani nan keji.

    Ada 4 dasar tabiat manusia, yakni; kebinatang jinakan, kebinatang buasan, keiblisan dan kemalaikatan. Dari keempat tabiat tersebut, terpancar 7 karakter khas manusia.
    1. Karakter jiwa perusak (amarah).
    2. Karakter jiwa pencela (lawwamah)
    3. Karakter jiwa plin-plan (mulhimah).
    4. Karakter jiwa stabil dan tenang  (Mutmainnah)
    5. Karakter jiwa bahagia dan bangga  (rodliyah).
    6. Karakter jiwa disukai dan dibanggakan (mardliyah).
    7. Karakter jiwa sempurna (Kamilah).
    In syaa'a Allah kajian berikut akan membahas 4 tabiat dasar manusia dan 7 karakternya sebagai sarana introspeksi diri agar hidup menjadi lebih baik dan bernilai.

    B. Tabiat Dasar Manusia.
    Tabiat adalah sifat dasar manusia yang merupakan faktor genetik (bawaan sejak lahir dari faktor keturunan) manusia sebagai seorang individu. Berbeda dengan insting atau ghorizah yang merupakan faktor genetik manusia sebagai spesies (atau rumpun makhluk hidup manusia). Berbeda juga dengan akhlak atau karakter yang merupakan sifat khas manusia yang terbentuk karena faktor genetik (keturu nan) dan eugenetik (lingkungan), sekaligus.
    Tabiat dasar manusia dalam diri setiap manusia ada 4 macam. Kebinatang jinakan (bahimiah), kebinatang buasan (sabuiah), kesetanan (syaitoniyah), dan kemalaikatan (malaikatiyah). Dominasi salah satu dari empat tabiat inilah wujud maknawiy, aura dan perangai orang tersebut.
    1. Tabiat kebinatang jinakan.
    Manusia dengan jenis tabiat ini bahagianya terletak pada makan-minum, tidur dan sek. Bahkan orientasi dan semangat hidupnya adalah untuk mencapai kenikmatan biologis ini. Dan inilah kwalifikasi kebanyakan manusia, sehingga terisyaratkan dalam wujud surat terpanjang, yakni Al Baqarah.
    2. Tabiat kebinatang buasan.
    Jenis tabiat ini menjadikan manusia berorientasi pada melakukan hal-hal yang destruktif (merusak, dan menyakiti orang lain), tidak merasa enak dengan adanya ketentraman dan ketertiban. Manusia dengan kwalifikasi tabiat ini tidak banyak, tetapi selalu ada diantara masyarakat yang ada. Wujud maknawiy manusia jenis tabiat ini adalah jenis binatang buas, seperti; burung predator, ular, kalajengking, dan buaya, dan akan terbaca perangai dan sikap mentalnya.
    3. Tabiat Keiblisan
    Ini adalah tabiat yang juga ada dalam diri manusia, bahkan juga ada manusia yang didominasi oleh tabiat keiblisan ini. Dengan ciri-ciri dan karakteristik, antara lain; suka takabbur, hasud, licik dan picik.
    Tabiat ini merupakan manipulasi tabiat kebinatangannya tetapi berusaha ditampilkan dalam penampilan kemalaikatan. Wujud maknawiy manusia dengan tabiat ini, adalah rupa buruk dan aura yang mengerikan.
    4. Tabiat kemalaikatan.
    Tabiat jenis ini juga ada pada setiap manusia, karena ini adalah bawaan dari unsur ruhaniah manusia yang suci. Tetapi tabiat sangat langka menjadi tabiat yang dominan dalam diri seseorang. Orang yang bertabiat dominan malaikatiyah akan memiliki kecenderungan yang kuat untuk berprilaku seperti malaikat. Ta'at dan selalu mendekatkan diri kepada Allah, serta selalu menjauh dari kemaksiatan dan murka Allah.
    Dari keempat tabiat tersebut, (bahimiah, sabuiah, iblisiah dan malaikatiyah), mana yang paling dekat dengan kita ? Mari kita rasakan dan kita introspeksi diri...
    Tabiat sesungguhnya bisa dirubah, sekalipun dengan sangat berat. Karena itu adalah bagian diri sifat bawaan kita. Untuk merubah tabiat, manusia harus mengalami metamorfosis spiritual, yang dalam bahasa syariat disebut dengan 'lailayul qadar'. Dalam sebuah proses pendidikan spiritual intensif puasa Ramadhan, atau program intensif dalam tarekat yang dikenal dengan istilah SULUK. Dengan puasa Ramadhan yang baik dan benar atau Suluk yang baik dan benar seorang manusia akan 'terlahir kembali' atau mengalami metamorfosis spiritual, sehingga bertabiat malaikatiyah. Badan jasmani manusia, tetapi wujud maknawiy jiwanya adalah malaikat. Itulah profil figur MUTTAQIN. Manusia yang Ahsani taqwim'.

    C. Macam macam Karakter Manusia.
    Ada 7 karakter (akhlak) manusia berdasarkan kenyataan (eksisting) jiwanya. Karakter atau akhlak ini merupakan sifat riil pada saat diberikan penilaian atau penyebutan. Ia merupakan produk terbaru dari interaksi dan integrasi antara tabi'at seseorang dengan lingkungannya. Baik lingkungan keluarga, pendidikan maupun pergaulannya. Ke tujuh karakter itu adalah; Fajir, Fasiq, Munafik, Mukmin, Muslim, Muhsin, MUTTAQIN.
    1. Karakter Fajir.
    Karakter Fajir (Penjahat) ini terbentuk dari jiwa yang suka memerintah pada keburukan (nafsu amarah). Adapun ciri khas manusia dengan karakter ini adalah; emosional, sombong, kikir, bodoh, ambisius, hasud, dan hidonistik (mau enaknya saja). Masalahnya adalah yang bersangkutan biasanya tidak merasa. Dan yang merasa justru orang lain yang di sekitarnya
    Mari kita introspeksi, semoga sifat-sifat tersebut tidak ada pada diri kita.
    2. Karakter Fasiq.
    Karakter Fasiq (pendosa) ini adalah karakter kritis terhadap orang lain.
    Bahkan terkadang juga kepada diri sendiri. Karakter ini terbentuk dan muncul dari dalam jiwa pencela (nafsu lawwamah). Ciri-ciri karakter ini adalah; suka mencela,  menuruti hawa nafsu, suka menipu, ujub, riya' , dlolim, lupa, dan suka menggunjing. Karakter jenis ini banyak terdapat di kalangan masyarakat pada umumnya.
    3. Karakter Munafik.
    Ini adalah karakter tingkat ketiga. Kelihatannya orang yang berkarakter ini sudah sangat baik, karena dia adalah seorang yang dermawan, tidak rakus, bijaksana, rendah hati, taubat, sabar dan menerima Ilham. Tetapi pribadi sebenarnya adalah Plin-plan, dia akan berubah-ubah sesuai dengan Ilham yang masuk, apa Ilham taqwa atau Ilham fujur (jahat), keimanan dan keyakinan tidak terikat kuat di dalam hatinya, bahkan mungkin sebenarnya tidak ada iman di dalam hatinya. Karakter Munafik ini muncul dari jiwa terilhami (nafsu mulhimah), baik Ilham taqwa maupun Ilham fujur silih berganti masuk di dalam jiwa ini. Kondisi jiwa sangat sensitif terhadap Ilham atau intuisi, tetapi los tanpa ada pengait diantara keduanya.
    4. Karakter Mukmin
    Karakter ini muncul dari jiwa yang telah stabil dalam kebaikan (nafsul Muthmainnah)
    Diantara tanda-tanda karakter Mukmin ini adalah; ridlo kepada Allah, banyak bersyukur, suka beribadah, tidak kikir, takut maksiat dan bertawakal kepada Allah.
    5. Karakter Muslim
    Ini adalah karakter yang menjadi cerminan seorang yang benar-benar mencapai hakikat Islam. Dia muncul dari jiwa yang telah diridlo oleh Allah SWT (nafsu mardliyah). Di antara ciri khas dari orang yang telah berkarakter muslim ini adalah; sayang pada semua makhluk, pema'af, mengajak pada kebaikan, lemah lembut, baik budi dan ikhlas. Tidak semua orang Islam memiliki karakter ini, bahkan mungkin sangat sedikit prosentasenya orang Islam yang telah mencapai tingkat karakter muslim ini.
    6. Karakter Muhsin.
    Karakter ini muncul dari jiwa yang tersucikan dalam diri manusia, yaitu jiwa sempurna (nafsu Kamilah). Sempurna dalam pengertian keyakinan kepada Allah, baik secara empiris ('ainul Yaqin), teoritis (ilmul Yaqin), dogmatis (haqqul Yaqin). Dalam realitas, manusia dengan karakter ini belum bisa disebut sebagai insan kamil, tetapi lebih baik jika disebut sebagai manusia yang dijaga kesuciannya oleh Allah SWT (Mahfud atau Maksum).
    7. Karakter MUTTAQIN.
    Inilah karakter manusia sempurna dalam skala realitas.
    Dia adalah manusia yang berkarakter malaikatiyah. Dia adalah manusia dengan keseimbangan yang sempurna, baik aspek dhohir maupun batinnya, sosial dan spiritual, ilmu, penghayatan maupun pengalamannya. Karakter ini muncul dari jiwa yang telah senang dan bahagia dengan ketentuan Allah SWT (nafsu rodliyah). Di antara tanda-tanda dari karakter ini adalah; dermawan, Zuhud, ikhlas, waro' , riyadhoh, dan wafa'.
    Keempat karakter terakhir ini adalah karakter-karakter positif, yang bisa dicapai oleh orang yang menginginkan kenaikan status keruhaniannya dengan perjuangan spiritual (mujahadah), yang serius dan terus menerus, dalam sebuah proses pendidikan yang utuh dan unggul (tarbiyah taammah).
    Melalui pengajaran (ta'lim), pembiasaan (ta'dib) dan  bimbingan spiritual (Irsyad). Semoga kita semua sukses mencapai Maqom Walhamdu lillaahi robbil 'aalamiin.
    MUTTAQIN.
    Wallahu a'lam bis showab.

    Kelutan, 6 Maret 2019
    TTD
    Kharisuddin Aqib

    Mengenal Tabiat dan Karakter Diri sendiri

    Posted at  07.00  |  in  tabiat manusia  |  Read More»

    Mengenal Tabiat dan Karakter Diri sendiri
    Oleh:Kharisuddin Aqib

    A. Pengantar
    Ada hikmah yang sangat bagus mengatakan "man 'arofa nafsahu faqad 'arofa robbahu' artinya siapa yang mengenal dirinya sendiri, maka dia pasti bisa mengenal Tuhannya.
    Maksudnya, bagaimana bisa mengenali Tuhannya jika mengenali dirinya sendiri saja tidak bisa.
    Manusia adalah makhluk ruhaniah yang berjisim (berbadan kasar), hakekat dirinya adalah Ruhaninya. Ruhani manusia bersifat suci malaikati, karena berintegrasi (menyatu dengan badan yang material), daya hidup dan kesadarannya (jiwanya) terwarnai oleh sifat material tumbuhan dan binatang. Maka tabiat manusia dan karakternya terwarnai oleh dua karakter primitif yang rendah tersebut, sehingga manusia memiliki tabiat dasar dan karakteristik yang integratif antara daya Ruhani yang suci dan daya materi yang hayawani nan keji.

    Ada 4 dasar tabiat manusia, yakni; kebinatang jinakan, kebinatang buasan, keiblisan dan kemalaikatan. Dari keempat tabiat tersebut, terpancar 7 karakter khas manusia.
    1. Karakter jiwa perusak (amarah).
    2. Karakter jiwa pencela (lawwamah)
    3. Karakter jiwa plin-plan (mulhimah).
    4. Karakter jiwa stabil dan tenang  (Mutmainnah)
    5. Karakter jiwa bahagia dan bangga  (rodliyah).
    6. Karakter jiwa disukai dan dibanggakan (mardliyah).
    7. Karakter jiwa sempurna (Kamilah).
    In syaa'a Allah kajian berikut akan membahas 4 tabiat dasar manusia dan 7 karakternya sebagai sarana introspeksi diri agar hidup menjadi lebih baik dan bernilai.

    B. Tabiat Dasar Manusia.
    Tabiat adalah sifat dasar manusia yang merupakan faktor genetik (bawaan sejak lahir dari faktor keturunan) manusia sebagai seorang individu. Berbeda dengan insting atau ghorizah yang merupakan faktor genetik manusia sebagai spesies (atau rumpun makhluk hidup manusia). Berbeda juga dengan akhlak atau karakter yang merupakan sifat khas manusia yang terbentuk karena faktor genetik (keturu nan) dan eugenetik (lingkungan), sekaligus.
    Tabiat dasar manusia dalam diri setiap manusia ada 4 macam. Kebinatang jinakan (bahimiah), kebinatang buasan (sabuiah), kesetanan (syaitoniyah), dan kemalaikatan (malaikatiyah). Dominasi salah satu dari empat tabiat inilah wujud maknawiy, aura dan perangai orang tersebut.
    1. Tabiat kebinatang jinakan.
    Manusia dengan jenis tabiat ini bahagianya terletak pada makan-minum, tidur dan sek. Bahkan orientasi dan semangat hidupnya adalah untuk mencapai kenikmatan biologis ini. Dan inilah kwalifikasi kebanyakan manusia, sehingga terisyaratkan dalam wujud surat terpanjang, yakni Al Baqarah.
    2. Tabiat kebinatang buasan.
    Jenis tabiat ini menjadikan manusia berorientasi pada melakukan hal-hal yang destruktif (merusak, dan menyakiti orang lain), tidak merasa enak dengan adanya ketentraman dan ketertiban. Manusia dengan kwalifikasi tabiat ini tidak banyak, tetapi selalu ada diantara masyarakat yang ada. Wujud maknawiy manusia jenis tabiat ini adalah jenis binatang buas, seperti; burung predator, ular, kalajengking, dan buaya, dan akan terbaca perangai dan sikap mentalnya.
    3. Tabiat Keiblisan
    Ini adalah tabiat yang juga ada dalam diri manusia, bahkan juga ada manusia yang didominasi oleh tabiat keiblisan ini. Dengan ciri-ciri dan karakteristik, antara lain; suka takabbur, hasud, licik dan picik.
    Tabiat ini merupakan manipulasi tabiat kebinatangannya tetapi berusaha ditampilkan dalam penampilan kemalaikatan. Wujud maknawiy manusia dengan tabiat ini, adalah rupa buruk dan aura yang mengerikan.
    4. Tabiat kemalaikatan.
    Tabiat jenis ini juga ada pada setiap manusia, karena ini adalah bawaan dari unsur ruhaniah manusia yang suci. Tetapi tabiat sangat langka menjadi tabiat yang dominan dalam diri seseorang. Orang yang bertabiat dominan malaikatiyah akan memiliki kecenderungan yang kuat untuk berprilaku seperti malaikat. Ta'at dan selalu mendekatkan diri kepada Allah, serta selalu menjauh dari kemaksiatan dan murka Allah.
    Dari keempat tabiat tersebut, (bahimiah, sabuiah, iblisiah dan malaikatiyah), mana yang paling dekat dengan kita ? Mari kita rasakan dan kita introspeksi diri...
    Tabiat sesungguhnya bisa dirubah, sekalipun dengan sangat berat. Karena itu adalah bagian diri sifat bawaan kita. Untuk merubah tabiat, manusia harus mengalami metamorfosis spiritual, yang dalam bahasa syariat disebut dengan 'lailayul qadar'. Dalam sebuah proses pendidikan spiritual intensif puasa Ramadhan, atau program intensif dalam tarekat yang dikenal dengan istilah SULUK. Dengan puasa Ramadhan yang baik dan benar atau Suluk yang baik dan benar seorang manusia akan 'terlahir kembali' atau mengalami metamorfosis spiritual, sehingga bertabiat malaikatiyah. Badan jasmani manusia, tetapi wujud maknawiy jiwanya adalah malaikat. Itulah profil figur MUTTAQIN. Manusia yang Ahsani taqwim'.

    C. Macam macam Karakter Manusia.
    Ada 7 karakter (akhlak) manusia berdasarkan kenyataan (eksisting) jiwanya. Karakter atau akhlak ini merupakan sifat riil pada saat diberikan penilaian atau penyebutan. Ia merupakan produk terbaru dari interaksi dan integrasi antara tabi'at seseorang dengan lingkungannya. Baik lingkungan keluarga, pendidikan maupun pergaulannya. Ke tujuh karakter itu adalah; Fajir, Fasiq, Munafik, Mukmin, Muslim, Muhsin, MUTTAQIN.
    1. Karakter Fajir.
    Karakter Fajir (Penjahat) ini terbentuk dari jiwa yang suka memerintah pada keburukan (nafsu amarah). Adapun ciri khas manusia dengan karakter ini adalah; emosional, sombong, kikir, bodoh, ambisius, hasud, dan hidonistik (mau enaknya saja). Masalahnya adalah yang bersangkutan biasanya tidak merasa. Dan yang merasa justru orang lain yang di sekitarnya
    Mari kita introspeksi, semoga sifat-sifat tersebut tidak ada pada diri kita.
    2. Karakter Fasiq.
    Karakter Fasiq (pendosa) ini adalah karakter kritis terhadap orang lain.
    Bahkan terkadang juga kepada diri sendiri. Karakter ini terbentuk dan muncul dari dalam jiwa pencela (nafsu lawwamah). Ciri-ciri karakter ini adalah; suka mencela,  menuruti hawa nafsu, suka menipu, ujub, riya' , dlolim, lupa, dan suka menggunjing. Karakter jenis ini banyak terdapat di kalangan masyarakat pada umumnya.
    3. Karakter Munafik.
    Ini adalah karakter tingkat ketiga. Kelihatannya orang yang berkarakter ini sudah sangat baik, karena dia adalah seorang yang dermawan, tidak rakus, bijaksana, rendah hati, taubat, sabar dan menerima Ilham. Tetapi pribadi sebenarnya adalah Plin-plan, dia akan berubah-ubah sesuai dengan Ilham yang masuk, apa Ilham taqwa atau Ilham fujur (jahat), keimanan dan keyakinan tidak terikat kuat di dalam hatinya, bahkan mungkin sebenarnya tidak ada iman di dalam hatinya. Karakter Munafik ini muncul dari jiwa terilhami (nafsu mulhimah), baik Ilham taqwa maupun Ilham fujur silih berganti masuk di dalam jiwa ini. Kondisi jiwa sangat sensitif terhadap Ilham atau intuisi, tetapi los tanpa ada pengait diantara keduanya.
    4. Karakter Mukmin
    Karakter ini muncul dari jiwa yang telah stabil dalam kebaikan (nafsul Muthmainnah)
    Diantara tanda-tanda karakter Mukmin ini adalah; ridlo kepada Allah, banyak bersyukur, suka beribadah, tidak kikir, takut maksiat dan bertawakal kepada Allah.
    5. Karakter Muslim
    Ini adalah karakter yang menjadi cerminan seorang yang benar-benar mencapai hakikat Islam. Dia muncul dari jiwa yang telah diridlo oleh Allah SWT (nafsu mardliyah). Di antara ciri khas dari orang yang telah berkarakter muslim ini adalah; sayang pada semua makhluk, pema'af, mengajak pada kebaikan, lemah lembut, baik budi dan ikhlas. Tidak semua orang Islam memiliki karakter ini, bahkan mungkin sangat sedikit prosentasenya orang Islam yang telah mencapai tingkat karakter muslim ini.
    6. Karakter Muhsin.
    Karakter ini muncul dari jiwa yang tersucikan dalam diri manusia, yaitu jiwa sempurna (nafsu Kamilah). Sempurna dalam pengertian keyakinan kepada Allah, baik secara empiris ('ainul Yaqin), teoritis (ilmul Yaqin), dogmatis (haqqul Yaqin). Dalam realitas, manusia dengan karakter ini belum bisa disebut sebagai insan kamil, tetapi lebih baik jika disebut sebagai manusia yang dijaga kesuciannya oleh Allah SWT (Mahfud atau Maksum).
    7. Karakter MUTTAQIN.
    Inilah karakter manusia sempurna dalam skala realitas.
    Dia adalah manusia yang berkarakter malaikatiyah. Dia adalah manusia dengan keseimbangan yang sempurna, baik aspek dhohir maupun batinnya, sosial dan spiritual, ilmu, penghayatan maupun pengalamannya. Karakter ini muncul dari jiwa yang telah senang dan bahagia dengan ketentuan Allah SWT (nafsu rodliyah). Di antara tanda-tanda dari karakter ini adalah; dermawan, Zuhud, ikhlas, waro' , riyadhoh, dan wafa'.
    Keempat karakter terakhir ini adalah karakter-karakter positif, yang bisa dicapai oleh orang yang menginginkan kenaikan status keruhaniannya dengan perjuangan spiritual (mujahadah), yang serius dan terus menerus, dalam sebuah proses pendidikan yang utuh dan unggul (tarbiyah taammah).
    Melalui pengajaran (ta'lim), pembiasaan (ta'dib) dan  bimbingan spiritual (Irsyad). Semoga kita semua sukses mencapai Maqom Walhamdu lillaahi robbil 'aalamiin.
    MUTTAQIN.
    Wallahu a'lam bis showab.

    Kelutan, 6 Maret 2019
    TTD
    Kharisuddin Aqib

    Mengenal Mapping Umat Islam Versi  Orientalis

    Oleh: Kharisuddin Aqib



    Pemetaan umat Islam oleh orang-orang barat pengkaji bangsa dan peradaban timur, dalam beberapa segi pendekatan, yakni; psikologi, sosiologi dan historiografi.
    1. Psikologi:
    Pluralis, Puritanis, dan moderatis.
    a. Pluralis adalah orang-orang yang mengakui bahwa kebenaran tidak hanya satu, bahkan bisa semua benar.
    Pluralis ada tiga macam: apatis, naturalis, dan transendental.
    1. Pluralis apatis adalah orang-orang yang kurang berilmu dan frustasi.
    2. Pluralis naturalis adalah kaum ilmuwan dan filosof umum (dahriyun).
    3. Pluralis transendental adalah dari kalangan  ilmuwan yang ruhaniawan (Ulul Albab/cendikiawan), ahli fikir, ahli dzikir dan istiqamah dalam amal shaleh.
    Kelompok yang ke tiga inilah 'ulama' yang Rosyidun.
    b. Puritanis.
    Adalah kaum muslimin sangat konsisten pada gerakan pemurnian ajaran Islam, atau kembali pada syariat Islam.
    Puritanis ada tiga macam, yakni: Fanatik, obyektif dan sufistik.
    1. Puritanis Fanatik.
    Mereka adalah kaum puritan taqlid buta kepada firqah atau jama'ah nya. Kebanyakan mereka adalah kaum awam dari firqah (aliran pemikiran aqidah atau teologi) salafi, Wahabi dan Ikhwanul muslimin.
    2. Puritanis Rasionalis
    Mereka adalah kaum puritan yang lebih rasional akademik. Kebanyakan mereka adalah para akademisi yang "mendapatkan hidayah" kemurnian dalam Islam, khususnya dalam masalah aqidah. Mereka biasanya disebut salafi manhaji.
    3. Puritanis Sufistik
    Mereka adalah kaum pemurni yang berasal dari kalangan ahli tasawuf. Mereka juga bisa dikatakan sebagai Sufi sunni. Mereka adalah orang-orang yang mendapatkan rahmat  keluasan ajaran Islam, sekaligus terbimbing di dalam syariat Islam yang benar dan diridhoi Allah SWT.
    c. Moderatis
    Moderatis atau kelompok moderat  adalah mereka yang sikap mentalnya  akomodatif terhadap keyakinan ahli hadis (tektualis) dan keyakinan ahli ro'yu (rasionalis) dalam aliran pemikiran Islam. Tidak ekstrim dalam berislam, khususnya dalam menghadapi peradaban barat. Mereka adalah kaum Sunni, atau firqah ahlussunah wal jama'ah.
    2. Pendekatan Sosiologis.
    Dalam prespektif mapping orientalis umat Islam secara sosiologis, umat Islam ada tiga kelompok; Kelompok keagamaan, Kelompok politik, Kelompok budaya.
    a. Kelompok keagamaan, meliputi; Liberalis, modernis, tradisionalis. fondamentalis.
    1. Kaum liberalis adalah kaum yang berfikir liberal (bebas), melepaskan diri dari sekat-sekat faham keagamaan yang telah ada, secara pribadi. Atau orang-orang yang berpandangan pluralis (bahwa kebenaran tidak hanya satu), kebenaran yang satu dan mutlak hanya milik Allah.
    Sedangkan kebenaran yang diperoleh oleh manusia, semua nisbi.
    2. Kaum modernis.
    Adalah kelompok umat Islam sangat akomodatif (sangat menerima) terhadap kemodernan produk budaya barat. Mereka adalah kaum priyayi dari umat Islam berbudaya kota.
    3. Tradisionalis
    Adalah kelompok umat Islam yang secara sosiologis akomodatif terhadap budaya lokal, sebagai bagian dari warna keagamaannya. Mereka kebanyakan adalah kelompok ahli Sunnah wal jama'ah yang berbasis pesantren atau pedesaan.
    4. Fondamentalis
    Mereka adalah kaum muslimin yang sangat kuat mempertahankan keyakinan keagamaannya dan bersikap sangat keras terhadap hegemoni tradisi dan budaya luar, baik dari barat maupun dari timur.
    b. Kelompok Politik
    Umat Islam dalam peta politik barat di buat dalam tiga kategori; westernis, nasionalis, islamis.
    1. Westernis
    Adalah kelompok umat Islam yang dalam sikap politiknya  sangat barat oriented. Mereka mendukung model pemerintahan barat yang skularistik (memisahkan antara agama dengan politik praktis) mereka kebanyakan adalah umat Islam alumni pendidikan barat.
    2. Kategori Nasionalis
    Kelompok ini, adalah mereka yang semangat nasionalisme (kebangsaannya), melebihi semangat keislaman dan kebarat-baratan dalam berpolitik. Kaum nasionalis berusaha mengkompromikan antara nilai keislaman, budaya barat dengan potensi dasar dan karakteristik bangsa. Mereka kebanyakan kaum tradisionalis yang terpelajar. Baik pendidikan ala barat, maupun ala pesantren

    3. Kategori Islamis.
    Mereka yang dicap oleh orientalis sebagai kelompok politik Islamis adalah, orang-orang yang spirit dalam mengatur politiknya kembali kepada  sejarah politik Islam masa lalu (klasik). Perundang-undangan negara harus merujuk pada hukum Islam formal. Bahkan bentuk negara harus negara agama (dengan pemerintahan teokrasi). Baik bersifat nasional (presiden) maupun trans nasional (raja maupun Khalifah).
    Kelompok ini adalah adalah para pendukung ideologi Ikhwanul muslimin, Hizbut Tahrir dan Kaum salafi Wahabi.
    4. Kategori Militanis
    Militanis atau kaum militan Islam, pada dasarnya adalah kelompok Islam sangat fanatik dan responsif dalam melawan barat. Tetapi di dalamnya ada dua kategori; radikal dan tidak radikal. Militanis radikal melawan hegemoni barat secara politik maupun fisik. Sedangkan yang tidak radikal tidak melawan secara fisik.

    5. Kategori Radikal
    Umat Islam yang dicap sebagai radikalis oleh barat, adalah setiap orang Islam yang terang-terangan melawan hegemoni barat, baik secara fisik, politik dan budaya. Mereka adalah kaum Mujahidin fi Sabilillah di skala politik global. Peperangan Barat -Timur, baik perang dingin maupun perang panas.

    6. Kategori Teroris
    Teroris adalah kategori yang diberikan oleh barat terhadap umat Islam yang militan lagi radikal, tetapi radikalnya tidak dilakukan secara terbuka, mereka melakukan perang gerilya dengan hegemoni barat.
    Secara gradual ketiga kategori muslim ini musuh barat yang sesungguhnya, yakni; Militanis, Radikalis dan Teroris. Mereka inilah kaum muslimin politis formalisme.
    Kondisi mereka sangat memprihatinkan, karena kehebatan barat  dalam membuat kesan dan opini buruk terhadap mereka. Sampai-sampai kebanyakan kaum yang lain, juga  turut memusuhi mereka. Karena barat memiliki teknologi informasi yang canggih. Khususnya di era cyberwarrior  sekarang ini.
    C. Pendekatan Historis
    Dalam pendekatan sejarah, Orang-orang barat memetakan kaum muslimin menjadi dua kategori, yaitu kaum ortodoks dan kaum modernis.
    1. Kaum ortodoks
    Adalah kaum muslimin yang secara historis memegangi dengan fanatik  peradaban masa lalu (klasik) Islam. Dan menolak hegemoni peradaban barat.
    2. Kaum Modernis.
    Adalah kelompok umat Islam yang dalam prespektif barat sangat apresiatif (menerima dengan bangga). Mengikuti dan mengkiblat barat, sebagai sumber sejarah peradaban baru, dan penulisan sejarah baru. Termasuk dalam hal ini adalah teknologi dan kebudayaan.
    Pemetaan sosio, politik dan kultural umat Islam oleh para orientalis (orang-orang barat pengkaji peradaban timur), adalah karena masyarakat timur, khususnya umat Islam adalah obyek kajian sekaligus konsumen produk peradaban mereka.
    Sehingga 'kolonialisme' barat atas bangsa-bangsa timur akan tetap lestari.
    Produk barat yang berupa modernitas, baik teknologi maupun peradaban terus digencarkan, sementara umat Islam dibuat sibuk dengan berbagai issu yang bisa membuat umat berperang sesama muslim sendiri. Dengan teknologi informasi dan dunia Maya sebagai medan laganya.Yang dikenal sebagai cyberwar (perang di dunia Maya). Dengan target memecah belah dan menguasai (Devide at Ampera), sebagai mana VOC menguasai Indonesia.
    Wallahu a'lam bis showab

    Mengenal Mapping Umat Islam Versi Orientalis.

    Posted at  10.02  |  in  pesantren terpadu  |  Read More»

    Mengenal Mapping Umat Islam Versi  Orientalis

    Oleh: Kharisuddin Aqib



    Pemetaan umat Islam oleh orang-orang barat pengkaji bangsa dan peradaban timur, dalam beberapa segi pendekatan, yakni; psikologi, sosiologi dan historiografi.
    1. Psikologi:
    Pluralis, Puritanis, dan moderatis.
    a. Pluralis adalah orang-orang yang mengakui bahwa kebenaran tidak hanya satu, bahkan bisa semua benar.
    Pluralis ada tiga macam: apatis, naturalis, dan transendental.
    1. Pluralis apatis adalah orang-orang yang kurang berilmu dan frustasi.
    2. Pluralis naturalis adalah kaum ilmuwan dan filosof umum (dahriyun).
    3. Pluralis transendental adalah dari kalangan  ilmuwan yang ruhaniawan (Ulul Albab/cendikiawan), ahli fikir, ahli dzikir dan istiqamah dalam amal shaleh.
    Kelompok yang ke tiga inilah 'ulama' yang Rosyidun.
    b. Puritanis.
    Adalah kaum muslimin sangat konsisten pada gerakan pemurnian ajaran Islam, atau kembali pada syariat Islam.
    Puritanis ada tiga macam, yakni: Fanatik, obyektif dan sufistik.
    1. Puritanis Fanatik.
    Mereka adalah kaum puritan taqlid buta kepada firqah atau jama'ah nya. Kebanyakan mereka adalah kaum awam dari firqah (aliran pemikiran aqidah atau teologi) salafi, Wahabi dan Ikhwanul muslimin.
    2. Puritanis Rasionalis
    Mereka adalah kaum puritan yang lebih rasional akademik. Kebanyakan mereka adalah para akademisi yang "mendapatkan hidayah" kemurnian dalam Islam, khususnya dalam masalah aqidah. Mereka biasanya disebut salafi manhaji.
    3. Puritanis Sufistik
    Mereka adalah kaum pemurni yang berasal dari kalangan ahli tasawuf. Mereka juga bisa dikatakan sebagai Sufi sunni. Mereka adalah orang-orang yang mendapatkan rahmat  keluasan ajaran Islam, sekaligus terbimbing di dalam syariat Islam yang benar dan diridhoi Allah SWT.
    c. Moderatis
    Moderatis atau kelompok moderat  adalah mereka yang sikap mentalnya  akomodatif terhadap keyakinan ahli hadis (tektualis) dan keyakinan ahli ro'yu (rasionalis) dalam aliran pemikiran Islam. Tidak ekstrim dalam berislam, khususnya dalam menghadapi peradaban barat. Mereka adalah kaum Sunni, atau firqah ahlussunah wal jama'ah.
    2. Pendekatan Sosiologis.
    Dalam prespektif mapping orientalis umat Islam secara sosiologis, umat Islam ada tiga kelompok; Kelompok keagamaan, Kelompok politik, Kelompok budaya.
    a. Kelompok keagamaan, meliputi; Liberalis, modernis, tradisionalis. fondamentalis.
    1. Kaum liberalis adalah kaum yang berfikir liberal (bebas), melepaskan diri dari sekat-sekat faham keagamaan yang telah ada, secara pribadi. Atau orang-orang yang berpandangan pluralis (bahwa kebenaran tidak hanya satu), kebenaran yang satu dan mutlak hanya milik Allah.
    Sedangkan kebenaran yang diperoleh oleh manusia, semua nisbi.
    2. Kaum modernis.
    Adalah kelompok umat Islam sangat akomodatif (sangat menerima) terhadap kemodernan produk budaya barat. Mereka adalah kaum priyayi dari umat Islam berbudaya kota.
    3. Tradisionalis
    Adalah kelompok umat Islam yang secara sosiologis akomodatif terhadap budaya lokal, sebagai bagian dari warna keagamaannya. Mereka kebanyakan adalah kelompok ahli Sunnah wal jama'ah yang berbasis pesantren atau pedesaan.
    4. Fondamentalis
    Mereka adalah kaum muslimin yang sangat kuat mempertahankan keyakinan keagamaannya dan bersikap sangat keras terhadap hegemoni tradisi dan budaya luar, baik dari barat maupun dari timur.
    b. Kelompok Politik
    Umat Islam dalam peta politik barat di buat dalam tiga kategori; westernis, nasionalis, islamis.
    1. Westernis
    Adalah kelompok umat Islam yang dalam sikap politiknya  sangat barat oriented. Mereka mendukung model pemerintahan barat yang skularistik (memisahkan antara agama dengan politik praktis) mereka kebanyakan adalah umat Islam alumni pendidikan barat.
    2. Kategori Nasionalis
    Kelompok ini, adalah mereka yang semangat nasionalisme (kebangsaannya), melebihi semangat keislaman dan kebarat-baratan dalam berpolitik. Kaum nasionalis berusaha mengkompromikan antara nilai keislaman, budaya barat dengan potensi dasar dan karakteristik bangsa. Mereka kebanyakan kaum tradisionalis yang terpelajar. Baik pendidikan ala barat, maupun ala pesantren

    3. Kategori Islamis.
    Mereka yang dicap oleh orientalis sebagai kelompok politik Islamis adalah, orang-orang yang spirit dalam mengatur politiknya kembali kepada  sejarah politik Islam masa lalu (klasik). Perundang-undangan negara harus merujuk pada hukum Islam formal. Bahkan bentuk negara harus negara agama (dengan pemerintahan teokrasi). Baik bersifat nasional (presiden) maupun trans nasional (raja maupun Khalifah).
    Kelompok ini adalah adalah para pendukung ideologi Ikhwanul muslimin, Hizbut Tahrir dan Kaum salafi Wahabi.
    4. Kategori Militanis
    Militanis atau kaum militan Islam, pada dasarnya adalah kelompok Islam sangat fanatik dan responsif dalam melawan barat. Tetapi di dalamnya ada dua kategori; radikal dan tidak radikal. Militanis radikal melawan hegemoni barat secara politik maupun fisik. Sedangkan yang tidak radikal tidak melawan secara fisik.

    5. Kategori Radikal
    Umat Islam yang dicap sebagai radikalis oleh barat, adalah setiap orang Islam yang terang-terangan melawan hegemoni barat, baik secara fisik, politik dan budaya. Mereka adalah kaum Mujahidin fi Sabilillah di skala politik global. Peperangan Barat -Timur, baik perang dingin maupun perang panas.

    6. Kategori Teroris
    Teroris adalah kategori yang diberikan oleh barat terhadap umat Islam yang militan lagi radikal, tetapi radikalnya tidak dilakukan secara terbuka, mereka melakukan perang gerilya dengan hegemoni barat.
    Secara gradual ketiga kategori muslim ini musuh barat yang sesungguhnya, yakni; Militanis, Radikalis dan Teroris. Mereka inilah kaum muslimin politis formalisme.
    Kondisi mereka sangat memprihatinkan, karena kehebatan barat  dalam membuat kesan dan opini buruk terhadap mereka. Sampai-sampai kebanyakan kaum yang lain, juga  turut memusuhi mereka. Karena barat memiliki teknologi informasi yang canggih. Khususnya di era cyberwarrior  sekarang ini.
    C. Pendekatan Historis
    Dalam pendekatan sejarah, Orang-orang barat memetakan kaum muslimin menjadi dua kategori, yaitu kaum ortodoks dan kaum modernis.
    1. Kaum ortodoks
    Adalah kaum muslimin yang secara historis memegangi dengan fanatik  peradaban masa lalu (klasik) Islam. Dan menolak hegemoni peradaban barat.
    2. Kaum Modernis.
    Adalah kelompok umat Islam yang dalam prespektif barat sangat apresiatif (menerima dengan bangga). Mengikuti dan mengkiblat barat, sebagai sumber sejarah peradaban baru, dan penulisan sejarah baru. Termasuk dalam hal ini adalah teknologi dan kebudayaan.
    Pemetaan sosio, politik dan kultural umat Islam oleh para orientalis (orang-orang barat pengkaji peradaban timur), adalah karena masyarakat timur, khususnya umat Islam adalah obyek kajian sekaligus konsumen produk peradaban mereka.
    Sehingga 'kolonialisme' barat atas bangsa-bangsa timur akan tetap lestari.
    Produk barat yang berupa modernitas, baik teknologi maupun peradaban terus digencarkan, sementara umat Islam dibuat sibuk dengan berbagai issu yang bisa membuat umat berperang sesama muslim sendiri. Dengan teknologi informasi dan dunia Maya sebagai medan laganya.Yang dikenal sebagai cyberwar (perang di dunia Maya). Dengan target memecah belah dan menguasai (Devide at Ampera), sebagai mana VOC menguasai Indonesia.
    Wallahu a'lam bis showab









    Brosur Pendaftaran Santri Baru Tahun Tarbiyah 2019-2020

    Posted at  23.04  |  in  pondok pesantren  |  Read More»










    Mengenal Lebih Dekat Dengan 'Ulama
    Oleh: Abdullah Kharisuddin Aqib

    A. Pengertian 'Ulama' dan Apa-apa yang terkait dengannya. 
    1.   Secara bahasa adalah para ilmuwan (orang yang banyak ilmu dan atau pengetahuannya), baik ilmu umum maupun keislaman.
    2.   Secara istilah keislaman umum adalah orang-orang yang ilmu agamanya diyakini banyak, oleh masyarakatnya.
    3.   Menurut Al Qur'an, orang-orang yang bisa benar-benar takut kepada Allah SWT.
    4.   Menurut para ahli tasawuf atau ahli hakekat, adalah orang-orang yang banyak ilmunya dengan kompetensi yang baik. (Pengetahuannya banyak ('alim), pemahaman dan penghayatannya baik (faqih), serta praktek pengamalannya cermat (wari' atau waro').

    B.   Keterkaitan istilah 'Ulama' dengan yang lain: 'Ulama' dengan Kyai dan Habaib:
    'Ulama' adalah adalah gelar akademik dan moral, sedangkan Kyai adalah gelar sosial keislaman Jawa. Adapun habaaib adalah gelar keturunan Rasulullah. 
    Sehingga ada kemungkinan kyai yang kurang ke'ulama'annya, demikian juga Habaib. Begitu juga sebaliknya, ada seorang yang 'alim tapi bukan kyai dan juga bukan habib. Gelar Ke'ulama'an sosial (kyai, Ki, Ajengan, tuan guru dll) bersifat lokal.

    C.   Profesi dan Excellency (keunggulan) para 'ulama' umat Islam seperti para Nabi
    Bani Israil. 
    Masing-masing 'ulama' umat Islam (yang Rosihun fil ilmi sekaligus Auliya') memiliki karakter, kompetensi, profesi, dan keunggulan (Excellency) sebagai mana para nabi di kalangan Bani Israil. Sehingga kewalian  mereka disebut tahta qidam anbiya' (di bawah kaki para Nabi) Keunggulan mereka adalah seperti mukjizat bagi para nabi Bani Israil. Ada ulama' seperti nabi Musa, misalnya imam Ghazali, dan seperti nabi Isa misalnya Ibnu Sina atau para kyai thabib. Ada 'ulama' seperti nabi Daud, Sulaiman dsb.

    D.   Profesi 'ulama' dalam sejarah Islam.
    1.   Ada 'ulama' yang juga umaro', misalnya: para Khalifah, mulai Khulafaur Rosyidin sampai dengan Khalifah terakhir kebanyakan adalah juga ulama'. 
    2.   ulama' pedagang atau pengusaha, seperti para 'ulama' Nusantara, khususnya sebelum masa kemerdekaan.
    3.   ulama' pendidik, seperti para kyai pesantren, para guru dan dosen, serta guru Mursyid.
    4.   'ulama' pejuang dan da'i, seperti para tokoh dan pimpinan ormas Islam, misalnya para Syuriah NU, pimpinan Muhammadiyah, dll.
    5.   'ulama' thobib, misalnya para kyai di pedesaan.
    6.   'ulama' pertapa (Zahid). Ada para waliyullah yang tersembunyi (wali mastur dan wali Majdzub).

    E.  Profesi 'Ulama' Kyai Jawa. Secara garis besar ada 4 macam.
    Ada kyai sembur (kyai thabib atau dukun), kyai tutur (penceramah), kyai tandur (pendidik), dan kyai wuwur (pengayom masyarakat).

    F.  Gelar-gelar Ke'ulama'an Secara Praktis. 
    1.  Bidang Sosial Budaya (lokal). Syekh, Kyai, Ki, Ajeng tuan, Tuan Guru, Mursyid, ayatulloh, dll.
    2.  Bidang Keilmuan: faqih, Mujtahid, mutakkallim, syekh, mutashawwif, Sufi, muhaddis, musnid, mufassir, murobbi dll.
    3.  'Ulama' versi Barat:
    -   Puritanis (pemurni ajaran agama), seperti ulama' salafi dan Wahabi. Mereka adalah ulma' fondamentalis yang tidak radikal. 
    -   Fondamentalis (sangat menjunjung tinggi prinsip-prinsip keyakinan dalam agama), di dalam mereka itu ada kelompok yang radikal (keras secara fisik terhadap barat), seperti MMI di Indonesia dan Al Qaeda di Timur Tengah. Tapi ada juga yang tidak tidak radikal secara fisik seperti Hizbut tahrir.
    -   Tradisionalis, adalah 'ulama' yang mengikuti prinsip keberagaman ahli Sunnah wal jama'ah. Yang cukup lunak dalam berhadapan dengan bangsa dan budaya Barat. Seperti NU dan Muhammadiyah di Indonesia. Mereka juga disebut ulama' nasionalis.
    -   'Ulama' liberalis adalah kelompok 'ulama' yang sangat bebas dan akomodatif terhadap kebenaran agama dan ajaran filsafat lain. Juga terhadap bangsa dan budaya barat. 
    -   'Ulama' Pluralis.
    Pluralis model 'ulama' yang bisa mengakui dan memahami banyak kebenaran. Kebenaran bukan tunggal. Bahkan semua agama bisa benar semua. Kelompok ini juga sangat akomodatif terhadap bangsa dan budaya barat, sehingga bangsa barat bisa menerima kelompok ulama' ini.
    Model ulama' pluralis dengan lineralis, yang membedakan liberalis karena sikap mental toleran, sedangkan prularis karena pengetahuan yang mereka miliki.

    G. Jaringan 'Ulama'.
    Warna warni jaringan 'ulama' sangat banyak, tetapi secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi empat warna dasar. Jaringan dakwah Islam, jaringan keilmuan dan pendidikan, jaringan organisasi dan gerakan, jaringan nasab dan tradisi. 
    1.      Jaringan dakwah Islam, adalah jaringan para penyebar Islam di wilayah minoritas, seperti Walisongo di tanah Jawa, abad 14-15, ittihadul muballighin, dan Jama'ah tabligh di era modern (transnasional).
    2.      Jaringan Ilmu dan pendidikan diwujudkan dalam jaringan alumni dan keguruan, jaringan pesantren Nusantara, jaringan alumni pesantren Yaman, perguruan tinggi Mesir dll.
    3.      Jaringan organisasi dan gerakan, ada yang bersifat nasional; seperti Muhammadiyah dan NU. Ada yang bersifat transnasional, seperti: Hizbul tahrir, Wahabi, salafi dan Ikhwanul muslimin. Juga beberapa Jam'iyyah thoriqoh.
    4.   Jaringan nasab dan tradisi; seperti Habaib,   basaiban, Syiah dll

    H.  'Ulama' dan Politik.
    Sebenarnya hubungan antara 'Ulama' dengan politik adalah ibarat nakkoda dengan kapalnya. Tetapi kebanyakan sekarang umat terhipnotis oleh para nakkoda hitam, sehingga para 'ulama' enggan berpolitik dalam pemerintahan dan negara. Karena politik digambarkan sebagai kapal rusak yg membahayakan. Atau digambarkan sebagai area berlumpur yang kotor. 
    Seharusnya yang memasuki ranah politik haruslah para 'ulama' agar politik (kapal) bisa berjalan dalam pakem para nabi ('ala minjahajin nubuwwah). 
    Opini buruk bagi 'ulama' yang pada ranah politik adalah provokasi pada politikus, bukan negarawan. Negara yang dinakhodai oleh yang bukan 'ulama' tentu amat sulit untuk berjalan di atas rel aturan Allah SWT.

    I.    Akhlak dan Keilmuan para 'Ulama'.
    Sebagai pewaris para Nabi 'Ulama' idealnya memiliki akhlak atau kepribadian serta keilmuan seperti para Nabi dan Rasul. 
    1.    Para nabi berakhlak Rabbani, ada yang akhlak yang sangat lengkap dengan gelar Abdullah, seperti Nabi Muhammad, tetapi ada yang dominan dalam kepribadian tertentu seperti sangat berkuasa dengan gelar Abdul Malik, seperti Nabi Daud. Abdus Shobur seperti Nabi Nuh. Dll.
    Para nabi semua bekerja, baik dalam kehidupan maupun dakwahnya adalah dalam rangka menyenangkan Allah (Li irdho illah). 
    Demikian juga para ulama' yang warosatul anbiya'. 
    2.    Dalam hal Keilmuan para nabi juga memiliki keunggulan masing-masing, ada yang ahli menejerial seperti nabi Muhammad, informatika seperti Nabi Musa, matematika nabi Idris, akuntansi agronomi nabi Yusuf, perkapalan nabi Nuh dll.
    Demikian juga para 'ulama' warosatul anbiya', juga memiliki keunggulan keilmuan dan profesi serta kepribadian sebagai mana para nabi dan Rasul.
    Sedangkan para 'ulama' yang tidak warosatul anbiya', tentu akhlak batinnya tidak sama dengan para nabi dan rasul. Demikian juga motivasi "kerjanya". Mereka bekerja liddun ya (untuk dunianya; mungkin untuk material, untuk kenikmatan, nama besar, harga diri, atau jabatan duniawi). Sekalipun dan bisa jadi akhlak dhohir dan keilmuannya sama dengan yang warosatul anbiya'.

    J.    'ULAMA' yang Nabawiy dan 'Ulama' yang Rasuliy.
    'Ulama' pasca era kenabian (era kewalian), tugas dan fungsinya juga seperti pada masa kenabian. Yaitu ada hamba Allah yang tugas dan fungsinya sebagai penyimpan ilmu atau penyebar ilmu pasif itulah para anbiya'. Dan ada hamba Allah yang bertugas sebagai penyebar ilmu dan pembimbing umat secara aktif,  itulah yang disebut Mursalin (para rasul). Demikian juga 'ulama' warosatul anbiya'. Ada yang tidak aktif menyebarkan ilmu dan pembimbing umat, tugas mereka hanya menyimpan ilmu untuk mengamalkannya sendiri dan untuk orang yang mau bertanya kepadanya, disamping berdoa dan munajat kepada Allah SWT, itulah maqam 'ulama' Nabawi. Sedangkan 'ulama' rasuli adalah 'ulama' yang secara aktif nasyrul 'ilmi dengan menulis, mengajar dan atau membimbing umat. Mereka itulah para warosatul Mursalin.

    K.   Kwalifikasi 'Ulama' ;
    Hukama',  Auliya, Asfiya' dan Ulul Albab.
    Secara potensial, semua 'ulama' yang Rosihun fil ilmi (mendalam ilmunya), yang warosatul anbiya' pasti memiliki banyak hikmah, kewalian, kesufian dan keulul albaban. Tetapi berdasarkan keunggulan yang lebih bisa dikenali, ada 'ulama' yang ahli hikmah (Hukama'), ahli amal (Auliya'), ahli ilmu dan amal (Asfiya'), ahli fikir , ahli dzikir dan ahli berjuang (Ulul Albab).
    1.  Ulama' hukuma'.
         Seorang 'ulama' yang Hukama' adalah seorang yang banyak hikmahnya (banyak filsafat hidupnya) sekaligus dia mampu untuk menyampaikannya kepada orang lain, baik secara lisan maupun tulisan. Kemampuannya untuk mengintegrasikan dan menyimpulkan antara pengetahuannya dengan fenomena yang ada menjadikan dia bijaksana.
    2.  'ulama'yang Auliya' adalah seorang 'ulama' yang karya nyatanya lebih dominan daripada teori, orasi dan literasinya,  khususnya dalam menolong manusia karena Allah.
         Dengan kedermawanan dan kemurahan hatinya dia dicintai oleh Allah SWT, sehingga dia dijaga (Mahfud), dan dibimbing oleh Allah SWT (Rosyidun).
    3.   'Ulama' Al Asfiya' ('ulama' Sufi), adalah ulama' yang lebih dominan mengamalkan ilmu tasawuf, bahkan mereka sebagai guru dan pembimbing kerohanian umat (Mursyidun) merekalah yang secara formal dan spiritual menjadi Khulafaur Rosul (Ar Rosyidun Ar Rosihun). Yang sanad dan berkahnya bersambung secara langsung (musalsal dan mutallaqqiyan) sampai dengan Nabi Muhammad Saw
    4.  'Ulama' Ulul Albab.
         Ulul Albab "dzu fikrotin saalimatin kholiatin 'anil hawa" (pemilik pikiran yang sehat dan bersih dari hawa nafsu) adalah persyaratan sebagai 'ulama' warosatul Mursalin. Dalam profesi apapun, dia adalah ahli dzikir, ahli fikir dan ahli amal shaleh, khususnya perjuangan dan dakwah. Mereka itulah cendikiawan muslim dalam prespektif Al Qur'an.

    L. Kwalifikasi 'Ulama' II
    Salafi, Khalafi, Sunni dan Ahli Sunnah wal jama'ah.
    Dalam tradisi keagamaan, 'ulama' juga bisa dikelompokkan menjadi 3 atau 4 kwalifikasi berdasarkan era dan trendy pemikiran mereka. Yakni;
    1.      'Ulama' salafi. Yaitu para ulama yang cenderung mengikuti pola pemikiran mayoritas kaum salaf (ulama' klasik), yang bermazhab ahlul hadits (tekstualis). Akal tidak boleh interpretasi dalam pemahaman agama. Agama adalah otoritas mutlak Wahyu.
    2.       'Ulama' kholafi.
    Para ulama yang cenderung mengikuti pola pemikirannya minoritas kaum salaf, yakni ahlu Ro' yi. Kaum rasionalis dalam Islam.
    Munculnya kelompok-kelompok minoritas 'ulama' ini memang belakangan era salaf (2-3 abad setelah Rasulullah wafat). Sehingga kelompok ini disebut 'ulama' kholafi (belakangan).
    3.       'Ulama' Sunniy.
    Kwalifikasi 'Ulama' ini adalah secara tradisi dalam pemahaman agama bersifat kombinatif. Yaitu menggunakan tradisi keagamaan ahlul hadits ('ulama' salafi), dan tradisi ahlur ro'yi ('ulama' kholafi) sekaligus.
    Mereka memegangi Al Qur'an dan Al hadits (Wahyu Allah), juga ro'yu atau akal sehat sebagai dalil agama. 
    4.      'Ulama' Aswaja.
    Ahlussunah wal jama'ah adalah sebuah kelompok umat Islam (juga para 'ulama'nya) adalah kumpulan para pengikut madzhab sunny, yang bersatu dalam menghadapi dominasi minoritas muslim (Mu'tazilah maupun Salafi), yang dalam bahasa trendy nya adalah " AHLU SUNNAH GRUP"

    Wallahu A'lam bis sowab. 
    Kelutan, 30 Desember 2018.

    Abdullah Kharisuddin Aqib. Khodim Ma'had DUA.

    M​engenal Lebih Dekat Dengan 'Ulama’​

    Posted at  12.17  |  in  ulama' ulul albab  |  Read More»


    Mengenal Lebih Dekat Dengan 'Ulama
    Oleh: Abdullah Kharisuddin Aqib

    A. Pengertian 'Ulama' dan Apa-apa yang terkait dengannya. 
    1.   Secara bahasa adalah para ilmuwan (orang yang banyak ilmu dan atau pengetahuannya), baik ilmu umum maupun keislaman.
    2.   Secara istilah keislaman umum adalah orang-orang yang ilmu agamanya diyakini banyak, oleh masyarakatnya.
    3.   Menurut Al Qur'an, orang-orang yang bisa benar-benar takut kepada Allah SWT.
    4.   Menurut para ahli tasawuf atau ahli hakekat, adalah orang-orang yang banyak ilmunya dengan kompetensi yang baik. (Pengetahuannya banyak ('alim), pemahaman dan penghayatannya baik (faqih), serta praktek pengamalannya cermat (wari' atau waro').

    B.   Keterkaitan istilah 'Ulama' dengan yang lain: 'Ulama' dengan Kyai dan Habaib:
    'Ulama' adalah adalah gelar akademik dan moral, sedangkan Kyai adalah gelar sosial keislaman Jawa. Adapun habaaib adalah gelar keturunan Rasulullah. 
    Sehingga ada kemungkinan kyai yang kurang ke'ulama'annya, demikian juga Habaib. Begitu juga sebaliknya, ada seorang yang 'alim tapi bukan kyai dan juga bukan habib. Gelar Ke'ulama'an sosial (kyai, Ki, Ajengan, tuan guru dll) bersifat lokal.

    C.   Profesi dan Excellency (keunggulan) para 'ulama' umat Islam seperti para Nabi
    Bani Israil. 
    Masing-masing 'ulama' umat Islam (yang Rosihun fil ilmi sekaligus Auliya') memiliki karakter, kompetensi, profesi, dan keunggulan (Excellency) sebagai mana para nabi di kalangan Bani Israil. Sehingga kewalian  mereka disebut tahta qidam anbiya' (di bawah kaki para Nabi) Keunggulan mereka adalah seperti mukjizat bagi para nabi Bani Israil. Ada ulama' seperti nabi Musa, misalnya imam Ghazali, dan seperti nabi Isa misalnya Ibnu Sina atau para kyai thabib. Ada 'ulama' seperti nabi Daud, Sulaiman dsb.

    D.   Profesi 'ulama' dalam sejarah Islam.
    1.   Ada 'ulama' yang juga umaro', misalnya: para Khalifah, mulai Khulafaur Rosyidin sampai dengan Khalifah terakhir kebanyakan adalah juga ulama'. 
    2.   ulama' pedagang atau pengusaha, seperti para 'ulama' Nusantara, khususnya sebelum masa kemerdekaan.
    3.   ulama' pendidik, seperti para kyai pesantren, para guru dan dosen, serta guru Mursyid.
    4.   'ulama' pejuang dan da'i, seperti para tokoh dan pimpinan ormas Islam, misalnya para Syuriah NU, pimpinan Muhammadiyah, dll.
    5.   'ulama' thobib, misalnya para kyai di pedesaan.
    6.   'ulama' pertapa (Zahid). Ada para waliyullah yang tersembunyi (wali mastur dan wali Majdzub).

    E.  Profesi 'Ulama' Kyai Jawa. Secara garis besar ada 4 macam.
    Ada kyai sembur (kyai thabib atau dukun), kyai tutur (penceramah), kyai tandur (pendidik), dan kyai wuwur (pengayom masyarakat).

    F.  Gelar-gelar Ke'ulama'an Secara Praktis. 
    1.  Bidang Sosial Budaya (lokal). Syekh, Kyai, Ki, Ajeng tuan, Tuan Guru, Mursyid, ayatulloh, dll.
    2.  Bidang Keilmuan: faqih, Mujtahid, mutakkallim, syekh, mutashawwif, Sufi, muhaddis, musnid, mufassir, murobbi dll.
    3.  'Ulama' versi Barat:
    -   Puritanis (pemurni ajaran agama), seperti ulama' salafi dan Wahabi. Mereka adalah ulma' fondamentalis yang tidak radikal. 
    -   Fondamentalis (sangat menjunjung tinggi prinsip-prinsip keyakinan dalam agama), di dalam mereka itu ada kelompok yang radikal (keras secara fisik terhadap barat), seperti MMI di Indonesia dan Al Qaeda di Timur Tengah. Tapi ada juga yang tidak tidak radikal secara fisik seperti Hizbut tahrir.
    -   Tradisionalis, adalah 'ulama' yang mengikuti prinsip keberagaman ahli Sunnah wal jama'ah. Yang cukup lunak dalam berhadapan dengan bangsa dan budaya Barat. Seperti NU dan Muhammadiyah di Indonesia. Mereka juga disebut ulama' nasionalis.
    -   'Ulama' liberalis adalah kelompok 'ulama' yang sangat bebas dan akomodatif terhadap kebenaran agama dan ajaran filsafat lain. Juga terhadap bangsa dan budaya barat. 
    -   'Ulama' Pluralis.
    Pluralis model 'ulama' yang bisa mengakui dan memahami banyak kebenaran. Kebenaran bukan tunggal. Bahkan semua agama bisa benar semua. Kelompok ini juga sangat akomodatif terhadap bangsa dan budaya barat, sehingga bangsa barat bisa menerima kelompok ulama' ini.
    Model ulama' pluralis dengan lineralis, yang membedakan liberalis karena sikap mental toleran, sedangkan prularis karena pengetahuan yang mereka miliki.

    G. Jaringan 'Ulama'.
    Warna warni jaringan 'ulama' sangat banyak, tetapi secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi empat warna dasar. Jaringan dakwah Islam, jaringan keilmuan dan pendidikan, jaringan organisasi dan gerakan, jaringan nasab dan tradisi. 
    1.      Jaringan dakwah Islam, adalah jaringan para penyebar Islam di wilayah minoritas, seperti Walisongo di tanah Jawa, abad 14-15, ittihadul muballighin, dan Jama'ah tabligh di era modern (transnasional).
    2.      Jaringan Ilmu dan pendidikan diwujudkan dalam jaringan alumni dan keguruan, jaringan pesantren Nusantara, jaringan alumni pesantren Yaman, perguruan tinggi Mesir dll.
    3.      Jaringan organisasi dan gerakan, ada yang bersifat nasional; seperti Muhammadiyah dan NU. Ada yang bersifat transnasional, seperti: Hizbul tahrir, Wahabi, salafi dan Ikhwanul muslimin. Juga beberapa Jam'iyyah thoriqoh.
    4.   Jaringan nasab dan tradisi; seperti Habaib,   basaiban, Syiah dll

    H.  'Ulama' dan Politik.
    Sebenarnya hubungan antara 'Ulama' dengan politik adalah ibarat nakkoda dengan kapalnya. Tetapi kebanyakan sekarang umat terhipnotis oleh para nakkoda hitam, sehingga para 'ulama' enggan berpolitik dalam pemerintahan dan negara. Karena politik digambarkan sebagai kapal rusak yg membahayakan. Atau digambarkan sebagai area berlumpur yang kotor. 
    Seharusnya yang memasuki ranah politik haruslah para 'ulama' agar politik (kapal) bisa berjalan dalam pakem para nabi ('ala minjahajin nubuwwah). 
    Opini buruk bagi 'ulama' yang pada ranah politik adalah provokasi pada politikus, bukan negarawan. Negara yang dinakhodai oleh yang bukan 'ulama' tentu amat sulit untuk berjalan di atas rel aturan Allah SWT.

    I.    Akhlak dan Keilmuan para 'Ulama'.
    Sebagai pewaris para Nabi 'Ulama' idealnya memiliki akhlak atau kepribadian serta keilmuan seperti para Nabi dan Rasul. 
    1.    Para nabi berakhlak Rabbani, ada yang akhlak yang sangat lengkap dengan gelar Abdullah, seperti Nabi Muhammad, tetapi ada yang dominan dalam kepribadian tertentu seperti sangat berkuasa dengan gelar Abdul Malik, seperti Nabi Daud. Abdus Shobur seperti Nabi Nuh. Dll.
    Para nabi semua bekerja, baik dalam kehidupan maupun dakwahnya adalah dalam rangka menyenangkan Allah (Li irdho illah). 
    Demikian juga para ulama' yang warosatul anbiya'. 
    2.    Dalam hal Keilmuan para nabi juga memiliki keunggulan masing-masing, ada yang ahli menejerial seperti nabi Muhammad, informatika seperti Nabi Musa, matematika nabi Idris, akuntansi agronomi nabi Yusuf, perkapalan nabi Nuh dll.
    Demikian juga para 'ulama' warosatul anbiya', juga memiliki keunggulan keilmuan dan profesi serta kepribadian sebagai mana para nabi dan Rasul.
    Sedangkan para 'ulama' yang tidak warosatul anbiya', tentu akhlak batinnya tidak sama dengan para nabi dan rasul. Demikian juga motivasi "kerjanya". Mereka bekerja liddun ya (untuk dunianya; mungkin untuk material, untuk kenikmatan, nama besar, harga diri, atau jabatan duniawi). Sekalipun dan bisa jadi akhlak dhohir dan keilmuannya sama dengan yang warosatul anbiya'.

    J.    'ULAMA' yang Nabawiy dan 'Ulama' yang Rasuliy.
    'Ulama' pasca era kenabian (era kewalian), tugas dan fungsinya juga seperti pada masa kenabian. Yaitu ada hamba Allah yang tugas dan fungsinya sebagai penyimpan ilmu atau penyebar ilmu pasif itulah para anbiya'. Dan ada hamba Allah yang bertugas sebagai penyebar ilmu dan pembimbing umat secara aktif,  itulah yang disebut Mursalin (para rasul). Demikian juga 'ulama' warosatul anbiya'. Ada yang tidak aktif menyebarkan ilmu dan pembimbing umat, tugas mereka hanya menyimpan ilmu untuk mengamalkannya sendiri dan untuk orang yang mau bertanya kepadanya, disamping berdoa dan munajat kepada Allah SWT, itulah maqam 'ulama' Nabawi. Sedangkan 'ulama' rasuli adalah 'ulama' yang secara aktif nasyrul 'ilmi dengan menulis, mengajar dan atau membimbing umat. Mereka itulah para warosatul Mursalin.

    K.   Kwalifikasi 'Ulama' ;
    Hukama',  Auliya, Asfiya' dan Ulul Albab.
    Secara potensial, semua 'ulama' yang Rosihun fil ilmi (mendalam ilmunya), yang warosatul anbiya' pasti memiliki banyak hikmah, kewalian, kesufian dan keulul albaban. Tetapi berdasarkan keunggulan yang lebih bisa dikenali, ada 'ulama' yang ahli hikmah (Hukama'), ahli amal (Auliya'), ahli ilmu dan amal (Asfiya'), ahli fikir , ahli dzikir dan ahli berjuang (Ulul Albab).
    1.  Ulama' hukuma'.
         Seorang 'ulama' yang Hukama' adalah seorang yang banyak hikmahnya (banyak filsafat hidupnya) sekaligus dia mampu untuk menyampaikannya kepada orang lain, baik secara lisan maupun tulisan. Kemampuannya untuk mengintegrasikan dan menyimpulkan antara pengetahuannya dengan fenomena yang ada menjadikan dia bijaksana.
    2.  'ulama'yang Auliya' adalah seorang 'ulama' yang karya nyatanya lebih dominan daripada teori, orasi dan literasinya,  khususnya dalam menolong manusia karena Allah.
         Dengan kedermawanan dan kemurahan hatinya dia dicintai oleh Allah SWT, sehingga dia dijaga (Mahfud), dan dibimbing oleh Allah SWT (Rosyidun).
    3.   'Ulama' Al Asfiya' ('ulama' Sufi), adalah ulama' yang lebih dominan mengamalkan ilmu tasawuf, bahkan mereka sebagai guru dan pembimbing kerohanian umat (Mursyidun) merekalah yang secara formal dan spiritual menjadi Khulafaur Rosul (Ar Rosyidun Ar Rosihun). Yang sanad dan berkahnya bersambung secara langsung (musalsal dan mutallaqqiyan) sampai dengan Nabi Muhammad Saw
    4.  'Ulama' Ulul Albab.
         Ulul Albab "dzu fikrotin saalimatin kholiatin 'anil hawa" (pemilik pikiran yang sehat dan bersih dari hawa nafsu) adalah persyaratan sebagai 'ulama' warosatul Mursalin. Dalam profesi apapun, dia adalah ahli dzikir, ahli fikir dan ahli amal shaleh, khususnya perjuangan dan dakwah. Mereka itulah cendikiawan muslim dalam prespektif Al Qur'an.

    L. Kwalifikasi 'Ulama' II
    Salafi, Khalafi, Sunni dan Ahli Sunnah wal jama'ah.
    Dalam tradisi keagamaan, 'ulama' juga bisa dikelompokkan menjadi 3 atau 4 kwalifikasi berdasarkan era dan trendy pemikiran mereka. Yakni;
    1.      'Ulama' salafi. Yaitu para ulama yang cenderung mengikuti pola pemikiran mayoritas kaum salaf (ulama' klasik), yang bermazhab ahlul hadits (tekstualis). Akal tidak boleh interpretasi dalam pemahaman agama. Agama adalah otoritas mutlak Wahyu.
    2.       'Ulama' kholafi.
    Para ulama yang cenderung mengikuti pola pemikirannya minoritas kaum salaf, yakni ahlu Ro' yi. Kaum rasionalis dalam Islam.
    Munculnya kelompok-kelompok minoritas 'ulama' ini memang belakangan era salaf (2-3 abad setelah Rasulullah wafat). Sehingga kelompok ini disebut 'ulama' kholafi (belakangan).
    3.       'Ulama' Sunniy.
    Kwalifikasi 'Ulama' ini adalah secara tradisi dalam pemahaman agama bersifat kombinatif. Yaitu menggunakan tradisi keagamaan ahlul hadits ('ulama' salafi), dan tradisi ahlur ro'yi ('ulama' kholafi) sekaligus.
    Mereka memegangi Al Qur'an dan Al hadits (Wahyu Allah), juga ro'yu atau akal sehat sebagai dalil agama. 
    4.      'Ulama' Aswaja.
    Ahlussunah wal jama'ah adalah sebuah kelompok umat Islam (juga para 'ulama'nya) adalah kumpulan para pengikut madzhab sunny, yang bersatu dalam menghadapi dominasi minoritas muslim (Mu'tazilah maupun Salafi), yang dalam bahasa trendy nya adalah " AHLU SUNNAH GRUP"

    Wallahu A'lam bis sowab. 
    Kelutan, 30 Desember 2018.

    Abdullah Kharisuddin Aqib. Khodim Ma'had DUA.

    Adab di Dalam  Masjid
    Oleh : Abdulloh Kharisudin Aqib Al Kelutani

    Masjid Adalah "Rumah" Allah  atau rumah khusus untuk menghadap dan bertemu dengan Allah SWT, Maka kita harus beradab dengan baik, yaitu :
    1. Niat i'tikaf (ibadah dengan dzikrullah, baca Alquran dll).
    2. Melangkah masuk dimulai dengan kaki kanan, dengan penuh khusyuk dan tadhorru' (merendahkan diri sendiri di hadapan Allah SWT.)
    3. Seraya selalu berdoa;
    اللهم افتح لي ابواب رحمتك، وعزائم مغفرتك ، وسلامة من كل إثم ، وغنيمة من كل بر، والفوز بالجنة ، والنجاة من النار. برحمتك يا ارحم الراحمين
    4. Sholat tahiyatal masjid 2 rokaat. Sholat-sholat wajib atau Sunnah
    5. Dzikrullah: dengan kalimat-kalimat thayyibat, dzikrullah Sirri, jahri, berdoa dan munajat atau baca Al Quran dan Tafakur.
    6. Diskusi dan mudzakarah ttg ilmu, perjuangan dan agama.
    7. Tidak membicarakan kesenangan duniawi, dan bisnis pribadi, atau gurauan serta kesia-siaan.
    8. Menjaga sikap badan yang baik; tidak tidur atau tidur-tiduran, tidak duduk sembarangan, seperti selonjoran ke arah kiblat, jongkok dengan membuka aurat.
    9. Tidak melewati hadapan orang yang lagi dzikrullah, sholat dan berdoa. Kecuali di luar batas sujudnya.
    10. Tidak makan dan minum, kecuali dengan tetap menjaga adab dan kebersihan.
    11. Mengenakan pakaian yang baik, sopan, suci dan indah.
    Warna putih, atau tidak bertulis, berlukis.
    12. Mengenakan perhiasan (serban, kopyah, cincin, arloji) dan juga memakai parfum.


    Madinah, 10 September 2018,
    Abdulloh Kharisudin Aqib Al Kelutani

    Adab di Dalam Masjid

    Posted at  01.30  |  in  masjid adalah rumah allah  |  Read More»

    Adab di Dalam  Masjid
    Oleh : Abdulloh Kharisudin Aqib Al Kelutani

    Masjid Adalah "Rumah" Allah  atau rumah khusus untuk menghadap dan bertemu dengan Allah SWT, Maka kita harus beradab dengan baik, yaitu :
    1. Niat i'tikaf (ibadah dengan dzikrullah, baca Alquran dll).
    2. Melangkah masuk dimulai dengan kaki kanan, dengan penuh khusyuk dan tadhorru' (merendahkan diri sendiri di hadapan Allah SWT.)
    3. Seraya selalu berdoa;
    اللهم افتح لي ابواب رحمتك، وعزائم مغفرتك ، وسلامة من كل إثم ، وغنيمة من كل بر، والفوز بالجنة ، والنجاة من النار. برحمتك يا ارحم الراحمين
    4. Sholat tahiyatal masjid 2 rokaat. Sholat-sholat wajib atau Sunnah
    5. Dzikrullah: dengan kalimat-kalimat thayyibat, dzikrullah Sirri, jahri, berdoa dan munajat atau baca Al Quran dan Tafakur.
    6. Diskusi dan mudzakarah ttg ilmu, perjuangan dan agama.
    7. Tidak membicarakan kesenangan duniawi, dan bisnis pribadi, atau gurauan serta kesia-siaan.
    8. Menjaga sikap badan yang baik; tidak tidur atau tidur-tiduran, tidak duduk sembarangan, seperti selonjoran ke arah kiblat, jongkok dengan membuka aurat.
    9. Tidak melewati hadapan orang yang lagi dzikrullah, sholat dan berdoa. Kecuali di luar batas sujudnya.
    10. Tidak makan dan minum, kecuali dengan tetap menjaga adab dan kebersihan.
    11. Mengenakan pakaian yang baik, sopan, suci dan indah.
    Warna putih, atau tidak bertulis, berlukis.
    12. Mengenakan perhiasan (serban, kopyah, cincin, arloji) dan juga memakai parfum.


    Madinah, 10 September 2018,
    Abdulloh Kharisudin Aqib Al Kelutani

    Tentang Kami-Pendaftaran-Contact
    Copyright © 2013 Pondok Pesantren - DARU ULIL ALBAB. Blogger Template by BloggerTheme9
    Proudly Powered by Blogger.
    back to top