• Profil

    Pesantren Terpadu Daru Ulil Albab

  • INFORMASI PENDAFTARAN SANTRI BARU TAHUN 2019

  • Wakaf Tunai

    Gerakan Wakaf Sejuta Umat Ulul Albab

  • Mujahadah

    Jadwal Mujahadah

  • Menanti Kedatangan  Lailatul  Qadar di Siang Hari 
    Oleh; Kharisudin Aqib.

    Sejarah terjadinya Lailatul Qadar
    Lailaitul Qadar terjadi dan dialami oleh Rasulullah saw, pada hari Senin, tanggal 21 Ramadlan, tahun 610 M. ketika beliau bertahannuts, di gua hira yang terus menerus (intensif).menjelang akhir bulan Ramadlan. Dan menjelang akhir malam. Ketika itu Nabi berusia 40 tahun. Tentang tanggal terjadinya, para ahli sejarah terjadi dua kelompok, yaitu kelompok yang berpendapat tanggal 17 Ramadlan, sementara ada yang tanggal 21 Ramadlan (ini yang lebih kuat).
    Tahannuts, adalah berdiam diri di tempat yang sunyi dan jauh dari keramaian manusia, dan nabi melakukannya di gua hira, sebuah gua kecil di atas gunung cahaya (jabal nur), sekitar 5 km arah utara kota Makkah.  Tahannuts ini telah menjadi tradisi para nabi atau pencari kebenaran, bahkan juga masyarakat Arab, jika mereka menghadapi masalah-masalah penting. Untuk mendapatkan solusi dan jalan keluar, mereka melakukan tahannuts di gua-gua yang jauh dari keramaian kota.
    Demikian juga Nabi Muhammad juga telah cukup lama punya kebiasaan melakukan tahannas, dan gua yang dijadikan tempat langganan beliau adalah gua hiro. Sebuah gua yang terletak di puncak jabar nur (sebuah gunung batu yang terletak sekitar 5 km arah utara kota Makkah). Gua ini posisinya sangat bagus, karena di samping tempatnya susah di dapatkan juga kebetulan bentuk dalam gua persisi menyerupai mihrob (pengimaman), dan di arah depannya ada celah yang lurus pandang menuju ke kabah.
    Ketika menjelang malam ke tujuh belas bulan Ramadlan, Nabi sudah merasakan ke anehan-keanehan seperti alam lingkungannya menjadi asri dan bersahabat, bahkan rerumputan dan bebatuan menyalaminyi.  Sampai akhirnya di waktu dini hari, beliau merasakan didatangi oleh seorang laki-laki yang berpakaian serba putih dengan rambut hitam pekat, yaitu Malaikat Jibril.
    Malaikat Jibril itu menyapa beliau dan mengatakan bahwa ia adalah utusan Allah, untuk menyatakan bahwa dia (Muhammad ibn Abdullah), kini diangkat sebagai seorang Nabi (orang yang berhak mendapat akses ke alam rohaniyah).Malaikat intu menunjukkan  selembar kertas yang berisi tulisan dan memerintahkan kepada Nabi Muhammad untuk membacanya, seraya berkata;
    bacalah hai Muhammad sampai diulang tiga kali, nabi tetap menjawab,  saya  tidak bisa membaca. Baru kemudian malaikat tersebut membacakan tulisan yang ada di lembaran tersebut, yaitu kalimat yang ada pada ayat 1-5 surat al-alaq.
    Nabi merasakan didekap oleh orang tersebut sampai nabi merasakan sesak nafas, dan gemetaran, dan kemudian Nabi pulang ke rumah sayyidah Khadijah masih dalam keadaan gemetaran dan  kedinginan, dan minta diselimuti oleh istrinya.

    Ayat-ayat tentang Lailatul Qadar
    Di dalam al-Quran hanya ada tiga term lailatul qadar, yaitu yang terdapat dalam
    surat al-Qadar (97). Dan tidak ada lagi ayat lain yang memuat term tersebut.
    Allah SWT berfirman:
    اِنَّاۤ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ
    وَمَاۤ اَدْرٰٮكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ ۗ
    لَيْلَةُ الْقَدْرِ ۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍ ۗ
    تَنَزَّلُ الْمَلٰٓئِكَةُ وَا لرُّوْحُ فِيْهَا بِاِذْنِ رَبِّهِمْ ۚ مِّنْ كُلِّ اَمْرٍ
    سَلٰمٌ  ۛ هِيَ حَتّٰى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

    "Artinya:
    Sesungguhnya kami telah menurunkannya (al-Quran) pada lailatul qadar, (malam kemuliaan)[1593].
    Dan tahukah kamu apakah lailatul qadar itu?
    Lailatul qadar itu lebih baik dari seribu bulan.
    Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.
    Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.

    [1593]  Malam kemuliaan dikenal dalam bahasa Indonesia dengan malam Lailatul Qadr yaitu suatu malam yang penuh kemuliaan, kebesaran, karena pada malam itu permulaan turunnya al-Quran.



    Hadis Nabi tentang Lailatul Qadar
    Beberapa pernyataan tentang lailatul qadar ini antara lain:
    Abu Hurairah ra berkata: Ketika hampir tiba bulan Ramadlan Rasulullah saw bersabda: Kini telah tiba padamu bulan Ramadlan, bulan yang diberkahi, Allah mewajibkan atas kamu berpuasa, dibuka semua pintu surga, dan ditutup pintu-pintu neraka, dan dibelenggu setan-setan. Di dalam bulan Ramadlan ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, maka siapa yang tidak mendapatkannya berarti kecewa.” (HR. Ahmad dan An-Nasa’i).
    Abu Hurairah berkata:
    قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من قام ليلة القدر ايمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه (رواه البخارى والمسلم).

    Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang bangun di malam lailatul qadar, terdorong karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya di waktu lampau.” (HR. Bukhari-Muslim).
     Aisyah ra berkata: Apabila Nabi memasuki malam-malam akhir (21-23-25-27-29) bulan Ramadlan, dari malam 21-30. Bangun semalaman suntuk dan membangunkan istri-istrinya, dan mengeratkan ikat pinggang. Biasanya Rasulullah saw, lebih rajin ibadahnya pada malam likuran bulan Ramadlan, lebih dari malam-malam lainnya. (HR. Muslim).
    Hari Senin adalah hari lahirku, juga hari aku diutus (karena hari itu turunnya wahyu pertama). (al-Hadits).

    ANALISIS PSIKO-SUFISTIK
     ATAS PERISTIWA LAILATUL QADAR

    Analisis Kebahasaan dan Historis
    Secara kebahasaan dan historis, peristiwa lailatul qadar yang disebutkan dalam ayat 1, 2 dan 3, surat al-Qadar dapat disibak makna dan hakekat apa yang dimaksudkan dengan lailatul qadar, yang cukup misterius dan menjadi teka-teki yang akhirnya menjadi keyakinan yang seringkali terasa dipaksakan, karena tidak rasional. Kita kembali memakai rumus, al-ibrah bi umumil lafazh, laa bi khusushis sabab (makna dari arti umum lafad, bukan arti khusus sebab turunnya ajaran).
    Lailatul qadar terdiri dari dua kata bahasa Arab, lailat/h (malam),  al-qadar (ketentuan, ukuran, penentuan), sehingga lailatul qadar berarti malam ketentuan/malam penentuan. Sedangkan secara istilah, lailatul qadar berarti malam dimana Allah menurunkan para malaikat langit untuk mengurus berbagai persoalan kehidupan yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Sementara pemahaman umum adalah malam dimana Allah akan melipat ganda pahala amal perbuatan manusia sampai bernilai lebih baik dari seribu bulan. Sedangkan makna alternatif adalah suatu malam dimana Allah menentukan keadaan kejiwaan, pemikiran, nasib dan amal seseorang sampai terjadi perubahan pola piker dan sikap mentalnya.
    Secara historis, lailatul qadar terjadi:
    Nabi sudah berumur 40 tahun, umur dimana puncak kecerdasan spiritual mencapai masa klimaksnya yang pertama. Yang biasanya akan terjadi lagi pada umur 50 dan 60 tahun.
    Nabi dalam kondisi dirundung duka memikirkan kerusakan moral masyarakatnya, secara terus menerus memohon petunjuk Allah akan kebenaran jalan hidup yang dapat membimbing masyarakatnya menuju jalan hidup yang benar dan diridlai Allah.
    Nabi dalam keadaan meditasi di gua hira, gua yang terletak di tempat yang sangat sulit dicapai orang, gua ini berbentuk persis menyerupai mihrab (pengimaman mushalla kecil), di tebing gunung hira 20 m dari puncak. Dan kebetulan gua ini membelakangi kabah persis, sehingga orang yang meditasi atau shalat di situ persis menghadap kabah, dan kebetulan lagi dinding belakangnya ada celah yang secara otomatis kabah terlihat dari situ.
    Terjadi akhir bulan Ramadlan antara tanggal 17 dan atau 21 Ramadlan. Waktu dimana riyadlah (tirakat) atau tahannuts sudah dilaksanakan cukup lama. Riyadlah (tirakat), adalah proses pendewasaan spiritual, sebagaimana proses pengeraman telur untuk sebuah penetasan atau proses pengepompongan sehingga terjadinya metamorphose. Maka lailatul qadar ini, mungkin saja terjadi tanggal 17 Ramadlan karena Nabi memulai tahannuts sebelum masuk bulan Ramadlan, atau memang tanggal 21 Ramadlan karena Nabi memang memulai riyadlah awal Ramadlan. 
    Terjadi di akhir malam, menjelang fajar adalah waktu yang paling kondusif untuk terjadinya pencerahan. Karena secara etener waktu tersebut sangat kondusif untuk perjalanan bahasa dan suara batin, seperti;doa-doa, panggilan dan komunikasi batin (telepati), dan lain-lain yang bersifat spiritual, termasuk di dalamnya kemungkinan terjadinya kasyf (pencerahan).
    Nabi merasakan gemetar dan keringat  dingin, sampai pulang ke rumah istrinya. Dan pada kesempatan berikutnya istri Nabi mengajak nabi untuk berkonsultasi kepada rahib (Waraqah ibn Naufal) yang masih paman dari sidi Khadijah. Dan beliau meyakinkan bahwa yang menemui beliau di gua hiro itu adalah namus (jibril), malaikat yang membawa wahyu untuk para Nabi dan Rasulullah.

    Lailatul Qadar adalah Kasyf Nabawi
    Atas dasar analisis interdisipliner tersebut, maka dapat dikatakan, bahwa lailatul qadar adalah jenis kasyf nabawi, baik yang dialami oleh Nabi Muhammad sendiri (pada malam turunnya wahyu pertama), maupun yang dialami oleh umat Islam pada tanggal-tanggal likuran (20-30 Ramadlan), atas ketekunan an ketulusannya dalam menunaikan ibadah puasa adalah jenis kasyf nabawi.
    Karena lailatul qadar adalah termasuk dari jenis kasyf nabawi (positif), maka lailatul qadar adalah peristiwa individual psikologis. Artinya dialami, dirasakan secara perorangan dan bersifat kejiwaan. Bukan peristiwa komunal dan kosmologis sebagaimana pemahaman masyarakat umum. Lailtul qadar adalah pencerahan yang dialami dan dirasakan oleh orang yang menjalani riyadlah (latihan kejiwaan), dengan serius sebagaimana puasa di bulan Ramadlan dengan penuh keimanan dan ketulusan hati.
    Karena Lailatul qadar adalah jenis kasyf nabawi, maka lailatul qadar tidak mungkin dialami oleh orang yang tidak melakukan riyadlah dengan niatan iimanan wahtisaaban dalam waktu yang sudah cukup lama (sekitar 20 harian). Karena lailatul qadar adalah pencerahan agung yang dapat merubah orientasi, motivasi dan sikap mental seseorang sehingga nilainya lebih baik daripada seribu bulan, maka lailatul qadar dapat diibaratkan sebagai metamorphose spiritual. 
    Kenapa ungkapan-ungkapan Nabi tentang lailatul qadar kok tampak bersifat komunal, kosmologis dalam arti; bahwa lailatul qadar adalah suatu malam yang akan melibatkan semua makhluk yang ada pada saat itu? Jawabannya adalah karena kebijakan nabi dalam mengkomunikasikan ajarannya kepada para sahabatnya. Nabi senantiasa berbicara dengan orang lain sesuai dengan kadar inteligensi orang yang diajak bicara. Pemahaman seperti itulah yang dapat difahami oleh masyarakatnya.
    Tanda-tanda alam yang syahdu, damai dan harmani adalah perasaan si penerima kasyf tersebut (lailatul qadar itu), tidak terjadi secara alamiah yang dapat dilihat dan dirasakan oleh semua orang, yang tidak sedang mengalami pencerahan itu. Karena   kasyf tersebut yang akan menyelaraskan (harmonisasi) psikologis yang bersangkutan sehingga serasa indah alam sekitarnya dan bahkan berubah sama sekali kepribadiannya.
    Lailatul qadar dicari di selama bulan Ramadlan saja, adalah karena bulan Ramadlan merupakan bulan riyadlah (latihan kejiwaan), bagi umat Islam. Ajaran Islam didesain dengan kelengkapan latihan kejiwaan, sebagai upaya harmonisasi integral kepribadian seorang muslim. Puasa Ramadlan dan semua sistem yang ada di bulan Ramadlan, adalah lembaga resmi pembinaan kejiwaan umat Islam, sehingga pada dasarnya latihan kejiwaan seperti di bulan Ramadlan juga dapat di lakukan di luar Ramadlan, demikian juga hasilnya, yakni menerima pencerahan yang disebut lailatul qadar.
    Hampir semua tradisi ketimuran (Hindu,Budha,khong Huchu, Jawa, dll), mengenal tradisi tirakat  (latihan spiritual) untuk mempersiapkan jiwa dan raga menerima tugas dan tanggung jawab sosial yang besar, dengan berbagai macam jenis puasa dan laku. Ada puasa patigeni, puasa mutih, puasa ngalong, ngrowot dan lain-lain. Dengan masa yang berfariasi, 3 hari, 7 hari 41 hari satu tahun dan sebagainya. Dengan menyedikitkan makan,minum, tidur dan sek, serta memperbanyak dzikir dan ibadah kepada Allah.
    Dengan mengamalkan latihan spiritual yang sama dengan apa yang diajarkan oleh Rasullah, dalam rentang waktu yang sama akan memberikan dampak dan efek pencerahan yang tidak jauh berbeda, yakni kasyf nabawi yang akan mampu merubah kepribadian seseorang. Tetapi sudah barang tentu tidak sama kalam kaitannya dengan berbedanya kondisi sosiologis, antara bulan Ramadlon dan bukan bulan ramadlon.
    Kebaikan dan pahala yang sangat besar (lebih baik dari beramal seribu bulan) di luar malam itu, adalah karena beramal dalam keadaan kasyf adalah benar-benar (ikhlas, tulus dan masuk ke alam ketuhanan, maka sudah barang tentu diterima oleh Allah, yang nilainya lebih baik dari pada beramal seribu bulan di luar lailatul qadar, karena amal itu belum tentu diterima oleh Allah. Demikian juga ilmu yang diperoleh pada waktu kasyf itu manfaatnya dalam merubah perilaku dan sikap mental akan lebih baik daripada ilmu yang diperoleh melalui belajar biasa dalam waktu puluhan tahun, sehingga malam itu nilainya lebih baik dari pada seribu bulan.
    Sehingga lailatul qadar dapat analogkan dengan malam menetasnya telur ayam dan bangsa burung, atau malam terjadinya metamorphose kepompongnya berbagai jenis serangga menjadi kupu-kupu dan sebangsanya. Malam perubahan yang sangat drastis, fantastis dan dramatis. Walaupun mungkin juga terjadi di siang hari, tetapi ini sangat jarang. Sehingga tidak dikenal istilah naharul qadar (siang penentuan). 
    Lailatul qadar akan merubah anatomi spiritual manusia, dari bentuk hayawani (kebinatangan), menjadi berbentuk malaikati. Dan dengan berubahnya bentuk anatomi seseorang, maka akan berubah pula makanan dan kegemaran rohaniyahnya. Sebagai    makanan hewani dengan makanan malaikati. Yang semula kegemarannya bersifat materialistic menjadi gemar hal-hal spiritualistic.

    Upaya Mendapatkan Lailatul Qadar yang Produktif
    Agar dapat menggapai lailatul qadar yang lebih produktif, yakni selain mendapat manfaat uhrawi juga mendapat manfaat duniawi atau ijtimai (sosiologis) ka cara-cara konvensional, seperti ngambeng (shadaqah makanan di malam-malam ganjil bulan Ramadlan, itikaf di malam-malam ganjil tersebut dan juga mujahadah di malam-malam tersebut) adalah tidak cukup. Keseriusan puasa dan beramal di bulan Ramadlan tidak hanya pada malam-malam likuran, tetapi sejak awal bulan Ramadlan, bahkan sampai seterusnya.
    Bahkan keseriusan dan kesabaran dalam beribadah puasa di bulan Ramadlan harus di mulai sejak awal bulan Ramadlan, dengan;
    Menjaga syarat rukunnya puasa,
    Menjaga puasa dari hal-halnya yang membatalkan pahalanya puasa,
     Menjaga tujuh anggota tubuh dari maksiat kepada Allah.
    Menjaga hati dari melupakan Allah.
    Menghayati bahwa puasa Ramadlan adalah forum pertapaan bagi umat Islam. 
    Syarat-rukun puasa adalah pengkondisian jiwa dengan meibatkan anggota badan, khususnya yang terkait dengan sumber energi seseorang, yaitu makanan dan minuman serta hubungan seksual. Dengan pembatasan pemenuhan kebutuhan tersebut, jasmani akan mengalami kelemahan dan kreatifitas rohani dan intelek akan menguat.
    Hal-hal yang membatalkan pahalanya puasa adalah sebetulnya esensi dari makna puasa itu, menghindari dan menjaga diri dari hal-hal yang membatalkan pahalanya puasa adalah puasanya jiwa. Dengan melaksanakan pauasanya jiwa, maka jiwa akan cepat mengalami kematangan.
    Demikian juga menjaga anggota tubuh untuk tidak melakukan maksiat kepada Allah Allah adalah puasanya rohani.Dengan konsentrasi dari tiga anggota dasar kemanusiaan jasad, jiwa dan ruh, yang terkonsentrasi dalam taat kepada Allah dan senantiasa mengharap ridlo Allah, maka seseorang akan dapat mengalami pencerahan (kasyf) yang nilainya kebaikannya lebih baik dari seribu bulan.
    Penghayatan bahwa bulan ramadlan adalah bulan pertapaan bagi umat islam adalah sangat penting. Bukan sekedar untuk kepentingan akhirat dan terlepas dari kepentingan duniawi. Konsep Islam bahwa dunia dan akhirat adalah dua alam yang tidak terpisah tetapi satu kesatuan. Semua amaliyah keislaman memiliki manfaat dua dimensi, yakni dunia-akhirat.
    Konsep lailatul qadar yang produktif memiliki dampak dan menjadikan pribadi yang sholih secara spiritual dan sekaligus sholih secara sosial. Pribadi yang mengalami lailatul qadar akan berubah secara psikologis dan performentnya sebagai mana makhluk lain mengalami metamorfose, maka pada diri manusia disebut   metamorphose spiritual.
    Jadi badan spiritualnya-lah yang mengalami metamorphose, maka konsumsi spiritual dan kesenangannya juga mengalami perubahan yang sangat drastis dan fantastis. Sebagamana ulat yang telah berubah menjadi kupu-kupu. Semula ia senang daun muda dan bergerak melata, berupa menjadi senang madu dan bunga-bunga, sedangkan cara geraknya menjadi terbang.
    Orang yang mengalami peristiwa lailatul qadar organ ruhaninya mengalami perubahan struktur maka konsumsi dan tabiatnyapun juga berubah. Yang semula kesukaannya makan daunmuda dan melata di tanah, akan berubah bergerak di  alam angkasa dan makan madu (manisnya peribadatan dan pendekatan diri kehadirat Tuhan).

    Implikasi Kasyf Nabawi Lailatul Qadar atas Perilaku Umat Islam
    Pemahaman dan faham keagamaan sangat besar pengaruhnya terhadap perilaku manusia, kareana memang perilaku adalah operasionalisasi atas pemikiran seseorang, dan pemikiran seseorang terbangun atas dasar pemahaman keagamaan atau idiologi serta filsafat hidup yang dipegangi oleh seseorang. Termasuk diantaranya adalah pemahaman tentang doktrin lailatul qadr. Lailatul qadr dengan pemahaman konfensional yang kosmologis (seolah-olah peristiwa yang melibatkan alam di luar diri manusia), dan massal (mengena  pada semua orang), akan memiliki implikasi yang kurang proggressif. Sedangkan pemahaman yang proggressif dan rasional akan memiliki implikasi positif terhadap prilaku umat islam secara massal. 
    Pemahaman lailatul qadar yang rasional ini akan berimplikasi positif yang sangat besar, setidaknya adanya perubahan perilaku dan sikap mental setelah menunaikan ibadah puasa di bulan Ramadlan. Karena kriteria suksesnya puasa Ramadlan adalah kembalinya kepada fitrah kemalaikatan pada diri manusia.
     Karena jika seseorang mengalami kasyf yang merupakan buah dari keseriusannya dalam beribadah di bulan Ramadlan, maka ia akan memiliki perubahan mentalitas dan moralitas yang baru. Maka ia akan menjadi pribadi baru yang;
    Spiritualis, artinya ia akan sangat peka terhadap isyarat-isyarat spiritual dari Allah swt. Ia adalah pribadi yang dapat merasakan nikmatnya peribadatan dan juga memiliki orientasi ruhaniyah dalam kehidupannya.
    Humanis, artinya ia akan memiliki kepekaan social yang sangat baik. Pribadi humanis adalah pribadi yang sangat peduli terhadap kondisi nasib kemanusiaan, serta memiliki tenggang rasa yang tinggi.
    Harmonis, artinya ia akan menjadi pribadi yang memiliki keseimbangan antara komunikasi vertikal (dengan Allah), dan komunikasi horizontal (dengan sesama manusia). Ia akan dapat memiliki kepribadian think universally (berfikir luas) ackting locally (bertindak lokal). Ia akan memiliki jiwa seni dan ilmu secara seimbang.
    Beretos kerja tinggi, orang yang mendapat pencerahan lailatul qadar, ia kan memiliki semangat berkarya, karena akan memiliki faham bahwa bekerja adalah ibadah, bekerja sesuai dengan profesinya adalah merupakan tugas utama hidup manusia sebagai khalifatullah di muka bumi.
    Dirinya menyadari bahwa hidup adalah tugas untuk beramal yang sebaik-baiknya dan sebanyak-banyaknya.

    Menanti Kedatangan Lailatul Qadar di Siang Hari

    Posted at  04.08  |  in  ramadhan  |  Read More»

    Menanti Kedatangan  Lailatul  Qadar di Siang Hari 
    Oleh; Kharisudin Aqib.

    Sejarah terjadinya Lailatul Qadar
    Lailaitul Qadar terjadi dan dialami oleh Rasulullah saw, pada hari Senin, tanggal 21 Ramadlan, tahun 610 M. ketika beliau bertahannuts, di gua hira yang terus menerus (intensif).menjelang akhir bulan Ramadlan. Dan menjelang akhir malam. Ketika itu Nabi berusia 40 tahun. Tentang tanggal terjadinya, para ahli sejarah terjadi dua kelompok, yaitu kelompok yang berpendapat tanggal 17 Ramadlan, sementara ada yang tanggal 21 Ramadlan (ini yang lebih kuat).
    Tahannuts, adalah berdiam diri di tempat yang sunyi dan jauh dari keramaian manusia, dan nabi melakukannya di gua hira, sebuah gua kecil di atas gunung cahaya (jabal nur), sekitar 5 km arah utara kota Makkah.  Tahannuts ini telah menjadi tradisi para nabi atau pencari kebenaran, bahkan juga masyarakat Arab, jika mereka menghadapi masalah-masalah penting. Untuk mendapatkan solusi dan jalan keluar, mereka melakukan tahannuts di gua-gua yang jauh dari keramaian kota.
    Demikian juga Nabi Muhammad juga telah cukup lama punya kebiasaan melakukan tahannas, dan gua yang dijadikan tempat langganan beliau adalah gua hiro. Sebuah gua yang terletak di puncak jabar nur (sebuah gunung batu yang terletak sekitar 5 km arah utara kota Makkah). Gua ini posisinya sangat bagus, karena di samping tempatnya susah di dapatkan juga kebetulan bentuk dalam gua persisi menyerupai mihrob (pengimaman), dan di arah depannya ada celah yang lurus pandang menuju ke kabah.
    Ketika menjelang malam ke tujuh belas bulan Ramadlan, Nabi sudah merasakan ke anehan-keanehan seperti alam lingkungannya menjadi asri dan bersahabat, bahkan rerumputan dan bebatuan menyalaminyi.  Sampai akhirnya di waktu dini hari, beliau merasakan didatangi oleh seorang laki-laki yang berpakaian serba putih dengan rambut hitam pekat, yaitu Malaikat Jibril.
    Malaikat Jibril itu menyapa beliau dan mengatakan bahwa ia adalah utusan Allah, untuk menyatakan bahwa dia (Muhammad ibn Abdullah), kini diangkat sebagai seorang Nabi (orang yang berhak mendapat akses ke alam rohaniyah).Malaikat intu menunjukkan  selembar kertas yang berisi tulisan dan memerintahkan kepada Nabi Muhammad untuk membacanya, seraya berkata;
    bacalah hai Muhammad sampai diulang tiga kali, nabi tetap menjawab,  saya  tidak bisa membaca. Baru kemudian malaikat tersebut membacakan tulisan yang ada di lembaran tersebut, yaitu kalimat yang ada pada ayat 1-5 surat al-alaq.
    Nabi merasakan didekap oleh orang tersebut sampai nabi merasakan sesak nafas, dan gemetaran, dan kemudian Nabi pulang ke rumah sayyidah Khadijah masih dalam keadaan gemetaran dan  kedinginan, dan minta diselimuti oleh istrinya.

    Ayat-ayat tentang Lailatul Qadar
    Di dalam al-Quran hanya ada tiga term lailatul qadar, yaitu yang terdapat dalam
    surat al-Qadar (97). Dan tidak ada lagi ayat lain yang memuat term tersebut.
    Allah SWT berfirman:
    اِنَّاۤ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ
    وَمَاۤ اَدْرٰٮكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ ۗ
    لَيْلَةُ الْقَدْرِ ۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍ ۗ
    تَنَزَّلُ الْمَلٰٓئِكَةُ وَا لرُّوْحُ فِيْهَا بِاِذْنِ رَبِّهِمْ ۚ مِّنْ كُلِّ اَمْرٍ
    سَلٰمٌ  ۛ هِيَ حَتّٰى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

    "Artinya:
    Sesungguhnya kami telah menurunkannya (al-Quran) pada lailatul qadar, (malam kemuliaan)[1593].
    Dan tahukah kamu apakah lailatul qadar itu?
    Lailatul qadar itu lebih baik dari seribu bulan.
    Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.
    Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.

    [1593]  Malam kemuliaan dikenal dalam bahasa Indonesia dengan malam Lailatul Qadr yaitu suatu malam yang penuh kemuliaan, kebesaran, karena pada malam itu permulaan turunnya al-Quran.



    Hadis Nabi tentang Lailatul Qadar
    Beberapa pernyataan tentang lailatul qadar ini antara lain:
    Abu Hurairah ra berkata: Ketika hampir tiba bulan Ramadlan Rasulullah saw bersabda: Kini telah tiba padamu bulan Ramadlan, bulan yang diberkahi, Allah mewajibkan atas kamu berpuasa, dibuka semua pintu surga, dan ditutup pintu-pintu neraka, dan dibelenggu setan-setan. Di dalam bulan Ramadlan ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, maka siapa yang tidak mendapatkannya berarti kecewa.” (HR. Ahmad dan An-Nasa’i).
    Abu Hurairah berkata:
    قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من قام ليلة القدر ايمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه (رواه البخارى والمسلم).

    Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang bangun di malam lailatul qadar, terdorong karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya di waktu lampau.” (HR. Bukhari-Muslim).
     Aisyah ra berkata: Apabila Nabi memasuki malam-malam akhir (21-23-25-27-29) bulan Ramadlan, dari malam 21-30. Bangun semalaman suntuk dan membangunkan istri-istrinya, dan mengeratkan ikat pinggang. Biasanya Rasulullah saw, lebih rajin ibadahnya pada malam likuran bulan Ramadlan, lebih dari malam-malam lainnya. (HR. Muslim).
    Hari Senin adalah hari lahirku, juga hari aku diutus (karena hari itu turunnya wahyu pertama). (al-Hadits).

    ANALISIS PSIKO-SUFISTIK
     ATAS PERISTIWA LAILATUL QADAR

    Analisis Kebahasaan dan Historis
    Secara kebahasaan dan historis, peristiwa lailatul qadar yang disebutkan dalam ayat 1, 2 dan 3, surat al-Qadar dapat disibak makna dan hakekat apa yang dimaksudkan dengan lailatul qadar, yang cukup misterius dan menjadi teka-teki yang akhirnya menjadi keyakinan yang seringkali terasa dipaksakan, karena tidak rasional. Kita kembali memakai rumus, al-ibrah bi umumil lafazh, laa bi khusushis sabab (makna dari arti umum lafad, bukan arti khusus sebab turunnya ajaran).
    Lailatul qadar terdiri dari dua kata bahasa Arab, lailat/h (malam),  al-qadar (ketentuan, ukuran, penentuan), sehingga lailatul qadar berarti malam ketentuan/malam penentuan. Sedangkan secara istilah, lailatul qadar berarti malam dimana Allah menurunkan para malaikat langit untuk mengurus berbagai persoalan kehidupan yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Sementara pemahaman umum adalah malam dimana Allah akan melipat ganda pahala amal perbuatan manusia sampai bernilai lebih baik dari seribu bulan. Sedangkan makna alternatif adalah suatu malam dimana Allah menentukan keadaan kejiwaan, pemikiran, nasib dan amal seseorang sampai terjadi perubahan pola piker dan sikap mentalnya.
    Secara historis, lailatul qadar terjadi:
    Nabi sudah berumur 40 tahun, umur dimana puncak kecerdasan spiritual mencapai masa klimaksnya yang pertama. Yang biasanya akan terjadi lagi pada umur 50 dan 60 tahun.
    Nabi dalam kondisi dirundung duka memikirkan kerusakan moral masyarakatnya, secara terus menerus memohon petunjuk Allah akan kebenaran jalan hidup yang dapat membimbing masyarakatnya menuju jalan hidup yang benar dan diridlai Allah.
    Nabi dalam keadaan meditasi di gua hira, gua yang terletak di tempat yang sangat sulit dicapai orang, gua ini berbentuk persis menyerupai mihrab (pengimaman mushalla kecil), di tebing gunung hira 20 m dari puncak. Dan kebetulan gua ini membelakangi kabah persis, sehingga orang yang meditasi atau shalat di situ persis menghadap kabah, dan kebetulan lagi dinding belakangnya ada celah yang secara otomatis kabah terlihat dari situ.
    Terjadi akhir bulan Ramadlan antara tanggal 17 dan atau 21 Ramadlan. Waktu dimana riyadlah (tirakat) atau tahannuts sudah dilaksanakan cukup lama. Riyadlah (tirakat), adalah proses pendewasaan spiritual, sebagaimana proses pengeraman telur untuk sebuah penetasan atau proses pengepompongan sehingga terjadinya metamorphose. Maka lailatul qadar ini, mungkin saja terjadi tanggal 17 Ramadlan karena Nabi memulai tahannuts sebelum masuk bulan Ramadlan, atau memang tanggal 21 Ramadlan karena Nabi memang memulai riyadlah awal Ramadlan. 
    Terjadi di akhir malam, menjelang fajar adalah waktu yang paling kondusif untuk terjadinya pencerahan. Karena secara etener waktu tersebut sangat kondusif untuk perjalanan bahasa dan suara batin, seperti;doa-doa, panggilan dan komunikasi batin (telepati), dan lain-lain yang bersifat spiritual, termasuk di dalamnya kemungkinan terjadinya kasyf (pencerahan).
    Nabi merasakan gemetar dan keringat  dingin, sampai pulang ke rumah istrinya. Dan pada kesempatan berikutnya istri Nabi mengajak nabi untuk berkonsultasi kepada rahib (Waraqah ibn Naufal) yang masih paman dari sidi Khadijah. Dan beliau meyakinkan bahwa yang menemui beliau di gua hiro itu adalah namus (jibril), malaikat yang membawa wahyu untuk para Nabi dan Rasulullah.

    Lailatul Qadar adalah Kasyf Nabawi
    Atas dasar analisis interdisipliner tersebut, maka dapat dikatakan, bahwa lailatul qadar adalah jenis kasyf nabawi, baik yang dialami oleh Nabi Muhammad sendiri (pada malam turunnya wahyu pertama), maupun yang dialami oleh umat Islam pada tanggal-tanggal likuran (20-30 Ramadlan), atas ketekunan an ketulusannya dalam menunaikan ibadah puasa adalah jenis kasyf nabawi.
    Karena lailatul qadar adalah termasuk dari jenis kasyf nabawi (positif), maka lailatul qadar adalah peristiwa individual psikologis. Artinya dialami, dirasakan secara perorangan dan bersifat kejiwaan. Bukan peristiwa komunal dan kosmologis sebagaimana pemahaman masyarakat umum. Lailtul qadar adalah pencerahan yang dialami dan dirasakan oleh orang yang menjalani riyadlah (latihan kejiwaan), dengan serius sebagaimana puasa di bulan Ramadlan dengan penuh keimanan dan ketulusan hati.
    Karena Lailatul qadar adalah jenis kasyf nabawi, maka lailatul qadar tidak mungkin dialami oleh orang yang tidak melakukan riyadlah dengan niatan iimanan wahtisaaban dalam waktu yang sudah cukup lama (sekitar 20 harian). Karena lailatul qadar adalah pencerahan agung yang dapat merubah orientasi, motivasi dan sikap mental seseorang sehingga nilainya lebih baik daripada seribu bulan, maka lailatul qadar dapat diibaratkan sebagai metamorphose spiritual. 
    Kenapa ungkapan-ungkapan Nabi tentang lailatul qadar kok tampak bersifat komunal, kosmologis dalam arti; bahwa lailatul qadar adalah suatu malam yang akan melibatkan semua makhluk yang ada pada saat itu? Jawabannya adalah karena kebijakan nabi dalam mengkomunikasikan ajarannya kepada para sahabatnya. Nabi senantiasa berbicara dengan orang lain sesuai dengan kadar inteligensi orang yang diajak bicara. Pemahaman seperti itulah yang dapat difahami oleh masyarakatnya.
    Tanda-tanda alam yang syahdu, damai dan harmani adalah perasaan si penerima kasyf tersebut (lailatul qadar itu), tidak terjadi secara alamiah yang dapat dilihat dan dirasakan oleh semua orang, yang tidak sedang mengalami pencerahan itu. Karena   kasyf tersebut yang akan menyelaraskan (harmonisasi) psikologis yang bersangkutan sehingga serasa indah alam sekitarnya dan bahkan berubah sama sekali kepribadiannya.
    Lailatul qadar dicari di selama bulan Ramadlan saja, adalah karena bulan Ramadlan merupakan bulan riyadlah (latihan kejiwaan), bagi umat Islam. Ajaran Islam didesain dengan kelengkapan latihan kejiwaan, sebagai upaya harmonisasi integral kepribadian seorang muslim. Puasa Ramadlan dan semua sistem yang ada di bulan Ramadlan, adalah lembaga resmi pembinaan kejiwaan umat Islam, sehingga pada dasarnya latihan kejiwaan seperti di bulan Ramadlan juga dapat di lakukan di luar Ramadlan, demikian juga hasilnya, yakni menerima pencerahan yang disebut lailatul qadar.
    Hampir semua tradisi ketimuran (Hindu,Budha,khong Huchu, Jawa, dll), mengenal tradisi tirakat  (latihan spiritual) untuk mempersiapkan jiwa dan raga menerima tugas dan tanggung jawab sosial yang besar, dengan berbagai macam jenis puasa dan laku. Ada puasa patigeni, puasa mutih, puasa ngalong, ngrowot dan lain-lain. Dengan masa yang berfariasi, 3 hari, 7 hari 41 hari satu tahun dan sebagainya. Dengan menyedikitkan makan,minum, tidur dan sek, serta memperbanyak dzikir dan ibadah kepada Allah.
    Dengan mengamalkan latihan spiritual yang sama dengan apa yang diajarkan oleh Rasullah, dalam rentang waktu yang sama akan memberikan dampak dan efek pencerahan yang tidak jauh berbeda, yakni kasyf nabawi yang akan mampu merubah kepribadian seseorang. Tetapi sudah barang tentu tidak sama kalam kaitannya dengan berbedanya kondisi sosiologis, antara bulan Ramadlon dan bukan bulan ramadlon.
    Kebaikan dan pahala yang sangat besar (lebih baik dari beramal seribu bulan) di luar malam itu, adalah karena beramal dalam keadaan kasyf adalah benar-benar (ikhlas, tulus dan masuk ke alam ketuhanan, maka sudah barang tentu diterima oleh Allah, yang nilainya lebih baik dari pada beramal seribu bulan di luar lailatul qadar, karena amal itu belum tentu diterima oleh Allah. Demikian juga ilmu yang diperoleh pada waktu kasyf itu manfaatnya dalam merubah perilaku dan sikap mental akan lebih baik daripada ilmu yang diperoleh melalui belajar biasa dalam waktu puluhan tahun, sehingga malam itu nilainya lebih baik dari pada seribu bulan.
    Sehingga lailatul qadar dapat analogkan dengan malam menetasnya telur ayam dan bangsa burung, atau malam terjadinya metamorphose kepompongnya berbagai jenis serangga menjadi kupu-kupu dan sebangsanya. Malam perubahan yang sangat drastis, fantastis dan dramatis. Walaupun mungkin juga terjadi di siang hari, tetapi ini sangat jarang. Sehingga tidak dikenal istilah naharul qadar (siang penentuan). 
    Lailatul qadar akan merubah anatomi spiritual manusia, dari bentuk hayawani (kebinatangan), menjadi berbentuk malaikati. Dan dengan berubahnya bentuk anatomi seseorang, maka akan berubah pula makanan dan kegemaran rohaniyahnya. Sebagai    makanan hewani dengan makanan malaikati. Yang semula kegemarannya bersifat materialistic menjadi gemar hal-hal spiritualistic.

    Upaya Mendapatkan Lailatul Qadar yang Produktif
    Agar dapat menggapai lailatul qadar yang lebih produktif, yakni selain mendapat manfaat uhrawi juga mendapat manfaat duniawi atau ijtimai (sosiologis) ka cara-cara konvensional, seperti ngambeng (shadaqah makanan di malam-malam ganjil bulan Ramadlan, itikaf di malam-malam ganjil tersebut dan juga mujahadah di malam-malam tersebut) adalah tidak cukup. Keseriusan puasa dan beramal di bulan Ramadlan tidak hanya pada malam-malam likuran, tetapi sejak awal bulan Ramadlan, bahkan sampai seterusnya.
    Bahkan keseriusan dan kesabaran dalam beribadah puasa di bulan Ramadlan harus di mulai sejak awal bulan Ramadlan, dengan;
    Menjaga syarat rukunnya puasa,
    Menjaga puasa dari hal-halnya yang membatalkan pahalanya puasa,
     Menjaga tujuh anggota tubuh dari maksiat kepada Allah.
    Menjaga hati dari melupakan Allah.
    Menghayati bahwa puasa Ramadlan adalah forum pertapaan bagi umat Islam. 
    Syarat-rukun puasa adalah pengkondisian jiwa dengan meibatkan anggota badan, khususnya yang terkait dengan sumber energi seseorang, yaitu makanan dan minuman serta hubungan seksual. Dengan pembatasan pemenuhan kebutuhan tersebut, jasmani akan mengalami kelemahan dan kreatifitas rohani dan intelek akan menguat.
    Hal-hal yang membatalkan pahalanya puasa adalah sebetulnya esensi dari makna puasa itu, menghindari dan menjaga diri dari hal-hal yang membatalkan pahalanya puasa adalah puasanya jiwa. Dengan melaksanakan pauasanya jiwa, maka jiwa akan cepat mengalami kematangan.
    Demikian juga menjaga anggota tubuh untuk tidak melakukan maksiat kepada Allah Allah adalah puasanya rohani.Dengan konsentrasi dari tiga anggota dasar kemanusiaan jasad, jiwa dan ruh, yang terkonsentrasi dalam taat kepada Allah dan senantiasa mengharap ridlo Allah, maka seseorang akan dapat mengalami pencerahan (kasyf) yang nilainya kebaikannya lebih baik dari seribu bulan.
    Penghayatan bahwa bulan ramadlan adalah bulan pertapaan bagi umat islam adalah sangat penting. Bukan sekedar untuk kepentingan akhirat dan terlepas dari kepentingan duniawi. Konsep Islam bahwa dunia dan akhirat adalah dua alam yang tidak terpisah tetapi satu kesatuan. Semua amaliyah keislaman memiliki manfaat dua dimensi, yakni dunia-akhirat.
    Konsep lailatul qadar yang produktif memiliki dampak dan menjadikan pribadi yang sholih secara spiritual dan sekaligus sholih secara sosial. Pribadi yang mengalami lailatul qadar akan berubah secara psikologis dan performentnya sebagai mana makhluk lain mengalami metamorfose, maka pada diri manusia disebut   metamorphose spiritual.
    Jadi badan spiritualnya-lah yang mengalami metamorphose, maka konsumsi spiritual dan kesenangannya juga mengalami perubahan yang sangat drastis dan fantastis. Sebagamana ulat yang telah berubah menjadi kupu-kupu. Semula ia senang daun muda dan bergerak melata, berupa menjadi senang madu dan bunga-bunga, sedangkan cara geraknya menjadi terbang.
    Orang yang mengalami peristiwa lailatul qadar organ ruhaninya mengalami perubahan struktur maka konsumsi dan tabiatnyapun juga berubah. Yang semula kesukaannya makan daunmuda dan melata di tanah, akan berubah bergerak di  alam angkasa dan makan madu (manisnya peribadatan dan pendekatan diri kehadirat Tuhan).

    Implikasi Kasyf Nabawi Lailatul Qadar atas Perilaku Umat Islam
    Pemahaman dan faham keagamaan sangat besar pengaruhnya terhadap perilaku manusia, kareana memang perilaku adalah operasionalisasi atas pemikiran seseorang, dan pemikiran seseorang terbangun atas dasar pemahaman keagamaan atau idiologi serta filsafat hidup yang dipegangi oleh seseorang. Termasuk diantaranya adalah pemahaman tentang doktrin lailatul qadr. Lailatul qadr dengan pemahaman konfensional yang kosmologis (seolah-olah peristiwa yang melibatkan alam di luar diri manusia), dan massal (mengena  pada semua orang), akan memiliki implikasi yang kurang proggressif. Sedangkan pemahaman yang proggressif dan rasional akan memiliki implikasi positif terhadap prilaku umat islam secara massal. 
    Pemahaman lailatul qadar yang rasional ini akan berimplikasi positif yang sangat besar, setidaknya adanya perubahan perilaku dan sikap mental setelah menunaikan ibadah puasa di bulan Ramadlan. Karena kriteria suksesnya puasa Ramadlan adalah kembalinya kepada fitrah kemalaikatan pada diri manusia.
     Karena jika seseorang mengalami kasyf yang merupakan buah dari keseriusannya dalam beribadah di bulan Ramadlan, maka ia akan memiliki perubahan mentalitas dan moralitas yang baru. Maka ia akan menjadi pribadi baru yang;
    Spiritualis, artinya ia akan sangat peka terhadap isyarat-isyarat spiritual dari Allah swt. Ia adalah pribadi yang dapat merasakan nikmatnya peribadatan dan juga memiliki orientasi ruhaniyah dalam kehidupannya.
    Humanis, artinya ia akan memiliki kepekaan social yang sangat baik. Pribadi humanis adalah pribadi yang sangat peduli terhadap kondisi nasib kemanusiaan, serta memiliki tenggang rasa yang tinggi.
    Harmonis, artinya ia akan menjadi pribadi yang memiliki keseimbangan antara komunikasi vertikal (dengan Allah), dan komunikasi horizontal (dengan sesama manusia). Ia akan dapat memiliki kepribadian think universally (berfikir luas) ackting locally (bertindak lokal). Ia akan memiliki jiwa seni dan ilmu secara seimbang.
    Beretos kerja tinggi, orang yang mendapat pencerahan lailatul qadar, ia kan memiliki semangat berkarya, karena akan memiliki faham bahwa bekerja adalah ibadah, bekerja sesuai dengan profesinya adalah merupakan tugas utama hidup manusia sebagai khalifatullah di muka bumi.
    Dirinya menyadari bahwa hidup adalah tugas untuk beramal yang sebaik-baiknya dan sebanyak-banyaknya.

    A. Muqaddimah.
    Umat Islam, khususnya para pemimpin, pada tingkatan dan bidang apapun memiliki figur contoh dan teladan yang sempurna dalam menjalani kehidupan, baik secara pribadi maupun sebagai 'profesional' yaitu seorang anak manusia yang dilahirkan di Padang pasir Saudi Arabia, di kota tua Makkah Al Mukaromah, yang bernama Muhammad bin Abdullah.
    Beliau adalah seorang suami, juga bapak, juga kakek yang sukses merintis karir dan perjuangan mulai dari kerja buruh menggembala kambing orang kaya, buruh menyirami kebun kurma dan anggur, menjualkan dagangan saudagar kaya dan menjadi menejer kafilah dagang ke luar negeri. Sampai akhirnya menjadi seorang nabi, Rasulullah, yang otomatis sebagai kepala agama dan kepala negara sekaligus, yang jaya dan berkuasa penuh. Akhirnya menjadi manusia yang paling berpengaruh di alam semesta.
    Fenomena umat Islam pada dasa Warsa sekarang ini adalah masa yang sangat memprihatinkan, umat terpecah belah dan saling menghancurkan, di antara firqah-firqah dan aliran-aliran politik dan pemikiran. Di berbagai negara Islam yang seharusnya menjadi negara yang aman dan nyaman sebagai mana adanya di zaman kejayaan. Justru kondisinya sangat pilu dan memprihatikan.
    Kondisi seperti ini menimbulkan pertanyaan dalam benak kita, bagaimana peran para pemimpin kita, tidak bisakah mereka kembali membawakan keamanan dan kenyamanan untuk bangsa dan negaranya ? Apakah mereka tidak bisa lagi memprofil diri sebagai mana figur 'sempurna' tuntunan umat Islam yang sempurna lagi bisa menyempurnakan, yaitu Rasulullah Muhammad Saw.
    Tulisan ini sebagai usaha untuk menampilkan gambar figur pemberi solusi untuk semua jenis persoalan, yaitu biografi Kanjeng Nabi Muhammad Saw.
    B. Latar belakang kehidupan Sang Nabi.
    Nabi Muhammad Saw dilahirkan di zaman jahiliah (abad kegelapan), peradaban rimbawi yang berlaku di hampir seluruh penjuru dunia, khususnya di jazirah Arabia. Di hari Senin tanggal 12 robiul Awwal tahun 571 m.
    Tahun diserangnya Ka'bah (untuk dihancurkan) oleh Raja Abrahah dari Afrika, seorang Nasrani yang mendirikan gereja yang megah agar bisa menyaingi popularitas Ka'bah, tetapi tidak terwujud.
    Muhammad bin Abdullah, lahir sudah tidak ketemu dengan bapaknya. Sang ayah (Abdullah) meninggal tatkala beliau masih baru dua bulan di kandungan sang ibu. Selama dua tahun, sang bayi suci itu disusui dan di asuh oleh Ibu Halimah dari suku Bani Sa'ad, suku Arab yang terkenal paling baik budi dan bahasanya. Kemudian diasuh oleh ibundanya sendiri sampai umur 6 tahun. Ibunda sang calon nabi (Aminah), wanita yang sangat amanah ini meninggalkan putra satu-satunya itu pada usia 6 tahun, sebagai praktis Muhammad kecil ini sudah yatim piatu ketika masih umur 6 tahun tersebut. Selanjutnya sang Nabi kecil diasuh oleh kakeknya (Abdul Muthalib), selama dua tahun, dan di bawah asuhan pamannya (Abu Tholib), mulai umur 8 tahun sampai beliau menikah dengan Khadijah binti Khuwailid, seorang janda yang kaya raya, saudagar (ekspor impor).
    Muhammad bin Abdullah, memiliki garis nasab dan silsilah kenabian yang agung dan suci. Melalui bapak dan ibunya, sambung menyambung sampai kepada Nabi Agung Ibrahim sang Abul Anbiya' (bapak para nabi), Melalui Nabi Asmail As. Walaupun hidup di era jahiliah dan kaum penyembah berhala, seluruh jalur lurus dari pihak bapak dan ibunya, serta pengasuhnya terdiri dari orang-orang yang beragama hanif, bersih dan penyembah berhala dan perzinaan. Beliau pernah bersabda "saya punya 500 ibu, semua nya bersih dari perzinaan dan penyembahan berhala". Kakek dan paman yang mengasuh beliau adalah ketua takmir Masjidil haram. Tokoh agama yang paling dihormati di kalangan masyarakat Arab pada saat itu. 

    C. Pendidikan Calon Nabi.
    Muhammad bin Abdullah, sang kandidat Nabi dan Rasulullah Saw juga super leader,  mengalami proses pendidikan kehidupan dan karakter yang sangat berat. Sekalipun tidak dalam bentuk pendidikan formal.
    Masa balita Muhammad pada usia dini dua-tiga hari sampai usia sempurna dua tahun, beliau disusui oleh Ibu Halimah di sebuah kampung suku Sa'ad yang terkenal dengan keaslian bahasa Arabnya. Juga dengan  kehalusan budinya. Ibu Halimah sesuai dengan namanya, beliau juga berkepribadian yang Halim (sederhana, halus Budi lagi santun).
    Penitipan bayi untuk disusukan pada "profesional" dari kalangan orang desa adalah merupakan adat dan tradisi dari masyarakat elit Arab (suku Quraisy) pada saat itu. 
    Di masa pendidikan usia dini (paud) ini dan di bawah susuan dan asuhan Bu Halimah as Sa'diyyah sang calon rasul,  mengalami operasi spiritual (tazkiyatun nafsi) yang pertama, yang dilakukan oleh malaikat Jibril. Ketika Muhammad kecil lagi bermain dengan saudara sesusuan putra Ibu Halimah. Dengan bentuk animasi yang dilihat dan dirasakan oleh beliau seperti dibelah nya dada dan didicucinya jantung hati beliau, serta diisinya dada dengan betu permata dan mutiara. Sehingga beliau semenjak itu telah memiliki jiwa yang bersih dan hikmah dan kearifan yang luar biasa.
    Setelah selesai masa penyusuan, pendidikan sang calon rasul, dilanjutkan oleh ibunya sendiri berada dengan kakeknya. Keduanya sangat sayang kepada Muhammad kecil ini. Siti Aminah, sang ibu adalah penanam pertama dan utama. Sebagai mana namanya sang ibu ini seorang yang sangat amanah, karena itulah pada diri nabi, semenjak kecilnya, sudah populer digelari dengan Al Amin, karena memang beliaulah orang yang paling amanah di muka bumi ini.
    Ibunda ini juga yang mengajarkan berbakti kepada orang tua. Diajaknya beliau berziarah ke makam bapaknya (Abdullah suami Aminah), putra Abdul Muthalib yang paling disayang oleh bapaknya. Di daerah perkampungan antara perjalanan Makkah dan Madinah, di Desa Abwak.  Dan ibunda tercinta ini meninggal dunia dalam perjalanan pulang dari ziarah ini. Sehingga Muhammad kecil ini lengkap menyandang gelar yatim piatu ketika beliau masih berumur delapan tahun. Beliau yang sangat halus budi ini terpukul berat dengan kenyataan ini, bahkan beliau sampai mengalami shock dan sakit panas sampai tak sadarkan diri sekitar 2 atau 3 hari. Dan inilah pelajaran hidup yang paling membekas di dalam jiwa manusia yang paling mulia ini, pelajaran tentang rasa cinta dan kemanusiaan.
    Setelah meninggalnya Ibunda tercinta Muhammad kecil diasuh oleh kakeknya yang sangat mencintainya. Usia beliau pada saat itu baru 6 tahun. Abdul Muthalib, sang kakek ini orangnya sangat bijaksana, beliaulah yang memberi nama cucunda tercinta ini dengan nama yang sangat tepat dan filosofis "Muhammad" yang artinya orang yang terpuji, sebagai bentuk dhohir yang melengkapi nama "azali" nya yang telah diberikan oleh Allah SWT "Ahmad" yang artinya suka memuji atau berkecenderungan di dalam hal-hal yang terpuji.

    Sang kakek inilah yang menorehkan psikologi ke'arifan di dalam jiwa sang Nabinya Akhlak mulia,  yang akhlaknya adalah Al Qur'an. Ditanamkannya dengan penuh cinta kasih, sebagai cucu tercinta yang orang Jawa punya istilah 'gantelane ati" (tambatan hati). Karena sang cucu ini adalah anak dari putra kesayangannya (Abdullah) yang meninggal dunia di usia muda (+-18 tahun), di kala sang calon nabi masih berusia 2 bulan di kandungan ibunya. Muhamad berada di bawah asuhan sang kakek selama dua tahun. Selanjutnya beliau amanahkan langsung dan khusus Muhammad kecil ini kepada putranya yang paling sholih, yang bernama Abu Tholib, paman nabi sekaligus bapaknya sang ksatria agung Ali bin Abi Tholib, karromallaahu wajhahu.
    Semenjak usia 8 tahun, setelah meninggalnya sang kakek, Muhammad kecil berada di bawah asuhan dan pendidikan sang paman "Abu Tholib". Seperti halnya bapaknya, Abu Tholib mengasuh keponakan dengan penuh kasih sayang, sebagai mana mengasuh putra sendiri. Abu Thalib senantiasa mengajarkan kemandirian, tanggung jawab dan sikap kesatria. Dilibatkannya sang keponakan dalam berbagai bentuknya kehidupan. Mulai dari kehidupan rumah tangga, bekerja mencari nafkah, membela suku bangsa,  dan kehidupan beragama.

    Bersambung insya Allah...
     

    Nabi Muhammad Profil Figur Teladan

    Posted at  08.50  |  in  Profil Nabi Muhammad SAW  |  Read More»

    A. Muqaddimah.
    Umat Islam, khususnya para pemimpin, pada tingkatan dan bidang apapun memiliki figur contoh dan teladan yang sempurna dalam menjalani kehidupan, baik secara pribadi maupun sebagai 'profesional' yaitu seorang anak manusia yang dilahirkan di Padang pasir Saudi Arabia, di kota tua Makkah Al Mukaromah, yang bernama Muhammad bin Abdullah.
    Beliau adalah seorang suami, juga bapak, juga kakek yang sukses merintis karir dan perjuangan mulai dari kerja buruh menggembala kambing orang kaya, buruh menyirami kebun kurma dan anggur, menjualkan dagangan saudagar kaya dan menjadi menejer kafilah dagang ke luar negeri. Sampai akhirnya menjadi seorang nabi, Rasulullah, yang otomatis sebagai kepala agama dan kepala negara sekaligus, yang jaya dan berkuasa penuh. Akhirnya menjadi manusia yang paling berpengaruh di alam semesta.
    Fenomena umat Islam pada dasa Warsa sekarang ini adalah masa yang sangat memprihatinkan, umat terpecah belah dan saling menghancurkan, di antara firqah-firqah dan aliran-aliran politik dan pemikiran. Di berbagai negara Islam yang seharusnya menjadi negara yang aman dan nyaman sebagai mana adanya di zaman kejayaan. Justru kondisinya sangat pilu dan memprihatikan.
    Kondisi seperti ini menimbulkan pertanyaan dalam benak kita, bagaimana peran para pemimpin kita, tidak bisakah mereka kembali membawakan keamanan dan kenyamanan untuk bangsa dan negaranya ? Apakah mereka tidak bisa lagi memprofil diri sebagai mana figur 'sempurna' tuntunan umat Islam yang sempurna lagi bisa menyempurnakan, yaitu Rasulullah Muhammad Saw.
    Tulisan ini sebagai usaha untuk menampilkan gambar figur pemberi solusi untuk semua jenis persoalan, yaitu biografi Kanjeng Nabi Muhammad Saw.
    B. Latar belakang kehidupan Sang Nabi.
    Nabi Muhammad Saw dilahirkan di zaman jahiliah (abad kegelapan), peradaban rimbawi yang berlaku di hampir seluruh penjuru dunia, khususnya di jazirah Arabia. Di hari Senin tanggal 12 robiul Awwal tahun 571 m.
    Tahun diserangnya Ka'bah (untuk dihancurkan) oleh Raja Abrahah dari Afrika, seorang Nasrani yang mendirikan gereja yang megah agar bisa menyaingi popularitas Ka'bah, tetapi tidak terwujud.
    Muhammad bin Abdullah, lahir sudah tidak ketemu dengan bapaknya. Sang ayah (Abdullah) meninggal tatkala beliau masih baru dua bulan di kandungan sang ibu. Selama dua tahun, sang bayi suci itu disusui dan di asuh oleh Ibu Halimah dari suku Bani Sa'ad, suku Arab yang terkenal paling baik budi dan bahasanya. Kemudian diasuh oleh ibundanya sendiri sampai umur 6 tahun. Ibunda sang calon nabi (Aminah), wanita yang sangat amanah ini meninggalkan putra satu-satunya itu pada usia 6 tahun, sebagai praktis Muhammad kecil ini sudah yatim piatu ketika masih umur 6 tahun tersebut. Selanjutnya sang Nabi kecil diasuh oleh kakeknya (Abdul Muthalib), selama dua tahun, dan di bawah asuhan pamannya (Abu Tholib), mulai umur 8 tahun sampai beliau menikah dengan Khadijah binti Khuwailid, seorang janda yang kaya raya, saudagar (ekspor impor).
    Muhammad bin Abdullah, memiliki garis nasab dan silsilah kenabian yang agung dan suci. Melalui bapak dan ibunya, sambung menyambung sampai kepada Nabi Agung Ibrahim sang Abul Anbiya' (bapak para nabi), Melalui Nabi Asmail As. Walaupun hidup di era jahiliah dan kaum penyembah berhala, seluruh jalur lurus dari pihak bapak dan ibunya, serta pengasuhnya terdiri dari orang-orang yang beragama hanif, bersih dan penyembah berhala dan perzinaan. Beliau pernah bersabda "saya punya 500 ibu, semua nya bersih dari perzinaan dan penyembahan berhala". Kakek dan paman yang mengasuh beliau adalah ketua takmir Masjidil haram. Tokoh agama yang paling dihormati di kalangan masyarakat Arab pada saat itu. 

    C. Pendidikan Calon Nabi.
    Muhammad bin Abdullah, sang kandidat Nabi dan Rasulullah Saw juga super leader,  mengalami proses pendidikan kehidupan dan karakter yang sangat berat. Sekalipun tidak dalam bentuk pendidikan formal.
    Masa balita Muhammad pada usia dini dua-tiga hari sampai usia sempurna dua tahun, beliau disusui oleh Ibu Halimah di sebuah kampung suku Sa'ad yang terkenal dengan keaslian bahasa Arabnya. Juga dengan  kehalusan budinya. Ibu Halimah sesuai dengan namanya, beliau juga berkepribadian yang Halim (sederhana, halus Budi lagi santun).
    Penitipan bayi untuk disusukan pada "profesional" dari kalangan orang desa adalah merupakan adat dan tradisi dari masyarakat elit Arab (suku Quraisy) pada saat itu. 
    Di masa pendidikan usia dini (paud) ini dan di bawah susuan dan asuhan Bu Halimah as Sa'diyyah sang calon rasul,  mengalami operasi spiritual (tazkiyatun nafsi) yang pertama, yang dilakukan oleh malaikat Jibril. Ketika Muhammad kecil lagi bermain dengan saudara sesusuan putra Ibu Halimah. Dengan bentuk animasi yang dilihat dan dirasakan oleh beliau seperti dibelah nya dada dan didicucinya jantung hati beliau, serta diisinya dada dengan betu permata dan mutiara. Sehingga beliau semenjak itu telah memiliki jiwa yang bersih dan hikmah dan kearifan yang luar biasa.
    Setelah selesai masa penyusuan, pendidikan sang calon rasul, dilanjutkan oleh ibunya sendiri berada dengan kakeknya. Keduanya sangat sayang kepada Muhammad kecil ini. Siti Aminah, sang ibu adalah penanam pertama dan utama. Sebagai mana namanya sang ibu ini seorang yang sangat amanah, karena itulah pada diri nabi, semenjak kecilnya, sudah populer digelari dengan Al Amin, karena memang beliaulah orang yang paling amanah di muka bumi ini.
    Ibunda ini juga yang mengajarkan berbakti kepada orang tua. Diajaknya beliau berziarah ke makam bapaknya (Abdullah suami Aminah), putra Abdul Muthalib yang paling disayang oleh bapaknya. Di daerah perkampungan antara perjalanan Makkah dan Madinah, di Desa Abwak.  Dan ibunda tercinta ini meninggal dunia dalam perjalanan pulang dari ziarah ini. Sehingga Muhammad kecil ini lengkap menyandang gelar yatim piatu ketika beliau masih berumur delapan tahun. Beliau yang sangat halus budi ini terpukul berat dengan kenyataan ini, bahkan beliau sampai mengalami shock dan sakit panas sampai tak sadarkan diri sekitar 2 atau 3 hari. Dan inilah pelajaran hidup yang paling membekas di dalam jiwa manusia yang paling mulia ini, pelajaran tentang rasa cinta dan kemanusiaan.
    Setelah meninggalnya Ibunda tercinta Muhammad kecil diasuh oleh kakeknya yang sangat mencintainya. Usia beliau pada saat itu baru 6 tahun. Abdul Muthalib, sang kakek ini orangnya sangat bijaksana, beliaulah yang memberi nama cucunda tercinta ini dengan nama yang sangat tepat dan filosofis "Muhammad" yang artinya orang yang terpuji, sebagai bentuk dhohir yang melengkapi nama "azali" nya yang telah diberikan oleh Allah SWT "Ahmad" yang artinya suka memuji atau berkecenderungan di dalam hal-hal yang terpuji.

    Sang kakek inilah yang menorehkan psikologi ke'arifan di dalam jiwa sang Nabinya Akhlak mulia,  yang akhlaknya adalah Al Qur'an. Ditanamkannya dengan penuh cinta kasih, sebagai cucu tercinta yang orang Jawa punya istilah 'gantelane ati" (tambatan hati). Karena sang cucu ini adalah anak dari putra kesayangannya (Abdullah) yang meninggal dunia di usia muda (+-18 tahun), di kala sang calon nabi masih berusia 2 bulan di kandungan ibunya. Muhamad berada di bawah asuhan sang kakek selama dua tahun. Selanjutnya beliau amanahkan langsung dan khusus Muhammad kecil ini kepada putranya yang paling sholih, yang bernama Abu Tholib, paman nabi sekaligus bapaknya sang ksatria agung Ali bin Abi Tholib, karromallaahu wajhahu.
    Semenjak usia 8 tahun, setelah meninggalnya sang kakek, Muhammad kecil berada di bawah asuhan dan pendidikan sang paman "Abu Tholib". Seperti halnya bapaknya, Abu Tholib mengasuh keponakan dengan penuh kasih sayang, sebagai mana mengasuh putra sendiri. Abu Thalib senantiasa mengajarkan kemandirian, tanggung jawab dan sikap kesatria. Dilibatkannya sang keponakan dalam berbagai bentuknya kehidupan. Mulai dari kehidupan rumah tangga, bekerja mencari nafkah, membela suku bangsa,  dan kehidupan beragama.

    Bersambung insya Allah...
     

    Belajar Tasawuf dengan Bahasa Milenial
    Oleh: Kharisuddin Aqib

    A. Pengantar
    Tahun 2000-an adalah era milenium ketiga. Era ini didominasi oleh menguatnya peran dan fungsi teknologi informasi, serta filsafat informatika. Sehingga informasi dan ilmu pengetahuan membanjiri semua daratan, lautan dan dirgantara. Dengan informasi antara 'barat' dan 'timur' telah menjadi satu. Dan dengan informasi dunia dan akhirat menjadi satu, serta dengan informasi pula jasmani dan rohani kini telah menjadi satu. Dan informasi itulah ilmu. Sehingga terbuktilah sabda Sang Nabi;
    "Man arodad dun ya, fa'alaihi bil 'ilmi, wa aroodal akhiroh fa'alaihi bil'ilmi, wa man aroda Huma fa'alaihi bil'ilmi". Dan teknologi informasi adalah teknologi untuk mendapatkan, mengembangkan dan menyebarkan ilmu tersebut. Termasuk di dalamnya adalah ilmu keruhanian dalam Islam (TASAWUF).
    Di era milenium ketiga ini barat telah mendapatkan hidayah Allah SWT. Bahkan 'matahari' telah terbit dari barat. Sehingga di era ini kebenaran risalah (surat) yang dibawa oleh para rasul menjadi tampak begitu jelas. Ilmu para nabi seakan - akan bisa kita dapatkan dan kita nikmati. Termasuk di dalamnya ilmu lempit bumi dan lorong waktu (eskatologi).
    Ilmu yang telah diberikan oleh Allah SWT kepada Nabi Adam as masih tersimpan di Baitul Izzah (rumah data), di langit dunia di atas planet bumi. Tekhnologi informasi milinial adalah 'qalam' untuk menuliskan, menggambarkan dan merealisasikan ilmu Allah yang telah diturunkan di alam semesta ini. Yang berupa ilmu dhohir (eksoterik), syariat dan pengetahuan alam semesta. Sedangkan hakekatnya ilmu (bukan tentang ilmu hakekat) atau ilmu keruhanian, atau ilmu tasawuf, sistem transmisinya tetap menggunakan teknologi informasi kenabian, dan tidak bisa diperoleh dengan tekhnologi informatika Milenial. Tetapi keduanya ada kesamaan cara kerja. Sehingga dapat dikatakan, bahwa teknologi informasi Milenial adalah bayangan atau gambaran teknologi informasi kenabian.
    Dan tulisan saya ini,  in syaa'a Allah akan menjelaskan tentang  ilmu tasawuf dengan bahasa atau pendekatan ilmu informatika, sehingga tulisan saya ini bisa dikatakan sebagai Ilmu Mustiko- Informatika.

    B. Istilah Praktis dan Pengertiannya.
    teknologi informasi, serta filsafat informatika. Sehingga informasi dan ilmu pengetahuan membanjiri semua daratan, lautan dan dirgantara. Dengan informasi antara 'barat' dan 'timur' telah menjadi satu. Dan dengan informasi dunia dan akhirat menjadi satu, serta dengan informasi pula jasmani dan rohani kini telah menjadi satu. Dan informasi itulah ilmu. Sehingga terbuktilah sabda Sang Nabi;
      
    Organ Komputer dan Organ Manusia.

    a. Fisik Jasmaniah.
    •  Cessing = pakaian pembungkus dan penghias diri manusia.
    •  Hardware = perangkat keras atau fisikal manusia, seperti otak, kepala, dada,  badan dll.
    •  Des box = kepala, sebagai wadah perangkat keras yang utama.
    •  Prosesor = otak sebagai pemrosesan data pengetahuan dan ketrampilan.
    • Hardisk/SSD = sama juga terletak di otak tapi berfungsi sebagai memori penyimpanan data ingatkan manusia.
    • Desktop = dada sebagai tempat layar tampilan menu, aplikasi,  karakter, Nafs, qalb, ruh dll. Juga kondisi psikologis.
    • Antena dan alat sensor = peralatan panca indera (mata, telinga, lidah, kulit, dan hidung).
    • Alat sistem energi = sistem pencernaan makanan, peredaran darah, dan pernafasan. Juga hormonal.
    b. Perangkat non Fisik dan Ruhaniah.
    • Software = perangkat lunak, atau organ kerohanian, seperti nafs, qalb, ruh dll.
    • Soft being = wujud lembut, atau ruh yang belum bersama dengan jasad.
    • Soft system' = sistem kerja keruhanian menyeluruh di dalam tubuh, atau jiwa atau nafs.
    • Software Aqal = aplikasi kesadaran indrawi neorologis.
    • Software Nafs = .aplikasi keruhanian untuk kesadaran intelektual indrawi, atau disebut Lathifatun nafsu.
    • S.Qalbi = aplikasi sistem kesadaran emosional paling luar, atau disebut Lathifatul qalbi.
    • Software Ruhi = sistem aplikasi kesadaran emosional tingkat dua yang bersifat intuitif, biasa disebut Lathifatur ruhi.
    • Software Sirri = aplikasi sistem kesadaran spiritual tingkat dasar, yang biasa disebut Lathifatus Sirri.
    • Software khofi = sistem kesadaran spiritual tingkat dua, yang biasa disebut Lathifatul khofi.
    • Software Akhfa = aplikasi sistem kesadaran spiritual tingkat tinggi, biasa disebut Lathifatul Akhfa.
    • Softwer Qalab = aplikasi sistem kesadaran menyeluruh (fisikal, intelektual, emosional dan spiritual) sekaligus. Kesadaran ini terkonsentrasi pada otak tengah  (messen cefalon) manusia. Dengan wilayah luar ubun-ubun kepala.

    C. Memahami Sistem Tranmisi Keilmuan.
    Dalam kajian ini (Mustiko Informatika), keilmuan semuanya berasal dari Allah yang maha berilmu (Al 'Alim). Dia memancarkan ilmu-Nya dengan cara emanasi (pancaran), seperti matahari memancarkan sinarnya atau atau lampu memancarkan cahayanya, atau seperti pemancar TV, radio, maupun satelit dan provider memancarkan sinyalnya.
    Allah, sebagai Al Khaliq (Sang pencipta), menciptakan media informasi dan komunikasi untuk semua makhluk atau ciptaannya, berupa alam semesta, berupa taburan dzarrah (partikel cahaya) di seluruh wilayah kekuasaan-Nya (dairotul imkan).
    Allah sebagai Al Mudabbir (desainer) memprogram sistem informasi dan komunikasi. Allah sebagai Al Badi' menghiasi seluruh perangkat alat komunikasi dan informasi dengan sangat indah dan menakjubkan. Allah sebagai Al Kalim mengkomunikasikan informasi dan ilmu, khususnya kepada Sang khalifah (wakil-Nya) di alam semesta, Yakni manusia. Yang merupakan profil figur 'sempurna' sebagai gambaran DIA yang Maha Kuasa. Karena memang manusia diciptakan sebagai gambaran Al-Rahman.
    Pancaran ilmu, energi, dan daya Allah (Al Faydl Al Robbani), melalui dzarrah yang ditransformasikan sebuah energi hidup (bio energy), supra sonik dengan gelombang cahaya super pendek yang sebut malak atau malaikat, yang bersifat spesifik dan profesional dalam tugas dan fungsinya. Mereka para malaikat  sebagai utusan Allah di alam metafisika (alam ghaib), sebagai mana Rasul adalah utusan Allah di alam dunia fisik (alam syahadah).
    Al Faydl Al Robbani ditransformasikan oleh malaikat secara profesional kepada makhluk-Nya yang support sesuai dengan jenis Faydl dan kesesuaian kebutuhan sang makhluk. Dan manusia adalah makhluk yang memiliki antena  tertinggi ('aql) dalam menerima Faydl Robbani yang berupa ilmu. Manusia juga telah dilengkapi oleh Allah SWT hardware keilmuan yang disebut otak dengan lebih satu triliun jaringan seluler biologis. Aktifasi otak manusia, khususnya otak tengah, akan memancarkan sinyal-sinyal biologis sehingga bisa menerima sinyal Faydl Robbani, khususnya yang berupa ilmu dan intuisi (Ilham atau Wahyu). Dengan tafakur (berfikir yang mendalam) dan tadzakur (mengheningkan Sang Pencipta yang mendalam), sinyal kerohaniannya akan memancar keluar terkoneksi dengan Faydl Robbani.

    E. Manusia - manusia ber 'anten' Spiritual.
    Orang-orang yang memiliki sinyal yang aktif pada hakikatnya adalah seorang yang yang memiliki antena spiritual (lubbun, jamaknya albaab). Mereka para pemilik lubbun (Ulul Albab) adalah orang-orang yang memiliki antena spiritual yang aktif. Mereka adalah terdiri dari para nabi, wali (Filosof maupun Sufi), atau para mistikus dan ahli kebatinan.
    Mereka mendapatkan ilmu pengetahuan dengan cara hudluri (menghadirkan ilmu pengetahuan) kepada sinyal yang dipancarkan oleh lubbun (antena spiritual) dari dalam aplikasi keruhanian software ruh (Lathifatur ruhi). Dengan mengheningkan cipta, menyedikitkan makan dan tidur, antena spiritual akan aktif dan menguat. Sehingga sinyalnya akan tersambung dengan sinyal akal ke sepuluh (malaikat Jibril). Berbeda dengan manusia biasa penduduk bumi. Mereka mendapatkan ilmu pengetahuan dengan mempergunakan panca indera dan akal intelektual, serta emosionalnya.
    Sehingga ilmunya disebut ilmu kasbi (usaha fisikal). Sedangkan ilmu pengetahuan yang didapatkan dengan cara hudluri (spiritual), adalah ilmu hikmah (ilmu hakekat atau ilmu filsafat). Sebuah pengetahuan konklusif (induk dan inti pengetahuan) yang dapat diuraikan dengan panjang lebar dengan referensi dan dalil fenomena alam semesta.

    Bagi para Nabi kelas tertinggi (Rasulullah yang Ulul Azmi), maka pengetahuan yang didapatkan bisa jadi sangat detail, riil dan alamiah. Ada yang bersifat seperti video, audio, dan gambar atau bayangan dan cahaya simbolik dan mereka Faham di dalam hatinya. Tetapi kebanyakan yang didapatkan oleh para waliyullah biasa adalah bahasa Ruhani yang berupa intuisi (Ilham)  didapatkan melalui mimpi di waktu tidur. Dan impian yang dialami oleh orang yang sholih adalah bagian dari 60 macam jenis Wahyu kenabian.

    F. Istilah-istilah Praktis Sufistik Informatikal.
    Ada tiga metode agar seorang manusia bisa sambung (wushul atau terkoneksi) dengan Allah SWT,  Yaitu; metode takhalli, tahalli dan tajalli.
    1. Takhalli atau mengosongkan diri atau membersihkan diri (tazkiyatun nafsi atau self scanning), yaitu menghilangkan sifat, perasaan, keinginan dan bahkan pikiran, yang buruk menurut ajaran agama Islam. Baik yang bersifat permanen maupun yang lintasan pikiran saja. Dengan cara menyedikitkan makan, minum dan tidur atau perbuatan lain yang bisa meningkatkan dorongan syahwat (keinginan) dan ghodhob (emosi).
    Atau kegiatan konsentrasi khusus meniadakan ingatan dengan dunia (semua hal yang selain Allah).
    Kegiatan ini akan berdampak pada bersihnya kabel ruhaniah kita, sehingga koneksi dengan Allah akan menjadi semakin jernih dan cepat. Proses Takhliyah atau self scanning terhadap kabel ruhaniah yang terbungkus di dalam badan jasmani kita. Lapisan kabel ruhaniah ini harus dibersihkan terlebih dahulu dari isolator yang menjadi pembungkus nya. Mulai lapisan paling luar (material najis dan hukum najis, hadats,  dosa-dosa, dan penyakit ruhaniah). Proses riil self scanning yang paling efektif adalah dengan dzikrullah, khususnya dzikir Sirri atau dzikir khafi yang difokuskan pada tombol aplikasi ruhaniah tertentu.

    2. Tahalli atau menghiasi diri dengan akhlak dan atau amaliah yang utama  yang disunnahkan oleh Rasulullah.
    Tahalli adalah sebuah metode untuk bisa wushul atau connecting dengan Allah SWT. Tahalli atau menghiasi diri dengan akhlak dan atau amaliah yang utama lagi mulia. Maksudnya seorang salik atau murid (orang yang ingin mendekatkan diri atau menemui Allah), dengan memfokuskan diri dan mengistikomah diri untuk berakhlak dan beramal shaleh, khususnya Amaliah yang telah menjadi Sunnah Rasulullah Saw. Dengan metode tahalli keburukannya juga akan hilangnya, sehingga dia akan dekat dengan Allah dan dicintai oleh Allah, Rasulullah dan juga orang-orang yang shaleh yang ada di sekitarnya. Dengan beramal dan berakhlak mulia secara istiqamah, seorang salik (seorang yang berjalan menuju Allah), akan bersinergi, terkoneksi  dengan Allah yang maha suci dan maha baik. Misalnya, selalu menjaga kesucian diri (daimul wudlu'), selalu sholat Sunnah, selalu qiyamullail dll.
    3. Tajalli, memperjelas diri dengan akhlak Rabbani (akhlak ketuhanan). Tajalli sebenarnya lebih tepat jika anggap sebagai hasil, bukan metode. Yakni, jika seseorang telah menerapkan takhalli dan tahalli, pasti akan tajalli (dia akan berkarakter seperti karakter Allah, seperti arrahman (pengasih), arrahiim (penyayang), Al quds (suci), dll.  Juga dia akan sangat faham akan sifat-sifat dan karakter Allah yang terpancarkan di alam semesta.
    Tetapi tajalli juga dapat digunakan sebagai metode, yaitu usaha maksimal untuk berakhlak mulia secara istiqamah meniru akhlaknya Allah dan rasul-Nya. Dengan demikian seseorang akan bisa merasakan kebersamaannya dengan Allah SWT. Juga menjadi bayangan atau cerminan Allah SWT.

    G. Cara Belajar Tasawuf dalam Tradisi Para Sufi.
    Ilmu tasawuf atau tasawuf sebagai ilmu adalah dalam kategori ilmu praktis artistik (seni) dengan standar rasa (dzauq), bukan praktis scaintifik (ilmiah) dengan standar rasio. Oleh karena itu ilmu tasawuf memiliki paradigma dan tehnik tersendiri dalam tatacara untuk menguasainya. Sebagai mana halnya ilmu kesenian, seperti seni musik, seni lukis dan seni sastra.
    Secara tradisional (Sunnah Rasulullah dan para salafus sholih) adalah sebagai berikut:

    1. Mencari guru pembimbing (Mursyid).
    Berusaha keras dan berdoa (memohon kepada Allah SWT), untuk mendapatkan guru pembimbing. Seseorang yang dapat menuntunnya berjalan di jalan Allah dan menuju kepada-Nya. Sebagai mana para sahabat mencari Rasulullah. Tanpa guru pembimbing sangat dikawatirkan dibimbing oleh hawa nafsu dan setan laknatullaah.
    Guru pembimbing (Mursyid), adalah manusia hidup, yang mendapatkan hak dan mandat dari Mursyid sebelumnya untuk menjadi Mursyid.
    Guru Mursyid bagi para murid ibaratnya seperti repiter (pemancar ulang), sehingga seorang murid mendapatkan sinyal kuat untuk berkomunikasi dengan Allah SWT. Juga bisa diibaratkan sebagai stop kontak yang menjadi colokan listrik, untuk charging untuk mengisi baterai ruhaniahnya. Mursyid juga bisa diibaratkan sebagai imam sholat bagi makmumnya.
    2. Berbai'at di hadapan Guru Mursyid.
    Setelah menemukan guru pembimbing (Mursyid), dengan kreteria umum yang disepakati, memiliki silsilah yang bersambung sampai dengan Rasulullah sebagai Mursyid dan ajarannya tidak bertentangan dengan syariat dan Sunnah Rasulullah. Juga kemantapan pribadi, karena akhlak dan keilmuannya, selanjutnya seorang murid berjanji setia (bai'at) sebagai murid.  Setia untuk ta'at dan setia untuk istiqamah mengamalkan ajarannya. Berbai'at tidak semua secara sharih (jelas dengan kata-kata), seringkali kehadiran di hadapan Guru untuk minta diajari dzikir atau ilmu tasawuf, berarti sudah dianggap bai'at, sehingga diajari dzikrullah. Bai'at ini sangat penting dan menentukan kesuksesan seseorang dalam meniti jalan kehidupan spiritual seseorang, khususnya kenaikan tingkat maqomatnya (kedudukan spiritual).
    Dengan berbai'at seorang telah mengikatkan jiwa atau ruhani kepada jiwa dan Ruhani gurunya. Dia akan berjalan dengan naik dan turun dalam perjalanan Ruhani bersama dengan guru nya. Tanpa bai'at maka tidak ada pertalian resmi diantara keduanya. Sehingga kemungkinan sangat kecil akan terjadi sebuah perjalanan ruhani, juga perubahan Kwalitas akhlak dan keruhaniannya.

    3. Menerima pengajaran dari Guru Mursyid.
    Langkah ketiga dari belajar tasawuf menurut tradisi para sufi adalah menerima pengajaran dari guru mursyid (talqin). Dalam tradisi Jawa disebut "diwejangan".
    Pengajaran guru mursyid (talqin dzikir),  sangat penting bagi seorang murid. Karena talqin atau pengajaran oleh mursyid dapat  dianalogikan sebagai proses install aplikasi dzikir. Dengan talqinnya mursyid, seorang murid bisa berdzikir secara istiqamah. Talqin dzikir secara tradisional ibarat penyulutan api pada sumbu lampu hati kita oleh seseorang yang telah membawa api suci dari Rasulullah.
    Seorang murid harus membuka pintu hatinya untuk menerima pengajaran dari guru mursyidnya, dengan senang hati, cinta kasih dan penuh harap. Bahkan berkeyakinan positif, bahwa tanpa pengajaran dan bimbingan dari guru mursyidnya, dia tidak akan sampai kepada Allah. Talqin juga berfungsi sebagai pembersih kotoran jiwa yang paling keras, juga sebagai pencabut akar akhlak buruk dan penanaman bijih kalimat thoyyibah yang tentunya akan menumbuhkan pohon akhlak  yang terpuji.
    Proses talqin ini harus difoto dan diabadikan di dalam hati atau ingatan seorang murid. Karena foto  guru pembimbing di dalam batin seorang murid adalah ruhaniahnya guru itu sendiri. Sehingga mengingat nya  berarti adalah menyambungnya.
    Tanpa talqin dari sang mursyid seorang murid tidak memiliki bijih kalimat thoyyibah yang bisa menumbuhkan pohon akhlak mulia. Atau seperti orang yang lampu hatinya tidak menyali. Atau seperti orang yang mau membuka hp tetapi tidak mempunyai pass word atau kode pembukanya.

    4. Mengamalkan dan mushohabah dengan Guru Mursyid.
    Langkah selanjutnya metode belajar tasawuf dalam tradisi para sufi adalah mengamalkan ajaran dan mushohabah dengan Guru Mursyidnya. Artinya, seorang murid yang telah diberikan pengajaran atau wejangan atau talqin, selanjutnya harus mengamalkan ajaran mursyidnya dengan yakin, penuh harap dan istiqamah.
    a. Mengamalkan ilmu wejangan dan talqin dari guru mursyidnya.
    Pengamalan ilmu harus sesuai dengan pengajaran dari sang mursyid, persis. Tanpa perubahan dan tafsir sama sekali. Dengan dasar mahabbah (cinta) dan husnudhon (prasangka baik), atas kesempurnaan sang guru. Di samping itu, pengamalan ajaran diperjuangkan untuk bisa istiqamah (komitmen dan konsisten). Presisi dan keistiqomahan dalam pengamalan ajaran sang guru oleh seorang murid akan sangat menentukan keberhasilan seseorang mencapai target pendidikan. Yakni terjadinya perubahan karakter (akhlak) seseorang. Dari akhlak yang tercela (madzmumah) berubah menjadi akhlak yang terpuji (mahmudah). Dengan sistem gradual (bertahap), dari maqab ke maqom yang lebih tinggi, sehingga sempurna sebagai gambaran Al Rohman (shuroti Ar Rahman). Sehingga menjadi bahagia yang hakiki. Jasmani dan rohani, dunia dan akhirat.
    b. Mushohabah dengan Guru Mursyid.
    Murid yang Shodiq (bener), akan mengikuti tradisi para sahabat Rasulullah Saw. Yakni menemani Rasulullah di dalam suka dan dukanya kanjeng rasul. Karena Rasulullah adalah bapak ruhaninya, atau stop kontak tempat nge-charge energi batinnya, atau WiFi dan repiter untuk mendapatkan sinyal ketuhanan yang akan menyambungkan  ruhaninya dengan yang maha kuasa.
    Berdasarkan intensitas hubungan para sahabat dengan Rasulullah, dapat dikelompokkan menjadi empat, kelas, yaitu ; kelas, a, b, c, dan d.
    Kelas a, para sahabat yang menemani Nabi Full Time, bahkan mereka tinggal di serambi masjid Rasulullah, mereka adalah ahlus suffah.
    Kelas b, adalah para sahabat yang selalu menemani sang Rasul setiap pengajian dan jama'ah sholat lima waktu. Mereka berangkat dari rumah masing-masing.
    Kelas c, adalah para sahabat yang menemani sang Rasul ketika beliau dalam kerepotan atau kegiatan perjuangan tertentu saja.
    Kelas d, para sahabat yang menemani sang Rasul hanya pada kegiatan rutin tertentu, mingguan, bulanan atau tahunan.  Bahkan ada yang hanya sekali saja bertemu dengan beliau selama hidupnya. Bagi murid yang Shodiq guru pembimbingnya adalah WiFi dan tipiter  kepanjangan jaringan seluler (silsilah ruhaniah) dari Rasulullah Saw. Sehingga sang murid selalu berusaha untuk mendekatkan diri dan bersama-sama dengan sang mursyid.  Agar kedekatan dan kebersamaan murid terhadap sang guru memberi manfaat yang besar bagi murid (mendapatkan barokah), yang berupa pancaran cahaya ilahi, maka sang murid harus selalu menjaga adab yang baik, sebagai mana para sahabat beradab kepada Rasulullah. Yang secara garis besar adalah hurmat (memuliakan),  ta'dhim (mengagungkan), dan khidmat (melayani), terhadap sang guru dan apa saja yang terkait dengannya. Keluarga, harta benda dan juga kehormatannya. Dengan penuh rasa cinta.

    5. Keutamaan Belajar Tasawuf versi Para Sufi. 
    Belajar ilmu tasawuf dengan metode para sufi, sebagai pelestarian tradisi para sahabat, memiliki manfaat yang besar dan pengaruh yang luar biasa. Dan berbeda dengan belajar dengan metode para ilmuwan atau ulama' yang lain, (metode mengisi dan mengasah kecerdasan intelektual (kognitif). Dengan metode belajar seperti itu, seseorang akan menjadi 'alim (berpengetahuan luas), tetapi tidak bisa menjadi pengamal dan penghayat atas ajaran tasawuf, serta tidak akan bisa merubah karakter atau akhlak seseorang.
    Sebaliknya, dengan metode belajar para sufi, seorang murid akan mengalami proses perubahan karakter yang sangat ekstrim dengan cara bertahap. Serta akan mendapatkan kebahagiaan yang hakiki, yaitu kebahagiaan dunia dan akhirat sekaligus. Material fisikal dan spiritual ruhaniah.
    Dengan belajar mengikuti metode para seorang murid akan mengalami, pengalaman spiritual, perubahan karakter, dan kepuasan hakiki.
    a. Pengalaman spiritual. Murid yang istiqamah dalam melakukan hal-hal yang diajarkan sang guru mursyid, akan mengalami pengalaman spiritual, berupa nikmatnya ibadah, berita dan bimbingan, serta petunjuk Allah melalui mimpi-mimpi maupun isyarat dhohir dari fenomena alam sekitar.
    b. Perubahan karakter
    Dengan belajar tasawuf metode para sufi akan terjadi proses tazkiyatun nafsi (pembersihan jiwa), proses taroqqi (meningkatnya kwalitas akhlak) dan transferensi (duplikasi  akhlak guru dalam diri murid). Ketika terjadi proses tazkiyatun nafsi, secara berangsur-angsur sifat-sifat buruk akan menghilang dan sifat-sifat baik akan muncul sebagai cerminan dari asma-asma Allah yang indah (Al Asma'Al Husna), berangsur-angsur menjadi jelas tampak dalam diri dan kepribadiannya.
    Dari proses tazkiyatun nafsi, sampai terbentuk sebuah karakter yang jelas sebagai petunjuk posisi dirinya di hadapan Allah SWT, yang biasa disebut Maqam. Beberapa maqam yang mesti dilalui oleh seorang murid (maqamat), baik maqam kehambaan (taubat, Zuhud, wara' dll), maupun maqam kekhalifahan ('abdur Rohman, 'abdur Rohim, Abdus salam dst).  secara tertahap akan dimiliki oleh seorang murid yang istiqamah dalam SULUK nya sehingga mencapai kesempurnaan karakter yang mulia sehingga menjadi pribadi yang sempurna (insan Kamil), sebagai mana manusia Rasulullah Saw, Sang Manusia sempurna (Al Insan Al Kamil).

    H.  Suluk, Maqamat dan Ahwal.

    Suluk sebagai konsep dalam ilmu tasawuf adalah sebuah proses sekaligus sebuah sistem pendidikan keruhanian kaum sufi.
    Yang artinya perjalanan serius menuju Allah SWT, dengan Istiqamah menjalani ajaran, wejangan dan talqin guru Mursyid, inilah pengertian umum Suluk.
     Tetapi suluk juga sering diartikan sebagai kholwat (menyepi) di pesantren sang mursyid, melakukan ibadah secara intensif dalam beberapa hari dalam bimbingan langsung sang guru. Inilah pengertian Suluk secara khusus.
    Di dalam program Suluk, baik dalam pengertian umum maupun khusus, Suluk memiliki empat komponen, Yaitu:  Salik (murid), mursyid (guru pembimbing), Amaliah (pengamalan pelajaran dan ajaran), Adab (tata Krama dan aturan dalam kegiatan Suluk). Keberhasilan dalam SULUK sangat terpengaruhi oleh komitmen,  konsistensi dan adab (sikap mental positif seorang murid terhadap sang guru).
    Selama dalam proses Suluk, seorang salik harus selalu Mushohabah dengan guru pembimbingnya; menemani, mentaati, menghormati dan mengistimewakan sang guru. Sedangkan sang guru hendaknya selalu menyayangi, membimbing dan mendoakannya.  Doa, restu dan ridho sang guru adalah kabel penghantar turunnya faidl Robbani ke dalam hati seorang murid sehingga murid bisa wushul kepada Allah.
    MAQAMAT, atau posisi - posisi seorang hamba Allah di hadapan Tuhannya, adalah terwujudkan dalam bentuk akhlak atau karakter permanen yang terbentuk dari istiqamah seorang salik dalam SULUK nya. Karena efek dzikrullah yang sungguh-sungguh dan intensif, maka jiwa bergetar, cair dan berubah wujud sedikit demi sedikit, sehingga terjadi perasaan tertentu (Ahwal), seperti; khauf (takut), roja' (penuh harap), damai, rindu dll. Sehingga terbentuk akhlak yang permanen, seperti; taubat (kembali kepada Allah), Zuhud (tidak terkesan dengan materi), waro' (berhati-hati) dalam kehidupan, sabar (tahan dan setia terhadap hambatan dan rintangan), Syukur (berterimakasih kepada Allah) dll.
    Di samping berbentuk akhlak atau karakter kehambaan tersebut, maqamat juga ada yang karakter yang bersifat ilahiah, karena manusia sebagai khalifatullah fiddunya (Wakil Allah di dunia). Maqamat pada sisi ini adalah karakter cerminan dari asma-asma Allah yang indah (Al Asma' al Husna), seperti; Abdurrahman, Abdurrahim, Abdul Malik dan Abdul Qudus.
    Baik maqam kehambaan maupun maqam kekhalifahan, keduanya, keduanya sama-sama perbuatan atau sikap mental yang telah terasakan mudah, ringan dan bahkan menyenangkan. Karena maqamat berarti memang posisi dan karakter dirinya, bukan perbuatan yang diusahakan dan diperjuangkan. Sehingga beda antara bersabar dengan maqam sabar, bersyukur dengan maqam syukur. Dan sebagainya.
    Sedangkan Ahwal (beberapa kondisi) adalah suasana hati seorang Salik (orang yang lagi Suluk), seperti; khauf (takut,  khawatir dan pesimis terhadap respon Allah) atas keberadaan diri dan ibadahnya. Roja' (penuh harap, mantap dan optimistis), terhadap respon Allah atas keberadaan diri dan amal ibadah. Syauq (rindu), untuk bertemu, bermunajat dan beribadah kepada Allah. Isyq, uns dan lain sebagainya.

    I.  Ikhtitam (penutup).
    Belajar tasawuf, baik ilmu, filsafat, seni dan Amalia pada dasarnya adalah sama saja, yakni dengan cara langsung atau praktek, sebagai mana tradisi para sufi. Baik di era klasik, modern maupun milenial, materi kajian tasawuf adalah sama saja juga,  yang beda adalah bahasa dan filsafat serta dalil-dalil rasionalnya (berbeda-beda). Era Milenial ini tasawuf mendapatkan dalil dan landasan filosofis informatika. Ilmu dan teknologi informasi di era digital pada milenium ketiga ini merupakan perwujudan integrasi antara peradaban barat dan timur. Peradaban barat telah mampu melesaikan dan menggabungkan antara soft material (materi lembut) dan hard material (materi keras) menjadi dua buah perangkat yang bersinergi (software dan hardware) menjadi sebuah teknologi canggih yang disebut komputer. Tekhnologi ini telah mewujudkan 'manusia buatan' dengan cara pandang peradaban timur, yakni manusia yang terdiri dari ruh dan jasad. Ruh sebagai software, dan jasad sebagai hardware.
    Ilmu tasawuf adalah ilmu untuk perawatan software manusia yang disebut ruh atau nafs atau jiwa itu.
    Ilmu tasawuf yang dimiliki oleh penulis adalah anugerah Allah SWT yang diberikan kepadanya melalui para guru mursyidnya, khususnya Syekh KH. Zamroji Saerozi dan Syekh KH. Muhammad Luthfil Hakim Muslih. Beliau berdua menerima dari Syekh KH. Muslih bin Abdurrahman, beliau dari Syekh KH. Abdurrahman Menur, beliau dari Syekh KH.Ibrohim Al Brumbungi, beliau dari Syekh KH Abdul Karim Al Bantani. Syekh Abdul Karim dari Syekh Ahmad Khatib as Sambasi, beliau dari Syekh Syamsuddin, dari Syekh Murod, dari Syekh Abdul Fattah, dari Syekh Usman, dari Syekh Abdurrahim, dari Syekh Abu bakar, dari Syekh Yahya, dari Hisyamuddin, dari Syekh Waliyuddin, Syek Nuruddin, dari Syekh Syarifuddin, dari Syekh Syamsuddin. Beliau dari Syekh Hattaq, dari Syekh Abdul Aziz, dari Syekh Abdul Qodir Jaelani, dari Syekh Abu Sa'id Al Mubarok Al Majzumi, dari Syekh Abdul Hasan Ali Al Karokhi, dari Syekh Abul Farraj Al Turtusi, dari Abdul Wahid Al Tamimi, dari Abu Bakar Al Syibli, dari Syekh Abu Qasim Junaedi Al Baghdadi, dari Syekh Sarri Al Saqathi, dari Syekh Ma'ruf Al Karokhi, dari Sayyid Ali bin Musa Al Ridlo, beliau dari Sayyid Musa Al Kadhim, dari Sayyid Ja'far as Shadiq, dari Sayyid Muhammad Al Baqir, dari Sayyid Zainal Abidin, dari Sayyidina Husain bin Ali, dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib, dari Sayyidina wa Nabiyuna Muhammad Saw, dari Malaikat Jibril as, dari Allah Rabbil'aalamiin.

    Baarokallaah lii wa lakum wa lii saairil muslimiin. Walhamdu lillaahi robbil'aalamiin.

    Kelutan, 7 Mei 2019

    Abdullah Kharisuddin Aqib.

    Belajar Tasawuf dengan Bahasa Milenial.

    Posted at  13.14  |  in  ulul albab  |  Read More»

    Belajar Tasawuf dengan Bahasa Milenial
    Oleh: Kharisuddin Aqib

    A. Pengantar
    Tahun 2000-an adalah era milenium ketiga. Era ini didominasi oleh menguatnya peran dan fungsi teknologi informasi, serta filsafat informatika. Sehingga informasi dan ilmu pengetahuan membanjiri semua daratan, lautan dan dirgantara. Dengan informasi antara 'barat' dan 'timur' telah menjadi satu. Dan dengan informasi dunia dan akhirat menjadi satu, serta dengan informasi pula jasmani dan rohani kini telah menjadi satu. Dan informasi itulah ilmu. Sehingga terbuktilah sabda Sang Nabi;
    "Man arodad dun ya, fa'alaihi bil 'ilmi, wa aroodal akhiroh fa'alaihi bil'ilmi, wa man aroda Huma fa'alaihi bil'ilmi". Dan teknologi informasi adalah teknologi untuk mendapatkan, mengembangkan dan menyebarkan ilmu tersebut. Termasuk di dalamnya adalah ilmu keruhanian dalam Islam (TASAWUF).
    Di era milenium ketiga ini barat telah mendapatkan hidayah Allah SWT. Bahkan 'matahari' telah terbit dari barat. Sehingga di era ini kebenaran risalah (surat) yang dibawa oleh para rasul menjadi tampak begitu jelas. Ilmu para nabi seakan - akan bisa kita dapatkan dan kita nikmati. Termasuk di dalamnya ilmu lempit bumi dan lorong waktu (eskatologi).
    Ilmu yang telah diberikan oleh Allah SWT kepada Nabi Adam as masih tersimpan di Baitul Izzah (rumah data), di langit dunia di atas planet bumi. Tekhnologi informasi milinial adalah 'qalam' untuk menuliskan, menggambarkan dan merealisasikan ilmu Allah yang telah diturunkan di alam semesta ini. Yang berupa ilmu dhohir (eksoterik), syariat dan pengetahuan alam semesta. Sedangkan hakekatnya ilmu (bukan tentang ilmu hakekat) atau ilmu keruhanian, atau ilmu tasawuf, sistem transmisinya tetap menggunakan teknologi informasi kenabian, dan tidak bisa diperoleh dengan tekhnologi informatika Milenial. Tetapi keduanya ada kesamaan cara kerja. Sehingga dapat dikatakan, bahwa teknologi informasi Milenial adalah bayangan atau gambaran teknologi informasi kenabian.
    Dan tulisan saya ini,  in syaa'a Allah akan menjelaskan tentang  ilmu tasawuf dengan bahasa atau pendekatan ilmu informatika, sehingga tulisan saya ini bisa dikatakan sebagai Ilmu Mustiko- Informatika.

    B. Istilah Praktis dan Pengertiannya.
    teknologi informasi, serta filsafat informatika. Sehingga informasi dan ilmu pengetahuan membanjiri semua daratan, lautan dan dirgantara. Dengan informasi antara 'barat' dan 'timur' telah menjadi satu. Dan dengan informasi dunia dan akhirat menjadi satu, serta dengan informasi pula jasmani dan rohani kini telah menjadi satu. Dan informasi itulah ilmu. Sehingga terbuktilah sabda Sang Nabi;
      
    Organ Komputer dan Organ Manusia.

    a. Fisik Jasmaniah.
    •  Cessing = pakaian pembungkus dan penghias diri manusia.
    •  Hardware = perangkat keras atau fisikal manusia, seperti otak, kepala, dada,  badan dll.
    •  Des box = kepala, sebagai wadah perangkat keras yang utama.
    •  Prosesor = otak sebagai pemrosesan data pengetahuan dan ketrampilan.
    • Hardisk/SSD = sama juga terletak di otak tapi berfungsi sebagai memori penyimpanan data ingatkan manusia.
    • Desktop = dada sebagai tempat layar tampilan menu, aplikasi,  karakter, Nafs, qalb, ruh dll. Juga kondisi psikologis.
    • Antena dan alat sensor = peralatan panca indera (mata, telinga, lidah, kulit, dan hidung).
    • Alat sistem energi = sistem pencernaan makanan, peredaran darah, dan pernafasan. Juga hormonal.
    b. Perangkat non Fisik dan Ruhaniah.
    • Software = perangkat lunak, atau organ kerohanian, seperti nafs, qalb, ruh dll.
    • Soft being = wujud lembut, atau ruh yang belum bersama dengan jasad.
    • Soft system' = sistem kerja keruhanian menyeluruh di dalam tubuh, atau jiwa atau nafs.
    • Software Aqal = aplikasi kesadaran indrawi neorologis.
    • Software Nafs = .aplikasi keruhanian untuk kesadaran intelektual indrawi, atau disebut Lathifatun nafsu.
    • S.Qalbi = aplikasi sistem kesadaran emosional paling luar, atau disebut Lathifatul qalbi.
    • Software Ruhi = sistem aplikasi kesadaran emosional tingkat dua yang bersifat intuitif, biasa disebut Lathifatur ruhi.
    • Software Sirri = aplikasi sistem kesadaran spiritual tingkat dasar, yang biasa disebut Lathifatus Sirri.
    • Software khofi = sistem kesadaran spiritual tingkat dua, yang biasa disebut Lathifatul khofi.
    • Software Akhfa = aplikasi sistem kesadaran spiritual tingkat tinggi, biasa disebut Lathifatul Akhfa.
    • Softwer Qalab = aplikasi sistem kesadaran menyeluruh (fisikal, intelektual, emosional dan spiritual) sekaligus. Kesadaran ini terkonsentrasi pada otak tengah  (messen cefalon) manusia. Dengan wilayah luar ubun-ubun kepala.

    C. Memahami Sistem Tranmisi Keilmuan.
    Dalam kajian ini (Mustiko Informatika), keilmuan semuanya berasal dari Allah yang maha berilmu (Al 'Alim). Dia memancarkan ilmu-Nya dengan cara emanasi (pancaran), seperti matahari memancarkan sinarnya atau atau lampu memancarkan cahayanya, atau seperti pemancar TV, radio, maupun satelit dan provider memancarkan sinyalnya.
    Allah, sebagai Al Khaliq (Sang pencipta), menciptakan media informasi dan komunikasi untuk semua makhluk atau ciptaannya, berupa alam semesta, berupa taburan dzarrah (partikel cahaya) di seluruh wilayah kekuasaan-Nya (dairotul imkan).
    Allah sebagai Al Mudabbir (desainer) memprogram sistem informasi dan komunikasi. Allah sebagai Al Badi' menghiasi seluruh perangkat alat komunikasi dan informasi dengan sangat indah dan menakjubkan. Allah sebagai Al Kalim mengkomunikasikan informasi dan ilmu, khususnya kepada Sang khalifah (wakil-Nya) di alam semesta, Yakni manusia. Yang merupakan profil figur 'sempurna' sebagai gambaran DIA yang Maha Kuasa. Karena memang manusia diciptakan sebagai gambaran Al-Rahman.
    Pancaran ilmu, energi, dan daya Allah (Al Faydl Al Robbani), melalui dzarrah yang ditransformasikan sebuah energi hidup (bio energy), supra sonik dengan gelombang cahaya super pendek yang sebut malak atau malaikat, yang bersifat spesifik dan profesional dalam tugas dan fungsinya. Mereka para malaikat  sebagai utusan Allah di alam metafisika (alam ghaib), sebagai mana Rasul adalah utusan Allah di alam dunia fisik (alam syahadah).
    Al Faydl Al Robbani ditransformasikan oleh malaikat secara profesional kepada makhluk-Nya yang support sesuai dengan jenis Faydl dan kesesuaian kebutuhan sang makhluk. Dan manusia adalah makhluk yang memiliki antena  tertinggi ('aql) dalam menerima Faydl Robbani yang berupa ilmu. Manusia juga telah dilengkapi oleh Allah SWT hardware keilmuan yang disebut otak dengan lebih satu triliun jaringan seluler biologis. Aktifasi otak manusia, khususnya otak tengah, akan memancarkan sinyal-sinyal biologis sehingga bisa menerima sinyal Faydl Robbani, khususnya yang berupa ilmu dan intuisi (Ilham atau Wahyu). Dengan tafakur (berfikir yang mendalam) dan tadzakur (mengheningkan Sang Pencipta yang mendalam), sinyal kerohaniannya akan memancar keluar terkoneksi dengan Faydl Robbani.

    E. Manusia - manusia ber 'anten' Spiritual.
    Orang-orang yang memiliki sinyal yang aktif pada hakikatnya adalah seorang yang yang memiliki antena spiritual (lubbun, jamaknya albaab). Mereka para pemilik lubbun (Ulul Albab) adalah orang-orang yang memiliki antena spiritual yang aktif. Mereka adalah terdiri dari para nabi, wali (Filosof maupun Sufi), atau para mistikus dan ahli kebatinan.
    Mereka mendapatkan ilmu pengetahuan dengan cara hudluri (menghadirkan ilmu pengetahuan) kepada sinyal yang dipancarkan oleh lubbun (antena spiritual) dari dalam aplikasi keruhanian software ruh (Lathifatur ruhi). Dengan mengheningkan cipta, menyedikitkan makan dan tidur, antena spiritual akan aktif dan menguat. Sehingga sinyalnya akan tersambung dengan sinyal akal ke sepuluh (malaikat Jibril). Berbeda dengan manusia biasa penduduk bumi. Mereka mendapatkan ilmu pengetahuan dengan mempergunakan panca indera dan akal intelektual, serta emosionalnya.
    Sehingga ilmunya disebut ilmu kasbi (usaha fisikal). Sedangkan ilmu pengetahuan yang didapatkan dengan cara hudluri (spiritual), adalah ilmu hikmah (ilmu hakekat atau ilmu filsafat). Sebuah pengetahuan konklusif (induk dan inti pengetahuan) yang dapat diuraikan dengan panjang lebar dengan referensi dan dalil fenomena alam semesta.

    Bagi para Nabi kelas tertinggi (Rasulullah yang Ulul Azmi), maka pengetahuan yang didapatkan bisa jadi sangat detail, riil dan alamiah. Ada yang bersifat seperti video, audio, dan gambar atau bayangan dan cahaya simbolik dan mereka Faham di dalam hatinya. Tetapi kebanyakan yang didapatkan oleh para waliyullah biasa adalah bahasa Ruhani yang berupa intuisi (Ilham)  didapatkan melalui mimpi di waktu tidur. Dan impian yang dialami oleh orang yang sholih adalah bagian dari 60 macam jenis Wahyu kenabian.

    F. Istilah-istilah Praktis Sufistik Informatikal.
    Ada tiga metode agar seorang manusia bisa sambung (wushul atau terkoneksi) dengan Allah SWT,  Yaitu; metode takhalli, tahalli dan tajalli.
    1. Takhalli atau mengosongkan diri atau membersihkan diri (tazkiyatun nafsi atau self scanning), yaitu menghilangkan sifat, perasaan, keinginan dan bahkan pikiran, yang buruk menurut ajaran agama Islam. Baik yang bersifat permanen maupun yang lintasan pikiran saja. Dengan cara menyedikitkan makan, minum dan tidur atau perbuatan lain yang bisa meningkatkan dorongan syahwat (keinginan) dan ghodhob (emosi).
    Atau kegiatan konsentrasi khusus meniadakan ingatan dengan dunia (semua hal yang selain Allah).
    Kegiatan ini akan berdampak pada bersihnya kabel ruhaniah kita, sehingga koneksi dengan Allah akan menjadi semakin jernih dan cepat. Proses Takhliyah atau self scanning terhadap kabel ruhaniah yang terbungkus di dalam badan jasmani kita. Lapisan kabel ruhaniah ini harus dibersihkan terlebih dahulu dari isolator yang menjadi pembungkus nya. Mulai lapisan paling luar (material najis dan hukum najis, hadats,  dosa-dosa, dan penyakit ruhaniah). Proses riil self scanning yang paling efektif adalah dengan dzikrullah, khususnya dzikir Sirri atau dzikir khafi yang difokuskan pada tombol aplikasi ruhaniah tertentu.

    2. Tahalli atau menghiasi diri dengan akhlak dan atau amaliah yang utama  yang disunnahkan oleh Rasulullah.
    Tahalli adalah sebuah metode untuk bisa wushul atau connecting dengan Allah SWT. Tahalli atau menghiasi diri dengan akhlak dan atau amaliah yang utama lagi mulia. Maksudnya seorang salik atau murid (orang yang ingin mendekatkan diri atau menemui Allah), dengan memfokuskan diri dan mengistikomah diri untuk berakhlak dan beramal shaleh, khususnya Amaliah yang telah menjadi Sunnah Rasulullah Saw. Dengan metode tahalli keburukannya juga akan hilangnya, sehingga dia akan dekat dengan Allah dan dicintai oleh Allah, Rasulullah dan juga orang-orang yang shaleh yang ada di sekitarnya. Dengan beramal dan berakhlak mulia secara istiqamah, seorang salik (seorang yang berjalan menuju Allah), akan bersinergi, terkoneksi  dengan Allah yang maha suci dan maha baik. Misalnya, selalu menjaga kesucian diri (daimul wudlu'), selalu sholat Sunnah, selalu qiyamullail dll.
    3. Tajalli, memperjelas diri dengan akhlak Rabbani (akhlak ketuhanan). Tajalli sebenarnya lebih tepat jika anggap sebagai hasil, bukan metode. Yakni, jika seseorang telah menerapkan takhalli dan tahalli, pasti akan tajalli (dia akan berkarakter seperti karakter Allah, seperti arrahman (pengasih), arrahiim (penyayang), Al quds (suci), dll.  Juga dia akan sangat faham akan sifat-sifat dan karakter Allah yang terpancarkan di alam semesta.
    Tetapi tajalli juga dapat digunakan sebagai metode, yaitu usaha maksimal untuk berakhlak mulia secara istiqamah meniru akhlaknya Allah dan rasul-Nya. Dengan demikian seseorang akan bisa merasakan kebersamaannya dengan Allah SWT. Juga menjadi bayangan atau cerminan Allah SWT.

    G. Cara Belajar Tasawuf dalam Tradisi Para Sufi.
    Ilmu tasawuf atau tasawuf sebagai ilmu adalah dalam kategori ilmu praktis artistik (seni) dengan standar rasa (dzauq), bukan praktis scaintifik (ilmiah) dengan standar rasio. Oleh karena itu ilmu tasawuf memiliki paradigma dan tehnik tersendiri dalam tatacara untuk menguasainya. Sebagai mana halnya ilmu kesenian, seperti seni musik, seni lukis dan seni sastra.
    Secara tradisional (Sunnah Rasulullah dan para salafus sholih) adalah sebagai berikut:

    1. Mencari guru pembimbing (Mursyid).
    Berusaha keras dan berdoa (memohon kepada Allah SWT), untuk mendapatkan guru pembimbing. Seseorang yang dapat menuntunnya berjalan di jalan Allah dan menuju kepada-Nya. Sebagai mana para sahabat mencari Rasulullah. Tanpa guru pembimbing sangat dikawatirkan dibimbing oleh hawa nafsu dan setan laknatullaah.
    Guru pembimbing (Mursyid), adalah manusia hidup, yang mendapatkan hak dan mandat dari Mursyid sebelumnya untuk menjadi Mursyid.
    Guru Mursyid bagi para murid ibaratnya seperti repiter (pemancar ulang), sehingga seorang murid mendapatkan sinyal kuat untuk berkomunikasi dengan Allah SWT. Juga bisa diibaratkan sebagai stop kontak yang menjadi colokan listrik, untuk charging untuk mengisi baterai ruhaniahnya. Mursyid juga bisa diibaratkan sebagai imam sholat bagi makmumnya.
    2. Berbai'at di hadapan Guru Mursyid.
    Setelah menemukan guru pembimbing (Mursyid), dengan kreteria umum yang disepakati, memiliki silsilah yang bersambung sampai dengan Rasulullah sebagai Mursyid dan ajarannya tidak bertentangan dengan syariat dan Sunnah Rasulullah. Juga kemantapan pribadi, karena akhlak dan keilmuannya, selanjutnya seorang murid berjanji setia (bai'at) sebagai murid.  Setia untuk ta'at dan setia untuk istiqamah mengamalkan ajarannya. Berbai'at tidak semua secara sharih (jelas dengan kata-kata), seringkali kehadiran di hadapan Guru untuk minta diajari dzikir atau ilmu tasawuf, berarti sudah dianggap bai'at, sehingga diajari dzikrullah. Bai'at ini sangat penting dan menentukan kesuksesan seseorang dalam meniti jalan kehidupan spiritual seseorang, khususnya kenaikan tingkat maqomatnya (kedudukan spiritual).
    Dengan berbai'at seorang telah mengikatkan jiwa atau ruhani kepada jiwa dan Ruhani gurunya. Dia akan berjalan dengan naik dan turun dalam perjalanan Ruhani bersama dengan guru nya. Tanpa bai'at maka tidak ada pertalian resmi diantara keduanya. Sehingga kemungkinan sangat kecil akan terjadi sebuah perjalanan ruhani, juga perubahan Kwalitas akhlak dan keruhaniannya.

    3. Menerima pengajaran dari Guru Mursyid.
    Langkah ketiga dari belajar tasawuf menurut tradisi para sufi adalah menerima pengajaran dari guru mursyid (talqin). Dalam tradisi Jawa disebut "diwejangan".
    Pengajaran guru mursyid (talqin dzikir),  sangat penting bagi seorang murid. Karena talqin atau pengajaran oleh mursyid dapat  dianalogikan sebagai proses install aplikasi dzikir. Dengan talqinnya mursyid, seorang murid bisa berdzikir secara istiqamah. Talqin dzikir secara tradisional ibarat penyulutan api pada sumbu lampu hati kita oleh seseorang yang telah membawa api suci dari Rasulullah.
    Seorang murid harus membuka pintu hatinya untuk menerima pengajaran dari guru mursyidnya, dengan senang hati, cinta kasih dan penuh harap. Bahkan berkeyakinan positif, bahwa tanpa pengajaran dan bimbingan dari guru mursyidnya, dia tidak akan sampai kepada Allah. Talqin juga berfungsi sebagai pembersih kotoran jiwa yang paling keras, juga sebagai pencabut akar akhlak buruk dan penanaman bijih kalimat thoyyibah yang tentunya akan menumbuhkan pohon akhlak  yang terpuji.
    Proses talqin ini harus difoto dan diabadikan di dalam hati atau ingatan seorang murid. Karena foto  guru pembimbing di dalam batin seorang murid adalah ruhaniahnya guru itu sendiri. Sehingga mengingat nya  berarti adalah menyambungnya.
    Tanpa talqin dari sang mursyid seorang murid tidak memiliki bijih kalimat thoyyibah yang bisa menumbuhkan pohon akhlak mulia. Atau seperti orang yang lampu hatinya tidak menyali. Atau seperti orang yang mau membuka hp tetapi tidak mempunyai pass word atau kode pembukanya.

    4. Mengamalkan dan mushohabah dengan Guru Mursyid.
    Langkah selanjutnya metode belajar tasawuf dalam tradisi para sufi adalah mengamalkan ajaran dan mushohabah dengan Guru Mursyidnya. Artinya, seorang murid yang telah diberikan pengajaran atau wejangan atau talqin, selanjutnya harus mengamalkan ajaran mursyidnya dengan yakin, penuh harap dan istiqamah.
    a. Mengamalkan ilmu wejangan dan talqin dari guru mursyidnya.
    Pengamalan ilmu harus sesuai dengan pengajaran dari sang mursyid, persis. Tanpa perubahan dan tafsir sama sekali. Dengan dasar mahabbah (cinta) dan husnudhon (prasangka baik), atas kesempurnaan sang guru. Di samping itu, pengamalan ajaran diperjuangkan untuk bisa istiqamah (komitmen dan konsisten). Presisi dan keistiqomahan dalam pengamalan ajaran sang guru oleh seorang murid akan sangat menentukan keberhasilan seseorang mencapai target pendidikan. Yakni terjadinya perubahan karakter (akhlak) seseorang. Dari akhlak yang tercela (madzmumah) berubah menjadi akhlak yang terpuji (mahmudah). Dengan sistem gradual (bertahap), dari maqab ke maqom yang lebih tinggi, sehingga sempurna sebagai gambaran Al Rohman (shuroti Ar Rahman). Sehingga menjadi bahagia yang hakiki. Jasmani dan rohani, dunia dan akhirat.
    b. Mushohabah dengan Guru Mursyid.
    Murid yang Shodiq (bener), akan mengikuti tradisi para sahabat Rasulullah Saw. Yakni menemani Rasulullah di dalam suka dan dukanya kanjeng rasul. Karena Rasulullah adalah bapak ruhaninya, atau stop kontak tempat nge-charge energi batinnya, atau WiFi dan repiter untuk mendapatkan sinyal ketuhanan yang akan menyambungkan  ruhaninya dengan yang maha kuasa.
    Berdasarkan intensitas hubungan para sahabat dengan Rasulullah, dapat dikelompokkan menjadi empat, kelas, yaitu ; kelas, a, b, c, dan d.
    Kelas a, para sahabat yang menemani Nabi Full Time, bahkan mereka tinggal di serambi masjid Rasulullah, mereka adalah ahlus suffah.
    Kelas b, adalah para sahabat yang selalu menemani sang Rasul setiap pengajian dan jama'ah sholat lima waktu. Mereka berangkat dari rumah masing-masing.
    Kelas c, adalah para sahabat yang menemani sang Rasul ketika beliau dalam kerepotan atau kegiatan perjuangan tertentu saja.
    Kelas d, para sahabat yang menemani sang Rasul hanya pada kegiatan rutin tertentu, mingguan, bulanan atau tahunan.  Bahkan ada yang hanya sekali saja bertemu dengan beliau selama hidupnya. Bagi murid yang Shodiq guru pembimbingnya adalah WiFi dan tipiter  kepanjangan jaringan seluler (silsilah ruhaniah) dari Rasulullah Saw. Sehingga sang murid selalu berusaha untuk mendekatkan diri dan bersama-sama dengan sang mursyid.  Agar kedekatan dan kebersamaan murid terhadap sang guru memberi manfaat yang besar bagi murid (mendapatkan barokah), yang berupa pancaran cahaya ilahi, maka sang murid harus selalu menjaga adab yang baik, sebagai mana para sahabat beradab kepada Rasulullah. Yang secara garis besar adalah hurmat (memuliakan),  ta'dhim (mengagungkan), dan khidmat (melayani), terhadap sang guru dan apa saja yang terkait dengannya. Keluarga, harta benda dan juga kehormatannya. Dengan penuh rasa cinta.

    5. Keutamaan Belajar Tasawuf versi Para Sufi. 
    Belajar ilmu tasawuf dengan metode para sufi, sebagai pelestarian tradisi para sahabat, memiliki manfaat yang besar dan pengaruh yang luar biasa. Dan berbeda dengan belajar dengan metode para ilmuwan atau ulama' yang lain, (metode mengisi dan mengasah kecerdasan intelektual (kognitif). Dengan metode belajar seperti itu, seseorang akan menjadi 'alim (berpengetahuan luas), tetapi tidak bisa menjadi pengamal dan penghayat atas ajaran tasawuf, serta tidak akan bisa merubah karakter atau akhlak seseorang.
    Sebaliknya, dengan metode belajar para sufi, seorang murid akan mengalami proses perubahan karakter yang sangat ekstrim dengan cara bertahap. Serta akan mendapatkan kebahagiaan yang hakiki, yaitu kebahagiaan dunia dan akhirat sekaligus. Material fisikal dan spiritual ruhaniah.
    Dengan belajar mengikuti metode para seorang murid akan mengalami, pengalaman spiritual, perubahan karakter, dan kepuasan hakiki.
    a. Pengalaman spiritual. Murid yang istiqamah dalam melakukan hal-hal yang diajarkan sang guru mursyid, akan mengalami pengalaman spiritual, berupa nikmatnya ibadah, berita dan bimbingan, serta petunjuk Allah melalui mimpi-mimpi maupun isyarat dhohir dari fenomena alam sekitar.
    b. Perubahan karakter
    Dengan belajar tasawuf metode para sufi akan terjadi proses tazkiyatun nafsi (pembersihan jiwa), proses taroqqi (meningkatnya kwalitas akhlak) dan transferensi (duplikasi  akhlak guru dalam diri murid). Ketika terjadi proses tazkiyatun nafsi, secara berangsur-angsur sifat-sifat buruk akan menghilang dan sifat-sifat baik akan muncul sebagai cerminan dari asma-asma Allah yang indah (Al Asma'Al Husna), berangsur-angsur menjadi jelas tampak dalam diri dan kepribadiannya.
    Dari proses tazkiyatun nafsi, sampai terbentuk sebuah karakter yang jelas sebagai petunjuk posisi dirinya di hadapan Allah SWT, yang biasa disebut Maqam. Beberapa maqam yang mesti dilalui oleh seorang murid (maqamat), baik maqam kehambaan (taubat, Zuhud, wara' dll), maupun maqam kekhalifahan ('abdur Rohman, 'abdur Rohim, Abdus salam dst).  secara tertahap akan dimiliki oleh seorang murid yang istiqamah dalam SULUK nya sehingga mencapai kesempurnaan karakter yang mulia sehingga menjadi pribadi yang sempurna (insan Kamil), sebagai mana manusia Rasulullah Saw, Sang Manusia sempurna (Al Insan Al Kamil).

    H.  Suluk, Maqamat dan Ahwal.

    Suluk sebagai konsep dalam ilmu tasawuf adalah sebuah proses sekaligus sebuah sistem pendidikan keruhanian kaum sufi.
    Yang artinya perjalanan serius menuju Allah SWT, dengan Istiqamah menjalani ajaran, wejangan dan talqin guru Mursyid, inilah pengertian umum Suluk.
     Tetapi suluk juga sering diartikan sebagai kholwat (menyepi) di pesantren sang mursyid, melakukan ibadah secara intensif dalam beberapa hari dalam bimbingan langsung sang guru. Inilah pengertian Suluk secara khusus.
    Di dalam program Suluk, baik dalam pengertian umum maupun khusus, Suluk memiliki empat komponen, Yaitu:  Salik (murid), mursyid (guru pembimbing), Amaliah (pengamalan pelajaran dan ajaran), Adab (tata Krama dan aturan dalam kegiatan Suluk). Keberhasilan dalam SULUK sangat terpengaruhi oleh komitmen,  konsistensi dan adab (sikap mental positif seorang murid terhadap sang guru).
    Selama dalam proses Suluk, seorang salik harus selalu Mushohabah dengan guru pembimbingnya; menemani, mentaati, menghormati dan mengistimewakan sang guru. Sedangkan sang guru hendaknya selalu menyayangi, membimbing dan mendoakannya.  Doa, restu dan ridho sang guru adalah kabel penghantar turunnya faidl Robbani ke dalam hati seorang murid sehingga murid bisa wushul kepada Allah.
    MAQAMAT, atau posisi - posisi seorang hamba Allah di hadapan Tuhannya, adalah terwujudkan dalam bentuk akhlak atau karakter permanen yang terbentuk dari istiqamah seorang salik dalam SULUK nya. Karena efek dzikrullah yang sungguh-sungguh dan intensif, maka jiwa bergetar, cair dan berubah wujud sedikit demi sedikit, sehingga terjadi perasaan tertentu (Ahwal), seperti; khauf (takut), roja' (penuh harap), damai, rindu dll. Sehingga terbentuk akhlak yang permanen, seperti; taubat (kembali kepada Allah), Zuhud (tidak terkesan dengan materi), waro' (berhati-hati) dalam kehidupan, sabar (tahan dan setia terhadap hambatan dan rintangan), Syukur (berterimakasih kepada Allah) dll.
    Di samping berbentuk akhlak atau karakter kehambaan tersebut, maqamat juga ada yang karakter yang bersifat ilahiah, karena manusia sebagai khalifatullah fiddunya (Wakil Allah di dunia). Maqamat pada sisi ini adalah karakter cerminan dari asma-asma Allah yang indah (Al Asma' al Husna), seperti; Abdurrahman, Abdurrahim, Abdul Malik dan Abdul Qudus.
    Baik maqam kehambaan maupun maqam kekhalifahan, keduanya, keduanya sama-sama perbuatan atau sikap mental yang telah terasakan mudah, ringan dan bahkan menyenangkan. Karena maqamat berarti memang posisi dan karakter dirinya, bukan perbuatan yang diusahakan dan diperjuangkan. Sehingga beda antara bersabar dengan maqam sabar, bersyukur dengan maqam syukur. Dan sebagainya.
    Sedangkan Ahwal (beberapa kondisi) adalah suasana hati seorang Salik (orang yang lagi Suluk), seperti; khauf (takut,  khawatir dan pesimis terhadap respon Allah) atas keberadaan diri dan ibadahnya. Roja' (penuh harap, mantap dan optimistis), terhadap respon Allah atas keberadaan diri dan amal ibadah. Syauq (rindu), untuk bertemu, bermunajat dan beribadah kepada Allah. Isyq, uns dan lain sebagainya.

    I.  Ikhtitam (penutup).
    Belajar tasawuf, baik ilmu, filsafat, seni dan Amalia pada dasarnya adalah sama saja, yakni dengan cara langsung atau praktek, sebagai mana tradisi para sufi. Baik di era klasik, modern maupun milenial, materi kajian tasawuf adalah sama saja juga,  yang beda adalah bahasa dan filsafat serta dalil-dalil rasionalnya (berbeda-beda). Era Milenial ini tasawuf mendapatkan dalil dan landasan filosofis informatika. Ilmu dan teknologi informasi di era digital pada milenium ketiga ini merupakan perwujudan integrasi antara peradaban barat dan timur. Peradaban barat telah mampu melesaikan dan menggabungkan antara soft material (materi lembut) dan hard material (materi keras) menjadi dua buah perangkat yang bersinergi (software dan hardware) menjadi sebuah teknologi canggih yang disebut komputer. Tekhnologi ini telah mewujudkan 'manusia buatan' dengan cara pandang peradaban timur, yakni manusia yang terdiri dari ruh dan jasad. Ruh sebagai software, dan jasad sebagai hardware.
    Ilmu tasawuf adalah ilmu untuk perawatan software manusia yang disebut ruh atau nafs atau jiwa itu.
    Ilmu tasawuf yang dimiliki oleh penulis adalah anugerah Allah SWT yang diberikan kepadanya melalui para guru mursyidnya, khususnya Syekh KH. Zamroji Saerozi dan Syekh KH. Muhammad Luthfil Hakim Muslih. Beliau berdua menerima dari Syekh KH. Muslih bin Abdurrahman, beliau dari Syekh KH. Abdurrahman Menur, beliau dari Syekh KH.Ibrohim Al Brumbungi, beliau dari Syekh KH Abdul Karim Al Bantani. Syekh Abdul Karim dari Syekh Ahmad Khatib as Sambasi, beliau dari Syekh Syamsuddin, dari Syekh Murod, dari Syekh Abdul Fattah, dari Syekh Usman, dari Syekh Abdurrahim, dari Syekh Abu bakar, dari Syekh Yahya, dari Hisyamuddin, dari Syekh Waliyuddin, Syek Nuruddin, dari Syekh Syarifuddin, dari Syekh Syamsuddin. Beliau dari Syekh Hattaq, dari Syekh Abdul Aziz, dari Syekh Abdul Qodir Jaelani, dari Syekh Abu Sa'id Al Mubarok Al Majzumi, dari Syekh Abdul Hasan Ali Al Karokhi, dari Syekh Abul Farraj Al Turtusi, dari Abdul Wahid Al Tamimi, dari Abu Bakar Al Syibli, dari Syekh Abu Qasim Junaedi Al Baghdadi, dari Syekh Sarri Al Saqathi, dari Syekh Ma'ruf Al Karokhi, dari Sayyid Ali bin Musa Al Ridlo, beliau dari Sayyid Musa Al Kadhim, dari Sayyid Ja'far as Shadiq, dari Sayyid Muhammad Al Baqir, dari Sayyid Zainal Abidin, dari Sayyidina Husain bin Ali, dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib, dari Sayyidina wa Nabiyuna Muhammad Saw, dari Malaikat Jibril as, dari Allah Rabbil'aalamiin.

    Baarokallaah lii wa lakum wa lii saairil muslimiin. Walhamdu lillaahi robbil'aalamiin.

    Kelutan, 7 Mei 2019

    Abdullah Kharisuddin Aqib.

    Tentang Kami-Pendaftaran-Contact
    Copyright © 2013 Pondok Pesantren - DARU ULIL ALBAB. Blogger Template by BloggerTheme9
    Proudly Powered by Blogger.
    back to top