• Profil

    Pesantren Terpadu Daru Ulil Albab

  • INFORMASI PENDAFTARAN SANTRI BARU TAHUN 2019

  • Wakaf Tunai

    Gerakan Wakaf Sejuta Umat Ulul Albab

  • Mujahadah

    Jadwal Mujahadah


  • Tafsir isyari akhlaqi praktis Surat Al-Fatihah
    Oleh:Kharisudin Aqib al-Faqir

    Muqaddimah


    Al-Qur’an Sebagai Petunjuk bagi Umat Manusia
    Sebagai petunjuk , al-qur’an dapat diibaratkan sebagai cermin bagi manusia.karena memang al-qur’an, manusia dan alam semesta merupakan kalamullah (firman Allah), dan sekaligus sebagai tajalliyatullaah (bayangan Allah).Ketiga materi makhluk (“ciptaan” Allah), merupakanshuuroturrohman (gambaran al-Rahman). Sehingga pada diri ketiganya kita dapat melihat;  ‘wajah ,tangan,kaki dan bahkan diri ’ al-Rahman.Begitu juga sebaliknya, manusia dapat melihat dirinya sendiri, pada alam dan pada al-Qur’an.
    Mus-haful qur’an (naskah kitab suci al-Qur’an), sebagai totalitas profil alam (word cosmos), atau alam yang berbentuk kata-kata, sebagaimana manusia yang merupakan microkosmos (alam kecil),memiliki bagian-bagian ; yang terdiri dari ; juz,surat,ruku’,ayat, kalimat dan huruf. (30 juz, 114 surat, ….. ruku’, 30 huruf hijaiyah dan  6666 ayat. Adalah gambaran tentang manusia dan juga alam semesta. Sehingga manusia itu hakekatnya (wujud dan berdirinya) berada di depan banyak cermin dan wujud diri yang sebenarnya, yaitu komunitas manusia, alam raya dan Allah swt sendiri.
    Oleh karena itu al-Qur’an sebagai hudan (petunjuk) untuk bersikap baik secara lahir maupun batin, bagi manusia. Khususnya sikap batin atau akhlak dan karakter.Baik sikap batin terhadap Allah, sesama manusia maupun kepada makhluk lain. Sikap batin yang harus dilakukan dan dibiasakan hingga bersifat reflektif tetapi edukatif dari inpirasi al-Qur’an adalah;
    1.     Sikap batin kepada Allah, manusia sebagai hamba dan kholifah-Nya.
    2.     Sikap batin kepada sesama manusia (sebagai kholifah maupun hamba Allah)
    3.     Sikap batin kepada alam semesta, termasuk flora dan fauna.

    Surat Al-Fatihah
    (Termasuk Surat Makkiyah juga Madaniyah, tujuh (7) ayat dan satu (1) ruku’).
    Redaksi:
    بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ ﴿١﴾ الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ﴿٢﴾ الرَّحْمـنِ الرَّحِيمِ ﴿٣﴾ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ ﴿٤﴾ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ﴿٥﴾ اهدِنَــــا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ ﴿٦﴾ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمتَ عَلَيهِمْ غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ ﴿٧﴾
    A.Terjemah:
    001. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
    002. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam,
    003. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang,
    004. Yang menguasai hari pembalasan.
    005. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan
    006. Tunjukilah kami jalan yang lurus,
    007. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni`mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

    B. Sekilas Tentang Surat  Al-Fatihah
    Nama surat yang pertama dalam mushaf al-qur’an ini “al-fatihah”  yang berarti suatu pembuka. Surat al-fatihah ini adalah surat pertama yang diturunkan secara lengkap, surat al-fatihah harus dibaca di setiap roka’at dalam semua sholat (baik sholat wajib maupun solat sunnah), kata Nabi; Laa sholata  illaa bi faatihatil kitaab,(tidak ada sholat kecuali mesti harus dengan membaca al-fatihah).Sehingga al-Fatihah disebut sebagai as-sab’ul matsaani  (tujuh ayat yang diulang-ulang). Surat yang pendek ini bisa dijadikan sebagai do’a , ruqyah dan hadiah pahala (transfer energy spiritual untuk orang lain).
    Surat al-Fatihah bagi al-qur’an adalahbagai muqaddimahnya UUD 1945,  bagi program computer, bagai layar deskop…, sehingga dari surat al-fatihah ini terurai ke dalam ayat-ayat dalam semua surat yang ada sesudahnya, mulai surat al-baqarah sampai dengan surat an-nas.

    C. Isyarat-isyarat Penting dan penjelasan singkatnya.
    Surat al-Fatihah (pembukaan) diturunkan kepada kita , agar kita mau membuka diri dan selanjutnya mengukir diri (jiwa) kita dengan platform  muqaddimah al-qur’an ini. Sehingga  gambaran  wujud dan gambaran jiwa kita adalah surat pembuka al-qur’an ini.Oleh karena itu surat al-fatihah ini harus selalu dibaca minimal dalam  setiap roka’at  sholat seorang muslim, agar terjadi proses internalisasi  nilai-nilai surat ini ke dalam jiwa setiap muslim. Inilah isyarat paling pentingdari Surat Al-fatihah.
    Surat al-Fatihah terdiri dari tujuh (7) ayat, sebagaiisyarat  bahwa gambaran jiwa manusia yang berlapis-lapis sebagai isyarat dari Rasul “arruuhu junuudun mujannadah” (jiwa itu adalah pasukan yang berlapis-lapis). Jumlah ayat surat ini  sama persis  dengan jumlah lapisan diri (jiwa) manusia.Sehingga masing-masing ayat harus melekat, terukir atau tergambar dalam lapisan diri atau lapisan jiwa setiap muslim.
    Ayat 1, (karakter- rahman-rahim) harus tergambar dalam totalitas raga/ badan (qalab), sekaligus jiwa yang paling dalam (lapisan jiwa ke 6 sampai dengan ke 1).ayat 2, (karakter suka hal-hal yang baik, dan ingin yang terbaik dan suka memuji) tergambar dalam lapisan  jiwa 1 (nafs).
    Ayat 3, (karakter rahman-rahim)  tergambar secara khusus dalam lapisan jiwa ke 2 (qalb),Ayat ke 4, (karakter futuristik atau orientasi masa depan) harus  tergambar dalam lapisan jiwa ke 3 (ruh),Ayat ke 5, (karakter tauhid atau monoloyalitas) harus tergambar dalam lapisan jiwa ke 4 (sir),Ayat ke 6, (karakter perilaku lurus dan jujur) harus tergambar dalam lapisan jiwa ke 5 (khofi)Ayat ke 7, (karakter ekselen atau  unggul dan berbeda dengan yang lain) akan tergambar dalam lapisan jiwa ke 6 (akhfa).
    Ayat 1;
    بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
    “Atas nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”

    Ayat ini mengisyaratkan agar setiap mukmin memerankan diri sebagai wakil Allah (khalifatullah), dalam kehidupan di dunia ini, dengan senantiasa memakai sifat Allah (karakter) yang rahmaan dan rahiim, dalam semua sikap,kebijakan  dan perbuatannya. Rahman dalam arti kasih sayang secara material sedangkan rahiim dalam arti kasih sayang secara spiritual (lebih maknawi dan hakiki).
    Melakukan apa saja harus disertai I’tiqat (penghayatan)mempresentasikan sifat rahman dan rahiim Allah. Kita harus pandai-pandai mengatur, Kapan kita harus bersikap rahman, dan kapan harus bersikap rahim.Sikap rahman lebih merupakan presentasi dari sikap keibuan,sedangkan sikap rahim lebih merupakan sikap kebapakan. Ayat 1ini harus  tergambar dalam totalitas raga/ badan (qalab), sekaligus jiwa yang paling dalam (lapisan jiwa ke 6 sampai dengan ke 1).
    Isyarat lain yang juga harus ditangkap dari ini adalah kita sebagai hamba harus senantiasa mengagungkan asma Allah swt.

    Ayat ;2
    الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
    “Segala puji bagi Allah, Tuhan pemelihara semua  alam”
    Isyarat Allah dalam ayat ini adalah agar manusia tidak gila pujian. Karena pada dasarnya yang berhak mendapatkan pujian adalah Allah. Karena Allah lah yang mengatur segala kejadian di alam semesta ini, bukan diri kita.tetapi hendaknya kita juga harus menyadari bahwa pada dasarnya semua manusia suka dipuji karena sifat ketuhanan yagada pada diri manusia, maka pujilah orang lain agarmereka senang (idkholus surur ) termasuk akhlak mulia. Kembalikan pujian kepada Allah jika menerima pujian dari orang lain. ayat 2 tergambar dalam lapisan  jiwa 1 (nafs), sehingga pujian adalah sesuatu yang sangat berkesan dalam jiwa manusia.
    Ayat; 3
    الرَّحْمـنِ الرَّحِيمِ
    “Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”
    Ayat di atas mengisyaratkan, supaya kita memakai dua sifat ini,dan dengan dua sifat Allah inilah yang harus dominan dalam diri manusia sebagai khalifah-Nya. Dengan kearifan menerapkan kedua sifat inilah manusia akan sukses sebagai khalifatullah dan mendapatkan ridlo-Nya.  Allah memakai sifat rahman kepada semua hambanya (baik yang ta’at maupun yang duraka), tetapi memakai sifat rahiim hanya untuk hamba-Nya yang dikasihinya (yang ta’at kepada-Nya). Isyarat ayat ini agar manusia bersikap seperti diri-Nya. Kepada semua pihak kita harus ar rahmaan dan kepada orang yang  yang percaya atau ‘orang dalam’ kita harus ar rohiim.Seperti dicontohkan oleh rasulullah saw dalam bersikap terhadap para sahabat dan keluarganya. ).  Ayat 3 ini harus tergambar dalam lapisan jiwa ke 2 (qalb),maka hati kita haruskita penuhi dengan sifat rahmah  (kasih sayang), dengan menejemen kearifan, kapan harus rahman, (material) dan kapan harus rahiim (hakiki dan spiritual).

    Ayat ; 4
    مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
    “Yang menguasai hari agama ”.
    Ayat ini mengisyaratkan agar manusia mengingat hari agama (hari datangnya sesuatu yang dijanjikan oleh agama, ) yaitu hari kiamat atau hari kematian, agar dirinya menyadari sehebat apapun dia pasti mati dan tidak berdaya sama sekali, yang berdaya dan menguasai dirinya pada hari itu adalah hanya Allah saja. ayat ke 4 tergambar dalam lapisan jiwa ke 3 (ruh). Ruh kita harus terukir dengan kemahakuasaan Allah di hari kiamat, serta ketidak berdayaan kita sebagai manusia, pada sa’at itu nanti.

    Ayat; 5
    إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
    “ Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan”
    Isyarat yang dapat ditangkap dari ayat ini adalah, agar manusia itu menyembah dan memohon hanya kepada Allah, sebagai Tuhan Yang Maha Esa.Jangan sampai manusia itu terkecoh mentuhankan yang selain Allah dengan menggantungkan harapan dan penyembahan.Dengan memurnikan pengharapan dan penyembahan manusia akan memiliki kekuatan yang Maha dahsyat.ayat ke 5 tergambar dalam lapisan jiwa ke 4 (sir), jiwa kita yang tersembunyi ini harus terlukisi ikrar kepada Allah untuk senantiasa menjaga sikap dan prilaku kehambaan, seperti yang menjadi target penciptaan manusia dan jin oleh Allah swt.
    Ayat; 6
    اهدِنَــــا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ
    “Tunjukilah kami jalan yang lurus”
    Ayat ini mengisyaratkan bahwa, pada dasarnya manusia itu tidak mengetahui jalan yang lurus menuju kepada kebenaran (al-Haq atau Allah), kebenaran yang bisa dicapai oleh manusia melalui indra maupun akal manusia adalah kebenaran yang masih nisbi dan semu.Oleh karena itu seorang mukmin harus senantiasa memohon petunjuk dan bimbingan Allah swt untuk dapat mencapai shirotol mustaqiim.dan do’a ini sekaligus sebagai bentuk peribadatan yang sangat inti.ayat ke 6 tergambar dalam lapisan jiwa ke 5 (khofi).Di dalam jiwa yang paling dalam ini, kita harus senantiasa memohon petunjukAllah ke jalan hidup yang lurus menuju ridlo Allah dan surge-Nya.ayat ke 6 tergambar dalam lapisan jiwa ke 5 (khofi)
    Ayat; 7
    صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمتَ عَلَيهِمْ غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ
    ”(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni`mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”
    Ayat ini mengisyaratkan pentingnya membaca sejarah umat-umat terdahulu dengan para nabi dan rasul-Nya.agar kita tahu siapa yang mendapat nikmat-Nya dan untuk kita jadikan figur, dan siapa yang mendapat murka dan tersesat jalan hidupnya, (orang-orang yang tidak percaya dan memusuhi para nabi dan rasulullaah).untuk dihindari pola hidup dan keagamaannya. Orang yang mendapat nikmat Allah, khususnya yang berupa iman dan amal sholeh, akan merasakan kenikmatan dan kebahagiaan hidup di dunia, berupa kebahagiaan (rasa tentram, damai, aman dan nyaman), sedangkan di akhirat ia amndapatkan kebahagian yang lebih hakiki dan abadi yang biasa disebut dengan jannah (taman surgawi). 
    Mereka  orang yang dimurkai oleh Allah dan tersesat jalan hidupnya,   jangan  diikuti jalan hidupnya, karena itu dimurkai oleh Allah swt. dan cara hidup ini yang sesat (tidak sampai kepada Allah), yang pada akhirnya akan mendapatkan adzab Allah di dunia berupa penderitaan hidup,mungkin sakit,celaka , kesempitan rizki dan lain-lain.Juga adzab di akhirat, berupa penderitaan hidup di alam ukhrowi yang sangat pedih dan sangat lama, yang biasa disebut dengan neraka.

    Tafsir Al Quran - Tafsir isyari akhlaqi praktis Surat Al-Fatihah

    Posted at  06.31  |  in  Tafsir isyari akhlaqi praktis Surat Al-Fatihah  |  Read More»


    Tafsir isyari akhlaqi praktis Surat Al-Fatihah
    Oleh:Kharisudin Aqib al-Faqir

    Muqaddimah


    Al-Qur’an Sebagai Petunjuk bagi Umat Manusia
    Sebagai petunjuk , al-qur’an dapat diibaratkan sebagai cermin bagi manusia.karena memang al-qur’an, manusia dan alam semesta merupakan kalamullah (firman Allah), dan sekaligus sebagai tajalliyatullaah (bayangan Allah).Ketiga materi makhluk (“ciptaan” Allah), merupakanshuuroturrohman (gambaran al-Rahman). Sehingga pada diri ketiganya kita dapat melihat;  ‘wajah ,tangan,kaki dan bahkan diri ’ al-Rahman.Begitu juga sebaliknya, manusia dapat melihat dirinya sendiri, pada alam dan pada al-Qur’an.
    Mus-haful qur’an (naskah kitab suci al-Qur’an), sebagai totalitas profil alam (word cosmos), atau alam yang berbentuk kata-kata, sebagaimana manusia yang merupakan microkosmos (alam kecil),memiliki bagian-bagian ; yang terdiri dari ; juz,surat,ruku’,ayat, kalimat dan huruf. (30 juz, 114 surat, ….. ruku’, 30 huruf hijaiyah dan  6666 ayat. Adalah gambaran tentang manusia dan juga alam semesta. Sehingga manusia itu hakekatnya (wujud dan berdirinya) berada di depan banyak cermin dan wujud diri yang sebenarnya, yaitu komunitas manusia, alam raya dan Allah swt sendiri.
    Oleh karena itu al-Qur’an sebagai hudan (petunjuk) untuk bersikap baik secara lahir maupun batin, bagi manusia. Khususnya sikap batin atau akhlak dan karakter.Baik sikap batin terhadap Allah, sesama manusia maupun kepada makhluk lain. Sikap batin yang harus dilakukan dan dibiasakan hingga bersifat reflektif tetapi edukatif dari inpirasi al-Qur’an adalah;
    1.     Sikap batin kepada Allah, manusia sebagai hamba dan kholifah-Nya.
    2.     Sikap batin kepada sesama manusia (sebagai kholifah maupun hamba Allah)
    3.     Sikap batin kepada alam semesta, termasuk flora dan fauna.

    Surat Al-Fatihah
    (Termasuk Surat Makkiyah juga Madaniyah, tujuh (7) ayat dan satu (1) ruku’).
    Redaksi:
    بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ ﴿١﴾ الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ﴿٢﴾ الرَّحْمـنِ الرَّحِيمِ ﴿٣﴾ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ ﴿٤﴾ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ﴿٥﴾ اهدِنَــــا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ ﴿٦﴾ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمتَ عَلَيهِمْ غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ ﴿٧﴾
    A.Terjemah:
    001. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
    002. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam,
    003. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang,
    004. Yang menguasai hari pembalasan.
    005. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan
    006. Tunjukilah kami jalan yang lurus,
    007. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni`mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

    B. Sekilas Tentang Surat  Al-Fatihah
    Nama surat yang pertama dalam mushaf al-qur’an ini “al-fatihah”  yang berarti suatu pembuka. Surat al-fatihah ini adalah surat pertama yang diturunkan secara lengkap, surat al-fatihah harus dibaca di setiap roka’at dalam semua sholat (baik sholat wajib maupun solat sunnah), kata Nabi; Laa sholata  illaa bi faatihatil kitaab,(tidak ada sholat kecuali mesti harus dengan membaca al-fatihah).Sehingga al-Fatihah disebut sebagai as-sab’ul matsaani  (tujuh ayat yang diulang-ulang). Surat yang pendek ini bisa dijadikan sebagai do’a , ruqyah dan hadiah pahala (transfer energy spiritual untuk orang lain).
    Surat al-Fatihah bagi al-qur’an adalahbagai muqaddimahnya UUD 1945,  bagi program computer, bagai layar deskop…, sehingga dari surat al-fatihah ini terurai ke dalam ayat-ayat dalam semua surat yang ada sesudahnya, mulai surat al-baqarah sampai dengan surat an-nas.

    C. Isyarat-isyarat Penting dan penjelasan singkatnya.
    Surat al-Fatihah (pembukaan) diturunkan kepada kita , agar kita mau membuka diri dan selanjutnya mengukir diri (jiwa) kita dengan platform  muqaddimah al-qur’an ini. Sehingga  gambaran  wujud dan gambaran jiwa kita adalah surat pembuka al-qur’an ini.Oleh karena itu surat al-fatihah ini harus selalu dibaca minimal dalam  setiap roka’at  sholat seorang muslim, agar terjadi proses internalisasi  nilai-nilai surat ini ke dalam jiwa setiap muslim. Inilah isyarat paling pentingdari Surat Al-fatihah.
    Surat al-Fatihah terdiri dari tujuh (7) ayat, sebagaiisyarat  bahwa gambaran jiwa manusia yang berlapis-lapis sebagai isyarat dari Rasul “arruuhu junuudun mujannadah” (jiwa itu adalah pasukan yang berlapis-lapis). Jumlah ayat surat ini  sama persis  dengan jumlah lapisan diri (jiwa) manusia.Sehingga masing-masing ayat harus melekat, terukir atau tergambar dalam lapisan diri atau lapisan jiwa setiap muslim.
    Ayat 1, (karakter- rahman-rahim) harus tergambar dalam totalitas raga/ badan (qalab), sekaligus jiwa yang paling dalam (lapisan jiwa ke 6 sampai dengan ke 1).ayat 2, (karakter suka hal-hal yang baik, dan ingin yang terbaik dan suka memuji) tergambar dalam lapisan  jiwa 1 (nafs).
    Ayat 3, (karakter rahman-rahim)  tergambar secara khusus dalam lapisan jiwa ke 2 (qalb),Ayat ke 4, (karakter futuristik atau orientasi masa depan) harus  tergambar dalam lapisan jiwa ke 3 (ruh),Ayat ke 5, (karakter tauhid atau monoloyalitas) harus tergambar dalam lapisan jiwa ke 4 (sir),Ayat ke 6, (karakter perilaku lurus dan jujur) harus tergambar dalam lapisan jiwa ke 5 (khofi)Ayat ke 7, (karakter ekselen atau  unggul dan berbeda dengan yang lain) akan tergambar dalam lapisan jiwa ke 6 (akhfa).
    Ayat 1;
    بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
    “Atas nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”

    Ayat ini mengisyaratkan agar setiap mukmin memerankan diri sebagai wakil Allah (khalifatullah), dalam kehidupan di dunia ini, dengan senantiasa memakai sifat Allah (karakter) yang rahmaan dan rahiim, dalam semua sikap,kebijakan  dan perbuatannya. Rahman dalam arti kasih sayang secara material sedangkan rahiim dalam arti kasih sayang secara spiritual (lebih maknawi dan hakiki).
    Melakukan apa saja harus disertai I’tiqat (penghayatan)mempresentasikan sifat rahman dan rahiim Allah. Kita harus pandai-pandai mengatur, Kapan kita harus bersikap rahman, dan kapan harus bersikap rahim.Sikap rahman lebih merupakan presentasi dari sikap keibuan,sedangkan sikap rahim lebih merupakan sikap kebapakan. Ayat 1ini harus  tergambar dalam totalitas raga/ badan (qalab), sekaligus jiwa yang paling dalam (lapisan jiwa ke 6 sampai dengan ke 1).
    Isyarat lain yang juga harus ditangkap dari ini adalah kita sebagai hamba harus senantiasa mengagungkan asma Allah swt.

    Ayat ;2
    الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
    “Segala puji bagi Allah, Tuhan pemelihara semua  alam”
    Isyarat Allah dalam ayat ini adalah agar manusia tidak gila pujian. Karena pada dasarnya yang berhak mendapatkan pujian adalah Allah. Karena Allah lah yang mengatur segala kejadian di alam semesta ini, bukan diri kita.tetapi hendaknya kita juga harus menyadari bahwa pada dasarnya semua manusia suka dipuji karena sifat ketuhanan yagada pada diri manusia, maka pujilah orang lain agarmereka senang (idkholus surur ) termasuk akhlak mulia. Kembalikan pujian kepada Allah jika menerima pujian dari orang lain. ayat 2 tergambar dalam lapisan  jiwa 1 (nafs), sehingga pujian adalah sesuatu yang sangat berkesan dalam jiwa manusia.
    Ayat; 3
    الرَّحْمـنِ الرَّحِيمِ
    “Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”
    Ayat di atas mengisyaratkan, supaya kita memakai dua sifat ini,dan dengan dua sifat Allah inilah yang harus dominan dalam diri manusia sebagai khalifah-Nya. Dengan kearifan menerapkan kedua sifat inilah manusia akan sukses sebagai khalifatullah dan mendapatkan ridlo-Nya.  Allah memakai sifat rahman kepada semua hambanya (baik yang ta’at maupun yang duraka), tetapi memakai sifat rahiim hanya untuk hamba-Nya yang dikasihinya (yang ta’at kepada-Nya). Isyarat ayat ini agar manusia bersikap seperti diri-Nya. Kepada semua pihak kita harus ar rahmaan dan kepada orang yang  yang percaya atau ‘orang dalam’ kita harus ar rohiim.Seperti dicontohkan oleh rasulullah saw dalam bersikap terhadap para sahabat dan keluarganya. ).  Ayat 3 ini harus tergambar dalam lapisan jiwa ke 2 (qalb),maka hati kita haruskita penuhi dengan sifat rahmah  (kasih sayang), dengan menejemen kearifan, kapan harus rahman, (material) dan kapan harus rahiim (hakiki dan spiritual).

    Ayat ; 4
    مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
    “Yang menguasai hari agama ”.
    Ayat ini mengisyaratkan agar manusia mengingat hari agama (hari datangnya sesuatu yang dijanjikan oleh agama, ) yaitu hari kiamat atau hari kematian, agar dirinya menyadari sehebat apapun dia pasti mati dan tidak berdaya sama sekali, yang berdaya dan menguasai dirinya pada hari itu adalah hanya Allah saja. ayat ke 4 tergambar dalam lapisan jiwa ke 3 (ruh). Ruh kita harus terukir dengan kemahakuasaan Allah di hari kiamat, serta ketidak berdayaan kita sebagai manusia, pada sa’at itu nanti.

    Ayat; 5
    إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
    “ Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan”
    Isyarat yang dapat ditangkap dari ayat ini adalah, agar manusia itu menyembah dan memohon hanya kepada Allah, sebagai Tuhan Yang Maha Esa.Jangan sampai manusia itu terkecoh mentuhankan yang selain Allah dengan menggantungkan harapan dan penyembahan.Dengan memurnikan pengharapan dan penyembahan manusia akan memiliki kekuatan yang Maha dahsyat.ayat ke 5 tergambar dalam lapisan jiwa ke 4 (sir), jiwa kita yang tersembunyi ini harus terlukisi ikrar kepada Allah untuk senantiasa menjaga sikap dan prilaku kehambaan, seperti yang menjadi target penciptaan manusia dan jin oleh Allah swt.
    Ayat; 6
    اهدِنَــــا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ
    “Tunjukilah kami jalan yang lurus”
    Ayat ini mengisyaratkan bahwa, pada dasarnya manusia itu tidak mengetahui jalan yang lurus menuju kepada kebenaran (al-Haq atau Allah), kebenaran yang bisa dicapai oleh manusia melalui indra maupun akal manusia adalah kebenaran yang masih nisbi dan semu.Oleh karena itu seorang mukmin harus senantiasa memohon petunjuk dan bimbingan Allah swt untuk dapat mencapai shirotol mustaqiim.dan do’a ini sekaligus sebagai bentuk peribadatan yang sangat inti.ayat ke 6 tergambar dalam lapisan jiwa ke 5 (khofi).Di dalam jiwa yang paling dalam ini, kita harus senantiasa memohon petunjukAllah ke jalan hidup yang lurus menuju ridlo Allah dan surge-Nya.ayat ke 6 tergambar dalam lapisan jiwa ke 5 (khofi)
    Ayat; 7
    صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمتَ عَلَيهِمْ غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ
    ”(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni`mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”
    Ayat ini mengisyaratkan pentingnya membaca sejarah umat-umat terdahulu dengan para nabi dan rasul-Nya.agar kita tahu siapa yang mendapat nikmat-Nya dan untuk kita jadikan figur, dan siapa yang mendapat murka dan tersesat jalan hidupnya, (orang-orang yang tidak percaya dan memusuhi para nabi dan rasulullaah).untuk dihindari pola hidup dan keagamaannya. Orang yang mendapat nikmat Allah, khususnya yang berupa iman dan amal sholeh, akan merasakan kenikmatan dan kebahagiaan hidup di dunia, berupa kebahagiaan (rasa tentram, damai, aman dan nyaman), sedangkan di akhirat ia amndapatkan kebahagian yang lebih hakiki dan abadi yang biasa disebut dengan jannah (taman surgawi). 
    Mereka  orang yang dimurkai oleh Allah dan tersesat jalan hidupnya,   jangan  diikuti jalan hidupnya, karena itu dimurkai oleh Allah swt. dan cara hidup ini yang sesat (tidak sampai kepada Allah), yang pada akhirnya akan mendapatkan adzab Allah di dunia berupa penderitaan hidup,mungkin sakit,celaka , kesempitan rizki dan lain-lain.Juga adzab di akhirat, berupa penderitaan hidup di alam ukhrowi yang sangat pedih dan sangat lama, yang biasa disebut dengan neraka.

    0 komentar:

    Pendidikan Karakter dalam Al Fatihah

    Oleh : Dr. KH. Kharisudin Aqib, M. Ag
     
    Dengan membaca basmalah bismillahirrohmanirrohim kita akan mulai mengkaji dari surat yang pertama walaupun bukan pertama kali diturunkan, karena surat ini diturunkan pertama secara lengkap oleh Allah SWT kepada nabi Muhammad saw, tetapi untuk ayatnya yang pertama kali adalah surat al-‘Alaq dan yang kedua surat al-Mudatsir seperti yang telah kita ketahui. Al- Fatehah ini justru adalah yang ke-lima tetapi surat yang pertama kali diturunkan secara lengkap, karena memang al- Fatehah ini satu paket, satu kesatuan, bukan ayat yang terpisah-pisah. Bahkan al-Fatehah ini merupakan satu kesatuan dari pada al-Qur’an itu sendiri, sehingga al-Fatehah ini disebut dengan ummul kitabatau induknya al-Qur’an, ibunya al-Qur’an.
         Di dalam surat al-Fatehah ini tercermin, terpancar dan teruraikan pola kehidupan yang harus kita tiru dengan selengkap-lengkapnya, dan al-Fatehah kalau di balik merupakan rangkuman dari pada seluruh isi al-Qur’an, sehingga ayat atau surat ini adalah surat yang paling lengkap walaupun bentuknya global. Surat ini juga terurai secara keseluruhan di dalam satu kitab suci al-Qur’an, memang kelihatannya sederhana tapi inipun juga dicontoh para pejuang, para perintis bangsa kita BPUPKI yang menyusun Undang-Undang Dasar Republik Indonesia dengan dicontohkannya surat al-Fatehah ini pada undang-undang disebut dengan pembukaan undang-undang dasar 1945, isinya juga terurai di dalam seluruh pasal-pasal yang ada di dalam batang tubuh dan penjelasan serta penutup di dalam undang-undang itu.
         Para ulama’ dan para perintis bangsa Indonesia ini sungguh luar biasa dan itulah Ulul Albab yang sesungguhnya, oleh karenanya itu juga yang mengilhami kami dan anda sekalian kalau mau menyusun atau merancang sesuatu  atau membuat sesuatu harus seperti al-Qur’an dan seperti al-Fatehah.  Artinya harus ada al-Fatehah nya dalam arti pembukaannya, jadi jangan ada apa-apa langsung saja, itu namanya tidak kronologis. Maka kita terilhami bahwa menyusun sesuatu harus secara kronologis dan tertib seperti halnya al-Qur’an yang disusun dan surat al-Fatehah tersusun jadi lengkap mulai dari pembukaannya (muqoddimahnya) dan penutupnya juga al-Qur’an. Selain itu dalam al-Qur’an yang merupakan inti penutupnya namanya adalah surat an-Naas, karena memang ujung-ujungnya adalah manusia, kalau di barat namanya humanismeyaitu filsafat tentang manusia adalah segalanya tapi mereka lupa dan tidak tercapai karena tidak melalui wahyu hanya melalui akal, maka mereka hanya mencapai surat an-naas nya saja. Padahal di dalam surat an-Naas ada transendalisme, ada keterikatan dengan Allah SWT, itulah yang membedakan humanisme yang barangkali kalian akan kenal dengan al-Islam yaitu yang seperti humanisme dimana intinya an-Naas yangtransedental tetapi insan yaitu kemanusiaan yang berdasar pada ketuhanan yang Maha Esa seperti pancasila pada negara kita ini, luar biasa.
         Surat al-Fatehah ini ada 7 (tujuh) ayat mencerminkan dari pada 7 lapis langit dan 7 lapis ciri atau jiwa manusia, sehingga al-Qur’an ini betul-betul mencerminkan an-Naas (manusia) dan karakter-karakter semuanya adalah merupakan gambaran dari pada manusia. Surat al-Fatehah ini sering keliru, al-Fatehah ini biasa disebut dengan assab’ul matsa’i yang artinya tujuh yang diulang-ulang, tujuh yang mirip-mirip. Karena surat al-Fatehah adalah surat yang  diulang-ulang wajib dibaca setiap sholat, laa sholata illa bifatihatil kitab tidak ada sholat yang sah kalau tidak ada surat al-Fatehahnya, hanya teknisnya saja mungkin ketika membaca ada yang berpendapat bahwa cukup yang membaca fatehah  imamnya saja ketika bersuara, ada yang berpendapat harus membaca lagi, dan itu biasa terjadi dalam pemahaman agama kita.
         Tujuh itu mulai dari mana?, apakah mulai dari basmalah atau alhamdulillah, para ulama’ kita yang masyhur yang banyak adalah dengan alhamdulillah tetapi imam madzhab kita yaitu Imam Syafi’i memakainya dengan basmillah  sebagai bagian dari pada s al-Fatehah, tetapi jumlahnya sama yaitu tujuh dan membacanya juga sama. Hanya saja saudara-saudara kita yang selain dari madzhab Syafi’imembacakan surat al-Fatehahnya dengan tidak bersuara keras, dan dibedakan antara bagian dari pada al-Fatehah dengan yang tidak al-Fatehah, sehingga kalau dengar di masyarakat ada yang langsung alhamdulillahirobbil’alaminitu adalah imam-iamam selain madzhab Imam Syafi’i, dan itu sah-sah saja sebagai bagian dari pada al-Qur’an walaupun bukan al-Fatehah.
         Kita pakai itu yaitu tujuh yang diulang-ulang karena pengulangan ini sangat bagus untuk kita, kita ulang-ulang surat al-Fatehah sebanyak-banyaknya, kita wiridkan al-Fatehah, dengan kita wiridkan terus al-Fatehah ini akan menjadi karakter diri kita. Karakter yang luar adalah basmalahdan itu merupakan password. Dan di dalam diri tercermin nampak  sifat rohman, karena kita sebagai wakil Allah SWT yang rohman rohim wujud kita rohmahbukan wujud kita galak, menakutkan tetapi wujud kita adalah yang santun, simpatik, dan empatik, itu adalah perwujudan dari pada sifat rohmah. Usahakanlah kita belajar penampilan kita yang simpatik dan impatik sebagai gambaran dari pada bismillahirrohmanirrohimdalam pembawaan diri kita, di mana saja kita harus rohmah.
         Sab’ul matsani ini juga sangat bagus untuk dipakai, selain mencerminkan dan mempengaruhi pribadi kita menjadi seperti surat al-Fatehah dalam lapisan jiwa sampai yang paling dalam, surat al-Fatehah ini juga sangat bagus untuk energi spiritual, kerohanian, karena surat al-Fatehah ini kata Nabi saw surotul fatehah lima quria lahu(surat fatehah ini untuk dibaca apa saja), boleh. Sehingga kalau kalian kirim energi kirim kekuatan do’a pakailah fatehah kepada semua yang kita sayangi dan yang kita cintai, orang tua kita, baik sudah meninggal maupun yang masih hidup, guru-guru kita baik yang sudah meninggal maupun masih hidup, teman-teman kita, saudara-saudara kita  yang lain, sering-seringlah kita beri energi fatehah.
          Al-Fatehah adalah surat yang paling banyak kita baca, maka telah menjadi bagian dari pada diri kita, energinya paling kuat, seperti pengalaman para sahabat.Surat al-Fatehah ini bisa dipakai untuk merukyah, yaitu terapi baik penyakit fisik maupun penyakit ruhani atau spiritual, sehingga para sahabat mencoba ada orang kesengat kalajengking kemudian bingung diapakan-diapakan,  akhirnya diterapi atau dirukyah dengan surat al-Fatehah sembuh akhirnya dapat hadiah, dan kemudian ditanyakan kepada rosulullah saw “Ya rosulullah...bagaimana ini ya rosulullah, kami ‘nyuwuk’ (berdoa) dengan fatehah dikasih hadiah kambing, boleh tidak  ya rosulullah ini kami terima” rosulullah saw menjawab “ Boleh”.tapi aku dikasih bagian yaa,.  Sehingga kita juga bisa menggunakan al-Fatehah sebagai terapi untuk apa saja. Termasuk Bapak-ibu guru semua menterapi santri-santrinya murid-muridnya atau juga putera-puterinya dengan al-Fatehah, agar tidak terlalu besar tanggung jawab atau tugas pengasuh, maka setiap guru juga harus sering-sering membacakan fatehah untuk terapi penyakit spiritualnya para muridnya, penyakit ruhaniyyahnya yang namanya akhlak yang tidak bagus dan juga kenakalan-kenakalan nya.
         Surat al-Fatehah ini sangat penting untuk selalu kita baca dan kita wiridkan sebagai tadh’iful hasanat, tadl’iful quwwat (memperbanyak kebaikan dan energi) dengan fatehah yang untuk kita lakukan.
    Apa akhlak yang bisa kita ambil dari  dari adanya surat al-Fatihah ini? Adalah  kita membiasakan berfikir kronologis dan berfikir yang tertib, setiap sesuatu ada fatehahnya dan di dalam fatehah itu pembukaannya terdiri dari apa lihat di dalam artinya surat fatehah. Tertib kronologis dalam berkata, dalam menyampaikan sesuatu, tertib dan kronologis dalam mengatur sesuatu, karena ketertiban yang terbiasakan itu nanti akan menjadi akhlak dan karakter dan akan menuntun orang  menjadi tertib ruhaninya.
    Berfikir tertib itu adalah sesuatu yang sangat penting dan itu sangat berat, biasanya kita banyak yang tidak tertib, bisa baik tapi sak enak e dewe (tetapi seenaknya sendiri), tidak kronologis tidak tertib  tidak bagus itu juga karena fatehahnya belummasuk betul di dalam dirinya, maka kita biasakan membaca fatehah sebanyak–banyaknya untuk tad’iful hasanat watadl’iful quwwat memperbanyak memperlibatkan kebaikan kita karena pahalanya banyak dan juga untuk melipatgandakan energi kita, serta menertibkan cara pikir kita.
    Pengalaman saya ketika ada sudara yang mursyid berpesan kepada saya,  yaitu Kiai Ali Hasyim dari Sumatera,  berkata “Kamu baca surat fatehah itu setiap malam 41 kalikarena kelak kamu akan menjadi dewa di sini”. Ini memang untuk tadl’iful hasanat watadl’iful quwwat, karena al-Fatehah adalah kesatuan dari pada al-Qur’an.       
    Dalam kajian surat al- fatehah  kita mulai dari hamdalah, yaitu;  alhamdulillahirobbil’alamin,
    الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
    Kalau basmalah merupakan pembuka dari semua surat,  sedangkan intinya atau mulainya surat al-Fatehah itu dengan hamdalah yang artinya adalah segala pujian adalah milik Tuhan Allah yang memelihara seluruh alam. Jadi semua alam; flora-fauna, alam biotik- abiotik, alam jin alam manusia, alamul ghoibi wal syahadah. Ada yang menyebutkan alam itu sampai delapan belas ribu alam, para ulama’ dulu yang ahli tahqiqmenganalisis dan juga membuktikan alam itu ada sampai 18.000 atau 17.000 alam, kita hanya menyebutkan bentuk luarnya saja yaitu ‘alamul ghoibi wa ‘alamul syahadah, alam ghoib alam metafisikadan alam fisika. Di luar kemampuan fisik namanya metafisika, dan alam fisika adalah alam yang bisa dicapai oleh fisik indrawi ini, semuanya dalam satu pengendalian Allah SWT, progamernya sekaligus operator pusatnya adalah Allah swt. sehingga kalau ada apa saja tidak usah rame-rame, temui saja progammernya dan operatornya, karena seluruh alam ini adalah robbun(programer dan operatornya adalah Allah swt,alhamdulillahirobbil’alaminsegala puji bagi Allah Tuhan yang memelihara semesta alam.
         Alhamdulillahirobbil’alamin ini mengilhami kita sekalian untuk berakhlak namanya akhlak mahmudah, kata hamdalah adalah akhlak terpuji. Jadi apa saja kita memiliki akhlak yang terpuji , menjadi hamba Allah kita punya akhlak yang terpuji dengan kita harus selalu menyampaikan pujian pada Allah SWT ‘ala kulli haalin, dalam posisi apa saja kita harus senantiasa mengucapkan alhamdulillahirobbil’alamin, karena semua pemilik pujian hakikatnya adalah Allah SWT, sehingga kita puji Allah swt dan terus memuji-NYA. Ini sifat yang dipuji oleh Allah SWT dan dipuji juga oleh manusia karena kita adalah manusia yang tawadhu’ tadhorru’ kepada Allah SWT selalu depe-depe kepada Allah SWT, semua pujian apa saja yang kita dapatkan kebaikan-kebaikan ini adalah hak-Nya Allah SWT, perbanyaklah kata alhamdulillahirobbil’alaminkarena itu sekaligus do’a. Karena Allah kalau dipuji pasti malu kalau tidak memberikan sesuatu kepada orang yang memujinya sekaligus, sehingga dia (hamdalah)afdholu du’a alhamdulillahkenapa disebut afdholu du’akarenatadi setiap Allah SWT dipuji itu akan terkesima dan malu kalau tidak memberikan kebutuhan kita, sehingga kita harus selalu alhamdulillahirobbil’alaminnanti Allah terus tambah itu, karena kata Allah lain syakartum la aziidannakum walain kafartum inna ‘adzaabi lasyadiid  kalau orang tidak pernah alhamdulillahitu semakin disiksa sama Allah SWT walaupun kelihatannya semakin kaya, tapi dia akan semakin tersiksa batinnya karena akan ada ujian-ujian yang banyak dari Allah SWT,  sehingga kita harus alhamdulillahirobbil’alamin yang banyak.
         Diantara alhamdulillah pujian-pujian pada Allah ketika kita menjadi hamba ini, sebagai kholifahnya maka kita harus memiliki sifat ynag terpuji seperti sifat-sifatnya Allah SWT, kita harus rohman kita harus rohim kita harus quddus kita harus salam, kita harus muhaimin kita harus wahhab semua kita miliki sehingga kita betul-betul terpuji namanya akhlak yang terpuji itu akhlakul mahmudah. Semua akhlaknyaAllah yang diberikan kepada kita, jika kita ingin dibaiki Allah atau dibaiki orang lain, maka kita berbaiklah seperti Allah berbaik kepada kita, baikilah orang lain dengan berbuat baik kepada siapa saja, coba direnungkan Allah telah baik kepada kita. Semuayang kita miliki adalah dengan kebaikan Allah, tanpa kebaikan Allah  kita tidak bisa apa-apa, tidak mengerti apa-apa, kita bukan apa-apa semuanya karenakebaikan Allah SWT pada diri kita. Coba lihat proses diri kita, kita review  kebelakang kejadian kita, sehebat apa kita, atau selemah apa kita kira-kira kalau kita ini tidak dibantu oleh Allah SWT.Orang tua kita diberi kesayangan pada kita, kita tidak bisa seperti binatang-binatang yang bisa mencari makan sendiri, membersihkan diri sendiri, apa-apa tidak bisa pasti “bosok”( busuk) betul, begitu pula tanpa guru-guru kita ruhani kita busuk karena kita akan lebih jelek dari binatang. Coba kalau tidak ada yang mengajari mandi, kita tidak akan mandi kita tidak pernah ‘raup’ (cuci muka) kita ndak pernah sikatan,  bayangkan kalau sekarang kita tidak pernah melakukan semua itu, kita bakalan lebih jelek dari pada monyet dan lebih bau dari pada monyet na’udzubillahimindzalik.
         Kita harus bersyukur kepada Allah SWT,  karena Dia telah mendesign alam sayang kepada kita tetapi kita juga harus bersyukur juga kita harus puji orang-orang yang menjadi wakil Allah yang memelihara kita telah memberikan jasa kepada kita karena mereka mewakili Allah melakukan kebaikan pada kita, kata nabi “Tidak ada syukur bagi orang yang tidak bersyukur kepada manusia man lam yasykurinnas lam yasykurillah tidak dianggap bersyukur orang yang tidak bisa bersyukur kepada manusia”, karena manusia adalah kholifatullah wakilnya Allah yang bisa melaksankan kebaikan kepada kita dari Allah, maka kita harus terpuji, memiliki sifat terpuji dan akhlak terpuji kita juga harus suka memuji karena semua adalah wakil Allah. Jangan pelit-pelit terhadap pujian. Kita harus mengedepankan akhlak mahmudah ini,  dengan senantiasa memuji Allah SWT juga memuji kepada wakil-wakil Allah SWT dan juga kita sendiri memiliki sifat-sifat yang terpuji seperti sifat-sifat yang dimiliki Allah SWT. Amin.

    Kajian Nilai-nilai Al Quran - Pendidikan Karakter dalam Al Fatihah

    Posted at  06.15  |  in  pondok pesantren  |  Read More»

    Pendidikan Karakter dalam Al Fatihah

    Oleh : Dr. KH. Kharisudin Aqib, M. Ag
     
    Dengan membaca basmalah bismillahirrohmanirrohim kita akan mulai mengkaji dari surat yang pertama walaupun bukan pertama kali diturunkan, karena surat ini diturunkan pertama secara lengkap oleh Allah SWT kepada nabi Muhammad saw, tetapi untuk ayatnya yang pertama kali adalah surat al-‘Alaq dan yang kedua surat al-Mudatsir seperti yang telah kita ketahui. Al- Fatehah ini justru adalah yang ke-lima tetapi surat yang pertama kali diturunkan secara lengkap, karena memang al- Fatehah ini satu paket, satu kesatuan, bukan ayat yang terpisah-pisah. Bahkan al-Fatehah ini merupakan satu kesatuan dari pada al-Qur’an itu sendiri, sehingga al-Fatehah ini disebut dengan ummul kitabatau induknya al-Qur’an, ibunya al-Qur’an.
         Di dalam surat al-Fatehah ini tercermin, terpancar dan teruraikan pola kehidupan yang harus kita tiru dengan selengkap-lengkapnya, dan al-Fatehah kalau di balik merupakan rangkuman dari pada seluruh isi al-Qur’an, sehingga ayat atau surat ini adalah surat yang paling lengkap walaupun bentuknya global. Surat ini juga terurai secara keseluruhan di dalam satu kitab suci al-Qur’an, memang kelihatannya sederhana tapi inipun juga dicontoh para pejuang, para perintis bangsa kita BPUPKI yang menyusun Undang-Undang Dasar Republik Indonesia dengan dicontohkannya surat al-Fatehah ini pada undang-undang disebut dengan pembukaan undang-undang dasar 1945, isinya juga terurai di dalam seluruh pasal-pasal yang ada di dalam batang tubuh dan penjelasan serta penutup di dalam undang-undang itu.
         Para ulama’ dan para perintis bangsa Indonesia ini sungguh luar biasa dan itulah Ulul Albab yang sesungguhnya, oleh karenanya itu juga yang mengilhami kami dan anda sekalian kalau mau menyusun atau merancang sesuatu  atau membuat sesuatu harus seperti al-Qur’an dan seperti al-Fatehah.  Artinya harus ada al-Fatehah nya dalam arti pembukaannya, jadi jangan ada apa-apa langsung saja, itu namanya tidak kronologis. Maka kita terilhami bahwa menyusun sesuatu harus secara kronologis dan tertib seperti halnya al-Qur’an yang disusun dan surat al-Fatehah tersusun jadi lengkap mulai dari pembukaannya (muqoddimahnya) dan penutupnya juga al-Qur’an. Selain itu dalam al-Qur’an yang merupakan inti penutupnya namanya adalah surat an-Naas, karena memang ujung-ujungnya adalah manusia, kalau di barat namanya humanismeyaitu filsafat tentang manusia adalah segalanya tapi mereka lupa dan tidak tercapai karena tidak melalui wahyu hanya melalui akal, maka mereka hanya mencapai surat an-naas nya saja. Padahal di dalam surat an-Naas ada transendalisme, ada keterikatan dengan Allah SWT, itulah yang membedakan humanisme yang barangkali kalian akan kenal dengan al-Islam yaitu yang seperti humanisme dimana intinya an-Naas yangtransedental tetapi insan yaitu kemanusiaan yang berdasar pada ketuhanan yang Maha Esa seperti pancasila pada negara kita ini, luar biasa.
         Surat al-Fatehah ini ada 7 (tujuh) ayat mencerminkan dari pada 7 lapis langit dan 7 lapis ciri atau jiwa manusia, sehingga al-Qur’an ini betul-betul mencerminkan an-Naas (manusia) dan karakter-karakter semuanya adalah merupakan gambaran dari pada manusia. Surat al-Fatehah ini sering keliru, al-Fatehah ini biasa disebut dengan assab’ul matsa’i yang artinya tujuh yang diulang-ulang, tujuh yang mirip-mirip. Karena surat al-Fatehah adalah surat yang  diulang-ulang wajib dibaca setiap sholat, laa sholata illa bifatihatil kitab tidak ada sholat yang sah kalau tidak ada surat al-Fatehahnya, hanya teknisnya saja mungkin ketika membaca ada yang berpendapat bahwa cukup yang membaca fatehah  imamnya saja ketika bersuara, ada yang berpendapat harus membaca lagi, dan itu biasa terjadi dalam pemahaman agama kita.
         Tujuh itu mulai dari mana?, apakah mulai dari basmalah atau alhamdulillah, para ulama’ kita yang masyhur yang banyak adalah dengan alhamdulillah tetapi imam madzhab kita yaitu Imam Syafi’i memakainya dengan basmillah  sebagai bagian dari pada s al-Fatehah, tetapi jumlahnya sama yaitu tujuh dan membacanya juga sama. Hanya saja saudara-saudara kita yang selain dari madzhab Syafi’imembacakan surat al-Fatehahnya dengan tidak bersuara keras, dan dibedakan antara bagian dari pada al-Fatehah dengan yang tidak al-Fatehah, sehingga kalau dengar di masyarakat ada yang langsung alhamdulillahirobbil’alaminitu adalah imam-iamam selain madzhab Imam Syafi’i, dan itu sah-sah saja sebagai bagian dari pada al-Qur’an walaupun bukan al-Fatehah.
         Kita pakai itu yaitu tujuh yang diulang-ulang karena pengulangan ini sangat bagus untuk kita, kita ulang-ulang surat al-Fatehah sebanyak-banyaknya, kita wiridkan al-Fatehah, dengan kita wiridkan terus al-Fatehah ini akan menjadi karakter diri kita. Karakter yang luar adalah basmalahdan itu merupakan password. Dan di dalam diri tercermin nampak  sifat rohman, karena kita sebagai wakil Allah SWT yang rohman rohim wujud kita rohmahbukan wujud kita galak, menakutkan tetapi wujud kita adalah yang santun, simpatik, dan empatik, itu adalah perwujudan dari pada sifat rohmah. Usahakanlah kita belajar penampilan kita yang simpatik dan impatik sebagai gambaran dari pada bismillahirrohmanirrohimdalam pembawaan diri kita, di mana saja kita harus rohmah.
         Sab’ul matsani ini juga sangat bagus untuk dipakai, selain mencerminkan dan mempengaruhi pribadi kita menjadi seperti surat al-Fatehah dalam lapisan jiwa sampai yang paling dalam, surat al-Fatehah ini juga sangat bagus untuk energi spiritual, kerohanian, karena surat al-Fatehah ini kata Nabi saw surotul fatehah lima quria lahu(surat fatehah ini untuk dibaca apa saja), boleh. Sehingga kalau kalian kirim energi kirim kekuatan do’a pakailah fatehah kepada semua yang kita sayangi dan yang kita cintai, orang tua kita, baik sudah meninggal maupun yang masih hidup, guru-guru kita baik yang sudah meninggal maupun masih hidup, teman-teman kita, saudara-saudara kita  yang lain, sering-seringlah kita beri energi fatehah.
          Al-Fatehah adalah surat yang paling banyak kita baca, maka telah menjadi bagian dari pada diri kita, energinya paling kuat, seperti pengalaman para sahabat.Surat al-Fatehah ini bisa dipakai untuk merukyah, yaitu terapi baik penyakit fisik maupun penyakit ruhani atau spiritual, sehingga para sahabat mencoba ada orang kesengat kalajengking kemudian bingung diapakan-diapakan,  akhirnya diterapi atau dirukyah dengan surat al-Fatehah sembuh akhirnya dapat hadiah, dan kemudian ditanyakan kepada rosulullah saw “Ya rosulullah...bagaimana ini ya rosulullah, kami ‘nyuwuk’ (berdoa) dengan fatehah dikasih hadiah kambing, boleh tidak  ya rosulullah ini kami terima” rosulullah saw menjawab “ Boleh”.tapi aku dikasih bagian yaa,.  Sehingga kita juga bisa menggunakan al-Fatehah sebagai terapi untuk apa saja. Termasuk Bapak-ibu guru semua menterapi santri-santrinya murid-muridnya atau juga putera-puterinya dengan al-Fatehah, agar tidak terlalu besar tanggung jawab atau tugas pengasuh, maka setiap guru juga harus sering-sering membacakan fatehah untuk terapi penyakit spiritualnya para muridnya, penyakit ruhaniyyahnya yang namanya akhlak yang tidak bagus dan juga kenakalan-kenakalan nya.
         Surat al-Fatehah ini sangat penting untuk selalu kita baca dan kita wiridkan sebagai tadh’iful hasanat, tadl’iful quwwat (memperbanyak kebaikan dan energi) dengan fatehah yang untuk kita lakukan.
    Apa akhlak yang bisa kita ambil dari  dari adanya surat al-Fatihah ini? Adalah  kita membiasakan berfikir kronologis dan berfikir yang tertib, setiap sesuatu ada fatehahnya dan di dalam fatehah itu pembukaannya terdiri dari apa lihat di dalam artinya surat fatehah. Tertib kronologis dalam berkata, dalam menyampaikan sesuatu, tertib dan kronologis dalam mengatur sesuatu, karena ketertiban yang terbiasakan itu nanti akan menjadi akhlak dan karakter dan akan menuntun orang  menjadi tertib ruhaninya.
    Berfikir tertib itu adalah sesuatu yang sangat penting dan itu sangat berat, biasanya kita banyak yang tidak tertib, bisa baik tapi sak enak e dewe (tetapi seenaknya sendiri), tidak kronologis tidak tertib  tidak bagus itu juga karena fatehahnya belummasuk betul di dalam dirinya, maka kita biasakan membaca fatehah sebanyak–banyaknya untuk tad’iful hasanat watadl’iful quwwat memperbanyak memperlibatkan kebaikan kita karena pahalanya banyak dan juga untuk melipatgandakan energi kita, serta menertibkan cara pikir kita.
    Pengalaman saya ketika ada sudara yang mursyid berpesan kepada saya,  yaitu Kiai Ali Hasyim dari Sumatera,  berkata “Kamu baca surat fatehah itu setiap malam 41 kalikarena kelak kamu akan menjadi dewa di sini”. Ini memang untuk tadl’iful hasanat watadl’iful quwwat, karena al-Fatehah adalah kesatuan dari pada al-Qur’an.       
    Dalam kajian surat al- fatehah  kita mulai dari hamdalah, yaitu;  alhamdulillahirobbil’alamin,
    الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
    Kalau basmalah merupakan pembuka dari semua surat,  sedangkan intinya atau mulainya surat al-Fatehah itu dengan hamdalah yang artinya adalah segala pujian adalah milik Tuhan Allah yang memelihara seluruh alam. Jadi semua alam; flora-fauna, alam biotik- abiotik, alam jin alam manusia, alamul ghoibi wal syahadah. Ada yang menyebutkan alam itu sampai delapan belas ribu alam, para ulama’ dulu yang ahli tahqiqmenganalisis dan juga membuktikan alam itu ada sampai 18.000 atau 17.000 alam, kita hanya menyebutkan bentuk luarnya saja yaitu ‘alamul ghoibi wa ‘alamul syahadah, alam ghoib alam metafisikadan alam fisika. Di luar kemampuan fisik namanya metafisika, dan alam fisika adalah alam yang bisa dicapai oleh fisik indrawi ini, semuanya dalam satu pengendalian Allah SWT, progamernya sekaligus operator pusatnya adalah Allah swt. sehingga kalau ada apa saja tidak usah rame-rame, temui saja progammernya dan operatornya, karena seluruh alam ini adalah robbun(programer dan operatornya adalah Allah swt,alhamdulillahirobbil’alaminsegala puji bagi Allah Tuhan yang memelihara semesta alam.
         Alhamdulillahirobbil’alamin ini mengilhami kita sekalian untuk berakhlak namanya akhlak mahmudah, kata hamdalah adalah akhlak terpuji. Jadi apa saja kita memiliki akhlak yang terpuji , menjadi hamba Allah kita punya akhlak yang terpuji dengan kita harus selalu menyampaikan pujian pada Allah SWT ‘ala kulli haalin, dalam posisi apa saja kita harus senantiasa mengucapkan alhamdulillahirobbil’alamin, karena semua pemilik pujian hakikatnya adalah Allah SWT, sehingga kita puji Allah swt dan terus memuji-NYA. Ini sifat yang dipuji oleh Allah SWT dan dipuji juga oleh manusia karena kita adalah manusia yang tawadhu’ tadhorru’ kepada Allah SWT selalu depe-depe kepada Allah SWT, semua pujian apa saja yang kita dapatkan kebaikan-kebaikan ini adalah hak-Nya Allah SWT, perbanyaklah kata alhamdulillahirobbil’alaminkarena itu sekaligus do’a. Karena Allah kalau dipuji pasti malu kalau tidak memberikan sesuatu kepada orang yang memujinya sekaligus, sehingga dia (hamdalah)afdholu du’a alhamdulillahkenapa disebut afdholu du’akarenatadi setiap Allah SWT dipuji itu akan terkesima dan malu kalau tidak memberikan kebutuhan kita, sehingga kita harus selalu alhamdulillahirobbil’alaminnanti Allah terus tambah itu, karena kata Allah lain syakartum la aziidannakum walain kafartum inna ‘adzaabi lasyadiid  kalau orang tidak pernah alhamdulillahitu semakin disiksa sama Allah SWT walaupun kelihatannya semakin kaya, tapi dia akan semakin tersiksa batinnya karena akan ada ujian-ujian yang banyak dari Allah SWT,  sehingga kita harus alhamdulillahirobbil’alamin yang banyak.
         Diantara alhamdulillah pujian-pujian pada Allah ketika kita menjadi hamba ini, sebagai kholifahnya maka kita harus memiliki sifat ynag terpuji seperti sifat-sifatnya Allah SWT, kita harus rohman kita harus rohim kita harus quddus kita harus salam, kita harus muhaimin kita harus wahhab semua kita miliki sehingga kita betul-betul terpuji namanya akhlak yang terpuji itu akhlakul mahmudah. Semua akhlaknyaAllah yang diberikan kepada kita, jika kita ingin dibaiki Allah atau dibaiki orang lain, maka kita berbaiklah seperti Allah berbaik kepada kita, baikilah orang lain dengan berbuat baik kepada siapa saja, coba direnungkan Allah telah baik kepada kita. Semuayang kita miliki adalah dengan kebaikan Allah, tanpa kebaikan Allah  kita tidak bisa apa-apa, tidak mengerti apa-apa, kita bukan apa-apa semuanya karenakebaikan Allah SWT pada diri kita. Coba lihat proses diri kita, kita review  kebelakang kejadian kita, sehebat apa kita, atau selemah apa kita kira-kira kalau kita ini tidak dibantu oleh Allah SWT.Orang tua kita diberi kesayangan pada kita, kita tidak bisa seperti binatang-binatang yang bisa mencari makan sendiri, membersihkan diri sendiri, apa-apa tidak bisa pasti “bosok”( busuk) betul, begitu pula tanpa guru-guru kita ruhani kita busuk karena kita akan lebih jelek dari binatang. Coba kalau tidak ada yang mengajari mandi, kita tidak akan mandi kita tidak pernah ‘raup’ (cuci muka) kita ndak pernah sikatan,  bayangkan kalau sekarang kita tidak pernah melakukan semua itu, kita bakalan lebih jelek dari pada monyet dan lebih bau dari pada monyet na’udzubillahimindzalik.
         Kita harus bersyukur kepada Allah SWT,  karena Dia telah mendesign alam sayang kepada kita tetapi kita juga harus bersyukur juga kita harus puji orang-orang yang menjadi wakil Allah yang memelihara kita telah memberikan jasa kepada kita karena mereka mewakili Allah melakukan kebaikan pada kita, kata nabi “Tidak ada syukur bagi orang yang tidak bersyukur kepada manusia man lam yasykurinnas lam yasykurillah tidak dianggap bersyukur orang yang tidak bisa bersyukur kepada manusia”, karena manusia adalah kholifatullah wakilnya Allah yang bisa melaksankan kebaikan kepada kita dari Allah, maka kita harus terpuji, memiliki sifat terpuji dan akhlak terpuji kita juga harus suka memuji karena semua adalah wakil Allah. Jangan pelit-pelit terhadap pujian. Kita harus mengedepankan akhlak mahmudah ini,  dengan senantiasa memuji Allah SWT juga memuji kepada wakil-wakil Allah SWT dan juga kita sendiri memiliki sifat-sifat yang terpuji seperti sifat-sifat yang dimiliki Allah SWT. Amin.

    0 komentar:


    Berlindung Kepada Allah
     Menifestasinya dalam Kehidupan
    (Bagian 2)
    Oleh : Dr. KH. Kharisudin Aqib, M. Ag

    Saudara-saudara sekalian, bapak/ibu guru, ustadz-ustadzah, tenaga pendidik dan kependidikan, Yayasan Pondok Pesantren  Daru Ulil Albab, dan anak-anak  siswa-santri,  yang saya sayangi dan saya  banggakan.
    Perintah ta’awudz atau berlindung kepada Allah sebelum membaca al-Qur’an, mungkin menjadi pertanyaan bagi kita. kenapa Allah SWT mengutamakan itu, jadi yang pertama adalah ta’awudz kok bukan membaca basmalah? Artinya basmalah dinomor duakan dari pada  ta’awudz. Ternyata, karena dari situlah muncul konsep-konsep atau aturan-aturan manusia, aturan agama yang namanya tadhorru’, hurmat wa ta’dhim dan tawadhu’(sesuatu yang sangat urgen dalam kehidupan bermasyarakat), supaya kita depe-depe dengan sangat serius dan dengan keterikatan hati, supaya kita senantiasa  tadhorru’ kepada Allah SWT.
    Hurmat dan Ta’dhim adalah menghinakan diri kita atau merendahkan diri kita dihadapan asma Allah yang Maha Agung. Dan  dimana saja kita selalu menyebut asma Allah, mensyi’arkan nama Allah, nabi, ulama’, masjid, al-Qur’an dalam lain-lain syimbul-simbul keberadaan Allah,adalah dalam rangka hurmat dan ta’dhim kepada Allah SWT. Kalau Ta’dhim kita mengagungkan asma Allah SWT dimana saja, itu merupakan bentuk ta’awudz pada Allah SWT dimana kita sebagai hamba.
    Ketika kita sebagai kholifatullah  (wakil Allah), kita lebih banyak melakukan yang namanya tawadhu’ dihadapan sesama kholifah yang lain maka kita tidak boleh menghinakan satu sama lainnya apapun statusnya. Ada kholifah di bidang konsumsi, tambal ban itu adalah wakilnya Allah juga,  untuk meratakan rahmatnya di dunia ini sebatas porsinya masing-masing tidak seperti menghormati kholifah yang lebih tinggi seperti raja, pak lurah, pak RT, sehingga kita tawadhu’, apalagi kepada teman, sangat penting untuk mengutamakan dia dari pada kita sendiri, terlebih-lebih kepada guru-guru kita yang sangat berjasa kepada kita dan lebih tinggi dari kita,  maka kita harus hurmat dan  ta’dhim, sementara terhadap yang setara dengan kita menurut strata sosialnya, kita melakukan tawadhu’ dan menomorduakan diri kita. Itulah tawadhu’ dalam bentuk kehidupan sehari-hari.
    Mungkin nanti bagi yang akan out bound, atau akan pergi kemana saja, maka bentuk tawadhu’ nya adalah mengghormati atau laporan, minta izin kepada yang  punya kuasa, seperti misalnya di hutan ada polisi hutan, kita hurmati dia, kita menghadap bag dengan bagus, kita lapor, karena dia adalah kholifatullahdi situ.
    Dulu orang Hindu- Budha  atau orang primitif , belum mengenal Islam, maka mereka izinnya kepada danyang-danyang“mbah dayang kulo izin badhe nginep sedinten sedalu teng alas mriki“ . Karena memang belum ada kholifahnyadi situ. Sekarang zaman Islam sudah ada kholifah termasuk di hutan sudah ada kholifahnya namanya kholifah fil ghobah ,maka izinlah, bila ada karcis, belilah, ikuti aturan yang bagus maka kita akan dilindunginya bahkan diansuransikan.
    Sedangkan di tempat-tempat lain yang belum ada kolifahnya  cara islam bukan tawadhu’ kepada para danyang, karena mereka adalah jin-jin yang juga rakyat kita, juga termasuk makhluk kita, kita adalah kholifahnya, sehingga izinnya kepada Allah SWT langsung, atau sekedar etika saja, maka caranya begini
    Allhummarzuqnaa khoiro hadzalmakaan wa khoiroo maa fiihi minal jinni wal insii wasyyayaathiin wa na’udzubika minsyarri hadzalmakaan wa min syarri maa fiihi minal jinni wal insii wasyyayaathiin birohmatika yaa arhamarrohimiin
    “Ya Allah kami memohon anugrah kepada-Mu atas kebaikannya tempat ini  dan apa saja yang ada di dalamnya baik dari jin, manusia, maupun syaiton, dan aku berlindung kepada-Mu dari buruknya tempat ini, dan apa sajayang di dalamnya, baik   dari jin, manusia, maupun syaiton karena rahmat-Mu wahai Dzat Yang Maha Penyayang “.
    Dalam berdo’a dengan do’a diatas, kadang yang kita dulukan  jin kadang  manusia, apa yang terlintas di benakmu itulah yang paling sensitif dan itu adalah yang kita mintakan perlindungan Allah. Bentuk ta’awudzatau mohon perlindungan kepada Allah SWT kepada yang nampak maupun tidak nampak.
    Tapi juga begitu , jika kita sebagai kholifah tugasnya adalah melindungi dan memberikan rasa aman, semakin tinggi tingkat kekholifahanseseorang, semakin besar tanggungjawabnya,tanggung jawab  untuk mengayomi, melindungi dan memberikan rasa aman. sehingga semakin tinggi jabataan seseorang, semakin terhormat dan mulia, karena dia mewakili Allah SWT dengan wilayah otoritasyang semakin luas.
    Karya, penghormatan atau jabatan struktural kekholifahan atau kepemimpinan  tidak seperti kerja fisik, berbeda pula dengan jabatan fungsional, gaji fungsional berdasarkan kemanfa’atannya. Penghormatan atau honor itu pada  hakikatnya ada tiga,  yaitu honor kerja fisikal, honor kerja intelektual, dan honor kerja spiritual.
    Artinya honor kerja fisikal,  yaitu honornya para kuli dan nilainya paling rendah, selanjutnya honor kerja intelektual adalah konsep-konsep ilmu, pengajaran dan nilainya lebih tinggi dari fisikal dan yang ketiga honor kerja spiritual yaitu design-design ilmu yang namanya karya seni, maka jadilah kalian menjadi para seniman agama yang mampu mendesign dunia ini yang mewakili al-Badi’ mewakili perancang yang Maha Agung yaitu Allah SWT.
    Selanjutnya kita akan membahas yang kedua, yaitu mulainya surah Al-Fatehah, sebelum kita akan kita bahas pengantar yang khusus dan istimewa, sebelumnya yang bisa dilepas di mana saja, terlepas dari surat al-fatihah itu sendiri, yaitu basmalah. Suatu pesan moral agar kita berakhlak kepada semua manusia yang dengan akhlaknya Allah SWT yaitu Rohman dan Rohim. Basmalah inilah inti al-Qur’an jadi intinya ada di basmalah bahkan dari para sufi ada  intinya yang menyatakan, bahwa intinya al-qur’an intinya berada di huruf bak nya kata basmalah.
    Di sini kita akan melakukan kristalisasi atau mentadabburi  nilai-nilaiakhlaki al-Qur’an yang harus kita pegangi sebagai kholifah Allah SWT, di antaranya kita kemana saja harus mengungkapkan makna dari basmalah. Kemana saja harus nengungkapkan, menampak-nampakkan  bukan nama kita sendiri, Allah lah yang Maha Agung, Allahlah yang kita wakili, jangan pelit-pelit menyebut nama Allah baik dengan ar-Rohman maupun dengan ar-Rohiim yaitu Allah SWT, selalu menyebut nama Allah SWT tertanda bahwa kita sudah mengagungkan asma Allah-Nya. ketika kita tawadhu’dan tadlorru’ itulah, kita telah membawa dan mengagungkan asma-Nya dengan sebaik-baiknya.

    Kajian Nilai-nilai Al Quran - Pendidikan Karakter dalam Ta'awudz (Bagian 2)

    Posted at  06.05  |  in  pondok pesantren  |  Read More»


    Berlindung Kepada Allah
     Menifestasinya dalam Kehidupan
    (Bagian 2)
    Oleh : Dr. KH. Kharisudin Aqib, M. Ag

    Saudara-saudara sekalian, bapak/ibu guru, ustadz-ustadzah, tenaga pendidik dan kependidikan, Yayasan Pondok Pesantren  Daru Ulil Albab, dan anak-anak  siswa-santri,  yang saya sayangi dan saya  banggakan.
    Perintah ta’awudz atau berlindung kepada Allah sebelum membaca al-Qur’an, mungkin menjadi pertanyaan bagi kita. kenapa Allah SWT mengutamakan itu, jadi yang pertama adalah ta’awudz kok bukan membaca basmalah? Artinya basmalah dinomor duakan dari pada  ta’awudz. Ternyata, karena dari situlah muncul konsep-konsep atau aturan-aturan manusia, aturan agama yang namanya tadhorru’, hurmat wa ta’dhim dan tawadhu’(sesuatu yang sangat urgen dalam kehidupan bermasyarakat), supaya kita depe-depe dengan sangat serius dan dengan keterikatan hati, supaya kita senantiasa  tadhorru’ kepada Allah SWT.
    Hurmat dan Ta’dhim adalah menghinakan diri kita atau merendahkan diri kita dihadapan asma Allah yang Maha Agung. Dan  dimana saja kita selalu menyebut asma Allah, mensyi’arkan nama Allah, nabi, ulama’, masjid, al-Qur’an dalam lain-lain syimbul-simbul keberadaan Allah,adalah dalam rangka hurmat dan ta’dhim kepada Allah SWT. Kalau Ta’dhim kita mengagungkan asma Allah SWT dimana saja, itu merupakan bentuk ta’awudz pada Allah SWT dimana kita sebagai hamba.
    Ketika kita sebagai kholifatullah  (wakil Allah), kita lebih banyak melakukan yang namanya tawadhu’ dihadapan sesama kholifah yang lain maka kita tidak boleh menghinakan satu sama lainnya apapun statusnya. Ada kholifah di bidang konsumsi, tambal ban itu adalah wakilnya Allah juga,  untuk meratakan rahmatnya di dunia ini sebatas porsinya masing-masing tidak seperti menghormati kholifah yang lebih tinggi seperti raja, pak lurah, pak RT, sehingga kita tawadhu’, apalagi kepada teman, sangat penting untuk mengutamakan dia dari pada kita sendiri, terlebih-lebih kepada guru-guru kita yang sangat berjasa kepada kita dan lebih tinggi dari kita,  maka kita harus hurmat dan  ta’dhim, sementara terhadap yang setara dengan kita menurut strata sosialnya, kita melakukan tawadhu’ dan menomorduakan diri kita. Itulah tawadhu’ dalam bentuk kehidupan sehari-hari.
    Mungkin nanti bagi yang akan out bound, atau akan pergi kemana saja, maka bentuk tawadhu’ nya adalah mengghormati atau laporan, minta izin kepada yang  punya kuasa, seperti misalnya di hutan ada polisi hutan, kita hurmati dia, kita menghadap bag dengan bagus, kita lapor, karena dia adalah kholifatullahdi situ.
    Dulu orang Hindu- Budha  atau orang primitif , belum mengenal Islam, maka mereka izinnya kepada danyang-danyang“mbah dayang kulo izin badhe nginep sedinten sedalu teng alas mriki“ . Karena memang belum ada kholifahnyadi situ. Sekarang zaman Islam sudah ada kholifah termasuk di hutan sudah ada kholifahnya namanya kholifah fil ghobah ,maka izinlah, bila ada karcis, belilah, ikuti aturan yang bagus maka kita akan dilindunginya bahkan diansuransikan.
    Sedangkan di tempat-tempat lain yang belum ada kolifahnya  cara islam bukan tawadhu’ kepada para danyang, karena mereka adalah jin-jin yang juga rakyat kita, juga termasuk makhluk kita, kita adalah kholifahnya, sehingga izinnya kepada Allah SWT langsung, atau sekedar etika saja, maka caranya begini
    Allhummarzuqnaa khoiro hadzalmakaan wa khoiroo maa fiihi minal jinni wal insii wasyyayaathiin wa na’udzubika minsyarri hadzalmakaan wa min syarri maa fiihi minal jinni wal insii wasyyayaathiin birohmatika yaa arhamarrohimiin
    “Ya Allah kami memohon anugrah kepada-Mu atas kebaikannya tempat ini  dan apa saja yang ada di dalamnya baik dari jin, manusia, maupun syaiton, dan aku berlindung kepada-Mu dari buruknya tempat ini, dan apa sajayang di dalamnya, baik   dari jin, manusia, maupun syaiton karena rahmat-Mu wahai Dzat Yang Maha Penyayang “.
    Dalam berdo’a dengan do’a diatas, kadang yang kita dulukan  jin kadang  manusia, apa yang terlintas di benakmu itulah yang paling sensitif dan itu adalah yang kita mintakan perlindungan Allah. Bentuk ta’awudzatau mohon perlindungan kepada Allah SWT kepada yang nampak maupun tidak nampak.
    Tapi juga begitu , jika kita sebagai kholifah tugasnya adalah melindungi dan memberikan rasa aman, semakin tinggi tingkat kekholifahanseseorang, semakin besar tanggungjawabnya,tanggung jawab  untuk mengayomi, melindungi dan memberikan rasa aman. sehingga semakin tinggi jabataan seseorang, semakin terhormat dan mulia, karena dia mewakili Allah SWT dengan wilayah otoritasyang semakin luas.
    Karya, penghormatan atau jabatan struktural kekholifahan atau kepemimpinan  tidak seperti kerja fisik, berbeda pula dengan jabatan fungsional, gaji fungsional berdasarkan kemanfa’atannya. Penghormatan atau honor itu pada  hakikatnya ada tiga,  yaitu honor kerja fisikal, honor kerja intelektual, dan honor kerja spiritual.
    Artinya honor kerja fisikal,  yaitu honornya para kuli dan nilainya paling rendah, selanjutnya honor kerja intelektual adalah konsep-konsep ilmu, pengajaran dan nilainya lebih tinggi dari fisikal dan yang ketiga honor kerja spiritual yaitu design-design ilmu yang namanya karya seni, maka jadilah kalian menjadi para seniman agama yang mampu mendesign dunia ini yang mewakili al-Badi’ mewakili perancang yang Maha Agung yaitu Allah SWT.
    Selanjutnya kita akan membahas yang kedua, yaitu mulainya surah Al-Fatehah, sebelum kita akan kita bahas pengantar yang khusus dan istimewa, sebelumnya yang bisa dilepas di mana saja, terlepas dari surat al-fatihah itu sendiri, yaitu basmalah. Suatu pesan moral agar kita berakhlak kepada semua manusia yang dengan akhlaknya Allah SWT yaitu Rohman dan Rohim. Basmalah inilah inti al-Qur’an jadi intinya ada di basmalah bahkan dari para sufi ada  intinya yang menyatakan, bahwa intinya al-qur’an intinya berada di huruf bak nya kata basmalah.
    Di sini kita akan melakukan kristalisasi atau mentadabburi  nilai-nilaiakhlaki al-Qur’an yang harus kita pegangi sebagai kholifah Allah SWT, di antaranya kita kemana saja harus mengungkapkan makna dari basmalah. Kemana saja harus nengungkapkan, menampak-nampakkan  bukan nama kita sendiri, Allah lah yang Maha Agung, Allahlah yang kita wakili, jangan pelit-pelit menyebut nama Allah baik dengan ar-Rohman maupun dengan ar-Rohiim yaitu Allah SWT, selalu menyebut nama Allah SWT tertanda bahwa kita sudah mengagungkan asma Allah-Nya. ketika kita tawadhu’dan tadlorru’ itulah, kita telah membawa dan mengagungkan asma-Nya dengan sebaik-baiknya.

    0 komentar:

    Pendidikan Akhlaq Dalam Basmalah

    Oleh : Dr. KH. Kharisudin Aqib, M. Ag 

    Lafadz basmalah adalah ungkapan bismillahirrohmanirrohim
    إِنَّهُ مِن سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
    Yang artinya: “sungguhnya ini dari Sulaiman, dan sesungguhnya dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang “.
    Ungkapan kalimat Basmalah tersebut merupakan pembuka al-Qur’an dan pembuka setiap surat dalam al-qur’an. Sedangkan ayat yang kita kaji  sebelumnya yaitu ayattentang perintah ta’awudz(mohon perlidungan kepada Allah),bukan bagian dari pada al-qur’an karena perintah ta’awudzitu sebenarnya ada di dalam surah an-Nahl;98
    فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
    Artinya;”jika kamu membaca al-qur’an, maka mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk”.
    Sedangkan ayat yang masuk dan merupakan ayat yang pertama dalam mushaf al-qur’an adalah ayat yang berbunyi bismillahirrohmanirrohimبسم الله الرحمن الرحيمdisebut sebagai ungkapan basmalah. ayat ini yang dihitung pertama dalam surat al-Fatehah ada yang menyebut juga ayat ini merupakan bagian dari semua surah karena memang nyatanya ayat ini adalah ayat yang digunakan untuk memulai semua surah yang ada di al-Qur’an sehingga jumlah dari pada ayat basmalah ini adalah 114 karena jumlah surat yang ada di dalam al-Qur’an jumlahnya 114 maka kalimat bismillahirrohmanirrohimdalam al-Qur’an ada 114.
    Setiap surat ada basmalahnya, sehingga  kalimat ini membuka semua surat,  kecuali surat al- Baro’ah surat ke-9.yaitu surat at-Taubah. Maka pada surat  itu basmalahnya ditiadakan. Kalimatbismillahirrohmanirrohimyang seharusnya ada diatas surah al-Baro’ah itu dimasukkan di surat an-Naml (35), ayat 30,  itu karena disembunyikan sebagai rahasia Allah SWT, dan disitu ada mukjizat. Karena setiap surat itu ada karakter tersendiri, seperti kepribadian manusia, maka disetiap surat itu ada basmalahnya sebagai pengikat antar surat di dalam al-Qur’an yaitu kata bismillahirrohmanirrohim untuk dijadikan rahmat, menjadi air, pencakar dan  penghubung semua dan antar surat. Untaian surat – surat itu dihubungkan dengan kalimat bismillahirrohmanirrohimjadi semua surat itu ada perekatnya semua, kecuali di surat al-Baro’ah maka di surat itu ada apinya yaitu pernyataan tentang keterbebasan nabi Muhammad saw dari orang-orang kafir. Allah SWT akan menghukum mereka sebagai ungkapan yang berunsur kemarahan atau api sebagaimana alam semesta, karena alam semesta itu terikat dengan air kecuali hanya satu tempat yang itu adalah rahasia yaitu ada apinya, yang lain adalah air, penghubung dari semua kehidupan ini adalah air, di atas penghubung semua pulau-pulau, jazirah-jazirah itu semua dihungkan dengan air, khususnya di bumi ini berada di dalam air, 2/3 bumi ini adalah   air sedangkan daratannya itu numpang di atas air.
    Bismillahirrohmanirrohimitu adalah air penyambung diantara surat, kecuali di satu tempat yaitu surat al-Baro’ah. Dan itu merupakan password  untuk masuk dunia rohaniandan dunia ketuhanan di dalam rahmat Allah SWT.Maka kalau kita ingin masuk dan konek dengan Allah swt, harus ada bismillahirrohmanirrohimitu, karena kita hanya bisa memasukinya kecuali dengan menggunakannya,yaknipassword19 digit,  yaitu 19 huruf basmalah itu, dan ini merupakan pembangun dari seluruh wujud alam semesta ini, terwujud dari pada air tadi. Dan  begitu pula al-Qur’an ini, seluruh sistem dan konsep penting dalam al-qur’an ini dibangun dari angka 19 yaitu bismillahirrohmanirrohim, bak, sin, mim, alif, lam, lam, hak, alif, lam, rok, hhak, mim, nun, alif, lam, rok, hhak, yak, mim. Itu jumlahnya 19, ‘Alaiha tis’ata ‘ashar di atas setiap pintu ada 19 malaikatnya yaitu malaikat penjaga huruf-huruf bismillahirrohmanirrohim, maka semua kata, semua kondisi kalau dibuka dengan bismillahirrohmanirrohim pasti akan jablas, tembus dan semua yang tanpa bismillahirrohmanirrohimakan terhalang dan akan terputus dari rahmat Allah SWT sehingga rosulullah saw bersabda;
    Kullu’amalin dzi baalin la yubdak bi bismillahirrohmanirrohim fahuwa aqtok au abtar.
    “Setiap perbuatan yang bernilai kemudian tidak dimulai dengan bismillahirrohmanirrohim maka dia akan terputus dari rahmat Allah SWT atau terputus dari pertanggungjawaban Allah swt”.
    Karena arti dari bismillahirrohmanirrohimadalah atas nama Allah ataudengan nama Allah ,  bagi orang-orang yang ta’abbudan (lebih menghayati sebagai hamba). Atau bagi kita yang menghambakan diri kepada Allah atau dalam ibadah-badah. sebagai hamba maka kita mengungkapkan bismillahirrohmanirrohimitu artinya adalah dengan nama Allah SWT, karena Allah SWT saja, untuk Allah SWT saja,saya melakukan ini semua. Di situ ada ta’alluq keterikatan sikap ruhani kita bahwa dengan Allah SWT itu,  kita harus optimis bahwa Allah SWT itu rohman rohimyang mana artinya adalah pengasih dan penyayang. Pengasih itu suka mengasihi, suka memberikan kepada kita, siapa saja makhluk ini dalam kasihnya Allah SWT, dikasih hidup, nuakal kayak apapun makhluk itu masih diberi hidup oleh Allah SWT, dikasih kesempatan untuk taubat, dikasih kesempatan untuk berkompetisi dalam kehidupan ini oleh Allah SWT, tapi hanya orang-orang yang disayangi  Allah SWT saja, yang mendapat sifat  rohimNya, yang namanya penyayang.Jadi Allah SWT pasti kasih dan sayang kepada setiap orang, dan semua mahluk diberi oleh Allah  sifat Rohman Allah SWT ini, sedangkan  kepada khusus yang betul-betul dikasihi atau memang kekasihnya Allah SWT, memberi dengan sifat Rohim-Nya.
    Maka dengan nama arrohman dan arrohim  kita harus yaqin.Sebagai seorang hamba, harus melakukan apa saja itu harus ada pernyataan bismillahirrohmanirrohim,kalau kita tidak menyatakan bismillahirrohmanirrohim Allah SWT tidak bertanggungjawab, makhluk Allah SWT yang namanya syaitan akan ikut dan menyertai kita, dalam setiap perbuatan kita. sehingga kalau jadi anak mau sekolah tidak bismillahirrohmanirrohimsyaitannya ikut na’udzubillahimindzalik, makan tidak pakai bismillahirrohmanirrohim syaitonnya akan ikut sehingga tidak barokah, energinya tidak bisa digunkan  untuk kebaikan, begitu pula kepada pasangan suammi istri kalau mau berhubungan tidak bismillahirrohmanirrohim syaiton akan ikut juga,  sehingga kalau jadi anak, anaknya semi-semi grandong, sulit diatur, pokoknya kalau tidak pakai bismillahirrohmanirrohimmaka wahuwa aqtok au abtar, yang nakal-nakal juga begitu sekarang karena sudah terlanjur jadi manusia, banyak-banyaklah bismillahirrohmanirrohim, membismillahi dirinya sendiri, agar tidak disertai terus oleh syaiton, karena Allah SWT tidak ikut bertanggungjawab.
    Niat membismillahi dirinya sendiri, karena Allah SWT sudah menyatakan kata Nabi saw fahuwa aqtok au abtardia akan terputus dari rahmat dan pertanggungjawaban Allah SWT, maka bismillahirrohmanirrohimsebagai seornag hamba, kita ta’abbudan menyembah kepada Allah SWT, melakukan sesuatu dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
    Manivestasi dari perwujudan ungkapan akhlak dari bismillahirrohmanirrohimbagi kita sebagai wakilnya Allah SWT,kholifatullah di muka bumi ini maka kita harus memaknai kata bismillahirrohmanirrohimdengan Atas Nama Allah SWT.
    Kalau kita melakukan apa saja itu harus kita ta’abbudan, beradap, menyatakan bahwa itu atas nama Allah SWT bukan atas nama diri kita sendiri, gambarannya kita bertanda tangan, kita bukan kepala sekolah kenapa menandatangani surat kepala sekolah maka kita harus menyebutnya di situ di dalam tulisan atas nama atau ‘a.n’ kepala sekolah Abdul Rouf misalnya di bawahnya wakil kepala sekolah Rining Nurhayati, sehingga kalau kita melakukan sesuatu tidak dengan penghayatan atas nama Allah SWT itu adalah pelanggaran, itu haknya Allah SWT, berbuat yang baik, mengatur, memimpin, membimbing, mengayomi, itu adalah tugasnya Allah SWT, kita hanya wakil-Nya saja , maka ungkapkanlah bismillahirrohmanirrohim dengan niat ta’alluq mengikatkan diri bahwa kita adalah hamba Allah sekaligus wakilnya Allah SWT, kalau tidak, maka kita telah melakukan pemalsuan, itu adalah haknya Allah SWT maka kita harus melakukan dengan bismillahirrohmanirrohim, apa sajayang baik-baik kita ucapkan dengan bismillahirrohmanirrohimmaka kita meyakini bahwa itu adalah dalam rangka mencari ridho-Nya. Kalau kita sebagai kholifah pemimpin atau sedang melakukan tugas-tugas sosial kita,  maka kita harus mengatakan basmalah itu dengan penghayatan makna Atas Nama Allah SWT.
    Kemudian sifat dan karakter juga harus begitu, kita harus ikuti yang kita wakili adalah Allah SWT,  yaitu sang pemilik sifat rohman dan rohim. Inilah yang harus senantiasa kita bawa kemana saja dan dalam  berbuat apa saja adalah dalam rangka sifat menampilkan sifat rohman rohimAllah swt tersebut.
    Kalau kita akan menghukum anak yang nakal itu adalah dalam rangka rohman-rohim Allah SWT bukan dalam rangka karena marah, bukan pula karena dendam, tapi karena kita sayang kepada anak kita. Jangan sampai nanti terbawa ke dalam neraka oleh bujukannya syaiton, jadi kita menghukumpun dalam rangka kasih sayang kepada anak-anak kita, kalau membiarkan justru tidak sayang yang sesungguhnya (rahiim),  dan berarti hanya rohman pengasih saja. kalau kita tidak menghukum justru salah, hukumlah yang bersalah sehingga tidak berlarut-larut dalam kesalahannya,  dengan niatan dan motivasi karena kasih sayang Allah SWT, maka kita harus berakhlak rohman-rohim dan senantiasa kita bawa kemana saja, berbuat apa saja dalam rangka rohman rohim nya Allah SWT.
    Jadilah kita penyayang khususnya para guru para orang tua tidak boleh bertindak dalam pembinaan ini kecuali atas dasar rohman rohimnya Allah SWT.  sing wis gak gelem diatur, nuakale nemen” itu tetap dalam rangka rohman nya Allah SWT , tidak bisa dinasehati, tidak bisa diperbaiki ya dibiarkan, itupun dibiarkan senang dalam rahmannya kalau kita rohimi kita hukum agar dia kembali, kepada semua orang kita harus memberikan kasih sayang (rahman)  kita dalam arti material, bedanya rohman itu kasih sayang secara material, hidunistik, pokoknya yang dia senangi apa berikan saja kepada semua orang. Tapi sifatrohim adalah memberikan apa yang seharusnya, dan itu hanya kita berikan kepada yang betul-betul kita sayangi, murid-murid kita, anak-anak kita, kita beri sifat rohimnya Allah SWT tapi bagi yang tidak kita sayangi dalam pengertian sesungguhnya berikan saja materi (dengan sifar rohmannya Allah), tapi tidak kita kasih sebagaimana yang seharusnya.
    Rosulullah saw mempraktekkan (menejemen rahman-rahim) ini untuk semuanya, untuk sahabatnya, untuk semua orang. Untuk sahabat anshor itu paling disayangi oleh rosulullah saw maka beliau tidak sering diberi materi tidak sering dikasih uang oleh Nabi, sehingga mereka juga pernah protes Ya rosulullah kenapa sedikit-sedikit yang engkau beri adalah orang-orang muhajirin, kami merasa engkau tidak adil” akhirnya rosulullah saw memanggil “Kesini-kesini kalian itu sudah saya beri diri saya, saya untuk kalian, jiwa raga saya untuk kalian, saya rela hijrah dan dimakamkan di tempat kalian” , mereka (orang muhajirin)hanya saya kasih unta, kuda dan barang-barang lain-lain, dan apakah kalian lebih memilih itu dari pada saya?” para sahabat anshor “Tidak ya Rosulullah”. Akhirnya mereka semua menangis karena ternyata mereka sahabat-sahabat anshor mendapatkan diri rosulullah saw, cintanya rosulullah saw sedangkan orang muhajirin hanya diberi materi. Begitu pula rosulullah pernah didemo oleh para istrinya “Kami perwakilan dari para istri merasa rosulullah ini bagaimana, masak itu istrinya raja-raja memakai gelang emas, kalung emas, mobilnya bagus-bagus, istri-istri panjenengan  ini hanya memakai unta dan gelang karet”, rosulullah saw menjawab “Iya, kalian adalah yang saya cintai agar bisa terus bertemu dengan saya sampai ke syurga, iya memang seperti ini saya tidak mencintai materi, kalau kalian ingin seperti istri raja-raja yang lain maka akan saya kasih, karena itu juga milik kalian tapi setelah itu kamu keluar  saja tidak usah ikut saya dan tidak akan bisa bertemu saya di syurga karena kamu senang dan memilih dunia dari pada Allah, dan aku lebih mementingkan akhirat”. Itulah menjemenrohman-rohimnya rosulullah saw.Kalau dituruti maunya orang itu akan jadi dunia dan materi, kembali ketanah, tapi kalau orang itu menuruti rosulullah saw maka dia akan kembali ke syurga tidak ketanah lagi tapi nanti akan ke syurga dalam rohman rohimnya Allah SWT.
    Mudah-mudahan kita semua nantinya akan menjadi orang yang bijaksana dan berakhlak seperti akhlaknya rosulullah saw yaitu karakter qur’ani dengan selalu mengucap bismillahirrohmanirrohim dalam berbagai penghayatan dan mampu memenejemeni sifat Rahman-Rahim dalam diri kita, kalian betul-betul akan menjadi orang yang dapat dibanggakan oleh rosulullah saw dan menjadi manusia yang betul-betul berguna bagi nusa, bangsa dan agama. Amin.

    Kajian Nilai-nilai Al Quran - Tentang Bacaan Bismillah

    Posted at  09.51  |  in  Pesantren Terpadu daru Ulil Albab  |  Read More»

    Pendidikan Akhlaq Dalam Basmalah

    Oleh : Dr. KH. Kharisudin Aqib, M. Ag 

    Lafadz basmalah adalah ungkapan bismillahirrohmanirrohim
    إِنَّهُ مِن سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
    Yang artinya: “sungguhnya ini dari Sulaiman, dan sesungguhnya dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang “.
    Ungkapan kalimat Basmalah tersebut merupakan pembuka al-Qur’an dan pembuka setiap surat dalam al-qur’an. Sedangkan ayat yang kita kaji  sebelumnya yaitu ayattentang perintah ta’awudz(mohon perlidungan kepada Allah),bukan bagian dari pada al-qur’an karena perintah ta’awudzitu sebenarnya ada di dalam surah an-Nahl;98
    فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
    Artinya;”jika kamu membaca al-qur’an, maka mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk”.
    Sedangkan ayat yang masuk dan merupakan ayat yang pertama dalam mushaf al-qur’an adalah ayat yang berbunyi bismillahirrohmanirrohimبسم الله الرحمن الرحيمdisebut sebagai ungkapan basmalah. ayat ini yang dihitung pertama dalam surat al-Fatehah ada yang menyebut juga ayat ini merupakan bagian dari semua surah karena memang nyatanya ayat ini adalah ayat yang digunakan untuk memulai semua surah yang ada di al-Qur’an sehingga jumlah dari pada ayat basmalah ini adalah 114 karena jumlah surat yang ada di dalam al-Qur’an jumlahnya 114 maka kalimat bismillahirrohmanirrohimdalam al-Qur’an ada 114.
    Setiap surat ada basmalahnya, sehingga  kalimat ini membuka semua surat,  kecuali surat al- Baro’ah surat ke-9.yaitu surat at-Taubah. Maka pada surat  itu basmalahnya ditiadakan. Kalimatbismillahirrohmanirrohimyang seharusnya ada diatas surah al-Baro’ah itu dimasukkan di surat an-Naml (35), ayat 30,  itu karena disembunyikan sebagai rahasia Allah SWT, dan disitu ada mukjizat. Karena setiap surat itu ada karakter tersendiri, seperti kepribadian manusia, maka disetiap surat itu ada basmalahnya sebagai pengikat antar surat di dalam al-Qur’an yaitu kata bismillahirrohmanirrohim untuk dijadikan rahmat, menjadi air, pencakar dan  penghubung semua dan antar surat. Untaian surat – surat itu dihubungkan dengan kalimat bismillahirrohmanirrohimjadi semua surat itu ada perekatnya semua, kecuali di surat al-Baro’ah maka di surat itu ada apinya yaitu pernyataan tentang keterbebasan nabi Muhammad saw dari orang-orang kafir. Allah SWT akan menghukum mereka sebagai ungkapan yang berunsur kemarahan atau api sebagaimana alam semesta, karena alam semesta itu terikat dengan air kecuali hanya satu tempat yang itu adalah rahasia yaitu ada apinya, yang lain adalah air, penghubung dari semua kehidupan ini adalah air, di atas penghubung semua pulau-pulau, jazirah-jazirah itu semua dihungkan dengan air, khususnya di bumi ini berada di dalam air, 2/3 bumi ini adalah   air sedangkan daratannya itu numpang di atas air.
    Bismillahirrohmanirrohimitu adalah air penyambung diantara surat, kecuali di satu tempat yaitu surat al-Baro’ah. Dan itu merupakan password  untuk masuk dunia rohaniandan dunia ketuhanan di dalam rahmat Allah SWT.Maka kalau kita ingin masuk dan konek dengan Allah swt, harus ada bismillahirrohmanirrohimitu, karena kita hanya bisa memasukinya kecuali dengan menggunakannya,yaknipassword19 digit,  yaitu 19 huruf basmalah itu, dan ini merupakan pembangun dari seluruh wujud alam semesta ini, terwujud dari pada air tadi. Dan  begitu pula al-Qur’an ini, seluruh sistem dan konsep penting dalam al-qur’an ini dibangun dari angka 19 yaitu bismillahirrohmanirrohim, bak, sin, mim, alif, lam, lam, hak, alif, lam, rok, hhak, mim, nun, alif, lam, rok, hhak, yak, mim. Itu jumlahnya 19, ‘Alaiha tis’ata ‘ashar di atas setiap pintu ada 19 malaikatnya yaitu malaikat penjaga huruf-huruf bismillahirrohmanirrohim, maka semua kata, semua kondisi kalau dibuka dengan bismillahirrohmanirrohim pasti akan jablas, tembus dan semua yang tanpa bismillahirrohmanirrohimakan terhalang dan akan terputus dari rahmat Allah SWT sehingga rosulullah saw bersabda;
    Kullu’amalin dzi baalin la yubdak bi bismillahirrohmanirrohim fahuwa aqtok au abtar.
    “Setiap perbuatan yang bernilai kemudian tidak dimulai dengan bismillahirrohmanirrohim maka dia akan terputus dari rahmat Allah SWT atau terputus dari pertanggungjawaban Allah swt”.
    Karena arti dari bismillahirrohmanirrohimadalah atas nama Allah ataudengan nama Allah ,  bagi orang-orang yang ta’abbudan (lebih menghayati sebagai hamba). Atau bagi kita yang menghambakan diri kepada Allah atau dalam ibadah-badah. sebagai hamba maka kita mengungkapkan bismillahirrohmanirrohimitu artinya adalah dengan nama Allah SWT, karena Allah SWT saja, untuk Allah SWT saja,saya melakukan ini semua. Di situ ada ta’alluq keterikatan sikap ruhani kita bahwa dengan Allah SWT itu,  kita harus optimis bahwa Allah SWT itu rohman rohimyang mana artinya adalah pengasih dan penyayang. Pengasih itu suka mengasihi, suka memberikan kepada kita, siapa saja makhluk ini dalam kasihnya Allah SWT, dikasih hidup, nuakal kayak apapun makhluk itu masih diberi hidup oleh Allah SWT, dikasih kesempatan untuk taubat, dikasih kesempatan untuk berkompetisi dalam kehidupan ini oleh Allah SWT, tapi hanya orang-orang yang disayangi  Allah SWT saja, yang mendapat sifat  rohimNya, yang namanya penyayang.Jadi Allah SWT pasti kasih dan sayang kepada setiap orang, dan semua mahluk diberi oleh Allah  sifat Rohman Allah SWT ini, sedangkan  kepada khusus yang betul-betul dikasihi atau memang kekasihnya Allah SWT, memberi dengan sifat Rohim-Nya.
    Maka dengan nama arrohman dan arrohim  kita harus yaqin.Sebagai seorang hamba, harus melakukan apa saja itu harus ada pernyataan bismillahirrohmanirrohim,kalau kita tidak menyatakan bismillahirrohmanirrohim Allah SWT tidak bertanggungjawab, makhluk Allah SWT yang namanya syaitan akan ikut dan menyertai kita, dalam setiap perbuatan kita. sehingga kalau jadi anak mau sekolah tidak bismillahirrohmanirrohimsyaitannya ikut na’udzubillahimindzalik, makan tidak pakai bismillahirrohmanirrohim syaitonnya akan ikut sehingga tidak barokah, energinya tidak bisa digunkan  untuk kebaikan, begitu pula kepada pasangan suammi istri kalau mau berhubungan tidak bismillahirrohmanirrohim syaiton akan ikut juga,  sehingga kalau jadi anak, anaknya semi-semi grandong, sulit diatur, pokoknya kalau tidak pakai bismillahirrohmanirrohimmaka wahuwa aqtok au abtar, yang nakal-nakal juga begitu sekarang karena sudah terlanjur jadi manusia, banyak-banyaklah bismillahirrohmanirrohim, membismillahi dirinya sendiri, agar tidak disertai terus oleh syaiton, karena Allah SWT tidak ikut bertanggungjawab.
    Niat membismillahi dirinya sendiri, karena Allah SWT sudah menyatakan kata Nabi saw fahuwa aqtok au abtardia akan terputus dari rahmat dan pertanggungjawaban Allah SWT, maka bismillahirrohmanirrohimsebagai seornag hamba, kita ta’abbudan menyembah kepada Allah SWT, melakukan sesuatu dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
    Manivestasi dari perwujudan ungkapan akhlak dari bismillahirrohmanirrohimbagi kita sebagai wakilnya Allah SWT,kholifatullah di muka bumi ini maka kita harus memaknai kata bismillahirrohmanirrohimdengan Atas Nama Allah SWT.
    Kalau kita melakukan apa saja itu harus kita ta’abbudan, beradap, menyatakan bahwa itu atas nama Allah SWT bukan atas nama diri kita sendiri, gambarannya kita bertanda tangan, kita bukan kepala sekolah kenapa menandatangani surat kepala sekolah maka kita harus menyebutnya di situ di dalam tulisan atas nama atau ‘a.n’ kepala sekolah Abdul Rouf misalnya di bawahnya wakil kepala sekolah Rining Nurhayati, sehingga kalau kita melakukan sesuatu tidak dengan penghayatan atas nama Allah SWT itu adalah pelanggaran, itu haknya Allah SWT, berbuat yang baik, mengatur, memimpin, membimbing, mengayomi, itu adalah tugasnya Allah SWT, kita hanya wakil-Nya saja , maka ungkapkanlah bismillahirrohmanirrohim dengan niat ta’alluq mengikatkan diri bahwa kita adalah hamba Allah sekaligus wakilnya Allah SWT, kalau tidak, maka kita telah melakukan pemalsuan, itu adalah haknya Allah SWT maka kita harus melakukan dengan bismillahirrohmanirrohim, apa sajayang baik-baik kita ucapkan dengan bismillahirrohmanirrohimmaka kita meyakini bahwa itu adalah dalam rangka mencari ridho-Nya. Kalau kita sebagai kholifah pemimpin atau sedang melakukan tugas-tugas sosial kita,  maka kita harus mengatakan basmalah itu dengan penghayatan makna Atas Nama Allah SWT.
    Kemudian sifat dan karakter juga harus begitu, kita harus ikuti yang kita wakili adalah Allah SWT,  yaitu sang pemilik sifat rohman dan rohim. Inilah yang harus senantiasa kita bawa kemana saja dan dalam  berbuat apa saja adalah dalam rangka sifat menampilkan sifat rohman rohimAllah swt tersebut.
    Kalau kita akan menghukum anak yang nakal itu adalah dalam rangka rohman-rohim Allah SWT bukan dalam rangka karena marah, bukan pula karena dendam, tapi karena kita sayang kepada anak kita. Jangan sampai nanti terbawa ke dalam neraka oleh bujukannya syaiton, jadi kita menghukumpun dalam rangka kasih sayang kepada anak-anak kita, kalau membiarkan justru tidak sayang yang sesungguhnya (rahiim),  dan berarti hanya rohman pengasih saja. kalau kita tidak menghukum justru salah, hukumlah yang bersalah sehingga tidak berlarut-larut dalam kesalahannya,  dengan niatan dan motivasi karena kasih sayang Allah SWT, maka kita harus berakhlak rohman-rohim dan senantiasa kita bawa kemana saja, berbuat apa saja dalam rangka rohman rohim nya Allah SWT.
    Jadilah kita penyayang khususnya para guru para orang tua tidak boleh bertindak dalam pembinaan ini kecuali atas dasar rohman rohimnya Allah SWT.  sing wis gak gelem diatur, nuakale nemen” itu tetap dalam rangka rohman nya Allah SWT , tidak bisa dinasehati, tidak bisa diperbaiki ya dibiarkan, itupun dibiarkan senang dalam rahmannya kalau kita rohimi kita hukum agar dia kembali, kepada semua orang kita harus memberikan kasih sayang (rahman)  kita dalam arti material, bedanya rohman itu kasih sayang secara material, hidunistik, pokoknya yang dia senangi apa berikan saja kepada semua orang. Tapi sifatrohim adalah memberikan apa yang seharusnya, dan itu hanya kita berikan kepada yang betul-betul kita sayangi, murid-murid kita, anak-anak kita, kita beri sifat rohimnya Allah SWT tapi bagi yang tidak kita sayangi dalam pengertian sesungguhnya berikan saja materi (dengan sifar rohmannya Allah), tapi tidak kita kasih sebagaimana yang seharusnya.
    Rosulullah saw mempraktekkan (menejemen rahman-rahim) ini untuk semuanya, untuk sahabatnya, untuk semua orang. Untuk sahabat anshor itu paling disayangi oleh rosulullah saw maka beliau tidak sering diberi materi tidak sering dikasih uang oleh Nabi, sehingga mereka juga pernah protes Ya rosulullah kenapa sedikit-sedikit yang engkau beri adalah orang-orang muhajirin, kami merasa engkau tidak adil” akhirnya rosulullah saw memanggil “Kesini-kesini kalian itu sudah saya beri diri saya, saya untuk kalian, jiwa raga saya untuk kalian, saya rela hijrah dan dimakamkan di tempat kalian” , mereka (orang muhajirin)hanya saya kasih unta, kuda dan barang-barang lain-lain, dan apakah kalian lebih memilih itu dari pada saya?” para sahabat anshor “Tidak ya Rosulullah”. Akhirnya mereka semua menangis karena ternyata mereka sahabat-sahabat anshor mendapatkan diri rosulullah saw, cintanya rosulullah saw sedangkan orang muhajirin hanya diberi materi. Begitu pula rosulullah pernah didemo oleh para istrinya “Kami perwakilan dari para istri merasa rosulullah ini bagaimana, masak itu istrinya raja-raja memakai gelang emas, kalung emas, mobilnya bagus-bagus, istri-istri panjenengan  ini hanya memakai unta dan gelang karet”, rosulullah saw menjawab “Iya, kalian adalah yang saya cintai agar bisa terus bertemu dengan saya sampai ke syurga, iya memang seperti ini saya tidak mencintai materi, kalau kalian ingin seperti istri raja-raja yang lain maka akan saya kasih, karena itu juga milik kalian tapi setelah itu kamu keluar  saja tidak usah ikut saya dan tidak akan bisa bertemu saya di syurga karena kamu senang dan memilih dunia dari pada Allah, dan aku lebih mementingkan akhirat”. Itulah menjemenrohman-rohimnya rosulullah saw.Kalau dituruti maunya orang itu akan jadi dunia dan materi, kembali ketanah, tapi kalau orang itu menuruti rosulullah saw maka dia akan kembali ke syurga tidak ketanah lagi tapi nanti akan ke syurga dalam rohman rohimnya Allah SWT.
    Mudah-mudahan kita semua nantinya akan menjadi orang yang bijaksana dan berakhlak seperti akhlaknya rosulullah saw yaitu karakter qur’ani dengan selalu mengucap bismillahirrohmanirrohim dalam berbagai penghayatan dan mampu memenejemeni sifat Rahman-Rahim dalam diri kita, kalian betul-betul akan menjadi orang yang dapat dibanggakan oleh rosulullah saw dan menjadi manusia yang betul-betul berguna bagi nusa, bangsa dan agama. Amin.

    0 komentar:

    Tentang Kami-Pendaftaran-Contact
    Copyright © 2013 Pondok Pesantren - DARU ULIL ALBAB. Blogger Template by BloggerTheme9
    Proudly Powered by Blogger.
    back to top