Kajian Nilai-nilai Al Quran - Pendidikan Karakter dalam Ta'awudz (Bagian 2)

Posted at  06.05  |  in  pondok pesantren


Berlindung Kepada Allah
 Menifestasinya dalam Kehidupan
(Bagian 2)
Oleh : Dr. KH. Kharisudin Aqib, M. Ag

Saudara-saudara sekalian, bapak/ibu guru, ustadz-ustadzah, tenaga pendidik dan kependidikan, Yayasan Pondok Pesantren  Daru Ulil Albab, dan anak-anak  siswa-santri,  yang saya sayangi dan saya  banggakan.
Perintah ta’awudz atau berlindung kepada Allah sebelum membaca al-Qur’an, mungkin menjadi pertanyaan bagi kita. kenapa Allah SWT mengutamakan itu, jadi yang pertama adalah ta’awudz kok bukan membaca basmalah? Artinya basmalah dinomor duakan dari pada  ta’awudz. Ternyata, karena dari situlah muncul konsep-konsep atau aturan-aturan manusia, aturan agama yang namanya tadhorru’, hurmat wa ta’dhim dan tawadhu’(sesuatu yang sangat urgen dalam kehidupan bermasyarakat), supaya kita depe-depe dengan sangat serius dan dengan keterikatan hati, supaya kita senantiasa  tadhorru’ kepada Allah SWT.
Hurmat dan Ta’dhim adalah menghinakan diri kita atau merendahkan diri kita dihadapan asma Allah yang Maha Agung. Dan  dimana saja kita selalu menyebut asma Allah, mensyi’arkan nama Allah, nabi, ulama’, masjid, al-Qur’an dalam lain-lain syimbul-simbul keberadaan Allah,adalah dalam rangka hurmat dan ta’dhim kepada Allah SWT. Kalau Ta’dhim kita mengagungkan asma Allah SWT dimana saja, itu merupakan bentuk ta’awudz pada Allah SWT dimana kita sebagai hamba.
Ketika kita sebagai kholifatullah  (wakil Allah), kita lebih banyak melakukan yang namanya tawadhu’ dihadapan sesama kholifah yang lain maka kita tidak boleh menghinakan satu sama lainnya apapun statusnya. Ada kholifah di bidang konsumsi, tambal ban itu adalah wakilnya Allah juga,  untuk meratakan rahmatnya di dunia ini sebatas porsinya masing-masing tidak seperti menghormati kholifah yang lebih tinggi seperti raja, pak lurah, pak RT, sehingga kita tawadhu’, apalagi kepada teman, sangat penting untuk mengutamakan dia dari pada kita sendiri, terlebih-lebih kepada guru-guru kita yang sangat berjasa kepada kita dan lebih tinggi dari kita,  maka kita harus hurmat dan  ta’dhim, sementara terhadap yang setara dengan kita menurut strata sosialnya, kita melakukan tawadhu’ dan menomorduakan diri kita. Itulah tawadhu’ dalam bentuk kehidupan sehari-hari.
Mungkin nanti bagi yang akan out bound, atau akan pergi kemana saja, maka bentuk tawadhu’ nya adalah mengghormati atau laporan, minta izin kepada yang  punya kuasa, seperti misalnya di hutan ada polisi hutan, kita hurmati dia, kita menghadap bag dengan bagus, kita lapor, karena dia adalah kholifatullahdi situ.
Dulu orang Hindu- Budha  atau orang primitif , belum mengenal Islam, maka mereka izinnya kepada danyang-danyang“mbah dayang kulo izin badhe nginep sedinten sedalu teng alas mriki“ . Karena memang belum ada kholifahnyadi situ. Sekarang zaman Islam sudah ada kholifah termasuk di hutan sudah ada kholifahnya namanya kholifah fil ghobah ,maka izinlah, bila ada karcis, belilah, ikuti aturan yang bagus maka kita akan dilindunginya bahkan diansuransikan.
Sedangkan di tempat-tempat lain yang belum ada kolifahnya  cara islam bukan tawadhu’ kepada para danyang, karena mereka adalah jin-jin yang juga rakyat kita, juga termasuk makhluk kita, kita adalah kholifahnya, sehingga izinnya kepada Allah SWT langsung, atau sekedar etika saja, maka caranya begini
Allhummarzuqnaa khoiro hadzalmakaan wa khoiroo maa fiihi minal jinni wal insii wasyyayaathiin wa na’udzubika minsyarri hadzalmakaan wa min syarri maa fiihi minal jinni wal insii wasyyayaathiin birohmatika yaa arhamarrohimiin
“Ya Allah kami memohon anugrah kepada-Mu atas kebaikannya tempat ini  dan apa saja yang ada di dalamnya baik dari jin, manusia, maupun syaiton, dan aku berlindung kepada-Mu dari buruknya tempat ini, dan apa sajayang di dalamnya, baik   dari jin, manusia, maupun syaiton karena rahmat-Mu wahai Dzat Yang Maha Penyayang “.
Dalam berdo’a dengan do’a diatas, kadang yang kita dulukan  jin kadang  manusia, apa yang terlintas di benakmu itulah yang paling sensitif dan itu adalah yang kita mintakan perlindungan Allah. Bentuk ta’awudzatau mohon perlindungan kepada Allah SWT kepada yang nampak maupun tidak nampak.
Tapi juga begitu , jika kita sebagai kholifah tugasnya adalah melindungi dan memberikan rasa aman, semakin tinggi tingkat kekholifahanseseorang, semakin besar tanggungjawabnya,tanggung jawab  untuk mengayomi, melindungi dan memberikan rasa aman. sehingga semakin tinggi jabataan seseorang, semakin terhormat dan mulia, karena dia mewakili Allah SWT dengan wilayah otoritasyang semakin luas.
Karya, penghormatan atau jabatan struktural kekholifahan atau kepemimpinan  tidak seperti kerja fisik, berbeda pula dengan jabatan fungsional, gaji fungsional berdasarkan kemanfa’atannya. Penghormatan atau honor itu pada  hakikatnya ada tiga,  yaitu honor kerja fisikal, honor kerja intelektual, dan honor kerja spiritual.
Artinya honor kerja fisikal,  yaitu honornya para kuli dan nilainya paling rendah, selanjutnya honor kerja intelektual adalah konsep-konsep ilmu, pengajaran dan nilainya lebih tinggi dari fisikal dan yang ketiga honor kerja spiritual yaitu design-design ilmu yang namanya karya seni, maka jadilah kalian menjadi para seniman agama yang mampu mendesign dunia ini yang mewakili al-Badi’ mewakili perancang yang Maha Agung yaitu Allah SWT.
Selanjutnya kita akan membahas yang kedua, yaitu mulainya surah Al-Fatehah, sebelum kita akan kita bahas pengantar yang khusus dan istimewa, sebelumnya yang bisa dilepas di mana saja, terlepas dari surat al-fatihah itu sendiri, yaitu basmalah. Suatu pesan moral agar kita berakhlak kepada semua manusia yang dengan akhlaknya Allah SWT yaitu Rohman dan Rohim. Basmalah inilah inti al-Qur’an jadi intinya ada di basmalah bahkan dari para sufi ada  intinya yang menyatakan, bahwa intinya al-qur’an intinya berada di huruf bak nya kata basmalah.
Di sini kita akan melakukan kristalisasi atau mentadabburi  nilai-nilaiakhlaki al-Qur’an yang harus kita pegangi sebagai kholifah Allah SWT, di antaranya kita kemana saja harus mengungkapkan makna dari basmalah. Kemana saja harus nengungkapkan, menampak-nampakkan  bukan nama kita sendiri, Allah lah yang Maha Agung, Allahlah yang kita wakili, jangan pelit-pelit menyebut nama Allah baik dengan ar-Rohman maupun dengan ar-Rohiim yaitu Allah SWT, selalu menyebut nama Allah SWT tertanda bahwa kita sudah mengagungkan asma Allah-Nya. ketika kita tawadhu’dan tadlorru’ itulah, kita telah membawa dan mengagungkan asma-Nya dengan sebaik-baiknya.

Bagikan Posting ini

Tentang Kami

Pesantren Terpadu yang didirikan oleh Yayasan Pondok Pesantren Daru Ulil Albab. Insya Allah siap mengemban amanat anda. Untuk menjadikan putra-putri anda pemimpin bangsa, / ulama’/ cendikiawan / konglomerat yg bertaqwa kepada Allah, dan berakhlak mulia Facebook

0 komentar:

Tentang Kami-Pendaftaran-Contact
Copyright © 2013 Pondok Pesantren - DARU ULIL ALBAB. Blogger Template by BloggerTheme9
Proudly Powered by Blogger.
back to top