• Profil

    Pesantren Terpadu Daru Ulil Albab

  • INFORMASI PENDAFTARAN SANTRI BARU

    Informasi Pendaftaran Santri Baru 2017-2018

  • Wakaf Tunai

    Gerakan Wakaf Sejuta Umat Ulul Albab

  • Mujahadah

    Jadwal Mujahadah


  • Pengamalan Surat Ke  12 : Yusuf
    (Yusuf)

    بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

    Dengan Asma Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
    Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
    1. Mengetahui, bahwa Allah adalah Maha pengasih (kasih sayang yang bersifat material hidonistik) lagi Maha Penyayang (kasih sayang yang bersifat spiritual edukatif). Begitu juga seharusnya orang tua kita (baik orang tua biologis, sosiologis maupun struktural) sebagai wakil Allah di muka bumi ini.
    2. Memahami dan menghayati, bahwa sebagai hamba Allah kita harus yakin dan husnudhon  bahwa Allah adalah Rahman Rahim. Dan sebagai Khalifatullah kita juga harus senantiasa bersikap Rahman dan Rohim.
    3. Mendasari sikap mental dan karakter kita dengan dominasi sifat Rahman dan rahim.

    1.      Ayat 1-3

    الر ۚ تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ الْمُبِينِ * إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ * نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ أَحْسَنَ الْقَصَصِ بِمَا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ هَٰذَا الْقُرْآنَ وَإِنْ كُنْتَ مِنْ قَبْلِهِ لَمِنَ الْغَافِلِينَ


    "Alif laam ro, itu adalah ayat-ayat kitab yang menjelaskan,Sungguh Kami yang telah menurunkannya sebagai bacaan yang berbahasa Arab agar kalian menjadi cerdas, Kamilah yang  menceritakan sebaik-baik kisah dengan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dalam al qur'an ini, sedangkan kamu sebelumnya termasuk orang-orang lupa".

    Ayat-ayat tersebut mengisyaratkan agar kita;
    1. Mau belajar bahasa arab, karena ia adalah bahasa al.qur'an. Sedangkan al quran adalah kitab suci yang penuh penjelasan (petunjuk) untuk kehidupan kita.
    2. Mentradisikan membaca dan menkaji al quran, agar diri kita menjadi "cerdas" (bisa jadi cerdas spiritual, emosional, dan juga intelektual sekaligus). Karena kemukjizatan lughowi al qur'an.
    3. Yakin dan mengakui bahwa al quran itu mukjizat Nabi Muhammad yang abadi yang diturunkan oleh Allah swt. Sehinga huruf per huruf pun memiliki mukjizat.
    4. Mau menkaji dan menjadikan kisah-kisah qurani sebagai bahan pelajaran, khususnya kisah Nabi Yusuf yang ada di surat ini, sebagai kisah terbaik.

    2.      Ayat 4

    إِذْ قَالَ يُوسُفُ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ إِنِّي رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ رَأَيْتُهُمْ لِي سَاجِدِينَ
    "Tatkala Yusuf berkata kepada bapaknya, " bapakku aku telah (mimpi) melihat 11 bintang, matahari dan bulan, aku melihat semuanya sujud kepadaku".




    Ayat tersebut mengisyaratkan, agar kita;
    1. Memulai perjuangan dan karir dari impian atau cita-cita. Sehingga sukses seperti Nabi Yusuf.
    2. Cita-cita harus setinggi-tingginya, walaupun mungkin tidak rasional. Jika diperjuangkan dan istiqomah penuh doa dan tawakkal pasti tercapai juga.
    3. Impian dan cita-cita boleh disampaikan hanya kepada orang tua (guru dan atau wali kita), sebagai pendukung moral kesuksesan.

    3.      Ayat 5

    قَالَ يَا بُنَيَّ لَا تَقْصُصْ رُؤْيَاكَ عَلَىٰ إِخْوَتِكَ فَيَكِيدُوا لَكَ كَيْدًا ۖ إِنَّ الشَّيْطَانَ لِلْإِنْسَانِ عَدُوٌّ مُبِينٌ
    "Dia (bapaknya Nabi Yusuf) berkata; wahai anakku, janganlah kau ceritakan mimpimu itu pada saudara-saudaramu, mereka nanti akan merekayasamu, Sungguh setan itu adalah musuh nyata bagi manusia".

    Ayat tersebut mengisyaratkan, agar kita;
    1. Tidak sembarangan menceritakan mimpi2, rencana dan cita-cita kita. Khawatir akan menimbulkan iri hati, hasut dan lain-lain, sehingga menggagalkan cita-cita.
    2. Memberikan bimbingan karir, motivasi dan strategi menghindari bahaya terhadap anak (murid, dan anak buah), yang lagi konsultasi.

    4.      Ayat 6
    وَكَذَٰلِكَ يَجْتَبِيكَ رَبُّكَ وَيُعَلِّمُكَ مِنْ تَأْوِيلِ الْأَحَادِيثِ وَيُتِمُّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَعَلَىٰ آلِ يَعْقُوبَ كَمَا أَتَمَّهَا عَلَىٰ أَبَوَيْكَ مِنْ قَبْلُ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ ۚ إِنَّ رَبَّكَ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

    "Itu artinya, Tuhanmu akan memilihmu dan mengajarimu sebagian takwil peristiwa-peristiwa dan akan menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu dan kepada keluarga Yakqub, seperti Dia dulu Ia telah menyempurnakannya kepada kedua bapakmu; Ibrahim dan Ishak, Sungguh Tuhanmu itu Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana".

    Ayat tersebut mengisyaratkan, agar kita;
    1. Menafsirkan mimpinya anak; baik mimpi beneran atau impian dan cita-cita, anak kita (anak kandung, anak buah, juga murid), dengan positif dan motivatif.

    5.      Ayat 7

    لَقَدْ كَانَ فِي يُوسُفَ وَإِخْوَتِهِ آيَاتٌ لِلسَّائِلِينَ
    "Sungguh ada di dalam diri Yusuf dan saudara-saudaranya  adalah tanda-tanda (teori-teori) bagi orang-orang yang bertanya (para peneliti)".

    Ayat tersebut mengisyaratkan, agar kita;
    1. Membaca kisah tentang perjalanan hidup Nabi Yusuf dan saudara-saudaranya.12 orang bersaudara, putra Nabi Ya'qub As. dari 3 istri.
    2. Merasa tertantang (bagi para ilmuwan peneliti, khususnya bid.heriditas) untuk melakukan penelitian yang mendalam tentang Nabi Yusuf dan saudara-saudaranya. Karena mereka adalah cikal bakal Bani Israel yang sangat berpengaruh di dunia ini.
    3. Mau belajar dari kisah Nabi Yusuf ini, karena ini adalah ahsanal qosos (kisah terbaik dalam al qur'an). Sangat lengkap, kronologis dan happy ending untuk semua tokoh pemeran.

    6.      Ayat 8

    إِذْ قَالُوا لَيُوسُفُ وَأَخُوهُ أَحَبُّ إِلَىٰ أَبِينَا مِنَّا وَنَحْنُ عُصْبَةٌ إِنَّ أَبَانَا لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
    "Tatkala mereka (saudara-saudara Yusuf) berkata; Yusuf dan saudaranya itu lebih disayang oleh bapak kita daripada kita, padahal kita lebih banyak, Sungguh bapak kita itu dalam kesesatan yang nyata".

    Ayat tersebut mengisyaratkan, agar kita;
    1. Menghindari arogansi mayoritas hingga meninggalkan pola pikir yang lurus dan jernih.
    2. Menghindari su-udhon, khususnya kepada orang tua, guru dan pimpinan. Karena su-udhon adalah sebab pertama terjadinya permusuhan diantara keluarga.
    3. Hendaknya kita sportif (tidak curang dan khianat) dalam persaingan hidup, khususnya untuk mendapatkan perhatian orang tua, guru dan atasan.

    7.      Ayat 9

    اقْتُلُوا يُوسُفَ أَوِ اطْرَحُوهُ أَرْضًا يَخْلُ لَكُمْ وَجْهُ أَبِيكُمْ وَتَكُونُوا مِنْ بَعْدِهِ قَوْمًا صَالِحِينَ
    " Bunuhlah Yusuf atau buang saja dia di suatu tempat, nanti wajah bapak kalian tak terhalang lagi untuk melihat diri kalian, setelah itu kalian akan menjadi orang-orang yang sholeh".

    Ayat tersebut mengisyaratkan, agar kita;
    1. Mengetahui betapa dahsyat akibat su-udhon dan hasut, (pembunuhan dan pembuangan).
    2. Menghindari kemungkinan terjadinya permusuhan dalam keluarga, karena irihati dan hasud , khususnya dalam pendidikan dan pengasuhan dalam keluarga.
    3. Menghindari persetujuan dan persekongkolan dalam dosa (itsmi) dan permusuhan ('udwan). Karena pasti tidak beruntung.

    8.      Ayat 10

    قَالَ قَائِلٌ مِنْهُمْ لَا تَقْتُلُوا يُوسُفَ وَأَلْقُوهُ فِي غَيَابَتِ الْجُبِّ يَلْتَقِطْهُ بَعْضُ السَّيَّارَةِ إِنْ كُنْتُمْ فَاعِلِينَ
    "Juru bicara diantara mereka berkata "jangan kalian bunuh Yusuf, lempar saja dia ke dalam sumur, nanti biar ditemukan oleh sebagian diantara rombongan dagang, jika kalian para pelakunya".

    Ayat tersebut mengisyaratkan, agar kita;
    1. Mengetahui, bahwa biasanya permusuhan saudara itu tidak sampai membunuh. Seperti hikmah jawa "tego lorone ra tego patine".
    2. Mengetahui, kejahatan berencana itu pasti ada aktor intelektualnya (juru bicaranya) yang mengatur skenarionya.
    3. Menghindari, persekongkolan dalam kejahatan, seperti yang dilakukan oleh saudara-saudaranya Nabi Yusuf As terhadap dirinya.

    9.      Ayat 11

    قَالُوا يَا أَبَانَا مَا لَكَ لَا تَأْمَنَّا عَلَىٰ يُوسُفَ وَإِنَّا لَهُ لَنَاصِحُونَ

    " Mereka berkata, " wahai bapak kami, kenapa engkau tidak mempercayai kami untuk mengajak Yusuf, padahal sungguh kami adalah  penasehatnya".

    Ayat tersebut mengisyaratkan, agar kita;
    1.  Memahami adanya ikatan batin antara orangtua    dengan anak.
    2. Mewaspadai orang-orang yang dalam kata-katanya memberikan penekanan-penekanan (sumpah, janji-janji sungguh ) Yang melakukannya, kebanyakan mereka pembohong.

    10.  Ayat 12

    أَرْسِلْهُ مَعَنَا غَدًا يَرْتَعْ وَيَلْعَبْ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
    "Suruhlah dia bersama kami besuk, agar dia bisa bersenang dan berman, pasti kami akan menjaganya"

    Ayat tersebut mengisyaratkan, agar kita;
    1. Waspada dalam berkomunikasi dengan orang lain, kalau kata-kata penekanan diulang-ulang untuk menguatkan janji sering kali sebagai penutup niat yang tidak baik (ada kebohongan di baliknya).
    2. Tidak meminta amanah dengan niatan yang tidak baik (niat merusak dan atau menterlantarkan).
    3. Waspada dalam melepaskan amanah kepada orang lain. Walaupun kepada anak sendiri. Bertawakkallah kepada Allah swt.

    11.  Ayat 13
    قَالَ إِنِّي لَيَحْزُنُنِي أَنْ تَذْهَبُوا بِهِ وَأَخَافُ أَنْ يَأْكُلَهُ الذِّئْبُ وَأَنْتُمْ عَنْهُ غَافِلُونَ

    "Dia (Nabi Ya'qub) berkata, "Sungguh sangat meresahkan diri, jika kalian akan pergi dengan dia (Yusuf), dan saya takut kalau nanti dia dimakan serigala, karena kalian melupakannya".

    Ayat tersebut mengisyaratkan, agar kita;
    1. Memberikan pesan-pesan dan peringatan kepada anak, anak buah, atau murid,  yang akan mengemban amanah atau akan bepergian.
    2. Tidak terlalu menampakkan kasih sayang kepada seseorang (anak, anak buah atau anak murid), di depan saudara atau temannya. Agar tidak menimbulkan cemburu atau iri hati seperti putra-putra Nabi Ya'qub kepada saudara, yaitu Nabi Yusuf kecil.

    12.  Ayat 14
    قَالُوا لَئِنْ أَكَلَهُ الذِّئْبُ وَنَحْنُ عُصْبَةٌ إِنَّا إِذًا لَخَاسِرُونَ
    "Mereka (saudara-saudara Yusuf) berkata, "kalau dia sampai dimakan serigala padahal kami orang banyak, kalau seperti itu rugi kita ini".

    Ayat tersebut mengisyaratkan, agar kita;
    1. Waspada terhadap orang yang omongannya tinggi. Biasanya itu juga bumbunya penipuan.
    2. Faham, bahwa omongan tinggi, janji-janji, sumpah-sumpah. Adalah gaya komunikasi orang-orang mayoritas oriented, yang seringkali tidak berkwalitas.
    3. Tidak berbuat dan bergaya seperti saudara-saudara Nabi Yusuf As.





    13.  Ayat 15

    فَلَمَّا ذَهَبُوا بِهِ وَأَجْمَعُوا أَنْ يَجْعَلُوهُ فِي غَيَابَتِ الْجُبِّ ۚ وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِ لَتُنَبِّئَنَّهُمْ بِأَمْرِهِمْ هَٰذَا وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ
    " Maka tatkala mereka pergi membawanya (yusuf), dan telah bersepakat menceburkannya ke dasar sumur itu, maka Kami menurunkan wahyu kepadanya "pasti kamu nanti yang akan menceritakan kejadian besar ini pada mereka. Mereka sudah lupa".

    Ayat tersebut mengisyaratkan, agar kita;
    1. Tidak boleh bersekongkol dalam kejahatan, apalagi pembunuhan. Pasti akan ketahuan di belakang hari.
    2. Supaya kita faham, bahwa kesalahan atau kejahatan itu mudah dilupakan oleh pelakunya dan  tidak mudah dilupakan oleh korbannya. Demikian juga nilainya di hati. Sebaliknya kebaikan.
    3. Membiasakan, mengingat kesalahan dan keburukan kita dan melupakan kesalahan dan keburukan orang lain. Melupakan kebaikan, kebenaran dan jasa diri dan selalu mengingat kebaikan, kebenaran dan jasa orang lain.

    14.  Ayat 16-17

    وَجَاءُوا أَبَاهُمْ عِشَاءً يَبْكُونَ * قَالُوا يَا أَبَانَا إِنَّا ذَهَبْنَا نَسْتَبِقُ وَتَرَكْنَا يُوسُفَ عِنْدَ مَتَاعِنَا فَأَكَلَهُ الذِّئْبُ ۖ وَمَا أَنْتَ بِمُؤْمِنٍ لَنَا وَلَوْ كُنَّا صَادِقِينَ
    "Mereka (saudara-saudara Yusuf) datang kepada bapaknya di petang hari sambil menangis, seraya berkata: " wahai bapak kami, kami lagi pergi berlomba, terus yusuf saya tinggal di dekat barang-barang kami, tau-tau dia sudah dimakan serigala. tentu Engkau tidak percaya, walaupun kami adalah orang-orang yang benar".

    Dua ayat tersebut mengisyaratkan, agar kita;
    1.      Memahami, gaya-gaya penipuan. Dengan datang dengan tergopoh-gopoh dan di waktu kalut (petang hari), dan dengan menangis untuk mengiba, disamping sumpah dan tekanan-tekanan.
    2.      Tidak berbuat khianat dan berbohong, karena satu kebohongan dan penghiatan akan melahirkan kebohongan-kebohongan dan pengkhiyatan-pengkhiyatan baru dan seterusnya.

    15.  Ayat 18

    وَجَاءُوا عَلَىٰ قَمِيصِهِ بِدَمٍ كَذِبٍ ۚ قَالَ بَلْ سَوَّلَتْ لَكُمْ أَنْفُسُكُمْ أَمْرًا ۖ فَصَبْرٌ جَمِيلٌ ۖ وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَىٰ مَا تَصِفُونَ
    "Mereka datang dengan membawa membawa bajunya yusuf dengan darah palsu. Dia (ya'qub) berkata  " itu hanyalah anggapan baik kalian sendiri, maka sabar itu indah. Allahlah tempat memohon pertolongan apa saja yang kalian sifati itu".

    Ayat tersebut mengisyaratkan, agar kita;
    1.      Faham, bahwa kebohongan itu pasti mencurigakan. Dan kalau ada tertuduh membawa barang bukti, perlu diragukan kebenarannyan.
    2.      Bertawakkal kepada Allah dan bersabar dalam menghadapi kenakalan anak-anak kita.
    3. Tidak menghukum anak yang nakal, apalagi belum  jelas-jelas kesalahannya.

    16.  Ayat 19

    وَجَاءَتْ سَيَّارَةٌ فَأَرْسَلُوا وَارِدَهُمْ فَأَدْلَىٰ دَلْوَهُ ۖ قَالَ يَا بُشْرَىٰ هَٰذَا غُلَامٌ ۚ وَأَسَرُّوهُ بِضَاعَةً ۚ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِمَا يَعْمَلُونَ
    "Dan telah datang rombongan dagang, mereka mengulurkan tali-tali timbanya untuk mengambil air. Kemudian dia (yang nimba), berkata; "alangkah senangnya, ini seorang anak", kemudian mereka merahasiakannya sebagai barang dagangan. Dan Allah Maha mengetahui apa saja yang mereka kerjakan".

    Ayat tersebut mengisyaratkan,agar kita;
    1. Mentafakkuri kehebatan skenario Allah, untuk menyelamatkan orang pilihan-Nya.
    2. Tidak melakukan perdagangan manusia, walaupun secara sembunyi-sembunyi atau tidak langsung.
    3. Meyakini bahwa Allah Maha Melihat apa saja yang dilakukan oleh makhluk, baik dhohir maupun batin.

    17.  Ayat 20

    وَشَرَوْهُ بِثَمَنٍ بَخْسٍ دَرَاهِمَ مَعْدُودَةٍ وَكَانُوا فِيهِ مِنَ الزَّاهِدِينَ
    "Mereka menjualnya (yusuf) dengan harga yang sangat murah, karena mereka tidak tertarik dengannya".

    Ayat tersebut mengisyaratkan, agar kita;
    1. Memahami, bahwa masalah tertarik (senang dan tidak senang) itu bukan fisikal rasional, tapi urusan hati. Demikian juga sikap mental ZUHUD, bukan fisikal yang rasional.
    2. Tidak mengolok olok selera orang lain yang berbeda dengan selera kita atau selera dan pandangan mata umum.
    3. Hormat dan toleran dengan pilihan hidup orang lain, khususnya yang terkait dengan cinta dan selera.

    18.  Ayat 21

    وَقَالَ الَّذِي اشْتَرَاهُ مِنْ مِصْرَ لِامْرَأَتِهِ أَكْرِمِي مَثْوَاهُ عَسَىٰ أَنْ يَنْفَعَنَا أَوْ نَتَّخِذَهُ وَلَدًا ۚ وَكَذَٰلِكَ مَكَّنَّا لِيُوسُفَ فِي الْأَرْضِ وَلِنُعَلِّمَهُ مِنْ تَأْوِيلِ الْأَحَادِيثِ ۚ وَاللَّهُ غَالِبٌ عَلَىٰ أَمْرِهِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
    "Orang yang dari Mesir itu telah membeli yusuf dan berkata kepada istrinya, mulyakan tempat tinggalnya, barangkali nanti bisa bermanfaat untuk kita atau kita adopsi. Demikianlah kami menempatkan Yusuf (di Mesir) dan Kami mengajarinya sebagian ilmu prediksi peristiwa. Allahlah pemenang atas perintah-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui".

    Ayat tersebut mengisyaratkan, agar kita;
    1. Memahami, bahwa azas utama jual-beli adalah manfaat, khususnya manfaat pribadi.
    2. Menghayati, bahwa skenario Allahlah yang pasti akan terjadi, walaupun seakan akan mustahil, tetapi tetap rasional dan kausalistis.
    3. Tidak menyerahkan penuh urusan pembantu (lawan jenis) atau anak angkat (lawan jenis) dengan istri atau suami kita,  kepadanya.

    19.  Ayat 22

    وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ آتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ
    " Dan tatkala dia (Yusuf), telah sampai usia dewasa, Kami memberinya kearifan-kearifan dan ilmu pengetahuan. Demikianlah kami memberikan balasan kepada orang-orang yang baik (mengenal diri dan Tuhannya, hingga baik budi, hati dan amalinya)".

    Ayat tersebut mengisyaratkan, agar kita;
    1. Menjadi orang yang muhsin (tahu diri dan ilahinya). Orang yang hati dan prilakunya baik. Agar bisa memperoleh ilmu dan hikmah ilaahiyah.
    2. Faham, bahwa hanya dengan istiqomah dalam ihsan, seseorang pada waktu "dewasa"nya akan memperoleh hikmah (kearifan) dan ilmu (pengetahuan) dari sisi Allah (ilmu ladunni).
    3. Mengetahui, keihlasan dan keihsanan Nabi Yusuf selama menjadi "anak angkat" menteri perekonomian Mesir. Sehingga dia sukses menjadi penggantinya.

    20.  Ayat 23

    وَرَاوَدَتْهُ الَّتِي هُوَ فِي بَيْتِهَا عَنْ نَفْسِهِ وَغَلَّقَتِ الْأَبْوَابَ وَقَالَتْ هَيْتَ لَكَ ۚ قَالَ مَعَاذَ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوَايَ ۖ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ
    "Wanita yang dia (Yusuf) tinggal di rumahnya (Zulaikha) telah menggodanya.dan wanita itu menutup pintu-pintu, seraya berkata "ke sinilah kau" . Yusuf berkata "ma'adzallaah" sungguh tuanku telah memberikan tempat terbaik untukku, sungguh orang-orang yang dholim itu tidak akan beruntung".

    Ayat tersebut mengisyaratkan, agar kita;
    1. Tidak berbuat dholim, dengan mengkhianati orang yang telah memberi kepercayaan pada kita dan lain-lain.
    2. Kita harus hati-hati dan menjaga jarak pergaulan dengan lawan  jenis. Karena bisa jadi hikmah jawa "awiting trisno jalaran songko kulino".berlaku pada kita.
    3. Kita harus faham, bahwa wanita juga bisa terbakar bara cinta (birahi) lebih dulu, walaupun seringkali terselimuti oleh rasa malu dan gengsi.

    21.  Ayat 24

    وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ ۖ وَهَمَّ بِهَا لَوْلَا أَنْ رَأَىٰ بُرْهَانَ رَبِّهِ ۚ كَذَٰلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ ۚ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ
    "Sungguh dia (Zulaikho) tertarik dengannya (yusuf), dan kalau dia tidak melihat "burhan" Tuhan dia juga akan tertarik dengan Zulaikha. Yang demikian itu untuk Kami gunakan menghilangkan keburukan dan kekejian dari dirinya (Yusuf). Karena dia itu termasuk hamba-hamba Kami yang ikhlas".

    Ayat tersebut mengisyaratkan, agar kita;
    1. Memahami, betapa berbahayanya berduaan laki-laki dan perempuan di tempat yang sepi. Seandainya bukan Nabi (karena maksum atau dilindungi oleh Allah), pasti keduanya akan terjatuh dalam perzinahan.
    2. Tidak melakukan, khalwat (berduaan dengan orang lain jenis yang tidak halal di tempat yang sepi).
    3. Mengetahui bahwa kemaksuman seorang Nabi adalah karena kepribadiannya yang ikhlas, demikian juga kemakhfudan (keterjagaan wali dari dosa besar) seorang yang dikasihi Allah swt.

    22.  Ayat 25

    وَاسْتَبَقَا الْبَابَ وَقَدَّتْ قَمِيصَهُ مِنْ دُبُرٍ وَأَلْفَيَا سَيِّدَهَا لَدَى الْبَابِ ۚ قَالَتْ مَا جَزَاءُ مَنْ أَرَادَ بِأَهْلِكَ سُوءًا إِلَّا أَنْ يُسْجَنَ أَوْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
    "Keduanya berlomba mencapai pintu, dan dia (zulaikha) merobekkan baju yusuf yang belakang.dan tahu-tahu keduanya mendapati tuannya (suami Zulaikha) di depan pintu. Dia (Zulaikha) berkata "apakah hukuman orang yang mau berbuat jahat pada keluargamu. Kalau bukan penjara atau siksa yang  pedih".

    Ayat tersebut mengisyaratkan, agar kita;
    1.      Memahami, adanya kemungkinan "pemerkosaan" oleh perempuan, dengan berbagai macam tipu daya.
    2.      Menghayati betapa bahayanya tinggal serumah,  manusia yang berlawan jenis kelamin yang bukan pasangan sahnya.
    3.      Menghindari sikap "perempuan" tidak gentleman atau tidak kesatria. Sehingga memutar balikan fakta.

    23.  Ayat 26-27

    قَالَ هِيَ رَاوَدَتْنِي عَنْ نَفْسِي ۚ وَشَهِدَ شَاهِدٌ مِنْ أَهْلِهَا إِنْ كَانَ قَمِيصُهُ قُدَّ مِنْ قُبُلٍ فَصَدَقَتْ وَهُوَ مِنَ الْكَاذِبِينَ * وَإِنْ كَانَ قَمِيصُهُ قُدَّ مِنْ دُبُرٍ فَكَذَبَتْ وَهُوَ مِنَ الصَّادِقِينَ
    "Dia (Yusuf) berkata, "dialah yang menggoda diriku". Seorang saksi (anak kecil) dari keluarganya (Zulaikha) bersaksi "jika baju yusuf yang sobek yang depan, maka dia (Zulaikha) yang jujur dan Yusuf yang dusta, dan jika baju Yusuf yang sobek yang belakang maka dia (Zulaikha) yang dusta dan Yusuf termasuk orang-orang jujur".

    Ayat tersebut mengisyaratkan, agar kita;
    1. Menghayati, adanya mukjizat dalam menunjukkan kebenaran seorang Rasulullah dan kesucian dirinya dari dosa besar.
    2. Mengatakan kebenaran sedapat mungkin dan sebisa mungkin.
    3. Memahami fenomena yang ada dengan secerdas dan sejeli mungkin.

    24.  Ayat 28-29

    فَلَمَّا رَأَىٰ قَمِيصَهُ قُدَّ مِنْ دُبُرٍ قَالَ إِنَّهُ مِنْ كَيْدِكُنَّ ۖ إِنَّ كَيْدَكُنَّ عَظِيمٌ * يُوسُفُ أَعْرِضْ عَنْ هَٰذَا ۚ وَاسْتَغْفِرِي لِذَنْبِكِ ۖ إِنَّكِ كُنْتِ مِنَ الْخَاطِئِينَ
    "Tatkala dia (Suami Zulaikho) melihat, bahwa baju Yusuf  yang sobek adalah bagian yang belakang, dia berkata, "ini ulah dan rekayasa kamu (Zulaikho), rekayasa kamu ini memang hebat . Yusuf, kamu tinggalkan tempat ini". Mohon ampun kepada Allah kamu (Zulaikho), sungguh kamu ini yang salah".

    Ayat tersebut mengisyaratkan, agar kita;
    1. Bijak dalam mengadili konplik dan kemelut dalam rumah tangga. Adil, Tegas, tetapi tidak keras, dan penyadaran akan keterkaitan dengan Allah swt.
    2. Tidak melibatkan orang ke tiga, dalam masalah suami - istri.
    3. Memahami dan waspada terhadap timbulnya konflik rumah tangga jika di dalamnya ada orang ketiga yang berpengaruh terhadap istri atau suami.

    25.  Ayat 30
    وَقَالَ نِسْوَةٌ فِي الْمَدِينَةِ امْرَأَتُ الْعَزِيزِ تُرَاوِدُ فَتَاهَا عَنْ نَفْسِهِ ۖ قَدْ شَغَفَهَا حُبًّا ۖ إِنَّا لَنَرَاهَا فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
    "Para istri di kota itu (Mesir), telah berkata, "istri yang mulia telah tergoda oleh pelayannya, dia telah terbakar bara cinta, kami memandangnya dia itu telah dalam kesesatan yang nyata".

    Ayat tersebut mengisyaratkan, agar kita;
    1. Faham, bahwa gosip itu sangat mudah tersebar di kalangan ibu-ibu. Yang seringkali bersifat menghukumi, walaupun pada belum diketahui duduk persoalannya.
    2. Tidak mudah termakan gosip, atau menyebarkan gosip, khususnya yang berdampak ghibah dan menilai buruk orang lain.
    3. Tidak melibatkan dan menyampaikan kepada  para istri, informasi-informasi yang rentan menjadi buah bibir atau bahan ghosip di kalangan wanita, khususnya  ibu-ibu.





    26.  Ayat 31

    فَلَمَّا سَمِعَتْ بِمَكْرِهِنَّ أَرْسَلَتْ إِلَيْهِنَّ وَأَعْتَدَتْ لَهُنَّ مُتَّكَأً وَآتَتْ كُلَّ وَاحِدَةٍ مِنْهُنَّ سِكِّينًا وَقَالَتِ اخْرُجْ عَلَيْهِنَّ ۖ فَلَمَّا رَأَيْنَهُ أَكْبَرْنَهُ وَقَطَّعْنَ أَيْدِيَهُنَّ وَقُلْنَ حَاشَ لِلَّهِ مَا هَٰذَا بَشَرًا إِنْ هَٰذَا إِلَّا مَلَكٌ كَرِيمٌ
    "Tatkala dia (Zulaikho) telah mendengarkan makar (gosip) mereka (para ibu-ibu), dia mengundang mereka, dan disediakan untuk mereka tempat duduk, dan masing-masing mereka diberikan satu pisau. Kemudian dia panggil (Yusuf), keluar kamu ke depan ibu-ibu ini. Mata tatkala mereka melihatnya, mereka kagum padanya. Hingga mengiris tangan2 mereka sendiri, sambil berkata " subhaanallaah, ini pasti bukan manusia, paling ini malaikat yang mulia".

    Ayat tersebut mengisyaratkan, agar kita;
    1. Memahami, bahwa wanita memilki ketertarikan yang kuat terhadap pria secara biologis. Walaupun kebanyakan tertutup rapat oleh besarnya rasa malu. Yang hanya dimengerti oleh sesama wanitanya.
    2. Mengetahui, bahwa persaingan cinta di dunia wanita, adalah sangat sengit dan  distruktif (merusak).
    3. Tidak dijadikan obyek persaingan cinta yang tidak sehat.







    27.  Ayat 32

    قَالَتْ فَذَٰلِكُنَّ الَّذِي لُمْتُنَّنِي فِيهِ ۖ وَلَقَدْ رَاوَدْتُهُ عَنْ نَفْسِهِ فَاسْتَعْصَمَ ۖ وَلَئِنْ لَمْ يَفْعَلْ مَا آمُرُهُ لَيُسْجَنَنَّ وَلَيَكُونًا مِنَ الصَّاغِرِينَ
    " Dia (Zulaikha) berkata; itulah yang kalian telah ejekan padaku, aku sungguh telah terpedaya dengannya, tetapi dia melindungi diri (tidak mau).nanti jika dia tidak mau menuruti apa yang aku perintahkan, dia pasti akan dipenjara, dan pasti akan menjadi  orang-orang kecil (hina)".

    Ayat tersebut mengisyaratkan, agar kita;
    1. Memahami, dahsyatnya dendam seorang wanita yang lagi terbakar bara. Cinta.
    2. Mengetahui, besarnya pengaruhnya seorang istri pejabat terhadap kebijakan suaminya, yang seringkali tidak terkontrol.
    3. Tidak mencampuradukkan antara urusan pribadi dengan urusan resmi.

    28.  Ayat 33

    قَالَ رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ ۖ وَإِلَّا تَصْرِفْ عَنِّي كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُنْ مِنَ الْجَاهِلِينَ
    "Dia (yusuf) berkata "yaa Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada aku harus mengikuti ajakan mereka itu, dan jikalau tidak Engkau jauhkan dariku rekayasa mereka itu, pastilah aku ini termasuk menjadi orang-orang yang bodoh".

    Ayat tersebut mengisyaratkan, agar kita;
    1. Mengetahui, betapa kuat komitmen Nabi yusuf terhadap kesucian diri dan ketaqwaannya kepada Allah swt.
    2. Menghayati, betapa pentingnya permohonan atau doa perlindungan dari Allah swt. Atas segala macam bentuk godaan setan, baik dari jin maupun manusia. Khususnya godaan lawan jenis kita.
    3. Selalu berdo'a kepada Allah swt. dengan do'a terbaik. Jangan keburu nafsu dalam berdoa, sekalipun doa itu dalam kebenaran.

    29.  Ayat 34

    فَاسْتَجَابَ لَهُ رَبُّهُ فَصَرَفَ عَنْهُ كَيْدَهُنَّ ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
    "Kemudian Tuhannya mengijabahinya, hingga dia (Yusuf)  dijauhkan dari tipudaya mereka (para wanita itu). sungguh Dia itu Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui".

    Ayat tersebut mengisyaratkan, agar kita;
    1. Mengetahui, memahami, menghayati dan meyakini bahwa Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui terhadap hamba-Nya.
    2. Mengetahui, bahwa yang didapatkan oleh Yusuf adalah apa yang ia minta kepada Allah (berdo'a), yaitu; terbebas dari perzinahan, perselingkuhan dan masuk penjara.
    3. Selalu berdoa kepada Allah swt dengan husnudhon, yakin dan penuh harap.In sya Allah....





    30.  Ayat 35

     ثُمَّ بَدَا لَهُمْ مِنْ بَعْدِ مَا رَأَوُا الْآيَاتِ لَيَسْجُنُنَّهُ حَتَّىٰ حِينٍ
    "Kemudian mulai muncul pikiran bagi mereka, setelah melihat gejala2, sehingga mereka memenjarakannya (yusuf), sampai waktu yang tidak jelas".

    Ayat tersebut mengisyaratkan, agar kita;
    1. Menghayati, bahwa di dalam setiap proses ada sebab awal suatu tindakan. Yakni pikiran atau keinginan atau irodah, atau intuisi.
    2. Mengetahui, bahwa keterlibatan Allah dalam setiap tindakan manusia adalah di dalam tindakan awalnya, yaitu: ide, intuisi, atau fantasi seseorang.
    3. Tidak melakukan penghukuman terhadap seseorang tanpa pengadilan dan tanpa kepastian waktu.

    31.  Ayat 36

    وَدَخَلَ مَعَهُ السِّجْنَ فَتَيَانِ ۖ قَالَ أَحَدُهُمَا إِنِّي أَرَانِي أَعْصِرُ خَمْرًا ۖ وَقَالَ الْآخَرُ إِنِّي أَرَانِي أَحْمِلُ فَوْقَ رَأْسِي خُبْزًا تَأْكُلُ الطَّيْرُ مِنْهُ ۖ نَبِّئْنَا بِتَأْوِيلِهِ ۖ إِنَّا نَرَاكَ مِنَ الْمُحْسِنِينَ
    "Dan masuk pula bersama dia (Yusuf), ke dalam penjara dua orang pemuda. Salah seorang darinya berkata "aku bermimpi lagi membuat khamar". Yang satunya lagi berkata "aku bermimpi membawa roti di atas kepalaku, dan kemudian dimakan oleh burung". Tolong takwilkan, sungguh kami melihatmu termasuk orang-orang yang baik sekali".

    Ayat tersebut mengisyaratkan, agar kita;
    1. Menghayati dan memahami,  bahwa setiap Allah memberikan masalah/ ujian, maka disertakan pula di sampingnya solusi dan jawabannya.
    2. Mengetahui, bahwa penampilan atau pakaian akan menjadi kesan yang akan terbaca sebagai citra diri dan karakter seseorang.
    Sebelum terjadi pembicaraan.
    3. Sedapat mungkin berbuat baik, dengan siapa saja, kapan saja dan dimana saja. Sesuai dengan keahlian (kompetisi) dan hak (otoritas) kita.

    32.  Ayat 37

    قَالَ لَا يَأْتِيكُمَا طَعَامٌ تُرْزَقَانِهِ إِلَّا نَبَّأْتُكُمَا بِتَأْوِيلِهِ قَبْلَ أَنْ يَأْتِيَكُمَا ۚ ذَٰلِكُمَا مِمَّا عَلَّمَنِي رَبِّي ۚ إِنِّي تَرَكْتُ مِلَّةَ قَوْمٍ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَهُمْ بِالْآخِرَةِ هُمْ كَافِرُونَ
    "Dia (yusuf) berkata "makanan apa saja yang akan datang kepadamu bisa aku baca takwilnya sebelum datang kepada kalian berdua. Hal tersebut berasal dari pengajaran tuhanku pada dariku. Sungguh aku telah meninggalkan tradisi kaum yang tidak beriman kepada Allah, dan mereka terhadap akhirat adalah pada inkar".

    Ayat tersebut mengisyaratkan, agar kita;
    1. Mengetahui, bahwa nabi yusuf adalah seorang yang berkarakter profesionalis , transendentalis dan reformis.
    2. Memprofil diri menjadi seorang profesionalis, reformis,yang transendentalis.
    3. Menghayati, bahwa pengajaran Allah adalah tak terjangkau oleh rumus2 ilmu manusia biasa. Karena ilmu pengajaran Allah (ladunni) adalah bersifat metafisika.

    33.  Ayat 38

    وَاتَّبَعْتُ مِلَّةَ آبَائِي إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ ۚ مَا كَانَ لَنَا أَنْ نُشْرِكَ بِاللَّهِ مِنْ شَيْءٍ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ فَضْلِ اللَّهِ عَلَيْنَا وَعَلَى النَّاسِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَشْكُرُونَ
    "Dan aku (Yusuf) telah mengikuti kecenderungan (agama) bapak-bapak ku ; ibrahim, ishak dan ya'qub. kami semua tidak menyekutuka Allah samasekali, dan itu adalah sebagian dari karunia Allah kepada kami dan kepada umat manusia (pada umumnya), tetapi sebagian besar manusia itu mau bersyukur".

    Ayat tersebut mengisyaratkan, agar kita;
    1. Mengetahui, bahwa Nabi Yusuf adalah generasi pelanjut misi kerasulan (tauhi), dan keturunan biologis ibrahim, dari jalur ishaq dan ya'qub.
    2. Menghayati, betapa pentingnya aqidah tauhid, sebagai karunia Allah swt.
    3. Mensyukuri karunia Allah swt. yang berupa hidayah iman-tauhid. dengan cara menjaga diri dari segala macam kemusyrikan.

    34.  Ayat 39
    يَا صَاحِبَيِ السِّجْنِ أَأَرْبَابٌ مُتَفَرِّقُونَ خَيْرٌ أَمِ اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ
    "Hai penghuni penjara, manakah yang terbaik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam atau Tuhan yang Maha Esa lagi Maha Perkasa".



    Ayat tersebut mengisyaratkan, agar kita;
    1. Mengetahui, bahwa Nabi Yusuf adalah seorang da'i idiologis (dai yang getol). Berdakwah tauhid, dimana saja dan kapan saja ada kesempatan.
    2. Menghayati, pentingnya dakwah dialogis dan mujadalah secara personal. Karena pada sa'atnya akan tetap tumbuh dan berkembang menjadi syajaroh thayyibah (sejarah kehidupan yang baik).
    3. Supaya kita tetap menyampaikan kebenaran dan kebaikan, sekalipun kepada narapidana.

    35.  Ayat 40

    مَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِهِ إِلَّا أَسْمَاءً سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ ۚ إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ ۚ أَمَرَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
    "Apa saja yang kalian sembah yang selain Dia itu (Allah) hanyalah nama-nama yang kalian dan bapak-bapak kalian buat sendiri. Yang Allah tidak menurunkan landasannya samasekali. Padahal hukum itu hanyalah milik Allah. Dia memerintahkan, agar kita tidak menyembah kecuali hanya kepada-Nya. Itulah agama yang lurus. Tetapi kebanyakan manusia itu pada tidak mengetahui".

    Ayat tersebut mengisyaratkan, agar kita;
    1. Mengetahui, bahwa dalam berdakwah dialogis, menunjukkan kesalahan dan kesesatan teori-teori (agama, filsafat dan tradisi) yang dianut oleh obyek dakwah adalah langkah pertama dalam berdialog. Baru kemudian menjukkan teori-teori yang benar menurut ajaran agama tauhid (islam).
    2. Memahami, bahwa sebagian besar manusia itu tidak mengetahui kebenaran agama yang sesungguhnya. Sehingga sesungguhnya mereka itu membutuhkan dakwah dan pendidikan agama yang mendalam.
    3. Terpanggil untuk menyampaikan kebenaran islam (berdakwah) sesuai dengan kompetensi dan otoritas keilmuan kita, dimana saja dan kapan saja.

    36.  Ayat 41

    يَا صَاحِبَيِ السِّجْنِ أَمَّا أَحَدُكُمَا فَيَسْقِي رَبَّهُ خَمْرًا ۖ وَأَمَّا الْآخَرُ فَيُصْلَبُ فَتَأْكُلُ الطَّيْرُ مِنْ رَأْسِهِ ۚ قُضِيَ الْأَمْرُ الَّذِي فِيهِ تَسْتَفْتِيَانِ
    "Hai penghuni penjara, adapun salah satu dari kalian akan memberikan minuman khamar untuk tuannya. Sedangkan yang lain akan disalib, dan dimakan oleh burung mulai dari kepalanya. Inilah ketentuan takwil yang kalian tanyakan".

    Ayat tersebut mengisyaratkan, agar kita;
    1. Tidak melupakan kepentingan orang lain terhadap diri kita. Disamping dakwah kita kepadanya.
    2. Mengetahui, bahwa Nabi Yusuf adalah orang yang memiliki keahlian yang luar biasa (mukjizat) tentang ilmu prediksi, khususnya ta'bir mimpi.
    3. Menjawab persoalan hidup masyarakat dengan optimis dan  penuh keyakinan.

    37.  Ayat 42

    وَقَالَ لِلَّذِي ظَنَّ أَنَّهُ نَاجٍ مِنْهُمَا اذْكُرْنِي عِنْدَ رَبِّكَ فَأَنْسَاهُ الشَّيْطَانُ ذِكْرَ رَبِّهِ فَلَبِثَ فِي السِّجْنِ بِضْعَ سِنِين
    "Dan (Yusuf) berkata pada orang yang ia duga akan  sukseS (bebas) dari keduanya, "sebutlah diriku pada tuanmu" maka kemudian setan telah melupakannya di depan tuannya. Maka akhirnya dia tinggal di dalam penjara beberapa tahun".

    Ayat tersebut mengisyaratkan, agar kita;
    1. Berusaha keras untuk sukses, termasuk mencari rekomendasi atau tawassul.
    2. Menghayati dan memahami, bahwa hasil usaha itu betul-betul telah terbatasi oleh skenario global TUHAN.
    3. Mengetahui, bahwa Nabi Yusuf juga telah berusaha untuk bisa keluar dari penjara secara resmi.

    38.  Ayat 43

    وَقَالَ الْمَلِكُ إِنِّي أَرَىٰ سَبْعَ بَقَرَاتٍ سِمَانٍ يَأْكُلُهُنَّ سَبْعٌ عِجَافٌ وَسَبْعَ سُنْبُلَاتٍ خُضْرٍ وَأُخَرَ يَابِسَاتٍ ۖ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ أَفْتُونِي فِي رُؤْيَايَ إِنْ كُنْتُمْ لِلرُّؤْيَا تَعْبُرُونَ
    " Sang Raja berkata, "aku bermimpi melihat 7 ekor sapi gemuk dimakan oleh 7 ekor sapi kurus-kurus. Dan 7 tangkai padi yang menghijau dan ada 7 tangkai padi yang mengering.wahai para punggawa jika kalian mampu menafsirkan mimpi,  tolong tafsirkan mimpiku itu".

    Ayat tersebut mengisyaratkan, agar kita;
    1.      Menjadi pimpinan yang demokratis, terbuka  dan  
    partisipatoris (berusaha melibatkan banyak pihak).
    2. Mengetahui, bahwa raja zaman dahulupun tidak semuanya otoriter.
    3. Memahami dan menghayati, bahwa impian itu adalah fenomena alam bawah sadar yang bisa difahami oleh orang-orang tertentu yang dipilih oleh Allah SWT.
    39.  Ayat 44

    قَالُوا أَضْغَاثُ أَحْلَامٍ ۖ وَمَا نَحْنُ بِتَأْوِيلِ الْأَحْلَامِ بِعَالِمِينَ
    "Para punggawa itu berkata "itu adalah paling sulit-sulitnya impian" sedangkan kami bukan orang-orang yang ahli takwil mimpi"

    Ayat tersebut mengisyaratkan, agar kita;
    1. Mengetahui dan memahami, bahwa ilmu takwil mimpi pada zaman Nabi Yusuf adalah ilmu yang paling prestisius.
    2. Menghayati, bahwa informasi Allah tentang masa lalu begitu sangat detail yang tidak mungkin diketahui oleh akal manusia biasa.
    3. Obyektif dan jujur terhadap kompetensi keilmuan yang dimiliki.

    40.  Ayat 45

    وَقَالَ الَّذِي نَجَا مِنْهُمَا وَادَّكَرَ بَعْدَ أُمَّةٍ أَنَا أُنَبِّئُكُمْ بِتَأْوِيلِهِ فَأَرْسِلُونِ
    " Seorang yang telah terbebas (selamat) berkata dan teringat setelah beberapa tahun (tentang Yusuf yang ahli takwil mimpi), "saya nanti akan informasikan kepada kalian tentang takwilnya, maka utuslah aku kesana" (ke penjaranya Yusuf).

    Ayat tersebut mengisyaratkan, agar kita;
    1. Menghayati dan memahami, tentang betapa hebat skenario Allah yang dramatis tentang pembebasan Yusuf dari penjara yang sudah lama dilupakan orang.
    2. Mengetahui, bahwa seringkali pembuka misteri kehidupan yang sangat momuntal adalah seseorang yang sangat tidak diperhitungkan.
    3. Tidak merehkan suara dan pemikiran orang kecil dan bahkan mau mendengarkan dengan baik.

    41.  Ayat 46

    يُوسُفُ أَيُّهَا الصِّدِّيقُ أَفْتِنَا فِي سَبْعِ بَقَرَاتٍ سِمَانٍ يَأْكُلُهُنَّ سَبْعٌ عِجَافٌ وَسَبْعِ سُنْبُلَاتٍ خُضْرٍ وَأُخَرَ يَابِسَاتٍ لَعَلِّي أَرْجِعُ إِلَى النَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَعْلَمُونَ
    " Yusuf, engkau adalah orang yang sangat jujur, tolong berfatwalah padaku, (tentang mimpi) 7 ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh 7 ekor sapi betina yang kurus-kurus. Dan ada 7 tangkai (padi) yang menghijau dan 7 tangkai yang lain kering. harapanku aku bisa kembali kepada orang-orang sehingga mereka menjadi tahu artinya ".

    Ayat tersebut mengisyaratkan, agar kita;
    1. Menghayati dan memahami, pentingnya menuntut ilmu kepada pakar dan ahlinya.
    2. Mengetahui etika menuntut ilmu.antara lain: datang menghadap dengan menyatakan hormat, dan ungkapan respek atas keahlian "guru" tsb. Serta menyatakan tujuan dan target kehadirannya.
    3. Terpanggil untuk menuntut ilmu kepada yang ahli, sekalipun di dalam penjara dengan tetap menjaga etika pendidikan. Serta semangat menyebarkan ilmu untuk kepentingan kemanusiaan (masyarakat).



    42.  Ayat 47

    قَالَ تَزْرَعُونَ سَبْعَ سِنِينَ دَأَبًا فَمَا حَصَدْتُمْ فَذَرُوهُ فِي سُنْبُلِهِ إِلَّا قَلِيلًا مِمَّا تَأْكُلُونَ
    "Dia (Yusuf ) berkata; "kalian harus menanam selama 7 tahun terus menerus, dan apa saja yang kalian paneni biarkan saja di tangkinya, kecuali sedikit yang akan kalian makan saja".

    Ayat tersebut mengisyaratkan, agar kita;
    1.  Mengetahui, bahwa Nabi Yusuf berkepribadian yang bijaksana. Dia menjawab dengan takwil (makna praktis yang dimaksud) bukan dengan tafsir (makna teks mimpi yang). Dia juga seorang yang memiliki ketrampilan dan tehnologi kearifan lokal yang sangat dibutuhkan.
    2. Memahami dan menghayati, tentang pentingnya pengetahuan tehnologi dan kearifan lokal, bagi seorang pemimpin.
    3. Memprofil diri sebagai seorang pemimpin yang mumpuni. Memiliki wawasan global (think universelly) dan biasa bertindak sesuai dengan kondisi yang ada (acting locally).

    43.  Ayat 48

    ثُمَّ يَأْتِي مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ سَبْعٌ شِدَادٌ يَأْكُلْنَ مَا قَدَّمْتُمْ لَهُنَّ إِلَّا قَلِيلًا مِمَّا تُحْصِنُونَ
    "Kemudian akan datang setelah itu tujuh (tahun) yang berat sekali, kalian hanya akan makan apa yang telah kalian tanam terdahulu, kecuali yang sedikit dari yang kalian telah panen itu".

    Ayat tersebut mengisyaratkan, agar kita;
    1. Mengetahui tehnik dialog yang efficient (singkat tepat guna). Yaitu memberikan inti jawaban terlebih dahulu baru kemudian menguatkan dengan argumentasinya.
    2. Supaya tidak berpoya-poya ketika panen, apalagi ketika musim prihatin walaupun masih memiliki tabungan yang banyak. Karena kita tidak tahu waktu berakhirnya masa krisis.

    44.  Ayat 49

    ثُمَّ يَأْتِي مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ عَامٌ فِيهِ يُغَاثُ النَّاسُ وَفِيهِ يَعْصِرُونَ
    "Kemudian akan datang setelah itu tahun dimana orang-orang pada saat itu penuh kesenangan dan membuat sari buah".

    Ayat tersebut mengisyaratkan, agar kita;
    1.      Optimis, bahwa setiap selesainya masa sulit akan datang masa kemudahan dan bersenang-senang.
    2.      Mengetahui, bahwa diantara tanda-tanda masa kemakmuran dan kemudahan adanya banyak buah-buahan dan olahan darinya.
    3. Bersabar dalam menjalani masa sulit, dengan tetap istiqomah dan sabar.

    45.  Ayat 50

    وَقَالَ الْمَلِكُ ائْتُونِي بِهِ ۖ فَلَمَّا جَاءَهُ الرَّسُولُ قَالَ ارْجِعْ إِلَىٰ رَبِّكَ فَاسْأَلْهُ مَا بَالُ النِّسْوَةِ اللَّاتِي قَطَّعْنَ أَيْدِيَهُنَّ ۚ إِنَّ رَبِّي بِكَيْدِهِنَّ عَلِيمٌ
    “Sang Raja berkata "datanglah kalian kepadaku dengan nya (yusuf), maka tatkala sang utusan itu mendatangi Yusuf, dia (Yusuf) berkata; tolong kembalilah kepada tuanmu dan tanyakan, bagaimana halnya dengan kasus para wanita yang pada memotong tangannya sendiri itu? Sungguh tuanku terhadap masalah para perempuan itu sangat tau".

    Ayat tersebut mengisyaratkan, agar kita;
    1. Mengetahui, bahwa Sang Raja adalah seorang yang bijaksana, dan Nabi Yusuf itu juga sangat cerdik terhadap kesuksesan nasib dirinya
    2. Sebagai seorang pimpinan tidak boleh begitu saja percaya terhadap utusan kita, khususnya yang terkait dengan hal-hal yang sangat penting dan bersifat profesional.
    3. Dan sebagai profesional yang visioner (yang memiliki visi dan misi), harus mampu membaca peluang untuk sukses, sekalipun berhadapan dengan raja (tidak serta-merta menurut).

    46.  Ayat 51

    قَالَ مَا خَطْبُكُنَّ إِذْ رَاوَدْتُنَّ يُوسُفَ عَنْ نَفْسِهِ ۚ قُلْنَ حَاشَ لِلَّهِ مَا عَلِمْنَا عَلَيْهِ مِنْ سُوءٍ ۚ قَالَتِ امْرَأَتُ الْعَزِيزِ الْآنَ حَصْحَصَ الْحَقُّ أَنَا رَاوَدْتُهُ عَنْ نَفْسِهِ وَإِنَّهُ لَمِنَ الصَّادِقِينَ
    "Sang Raja berkata "apa alasan kalian, ketika kalian menggoda Yusuf ? Mereka menjawab, demi Allah, sungguh kami tidak merasa jelek samasekali ketika itu. Istrinya Azis berkata " sekarang kebenaran telah tampak nyata, akulah yang menggodanya, dan dia termasuk orang-orang yang jujur".

    Ayat tersebut mengisyaratkan, agar kita;
    1. Mengetahui, bahwa pada suatu waktu kebenaran dan kebatilan akan menjadi nyata. Seperti katanya hikmah jawa; becik ketitik olo ketoro (yang baik akan terbaca dan yang jelek juga akan menjadi nyata).
    2. Menghayati, bahwa keadilan Allah pasti akan terjadi dan berlaku pada kehidupan umat manusia, walaupun terkadang tidak terlihat nyata.
    3. Tidak berbuat curang, dan berusaha menjadi orang yang jujur, khususnya yang terkait dengan perbuatan hukum pidana.

    47.  Ayat 52

    ذَٰلِكَ لِيَعْلَمَ أَنِّي لَمْ أَخُنْهُ بِالْغَيْبِ وَأَنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي كَيْدَ الْخَائِنِينَ
    "Hal tersebut agar dia mengetahui bahwa aku (Yusuf) tidak mengkhianatinya (Azis) ketika dia tidak ada. Dan sungguh Allah itu tidak akan memberikan hidayah terhadap para pengkhianat".

    Ayat tersebut mengisyaratkan, agar kita;
    1. Menjaga harga diri dan berusaha membersihkan diri dari sakwa sangka. Khususnya yang terkait dengan masalah susila.
    2. Menghayati, betapa besarnya dosa perzinahan muhson (perzinahan orang yang telah bersuami/istri). Jawa "melanggar pager ayu".
    3. Mengetahui, bahwa Nabi Yusuf adalah orang yang sangat 'iffah (kuat mempertahankan kesucian diri) dan kesatria.

    48.  Ayat 53

    وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي ۚ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي ۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ
    "Dan sungguh aku telah bebaskan diriku. Sesungguhnya nafsu itu benar-benar memerintahkan pada keburukan, kecuali diri yang telah dirahmati Tuhanku".

    Ayat tersebut mengisyaratkan, agar kita;
    1. Berhati-hati terhadap bisikan dan dorongan nafsu (suatu bisikan dan dorongan yang tidak selaras dengan aturan Allah dan kepentingan wajar kemanusiaan).
    2. Memahami dan menghayati, bahwa Allah menunggu kesadaran dan pertaubatan kita.
    3. Selalu memohon ampunan dan rahmat Allah, dari pengaruh nafsu yang buruk (amarah, lawwamah dan mulhimah) sehingga dapat mencapai derajat nafsu yang baik (muthmainnah, rodliyah, mardliyah dan kaamilah).

    49.  Ayat 54

    وَقَالَ الْمَلِكُ ائْتُونِي بِهِ أَسْتَخْلِصْهُ لِنَفْسِي ۖ فَلَمَّا كَلَّمَهُ قَالَ إِنَّكَ الْيَوْمَ لَدَيْنَا مَكِينٌ أَمِينٌ
    "Sang Raja bersabda 'datanglah kalian kepadaku bersamanya, aku akan mengkhususkan dirinya untukku'.Maka tatkala dia telah melakukan interview. Sang Raja bersabda, kamu sekarang menjadi orang kepercayaanku".



    Ayat tersebut mengisyaratkan, agar kita;
    1. Memahami dan menghayati, pentingnya test dan interview langsung untuk mengangkat orang kepercayaan.
    2. Mengetahui tehnik rekrutmen sumber daya manusia yang baik. yaitu pertemuan langsung dan wawancara. Karena dari situ akan dapat dilihat nilai seseorang, baik performance maupun integritas kepribadiannya
    3. Cermat dan hati-hati dalam memilih orang-orang kepercayaan.Tidak harus mengandalkan  'orang lama' .

    50.  Ayat 55

    قَالَ اجْعَلْنِي عَلَىٰ خَزَائِنِ الْأَرْضِ ۖ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ
    "Yusuf berkata 'jadikanlah saya sebagai tim pengelola hasil bumi' sungguh saya orang yang cermat dan berpengetahuan (kompeten).

    Ayat tersebut mengisyaratkan, agar kita;
    1.  Mengetahui tentang bolehnya mengajukan lamaran pekerjaan sesuai dengan kompetensi kita.
    2. Menghayati dan memahami, betapa pentingnya kombinasi daya ingat atau kecermatan (hafidh) dengan pengetahuan (aliim). Untuk profesi sekretaris dan bendahara dalam sebuah menejemen.
    3.  Memilih orang yang hafidz dan aliim, untuk jabatan bendahara dan sekretaris.

    51.  Ayat 56

    وَكَذَٰلِكَ مَكَّنَّا لِيُوسُفَ فِي الْأَرْضِ يَتَبَوَّأُ مِنْهَا حَيْثُ يَشَاءُ ۚ نُصِيبُ بِرَحْمَتِنَا مَنْ نَشَاءُ ۖ وَلَا نُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ
    "Demikianlah, Kami memberikan kedudukan kepada Yusuf di bumi ini (mesir) dan dia bisa menempatinya dimana saja ia suka. Kami mengangkat derajat karena rahmat Kami siapa saja yang Kami kehendaki. Dan Kami tidak pernah menyia-nyiakan upah bagi orang-orang yang selalu berbuat baik".

    Ayat tersebut mengisyaratkan, agar kita;
    1. Memahami dan menghayati, bahwa skenario Allahlah yang pasti akan terjadi.
    2. Mengetahui, bahwa Allah pasti akan membayar amal baik seseorang dengan yang lebih baik lagi.
    3. Menjadi bagian dari (muhsinin) orang-orang yang selalu berbuat baik dengan hati yang baik.

    52.  Ayat 57

    وَلَأَجْرُ الْآخِرَةِ خَيْرٌ لِلَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ
    "Dan sungguh pahala akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang beriman lagi bertaqwa".

    Ayat tersebut mengisyaratkan, agar kita;
    1.      Mengutamakan kehidupan akhirat atau ukhrowi atau masa depan dari kehidupan duniawi atau jasmaniyah atau masa sekarang. artinya kita bersikap futuristik (mementingkan masa depan).
    2.      Mengetahui dan menghayati, bahwa persyaratan kesuksesan masa depan adalah adanya keimanan (keyakinan) dan ketaqwaan (komitmen pada aturan).
    3.  Menjadi profil yang futuristik dan relegius.





    53.  Ayat 58

    وَجَاءَ إِخْوَةُ يُوسُفَ فَدَخَلُوا عَلَيْهِ فَعَرَفَهُمْ وَهُمْ لَهُ مُنْكِرُونَ
    "Saudara-saudara Yusuf datang menghadap kepadanya. Dia (Yusuf) mengenali mereka, sedangkan mereka tidak mengenalinya".

    Ayat tersebut mengisyaratkan, agar kita;
    1. Memahami, bahwa biasanya orang yang terdholimi itu sulit melupakan kedholiman yang dia alami, apalagi di masa kanak-anak. Sedangkan yang berbuat kedholiman biasanya lebih mudah melupakannya.
    2. Berhati-hati dan tidak berbuat dholim (aniaya), kepada anak-anak atau orang yang lebih muda.
    3. Mengetahui, bahwa Nabi Yusuf ingatannya bagus sekali.

    54.  Ayat 59

     وَلَمَّا جَهَّزَهُمْ بِجَهَازِهِمْ قَالَ ائْتُونِي بِأَخٍ لَكُمْ مِنْ أَبِيكُمْ ۚ أَلَا تَرَوْنَ أَنِّي أُوفِي الْكَيْلَ وَأَنَا خَيْرُ الْمُنْزِلِينَ
    "Maka tatkala dia (Yusuf) menyiapukulan bahan perbekalan mereka, Yusuf berkata 'datanglah kalian kepadaku dengan saudara sebapak kalian (Benyamin), bukankah kalian telah lihat, bahwa aku telah mencukupukulan timbangan ini untuk kalian, dan aku adalah sebaik-baik tuan rumah".

    Ayat tersebut mengisyaratkan, agar kita;
    1. Mengetahui, bahwa Nabi Yusuf sangat pandai membuat skenario yang sangat halus dan tidak terasakan oleh pihak lawan.
    2. Memahami dan menghayati, pentingnya perlakuan yang baik: murah hati, simpatik dan empatik, untuk kehadiran tamu dan  wisatawan.
    3. Menghormati tamu, wisatawan dan customer dengan sikap yang baik: murah hati, simpatik dan empatik.

    55.  Ayat 60

    فَإِنْ لَمْ تَأْتُونِي بِهِ فَلَا كَيْلَ لَكُمْ عِنْدِي وَلَا تَقْرَبُونِ
    "Jika kalian tidak datang kepadaku bersamanya, maka kalian tidak akan mendapatkan timbangan dariku, dan janganlah kalian mendekat ke sini".

    Ayat tersebut mengisyaratkan, agar kita;
    1. Mengetahui, bahwa penekanan kalimat dan ancaman kadang-kadang juga diperlukan untuk lawan bicara yang belum jelas kepercayaannya pada kita.
    2. Memahami, bahwa Nabi Yusuf sangat berkepentingan untuk ketemu adiknya tanpa harus terbongkar jatidirinya.
    3. Bisa berkomunikasi yang diplomatik dan bijaksana. Hikmah jawa mengatakan "Keno iwak e ra buthek banyune".

    56.  Ayat 61

    قَالُوا سَنُرَاوِدُ عَنْهُ أَبَاهُ وَإِنَّا لَفَاعِلُونَ
    "Saudara-saudara Yusuf, berkata 'kami akan membujuk bapaknya, agar melepaskannya. Sungguh kami akan melaksanakannya".

    Ayat tersebut mengisyaratkan, agar kita;
    1. Mengetahui, bahwa tekanan dan ancaman itu manjur bagi orang-orang yang punya kepentingan yang ada di dalam kekuasaan kita.
    2. Memahami dan menghayati, bahwa skenario Allah akan mengalahkan segalanya.
    3. Tidak melupakan Allah dalam setiap janji-janji kita. Dengan menyatakan 'in sya Allah' pada sesuatu yang masih belum atau akan terjadi.

    57.  Ayat 62

    وَقَالَ لِفِتْيَانِهِ اجْعَلُوا بِضَاعَتَهُمْ فِي رِحَالِهِمْ لَعَلَّهُمْ يَعْرِفُونَهَا إِذَا انْقَلَبُوا إِلَىٰ أَهْلِهِمْ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
    "Dan dia (Yusuf) berkata kepada para pembantunya,  jadikan barang penukaran mereka di dalam karung2 mereka. semoga mereka mengetahuinya ketika mereka kembali ke keluarganya. Semoga mereka mau kembali ke sini".

    Ayat tersebut mengisyaratkan, agar kita;
    1. Mengetahui, bahwa trik dan siasat adalah sebuah kecerdasan yang penting untuk dimiliki oleh seorang pemimpin.
    2. Memahami dan menghayati pentingnya berfikir kreatif dan politis bagi seorang pemimpin.
    3. Bisa berfikir cerdik dan trampil memenejemeni kerja kreatifitas.

    58.  Ayat 63

    فَلَمَّا رَجَعُوا إِلَىٰ أَبِيهِمْ قَالُوا يَا أَبَانَا مُنِعَ مِنَّا الْكَيْلُ فَأَرْسِلْ مَعَنَا أَخَانَا نَكْتَلْ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

    "Maka tatkala mereka tlh kembali kepada bapak mereka, mereka berkata 'wahai bapak kami, kita terhalang untuk mendapatkan timbangan, maka utuslah saudara kami bersama kita, maka kita pasti akan mendapatkan timbangan, dan kami pasti akan menjaganya".

    Ayat tersebut mengisyaratkan, agar kita:
    1. Memahami dan menghayati, bahwa persoalan  kepentingan konsumtif (makanan), biasanya langsung menjadi berita utama dan serius bagi masyarakat miskin.
    2. Mengetahui, bahwa keluarga Nabi Yusuf di luar Mesir mengalami masa paceklik. Sedangkan negeri Mesir dibawah kepemimpinan Nabi Yusuf, bisa surplus bahan makanan.
    3. Mampu bekerjasama dalam kebaikan dengan prinsip mutualisme dengan berbagai pihak.

    59.  Ayat 64

    قَالَ هَلْ آمَنُكُمْ عَلَيْهِ إِلَّا كَمَا أَمِنْتُكُمْ عَلَىٰ أَخِيهِ مِنْ قَبْلُ ۖ فَاللَّهُ خَيْرٌ حَافِظًا ۖ وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ
    "Dia (Nabi Ya'qub/bapaknya Nabi Yusuf), berkata 'apakah aku harus mempercayai kalian untuk melepaskannya, kecuali seperti aku telah mempercayai kalian melepaskan saudaranya yang dahulu itu. Maka Allah lah Sang Penjaga yang lebih baik, dan Dia Sang Maha Penyayang".

    Ayat tersebut mengisyaratkan, agar kita;
    1.  Mengetahui, bahwa Nabi Ya'qub adalah bukan seorang yang materialis, tetapi seorang ayah yang spiritualis.
    2. Memahami dan menghayati, bahwa bagi seorang spiritualis persoalan amanah adalah lebih penting daripada sekedar persoalan makanan.
    3.   Menjadi seorang ayah atau pimpinan yang spiritualis seperti Nabi Ya'qub. Dan tidak menjadi orang-orang yang materialis seperti anak-anaknya, yakni saudara-saudara Nabi Yusuf.

    60.  Ayat 65

    وَلَمَّا فَتَحُوا مَتَاعَهُمْ وَجَدُوا بِضَاعَتَهُمْ رُدَّتْ إِلَيْهِمْ ۖ قَالُوا يَا أَبَانَا مَا نَبْغِي ۖ هَٰذِهِ بِضَاعَتُنَا رُدَّتْ إِلَيْنَا ۖ وَنَمِيرُ أَهْلَنَا وَنَحْفَظُ أَخَانَا وَنَزْدَادُ كَيْلَ بَعِيرٍ ۖ ذَٰلِكَ كَيْلٌ يَسِيرٌ
    "Maka ketika mereka membuka oleh-oleh mereka, mereka mendapati barang-barang penukar mereka dikembalikan kepada mereka.mereka berkata 'wahai bapak kami, apalagi yang kita inginkan, ini barang-barang penukar kita dikembalikan kepada kita.kita bisa mencukupi kebutuhan keluarga kita, kita bisa menjaga saudara kita, kita bisa menambah kuota seberat onta. Masalah jatah (kuota) itu masalah sederhana (bagi dia)".

    Ayat tersebut mengisyaratkan, agar kita;
    1. Mengetahui, bahwa saudara-saudara Yusuf itu adalah orang-orang sangat materialistik dan ambisius.
    2. Memahami dan menghayati, terhadap sikap orang yang materialistik, betapa bahagianya ketika mereka mendapatkan materi. Sehingga mereka mudah terjebak.
    3. Tidak terlalu materialistik. Kita harus waro' (hati-hati dan jeli melihat harta yang kita dapatkan). Jangan2 itu jebakan dan lain-lain.


    61.  Ayat 66

    قَالَ لَنْ أُرْسِلَهُ مَعَكُمْ حَتَّىٰ تُؤْتُونِ مَوْثِقًا مِنَ اللَّهِ لَتَأْتُنَّنِي بِهِ إِلَّا أَنْ يُحَاطَ بِكُمْ ۖ فَلَمَّا آتَوْهُ مَوْثِقَهُمْ قَالَ اللَّهُ عَلَىٰ مَا نَقُولُ وَكِيلٌ
    "Dia (Nabi Ya'qub) berkata 'saya tidak akan melepaskan dia bersama kalian, sebelum kalian berjanji atas nama Allah, bahwa kalian akan membawanya kembali kepadaKu. Kecuali kalian terkepung oleh musuh. Maka tatkala mereka telah berjanji, dia (ya'qub) berkata ' Allah adalah wakil atau saksi atas segala yang telah kita ucapukulan".

    Ayat tersebut mengisyaratkan, agar kita,:
    1. Mengetahui tentang kepribadian nya Nabi Yusuf yang luar biasa (amanah, tabliaman
    2. Menghayati, akan pentingnya pembahasan tentang: politik, ekonomi, sosbud disa.
    3. Meniru sikap Nabi Ya'qub, yang sangat amin dan transendental.

    62.  Ayat 66

    قَالَ لَنْ أُرْسِلَهُ مَعَكُمْ حَتَّىٰ تُؤْتُونِ مَوْثِقًا مِنَ اللَّهِ لَتَأْتُنَّنِي بِهِ إِلَّا أَنْ يُحَاطَ بِكُمْ ۖ فَلَمَّا آتَوْهُ مَوْثِقَهُمْ قَالَ اللَّهُ عَلَىٰ مَا نَقُولُ وَكِيلٌ
    "Dia (Nabi Ya'qub) berkata 'saya tidak akan melepaskan dia bersama kalian, sebelum kalian berjanji kepadaku atas nama Allah, bahwa kalian akan membawanya kembali kepadaKu. Kecuali kalian terkepung oleh musuh. Maka tatkala mereka telah berjanji, dia (Ya'qub) berkata ' Allah adalah wakil atau saksi atas segala yang telah kita ucapkan".

    Ayat tersebut mengisyaratkan, agar kita,:
    1. Mengetahui tentang kepribadian nya Nabi Ya'qub  yang luar biasa (sangat amanah dan transendental/selalu ingat Allah).
    2. Menghayati dan memahami akan pentingnya penataan
         politik ekonomi.
    3. Meniru sikap Nabi Ya'qub, yang sangat amin (sangat bertanggungjawab)  dan transendental (senantiasa mengaitkan diri dengan Allah).

    63.  Ayat 67

    وَقَالَ يَا بَنِيَّ لَا تَدْخُلُوا مِنْ بَابٍ وَاحِدٍ وَادْخُلُوا مِنْ أَبْوَابٍ مُتَفَرِّقَةٍ ۖ وَمَا أُغْنِي عَنْكُمْ مِنَ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ ۖ إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ ۖ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ ۖ وَعَلَيْهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُتَوَكِّلُونَ
    "Dia (Ya'qub) berkata 'wahai nakku, janganlah kalian masuk melalui satu pintu, tapi masuk lah kalian melalui pintu yang berbeda-beda saya tidak mampu samasekali menolong kalian dari (ketetapan Allah), tidak ada hukum/ketetapan kecuali milik Allah, kepada-Nya saya bertawakal, dan kepada-Nya pula hendaknya orang-orang itu bertawakal"

    Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
    1.      Juga mengajari anak-anak kita berfikir politis dan  
    strategis.
    2.      Memahami dan menghayati pentingnya tausiah yang  
    bernuansa tauhid, termasuk dalam masalah politik.
    3.      Mengetahui, bahwa Nabi Ya'qub adalah seorang
          muwahhid yang faham siasat atau politik.

    64.  Ayat 68

    وَلَمَّا دَخَلُوا مِنْ حَيْثُ أَمَرَهُمْ أَبُوهُمْ مَا كَانَ يُغْنِي عَنْهُمْ مِنَ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا حَاجَةً فِي نَفْسِ يَعْقُوبَ قَضَاهَا ۚ وَإِنَّهُ لَذُو عِلْمٍ لِمَا عَلَّمْنَاهُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
    "Dan tatkala mereka (saudara-saudara Yusuf), telah memasuki kota Mesir, seperti yang diperintahkan oleh bapak mereka. Itu juga tidak mempengaruhi ketetapan Allah samasekali, kecuali sekedar memenuhi keinginan Ya'qub. Sebenarnya Ya'qub juga telah mengetahui, karena memang dia telah Kami beritahu, tetapi kebanyakan manusia itu tidak mengetahui".

    Ayat tersebut mengisyaratkan, agar kita;
    1. Mengetahui, bahwa pengetahuan Nabi Ya'qub terhadap sesuatu yang bersifat futuristik (masa depan) metafisik (di luar realitas fisik), sebagai mukjizat seorang Nabi. sering kali terkalahkan dengan dorongan jiwanya sebagai seorang ayah.
    2. Memahami dan menghayati, bahwa Nabi Ya'qub adalah juga bersifat manusiawi, termasuk perasaannya sebagai seorang ayah.
    3. Bisa menyembunyikan rahasia Allah (pengetahuan) yang tidak seharusnya diketahui oleh orang lain termasuk anaknya. Tetapi tetap bersikap yang 'syar'i' sebagai seorang ayah (orang tua).




    65.  Ayat 69

    وَلَمَّا دَخَلُوا عَلَىٰ يُوسُفَ آوَىٰ إِلَيْهِ أَخَاهُ ۖ قَالَ إِنِّي أَنَا أَخُوكَ فَلَا تَبْتَئِسْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
    "Maka tatkala mereka (saudara-saudaraYusuf) pada masuk (menghadap) Yusuf, dia mendekati sendirian kepada saudara kandungnya (Bun Yamin) dan berkata ' saya ini saudara mu, maka kamu tidak usah khawatir terhadap apapun yang mereka lakukan”.

    Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
    1.      Memberikan perlindungan dan jaminan keamanan  
    kepada orang-orang yang tidak terlibat / tidak ikut bersalah dalam suatu konflik.
    2.      Memahami dan menghayati arti pentingnya​
    perlindungan dan jaminan keamanan kepada orang-orang yang tidak terlibat dalam suatu konflik.
    3.      Tidak melibatkan dan mengorbankan orang lain yang
    seharusnya tidak terlibat dalam sebuah konflik.
    4.      Mengetahui, bahwa Nabi Yusuf adalah betul cerdas dan bijaksana.

    66.  Ayat 70

    فَلَمَّا جَهَّزَهُمْ بِجَهَازِهِمْ جَعَلَ السِّقَايَةَ فِي رَحْلِ أَخِيهِ ثُمَّ أَذَّنَ مُؤَذِّنٌ أَيَّتُهَا الْعِيرُ إِنَّكُمْ لَسَارِقُونَ
    "Maka tatkala dia (Yusuf) mempersiapkan barang-barang bawaan mereka, dia meletakkan piala di dalam bagasi saudaranya (Bun yamin). Kemudian setelah itu petugas pemeriksa mengumumkan 'wahai rombongan, kalian itu pencuri".


    Ayat tersebut mengisyaratkan, agar kita:
    1. Mengetahui, skenario jebakan dengan barang bukti di dalam bagasi itu telah ada sejak zaman kuno (zaman Nabi Yusuf). Dan dialah yang punya ide dan melakukanya​.
    2. Berhati-hati dengan bagasi atau barang bawaan kita, ketika kita bepergian. Bukan hanya dari kehilangan tetapi juga dari jebakan. Khususnya dalam kunjungan luar negeri, atau kunjungan politik.
    3. Memahami, dan menghayati pentingnya berhati-hati dengan barang bawaan, juga bolehnya menjebak untuk tujuan mulia.

    67.  Ayat 71-72

    قَالُوا وَأَقْبَلُوا عَلَيْهِمْ مَاذَا تَفْقِدُونَ * قَالُوا نَفْقِدُ صُوَاعَ الْمَلِكِ وَلِمَنْ جَاءَ بِهِ حِمْلُ بَعِيرٍ وَأَنَا بِهِ زَعِيمٌ
    "Mereka (saudara-saudara Yusuf), berkata sambil menghadap mereka (para petugas), apa yang hilang dari kalian?.Mereka menjawab 'kami kehilangan piala raja, bagi yang menemukan akan diberikan hadiah jatah seberat unta, dan saya yang menjamin hal tersebut".

    Dua ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
    1. Mengetahui adanya dialog yang tidak seimbang antara orang yang tidak tahu bahwa mereka dijebak dengan penjebaknya.
    2. Memahami dan menghayati, pentingnya klarifikasi tertuduh dengan penuduh, juga pentingnya​    sumpah dan janji-janji penguat pernyataan.
    3. Belajar roll playying (permainan peran) atau sandiwara dalam kehidupan sosial politik.

    68.  Ayat 73-74

    قَالُوا تَاللَّهِ لَقَدْ عَلِمْتُمْ مَا جِئْنَا لِنُفْسِدَ فِي الْأَرْضِ وَمَا كُنَّا سَارِقِينَ * قَالُوا فَمَا جَزَاؤُهُ إِنْ كُنْتُمْ كَاذِبِينَ
    "Mereka (saudara-saudaraYusuf) berkata ' demi Allah, kalian kan sudah tahu, bahwa kami tidak pernah berbuat kerusakan di bumi ini dan kami juga bukan pencuri'. Mereka (para petugas) berkata 'apa balasan nya jika ternyata kalian berdusta'.

    Dua ayat di atas mengisyaratkan agar kita:
    1. Tahu caranya dan bisa berdiplomasi, khususnya terkait dengan jebakan yang 'mematikan'.
    2. Memahami dan menghayati, pentingnya berhati-
    Hati karena jebakan bisa terjadi pada orang-orang yang tidak bersalah, tetapi terlena karena ambisi dan kerakusan.
    3. Mengetahui, bahwa Nabi Yusuf juga memiliki tim work yang bagus.

    69.  Ayat 75

    قَالُوا جَزَاؤُهُ مَنْ وُجِدَ فِي رَحْلِهِ فَهُوَ جَزَاؤُهُ ۚ كَذَٰلِكَ نَجْزِي الظَّالِمِينَ
    "Mereka (saudara-saudara Yusuf) berkata ' balasannya adalah orang yang di begasinya kedapatan barang itu. Dialah balasannya. Seperti itu kami membalas orang-orang yang dholim".




    Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
    1. Mengetahui, bahwa pada zaman itu ada tradisi perbudakan, sebagai bagian dari transaksi antar komunitas atau bangsa.
    2.  Memahami dan menghayati, adanya karakter istimewa pada diri saudara-saudaraYusuf. Yakni: percaya diri, tegas, disiplin dan ksatria.
    3.  Bersikap adil dalam menetapukulan sebuah keputusan hukum, khusus nya dalam menghukum orang-orang yang dholim.

    70.  Ayat 76

    فَبَدَأَ بِأَوْعِيَتِهِمْ قَبْلَ وِعَاءِ أَخِيهِ ثُمَّ اسْتَخْرَجَهَا مِنْ وِعَاءِ أَخِيهِ ۚ كَذَٰلِكَ كِدْنَا لِيُوسُفَ ۖ مَا كَانَ لِيَأْخُذَ أَخَاهُ فِي دِينِ الْمَلِكِ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ ۚ نَرْفَعُ دَرَجَاتٍ مَنْ نَشَاءُ ۗ وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ
    "Dan dia (Yusuf) mulai memeriksa barang-barang saudara-saudaranya, sebelum memeriksa barang saudara kandungnya  ( Bun yamin), kemudian dikeluarkannya​ (piala itu) dari wadah barang saudara kandungnya, Demikianlah​ Kami (Allah) merekayasa untuk Yusuf. Tidak lah patut bagi Yusuf untuk menghukum saudara nya berdasarkan aturan sang raja, kecuali Allah yang menghendaki. Kami akan mengangkat derajat siapa saja yang Kami kehendaki. Dan di atas setiap orang yang berilmu itu ada Yang Maha berilmu".

    Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
    1. Mengetahui, bahwa skenario dari sebuah 'sandiwa' yang diperankan oleh Nabi Yusuf dan saudara-saudara itu adalah skenario Allah untuk kesuksesan Yusuf.
    2. Memahami dan menghayati, bahwa kepemilikan ilmu kita sangat nisbi lagi terbatas. Sehingga kita tidak patut untuk bertakabbur atas keilmuan kita.
    3. Memiliki akhlak mulia: bijaksana, tawaddhuk, Ihsan  dan murah hati.

    71.  Ayat 77
    قَالُوا إِنْ يَسْرِقْ فَقَدْ سَرَقَ أَخٌ لَهُ مِنْ قَبْلُ ۚ فَأَسَرَّهَا يُوسُفُ فِي نَفْسِهِ وَلَمْ يُبْدِهَا لَهُمْ ۚ قَالَ أَنْتُمْ شَرٌّ مَكَانًا ۖ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا تَصِفُونَ
    "Mereka  berkata 'jika dia mencuri, maka dulu saudaranya juga telah mencuri. maka Yusuf menyembunyikan perasaan nya, dari para saudara nya.(dalam hati dia berkata). 'posisi kalian lebih jelek'.Dan Allah Maha Mengetahui apa saja mereka sifati".

    Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
    1.   Tidak emosional, dalam menyikapi penilaian orang lain, terhadap diri kita.
    2. Memahami dan menghayati, bahwa sifat buruk kebanyakan manusia itu, mudah melupakan kesalahan diri sendiri dan mengingat kesalahan orang lain. Sebaliknya, mengingat kebaikan diri dan melupakan kebaikan orang lain.
    3.  Mengetahui, bahwa Nabi Yusuf sangat stabil emosinya dan senantiasa ingat kepada Allah SWT.

    72.  Ayat 78

    قَالُوا يَا أَيُّهَا الْعَزِيزُ إِنَّ لَهُ أَبًا شَيْخًا كَبِيرًا فَخُذْ أَحَدَنَا مَكَانَهُ ۖ إِنَّا نَرَاكَ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

    "Wahai yang mulia, sungguh bapak nya dia itu tokoh besar.. maka ambillah salah satu dari kami sebagai gantinya. Sungguh kami melihat tuan adalah termasuk orang-orang yang baik sekali".

    Ayat tersebut mengisyaratkan, agar kita:
    1. Mengetahui, bahwa saudara-saudara​ Nabi Yusuf adalah sangat ksatria. Mereka berusaha keras untuk tidak mengkhianati Bapak nya, walaupun harus mengorbankan dirinya.
    2. Memahami dan menghayati, penting nya pujian kepada lawan bicara, sebagai cara untuk mengambil simpati.
    3. Menjaga komitmen dengan orang lain, walaupun mungkin terasa sangat berat.

    73.  Ayat 79

    قَالَ مَعَاذَ اللَّهِ أَنْ نَأْخُذَ إِلَّا مَنْ وَجَدْنَا مَتَاعَنَا عِنْدَهُ إِنَّا إِذًا لَظَالِمُونَ
    "Yusuf berkata, aku berlindung kepada Allah dari menghukum seseorang,  kecuali yang memang barang kami ada padanya. Jika Kami melakukan hal yang tidak baik itu (menghukum orang yang jelas-jelas tidak bersalah), kami berarti termasuk orang-orang yang dholim".

    Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
    1. Mengetahui, bahwa Nabi Yusuf tetap lebih kuat argumentasinya dan lebih ksatria.
    2. Memahami dan menghayati pentingnya sikap kesatria plus (ksatria ilahiah) atau kesatria yang muwahhid.
    3. Bersikap kesatria dan mampu membalas sikap kesatria dengan kesatria yang lebih bagus, yakni kesatria ilahiah.

    74.  Ayat 80

    فَلَمَّا اسْتَيْأَسُوا مِنْهُ خَلَصُوا نَجِيًّا ۖ قَالَ كَبِيرُهُمْ أَلَمْ تَعْلَمُوا أَنَّ أَبَاكُمْ قَدْ أَخَذَ عَلَيْكُمْ مَوْثِقًا مِنَ اللَّهِ وَمِنْ قَبْلُ مَا فَرَّطْتُمْ فِي يُوسُفَ ۖ فَلَنْ أَبْرَحَ الْأَرْضَ حَتَّىٰ يَأْذَنَ لِي أَبِي أَوْ يَحْكُمَ اللَّهُ لِي ۖ وَهُوَ خَيْرُ الْحَاكِمِينَ
    "Maka tatkala mereka lagi prustasi atas sikap Yusuf, mereka 'mojok' seraya saling berbisik Dan yang paling tua diantara mereka berkata 'bukankah kalian tahu bahwa bapak kita telah menyumpah kita atas nama Allah. Dan dulu kita juga telah menyia-nyiakan Yusuf. Maka saya tidak akan meninggalkan tempat ini sebelum bapak saya memberi izin saya atau Allah memberikan keputusan​ pada saya. Karena Dia lah sebaik-baiknya pemberi keputusan".

    Ayat tersebut mengisyaratkan, agar kita:
    1. Mengetahui, bahwa saudara tertua Yusuf (Yahuda) adalah yang paling bertaqwa (paling takut kepada Allah, patuh pada orang tua dan paling bertanggung jawab).
    2. Memahami dan menghayati, bahwa seharusnya orang yang paling tua atau yang paling dituakan, adalah orang yang paling bertaqwa dalam pengertian yang luas.
    3. Tidak mudah melupakan dosa-dosa dan kesalahan kita masa lalu. Dan sebagai pimpinan atau orang tua atau yang dituakan, senantiasa memberikan contoh dan prakarsa atas komitmen-komitmen dalam kebaikan.




    75.  Ayat 81

    ارْجِعُوا إِلَىٰ أَبِيكُمْ فَقُولُوا يَا أَبَانَا إِنَّ ابْنَكَ سَرَقَ وَمَا شَهِدْنَا إِلَّا بِمَا عَلِمْنَا وَمَا كُنَّا لِلْغَيْبِ حَافِظِينَ
    "Pulanglah kalian kepada bapak kalian, dan katakan kepada nya 'bapak kami, anakmu telah mencuri. Kami tidak menyaksikan kecuali apa yang kami ketahui, dan kami tidak bisa menjaga perkara-perkara yang ghaib".

    Ayat tersebut mengisyaratkan, agar kita:
    1. Mengetahui, bahwa tempat kembali semua persoalan adalah kepada orangtuanya, atau pimpinan nya.
    2. Memahami dan menghayati, penting nya 'sesepuh' orangtua atau orang yang dituakan. Khususnya bagi keluarga dan komunitas masyarakat.
    3. Mengembalikan dan atau  minta pertanggungjawaban kepada seseorang dengan melibatkan orangtua atau walinya.Dan menghukumi sesuatu sesuai dengan fakta dhohirnya.

    76.  Ayat 82

    وَاسْأَلِ الْقَرْيَةَ الَّتِي كُنَّا فِيهَا وَالْعِيرَ الَّتِي أَقْبَلْنَا فِيهَا ۖ وَإِنَّا لَصَادِقُونَ
    "Tanyakan saja pada penduduk desa dimana kami tinggal, dan rombongan pedagang yang bertemu dengann kami di situ. bahwa kami adalah orang-orang yang jujur".

    Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
    1. Mengetahui, bahwa pembelaan orang yang yakin akan kebenaran dirinya, pasti siap dengann saksi-saksi.
    2. Memahami dan menghayati, bahwa kedudukan saksi-saksi adalah sangat penting. Sekalipun mungkin saksi tidak diperlukan oleh penuntut.
    3. Menyertakan saksi-saksi yang kuat dan otoritatif (berhak) dalam pembelaan dan pengakuan kebenaran diri kita.

    77.  Ayat 83

    قَالَ بَلْ سَوَّلَتْ لَكُمْ أَنْفُسُكُمْ أَمْرًا ۖ فَصَبْرٌ جَمِيلٌ ۖ عَسَى اللَّهُ أَنْ يَأْتِيَنِي بِهِمْ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ
    "Dia (bapak mereka), berkata,'iya, tapi itu baik hanya menurut dirimu sendiri. Maka bersabar itu indah, semoga Allah mendatangkan semuanya kepada ku. Sungguh Allah itu Maha mengetahui lagi Maha bijaksana”

    Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
    1.      Mengetahui, bahwa Allah maha mengetahui atas segala sesuatu, lagi Maha bijaksana.
    2.      Memahami dan menghayati, bahwa orang itu kebanyakan suka mencari pembenaran atas tindakannya, yang sebenarnya salah. Maka bersabar adalah sikap terbaik, menghadapi orang-orang yang terlanjur berbuat salah, apa lagi ngotot mencari pembenaran.
    3.      Bersabar dan meningkatkan keyakinan atas kemahatahuan dan kebijaksanaan Allah SWT. dalam menghadapi orang-orang yang keras kepala.




    78.  Ayat 84

    وَتَوَلَّىٰ عَنْهُمْ وَقَالَ يَا أَسَفَىٰ عَلَىٰ يُوسُفَ وَابْيَضَّتْ عَيْنَاهُ مِنَ الْحُزْنِ فَهُوَ كَظِيمٌ
    " (Ya'qub), berpaling dari mereka (anak-anaknya) seraya berkata 'alangkah malangnya Yusuf' sampai kedua matanya menjadi putih karena bersedih, sedang beliau adalah termasuk orang-orang​ yang mampu menahan marahnya (dari kenakalan anak-anaknya).”

    Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
    1. Mengetahui, betapa sayangnya Nabi Ya'qub kepada anak-anaknya, Khususnya kepada Yusuf.
    2. Memahami dan menghayati, pentingnya​ kesabaran bagi seorang ayah dalam mengasuh anaknya, khususnya jika anak nya lebih dari satu. Dengan karakter yang berbeda-beda.
    3. Mencontoh Nabi Ya'qub dalam kesabaran nya menghadapi anak-anak nya bermacam-macam karakter, khususnya jika ada yang nakal.

    79.  Ayat 85

    قَالُوا تَاللَّهِ تَفْتَأُ تَذْكُرُ يُوسُفَ حَتَّىٰ تَكُونَ حَرَضًا أَوْ تَكُونَ مِنَ الْهَالِكِينَ
    "Saudara-saudara Yusuf berkata ' demi Allah,. Engkau telah terus-menerus mengingat Yusuf, hingga engkau menjadi sakit parah atau termasuk orang-orang yang hancur".

    Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
    1. Mengetahui, bahwa Nabi Ya'qub berduka dalam waktu yang lama sekali atas kehilangan Yusuf. Dan anak-anak Nabi Ya'qub (saudara-saudara nabi Yusuf) juga berusaha menghibur dan menasehatinya​.
    2. Memahami dan menghayati, bahwa cinta seorang ayah terhadap anaknya yang terkasih tidak bisa diganti kan dengan yang lain.
    3. Mencintai atau membenci hendaknya sewajarnya saja. Agar tidak menimbulkan petaka pada diri kita sendiri.

    80.  Ayat 86

    قَالَ إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
    "Ya'qub berkata 'sungguh kesusahan dan kesedihan ku hanya aku adukan kepada Allah, dan aku mengetahui dari Allah sesuatu yang engkau tidak mengetahui nya".

    Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
    1. Mengetahui, bahwa Nabi Ya'qub​ adalah benar-benar seorang yang mampu menahan diri dan bersabar atas kondisi anak-anak yang kurang baik dan tidak rukun.
    2. Memahami dan menghayati, bahwa mengadukan nasib kepada selain Allah pada hakekatnya tidak baik dan sia-sia belaka.
    3. Mengikuti akhlak Nabi Ya'qub, yakni senantiasa hanya mengadukan nasib kepada Allah, dan tidak mudah menyampaikan rahasia Allah kepada sembarang orang".






    81.  Ayat 87

    يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ
    "Hai anakku, pergilah kalian dan cari informasi tentang keberadaan Yusuf dan saudaranya, dan janganlah​ kalian berputus asa dari Rahmat Allah, sungguh tidak akan putus asa dari Rahmat Allah kecuali kaum  yang pada kafir".

    Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
    1. Mengetahui, bahwa Nabi Ya'qub sangat yakin akan keberadaan Yusuf dan saudaranya,  dan sangat peduli terhadap keselamatan keimanan anak-anaknya​.
    2. Memahami dan menghayati, bahwa putus asa dari Rahmat Allah adalah bagian dari sikap mental yang harus dihindari, karena termasuk sikap mental orang kafir.
    3. Menanamkan kesadaran dan kebiasaan yakin dan tidak putus asa dari Rahmat Allah. Dalam pengertian istiqamah dalam berjuang dan berdoa untuk menggapai cita-cita.
    82.  Ayat 88

    فَلَمَّا دَخَلُوا عَلَيْهِ قَالُوا يَا أَيُّهَا الْعَزِيزُ مَسَّنَا وَأَهْلَنَا الضُّرُّ وَجِئْنَا بِبِضَاعَةٍ مُزْجَاةٍ فَأَوْفِ لَنَا الْكَيْلَ وَتَصَدَّقْ عَلَيْنَا ۖ إِنَّ اللَّهَ يَجْزِي الْمُتَصَدِّقِينَ
    "Maka tatkala mereka menghadap Yusuf, mereka berkata ' wahai yang mulai, kami dan keluarga tertimpa petaka (paceklik), kami membawa barang barter yang tidak berharga, Sudilah kiranya tuan memberikan timbangan (bahan makanan), hitung-hitung sedekah kepada kami. Pasti Allah akan membalas orang-orang yang ahli sedekah".

    Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
    1. Mengetahui, bahwa orang-orang yang dulunya​ mendzolimi nabi Yusuf, sedang mengalami pembalasan dan penghinaan yang serendah-rendahnya​ oleh Allah SWT.
    2.  Memahami dan menghayati, bahwa semua orang pasti akan melihat balasan amal perbuatannya​, baik yang baik maupun yang buruk. Hikmah Jawa menyebutnya sebagai "ngunduh woing pakerti".
    3.  Menjadi ahli sedekah, sehingga Allah memberikan balasan yang terbaik, karena bangga (ridlo) terhadap kita.

    83.  Ayat 89

    قَالَ هَلْ عَلِمْتُمْ مَا فَعَلْتُمْ بِيُوسُفَ وَأَخِيهِ إِذْ أَنْتُمْ جَاهِلُونَ
    "Yusuf berkata ' bukankah kalian telah tahu, apa yang telah kalian perbuat terhadap Yusuf dan saudaranya, tatkala kalian tidak mengetahui hal ini".

    Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
    1. Mengetahui, bahwa Yusuf' telah mulai membuka diri dan menyadarkan saudara-saudaranya, akan kejahatan nya di masa lalu.
    2. Memahami dan menghayati, terhadap pentingnya peringatan dan penyadaran terhadap dosa dan kesalahannya di masa lalu untuk pertaubatan dan perubahan perilaku seseorang.
    3. Mau mengingatkan saudara kita atas dosa-dosa​ dan kesalahannya di masa lalu dengan cara yang baik dan santun.

    84.  Ayat 90

    قَالُوا أَإِنَّكَ لَأَنْتَ يُوسُفُ ۖ قَالَ أَنَا يُوسُفُ وَهَٰذَا أَخِي ۖ قَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا ۖ إِنَّهُ مَنْ يَتَّقِ وَيَصْبِرْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِين
    " Saudara-saudaranya​ berkata ' apakah kamu itu Yusuf beneran ? Yusuf  menjawab 'iya, saya Yusuf', dan ini saudara kandungku​. Sungguh Allah telah memberikan anugerah kepada kami, sungguh siapa saja yang bertaqwa dan bersabar, maka Allah tidak akan menyia-nyiakan amal kebaikan nya orang-orang​ yang selalu berbuat baik dengan hati yang baik itu".

    Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
    1. Mengetahui, bahwa nabi Yusuf benar-benar telah menunjukkan jati dirinya​ kepada saudara-saudara​sekaligus menyadarkan nya atas kejahatan dan kebatilan yang dilakukan di masa lalu, dan menunjukkan kejayaan dan kemenangan nya karena akhlaq yang baik dan kebenaran yang selalu diperbuat dan dipeganginya.
    2.   Memahami dan menghayati, bahwa dengan istiqamah dalam taqwa dan sabar kemenangan dan kejayaan (anugerah Allah) pasti akan didapatkan.
    3. Bersabar dalam taqwa kepada Allah, serta mendakwahkannya kepada saudara-saudara​ kita dimana saja ada kesempatan.



    85.  Ayat 91-92

    قَالُوا تَاللَّهِ لَقَدْ آثَرَكَ اللَّهُ عَلَيْنَا وَإِنْ كُنَّا لَخَاطِئِينَ * قَالَ لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ ۖ يَغْفِرُ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ
    " Mereka (saudara-saudara Yusuf') berkata 'demi Allah, sungguh Allah telah melebihkan dirimu dari pada kami, dan sungguh kami termasuk orang-orang yang bersalah. Yusuf menjawab, hari ini tidak ada caci-maki untuk kalian, Allah akan mengampuni dosa-dosa kalian, dan Dia yang paling pengasih di antara orang-orang​ yang pengasih".

    Dua ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
    1. Mengetahui, kedua pihak (Yusuf dan saudara-saudaranya), telah menunjukkan sikap-sikap yang terpuji. Yang bersalah mengakui kekalahan dan kesalahannya. Yang benar dan berjaya tidak balas dendam dan dan semena-mena. tetapi malah memaafkan dan mendoakan nya.
    2.   Memahami dan menghayati, penting sikap-sikap ksatria dan lapang dada untuk membangun persaudaraan dan kekeluargaan.
    3.  Meneladani, sikap ksatria saudara-saudaranya Nabi Yusuf, dan sikap pemaaf, lapang dada dan bijaksana Nabi Yusuf. Juga sikap Ihsan (selalu mengaitkan sesuatu dengan Allah SWT) dari semua pihak dalam keluarga Nabi Ya'qub As.

    86.  Ayat 93
    اذْهَبُوا بِقَمِيصِي هَٰذَا فَأَلْقُوهُ عَلَىٰ وَجْهِ أَبِي يَأْتِ بَصِيرًا وَأْتُونِي بِأَهْلِكُمْ أَجْمَعِينَ

    "(Yusuf berkata), pergilah kalian dengan membawa bajuku ini, usapukulan pada wajah bapak ku, dia nanti akan dapat melihat, kemudian datanglah kalian kepada ku dengan semua keluarga kalian".

    Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
    1. Mengetahui, bahwa Nabi Yusuf, adalah seorang yang sangat mulia dengan pola pikir dan tindakan yang sangat solutif dan konstruktif.
    2. Memahami dan menghayati, betapa pentingnya pola pikir dan sikap mental solutif (selalu memberi jalan keluar) dan konstruktif (selalu mengupayakan untuk menjadi lebih baik) demi terwujudnya kerukunan dan persaudaraan.
    3. Meniru akhlaq mulia Nabi Yusuf, yakni: solutif, konstruktif dan familiar. Dalam setiap pola pikir, sikap mental dan tindakan nyata amal kita.

    87.  Ayat 94-95

    وَلَمَّا فَصَلَتِ الْعِيرُ قَالَ أَبُوهُمْ إِنِّي لَأَجِدُ رِيحَ يُوسُفَ ۖ لَوْلَا أَنْ تُفَنِّدُونِ * قَالُوا تَاللَّهِ إِنَّكَ لَفِي ضَلَالِكَ الْقَدِيمِ
    "Dan tatkala rombongan mulai meninggalkan kota, bapak mereka (di rumah) berkata 'sungguh saya mencium bau nya Yusuf,  jika kalian tidak menganggap ku stres'. Mereka (keluarganya) berkata ' demi Allah, kamu itu dalam kesesatan masa lalu".

    Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
    1. Mengetahui,  bahwa nabi Ya'qub sangat peka terhadap keberadaan nya anaknya. Karena dia sebagai nabi dan juga seorang ayah yang sangat dalam cintanya kepada anak tersayang nya (Yusuf').
    2. Memahami dan menghayati , bahwa betapa dalamnya cinta nabi Ya'qub kepada Yusuf... dan tidak bisa dirasakan oleh keluarga nya.
    3. Meyakini, bahwa adanya mukjizat bagi seorang nabi atau Rasul   kasyaf  (keterbukaan terhadap alam ghaib) bagi orang-orang​ yang dikasihi oleh Allah SWT

    88.  Ayat 96

    فَلَمَّا أَنْ جَاءَ الْبَشِيرُ أَلْقَاهُ عَلَىٰ وَجْهِهِ فَارْتَدَّ بَصِيرًا ۖ قَالَ أَلَمْ أَقُلْ لَكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

    "Maka tatkala pembawa berita gembira itu telah datang, lalu mengusapukulan​ (baju Yusuf) pada wajah bapak nya, maka jadilah dia bisa melihat kembali. Bapak nya lalu berkata 'bukankah aku telah katakan kepada kalian, bahwa aku telah mengetahui dari Allah sesuatu yang kalian tidak mengetahui nya".

    Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
    1. Mengetahui, bahwa Nabi Ya'qub dan Nabi Yusuf, kedua nya adalah termasuk orang-orang yang istimewa, sebagai tanda-tanda kenabiannya.
    2. Memahami dan menghayati, bahwa keistimewaan (mu'jizat para nabi), selain berupa pengetahuan dan kemampuan, juga pada benda-benda, seperti tongkat Nabi Musa juga baju gamis (konon rompi) Nabi Yusuf.
    3. Beriman dan Yakin terhadap adanya mukjizat dan atau karomat, pada para nabi, atau wali atau benda-benda yang diberikan keistimewaan oleh Allah SWT.




    89.  Ayat 97-98

    قَالُوا يَا أَبَانَا اسْتَغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا إِنَّا كُنَّا خَاطِئِينَ * قَالَ سَوْفَ أَسْتَغْفِرُ لَكُمْ رَبِّي ۖ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
    " Saudara-saudara Yusuf' berkata ' wahai bapak kami, mohon kan kami ampunan Allah, sungguh kami termasuk orang-orang yang bersalah. Nabi Ya'qub menjawab 'akan aku minta kan ampunan kepada Tuhan ku, sungguh Dia itu maha pengampun lagi maha penyayang".

    Kedua ayat tersebut mengisyaratkan agar kita;
    1. Mengetahui, bahwa putera-putra nabi Ya'qub, akhirnya juga pada mau bertaubat dan menyesali perbuatannya yang tidak baik. Begitu juga bapak nya, juga pemaaf dan lapang dada.
    2. Memahami dan menghayati, penting nya kesadaran untuk bertaubat dan mengharapukulan rahmat Allah. Karena Allah memang Maha Pengampun dan pemberi Rahmat / cinta kasih.
    3. Memiliki sifat pemaaf dan penyayang, disamping Juga suka minta maaf dan kasih sayang dari pihak atasan.

    90.  Ayat 99

    فَلَمَّا دَخَلُوا عَلَىٰ يُوسُفَ آوَىٰ إِلَيْهِ أَبَوَيْهِ وَقَالَ ادْخُلُوا مِصْرَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ آمِنِينَ
    "Maka tatkala mereka masuk ke istana Yusuf, dia merangkul bapak dan ibunya, sambil berkata 'masuklah kalian ke Mesir ini, in sya Allah kalian aman".



    Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
    1.  Mengetahui, bahwa Nabi Yusuf adalah seorang anak dan saudara yang benar-benar sholih dan familiar.
    2. Memahami dan menghayati, bahwa sambutan yang hangat dan jaminan keamanan dari seorang tuan rumah yang baik akan menjadi kan tamunya betah dan nyaman tinggal di tempat kita.
    3. Memiliki sikap hangat, familiar dan bertanggung jawab atas keselamatan dan kenyamanan tamu-tamu kita.

    91.  Ayat 100

    وَرَفَعَ أَبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْشِ وَخَرُّوا لَهُ سُجَّدًا ۖ وَقَالَ يَا أَبَتِ هَٰذَا تَأْوِيلُ رُؤْيَايَ مِنْ قَبْلُ قَدْ جَعَلَهَا رَبِّي حَقًّا ۖ وَقَدْ أَحْسَنَ بِي إِذْ أَخْرَجَنِي مِنَ السِّجْنِ وَجَاءَ بِكُمْ مِنَ الْبَدْوِ مِنْ بَعْدِ أَنْ نَزَغَ الشَّيْطَانُ بَيْنِي وَبَيْنَ إِخْوَتِي ۚ إِنَّ رَبِّي لَطِيفٌ لِمَا يَشَاءُ ۚ إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ
    " Yusuf, mendudukkan kedua ibu bapak nya di atas singgasana nya. Lalu mereka semua (ibu bapak dan saudara-saudaranya) merebahkan dirinya seraya bersujud kepada Yusuf,  Kemudian Yusuf berkata ' wahai bapakku, inilah​ mimpi ku dulu, Allah telah menjadikan nya sebagai kenyataan. Dia juga telah memberikan kebaikan pada diri ku, dimana Dia telah mengeluarkan aku dari penjara, dan mendatangkan kalian dari desa setelah syetan merusak hubungan persaudaraan ku dengan saudara-saudara ku. Sungguh Tuhanku itu Maha lembut terhadap apapun yang Dia kehendaki. Sungguh Dia Maha mengetahui lagi Maha bijaksana".


    Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
    1. Mengetahui, bahwa keluarga Nabi Ya'qub adalah orang-orang yang sholih, Satria lagi Santun.
    2. Memahami dan menghayati, penting nya sikap mental Ihsan, sabar, pemaaf, ksatria dan bijaksana.
    3. Menghormati dan memuliakan orang tua, menghormati saudara-saudara. Walaupun kita sudah sukses jauh melebihi mereka semua, sedang mereka dahulu menganiaya dan mendholimi kita.
    4. Mengakui Dan menghormati kesuksesan saudara kita dengan setulus hati. Sekalipun dia lebih muda dari kita.

    92.  Ayat 101

    رَبِّ قَدْ آتَيْتَنِي مِنَ الْمُلْكِ وَعَلَّمْتَنِي مِنْ تَأْوِيلِ الْأَحَادِيثِ ۚ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَنْتَ وَلِيِّي فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۖ تَوَفَّنِي مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ
    "Wahai Tuhanku, sungguh Engkau telah memberikan pada ku sebagian kekuasaan dan mengajariku sebagian ilmu prediksi peristiwa-peristiwa. Wahai Sang Pencipta langit dan bumi, Engkau​lah pelindungku di dunia dan akhirat. Matikanlah aku sebagai orang-orang Islam dan gabung​kanlah saya dengan orang-orang yang sholih".

    Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
    1.  Mengetahui contoh cara bersyukur dan berdoa yang baik.
    2. Memahami dan menghayati, betapa pentingnya sikap mental yang baik..., selalu bersyukur terhadap nikmat dan Rahmat Allah SWT. Juga berdoa untuk menggapai kebahagiaan dan kesuksesan yang lebih hakiki.
    3. Membiasakan diri untuk senantiasa bersyukur dan berdoa untuk menggapai kebahagiaan dan kesuksesan yang lebih hakiki.

    93.  Ayat 102

    ذَٰلِكَ مِنْ أَنْبَاءِ الْغَيْبِ نُوحِيهِ إِلَيْكَ ۖ وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ إِذْ أَجْمَعُوا أَمْرَهُمْ وَهُمْ يَمْكُرُونَ
    " Itu semua termasuk berita agung tentang sesuatu yang ghaib, yang Kami Wahyu kan kepadamu, sedangkan kamu tidak berada disisi mereka ketika mereka mutuskan persoalannya dan mengatur tipu daya mereka itu".

    Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita;
    1.      Mengetahui, bahwa kisah tentang Nabi Yusuf ini adalah benar-benar Wahyu Allah kepada Nabi Muhammad saw. Orisinil, bukan plagiasi dan rekaan Nabi Muhammad.
    2.      Memahami dan menghayati, kebenaran dan kemukjizatan kitab suci Alquran.
    3. Menjadikan kisah perjalanan hidup Nabi Yusuf itu sebagai pelajaran penting untuk menggapai  kesuksesan  dalam hidup dan  kehidupan dalam berbagai seginya.

    94.  Ayat 103
    وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ
    "Dan tidaklah kebanyakan manusia itu (beriman) walaupun kamu sangat menginginkan mereka beriman".

    Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
    1. Mengetahui bahwa Nabi Muhammad saw sangat berambisi untuk menjadikan umatnya​ beriman. Tetapi sudah menjadi sunnatullah bahwa kebanyakan orang itu tidak beriman pada ajaran para Rasulullah dan para penerusnya.
    2.  Memahami dan menghayati bahwa keimanan adalah Rahmat Allah yang sangat agung dan penting untuk disyukuri, karena kebanyakan manusia tidak mendapatkannya​
    3. Mengimani dengan sebaik-baiknya semua ajaran Rasulullah, khususnya yang tersampaikan dalam bentuk kisah-kisah umat terdahulu, seperti kisah perjalanan hidup Nabi Yusuf dan keluarganya ini.

    95.  Ayat 104

    وَمَا تَسْأَلُهُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ ۚ إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ لِلْعَالَمِينَ
    "Dan tidak lah kamu meminta upah kepada mereka atas jasa tersebut (pengajaran atau seruan), tetapi itu adalah peringatan bagi alam semesta".


    Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
    1. Mengetahui bahwa Nabi Muhammad saw, bekerja atau berdakwah itu tanpa memungut biaya dari masyarakat nya, walaupun demikian tidak ditanggapi positif oleh sebagian besar umatnya.
    2. Memahami dan menghayati,  bahwa kerja agama dan profesi kerasulan itu dilaksanakan atas dasar panggilan Allah SWT.atau panggilan hati  nurani, untuk membimbing umat menuju jalan hidup yang diridhoi oleh Allah SWT.
    3. Ikhlas dan tidak putus asa dalam  berdakwah, karena tidak semua umat, akan merespon positif atas amal dan niat baik kita.





    96.  Ayat 105
    وَكَأَيِّنْ مِنْ آيَةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَمُرُّونَ عَلَيْهَا وَهُمْ عَنْهَا مُعْرِضُونَ
    " Betapa banyak ayat yang ada di semua langit dan bumi ini, yang dilalui oleh mereka, tetapi justru mereka berpaling dari nya".

    Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
    1. Mengetahui bahwa, manusia itu kebanyakan tidak mempedulikan alam dan lingkungan sekitar sebagai ayat dan pelajaran tentang hidup dan kehidupan.
    2. Memahami dan menghayati, bahwa ayat-ayat Allah itu tidak hanya ada di dalam kitab suci, tetapi juga ada di alam semesta dan juga diri manusia. Sehingga kita harus peduli dan tidak boleh meremehkan semua nya.
    3. Membiasakan diri untuk membaca dan mentafakkuri ayat-ayat Allah, baik yang  berada di dalam Al Qur'an, yang ada di alam semesta, maupun pada diri manusia. Agar kita menjadi Khalifah Allah yang 'arif dan bijaksana.

    97.  Ayat 106
    وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلَّا وَهُمْ مُشْرِكُونَ
    " Kebanyakan mereka (manusia) tidak beriman kepada Allah. Kecuali kebanyakan manusia pada musyrik (menyekutukan Allah)".

    Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
    1. Mengetahui bahwa kebanyakan manusia itu tidak beriman kepada Allah (kafir). Tetapi yang lebih lagi ada musyrik".
    2. Memahami dan menghayati, bahwa orang yang beriman beneran itu jumlah prosentase nya kecil. Yang terbanyak adalah kaum musyrikin. Disamping orang-orang kafir dalam pengertian Atheisme.
    3. Menjaga dan memupuk keimanan kita, agar tidak terjerumus ke dalam kemusyrikan dan kekufuran.

    98.  Ayat 107

    أَفَأَمِنُوا أَنْ تَأْتِيَهُمْ غَاشِيَةٌ مِنْ عَذَابِ اللَّهِ أَوْ تَأْتِيَهُمُ السَّاعَةُ بَغْتَةً وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ
    "Apakah mereka bisa aman, jika peristiwa yang dahsyat dari azdab Allah itu (bencana alam dan lain-lain) telah datang. Atau assa'ah (hari kiamat) dengan tiba-tiba telah datang, sedang mereka tidak menyadari nya".

    Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
    1. Mengetahui, bahwa sering kali bencana alam dan kecelakaan maut sering kali terjadi secara tiba-tiba. Begitu juga kiamat juga akan datang dengan tiba-tiba dan tidak disadari oleh kebanyakan orang.
    2.  Memahami dan menghayati, tentang pentingnya antisipasi terhadap terjadinya kecelakaan, bencana dan kematian. Jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, khususnya kematian yang buruk (kematian tanpa iman, atau su'ul khotimah).
    3. Bersegera untuk merespon positif seruan Rasulullah, untuk beriman dan beramal Sholeh. Dan tidak menunda-nunda imannya. Karena adzab Allah yang berupa bencana dan kematian serta hari kiamat itu nanti datang nya tidak terduga.





    99.  Ayat 108

    قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
    "Katakanlah, inilah jalan hidup ku, aku mengajak kepada Allah, berdasarkan pandangan batin, aku dan orang-orang yang mengikuti ku. Maha suci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik".

    Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
    1. Mengetahui, bahwa Nabi Muhammad saw, dan orang-orang yang selalu mengikuti jalan hidupnya dan menjaga kemurnian imannya akan selalu berada dalam bimbingan Allah SWT (melalui pandangan batin). sehingga mantap di jalan hidup yang diridhoi Allah.
    2. Memahami dan menghayati, bahwa pentingnya mengikuti Sunnah Rasulullah dan menjaga iman, agar tidak tersesat dari jalan hidup yang diridhoi Allah SWT.
    3. Menjadi da'i yang betul- betul mantap (percaya diri) dan ikhlas sebagai wakil Rasulullah

    100. Ayat 109

    وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًا نُوحِي إِلَيْهِمْ مِنْ أَهْلِ الْقُرَىٰ ۗ أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَيَنْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۗ وَلَدَارُ الْآخِرَةِ خَيْرٌ لِلَّذِينَ اتَّقَوْا ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
    'Dan tidak lah Kami mengutus sebelum dirimu, kecuali adalah seorang tokoh dari desa, yang telah Kami beri Wahyu. Apakah mereka itu tidak pernah jalan-jalan  di muka bumi ini. sehingga mereka bisa memperhatikan bagaimana akibat perbuatannya orang terdahulu. Dan sungguh rumah Allah itu lebih indah bagi orang-orang yang bertaqwa. Apakah kalian tidak berfikir".

    Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
    1. Mengetahui, bahwa para rasul itu adalah pasti para tokoh laki-laki desa atau kota kecil yang telah tercerahkan atau mendapat (mendapatkan wahyu).
    2. Memahami dan menghayati, bahwa studi tour dan outbond sangat penting untuk terjadinya percepatan dalam pencapaian.

    101. Ayat 110

    حَتَّىٰ إِذَا اسْتَيْأَسَ الرُّسُلُ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ قَدْ كُذِبُوا جَاءَهُمْ نَصْرُنَا فَنُجِّيَ مَنْ نَشَاءُ ۖ وَلَا يُرَدُّ بَأْسُنَا عَنِ الْقَوْمِ الْمُجْرِمِينَ
    "Sampai saat para rasul itu hampir prustasi dan mengira bahwa mereka tidak akan dipercaya lagi, datanglah pertolongan Kami dan terselamatkan orang yang Kami kehendaki. Sehingga siksaan Kami atas orang-orang yang durhaka itu tidak bisa ditangkal lagi".

    Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
    1. Mengetahui, Allah memberikan kesempatan yang sangat panjang untuk orang-orang kafir  supaya  bertaubat  dan beriman. Baru setelah para rasul hampir prustasi, Allah  mengadzab orang-orang kafir dan menyelamatkan rasul dan para pengikutnya.
    2. Memahami dan menghayati, bahwa Allah SWT adalah Maha pengasih lagi maha penyayang. Dengan mengutus para rasul pada setiap umat. Untuk membimbing dan mengarahkan umat mencapai kebahagiaan hidup yang hakiki.
    3. Tidak prustasi di dalam berdakwah. Karena Allah pasti akan memberikan pertolongan di saat-saat akhir, setelah kita teruji kesungguhan kita dalam berdakwah.

    102. Ayat 111

    لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ ۗ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَىٰ وَلَٰكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
    "Adalah benar-benar di dalam kisah mereka itu (Nabi Yusuf dan keluarganya) pelajaran bagi Ulul Albab (cendikiawan muslim), itu (Alquran) bukanlah suatu pembicaraan yang dibuat-buat. Tetapi sebuah revisi atas apa yang telah ada di hadapannya (taurat dan Injil), dan rincian dari setiap sesuatu, petunjuk dan Rahmat bagi kaum yang beriman".

    Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
    1. Mengetahui, bahwa kisah perjalanan hidup Nabi Yusuf dan keluarganya adalah sebuah pelajaran hidup dari Allah SWT dengan uslub (gaya bahasa) kisah. Dan inilah kisah terbaik yang patut kita jadikan rujukan.
    2. Memahami dan menghayati, bahwa kisah-kisah yang ada di dalam al Qur'an adalah juga​ sebuah pelajaran hanya saja berbentuk kisah, itu juga harus dipegangi oleh umat Islam, sebagai tuntunan hidup.
    3. Tidak meremehkan kisah-kisah Qur'ani, karena itu bagian dari ajaran dan petunjuk dari Allah swt untuk umat Islam, sebagai mana bentuk kata perintah dan larangan yang harus diindahkan.
    4. Menjadikan Al Qur'an sebagai rujukan untuk:  ilmu, petunjuk dan rahmat (kebaikan dari Allah apa saja, seperti: terapi, hizib, dan wirid atau wasilah do'a). Karena Al Qur'an adalah mu'jizat agung dan abadi.

    Tafsir Al Quran - Tafsir isyari akhlaqi praktis Surat Yusuf


    Pengamalan Surat Ke  12 : Yusuf
    (Yusuf)

    بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

    Dengan Asma Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
    Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
    1. Mengetahui, bahwa Allah adalah Maha pengasih (kasih sayang yang bersifat material hidonistik) lagi Maha Penyayang (kasih sayang yang bersifat spiritual edukatif). Begitu juga seharusnya orang tua kita (baik orang tua biologis, sosiologis maupun struktural) sebagai wakil Allah di muka bumi ini.
    2. Memahami dan menghayati, bahwa sebagai hamba Allah kita harus yakin dan husnudhon  bahwa Allah adalah Rahman Rahim. Dan sebagai Khalifatullah kita juga harus senantiasa bersikap Rahman dan Rohim.
    3. Mendasari sikap mental dan karakter kita dengan dominasi sifat Rahman dan rahim.

    1.      Ayat 1-3

    الر ۚ تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ الْمُبِينِ * إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ * نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ أَحْسَنَ الْقَصَصِ بِمَا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ هَٰذَا الْقُرْآنَ وَإِنْ كُنْتَ مِنْ قَبْلِهِ لَمِنَ الْغَافِلِينَ


    "Alif laam ro, itu adalah ayat-ayat kitab yang menjelaskan,Sungguh Kami yang telah menurunkannya sebagai bacaan yang berbahasa Arab agar kalian menjadi cerdas, Kamilah yang  menceritakan sebaik-baik kisah dengan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dalam al qur'an ini, sedangkan kamu sebelumnya termasuk orang-orang lupa".

    Ayat-ayat tersebut mengisyaratkan agar kita;
    1. Mau belajar bahasa arab, karena ia adalah bahasa al.qur'an. Sedangkan al quran adalah kitab suci yang penuh penjelasan (petunjuk) untuk kehidupan kita.
    2. Mentradisikan membaca dan menkaji al quran, agar diri kita menjadi "cerdas" (bisa jadi cerdas spiritual, emosional, dan juga intelektual sekaligus). Karena kemukjizatan lughowi al qur'an.
    3. Yakin dan mengakui bahwa al quran itu mukjizat Nabi Muhammad yang abadi yang diturunkan oleh Allah swt. Sehinga huruf per huruf pun memiliki mukjizat.
    4. Mau menkaji dan menjadikan kisah-kisah qurani sebagai bahan pelajaran, khususnya kisah Nabi Yusuf yang ada di surat ini, sebagai kisah terbaik.

    2.      Ayat 4

    إِذْ قَالَ يُوسُفُ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ إِنِّي رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ رَأَيْتُهُمْ لِي سَاجِدِينَ
    "Tatkala Yusuf berkata kepada bapaknya, " bapakku aku telah (mimpi) melihat 11 bintang, matahari dan bulan, aku melihat semuanya sujud kepadaku".




    Ayat tersebut mengisyaratkan, agar kita;
    1. Memulai perjuangan dan karir dari impian atau cita-cita. Sehingga sukses seperti Nabi Yusuf.
    2. Cita-cita harus setinggi-tingginya, walaupun mungkin tidak rasional. Jika diperjuangkan dan istiqomah penuh doa dan tawakkal pasti tercapai juga.
    3. Impian dan cita-cita boleh disampaikan hanya kepada orang tua (guru dan atau wali kita), sebagai pendukung moral kesuksesan.

    3.      Ayat 5

    قَالَ يَا بُنَيَّ لَا تَقْصُصْ رُؤْيَاكَ عَلَىٰ إِخْوَتِكَ فَيَكِيدُوا لَكَ كَيْدًا ۖ إِنَّ الشَّيْطَانَ لِلْإِنْسَانِ عَدُوٌّ مُبِينٌ
    "Dia (bapaknya Nabi Yusuf) berkata; wahai anakku, janganlah kau ceritakan mimpimu itu pada saudara-saudaramu, mereka nanti akan merekayasamu, Sungguh setan itu adalah musuh nyata bagi manusia".

    Ayat tersebut mengisyaratkan, agar kita;
    1. Tidak sembarangan menceritakan mimpi2, rencana dan cita-cita kita. Khawatir akan menimbulkan iri hati, hasut dan lain-lain, sehingga menggagalkan cita-cita.
    2. Memberikan bimbingan karir, motivasi dan strategi menghindari bahaya terhadap anak (murid, dan anak buah), yang lagi konsultasi.

    4.      Ayat 6
    وَكَذَٰلِكَ يَجْتَبِيكَ رَبُّكَ وَيُعَلِّمُكَ مِنْ تَأْوِيلِ الْأَحَادِيثِ وَيُتِمُّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَعَلَىٰ آلِ يَعْقُوبَ كَمَا أَتَمَّهَا عَلَىٰ أَبَوَيْكَ مِنْ قَبْلُ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ ۚ إِنَّ رَبَّكَ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

    "Itu artinya, Tuhanmu akan memilihmu dan mengajarimu sebagian takwil peristiwa-peristiwa dan akan menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu dan kepada keluarga Yakqub, seperti Dia dulu Ia telah menyempurnakannya kepada kedua bapakmu; Ibrahim dan Ishak, Sungguh Tuhanmu itu Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana".

    Ayat tersebut mengisyaratkan, agar kita;
    1. Menafsirkan mimpinya anak; baik mimpi beneran atau impian dan cita-cita, anak kita (anak kandung, anak buah, juga murid), dengan positif dan motivatif.

    5.      Ayat 7

    لَقَدْ كَانَ فِي يُوسُفَ وَإِخْوَتِهِ آيَاتٌ لِلسَّائِلِينَ
    "Sungguh ada di dalam diri Yusuf dan saudara-saudaranya  adalah tanda-tanda (teori-teori) bagi orang-orang yang bertanya (para peneliti)".

    Ayat tersebut mengisyaratkan, agar kita;
    1. Membaca kisah tentang perjalanan hidup Nabi Yusuf dan saudara-saudaranya.12 orang bersaudara, putra Nabi Ya'qub As. dari 3 istri.
    2. Merasa tertantang (bagi para ilmuwan peneliti, khususnya bid.heriditas) untuk melakukan penelitian yang mendalam tentang Nabi Yusuf dan saudara-saudaranya. Karena mereka adalah cikal bakal Bani Israel yang sangat berpengaruh di dunia ini.
    3. Mau belajar dari kisah Nabi Yusuf ini, karena ini adalah ahsanal qosos (kisah terbaik dalam al qur'an). Sangat lengkap, kronologis dan happy ending untuk semua tokoh pemeran.

    6.      Ayat 8

    إِذْ قَالُوا لَيُوسُفُ وَأَخُوهُ أَحَبُّ إِلَىٰ أَبِينَا مِنَّا وَنَحْنُ عُصْبَةٌ إِنَّ أَبَانَا لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
    "Tatkala mereka (saudara-saudara Yusuf) berkata; Yusuf dan saudaranya itu lebih disayang oleh bapak kita daripada kita, padahal kita lebih banyak, Sungguh bapak kita itu dalam kesesatan yang nyata".

    Ayat tersebut mengisyaratkan, agar kita;
    1. Menghindari arogansi mayoritas hingga meninggalkan pola pikir yang lurus dan jernih.
    2. Menghindari su-udhon, khususnya kepada orang tua, guru dan pimpinan. Karena su-udhon adalah sebab pertama terjadinya permusuhan diantara keluarga.
    3. Hendaknya kita sportif (tidak curang dan khianat) dalam persaingan hidup, khususnya untuk mendapatkan perhatian orang tua, guru dan atasan.

    7.      Ayat 9

    اقْتُلُوا يُوسُفَ أَوِ اطْرَحُوهُ أَرْضًا يَخْلُ لَكُمْ وَجْهُ أَبِيكُمْ وَتَكُونُوا مِنْ بَعْدِهِ قَوْمًا صَالِحِينَ
    " Bunuhlah Yusuf atau buang saja dia di suatu tempat, nanti wajah bapak kalian tak terhalang lagi untuk melihat diri kalian, setelah itu kalian akan menjadi orang-orang yang sholeh".

    Ayat tersebut mengisyaratkan, agar kita;
    1. Mengetahui betapa dahsyat akibat su-udhon dan hasut, (pembunuhan dan pembuangan).
    2. Menghindari kemungkinan terjadinya permusuhan dalam keluarga, karena irihati dan hasud , khususnya dalam pendidikan dan pengasuhan dalam keluarga.
    3. Menghindari persetujuan dan persekongkolan dalam dosa (itsmi) dan permusuhan ('udwan). Karena pasti tidak beruntung.

    8.      Ayat 10

    قَالَ قَائِلٌ مِنْهُمْ لَا تَقْتُلُوا يُوسُفَ وَأَلْقُوهُ فِي غَيَابَتِ الْجُبِّ يَلْتَقِطْهُ بَعْضُ السَّيَّارَةِ إِنْ كُنْتُمْ فَاعِلِينَ
    "Juru bicara diantara mereka berkata "jangan kalian bunuh Yusuf, lempar saja dia ke dalam sumur, nanti biar ditemukan oleh sebagian diantara rombongan dagang, jika kalian para pelakunya".

    Ayat tersebut mengisyaratkan, agar kita;
    1. Mengetahui, bahwa biasanya permusuhan saudara itu tidak sampai membunuh. Seperti hikmah jawa "tego lorone ra tego patine".
    2. Mengetahui, kejahatan berencana itu pasti ada aktor intelektualnya (juru bicaranya) yang mengatur skenarionya.
    3. Menghindari, persekongkolan dalam kejahatan, seperti yang dilakukan oleh saudara-saudaranya Nabi Yusuf As terhadap dirinya.

    9.      Ayat 11

    قَالُوا يَا أَبَانَا مَا لَكَ لَا تَأْمَنَّا عَلَىٰ يُوسُفَ وَإِنَّا لَهُ لَنَاصِحُونَ

    " Mereka berkata, " wahai bapak kami, kenapa engkau tidak mempercayai kami untuk mengajak Yusuf, padahal sungguh kami adalah  penasehatnya".

    Ayat tersebut mengisyaratkan, agar kita;
    1.  Memahami adanya ikatan batin antara orangtua    dengan anak.
    2. Mewaspadai orang-orang yang dalam kata-katanya memberikan penekanan-penekanan (sumpah, janji-janji sungguh ) Yang melakukannya, kebanyakan mereka pembohong.

    10.  Ayat 12

    أَرْسِلْهُ مَعَنَا غَدًا يَرْتَعْ وَيَلْعَبْ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
    "Suruhlah dia bersama kami besuk, agar dia bisa bersenang dan berman, pasti kami akan menjaganya"

    Ayat tersebut mengisyaratkan, agar kita;
    1. Waspada dalam berkomunikasi dengan orang lain, kalau kata-kata penekanan diulang-ulang untuk menguatkan janji sering kali sebagai penutup niat yang tidak baik (ada kebohongan di baliknya).
    2. Tidak meminta amanah dengan niatan yang tidak baik (niat merusak dan atau menterlantarkan).
    3. Waspada dalam melepaskan amanah kepada orang lain. Walaupun kepada anak sendiri. Bertawakkallah kepada Allah swt.

    11.  Ayat 13
    قَالَ إِنِّي لَيَحْزُنُنِي أَنْ تَذْهَبُوا بِهِ وَأَخَافُ أَنْ يَأْكُلَهُ الذِّئْبُ وَأَنْتُمْ عَنْهُ غَافِلُونَ

    "Dia (Nabi Ya'qub) berkata, "Sungguh sangat meresahkan diri, jika kalian akan pergi dengan dia (Yusuf), dan saya takut kalau nanti dia dimakan serigala, karena kalian melupakannya".

    Ayat tersebut mengisyaratkan, agar kita;
    1. Memberikan pesan-pesan dan peringatan kepada anak, anak buah, atau murid,  yang akan mengemban amanah atau akan bepergian.
    2. Tidak terlalu menampakkan kasih sayang kepada seseorang (anak, anak buah atau anak murid), di depan saudara atau temannya. Agar tidak menimbulkan cemburu atau iri hati seperti putra-putra Nabi Ya'qub kepada saudara, yaitu Nabi Yusuf kecil.

    12.  Ayat 14
    قَالُوا لَئِنْ أَكَلَهُ الذِّئْبُ وَنَحْنُ عُصْبَةٌ إِنَّا إِذًا لَخَاسِرُونَ
    "Mereka (saudara-saudara Yusuf) berkata, "kalau dia sampai dimakan serigala padahal kami orang banyak, kalau seperti itu rugi kita ini".

    Ayat tersebut mengisyaratkan, agar kita;
    1. Waspada terhadap orang yang omongannya tinggi. Biasanya itu juga bumbunya penipuan.
    2. Faham, bahwa omongan tinggi, janji-janji, sumpah-sumpah. Adalah gaya komunikasi orang-orang mayoritas oriented, yang seringkali tidak berkwalitas.
    3. Tidak berbuat dan bergaya seperti saudara-saudara Nabi Yusuf As.





    13.  Ayat 15

    فَلَمَّا ذَهَبُوا بِهِ وَأَجْمَعُوا أَنْ يَجْعَلُوهُ فِي غَيَابَتِ الْجُبِّ ۚ وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِ لَتُنَبِّئَنَّهُمْ بِأَمْرِهِمْ هَٰذَا وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ
    " Maka tatkala mereka pergi membawanya (yusuf), dan telah bersepakat menceburkannya ke dasar sumur itu, maka Kami menurunkan wahyu kepadanya "pasti kamu nanti yang akan menceritakan kejadian besar ini pada mereka. Mereka sudah lupa".

    Ayat tersebut mengisyaratkan, agar kita;
    1. Tidak boleh bersekongkol dalam kejahatan, apalagi pembunuhan. Pasti akan ketahuan di belakang hari.
    2. Supaya kita faham, bahwa kesalahan atau kejahatan itu mudah dilupakan oleh pelakunya dan  tidak mudah dilupakan oleh korbannya. Demikian juga nilainya di hati. Sebaliknya kebaikan.
    3. Membiasakan, mengingat kesalahan dan keburukan kita dan melupakan kesalahan dan keburukan orang lain. Melupakan kebaikan, kebenaran dan jasa diri dan selalu mengingat kebaikan, kebenaran dan jasa orang lain.

    14.  Ayat 16-17

    وَجَاءُوا أَبَاهُمْ عِشَاءً يَبْكُونَ * قَالُوا يَا أَبَانَا إِنَّا ذَهَبْنَا نَسْتَبِقُ وَتَرَكْنَا يُوسُفَ عِنْدَ مَتَاعِنَا فَأَكَلَهُ الذِّئْبُ ۖ وَمَا أَنْتَ بِمُؤْمِنٍ لَنَا وَلَوْ كُنَّا صَادِقِينَ
    "Mereka (saudara-saudara Yusuf) datang kepada bapaknya di petang hari sambil menangis, seraya berkata: " wahai bapak kami, kami lagi pergi berlomba, terus yusuf saya tinggal di dekat barang-barang kami, tau-tau dia sudah dimakan serigala. tentu Engkau tidak percaya, walaupun kami adalah orang-orang yang benar".

    Dua ayat tersebut mengisyaratkan, agar kita;
    1.      Memahami, gaya-gaya penipuan. Dengan datang dengan tergopoh-gopoh dan di waktu kalut (petang hari), dan dengan menangis untuk mengiba, disamping sumpah dan tekanan-tekanan.
    2.      Tidak berbuat khianat dan berbohong, karena satu kebohongan dan penghiatan akan melahirkan kebohongan-kebohongan dan pengkhiyatan-pengkhiyatan baru dan seterusnya.

    15.  Ayat 18

    وَجَاءُوا عَلَىٰ قَمِيصِهِ بِدَمٍ كَذِبٍ ۚ قَالَ بَلْ سَوَّلَتْ لَكُمْ أَنْفُسُكُمْ أَمْرًا ۖ فَصَبْرٌ جَمِيلٌ ۖ وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَىٰ مَا تَصِفُونَ
    "Mereka datang dengan membawa membawa bajunya yusuf dengan darah palsu. Dia (ya'qub) berkata  " itu hanyalah anggapan baik kalian sendiri, maka sabar itu indah. Allahlah tempat memohon pertolongan apa saja yang kalian sifati itu".

    Ayat tersebut mengisyaratkan, agar kita;
    1.      Faham, bahwa kebohongan itu pasti mencurigakan. Dan kalau ada tertuduh membawa barang bukti, perlu diragukan kebenarannyan.
    2.      Bertawakkal kepada Allah dan bersabar dalam menghadapi kenakalan anak-anak kita.
    3. Tidak menghukum anak yang nakal, apalagi belum  jelas-jelas kesalahannya.

    16.  Ayat 19

    وَجَاءَتْ سَيَّارَةٌ فَأَرْسَلُوا وَارِدَهُمْ فَأَدْلَىٰ دَلْوَهُ ۖ قَالَ يَا بُشْرَىٰ هَٰذَا غُلَامٌ ۚ وَأَسَرُّوهُ بِضَاعَةً ۚ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِمَا يَعْمَلُونَ
    "Dan telah datang rombongan dagang, mereka mengulurkan tali-tali timbanya untuk mengambil air. Kemudian dia (yang nimba), berkata; "alangkah senangnya, ini seorang anak", kemudian mereka merahasiakannya sebagai barang dagangan. Dan Allah Maha mengetahui apa saja yang mereka kerjakan".

    Ayat tersebut mengisyaratkan,agar kita;
    1. Mentafakkuri kehebatan skenario Allah, untuk menyelamatkan orang pilihan-Nya.
    2. Tidak melakukan perdagangan manusia, walaupun secara sembunyi-sembunyi atau tidak langsung.
    3. Meyakini bahwa Allah Maha Melihat apa saja yang dilakukan oleh makhluk, baik dhohir maupun batin.

    17.  Ayat 20

    وَشَرَوْهُ بِثَمَنٍ بَخْسٍ دَرَاهِمَ مَعْدُودَةٍ وَكَانُوا فِيهِ مِنَ الزَّاهِدِينَ
    "Mereka menjualnya (yusuf) dengan harga yang sangat murah, karena mereka tidak tertarik dengannya".

    Ayat tersebut mengisyaratkan, agar kita;
    1. Memahami, bahwa masalah tertarik (senang dan tidak senang) itu bukan fisikal rasional, tapi urusan hati. Demikian juga sikap mental ZUHUD, bukan fisikal yang rasional.
    2. Tidak mengolok olok selera orang lain yang berbeda dengan selera kita atau selera dan pandangan mata umum.
    3. Hormat dan toleran dengan pilihan hidup orang lain, khususnya yang terkait dengan cinta dan selera.

    18.  Ayat 21

    وَقَالَ الَّذِي اشْتَرَاهُ مِنْ مِصْرَ لِامْرَأَتِهِ أَكْرِمِي مَثْوَاهُ عَسَىٰ أَنْ يَنْفَعَنَا أَوْ نَتَّخِذَهُ وَلَدًا ۚ وَكَذَٰلِكَ مَكَّنَّا لِيُوسُفَ فِي الْأَرْضِ وَلِنُعَلِّمَهُ مِنْ تَأْوِيلِ الْأَحَادِيثِ ۚ وَاللَّهُ غَالِبٌ عَلَىٰ أَمْرِهِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
    "Orang yang dari Mesir itu telah membeli yusuf dan berkata kepada istrinya, mulyakan tempat tinggalnya, barangkali nanti bisa bermanfaat untuk kita atau kita adopsi. Demikianlah kami menempatkan Yusuf (di Mesir) dan Kami mengajarinya sebagian ilmu prediksi peristiwa. Allahlah pemenang atas perintah-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui".

    Ayat tersebut mengisyaratkan, agar kita;
    1. Memahami, bahwa azas utama jual-beli adalah manfaat, khususnya manfaat pribadi.
    2. Menghayati, bahwa skenario Allahlah yang pasti akan terjadi, walaupun seakan akan mustahil, tetapi tetap rasional dan kausalistis.
    3. Tidak menyerahkan penuh urusan pembantu (lawan jenis) atau anak angkat (lawan jenis) dengan istri atau suami kita,  kepadanya.

    19.  Ayat 22

    وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ آتَيْنَاهُ حُكْمًا