• Profil

    Pesantren Terpadu Daru Ulil Albab

  • INFORMASI PENDAFTARAN SANTRI BARU TAHUN 2019

  • Wakaf Tunai

    Gerakan Wakaf Sejuta Umat Ulul Albab

  • Mujahadah

    Jadwal Mujahadah









  • Brosur Pendaftaran Santri Baru Tahun Tarbiyah 2019-2020

    Posted at  23.04  |  in  pondok pesantren  |  Read More»










    Mengenal Lebih Dekat Dengan 'Ulama
    Oleh: Abdullah Kharisuddin Aqib

    A. Pengertian 'Ulama' dan Apa-apa yang terkait dengannya. 
    1.   Secara bahasa adalah para ilmuwan (orang yang banyak ilmu dan atau pengetahuannya), baik ilmu umum maupun keislaman.
    2.   Secara istilah keislaman umum adalah orang-orang yang ilmu agamanya diyakini banyak, oleh masyarakatnya.
    3.   Menurut Al Qur'an, orang-orang yang bisa benar-benar takut kepada Allah SWT.
    4.   Menurut para ahli tasawuf atau ahli hakekat, adalah orang-orang yang banyak ilmunya dengan kompetensi yang baik. (Pengetahuannya banyak ('alim), pemahaman dan penghayatannya baik (faqih), serta praktek pengamalannya cermat (wari' atau waro').

    B.   Keterkaitan istilah 'Ulama' dengan yang lain: 'Ulama' dengan Kyai dan Habaib:
    'Ulama' adalah adalah gelar akademik dan moral, sedangkan Kyai adalah gelar sosial keislaman Jawa. Adapun habaaib adalah gelar keturunan Rasulullah. 
    Sehingga ada kemungkinan kyai yang kurang ke'ulama'annya, demikian juga Habaib. Begitu juga sebaliknya, ada seorang yang 'alim tapi bukan kyai dan juga bukan habib. Gelar Ke'ulama'an sosial (kyai, Ki, Ajengan, tuan guru dll) bersifat lokal.

    C.   Profesi dan Excellency (keunggulan) para 'ulama' umat Islam seperti para Nabi
    Bani Israil. 
    Masing-masing 'ulama' umat Islam (yang Rosihun fil ilmi sekaligus Auliya') memiliki karakter, kompetensi, profesi, dan keunggulan (Excellency) sebagai mana para nabi di kalangan Bani Israil. Sehingga kewalian  mereka disebut tahta qidam anbiya' (di bawah kaki para Nabi) Keunggulan mereka adalah seperti mukjizat bagi para nabi Bani Israil. Ada ulama' seperti nabi Musa, misalnya imam Ghazali, dan seperti nabi Isa misalnya Ibnu Sina atau para kyai thabib. Ada 'ulama' seperti nabi Daud, Sulaiman dsb.

    D.   Profesi 'ulama' dalam sejarah Islam.
    1.   Ada 'ulama' yang juga umaro', misalnya: para Khalifah, mulai Khulafaur Rosyidin sampai dengan Khalifah terakhir kebanyakan adalah juga ulama'. 
    2.   ulama' pedagang atau pengusaha, seperti para 'ulama' Nusantara, khususnya sebelum masa kemerdekaan.
    3.   ulama' pendidik, seperti para kyai pesantren, para guru dan dosen, serta guru Mursyid.
    4.   'ulama' pejuang dan da'i, seperti para tokoh dan pimpinan ormas Islam, misalnya para Syuriah NU, pimpinan Muhammadiyah, dll.
    5.   'ulama' thobib, misalnya para kyai di pedesaan.
    6.   'ulama' pertapa (Zahid). Ada para waliyullah yang tersembunyi (wali mastur dan wali Majdzub).

    E.  Profesi 'Ulama' Kyai Jawa. Secara garis besar ada 4 macam.
    Ada kyai sembur (kyai thabib atau dukun), kyai tutur (penceramah), kyai tandur (pendidik), dan kyai wuwur (pengayom masyarakat).

    F.  Gelar-gelar Ke'ulama'an Secara Praktis. 
    1.  Bidang Sosial Budaya (lokal). Syekh, Kyai, Ki, Ajeng tuan, Tuan Guru, Mursyid, ayatulloh, dll.
    2.  Bidang Keilmuan: faqih, Mujtahid, mutakkallim, syekh, mutashawwif, Sufi, muhaddis, musnid, mufassir, murobbi dll.
    3.  'Ulama' versi Barat:
    -   Puritanis (pemurni ajaran agama), seperti ulama' salafi dan Wahabi. Mereka adalah ulma' fondamentalis yang tidak radikal. 
    -   Fondamentalis (sangat menjunjung tinggi prinsip-prinsip keyakinan dalam agama), di dalam mereka itu ada kelompok yang radikal (keras secara fisik terhadap barat), seperti MMI di Indonesia dan Al Qaeda di Timur Tengah. Tapi ada juga yang tidak tidak radikal secara fisik seperti Hizbut tahrir.
    -   Tradisionalis, adalah 'ulama' yang mengikuti prinsip keberagaman ahli Sunnah wal jama'ah. Yang cukup lunak dalam berhadapan dengan bangsa dan budaya Barat. Seperti NU dan Muhammadiyah di Indonesia. Mereka juga disebut ulama' nasionalis.
    -   'Ulama' liberalis adalah kelompok 'ulama' yang sangat bebas dan akomodatif terhadap kebenaran agama dan ajaran filsafat lain. Juga terhadap bangsa dan budaya barat. 
    -   'Ulama' Pluralis.
    Pluralis model 'ulama' yang bisa mengakui dan memahami banyak kebenaran. Kebenaran bukan tunggal. Bahkan semua agama bisa benar semua. Kelompok ini juga sangat akomodatif terhadap bangsa dan budaya barat, sehingga bangsa barat bisa menerima kelompok ulama' ini.
    Model ulama' pluralis dengan lineralis, yang membedakan liberalis karena sikap mental toleran, sedangkan prularis karena pengetahuan yang mereka miliki.

    G. Jaringan 'Ulama'.
    Warna warni jaringan 'ulama' sangat banyak, tetapi secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi empat warna dasar. Jaringan dakwah Islam, jaringan keilmuan dan pendidikan, jaringan organisasi dan gerakan, jaringan nasab dan tradisi. 
    1.      Jaringan dakwah Islam, adalah jaringan para penyebar Islam di wilayah minoritas, seperti Walisongo di tanah Jawa, abad 14-15, ittihadul muballighin, dan Jama'ah tabligh di era modern (transnasional).
    2.      Jaringan Ilmu dan pendidikan diwujudkan dalam jaringan alumni dan keguruan, jaringan pesantren Nusantara, jaringan alumni pesantren Yaman, perguruan tinggi Mesir dll.
    3.      Jaringan organisasi dan gerakan, ada yang bersifat nasional; seperti Muhammadiyah dan NU. Ada yang bersifat transnasional, seperti: Hizbul tahrir, Wahabi, salafi dan Ikhwanul muslimin. Juga beberapa Jam'iyyah thoriqoh.
    4.   Jaringan nasab dan tradisi; seperti Habaib,   basaiban, Syiah dll

    H.  'Ulama' dan Politik.
    Sebenarnya hubungan antara 'Ulama' dengan politik adalah ibarat nakkoda dengan kapalnya. Tetapi kebanyakan sekarang umat terhipnotis oleh para nakkoda hitam, sehingga para 'ulama' enggan berpolitik dalam pemerintahan dan negara. Karena politik digambarkan sebagai kapal rusak yg membahayakan. Atau digambarkan sebagai area berlumpur yang kotor. 
    Seharusnya yang memasuki ranah politik haruslah para 'ulama' agar politik (kapal) bisa berjalan dalam pakem para nabi ('ala minjahajin nubuwwah). 
    Opini buruk bagi 'ulama' yang pada ranah politik adalah provokasi pada politikus, bukan negarawan. Negara yang dinakhodai oleh yang bukan 'ulama' tentu amat sulit untuk berjalan di atas rel aturan Allah SWT.

    I.    Akhlak dan Keilmuan para 'Ulama'.
    Sebagai pewaris para Nabi 'Ulama' idealnya memiliki akhlak atau kepribadian serta keilmuan seperti para Nabi dan Rasul. 
    1.    Para nabi berakhlak Rabbani, ada yang akhlak yang sangat lengkap dengan gelar Abdullah, seperti Nabi Muhammad, tetapi ada yang dominan dalam kepribadian tertentu seperti sangat berkuasa dengan gelar Abdul Malik, seperti Nabi Daud. Abdus Shobur seperti Nabi Nuh. Dll.
    Para nabi semua bekerja, baik dalam kehidupan maupun dakwahnya adalah dalam rangka menyenangkan Allah (Li irdho illah). 
    Demikian juga para ulama' yang warosatul anbiya'. 
    2.    Dalam hal Keilmuan para nabi juga memiliki keunggulan masing-masing, ada yang ahli menejerial seperti nabi Muhammad, informatika seperti Nabi Musa, matematika nabi Idris, akuntansi agronomi nabi Yusuf, perkapalan nabi Nuh dll.
    Demikian juga para 'ulama' warosatul anbiya', juga memiliki keunggulan keilmuan dan profesi serta kepribadian sebagai mana para nabi dan Rasul.
    Sedangkan para 'ulama' yang tidak warosatul anbiya', tentu akhlak batinnya tidak sama dengan para nabi dan rasul. Demikian juga motivasi "kerjanya". Mereka bekerja liddun ya (untuk dunianya; mungkin untuk material, untuk kenikmatan, nama besar, harga diri, atau jabatan duniawi). Sekalipun dan bisa jadi akhlak dhohir dan keilmuannya sama dengan yang warosatul anbiya'.

    J.    'ULAMA' yang Nabawiy dan 'Ulama' yang Rasuliy.
    'Ulama' pasca era kenabian (era kewalian), tugas dan fungsinya juga seperti pada masa kenabian. Yaitu ada hamba Allah yang tugas dan fungsinya sebagai penyimpan ilmu atau penyebar ilmu pasif itulah para anbiya'. Dan ada hamba Allah yang bertugas sebagai penyebar ilmu dan pembimbing umat secara aktif,  itulah yang disebut Mursalin (para rasul). Demikian juga 'ulama' warosatul anbiya'. Ada yang tidak aktif menyebarkan ilmu dan pembimbing umat, tugas mereka hanya menyimpan ilmu untuk mengamalkannya sendiri dan untuk orang yang mau bertanya kepadanya, disamping berdoa dan munajat kepada Allah SWT, itulah maqam 'ulama' Nabawi. Sedangkan 'ulama' rasuli adalah 'ulama' yang secara aktif nasyrul 'ilmi dengan menulis, mengajar dan atau membimbing umat. Mereka itulah para warosatul Mursalin.

    K.   Kwalifikasi 'Ulama' ;
    Hukama',  Auliya, Asfiya' dan Ulul Albab.
    Secara potensial, semua 'ulama' yang Rosihun fil ilmi (mendalam ilmunya), yang warosatul anbiya' pasti memiliki banyak hikmah, kewalian, kesufian dan keulul albaban. Tetapi berdasarkan keunggulan yang lebih bisa dikenali, ada 'ulama' yang ahli hikmah (Hukama'), ahli amal (Auliya'), ahli ilmu dan amal (Asfiya'), ahli fikir , ahli dzikir dan ahli berjuang (Ulul Albab).
    1.  Ulama' hukuma'.
         Seorang 'ulama' yang Hukama' adalah seorang yang banyak hikmahnya (banyak filsafat hidupnya) sekaligus dia mampu untuk menyampaikannya kepada orang lain, baik secara lisan maupun tulisan. Kemampuannya untuk mengintegrasikan dan menyimpulkan antara pengetahuannya dengan fenomena yang ada menjadikan dia bijaksana.
    2.  'ulama'yang Auliya' adalah seorang 'ulama' yang karya nyatanya lebih dominan daripada teori, orasi dan literasinya,  khususnya dalam menolong manusia karena Allah.
         Dengan kedermawanan dan kemurahan hatinya dia dicintai oleh Allah SWT, sehingga dia dijaga (Mahfud), dan dibimbing oleh Allah SWT (Rosyidun).
    3.   'Ulama' Al Asfiya' ('ulama' Sufi), adalah ulama' yang lebih dominan mengamalkan ilmu tasawuf, bahkan mereka sebagai guru dan pembimbing kerohanian umat (Mursyidun) merekalah yang secara formal dan spiritual menjadi Khulafaur Rosul (Ar Rosyidun Ar Rosihun). Yang sanad dan berkahnya bersambung secara langsung (musalsal dan mutallaqqiyan) sampai dengan Nabi Muhammad Saw
    4.  'Ulama' Ulul Albab.
         Ulul Albab "dzu fikrotin saalimatin kholiatin 'anil hawa" (pemilik pikiran yang sehat dan bersih dari hawa nafsu) adalah persyaratan sebagai 'ulama' warosatul Mursalin. Dalam profesi apapun, dia adalah ahli dzikir, ahli fikir dan ahli amal shaleh, khususnya perjuangan dan dakwah. Mereka itulah cendikiawan muslim dalam prespektif Al Qur'an.

    L. Kwalifikasi 'Ulama' II
    Salafi, Khalafi, Sunni dan Ahli Sunnah wal jama'ah.
    Dalam tradisi keagamaan, 'ulama' juga bisa dikelompokkan menjadi 3 atau 4 kwalifikasi berdasarkan era dan trendy pemikiran mereka. Yakni;
    1.      'Ulama' salafi. Yaitu para ulama yang cenderung mengikuti pola pemikiran mayoritas kaum salaf (ulama' klasik), yang bermazhab ahlul hadits (tekstualis). Akal tidak boleh interpretasi dalam pemahaman agama. Agama adalah otoritas mutlak Wahyu.
    2.       'Ulama' kholafi.
    Para ulama yang cenderung mengikuti pola pemikirannya minoritas kaum salaf, yakni ahlu Ro' yi. Kaum rasionalis dalam Islam.
    Munculnya kelompok-kelompok minoritas 'ulama' ini memang belakangan era salaf (2-3 abad setelah Rasulullah wafat). Sehingga kelompok ini disebut 'ulama' kholafi (belakangan).
    3.       'Ulama' Sunniy.
    Kwalifikasi 'Ulama' ini adalah secara tradisi dalam pemahaman agama bersifat kombinatif. Yaitu menggunakan tradisi keagamaan ahlul hadits ('ulama' salafi), dan tradisi ahlur ro'yi ('ulama' kholafi) sekaligus.
    Mereka memegangi Al Qur'an dan Al hadits (Wahyu Allah), juga ro'yu atau akal sehat sebagai dalil agama. 
    4.      'Ulama' Aswaja.
    Ahlussunah wal jama'ah adalah sebuah kelompok umat Islam (juga para 'ulama'nya) adalah kumpulan para pengikut madzhab sunny, yang bersatu dalam menghadapi dominasi minoritas muslim (Mu'tazilah maupun Salafi), yang dalam bahasa trendy nya adalah " AHLU SUNNAH GRUP"

    Wallahu A'lam bis sowab. 
    Kelutan, 30 Desember 2018.

    Abdullah Kharisuddin Aqib. Khodim Ma'had DUA.

    M​engenal Lebih Dekat Dengan 'Ulama’​

    Posted at  12.17  |  in  ulama' ulul albab  |  Read More»


    Mengenal Lebih Dekat Dengan 'Ulama
    Oleh: Abdullah Kharisuddin Aqib

    A. Pengertian 'Ulama' dan Apa-apa yang terkait dengannya. 
    1.   Secara bahasa adalah para ilmuwan (orang yang banyak ilmu dan atau pengetahuannya), baik ilmu umum maupun keislaman.
    2.   Secara istilah keislaman umum adalah orang-orang yang ilmu agamanya diyakini banyak, oleh masyarakatnya.
    3.   Menurut Al Qur'an, orang-orang yang bisa benar-benar takut kepada Allah SWT.
    4.   Menurut para ahli tasawuf atau ahli hakekat, adalah orang-orang yang banyak ilmunya dengan kompetensi yang baik. (Pengetahuannya banyak ('alim), pemahaman dan penghayatannya baik (faqih), serta praktek pengamalannya cermat (wari' atau waro').

    B.   Keterkaitan istilah 'Ulama' dengan yang lain: 'Ulama' dengan Kyai dan Habaib:
    'Ulama' adalah adalah gelar akademik dan moral, sedangkan Kyai adalah gelar sosial keislaman Jawa. Adapun habaaib adalah gelar keturunan Rasulullah. 
    Sehingga ada kemungkinan kyai yang kurang ke'ulama'annya, demikian juga Habaib. Begitu juga sebaliknya, ada seorang yang 'alim tapi bukan kyai dan juga bukan habib. Gelar Ke'ulama'an sosial (kyai, Ki, Ajengan, tuan guru dll) bersifat lokal.

    C.   Profesi dan Excellency (keunggulan) para 'ulama' umat Islam seperti para Nabi
    Bani Israil. 
    Masing-masing 'ulama' umat Islam (yang Rosihun fil ilmi sekaligus Auliya') memiliki karakter, kompetensi, profesi, dan keunggulan (Excellency) sebagai mana para nabi di kalangan Bani Israil. Sehingga kewalian  mereka disebut tahta qidam anbiya' (di bawah kaki para Nabi) Keunggulan mereka adalah seperti mukjizat bagi para nabi Bani Israil. Ada ulama' seperti nabi Musa, misalnya imam Ghazali, dan seperti nabi Isa misalnya Ibnu Sina atau para kyai thabib. Ada 'ulama' seperti nabi Daud, Sulaiman dsb.

    D.   Profesi 'ulama' dalam sejarah Islam.
    1.   Ada 'ulama' yang juga umaro', misalnya: para Khalifah, mulai Khulafaur Rosyidin sampai dengan Khalifah terakhir kebanyakan adalah juga ulama'. 
    2.   ulama' pedagang atau pengusaha, seperti para 'ulama' Nusantara, khususnya sebelum masa kemerdekaan.
    3.   ulama' pendidik, seperti para kyai pesantren, para guru dan dosen, serta guru Mursyid.
    4.   'ulama' pejuang dan da'i, seperti para tokoh dan pimpinan ormas Islam, misalnya para Syuriah NU, pimpinan Muhammadiyah, dll.
    5.   'ulama' thobib, misalnya para kyai di pedesaan.
    6.   'ulama' pertapa (Zahid). Ada para waliyullah yang tersembunyi (wali mastur dan wali Majdzub).

    E.  Profesi 'Ulama' Kyai Jawa. Secara garis besar ada 4 macam.
    Ada kyai sembur (kyai thabib atau dukun), kyai tutur (penceramah), kyai tandur (pendidik), dan kyai wuwur (pengayom masyarakat).

    F.  Gelar-gelar Ke'ulama'an Secara Praktis. 
    1.  Bidang Sosial Budaya (lokal). Syekh, Kyai, Ki, Ajeng tuan, Tuan Guru, Mursyid, ayatulloh, dll.
    2.  Bidang Keilmuan: faqih, Mujtahid, mutakkallim, syekh, mutashawwif, Sufi, muhaddis, musnid, mufassir, murobbi dll.
    3.  'Ulama' versi Barat:
    -   Puritanis (pemurni ajaran agama), seperti ulama' salafi dan Wahabi. Mereka adalah ulma' fondamentalis yang tidak radikal. 
    -   Fondamentalis (sangat menjunjung tinggi prinsip-prinsip keyakinan dalam agama), di dalam mereka itu ada kelompok yang radikal (keras secara fisik terhadap barat), seperti MMI di Indonesia dan Al Qaeda di Timur Tengah. Tapi ada juga yang tidak tidak radikal secara fisik seperti Hizbut tahrir.
    -   Tradisionalis, adalah 'ulama' yang mengikuti prinsip keberagaman ahli Sunnah wal jama'ah. Yang cukup lunak dalam berhadapan dengan bangsa dan budaya Barat. Seperti NU dan Muhammadiyah di Indonesia. Mereka juga disebut ulama' nasionalis.
    -   'Ulama' liberalis adalah kelompok 'ulama' yang sangat bebas dan akomodatif terhadap kebenaran agama dan ajaran filsafat lain. Juga terhadap bangsa dan budaya barat. 
    -   'Ulama' Pluralis.
    Pluralis model 'ulama' yang bisa mengakui dan memahami banyak kebenaran. Kebenaran bukan tunggal. Bahkan semua agama bisa benar semua. Kelompok ini juga sangat akomodatif terhadap bangsa dan budaya barat, sehingga bangsa barat bisa menerima kelompok ulama' ini.
    Model ulama' pluralis dengan lineralis, yang membedakan liberalis karena sikap mental toleran, sedangkan prularis karena pengetahuan yang mereka miliki.

    G. Jaringan 'Ulama'.
    Warna warni jaringan 'ulama' sangat banyak, tetapi secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi empat warna dasar. Jaringan dakwah Islam, jaringan keilmuan dan pendidikan, jaringan organisasi dan gerakan, jaringan nasab dan tradisi. 
    1.      Jaringan dakwah Islam, adalah jaringan para penyebar Islam di wilayah minoritas, seperti Walisongo di tanah Jawa, abad 14-15, ittihadul muballighin, dan Jama'ah tabligh di era modern (transnasional).
    2.      Jaringan Ilmu dan pendidikan diwujudkan dalam jaringan alumni dan keguruan, jaringan pesantren Nusantara, jaringan alumni pesantren Yaman, perguruan tinggi Mesir dll.
    3.      Jaringan organisasi dan gerakan, ada yang bersifat nasional; seperti Muhammadiyah dan NU. Ada yang bersifat transnasional, seperti: Hizbul tahrir, Wahabi, salafi dan Ikhwanul muslimin. Juga beberapa Jam'iyyah thoriqoh.
    4.   Jaringan nasab dan tradisi; seperti Habaib,   basaiban, Syiah dll

    H.  'Ulama' dan Politik.
    Sebenarnya hubungan antara 'Ulama' dengan politik adalah ibarat nakkoda dengan kapalnya. Tetapi kebanyakan sekarang umat terhipnotis oleh para nakkoda hitam, sehingga para 'ulama' enggan berpolitik dalam pemerintahan dan negara. Karena politik digambarkan sebagai kapal rusak yg membahayakan. Atau digambarkan sebagai area berlumpur yang kotor. 
    Seharusnya yang memasuki ranah politik haruslah para 'ulama' agar politik (kapal) bisa berjalan dalam pakem para nabi ('ala minjahajin nubuwwah). 
    Opini buruk bagi 'ulama' yang pada ranah politik adalah provokasi pada politikus, bukan negarawan. Negara yang dinakhodai oleh yang bukan 'ulama' tentu amat sulit untuk berjalan di atas rel aturan Allah SWT.

    I.    Akhlak dan Keilmuan para 'Ulama'.
    Sebagai pewaris para Nabi 'Ulama' idealnya memiliki akhlak atau kepribadian serta keilmuan seperti para Nabi dan Rasul. 
    1.    Para nabi berakhlak Rabbani, ada yang akhlak yang sangat lengkap dengan gelar Abdullah, seperti Nabi Muhammad, tetapi ada yang dominan dalam kepribadian tertentu seperti sangat berkuasa dengan gelar Abdul Malik, seperti Nabi Daud. Abdus Shobur seperti Nabi Nuh. Dll.
    Para nabi semua bekerja, baik dalam kehidupan maupun dakwahnya adalah dalam rangka menyenangkan Allah (Li irdho illah). 
    Demikian juga para ulama' yang warosatul anbiya'. 
    2.    Dalam hal Keilmuan para nabi juga memiliki keunggulan masing-masing, ada yang ahli menejerial seperti nabi Muhammad, informatika seperti Nabi Musa, matematika nabi Idris, akuntansi agronomi nabi Yusuf, perkapalan nabi Nuh dll.
    Demikian juga para 'ulama' warosatul anbiya', juga memiliki keunggulan keilmuan dan profesi serta kepribadian sebagai mana para nabi dan Rasul.
    Sedangkan para 'ulama' yang tidak warosatul anbiya', tentu akhlak batinnya tidak sama dengan para nabi dan rasul. Demikian juga motivasi "kerjanya". Mereka bekerja liddun ya (untuk dunianya; mungkin untuk material, untuk kenikmatan, nama besar, harga diri, atau jabatan duniawi). Sekalipun dan bisa jadi akhlak dhohir dan keilmuannya sama dengan yang warosatul anbiya'.

    J.    'ULAMA' yang Nabawiy dan 'Ulama' yang Rasuliy.
    'Ulama' pasca era kenabian (era kewalian), tugas dan fungsinya juga seperti pada masa kenabian. Yaitu ada hamba Allah yang tugas dan fungsinya sebagai penyimpan ilmu atau penyebar ilmu pasif itulah para anbiya'. Dan ada hamba Allah yang bertugas sebagai penyebar ilmu dan pembimbing umat secara aktif,  itulah yang disebut Mursalin (para rasul). Demikian juga 'ulama' warosatul anbiya'. Ada yang tidak aktif menyebarkan ilmu dan pembimbing umat, tugas mereka hanya menyimpan ilmu untuk mengamalkannya sendiri dan untuk orang yang mau bertanya kepadanya, disamping berdoa dan munajat kepada Allah SWT, itulah maqam 'ulama' Nabawi. Sedangkan 'ulama' rasuli adalah 'ulama' yang secara aktif nasyrul 'ilmi dengan menulis, mengajar dan atau membimbing umat. Mereka itulah para warosatul Mursalin.

    K.   Kwalifikasi 'Ulama' ;
    Hukama',  Auliya, Asfiya' dan Ulul Albab.
    Secara potensial, semua 'ulama' yang Rosihun fil ilmi (mendalam ilmunya), yang warosatul anbiya' pasti memiliki banyak hikmah, kewalian, kesufian dan keulul albaban. Tetapi berdasarkan keunggulan yang lebih bisa dikenali, ada 'ulama' yang ahli hikmah (Hukama'), ahli amal (Auliya'), ahli ilmu dan amal (Asfiya'), ahli fikir , ahli dzikir dan ahli berjuang (Ulul Albab).
    1.  Ulama' hukuma'.
         Seorang 'ulama' yang Hukama' adalah seorang yang banyak hikmahnya (banyak filsafat hidupnya) sekaligus dia mampu untuk menyampaikannya kepada orang lain, baik secara lisan maupun tulisan. Kemampuannya untuk mengintegrasikan dan menyimpulkan antara pengetahuannya dengan fenomena yang ada menjadikan dia bijaksana.
    2.  'ulama'yang Auliya' adalah seorang 'ulama' yang karya nyatanya lebih dominan daripada teori, orasi dan literasinya,  khususnya dalam menolong manusia karena Allah.
         Dengan kedermawanan dan kemurahan hatinya dia dicintai oleh Allah SWT, sehingga dia dijaga (Mahfud), dan dibimbing oleh Allah SWT (Rosyidun).
    3.   'Ulama' Al Asfiya' ('ulama' Sufi), adalah ulama' yang lebih dominan mengamalkan ilmu tasawuf, bahkan mereka sebagai guru dan pembimbing kerohanian umat (Mursyidun) merekalah yang secara formal dan spiritual menjadi Khulafaur Rosul (Ar Rosyidun Ar Rosihun). Yang sanad dan berkahnya bersambung secara langsung (musalsal dan mutallaqqiyan) sampai dengan Nabi Muhammad Saw
    4.  'Ulama' Ulul Albab.
         Ulul Albab "dzu fikrotin saalimatin kholiatin 'anil hawa" (pemilik pikiran yang sehat dan bersih dari hawa nafsu) adalah persyaratan sebagai 'ulama' warosatul Mursalin. Dalam profesi apapun, dia adalah ahli dzikir, ahli fikir dan ahli amal shaleh, khususnya perjuangan dan dakwah. Mereka itulah cendikiawan muslim dalam prespektif Al Qur'an.

    L. Kwalifikasi 'Ulama' II
    Salafi, Khalafi, Sunni dan Ahli Sunnah wal jama'ah.
    Dalam tradisi keagamaan, 'ulama' juga bisa dikelompokkan menjadi 3 atau 4 kwalifikasi berdasarkan era dan trendy pemikiran mereka. Yakni;
    1.      'Ulama' salafi. Yaitu para ulama yang cenderung mengikuti pola pemikiran mayoritas kaum salaf (ulama' klasik), yang bermazhab ahlul hadits (tekstualis). Akal tidak boleh interpretasi dalam pemahaman agama. Agama adalah otoritas mutlak Wahyu.
    2.       'Ulama' kholafi.
    Para ulama yang cenderung mengikuti pola pemikirannya minoritas kaum salaf, yakni ahlu Ro' yi. Kaum rasionalis dalam Islam.
    Munculnya kelompok-kelompok minoritas 'ulama' ini memang belakangan era salaf (2-3 abad setelah Rasulullah wafat). Sehingga kelompok ini disebut 'ulama' kholafi (belakangan).
    3.       'Ulama' Sunniy.
    Kwalifikasi 'Ulama' ini adalah secara tradisi dalam pemahaman agama bersifat kombinatif. Yaitu menggunakan tradisi keagamaan ahlul hadits ('ulama' salafi), dan tradisi ahlur ro'yi ('ulama' kholafi) sekaligus.
    Mereka memegangi Al Qur'an dan Al hadits (Wahyu Allah), juga ro'yu atau akal sehat sebagai dalil agama. 
    4.      'Ulama' Aswaja.
    Ahlussunah wal jama'ah adalah sebuah kelompok umat Islam (juga para 'ulama'nya) adalah kumpulan para pengikut madzhab sunny, yang bersatu dalam menghadapi dominasi minoritas muslim (Mu'tazilah maupun Salafi), yang dalam bahasa trendy nya adalah " AHLU SUNNAH GRUP"

    Wallahu A'lam bis sowab. 
    Kelutan, 30 Desember 2018.

    Abdullah Kharisuddin Aqib. Khodim Ma'had DUA.

    Adab di Dalam  Masjid
    Oleh : Abdulloh Kharisudin Aqib Al Kelutani

    Masjid Adalah "Rumah" Allah  atau rumah khusus untuk menghadap dan bertemu dengan Allah SWT, Maka kita harus beradab dengan baik, yaitu :
    1. Niat i'tikaf (ibadah dengan dzikrullah, baca Alquran dll).
    2. Melangkah masuk dimulai dengan kaki kanan, dengan penuh khusyuk dan tadhorru' (merendahkan diri sendiri di hadapan Allah SWT.)
    3. Seraya selalu berdoa;
    اللهم افتح لي ابواب رحمتك، وعزائم مغفرتك ، وسلامة من كل إثم ، وغنيمة من كل بر، والفوز بالجنة ، والنجاة من النار. برحمتك يا ارحم الراحمين
    4. Sholat tahiyatal masjid 2 rokaat. Sholat-sholat wajib atau Sunnah
    5. Dzikrullah: dengan kalimat-kalimat thayyibat, dzikrullah Sirri, jahri, berdoa dan munajat atau baca Al Quran dan Tafakur.
    6. Diskusi dan mudzakarah ttg ilmu, perjuangan dan agama.
    7. Tidak membicarakan kesenangan duniawi, dan bisnis pribadi, atau gurauan serta kesia-siaan.
    8. Menjaga sikap badan yang baik; tidak tidur atau tidur-tiduran, tidak duduk sembarangan, seperti selonjoran ke arah kiblat, jongkok dengan membuka aurat.
    9. Tidak melewati hadapan orang yang lagi dzikrullah, sholat dan berdoa. Kecuali di luar batas sujudnya.
    10. Tidak makan dan minum, kecuali dengan tetap menjaga adab dan kebersihan.
    11. Mengenakan pakaian yang baik, sopan, suci dan indah.
    Warna putih, atau tidak bertulis, berlukis.
    12. Mengenakan perhiasan (serban, kopyah, cincin, arloji) dan juga memakai parfum.


    Madinah, 10 September 2018,
    Abdulloh Kharisudin Aqib Al Kelutani

    Adab di Dalam Masjid

    Posted at  01.30  |  in  masjid adalah rumah allah  |  Read More»

    Adab di Dalam  Masjid
    Oleh : Abdulloh Kharisudin Aqib Al Kelutani

    Masjid Adalah "Rumah" Allah  atau rumah khusus untuk menghadap dan bertemu dengan Allah SWT, Maka kita harus beradab dengan baik, yaitu :
    1. Niat i'tikaf (ibadah dengan dzikrullah, baca Alquran dll).
    2. Melangkah masuk dimulai dengan kaki kanan, dengan penuh khusyuk dan tadhorru' (merendahkan diri sendiri di hadapan Allah SWT.)
    3. Seraya selalu berdoa;
    اللهم افتح لي ابواب رحمتك، وعزائم مغفرتك ، وسلامة من كل إثم ، وغنيمة من كل بر، والفوز بالجنة ، والنجاة من النار. برحمتك يا ارحم الراحمين
    4. Sholat tahiyatal masjid 2 rokaat. Sholat-sholat wajib atau Sunnah
    5. Dzikrullah: dengan kalimat-kalimat thayyibat, dzikrullah Sirri, jahri, berdoa dan munajat atau baca Al Quran dan Tafakur.
    6. Diskusi dan mudzakarah ttg ilmu, perjuangan dan agama.
    7. Tidak membicarakan kesenangan duniawi, dan bisnis pribadi, atau gurauan serta kesia-siaan.
    8. Menjaga sikap badan yang baik; tidak tidur atau tidur-tiduran, tidak duduk sembarangan, seperti selonjoran ke arah kiblat, jongkok dengan membuka aurat.
    9. Tidak melewati hadapan orang yang lagi dzikrullah, sholat dan berdoa. Kecuali di luar batas sujudnya.
    10. Tidak makan dan minum, kecuali dengan tetap menjaga adab dan kebersihan.
    11. Mengenakan pakaian yang baik, sopan, suci dan indah.
    Warna putih, atau tidak bertulis, berlukis.
    12. Mengenakan perhiasan (serban, kopyah, cincin, arloji) dan juga memakai parfum.


    Madinah, 10 September 2018,
    Abdulloh Kharisudin Aqib Al Kelutani

    Pondok pesantren - Sufisme Ibadah Haji

    Posted at  02.00  |  in  manasik haji  |  Read More»


    INFORMASI PENDAFTARAN SANTRI BARU
    PESANTREN TERPADU DARU ULIL ALBAB
    TAHUN TARBIYAH 2018-2019


    UNTUK JENJANG PENDIDIKAN :

    1. SMP ISLAM ULUL ALBAB
    2. MA BILINGUAL ULUL ALBAB
    3. SMK ISLAM ULUL ALBAB :
        JURUSAN  : 
                        1. TKJ
                        2. MULTIMEDIA
                        3. PERBANKAN
    4. MA'HAD ALY ULUL ALBAB



    UNTUK INFORMASI LEBIH LANJUT SILAHKAN DOWNLOAD BROSUR PENDAFATARAN SANTRI BARU BERIKUT :

    BROSUR 1 :


    BROSUR 2 :


    PENDAFTARAN DIBUKA MULAI SEKARANG DAN AKAN DITUTUP JIKA KUOTA SANTRI TELAH TERPENUHI.

    Pendaftaran Santri Baru Tahun Tarbiyah 2018 - 2019

    Posted at  08.50  |  in  INFORMASI PENDAFTARAN SANTRI BARU  |  Read More»


    INFORMASI PENDAFTARAN SANTRI BARU
    PESANTREN TERPADU DARU ULIL ALBAB
    TAHUN TARBIYAH 2018-2019


    UNTUK JENJANG PENDIDIKAN :

    1. SMP ISLAM ULUL ALBAB
    2. MA BILINGUAL ULUL ALBAB
    3. SMK ISLAM ULUL ALBAB :
        JURUSAN  : 
                        1. TKJ
                        2. MULTIMEDIA
                        3. PERBANKAN
    4. MA'HAD ALY ULUL ALBAB



    UNTUK INFORMASI LEBIH LANJUT SILAHKAN DOWNLOAD BROSUR PENDAFATARAN SANTRI BARU BERIKUT :

    BROSUR 1 :


    BROSUR 2 :


    PENDAFTARAN DIBUKA MULAI SEKARANG DAN AKAN DITUTUP JIKA KUOTA SANTRI TELAH TERPENUHI.



    Kajian Psikosufistik Pendidikan Islam
    Oleh : Dr. KH. Kharisudin Aqib, M. Ag

    A. Pendidikan Islam adalah kelanjutan dari misi dakwah Rasulullah Muhammad Saw, yaitu Li utammima makaarimal akhlaq (menyempurnakan kemuliaan akhlak (kepribadian, atau karakter). Menyempurnakan dalam arti menumbuh kembangkan dengan serasi dan harmonis. Sedangkan kemuliaan berarti  keterpaduan antara keunggulan (ekselensi) dan keberbedaan dengan yang lain (distingsi).
    Sehingga pendidikan Islam berarti suatu proses penumbuh kembangan kepribadian manusia menjadi manusia yang berkarakter yang serasi dan harmonis dalam keunggulan dan keunikan.
    Akhlak, kepribadian dan karakter adalah sebuah ungkapan atau konsep yang maknanya adalah sebuah totalitas diri seorang manusia yang merupakan integrasi kesadaran (perpaduan antara kesadaran jasmaniah dan kesadaran rohaniah). Sedangkan hal tersebut merupakan wujud maknawi dan hakiki seorang manusia. Yang secara garis besarnya terdiri dari tiga organ penting, yaitu: kepala, badan dan tangan-kaki. Ketiga organ penting ini sekaligus sebagai obyek pendidikan Islam. Karena ketiganya merupakan perwujudan dari tiga potensi dasar manusia, yakni; kognitif (pengetahuan), afektif (penghayatan) dan psikomotorik (perbuatan).
    Pendidikan Islam bertugas selain menumbuh kembangkan kepribadian yang serasharmonis antara kognitif, afektif dan psikomotorik dengan baik. Dengan cara memberikan pengetahuan, penghayatan dan praktek dalam keilmuan secara seimbang dan serasi, Sebagai mana keseimbangan perkembangan kepala, badan, tangan dan kaki.
    Ilmu pengetahuan seseorang sebaiknya tidak lebih baik daripada penghayatan seseorang terhadap ilmu tersebut, demikian juga halnya praktek dan Pengamalannya juga harus terampil dan baik, dengan menyeimbangkan antara tehnis pengajaran, pembiasaan dan bimbingan praktis. Khususnya dalam bidang pendidikan moral keagamaan.
    Di samping tiga aspek tersebut, dalam jiwa sebagai hakekat pemilik akhlak, kepribadian dan karakter seseorang ada tiga dorongan atau kecenderungan, yaitu; keinginan (syahwat), emosi (ghodhob) dan pengetahuan (ilmu). Ketiga hal tersebut berada dan bersifat software (perangkat lunak atau lathifah) yang menempel dalam sistem kerja hardware (perangkat keras) yang disebut dengan: otak kanan, otak kiri dan otak depan. Sedangkan otak belakang sebagai pengendali keseimbangan gerakan badan, dan otak tengah (Mesenchepalon) bertugas mengkoordinasikan kerja semua bagian otak, sehingga menghasilkan kesadaran  majemuk dan meaningtif (kecerdasan spiritual).
    Disamping itu semua, pada dasarnya jiwa memiliki empat macam tabiat (sifat bawaan) yang tampak dalam sikap mental dan perilaku seseorang, yaitu: tabi'at bahimiyah (binatang jinak), sabu'iyah (binatang buas), syaithoniyah (kesetanan), dan tabiat malaikatiyah (kemalaikatan).
    Keempat macam tabiat tersebut secara potensial ada pada setiap orang dengan dominasi dari salah satu dari keempatnya.
    Tabiat yang mendominasi diri seseorang itulah akhlak, kepribadian dan karakter orang tersebut serta wujud maknawi dirinya.
    Tabi'at bahimiyah adalah tabiat kebinatang jinakkan, yakni suka makan- minum, bermalas-malasan  atau tidur dan melampiaskan nafsu seksual.
    Tabi'at sabu'iyah atau kebinatang buasan adalah kesukaan bertengkar, menyakiti orang lain, mengalahkan dan berbuat onar.
    Dan tabi'at syaithoniyah adalah kesukaan untuk berprilaku seperti setan, seperti; iri hati, hasut, dengki, takabur dan licik.
    Sedangkan tabi'at malaikatiyah kesukaan berbuat ta'at dan mendekat kepada Allah SWT, serta menjauhi maksiat.
    Sehingga orang yang didominasi oleh salah satu dari tabi'at-tabi'at tersebut kepribadian, Karakter dan akhlaknya adalah mungkin bahimi, sabu'i, syaithoni atau malaikati, dan juga wujud maknawi (wujud di alam astral atau alam metafisika), sekitar binatang ternak ( sapi, kambing dll), binatang buas (anjing, ular, buaya dll), setan (genderuwo, kuntilanak dll), serta malaikat (manusia tampan atau cantik yang bercahaya terang).
    Disamping menjaga, mengasah dan meningkatkan kualitas kecerdasan spiritual, emosional, intelektual dan kinestetik, pendidikan Islam bertujuan merubah karakter peserta didik (siswa santri), dari berkarakter negatif (bahimiyah, sabu'iyah dan syaithoniyah) menjadi berkarakter positif (malaikatiyah). Dan itulah manusia yang sesungguhnya, yang disebut Muttaqin (orang yang benar-benar bertaqwa), yakni manusia berkarakter malaikat.
    Dari segi kualitas kelembutan spiritualnya jiwa memiliki 7 tingkatkan, dan masing-masing tingkat memiliki karakteristik dan kinerja yang berbeda.
    Ke tujuh tingkatan itu adalah;
    1. Lathifatun nafsi dengan karakter amarah bis su' (memerintahkan kepada keburukan).
    2. Lathifah qalbi dengan karakter lawwaamah (suka mencela).
    3. Lathifah ruhi, dengan Karakter mulhimah (sensitif intuitif positif dan negatif).
    4. Lathifah Sirri dengan karakter Muthmainnah (stabil dalam kebaikan dan kebenaran).
    5. Lathifah khofi dengan karakter rodhiyah (puas dengan ketentuan dan pemberian Allah).
    6. Lathifah Akhfa dengan karakter Mardhiah (Dapat dibanggakan oleh Allah)
    7. Lathifah qalab, dengan karakter Kamilah (sempurna/ memiliki semua karakter2 ilaahiah).
    Pada setiap tingkat kelembutan jiwa tersebut memiliki jaringan intuisi positif (taqwallah) dan intuisi negatif (fujur atau duraka kepada Allah).
    Nama jiwa seseorang didasarkan pada Karakter yang mendominasi dirinya, yaitu, salah satu dari karakter jiwa (nafsu) berikut ini : nafsu amarah, nafsu lawwaamah, nafsu mulhimah, nafsu Muthmainnah, nafsu rodhiyah, nafsu Mardhiah dan nafsu Kamilah.
    Yang penting untuk disadari, bahwa tabi'at jiwa lebih bersifat genotipe (bawaan sejak lahir) sedangkan Akhlak, kepribadian atau pun karakter bersifat edukatif (karena faktor didikan dan lingkungan sekitar. Dengan meningkatnya kwalitas karakter seseorang, meningkat pula kwalitas tabiat seseorang.
    Mendidik berarti menumbuhkembangkan totalitas kejiwaan manusia yang terdiri dari hardware dan software dari pikiran, perasaan dan perilaku manusia. Pikiran atau akal manusia pada otak, perasaan manusia pada shudur (dada), dan perilaku manusia pada organ tubuhnya yang diwakili oleh tangan dan kakinya. Atau dalam bahasa pendidikan disebut sebagai aspek kognitif (pengetahuan), afektif (perasaan) dan psikomotorik (perilaku). Dengan tehnik yang bersifat sistemik (rangkaian sistem terpadu), integratif (menyatu) dan simultan (berurutan dan terus menerus) antara pengajaran (ta'lim), pembiasaan (ta'dib) dan bimbingan kerohanian (Irsyad).
     Software perasaan yang namanya shudur (dada) tersebut memiliki tujuh aplikasi penting yang sudah disebutkan, yaitu;
    1. Nafsu
    2. Qolbu
    3. Ruh
    4. Sirr
    5. Khofi / Lub
    6. Akhfa / Fuad
    7. Qalab.
    Software dan aplikasinya tersebut memiliki tehnis pendidikan atau perawatannya sendiri sehingga menjadi berkembang dan tumbuh dengan  sehat (fungsional dan produktif). Perawatan dan pendidikan bisa juga disebut olah rasa sebagaimana halnya badan perlu olahraga.
    Perawatan software (jiwa manusia) adalah dengan dzikrullah,  dengan segala macam bentuknya aktivitasnya, seperti sholat, membaca kitab suci, membaca kalimat thoyyibah, mengamati dan mentafakkuri ayat2 Allah dalam kehidupan (manusia, binatang dan tumbuhan).
    Dengan pengasahan tersebut (tazkiyatun nafsi), jiwa manusia menjadi cerdas dan dewasa. Kecerdasan emosional menjadi bagus (stabil,  apresiatif, pemaaf dan toleran), demikian juga kecerdasan spiritualnya menjadi bagus (sensitif terhadap makna2 di balik fenomena dan peristiwa).
    B. Neoropsikologi Sufistik.
    Manusia adalah makhluk Ruhaniyah yang berjisim, dalam arti bahwa hakekatnya manusia itu adalah ruhnya, sedangkan jisim atau jasadnya hanyalah sebuah wadah dan kendaraan atau baju bagi ruh untuk berwujud dan bereksistensi di dalam dunia ini. Ibaratnya seperti apa yang kita kenal di dalam sistem komputer adanya dua substansi yang terintegrasi dengan baik, yaitu: software (perangkat lunak) dan  hardware (perangkat keras).
    Ruh makhluk-makhluk (termasuk manusia) adalah berasal dari ruh Allah, Maka dia membawa sifat-sifat Hb ketuhanan Al hayyu (maha hidup), Al qayyum (maha tegak berdiri), Al qawiy (maha kuat) dll dari  asma2 (karakter) Allah. Maka dengan masuknya ruh Allah, itulah sel-sel dalam organisme menjadi hidup (tumbuh, berkembang, bergerak dan juga berfikir) sesuai dengan kesiapan dan kelengkapan hardware (jasad) makhluk hidup tersebut.
    Menempelnya unsur ketuhanan pada unsur material, melalui bagian unsur yang paling lembut dari suatu unsur. Khusus makhluk hidup biologis, unsur ketuhanan (Al hayyu=hidup) adalah menempel pada oksigen, dalam sebuah senyawa H2O (Air). Sehingga hampir dapat dipastikan sebuah organisme akan mati jika tidak menerima oksigen, karena tidak ada media bagi ruh untuk berwujud di situ.
    Oleh karena itu, ada korelasi yang sangat kuat antara jasmani dan rohani dalam sebuah wujud kesadaran yang disebut sebagai jiwa (nafs atau soul) yang selanjutnya Secara riil membentuk sebuah kepribadian atau Karakter. Kepribadian maupun perbuatan setiap organisme termasuk manusia dikendalikan melalui pusat pengendalian (sebuah anatomi yang bersifat biologis). Anatomi tersebut untuk makhluk hidup tingkat tinggi disebut dengan nama otak. Sehingga dari organ ini prilaku, karakter dan bahkan gerakan-gerakan di luar kesadarannya diprogram dan dikendalikan, termasuk kerja jantung biologis manusia.
    Ruh manusia itu berasal tiupan bagian ruh Allah, dia sangat lembut (lathiif atau soft), sehingga bisa tembus pada semua bagian terkecil dari segala sesuatu. Sehingga bisa sambung dan menempel pada unsur material, sebagai mana esensi (rasa, warna atau bau) pada benda-benda. Seperti wangi pada bunga, atau panas pada bara api dll.
    Ruh yang berada dalam diri manusia (jiwa) juga sebagai mediator antara Allah dengan makhluknya, melalui jiwa Allah menghidupkan, menggerakkan, menunjukkan, menyesatkan dlsb. Manusia memiliki kesempurnaan jaringan dengan Allah, baik jaringan intuisi positif (ilham taqwa) dan jaringan intuisi negatif (ilham fujur), maka beruntunglah orang-orang yang mensucikan jiwanya dan Sungguh rugi orang yang mengotorinya (QS: as syams: 7-10)
    Sehingga kalau Allah mencabut ruh seseorang, maka berhentilah semua aktivitas dalam dirinya, atau juga sebaliknya, jika aktivitas menyebarnya ruh dalam sebuah organisme maka mati jugalah jadinya organisme tersebut. Karena dengan ruh-Nya Allah menghidupkan dan dengan ruh-Nya pula dia mematikan. Dengan cara memasukkan ruh-Nya (jadilah hidup) dan mengeluarkan ruh-Nya dari dalam diri seseorang (mematikan).

    Kajian Psikosufistik Pendidikan Islam

    Posted at  12.21  |  in  kajian umum  |  Read More»



    Kajian Psikosufistik Pendidikan Islam
    Oleh : Dr. KH. Kharisudin Aqib, M. Ag

    A. Pendidikan Islam adalah kelanjutan dari misi dakwah Rasulullah Muhammad Saw, yaitu Li utammima makaarimal akhlaq (menyempurnakan kemuliaan akhlak (kepribadian, atau karakter). Menyempurnakan dalam arti menumbuh kembangkan dengan serasi dan harmonis. Sedangkan kemuliaan berarti  keterpaduan antara keunggulan (ekselensi) dan keberbedaan dengan yang lain (distingsi).
    Sehingga pendidikan Islam berarti suatu proses penumbuh kembangan kepribadian manusia menjadi manusia yang berkarakter yang serasi dan harmonis dalam keunggulan dan keunikan.
    Akhlak, kepribadian dan karakter adalah sebuah ungkapan atau konsep yang maknanya adalah sebuah totalitas diri seorang manusia yang merupakan integrasi kesadaran (perpaduan antara kesadaran jasmaniah dan kesadaran rohaniah). Sedangkan hal tersebut merupakan wujud maknawi dan hakiki seorang manusia. Yang secara garis besarnya terdiri dari tiga organ penting, yaitu: kepala, badan dan tangan-kaki. Ketiga organ penting ini sekaligus sebagai obyek pendidikan Islam. Karena ketiganya merupakan perwujudan dari tiga potensi dasar manusia, yakni; kognitif (pengetahuan), afektif (penghayatan) dan psikomotorik (perbuatan).
    Pendidikan Islam bertugas selain menumbuh kembangkan kepribadian yang serasharmonis antara kognitif, afektif dan psikomotorik dengan baik. Dengan cara memberikan pengetahuan, penghayatan dan praktek dalam keilmuan secara seimbang dan serasi, Sebagai mana keseimbangan perkembangan kepala, badan, tangan dan kaki.
    Ilmu pengetahuan seseorang sebaiknya tidak lebih baik daripada penghayatan seseorang terhadap ilmu tersebut, demikian juga halnya praktek dan Pengamalannya juga harus terampil dan baik, dengan menyeimbangkan antara tehnis pengajaran, pembiasaan dan bimbingan praktis. Khususnya dalam bidang pendidikan moral keagamaan.
    Di samping tiga aspek tersebut, dalam jiwa sebagai hakekat pemilik akhlak, kepribadian dan karakter seseorang ada tiga dorongan atau kecenderungan, yaitu; keinginan (syahwat), emosi (ghodhob) dan pengetahuan (ilmu). Ketiga hal tersebut berada dan bersifat software (perangkat lunak atau lathifah) yang menempel dalam sistem kerja hardware (perangkat keras) yang disebut dengan: otak kanan, otak kiri dan otak depan. Sedangkan otak belakang sebagai pengendali keseimbangan gerakan badan, dan otak tengah (Mesenchepalon) bertugas mengkoordinasikan kerja semua bagian otak, sehingga menghasilkan kesadaran  majemuk dan meaningtif (kecerdasan spiritual).
    Disamping itu semua, pada dasarnya jiwa memiliki empat macam tabiat (sifat bawaan) yang tampak dalam sikap mental dan perilaku seseorang, yaitu: tabi'at bahimiyah (binatang jinak), sabu'iyah (binatang buas), syaithoniyah (kesetanan), dan tabiat malaikatiyah (kemalaikatan).
    Keempat macam tabiat tersebut secara potensial ada pada setiap orang dengan dominasi dari salah satu dari keempatnya.
    Tabiat yang mendominasi diri seseorang itulah akhlak, kepribadian dan karakter orang tersebut serta wujud maknawi dirinya.
    Tabi'at bahimiyah adalah tabiat kebinatang jinakkan, yakni suka makan- minum, bermalas-malasan  atau tidur dan melampiaskan nafsu seksual.
    Tabi'at sabu'iyah atau kebinatang buasan adalah kesukaan bertengkar, menyakiti orang lain, mengalahkan dan berbuat onar.
    Dan tabi'at syaithoniyah adalah kesukaan untuk berprilaku seperti setan, seperti; iri hati, hasut, dengki, takabur dan licik.
    Sedangkan tabi'at malaikatiyah kesukaan berbuat ta'at dan mendekat kepada Allah SWT, serta menjauhi maksiat.
    Sehingga orang yang didominasi oleh salah satu dari tabi'at-tabi'at tersebut kepribadian, Karakter dan akhlaknya adalah mungkin bahimi, sabu'i, syaithoni atau malaikati, dan juga wujud maknawi (wujud di alam astral atau alam metafisika), sekitar binatang ternak ( sapi, kambing dll), binatang buas (anjing, ular, buaya dll), setan (genderuwo, kuntilanak dll), serta malaikat (manusia tampan atau cantik yang bercahaya terang).
    Disamping menjaga, mengasah dan meningkatkan kualitas kecerdasan spiritual, emosional, intelektual dan kinestetik, pendidikan Islam bertujuan merubah karakter peserta didik (siswa santri), dari berkarakter negatif (bahimiyah, sabu'iyah dan syaithoniyah) menjadi berkarakter positif (malaikatiyah). Dan itulah manusia yang sesungguhnya, yang disebut Muttaqin (orang yang benar-benar bertaqwa), yakni manusia berkarakter malaikat.
    Dari segi kualitas kelembutan spiritualnya jiwa memiliki 7 tingkatkan, dan masing-masing tingkat memiliki karakteristik dan kinerja yang berbeda.
    Ke tujuh tingkatan itu adalah;
    1. Lathifatun nafsi dengan karakter amarah bis su' (memerintahkan kepada keburukan).
    2. Lathifah qalbi dengan karakter lawwaamah (suka mencela).
    3. Lathifah ruhi, dengan Karakter mulhimah (sensitif intuitif positif dan negatif).
    4. Lathifah Sirri dengan karakter Muthmainnah (stabil dalam kebaikan dan kebenaran).
    5. Lathifah khofi dengan karakter rodhiyah (puas dengan ketentuan dan pemberian Allah).
    6. Lathifah Akhfa dengan karakter Mardhiah (Dapat dibanggakan oleh Allah)
    7. Lathifah qalab, dengan karakter Kamilah (sempurna/ memiliki semua karakter2 ilaahiah).
    Pada setiap tingkat kelembutan jiwa tersebut memiliki jaringan intuisi positif (taqwallah) dan intuisi negatif (fujur atau duraka kepada Allah).
    Nama jiwa seseorang didasarkan pada Karakter yang mendominasi dirinya, yaitu, salah satu dari karakter jiwa (nafsu) berikut ini : nafsu amarah, nafsu lawwaamah, nafsu mulhimah, nafsu Muthmainnah, nafsu rodhiyah, nafsu Mardhiah dan nafsu Kamilah.
    Yang penting untuk disadari, bahwa tabi'at jiwa lebih bersifat genotipe (bawaan sejak lahir) sedangkan Akhlak, kepribadian atau pun karakter bersifat edukatif (karena faktor didikan dan lingkungan sekitar. Dengan meningkatnya kwalitas karakter seseorang, meningkat pula kwalitas tabiat seseorang.
    Mendidik berarti menumbuhkembangkan totalitas kejiwaan manusia yang terdiri dari hardware dan software dari pikiran, perasaan dan perilaku manusia. Pikiran atau akal manusia pada otak, perasaan manusia pada shudur (dada), dan perilaku manusia pada organ tubuhnya yang diwakili oleh tangan dan kakinya. Atau dalam bahasa pendidikan disebut sebagai aspek kognitif (pengetahuan), afektif (perasaan) dan psikomotorik (perilaku). Dengan tehnik yang bersifat sistemik (rangkaian sistem terpadu), integratif (menyatu) dan simultan (berurutan dan terus menerus) antara pengajaran (ta'lim), pembiasaan (ta'dib) dan bimbingan kerohanian (Irsyad).
     Software perasaan yang namanya shudur (dada) tersebut memiliki tujuh aplikasi penting yang sudah disebutkan, yaitu;
    1. Nafsu
    2. Qolbu
    3. Ruh
    4. Sirr
    5. Khofi / Lub
    6. Akhfa / Fuad
    7. Qalab.
    Software dan aplikasinya tersebut memiliki tehnis pendidikan atau perawatannya sendiri sehingga menjadi berkembang dan tumbuh dengan  sehat (fungsional dan produktif). Perawatan dan pendidikan bisa juga disebut olah rasa sebagaimana halnya badan perlu olahraga.
    Perawatan software (jiwa manusia) adalah dengan dzikrullah,  dengan segala macam bentuknya aktivitasnya, seperti sholat, membaca kitab suci, membaca kalimat thoyyibah, mengamati dan mentafakkuri ayat2 Allah dalam kehidupan (manusia, binatang dan tumbuhan).
    Dengan pengasahan tersebut (tazkiyatun nafsi), jiwa manusia menjadi cerdas dan dewasa. Kecerdasan emosional menjadi bagus (stabil,  apresiatif, pemaaf dan toleran), demikian juga kecerdasan spiritualnya menjadi bagus (sensitif terhadap makna2 di balik fenomena dan peristiwa).
    B. Neoropsikologi Sufistik.
    Manusia adalah makhluk Ruhaniyah yang berjisim, dalam arti bahwa hakekatnya manusia itu adalah ruhnya, sedangkan jisim atau jasadnya hanyalah sebuah wadah dan kendaraan atau baju bagi ruh untuk berwujud dan bereksistensi di dalam dunia ini. Ibaratnya seperti apa yang kita kenal di dalam sistem komputer adanya dua substansi yang terintegrasi dengan baik, yaitu: software (perangkat lunak) dan  hardware (perangkat keras).
    Ruh makhluk-makhluk (termasuk manusia) adalah berasal dari ruh Allah, Maka dia membawa sifat-sifat Hb ketuhanan Al hayyu (maha hidup), Al qayyum (maha tegak berdiri), Al qawiy (maha kuat) dll dari  asma2 (karakter) Allah. Maka dengan masuknya ruh Allah, itulah sel-sel dalam organisme menjadi hidup (tumbuh, berkembang, bergerak dan juga berfikir) sesuai dengan kesiapan dan kelengkapan hardware (jasad) makhluk hidup tersebut.
    Menempelnya unsur ketuhanan pada unsur material, melalui bagian unsur yang paling lembut dari suatu unsur. Khusus makhluk hidup biologis, unsur ketuhanan (Al hayyu=hidup) adalah menempel pada oksigen, dalam sebuah senyawa H2O (Air). Sehingga hampir dapat dipastikan sebuah organisme akan mati jika tidak menerima oksigen, karena tidak ada media bagi ruh untuk berwujud di situ.
    Oleh karena itu, ada korelasi yang sangat kuat antara jasmani dan rohani dalam sebuah wujud kesadaran yang disebut sebagai jiwa (nafs atau soul) yang selanjutnya Secara riil membentuk sebuah kepribadian atau Karakter. Kepribadian maupun perbuatan setiap organisme termasuk manusia dikendalikan melalui pusat pengendalian (sebuah anatomi yang bersifat biologis). Anatomi tersebut untuk makhluk hidup tingkat tinggi disebut dengan nama otak. Sehingga dari organ ini prilaku, karakter dan bahkan gerakan-gerakan di luar kesadarannya diprogram dan dikendalikan, termasuk kerja jantung biologis manusia.
    Ruh manusia itu berasal tiupan bagian ruh Allah, dia sangat lembut (lathiif atau soft), sehingga bisa tembus pada semua bagian terkecil dari segala sesuatu. Sehingga bisa sambung dan menempel pada unsur material, sebagai mana esensi (rasa, warna atau bau) pada benda-benda. Seperti wangi pada bunga, atau panas pada bara api dll.
    Ruh yang berada dalam diri manusia (jiwa) juga sebagai mediator antara Allah dengan makhluknya, melalui jiwa Allah menghidupkan, menggerakkan, menunjukkan, menyesatkan dlsb. Manusia memiliki kesempurnaan jaringan dengan Allah, baik jaringan intuisi positif (ilham taqwa) dan jaringan intuisi negatif (ilham fujur), maka beruntunglah orang-orang yang mensucikan jiwanya dan Sungguh rugi orang yang mengotorinya (QS: as syams: 7-10)
    Sehingga kalau Allah mencabut ruh seseorang, maka berhentilah semua aktivitas dalam dirinya, atau juga sebaliknya, jika aktivitas menyebarnya ruh dalam sebuah organisme maka mati jugalah jadinya organisme tersebut. Karena dengan ruh-Nya Allah menghidupkan dan dengan ruh-Nya pula dia mematikan. Dengan cara memasukkan ruh-Nya (jadilah hidup) dan mengeluarkan ruh-Nya dari dalam diri seseorang (mematikan).

    Tentang Kami-Pendaftaran-Contact
    Copyright © 2013 Pondok Pesantren - DARU ULIL ALBAB. Blogger Template by BloggerTheme9
    Proudly Powered by Blogger.
    back to top