Kajian Nilai-nilai Al Quran - Hal pertama yang diperintahkan Allah SWT

Posted at  09.26  |  in  Pesantren Terpadu daru Ulil Albab

Allah SWT mengajarkan kepada kita semua dalam Al-Qur’an surah An-Nahl ayat 98:[1]

Kita akan mengkaji hal yang pertama tentang sesuatu yang diperintahkan Allah SWT , kata-Nya apabila kamu membaca Al-Qur’an maka mohonlah perlindungan pada Allah SWT dari syiton yang terkutuk sehingga muncul tradisi dan adat kita sebelum membaca Al-Qur’an adalah membaca ta’awudz dan kemudian membaca basmalah. Dalam surah tertentu dan ditengah-tengah ayat tertentu tanpa membaca basmalah. Maksudnya adalah Allah SWT mengajarkan pada kita beretika, berkarakter yang baik yaitu karakter qur’ani. Yang pertama kali disosialkan oleh Allah SWT dengan nama Tadhorru’, Ta’dhim wal hurmat dan Tawadhu’. Itulah yang harus kita tanamkan pada diri kita.
Kepada Allah SWT kita harus Taqorrub atau depe-depe dengan mengatakan a’udzubillahiminassyaitonnirrojim. Kenapa harus ta’awudz, apa al-Qur’an ini ayat-ayat syaiton?? Bukan. Tetapi Al-Qur’an ini adalah kalamullah yang sangat dan bisa interpretatif yang bermakna banyak. Tetapi al-Qur’an ini menggunakan kata-kata yang namanya mustarok (penuh isi atau makna). Maka kalau ada orang yang hatinya kotor, tidak bagus, tidak sholeh maka al-qur’an bisa jadi dibuat untuk membela diri atau untuk kepentingan dirinya. Rosulullah saw sudah me-warning yang artinya

Siapa yang menafsirkan al-Qur’an se-enaknya sendiri maka dia harus siap-siap menjadi pejabat di akhirat kelak. Oleh  karena itu orang yang betul-betul menafsirkan al-Qur’an ini betul-betul yang harus ulul albab dzufikrotin salimatin kholiyatin ‘anilhawa yaitu orang yang memiliki fikiran yang sehat pikirannya yang bebas dari hawa nafsu.
Kita harus selalu mempunyai pijakan sebelum membaca al-Qur’an yaitu harus fasta’idzbillah agar penafsirannya tidak dengaan nafsu dan tidak karena kepentingan duniawi atas nama menjual agama. Na’udzubillahimingdzalik.
Ini harus kita tanamkan pada diri kita dari syaiton yang yuwaswisufisudurinnas minal jinnati wannas. Ayat yang harus kita baca adalah ta’awudz yaitu meminta perlindungan dan kita bisa bertadabbur, mangapa harus seperti itu ternyata itu ada rahasian yang besar sekali yakni supaya kita berkarakter yang baik  yaitu karakter qur’ani.  Bahwa kita ini berdiri antara Allah SWT atau alam barzah dan manusia. Nyatanya kita berada di alam bawah tapi hatinya ada di alam tengah, begitu pula obyek komunikasi kita ada dua yaitu Allah SWT dan alam semesta, maka akhlak kepada Allah SWT ada dua  posisi, satu posisi sebagai hamba dan posisi sebagai kholifah Allah SWT atau wakilnya Allah SWT.
Sebagai hamba dari  bacaan ta’awudz kita harus bersihkan hati dengan cara depe-depe, sehingga ta’awudz ini untuk banyak hal yang penting adalah kita selalu minta perlindungan dari syaiton karena syaiton adalah makhluk Allah SWT maka caranya adalah mengadukan saja kepada yang punya  jadi nanti Allah lah yang akan menghalau, tidak usah kita lawan karena kita akan kalah dengan syaiton apalagi yang namanya iblis, itu sangat senior, seulama’ apapun seseorang itu akan kalah dengan iblis bahkan nabi Adam as pun juga kalah dari iblis, bagaimana caranya agar kita bisa menang yaitu kembalikan pada pemiliknya, Allah SWT.

Yang kedua manusia adalah sebagai kholifah Allah kita harus tawadhu’ dan hurmat, Allah yang maha tinggi kita harus hurmat dalam arti maninggikan kalimat Allah SWT, kita hanya melaksanakan tugas Allah seperti tugas Allah di bidang pendidikan bagaimana kepala sekolah melakukan tugasnya, guru menyampaikan ilmunya, sebagaimana semua bisa terselesaikan semua karena butuh ilmu, rosulullah saw bersabda:[2]

Barang siapa yang ingin sukses dunia maka harus mempunyai ilmu, barang siapa yang ingin sukses di akhirat maka harus dengan ilmu, barang siapa yang ingin sukses keduanya maka harus dengan ilmu. Sehingga seorang guru penting untuk menjadi seorang distributor ilmu, sebagai hasil dari penghayatan hurmat ta’dhim pada Allah SWT karena itu adalah ilmunya Allah yang dipinjamkan, begitu pula sebaliknya Allah akan mencabut dengan mudahnya ilmu tersebut seperti misalnya dengan kecelakaan di kepala seseorang akhirnya ilmunya hilang. Seorang alim atau ulama juga harus meninggikan asma Allah SWT atau merendahkan diri kita, selalu menyammpaikan rasa hurmat kepada Allah karena kita adalah kholifah. Dan sebagai akhlaknya kita kita harus hurmat ta’dhim terhadap kebesaran Allah SWT.
Sedangkan posisi kita dihadapan manusia bagaimana implementasi dari pada ta’awudz adalah kita hadapi manusia yang lebih tinggi jabatannya. Semua yang diatass kita yang namanya ulul amri adalah bapak kita,baik bapak kepala sekolah, bapak mertua, bapak kandung kita, yang mengasuh, mewakili kita, melindungi kita, kita harus melakukan ta’awudz, ingatlah nak-anak kalian sekarang adalah orang kecil, tapi kalian kelak akan menjadi orang besar pada zamannya, maka berbaktilah kalian, berakhlaklah kalian, agungkan dan hurmati dia karenaa suatu saat kalian juga akan dibaktikan. Jadi kalau ada apa-apa penting, izinlah, minta petunjuk, pamit, itu akan membantumu dalam bentuk hurmat dan ta’dhim pada atasan kalian
Birru abaa akum tabirrukum abnaa ukum
Semua orang yang menyebabkan mengatur kita adalah bapak-bapak kita maka berbbaktilah kamu kepada mereka, pengen dibakteni orang maka baktilah sekarang kepada bapak kalian . itulah karakter pendidikan qur’ani yang harus ditanamkan pada diri kita masing-masing.
Yang tawadhu’ itu adalah orang yang setara dengan kita artinya adalah saling merendahkan diri kita bukan merendahkan dirinya, kita ada saudara utamakan dia, ada teman sebaya dahulukan dia dan tawadhu’ ini kinci sukses
Man tawadho’a rofa’ahullah wamantakabbaro wadho’ahullah
Siapa yang bertawadhu’ maka Allah SWT akan mengangkt atau meninggikan dia dan siapa yang menyombongkan diri dihadapan Allah SWT maka akan direndahkan.
Itu adalah sistem alam karena setiap orang ada dalam dirinya karakter ketuhanan, menurut kitab Insan Kamilnya syeikh Al-Jilli bahwa setiap diri manusia ada yang namanya Lahut dan Lasut dan dalam diri Allah SWT juga ada Lahut dan Nasut yang artinya lahut sifat ketuhanan dan nasut sifat kemanusiaan . Bahwa setiap manusia ada kecenderungan diperlakukan bagaimana tuhan diperlakukan, seringkali kemanusiaan yang mempunyai sifat kebinatangan dan ketumbuh-tumbuhan  ataupun ketuhanan, maka perlakukan dia seperti apa yang seharusnya diperlakukan kepada Allah tetapi tidak boleh sama seperti kita mensikapi terhadap pimpinan kita cukup kita menghormati dan mengagungkan tidak sampai maksimal tetapi tetap harus kita agungkan cenderung senang bila kita agungkan dari pada dihinakan karena dia ada pada sifat lahut. Maka itu berikan pada saudara kita, kita ngalah, pasti manusia-manusia itu senang pada kitasehingga kita akan sukses
Yang ketiga kita sebagai kholifah maka karakter kita menjadi yang lebih tinggi  harus melindungi dan bertanggung jawab atas keselamatan dari pada anak buahnya, semakin tinggi jabatan seseorang semakin besar tanggung jawab terhadap anak buahnya dimana sikap tuhan kepada kita yaitu manusia sebagai diri kita masing-masing untuk meminta perlindungan kepada Allah dari syaiton. Maka setiap pemimpin ini nanti akan dimintai pertanggungjawaban, nabi bersabda:[3]

Setiap kalian adalah pengembala setiap pengembala akan dimintai pertanggungjawaban terhadap gembalaannya. Maka ingat-ingat bahwa orangtua tanggungjawabnya terhadap anak-anaknya, suami tangungjawabnya terhadap istri, guru tanggungjawabnya terhadap anak didiknya, sehingga semakin tinggi jabatannya honornya harusnya semakin besar karena tangungjawabnya besar bukan hanya di dunia saja tetapi di akhirat juga karena juga manusia kholifatul fil ardhi. Jadi tidak boleh pesimis, wis saya tak dadi wong biasa ae. Tidak  boleh, karena nanti upahnya juga besar dihadapan Allah dan semakin banyak peluangnya beramal sholeh yang nantinya akan dibanggakan Allah SWT dan rosulnya  

Bagikan Posting ini

Tentang Kami

Pesantren Terpadu yang didirikan oleh Yayasan Pondok Pesantren Daru Ulil Albab. Insya Allah siap mengemban amanat anda. Untuk menjadikan putra-putri anda pemimpin bangsa, / ulama’/ cendikiawan / konglomerat yg bertaqwa kepada Allah, dan berakhlak mulia Facebook

0 komentar:

Tentang Kami-Pendaftaran-Contact
Copyright © 2013 Pondok Pesantren - DARU ULIL ALBAB. Blogger Template by BloggerTheme9
Proudly Powered by Blogger.
back to top