• Profil

    Pesantren Terpadu Daru Ulil Albab

  • INFORMASI PENDAFTARAN SANTRI BARU

  • Wakaf Tunai

    Gerakan Wakaf Sejuta Umat Ulul Albab

  • Mujahadah

    Jadwal Mujahadah

  • Adab di Dalam  Masjid
    Oleh : Abdulloh Kharisudin Aqib Al Kelutani

    Masjid Adalah "Rumah" Allah  atau rumah khusus untuk menghadap dan bertemu dengan Allah SWT, Maka kita harus beradab dengan baik, yaitu :
    1. Niat i'tikaf (ibadah dengan dzikrullah, baca Alquran dll).
    2. Melangkah masuk dimulai dengan kaki kanan, dengan penuh khusyuk dan tadhorru' (merendahkan diri sendiri di hadapan Allah SWT.)
    3. Seraya selalu berdoa;
    اللهم افتح لي ابواب رحمتك، وعزائم مغفرتك ، وسلامة من كل إثم ، وغنيمة من كل بر، والفوز بالجنة ، والنجاة من النار. برحمتك يا ارحم الراحمين
    4. Sholat tahiyatal masjid 2 rokaat. Sholat-sholat wajib atau Sunnah
    5. Dzikrullah: dengan kalimat-kalimat thayyibat, dzikrullah Sirri, jahri, berdoa dan munajat atau baca Al Quran dan Tafakur.
    6. Diskusi dan mudzakarah ttg ilmu, perjuangan dan agama.
    7. Tidak membicarakan kesenangan duniawi, dan bisnis pribadi, atau gurauan serta kesia-siaan.
    8. Menjaga sikap badan yang baik; tidak tidur atau tidur-tiduran, tidak duduk sembarangan, seperti selonjoran ke arah kiblat, jongkok dengan membuka aurat.
    9. Tidak melewati hadapan orang yang lagi dzikrullah, sholat dan berdoa. Kecuali di luar batas sujudnya.
    10. Tidak makan dan minum, kecuali dengan tetap menjaga adab dan kebersihan.
    11. Mengenakan pakaian yang baik, sopan, suci dan indah.
    Warna putih, atau tidak bertulis, berlukis.
    12. Mengenakan perhiasan (serban, kopyah, cincin, arloji) dan juga memakai parfum.


    Madinah, 10 September 2018,
    Abdulloh Kharisudin Aqib Al Kelutani

    Adab di Dalam Masjid

    Posted at  01.30  |  in  masjid adalah rumah allah  |  Read More»

    Adab di Dalam  Masjid
    Oleh : Abdulloh Kharisudin Aqib Al Kelutani

    Masjid Adalah "Rumah" Allah  atau rumah khusus untuk menghadap dan bertemu dengan Allah SWT, Maka kita harus beradab dengan baik, yaitu :
    1. Niat i'tikaf (ibadah dengan dzikrullah, baca Alquran dll).
    2. Melangkah masuk dimulai dengan kaki kanan, dengan penuh khusyuk dan tadhorru' (merendahkan diri sendiri di hadapan Allah SWT.)
    3. Seraya selalu berdoa;
    اللهم افتح لي ابواب رحمتك، وعزائم مغفرتك ، وسلامة من كل إثم ، وغنيمة من كل بر، والفوز بالجنة ، والنجاة من النار. برحمتك يا ارحم الراحمين
    4. Sholat tahiyatal masjid 2 rokaat. Sholat-sholat wajib atau Sunnah
    5. Dzikrullah: dengan kalimat-kalimat thayyibat, dzikrullah Sirri, jahri, berdoa dan munajat atau baca Al Quran dan Tafakur.
    6. Diskusi dan mudzakarah ttg ilmu, perjuangan dan agama.
    7. Tidak membicarakan kesenangan duniawi, dan bisnis pribadi, atau gurauan serta kesia-siaan.
    8. Menjaga sikap badan yang baik; tidak tidur atau tidur-tiduran, tidak duduk sembarangan, seperti selonjoran ke arah kiblat, jongkok dengan membuka aurat.
    9. Tidak melewati hadapan orang yang lagi dzikrullah, sholat dan berdoa. Kecuali di luar batas sujudnya.
    10. Tidak makan dan minum, kecuali dengan tetap menjaga adab dan kebersihan.
    11. Mengenakan pakaian yang baik, sopan, suci dan indah.
    Warna putih, atau tidak bertulis, berlukis.
    12. Mengenakan perhiasan (serban, kopyah, cincin, arloji) dan juga memakai parfum.


    Madinah, 10 September 2018,
    Abdulloh Kharisudin Aqib Al Kelutani

    Pondok pesantren - Sufisme Ibadah Haji

    Posted at  02.00  |  in  manasik haji  |  Read More»


    INFORMASI PENDAFTARAN SANTRI BARU
    PESANTREN TERPADU DARU ULIL ALBAB
    TAHUN TARBIYAH 2018-2019


    UNTUK JENJANG PENDIDIKAN :

    1. SMP ISLAM ULUL ALBAB
    2. MA BILINGUAL ULUL ALBAB
    3. SMK ISLAM ULUL ALBAB :
        JURUSAN  : 
                        1. TKJ
                        2. MULTIMEDIA
                        3. PERBANKAN
    4. MA'HAD ALY ULUL ALBAB



    UNTUK INFORMASI LEBIH LANJUT SILAHKAN DOWNLOAD BROSUR PENDAFATARAN SANTRI BARU BERIKUT :

    BROSUR 1 :


    BROSUR 2 :


    PENDAFTARAN DIBUKA MULAI SEKARANG DAN AKAN DITUTUP JIKA KUOTA SANTRI TELAH TERPENUHI.

    Pendaftaran Santri Baru Tahun Tarbiyah 2018 - 2019

    Posted at  08.50  |  in  INFORMASI PENDAFTARAN SANTRI BARU  |  Read More»


    INFORMASI PENDAFTARAN SANTRI BARU
    PESANTREN TERPADU DARU ULIL ALBAB
    TAHUN TARBIYAH 2018-2019


    UNTUK JENJANG PENDIDIKAN :

    1. SMP ISLAM ULUL ALBAB
    2. MA BILINGUAL ULUL ALBAB
    3. SMK ISLAM ULUL ALBAB :
        JURUSAN  : 
                        1. TKJ
                        2. MULTIMEDIA
                        3. PERBANKAN
    4. MA'HAD ALY ULUL ALBAB



    UNTUK INFORMASI LEBIH LANJUT SILAHKAN DOWNLOAD BROSUR PENDAFATARAN SANTRI BARU BERIKUT :

    BROSUR 1 :


    BROSUR 2 :


    PENDAFTARAN DIBUKA MULAI SEKARANG DAN AKAN DITUTUP JIKA KUOTA SANTRI TELAH TERPENUHI.



    Kajian Psikosufistik Pendidikan Islam
    Oleh : Dr. KH. Kharisudin Aqib, M. Ag

    A. Pendidikan Islam adalah kelanjutan dari misi dakwah Rasulullah Muhammad Saw, yaitu Li utammima makaarimal akhlaq (menyempurnakan kemuliaan akhlak (kepribadian, atau karakter). Menyempurnakan dalam arti menumbuh kembangkan dengan serasi dan harmonis. Sedangkan kemuliaan berarti  keterpaduan antara keunggulan (ekselensi) dan keberbedaan dengan yang lain (distingsi).
    Sehingga pendidikan Islam berarti suatu proses penumbuh kembangan kepribadian manusia menjadi manusia yang berkarakter yang serasi dan harmonis dalam keunggulan dan keunikan.
    Akhlak, kepribadian dan karakter adalah sebuah ungkapan atau konsep yang maknanya adalah sebuah totalitas diri seorang manusia yang merupakan integrasi kesadaran (perpaduan antara kesadaran jasmaniah dan kesadaran rohaniah). Sedangkan hal tersebut merupakan wujud maknawi dan hakiki seorang manusia. Yang secara garis besarnya terdiri dari tiga organ penting, yaitu: kepala, badan dan tangan-kaki. Ketiga organ penting ini sekaligus sebagai obyek pendidikan Islam. Karena ketiganya merupakan perwujudan dari tiga potensi dasar manusia, yakni; kognitif (pengetahuan), afektif (penghayatan) dan psikomotorik (perbuatan).
    Pendidikan Islam bertugas selain menumbuh kembangkan kepribadian yang serasharmonis antara kognitif, afektif dan psikomotorik dengan baik. Dengan cara memberikan pengetahuan, penghayatan dan praktek dalam keilmuan secara seimbang dan serasi, Sebagai mana keseimbangan perkembangan kepala, badan, tangan dan kaki.
    Ilmu pengetahuan seseorang sebaiknya tidak lebih baik daripada penghayatan seseorang terhadap ilmu tersebut, demikian juga halnya praktek dan Pengamalannya juga harus terampil dan baik, dengan menyeimbangkan antara tehnis pengajaran, pembiasaan dan bimbingan praktis. Khususnya dalam bidang pendidikan moral keagamaan.
    Di samping tiga aspek tersebut, dalam jiwa sebagai hakekat pemilik akhlak, kepribadian dan karakter seseorang ada tiga dorongan atau kecenderungan, yaitu; keinginan (syahwat), emosi (ghodhob) dan pengetahuan (ilmu). Ketiga hal tersebut berada dan bersifat software (perangkat lunak atau lathifah) yang menempel dalam sistem kerja hardware (perangkat keras) yang disebut dengan: otak kanan, otak kiri dan otak depan. Sedangkan otak belakang sebagai pengendali keseimbangan gerakan badan, dan otak tengah (Mesenchepalon) bertugas mengkoordinasikan kerja semua bagian otak, sehingga menghasilkan kesadaran  majemuk dan meaningtif (kecerdasan spiritual).
    Disamping itu semua, pada dasarnya jiwa memiliki empat macam tabiat (sifat bawaan) yang tampak dalam sikap mental dan perilaku seseorang, yaitu: tabi'at bahimiyah (binatang jinak), sabu'iyah (binatang buas), syaithoniyah (kesetanan), dan tabiat malaikatiyah (kemalaikatan).
    Keempat macam tabiat tersebut secara potensial ada pada setiap orang dengan dominasi dari salah satu dari keempatnya.
    Tabiat yang mendominasi diri seseorang itulah akhlak, kepribadian dan karakter orang tersebut serta wujud maknawi dirinya.
    Tabi'at bahimiyah adalah tabiat kebinatang jinakkan, yakni suka makan- minum, bermalas-malasan  atau tidur dan melampiaskan nafsu seksual.
    Tabi'at sabu'iyah atau kebinatang buasan adalah kesukaan bertengkar, menyakiti orang lain, mengalahkan dan berbuat onar.
    Dan tabi'at syaithoniyah adalah kesukaan untuk berprilaku seperti setan, seperti; iri hati, hasut, dengki, takabur dan licik.
    Sedangkan tabi'at malaikatiyah kesukaan berbuat ta'at dan mendekat kepada Allah SWT, serta menjauhi maksiat.
    Sehingga orang yang didominasi oleh salah satu dari tabi'at-tabi'at tersebut kepribadian, Karakter dan akhlaknya adalah mungkin bahimi, sabu'i, syaithoni atau malaikati, dan juga wujud maknawi (wujud di alam astral atau alam metafisika), sekitar binatang ternak ( sapi, kambing dll), binatang buas (anjing, ular, buaya dll), setan (genderuwo, kuntilanak dll), serta malaikat (manusia tampan atau cantik yang bercahaya terang).
    Disamping menjaga, mengasah dan meningkatkan kualitas kecerdasan spiritual, emosional, intelektual dan kinestetik, pendidikan Islam bertujuan merubah karakter peserta didik (siswa santri), dari berkarakter negatif (bahimiyah, sabu'iyah dan syaithoniyah) menjadi berkarakter positif (malaikatiyah). Dan itulah manusia yang sesungguhnya, yang disebut Muttaqin (orang yang benar-benar bertaqwa), yakni manusia berkarakter malaikat.
    Dari segi kualitas kelembutan spiritualnya jiwa memiliki 7 tingkatkan, dan masing-masing tingkat memiliki karakteristik dan kinerja yang berbeda.
    Ke tujuh tingkatan itu adalah;
    1. Lathifatun nafsi dengan karakter amarah bis su' (memerintahkan kepada keburukan).
    2. Lathifah qalbi dengan karakter lawwaamah (suka mencela).
    3. Lathifah ruhi, dengan Karakter mulhimah (sensitif intuitif positif dan negatif).
    4. Lathifah Sirri dengan karakter Muthmainnah (stabil dalam kebaikan dan kebenaran).
    5. Lathifah khofi dengan karakter rodhiyah (puas dengan ketentuan dan pemberian Allah).
    6. Lathifah Akhfa dengan karakter Mardhiah (Dapat dibanggakan oleh Allah)
    7. Lathifah qalab, dengan karakter Kamilah (sempurna/ memiliki semua karakter2 ilaahiah).
    Pada setiap tingkat kelembutan jiwa tersebut memiliki jaringan intuisi positif (taqwallah) dan intuisi negatif (fujur atau duraka kepada Allah).
    Nama jiwa seseorang didasarkan pada Karakter yang mendominasi dirinya, yaitu, salah satu dari karakter jiwa (nafsu) berikut ini : nafsu amarah, nafsu lawwaamah, nafsu mulhimah, nafsu Muthmainnah, nafsu rodhiyah, nafsu Mardhiah dan nafsu Kamilah.
    Yang penting untuk disadari, bahwa tabi'at jiwa lebih bersifat genotipe (bawaan sejak lahir) sedangkan Akhlak, kepribadian atau pun karakter bersifat edukatif (karena faktor didikan dan lingkungan sekitar. Dengan meningkatnya kwalitas karakter seseorang, meningkat pula kwalitas tabiat seseorang.
    Mendidik berarti menumbuhkembangkan totalitas kejiwaan manusia yang terdiri dari hardware dan software dari pikiran, perasaan dan perilaku manusia. Pikiran atau akal manusia pada otak, perasaan manusia pada shudur (dada), dan perilaku manusia pada organ tubuhnya yang diwakili oleh tangan dan kakinya. Atau dalam bahasa pendidikan disebut sebagai aspek kognitif (pengetahuan), afektif (perasaan) dan psikomotorik (perilaku). Dengan tehnik yang bersifat sistemik (rangkaian sistem terpadu), integratif (menyatu) dan simultan (berurutan dan terus menerus) antara pengajaran (ta'lim), pembiasaan (ta'dib) dan bimbingan kerohanian (Irsyad).
     Software perasaan yang namanya shudur (dada) tersebut memiliki tujuh aplikasi penting yang sudah disebutkan, yaitu;
    1. Nafsu
    2. Qolbu
    3. Ruh
    4. Sirr
    5. Khofi / Lub
    6. Akhfa / Fuad
    7. Qalab.
    Software dan aplikasinya tersebut memiliki tehnis pendidikan atau perawatannya sendiri sehingga menjadi berkembang dan tumbuh dengan  sehat (fungsional dan produktif). Perawatan dan pendidikan bisa juga disebut olah rasa sebagaimana halnya badan perlu olahraga.
    Perawatan software (jiwa manusia) adalah dengan dzikrullah,  dengan segala macam bentuknya aktivitasnya, seperti sholat, membaca kitab suci, membaca kalimat thoyyibah, mengamati dan mentafakkuri ayat2 Allah dalam kehidupan (manusia, binatang dan tumbuhan).
    Dengan pengasahan tersebut (tazkiyatun nafsi), jiwa manusia menjadi cerdas dan dewasa. Kecerdasan emosional menjadi bagus (stabil,  apresiatif, pemaaf dan toleran), demikian juga kecerdasan spiritualnya menjadi bagus (sensitif terhadap makna2 di balik fenomena dan peristiwa).
    B. Neoropsikologi Sufistik.
    Manusia adalah makhluk Ruhaniyah yang berjisim, dalam arti bahwa hakekatnya manusia itu adalah ruhnya, sedangkan jisim atau jasadnya hanyalah sebuah wadah dan kendaraan atau baju bagi ruh untuk berwujud dan bereksistensi di dalam dunia ini. Ibaratnya seperti apa yang kita kenal di dalam sistem komputer adanya dua substansi yang terintegrasi dengan baik, yaitu: software (perangkat lunak) dan  hardware (perangkat keras).
    Ruh makhluk-makhluk (termasuk manusia) adalah berasal dari ruh Allah, Maka dia membawa sifat-sifat Hb ketuhanan Al hayyu (maha hidup), Al qayyum (maha tegak berdiri), Al qawiy (maha kuat) dll dari  asma2 (karakter) Allah. Maka dengan masuknya ruh Allah, itulah sel-sel dalam organisme menjadi hidup (tumbuh, berkembang, bergerak dan juga berfikir) sesuai dengan kesiapan dan kelengkapan hardware (jasad) makhluk hidup tersebut.
    Menempelnya unsur ketuhanan pada unsur material, melalui bagian unsur yang paling lembut dari suatu unsur. Khusus makhluk hidup biologis, unsur ketuhanan (Al hayyu=hidup) adalah menempel pada oksigen, dalam sebuah senyawa H2O (Air). Sehingga hampir dapat dipastikan sebuah organisme akan mati jika tidak menerima oksigen, karena tidak ada media bagi ruh untuk berwujud di situ.
    Oleh karena itu, ada korelasi yang sangat kuat antara jasmani dan rohani dalam sebuah wujud kesadaran yang disebut sebagai jiwa (nafs atau soul) yang selanjutnya Secara riil membentuk sebuah kepribadian atau Karakter. Kepribadian maupun perbuatan setiap organisme termasuk manusia dikendalikan melalui pusat pengendalian (sebuah anatomi yang bersifat biologis). Anatomi tersebut untuk makhluk hidup tingkat tinggi disebut dengan nama otak. Sehingga dari organ ini prilaku, karakter dan bahkan gerakan-gerakan di luar kesadarannya diprogram dan dikendalikan, termasuk kerja jantung biologis manusia.
    Ruh manusia itu berasal tiupan bagian ruh Allah, dia sangat lembut (lathiif atau soft), sehingga bisa tembus pada semua bagian terkecil dari segala sesuatu. Sehingga bisa sambung dan menempel pada unsur material, sebagai mana esensi (rasa, warna atau bau) pada benda-benda. Seperti wangi pada bunga, atau panas pada bara api dll.
    Ruh yang berada dalam diri manusia (jiwa) juga sebagai mediator antara Allah dengan makhluknya, melalui jiwa Allah menghidupkan, menggerakkan, menunjukkan, menyesatkan dlsb. Manusia memiliki kesempurnaan jaringan dengan Allah, baik jaringan intuisi positif (ilham taqwa) dan jaringan intuisi negatif (ilham fujur), maka beruntunglah orang-orang yang mensucikan jiwanya dan Sungguh rugi orang yang mengotorinya (QS: as syams: 7-10)
    Sehingga kalau Allah mencabut ruh seseorang, maka berhentilah semua aktivitas dalam dirinya, atau juga sebaliknya, jika aktivitas menyebarnya ruh dalam sebuah organisme maka mati jugalah jadinya organisme tersebut. Karena dengan ruh-Nya Allah menghidupkan dan dengan ruh-Nya pula dia mematikan. Dengan cara memasukkan ruh-Nya (jadilah hidup) dan mengeluarkan ruh-Nya dari dalam diri seseorang (mematikan).

    Kajian Psikosufistik Pendidikan Islam

    Posted at  12.21  |  in  kajian umum  |  Read More»



    Kajian Psikosufistik Pendidikan Islam
    Oleh : Dr. KH. Kharisudin Aqib, M. Ag

    A. Pendidikan Islam adalah kelanjutan dari misi dakwah Rasulullah Muhammad Saw, yaitu Li utammima makaarimal akhlaq (menyempurnakan kemuliaan akhlak (kepribadian, atau karakter). Menyempurnakan dalam arti menumbuh kembangkan dengan serasi dan harmonis. Sedangkan kemuliaan berarti  keterpaduan antara keunggulan (ekselensi) dan keberbedaan dengan yang lain (distingsi).
    Sehingga pendidikan Islam berarti suatu proses penumbuh kembangan kepribadian manusia menjadi manusia yang berkarakter yang serasi dan harmonis dalam keunggulan dan keunikan.
    Akhlak, kepribadian dan karakter adalah sebuah ungkapan atau konsep yang maknanya adalah sebuah totalitas diri seorang manusia yang merupakan integrasi kesadaran (perpaduan antara kesadaran jasmaniah dan kesadaran rohaniah). Sedangkan hal tersebut merupakan wujud maknawi dan hakiki seorang manusia. Yang secara garis besarnya terdiri dari tiga organ penting, yaitu: kepala, badan dan tangan-kaki. Ketiga organ penting ini sekaligus sebagai obyek pendidikan Islam. Karena ketiganya merupakan perwujudan dari tiga potensi dasar manusia, yakni; kognitif (pengetahuan), afektif (penghayatan) dan psikomotorik (perbuatan).
    Pendidikan Islam bertugas selain menumbuh kembangkan kepribadian yang serasharmonis antara kognitif, afektif dan psikomotorik dengan baik. Dengan cara memberikan pengetahuan, penghayatan dan praktek dalam keilmuan secara seimbang dan serasi, Sebagai mana keseimbangan perkembangan kepala, badan, tangan dan kaki.
    Ilmu pengetahuan seseorang sebaiknya tidak lebih baik daripada penghayatan seseorang terhadap ilmu tersebut, demikian juga halnya praktek dan Pengamalannya juga harus terampil dan baik, dengan menyeimbangkan antara tehnis pengajaran, pembiasaan dan bimbingan praktis. Khususnya dalam bidang pendidikan moral keagamaan.
    Di samping tiga aspek tersebut, dalam jiwa sebagai hakekat pemilik akhlak, kepribadian dan karakter seseorang ada tiga dorongan atau kecenderungan, yaitu; keinginan (syahwat), emosi (ghodhob) dan pengetahuan (ilmu). Ketiga hal tersebut berada dan bersifat software (perangkat lunak atau lathifah) yang menempel dalam sistem kerja hardware (perangkat keras) yang disebut dengan: otak kanan, otak kiri dan otak depan. Sedangkan otak belakang sebagai pengendali keseimbangan gerakan badan, dan otak tengah (Mesenchepalon) bertugas mengkoordinasikan kerja semua bagian otak, sehingga menghasilkan kesadaran  majemuk dan meaningtif (kecerdasan spiritual).
    Disamping itu semua, pada dasarnya jiwa memiliki empat macam tabiat (sifat bawaan) yang tampak dalam sikap mental dan perilaku seseorang, yaitu: tabi'at bahimiyah (binatang jinak), sabu'iyah (binatang buas), syaithoniyah (kesetanan), dan tabiat malaikatiyah (kemalaikatan).
    Keempat macam tabiat tersebut secara potensial ada pada setiap orang dengan dominasi dari salah satu dari keempatnya.
    Tabiat yang mendominasi diri seseorang itulah akhlak, kepribadian dan karakter orang tersebut serta wujud maknawi dirinya.
    Tabi'at bahimiyah adalah tabiat kebinatang jinakkan, yakni suka makan- minum, bermalas-malasan  atau tidur dan melampiaskan nafsu seksual.
    Tabi'at sabu'iyah atau kebinatang buasan adalah kesukaan bertengkar, menyakiti orang lain, mengalahkan dan berbuat onar.
    Dan tabi'at syaithoniyah adalah kesukaan untuk berprilaku seperti setan, seperti; iri hati, hasut, dengki, takabur dan licik.
    Sedangkan tabi'at malaikatiyah kesukaan berbuat ta'at dan mendekat kepada Allah SWT, serta menjauhi maksiat.
    Sehingga orang yang didominasi oleh salah satu dari tabi'at-tabi'at tersebut kepribadian, Karakter dan akhlaknya adalah mungkin bahimi, sabu'i, syaithoni atau malaikati, dan juga wujud maknawi (wujud di alam astral atau alam metafisika), sekitar binatang ternak ( sapi, kambing dll), binatang buas (anjing, ular, buaya dll), setan (genderuwo, kuntilanak dll), serta malaikat (manusia tampan atau cantik yang bercahaya terang).
    Disamping menjaga, mengasah dan meningkatkan kualitas kecerdasan spiritual, emosional, intelektual dan kinestetik, pendidikan Islam bertujuan merubah karakter peserta didik (siswa santri), dari berkarakter negatif (bahimiyah, sabu'iyah dan syaithoniyah) menjadi berkarakter positif (malaikatiyah). Dan itulah manusia yang sesungguhnya, yang disebut Muttaqin (orang yang benar-benar bertaqwa), yakni manusia berkarakter malaikat.
    Dari segi kualitas kelembutan spiritualnya jiwa memiliki 7 tingkatkan, dan masing-masing tingkat memiliki karakteristik dan kinerja yang berbeda.
    Ke tujuh tingkatan itu adalah;
    1. Lathifatun nafsi dengan karakter amarah bis su' (memerintahkan kepada keburukan).
    2. Lathifah qalbi dengan karakter lawwaamah (suka mencela).
    3. Lathifah ruhi, dengan Karakter mulhimah (sensitif intuitif positif dan negatif).
    4. Lathifah Sirri dengan karakter Muthmainnah (stabil dalam kebaikan dan kebenaran).
    5. Lathifah khofi dengan karakter rodhiyah (puas dengan ketentuan dan pemberian Allah).
    6. Lathifah Akhfa dengan karakter Mardhiah (Dapat dibanggakan oleh Allah)
    7. Lathifah qalab, dengan karakter Kamilah (sempurna/ memiliki semua karakter2 ilaahiah).
    Pada setiap tingkat kelembutan jiwa tersebut memiliki jaringan intuisi positif (taqwallah) dan intuisi negatif (fujur atau duraka kepada Allah).
    Nama jiwa seseorang didasarkan pada Karakter yang mendominasi dirinya, yaitu, salah satu dari karakter jiwa (nafsu) berikut ini : nafsu amarah, nafsu lawwaamah, nafsu mulhimah, nafsu Muthmainnah, nafsu rodhiyah, nafsu Mardhiah dan nafsu Kamilah.
    Yang penting untuk disadari, bahwa tabi'at jiwa lebih bersifat genotipe (bawaan sejak lahir) sedangkan Akhlak, kepribadian atau pun karakter bersifat edukatif (karena faktor didikan dan lingkungan sekitar. Dengan meningkatnya kwalitas karakter seseorang, meningkat pula kwalitas tabiat seseorang.
    Mendidik berarti menumbuhkembangkan totalitas kejiwaan manusia yang terdiri dari hardware dan software dari pikiran, perasaan dan perilaku manusia. Pikiran atau akal manusia pada otak, perasaan manusia pada shudur (dada), dan perilaku manusia pada organ tubuhnya yang diwakili oleh tangan dan kakinya. Atau dalam bahasa pendidikan disebut sebagai aspek kognitif (pengetahuan), afektif (perasaan) dan psikomotorik (perilaku). Dengan tehnik yang bersifat sistemik (rangkaian sistem terpadu), integratif (menyatu) dan simultan (berurutan dan terus menerus) antara pengajaran (ta'lim), pembiasaan (ta'dib) dan bimbingan kerohanian (Irsyad).
     Software perasaan yang namanya shudur (dada) tersebut memiliki tujuh aplikasi penting yang sudah disebutkan, yaitu;
    1. Nafsu
    2. Qolbu
    3. Ruh
    4. Sirr
    5. Khofi / Lub
    6. Akhfa / Fuad
    7. Qalab.
    Software dan aplikasinya tersebut memiliki tehnis pendidikan atau perawatannya sendiri sehingga menjadi berkembang dan tumbuh dengan  sehat (fungsional dan produktif). Perawatan dan pendidikan bisa juga disebut olah rasa sebagaimana halnya badan perlu olahraga.
    Perawatan software (jiwa manusia) adalah dengan dzikrullah,  dengan segala macam bentuknya aktivitasnya, seperti sholat, membaca kitab suci, membaca kalimat thoyyibah, mengamati dan mentafakkuri ayat2 Allah dalam kehidupan (manusia, binatang dan tumbuhan).
    Dengan pengasahan tersebut (tazkiyatun nafsi), jiwa manusia menjadi cerdas dan dewasa. Kecerdasan emosional menjadi bagus (stabil,  apresiatif, pemaaf dan toleran), demikian juga kecerdasan spiritualnya menjadi bagus (sensitif terhadap makna2 di balik fenomena dan peristiwa).
    B. Neoropsikologi Sufistik.
    Manusia adalah makhluk Ruhaniyah yang berjisim, dalam arti bahwa hakekatnya manusia itu adalah ruhnya, sedangkan jisim atau jasadnya hanyalah sebuah wadah dan kendaraan atau baju bagi ruh untuk berwujud dan bereksistensi di dalam dunia ini. Ibaratnya seperti apa yang kita kenal di dalam sistem komputer adanya dua substansi yang terintegrasi dengan baik, yaitu: software (perangkat lunak) dan  hardware (perangkat keras).
    Ruh makhluk-makhluk (termasuk manusia) adalah berasal dari ruh Allah, Maka dia membawa sifat-sifat Hb ketuhanan Al hayyu (maha hidup), Al qayyum (maha tegak berdiri), Al qawiy (maha kuat) dll dari  asma2 (karakter) Allah. Maka dengan masuknya ruh Allah, itulah sel-sel dalam organisme menjadi hidup (tumbuh, berkembang, bergerak dan juga berfikir) sesuai dengan kesiapan dan kelengkapan hardware (jasad) makhluk hidup tersebut.
    Menempelnya unsur ketuhanan pada unsur material, melalui bagian unsur yang paling lembut dari suatu unsur. Khusus makhluk hidup biologis, unsur ketuhanan (Al hayyu=hidup) adalah menempel pada oksigen, dalam sebuah senyawa H2O (Air). Sehingga hampir dapat dipastikan sebuah organisme akan mati jika tidak menerima oksigen, karena tidak ada media bagi ruh untuk berwujud di situ.
    Oleh karena itu, ada korelasi yang sangat kuat antara jasmani dan rohani dalam sebuah wujud kesadaran yang disebut sebagai jiwa (nafs atau soul) yang selanjutnya Secara riil membentuk sebuah kepribadian atau Karakter. Kepribadian maupun perbuatan setiap organisme termasuk manusia dikendalikan melalui pusat pengendalian (sebuah anatomi yang bersifat biologis). Anatomi tersebut untuk makhluk hidup tingkat tinggi disebut dengan nama otak. Sehingga dari organ ini prilaku, karakter dan bahkan gerakan-gerakan di luar kesadarannya diprogram dan dikendalikan, termasuk kerja jantung biologis manusia.
    Ruh manusia itu berasal tiupan bagian ruh Allah, dia sangat lembut (lathiif atau soft), sehingga bisa tembus pada semua bagian terkecil dari segala sesuatu. Sehingga bisa sambung dan menempel pada unsur material, sebagai mana esensi (rasa, warna atau bau) pada benda-benda. Seperti wangi pada bunga, atau panas pada bara api dll.
    Ruh yang berada dalam diri manusia (jiwa) juga sebagai mediator antara Allah dengan makhluknya, melalui jiwa Allah menghidupkan, menggerakkan, menunjukkan, menyesatkan dlsb. Manusia memiliki kesempurnaan jaringan dengan Allah, baik jaringan intuisi positif (ilham taqwa) dan jaringan intuisi negatif (ilham fujur), maka beruntunglah orang-orang yang mensucikan jiwanya dan Sungguh rugi orang yang mengotorinya (QS: as syams: 7-10)
    Sehingga kalau Allah mencabut ruh seseorang, maka berhentilah semua aktivitas dalam dirinya, atau juga sebaliknya, jika aktivitas menyebarnya ruh dalam sebuah organisme maka mati jugalah jadinya organisme tersebut. Karena dengan ruh-Nya Allah menghidupkan dan dengan ruh-Nya pula dia mematikan. Dengan cara memasukkan ruh-Nya (jadilah hidup) dan mengeluarkan ruh-Nya dari dalam diri seseorang (mematikan).


    KH.Umar Murtojo
     (Pendiri Pondok Kelutan)
    Oleh; Kharisudin bin Aqib bin Umar Murtojo) 


    Nama kecil Mbah KH.Umar Murtojo adalah Murtojo, sedangkan Umar adalah nama hajinya. Beliau adalah seorang kyai pengusaha dan aktifis, bukan kyai yang nglutuk. Usahanya adalah bidang perdagangan (dagang hasil pertanian/agrobisnis, dagang kuda dan kain batik), di samping penulis kitab. Bisnis hasil pertanian sendiri dengan China dan kemudian dibawa ke Surabaya melalui kali Brantas. Dagang kain batik dari solo di jual di pasar warujayeng, atau Ngronggot.., sedangkan jual beli kuda diambil dari Ngantang Malang.., sehingga beliau termasuk dari bagian gerakan Nahdlatul Tujjar (ormas ulama' sebelum NU).

    Karena ketrampilan nya dlm berbisnis dan jaringannya aktivitas nya yang luas, maka beliau tergolong kyai yang kaya dan sukses..., Banyak santrinya yg ngaulo (nderek ndalem) juga banyak santrinya yang Magersari (santri yang sudah berkeluarga, membuat rumah2 di sekitar pondok, dan bekerja pada beliau). Konon ada sekitar 80 orang santri Magersari dan yang nderek ndalem. Para santri itulah yang membantu bisnis beliau, ngerjakan sawah, menjual dagangannya ke pasar, dan transaksi dengan para mitra bisnis, termasuk dengan singkek "China". Untuk barang bukti utusan Mbah yai. Santri cukup dengan membawa cincin beliau 'merah delima'. 

    Diantara santri yang kemudian menjadi keluarga adalah putra-putri kyai Yusuf Kelutan, yaitu; Mbah Hasyim, Mbah Harun dan Mbah Dewi. Ketiga orang bersaudara ini kemudian menjadi keluarga dekat. Hasyim diambil menantu, dinikahkan dengan putri pertamanya, yaitu mbokde Siti Kapiyah. Harun diajak besanan,  pakde Benu/ Ibnu Hasyim nikah dengan putri Mbah Harun Yang pertama : mbokde Siti Fatimah. Dewi dinikahkan dengan lurah pondok yang berasal dari Mbegelen, yaitu Mbah Faqih. Belakangan putra Mbah Harun menikahi cucu Mbah Umar, yaitu Kyai Abdillah menikahi Nihayah binti Aqib Umar.
    Santrinya yang dari Sekaran Nadzir bin Haji Shaleh.
    Santrinya yang dari Sekaran Nadzir bin H. Sholeh, dinikahkan dengan putri nya yang ke 5, Rukanah. Dari pernikahan tersebut lahir cucu-cucu beliau yang 'alim-alim, yaitu; Munhamir atau Mundzir (menulis beberapa kitab pesantren), Daniel (tokoh pergerakan tahun 1960-an.), Moh. Thoha, Khutthot penerbit Menara Kudus, dan Ilham (kyai senior di Kediri). 

    Bersama dengan para santri dan menantunya, Mbah Umar, juga aktif membangun dakwah, Islam. Di antaranya mengordinir jum'atan di Warujayeng, mendirikan pusat suluk dan kemursyidan Thoriqah Naqsyabandiyah di Mindi.

    Cucu yang dari putri pertama beliau (Siti Kapiyah), juga ada yang menjadi kyai Mursyid besar, yaitu kyai Ali bin Siti Kapiyah binti KH.Umar Murtojo, yang kemursyidannya ada di Punggur Metro Lampung Tengah. Sekarang kemursyidannya dilanjutkan oleh cucunya yang namanya KH.Muhtar (anggota group).
    Semoga ada diantara anak-anak dan keluarga kita bisa sukses studi di Turki.., seperti Mbah Umar Murtojo sang pengembara.

    Murtojo kecil berangkat mengembara sekitar tahun 1835 pasca perang Diponegoro. Berangkat dari dusun logantung- Murisan, Dlanggu Surakarta. Bersama dengan kakaknya (Mustopo) dan adiknya (Hasan Mimbar), menuju Jawa Timur, Tepat nya di desa Binangun, Kec. Binangun, Blitar Selatan. Berjalan kaki, gendong adiknya yang masih kecil itu, gantian dengan kakaknya, melalui pantai Selatan pulau Jawa. 

    Setelah mondok di Binangun Blitar, beliau bertiga melanjutkan studinya di pesantrennya kyai Abdurrahman Gurah Kediri..... kemudian juga melanjutkan studi di Jampes Kediri. Selanjutnya mondok dan berjuang bersama dengan Mbah KH. Imam Ahmad Mberuk Sonopinggir-Ngronggot Nganjuk. Di pondok inilah, Mbah kyai Umar Murtojo memulai karir dan pengabdiannya.
    Tidak seberapa lama ikut berjuang Mbah imam Ahmad, Mbah Umar  dijadikan menantu oleh Mbah Imam Ahmad, dinikahkan dengan putri pertamanya, yaitu Mbah Mujirah. Mbah Umar tinggal dan mendirikan musholla dan pesantren di barat jembatan Kelutan. Tepatnya sekarang lokasi madrasah Al Ulya. Utara jalan tempat rumah, mushalla dan pondokannya, sedangkan Selatan jalan rumah para Magersari, yang merupakan tanah pemberian Mbah imam Ahmad Mberuk.

    Sedangkan kakak Mbah Umar (Mbah Mustopo) mukim di Ngronggot. Dan adiknya (Hasan Mimbar) mukim di Bagorejo Banyuwangi.  Waktu melahirkan Mbah Mujirah (Istri pertama Mbah Umar) meninggal dunia berikut putra yang dilahirkan.

    Setelah beberapa saat dari kematian Mbah Mujirah, Mbah Umar dinikahkan oleh Mbah imam Ahmad dengan putri bawaan istri keduanya (Martijah) yang bernama Siti Marhamah binti kyai Romli Banjar melati Bandar Kidul Kediri. Mbah Imam Ahmad itu istrinya tiga, tapi tidak poligami. Istri pertama namanya Martinah meninggal dunia dengan meninggalkan 2 anak. Kemudian beliau nikah lagi dengan seorang janda dengan 2 anak perempuan (Masriah dan Marhamah), janda itu namanya Martijah binti Yusuf. Dalam perkawinan dengan Mbah Martijah ini Mbah imam Ahmad mendapatkan tambahan putra 8 orang. Kemudian Mbah Martijah meninggal dunia. Konon Mbah imam Ahmad sudah berumur 115 atau 125 tahun. Kemudian beliau nikah lagi dengan santrinya yang masih gadis namanya Paelah. Dari pernikahan yang ke tiga ini Mbah imam Ahmad mendapat tambahan putra 5 orang lagi.

    Setelah beberapa saat Mbah Umar menikahi Mbah Siti Marhamah dan menempati rumah di Utara jembatan (lokasi madrasah Al Ulya) beliau berpindah rumah ke lokasi dalam, tepatnya yang sekarang adalah lokasi Pesantren Terpadu Daru Ulil Kelutan. Dengan alasan Mbah Putri tidak krasan di Utara, karena tempat itu terlalu ramai, dan dekat dengan tempat maksiat. Di pinggir sungai atau penyeberangan (tambangan), ada warung remang-remang (Mbah bleng) dan tempat hiburan jedoran-jaranan.

    Keinginan pindah rumah Mbah Putri mendapatkan kesempatan yang tepat, yaitu adanya keinginan Mbah Kyai... (Pemilik rumah dan pekarangan yang sekarang ditempati pesantren Terpadu Daru Ulil Albab) untuk pindah rumah ke Klampisan Minggiran Kediri. Kyai Mustajab (sahabat Mbah Umar) ini biasa pinjam kuda putih kesayangan Mbah Umar. Akhirnya atas inisiatif beliau lahan pekarangan ini diberikan kepada Mbah Umar sebagai gantinya beliau harus memberikan kuda putih kesayangan itu pada Mbah kyai Mustajab. Beliau ini seorang kyai Mursyid thariqoh Naqsyabandiyah. Beliau ini konon ahli tentang jin dan pusaka-pusaka.

    Setelah pindah ke tempat yang baru, beliau membangun musholla di tengah lokasi lahan yang berbentuk bujur sangkar itu, tepat dilokasi masjid yang sekarang agak kebelakang. sementara rumahnya dibangun di depan sebelah Utara (rumah pak Muhsin dulu adalah rumah mbah Umar bagian belakang) bangunan  pondok ada di sebelah depan selatan. Sedangkan di belakang Utara dan Selatan para Magersari.

    Pernikahan Mbah Umar dengan Mbah nyai Marhamah menghasilkan 8 orang putra putri, Yakni:
    1. Siti Kapiyah
    2. Abdul Basyar
    3. Asro
    4. Ibnu Hasyim
    5. Rukanah
    6. Rukayah
    7. Aqib
    8. Athiq.
    Siti Kapiyah dinikahkan dengan santri Mbah Umar yang senior yang namanya Hasyim, dulu rumahnya di Utara masjid Kelutan. Dulu masjid Kelutan adalah musholla kecil Mbah Yusuf. Kemudian dijadikan masjid desa di zaman Mbah Harun (adiknya Hasyim), sekitar tahun 50-60 an.
    Abdul Basyar adalah anak laki-laki pertama Mbah Umar yang menikah dengan Saporah binti KH.Idris Sekombang Kelurahan Ngronggot.

    Asro anak ketiga yang menikah 2x,  dengan  syamsiah (meninggal dengan 1anak), dan Ruhani. Beliau dulu mukim tinggal di lokasi pesantren, depan masjid sebelah selatan jalan (sekarang ditempati pak kyai Mubasyir), depan rumah saya.
    Ibnu Hasyim, adalah putra Mbah Umar yang tinggal dan menempati ndalem keprabon (rumah Mbah Umar).
    Ibnu Hasyim (mbah Benu) menikah dengan putri pertamanya Mbah Harun yang namanya Siti Fatimah.
    Rukanah putri ke 5 Mbah Umar dinikahkan dengan santrinya yang sangat tampan dan kaya, yang namanya Nadzir bin H. Shaleh sekaran.  Beliau yang menemani Mbah Umar menunaikan ibadah haji, bersama H. Ali Mindi dan H.Usman, naik kapal laut selama lebih dari enam bulan.
    H. Nadzir adalah kyai penerusnya Mbah Umar setelah....
    Putranya yang ke 6 yang namanya Ruqoyyah (Rukayah), dinikahkan dengan Mbah Syuhud dari Juwono, Kertosono. Keturunan langsung dari Mbah kyai Hasan Besari Ponorogo. Mbah kayah tinggal di lokasi pesantren Daru Ulil Albab (sekarang) sebelah tenggara. Mbah Syuhud dan Mbah Nadzir (dua orang menantu laki2 Mbah Umar), yang memegang kepemimpinan pondok sebelum putra-putra Mbah Umar pulang dari Pondok. Karena ketika Mbah Umar meninggal Mbah Basyar, Mbah Sero dan Mbah Benu masih di pondok, sedangkan Mbah Aqib dan mbak Atik masih yatim dan balita.

    Putra yang ke 7 Mbah Umar adalah Aqib. Setelah haji beliau menambahkan namanya dengan 'Abdullah di depan namanya dan  Umar di belakang nama...
    Abdullah Aqib Umar adalah putra Mbah Umar yang sejak kecil sudah disepakati oleh saudara2 nya sebagai pemangku jabatan kyai pewaris Mbah Umar..., Beliau yang menyerahkan estafeta ke kyaian dari Mbah Umar kepada cucunya yang namanya Kharisudin Aqib, sehingga Alhamdulillahirobbil pesantren yang telah sekitar 100 tahun mengkista di dalam tanah kini mulai tumbuh dan berkembang.
    Mbah Aqib menikah dengan seorang gadis cantik dari Sumbergempol Tulung agung. Namanya Siti Marhamah, Putri Mbah KH. Abdul Malik, seorang calak tersohor pada zamannya. Santri Mbah Kyai Misri Mindi, Mursyid Thoriqoh Naqsyabandiyah.

    Putra Mbah Umar yang ke 8 (terkecil) namanya Athiq. Beliau ditinggal wafat Mbah Umar dalam keadaan yatim balita. Beliau menikah dua kali, yang pertama dengan Bulek Hindun dan berputra satu, yaitu H. Hamim Thohari (tinggal di desa Tegaron) dan yang kedua dengan Bulek Siti Kapiyah (bek kap) juga berputra satu. Yaitu Mukminatin (alm), yang tinggal di dalam lokasi Pesantren Terpadu Daru Ulil Albab.

    Ke delapan putra-putri Mbah Umar Murtojo semuanya sudah meninggal dunia dengan meninggalkan anak cucu yang jumlahnya kurang lebih 300 jiwa (ingat saya tahun 2003 saya pernah melakukan pendataan), dan pendirian yayasan keluarga yang namanya YASOBUR (Yayasan Solidaritas Bani Umar Murtojo).

    Mbah Umar membuat pusat kegiatan akademik (ngajar ngaji santri, menulis kitab), spiritual (ibadah-ibadah), sosial ekonomi (pertanian ,, perdagangan dan pemberdayaan masyarakat) berupa pondok pesantren. 

    Pondok pesantren Mbah Umar berada di lokasi yang sekarang diberi nama Pesantren Terpadu Daru Ulil Albab Kelutan. Beliau terkenal kealimannya di bidang ilmu Ushul (Ushuluddin), ilmu pokok2 agama Islam (ilmu Kalam, ilmu fiqih dan ilmu tasawuf).
    Murid beliau banyak yang berasal dari Mbegelen, Madiun, solo, Banyuwangi dll). Santrinya banyak yang membantu Mbah Umar sekaligus belajar kwirausahaan. Bidang agrobisnis, perdagangan kuda dan kain batik dari Surakarta atau Solo.
    Pondok Mbah Umar berangsur-angsur mati dan mengkista di dalam tanah setelah meninggalnya Mbah Umar.
    Beliau meninggal tepat hari raya idul Fitri pada hari Sabtu, 14 Agustus 1915 M, atau 1 Syawal 1333 H.
    Tepatnya setelah sholat idul Fitri. Pada saat khutbah dilaksanakan beliau dalam kondisi sakit kritis. Dengan ditunggui oleh muridnya yang bernama Harun (Mbah kyai Harun Kelutan), beliau berkata "Run... Nadzir nek khutbah Ojo oleh sue-sue... Iki rasane wis teko udhel Iki".  Dan benar ketika Mbah Kyai Nadzir (mantu beliau yang lagi khutbah) turun, Mbah Umar Murtojo menghembuskan nafasnya yang terakhir... dengan dzikrullah dan husnal khotimah...

    Kelutan, Kamis, 11 Januari 2018
    TTD
    Kharisudin Aqib Al Kelutani

    KH.Umar Murtojo, Pendiri Pondok Kelutan

    Posted at  11.16  |  in  pondok seo  |  Read More»


    KH.Umar Murtojo
     (Pendiri Pondok Kelutan)
    Oleh; Kharisudin bin Aqib bin Umar Murtojo) 


    Nama kecil Mbah KH.Umar Murtojo adalah Murtojo, sedangkan Umar adalah nama hajinya. Beliau adalah seorang kyai pengusaha dan aktifis, bukan kyai yang nglutuk. Usahanya adalah bidang perdagangan (dagang hasil pertanian/agrobisnis, dagang kuda dan kain batik), di samping penulis kitab. Bisnis hasil pertanian sendiri dengan China dan kemudian dibawa ke Surabaya melalui kali Brantas. Dagang kain batik dari solo di jual di pasar warujayeng, atau Ngronggot.., sedangkan jual beli kuda diambil dari Ngantang Malang.., sehingga beliau termasuk dari bagian gerakan Nahdlatul Tujjar (ormas ulama' sebelum NU).

    Karena ketrampilan nya dlm berbisnis dan jaringannya aktivitas nya yang luas, maka beliau tergolong kyai yang kaya dan sukses..., Banyak santrinya yg ngaulo (nderek ndalem) juga banyak santrinya yang Magersari (santri yang sudah berkeluarga, membuat rumah2 di sekitar pondok, dan bekerja pada beliau). Konon ada sekitar 80 orang santri Magersari dan yang nderek ndalem. Para santri itulah yang membantu bisnis beliau, ngerjakan sawah, menjual dagangannya ke pasar, dan transaksi dengan para mitra bisnis, termasuk dengan singkek "China". Untuk barang bukti utusan Mbah yai. Santri cukup dengan membawa cincin beliau 'merah delima'. 

    Diantara santri yang kemudian menjadi keluarga adalah putra-putri kyai Yusuf Kelutan, yaitu; Mbah Hasyim, Mbah Harun dan Mbah Dewi. Ketiga orang bersaudara ini kemudian menjadi keluarga dekat. Hasyim diambil menantu, dinikahkan dengan putri pertamanya, yaitu mbokde Siti Kapiyah. Harun diajak besanan,  pakde Benu/ Ibnu Hasyim nikah dengan putri Mbah Harun Yang pertama : mbokde Siti Fatimah. Dewi dinikahkan dengan lurah pondok yang berasal dari Mbegelen, yaitu Mbah Faqih. Belakangan putra Mbah Harun menikahi cucu Mbah Umar, yaitu Kyai Abdillah menikahi Nihayah binti Aqib Umar.
    Santrinya yang dari Sekaran Nadzir bin Haji Shaleh.
    Santrinya yang dari Sekaran Nadzir bin H. Sholeh, dinikahkan dengan putri nya yang ke 5, Rukanah. Dari pernikahan tersebut lahir cucu-cucu beliau yang 'alim-alim, yaitu; Munhamir atau Mundzir (menulis beberapa kitab pesantren), Daniel (tokoh pergerakan tahun 1960-an.), Moh. Thoha, Khutthot penerbit Menara Kudus, dan Ilham (kyai senior di Kediri). 

    Bersama dengan para santri dan menantunya, Mbah Umar, juga aktif membangun dakwah, Islam. Di antaranya mengordinir jum'atan di Warujayeng, mendirikan pusat suluk dan kemursyidan Thoriqah Naqsyabandiyah di Mindi.

    Cucu yang dari putri pertama beliau (Siti Kapiyah), juga ada yang menjadi kyai Mursyid besar, yaitu kyai Ali bin Siti Kapiyah binti KH.Umar Murtojo, yang kemursyidannya ada di Punggur Metro Lampung Tengah. Sekarang kemursyidannya dilanjutkan oleh cucunya yang namanya KH.Muhtar (anggota group).
    Semoga ada diantara anak-anak dan keluarga kita bisa sukses studi di Turki.., seperti Mbah Umar Murtojo sang pengembara.

    Murtojo kecil berangkat mengembara sekitar tahun 1835 pasca perang Diponegoro. Berangkat dari dusun logantung- Murisan, Dlanggu Surakarta. Bersama dengan kakaknya (Mustopo) dan adiknya (Hasan Mimbar), menuju Jawa Timur, Tepat nya di desa Binangun, Kec. Binangun, Blitar Selatan. Berjalan kaki, gendong adiknya yang masih kecil itu, gantian dengan kakaknya, melalui pantai Selatan pulau Jawa. 

    Setelah mondok di Binangun Blitar, beliau bertiga melanjutkan studinya di pesantrennya kyai Abdurrahman Gurah Kediri..... kemudian juga melanjutkan studi di Jampes Kediri. Selanjutnya mondok dan berjuang bersama dengan Mbah KH. Imam Ahmad Mberuk Sonopinggir-Ngronggot Nganjuk. Di pondok inilah, Mbah kyai Umar Murtojo memulai karir dan pengabdiannya.
    Tidak seberapa lama ikut berjuang Mbah imam Ahmad, Mbah Umar  dijadikan menantu oleh Mbah Imam Ahmad, dinikahkan dengan putri pertamanya, yaitu Mbah Mujirah. Mbah Umar tinggal dan mendirikan musholla dan pesantren di barat jembatan Kelutan. Tepatnya sekarang lokasi madrasah Al Ulya. Utara jalan tempat rumah, mushalla dan pondokannya, sedangkan Selatan jalan rumah para Magersari, yang merupakan tanah pemberian Mbah imam Ahmad Mberuk.

    Sedangkan kakak Mbah Umar (Mbah Mustopo) mukim di Ngronggot. Dan adiknya (Hasan Mimbar) mukim di Bagorejo Banyuwangi.  Waktu melahirkan Mbah Mujirah (Istri pertama Mbah Umar) meninggal dunia berikut putra yang dilahirkan.

    Setelah beberapa saat dari kematian Mbah Mujirah, Mbah Umar dinikahkan oleh Mbah imam Ahmad dengan putri bawaan istri keduanya (Martijah) yang bernama Siti Marhamah binti kyai Romli Banjar melati Bandar Kidul Kediri. Mbah Imam Ahmad itu istrinya tiga, tapi tidak poligami. Istri pertama namanya Martinah meninggal dunia dengan meninggalkan 2 anak. Kemudian beliau nikah lagi dengan seorang janda dengan 2 anak perempuan (Masriah dan Marhamah), janda itu namanya Martijah binti Yusuf. Dalam perkawinan dengan Mbah Martijah ini Mbah imam Ahmad mendapatkan tambahan putra 8 orang. Kemudian Mbah Martijah meninggal dunia. Konon Mbah imam Ahmad sudah berumur 115 atau 125 tahun. Kemudian beliau nikah lagi dengan santrinya yang masih gadis namanya Paelah. Dari pernikahan yang ke tiga ini Mbah imam Ahmad mendapat tambahan putra 5 orang lagi.

    Setelah beberapa saat Mbah Umar menikahi Mbah Siti Marhamah dan menempati rumah di Utara jembatan (lokasi madrasah Al Ulya) beliau berpindah rumah ke lokasi dalam, tepatnya yang sekarang adalah lokasi Pesantren Terpadu Daru Ulil Kelutan. Dengan alasan Mbah Putri tidak krasan di Utara, karena tempat itu terlalu ramai, dan dekat dengan tempat maksiat. Di pinggir sungai atau penyeberangan (tambangan), ada warung remang-remang (Mbah bleng) dan tempat hiburan jedoran-jaranan.

    Keinginan pindah rumah Mbah Putri mendapatkan kesempatan yang tepat, yaitu adanya keinginan Mbah Kyai... (Pemilik rumah dan pekarangan yang sekarang ditempati pesantren Terpadu Daru Ulil Albab) untuk pindah rumah ke Klampisan Minggiran Kediri. Kyai Mustajab (sahabat Mbah Umar) ini biasa pinjam kuda putih kesayangan Mbah Umar. Akhirnya atas inisiatif beliau lahan pekarangan ini diberikan kepada Mbah Umar sebagai gantinya beliau harus memberikan kuda putih kesayangan itu pada Mbah kyai Mustajab. Beliau ini seorang kyai Mursyid thariqoh Naqsyabandiyah. Beliau ini konon ahli tentang jin dan pusaka-pusaka.

    Setelah pindah ke tempat yang baru, beliau membangun musholla di tengah lokasi lahan yang berbentuk bujur sangkar itu, tepat dilokasi masjid yang sekarang agak kebelakang. sementara rumahnya dibangun di depan sebelah Utara (rumah pak Muhsin dulu adalah rumah mbah Umar bagian belakang) bangunan  pondok ada di sebelah depan selatan. Sedangkan di belakang Utara dan Selatan para Magersari.

    Pernikahan Mbah Umar dengan Mbah nyai Marhamah menghasilkan 8 orang putra putri, Yakni:
    1. Siti Kapiyah
    2. Abdul Basyar
    3. Asro
    4. Ibnu Hasyim
    5. Rukanah
    6. Rukayah
    7. Aqib
    8. Athiq.
    Siti Kapiyah dinikahkan dengan santri Mbah Umar yang senior yang namanya Hasyim, dulu rumahnya di Utara masjid Kelutan. Dulu masjid Kelutan adalah musholla kecil Mbah Yusuf. Kemudian dijadikan masjid desa di zaman Mbah Harun (adiknya Hasyim), sekitar tahun 50-60 an.
    Abdul Basyar adalah anak laki-laki pertama Mbah Umar yang menikah dengan Saporah binti KH.Idris Sekombang Kelurahan Ngronggot.

    Asro anak ketiga yang menikah 2x,  dengan  syamsiah (meninggal dengan 1anak), dan Ruhani. Beliau dulu mukim tinggal di lokasi pesantren, depan masjid sebelah selatan jalan (sekarang ditempati pak kyai Mubasyir), depan rumah saya.
    Ibnu Hasyim, adalah putra Mbah Umar yang tinggal dan menempati ndalem keprabon (rumah Mbah Umar).
    Ibnu Hasyim (mbah Benu) menikah dengan putri pertamanya Mbah Harun yang namanya Siti Fatimah.
    Rukanah putri ke 5 Mbah Umar dinikahkan dengan santrinya yang sangat tampan dan kaya, yang namanya Nadzir bin H. Shaleh sekaran.  Beliau yang menemani Mbah Umar menunaikan ibadah haji, bersama H. Ali Mindi dan H.Usman, naik kapal laut selama lebih dari enam bulan.
    H. Nadzir adalah kyai penerusnya Mbah Umar setelah....
    Putranya yang ke 6 yang namanya Ruqoyyah (Rukayah), dinikahkan dengan Mbah Syuhud dari Juwono, Kertosono. Keturunan langsung dari Mbah kyai Hasan Besari Ponorogo. Mbah kayah tinggal di lokasi pesantren Daru Ulil Albab (sekarang) sebelah tenggara. Mbah Syuhud dan Mbah Nadzir (dua orang menantu laki2 Mbah Umar), yang memegang kepemimpinan pondok sebelum putra-putra Mbah Umar pulang dari Pondok. Karena ketika Mbah Umar meninggal Mbah Basyar, Mbah Sero dan Mbah Benu masih di pondok, sedangkan Mbah Aqib dan mbak Atik masih yatim dan balita.

    Putra yang ke 7 Mbah Umar adalah Aqib. Setelah haji beliau menambahkan namanya dengan 'Abdullah di depan namanya dan  Umar di belakang nama...
    Abdullah Aqib Umar adalah putra Mbah Umar yang sejak kecil sudah disepakati oleh saudara2 nya sebagai pemangku jabatan kyai pewaris Mbah Umar..., Beliau yang menyerahkan estafeta ke kyaian dari Mbah Umar kepada cucunya yang namanya Kharisudin Aqib, sehingga Alhamdulillahirobbil pesantren yang telah sekitar 100 tahun mengkista di dalam tanah kini mulai tumbuh dan berkembang.
    Mbah Aqib menikah dengan seorang gadis cantik dari Sumbergempol Tulung agung. Namanya Siti Marhamah, Putri Mbah KH. Abdul Malik, seorang calak tersohor pada zamannya. Santri Mbah Kyai Misri Mindi, Mursyid Thoriqoh Naqsyabandiyah.

    Putra Mbah Umar yang ke 8 (terkecil) namanya Athiq. Beliau ditinggal wafat Mbah Umar dalam keadaan yatim balita. Beliau menikah dua kali, yang pertama dengan Bulek Hindun dan berputra satu, yaitu H. Hamim Thohari (tinggal di desa Tegaron) dan yang kedua dengan Bulek Siti Kapiyah (bek kap) juga berputra satu. Yaitu Mukminatin (alm), yang tinggal di dalam lokasi Pesantren Terpadu Daru Ulil Albab.

    Ke delapan putra-putri Mbah Umar Murtojo semuanya sudah meninggal dunia dengan meninggalkan anak cucu yang jumlahnya kurang lebih 300 jiwa (ingat saya tahun 2003 saya pernah melakukan pendataan), dan pendirian yayasan keluarga yang namanya YASOBUR (Yayasan Solidaritas Bani Umar Murtojo).

    Mbah Umar membuat pusat kegiatan akademik (ngajar ngaji santri, menulis kitab), spiritual (ibadah-ibadah), sosial ekonomi (pertanian ,, perdagangan dan pemberdayaan masyarakat) berupa pondok pesantren. 

    Pondok pesantren Mbah Umar berada di lokasi yang sekarang diberi nama Pesantren Terpadu Daru Ulil Albab Kelutan. Beliau terkenal kealimannya di bidang ilmu Ushul (Ushuluddin), ilmu pokok2 agama Islam (ilmu Kalam, ilmu fiqih dan ilmu tasawuf).
    Murid beliau banyak yang berasal dari Mbegelen, Madiun, solo, Banyuwangi dll). Santrinya banyak yang membantu Mbah Umar sekaligus belajar kwirausahaan. Bidang agrobisnis, perdagangan kuda dan kain batik dari Surakarta atau Solo.
    Pondok Mbah Umar berangsur-angsur mati dan mengkista di dalam tanah setelah meninggalnya Mbah Umar.
    Beliau meninggal tepat hari raya idul Fitri pada hari Sabtu, 14 Agustus 1915 M, atau 1 Syawal 1333 H.
    Tepatnya setelah sholat idul Fitri. Pada saat khutbah dilaksanakan beliau dalam kondisi sakit kritis. Dengan ditunggui oleh muridnya yang bernama Harun (Mbah kyai Harun Kelutan), beliau berkata "Run... Nadzir nek khutbah Ojo oleh sue-sue... Iki rasane wis teko udhel Iki".  Dan benar ketika Mbah Kyai Nadzir (mantu beliau yang lagi khutbah) turun, Mbah Umar Murtojo menghembuskan nafasnya yang terakhir... dengan dzikrullah dan husnal khotimah...

    Kelutan, Kamis, 11 Januari 2018
    TTD
    Kharisudin Aqib Al Kelutani

    Tentang Kami-Pendaftaran-Contact
    Copyright © 2013 Pondok Pesantren - DARU ULIL ALBAB. Blogger Template by BloggerTheme9
    Proudly Powered by Blogger.
    back to top