Solusi Holistik Berbagai Masalah-Musibah dlm Ibadah Haji

Posted at  20.20  |  in  Solusi permasalahan haji


Kembali Kepada Al-Qur’an
Adalah Solusi Holistik Berbagai Masalah-Musibah dlm Ibadah Haji
Oleh : Kharisudin Aqib[1]

Umat Islam semua sebenarnya yakin, dan mengimani bahwa dalam semua segi kehidupan al-Qur’an adalah rujukan absolut yang mesti dipegangi dan diamalkan,lebih-lebih dalam hal ibadah makhdloh seperti haji ini. Namun kenapa  seolah-olah semua umat islam sibuk dengan berdebat dengan pikiran dan ilmunya masing-masing dan melupakan al-Qur’an sebagai sumber rujukan. Padahal al-Qur’an adalah firman suci yang mutlak benar dan berlaku abadi.
Berbagai masalah dan musibah yang terjadi berkisar di antara  penyelenggaraan ibadah haji, dan ‘manipulasi situs’ tempat ibadah atas nama perluasan area ibadah terus berjalan dari waktu ke waktu dengan tetap disertai adanya bencana dan tragedi yang memilukan. Namun kenapa belum ada juga yang memperhatikan apa kata al-Qur’an tentang waktu penyelenggaraan ibadah haji, sebagai dukomentasi firman Allah, yang pasti benar dan solutifnya.
Marilah kita tinggalkan ego centris kita, kita tinggalkan kesombongan intelektual dan ta’asubiah kita dengan kembali melihat dan memperhatikan Firman Allah swt, Tuhan Kita dan Tuhan seluruh alam raya ini. Pastilah semua masalah dan musibah akan terhenti karena ridlo ilahi dan kebenaran murni.Allah swt dalam surat al-baqarah ayat 197 berfiman
Artinya: (Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.
Para mufassir dan pengkaji tafsir al-qur’an pasti pada tahu, bahwa yang dimaksud bulan-bulan yang telah dimaklumi itu adalah bulan: Syawwal, Dzul Qa’dah dan Dzul Hijjah. Sehingga penyelenggaraannya adalah tiga gelombang;  gelombang 1 bulan Syawwal, gelombang II bulan Dzul Qa’dah dan dan gelombang III adalah bulan Dzul Hijjah, sebagaimana penyelenggaraan haji sebelum Islam, karena memang ibadah haji adalah termasuk dari al-syar’u man qablana (syari’at umat terdahulu).
Jumhur dan mayoritas ulama’ dan bahkan umat islam meyakini dan menyelenggarakan ibadah haji hanya di bulan dzul hijjah karena meneladani dan mengamalkan apa yang dicontohkan oleh utusan Allah (Nabi agung Muhammad SAW), adalah suatu kebenaran yang tidak boleh diragukan.Karena memang itu juga benar. Tetapi marilah kita cari kebenaran solutif yang menjadi mukjizat al-qur’an yang dijanjikan oleh Allah swt, yang pasti akan kebearannya. Artinya  kita menjadikan, apa yang dipraktekkan oleh Rasulullah adalah contoh terbaik dalam kondisi normal.baik dalam hal manasik (tatacara ibadah), maupun waktu penyelenggaraannya. Contoh cukup sekali, sedangkan soal atau permasalahan  yang lain bisa dianalogkan (dikiyaskan).
Untuk manasik (ritual iabadah haji), kita tidak membutuhkan ijtihad, apa saja yang diajarkan oleh Rasulullah kita ikuti.Sedangkan untuk masalah waktu, kita harus kembali kepada al-Qur’an.yakni dalam beberapa bulan yang telah dimaklumi, yaitu; Syawwal, Dzul Qa’dah dan Dzul Hijjah.Berarti tiga gelombang. Sedangkan prinsip mengikuti sunnah rasul hendaknya kita perluas dengan memahami kontek dimana sunnah dilaksanakan, atau asbaab al-wuruud (sebab-sebab peristiwa sunnah terjadi).
Jika kita kaji sejarah haji rasulullah dalam sirohnya (sejarah hidupnya), maka ibadah haji dilaksanakan oleh Rasulullah hanya sekali, yakni di Bulan Dzul Hijjah tahun ke 9.dan jika lebih cermat menganalisisnya, itu adalah suatu “keterpaksaan” karena tahun sebelumnya belum memungkinkan karena masjidil haram dan makkah masih dikuasai oleh kafir Quraisy, sedangkan tahun sesudahnya Nabi telah meninggal dunia.Sehingga Rasulullah hanya berkesempatan sekali melaksanakan ibadah haji.Sehingga praktis tidak ada contoh selain haji wadak di bulan dzul hijjah tersebut.Tetapi sebagai contoh , sekali itu sudah cukup, khususnya yang terkait dengan manasiknya.
Tawaran konsep Perubahan revolutif dalam penyelenggaraan ibadah haji dari satu gelombang (bulan dzul hijjah) menjadi tiga gelombang (Syawwal, Dzul Qa’dah dan Dzul Hijjah), akan memberikan manfa’at yang sangat luas dan menyeluruh.mulai yang terkait dengan transportasi, akomodasi, pemondokan, kapasitas area ibadah dll. Sehingga membutuhkan keterlibatan berbagai macam komponen, bahkan semua negara islam dan negara pemasok jama’ah yang besar harus dilibatkan dalam pembahasan ini, sehingga bisa diambil sebagai konsenses atau ijma’ ulama’ dan umara’ul muslimin.
Sehingga sangatpantas jika Presiden Republik Indonesia, sebagai presiden negara terbesar dan pemasok jama’ah ibadah haji terbanyak untuk mengajak negara-negara islam yang lain untuk membuat ijtihad (upaya intelektual yang serius) dan ijma’ (konsenses para pakar dan pemerintahan ) ini.Pada prinsipnya semua yang terkait dengan manasik  dan tempat para jama’ah tidak ada perbedaan. Hanya tawaran penyelenggaraan haji tiga gelombang dengan tatacaranya sama. Tanggal penyelenggaraan dan tempatnya tetap sama. Yang beda hanya bulannya. Yakni Syawal, Dzul Qa’dah dan Dzul Hijjah. Jama’ah haji dipersilahkan untuk memilih dan ikut gelombang. Sedangkan ulama’ dan umarah menetapkan keputusan yang bersifat strategis dan futuristik.


[1] Dosen UINSA Surabaya – Pengasuh Pondok Pesantren Daru Ulil Albab Kelutan Nganjuk Jawa Timur.

Bagikan Posting ini

Tentang Kami

Pesantren Terpadu yang didirikan oleh Yayasan Pondok Pesantren Daru Ulil Albab. Insya Allah siap mengemban amanat anda. Untuk menjadikan putra-putri anda pemimpin bangsa, / ulama’/ cendikiawan / konglomerat yg bertaqwa kepada Allah, dan berakhlak mulia Facebook

0 komentar:

Tentang Kami-Pendaftaran-Contact
Copyright © 2013 Pondok Pesantren - DARU ULIL ALBAB. Blogger Template by BloggerTheme9
Proudly Powered by Blogger.
back to top