Kajian Nilai-nilai Al Quran - Pendidikan Karakter dalam Ta'awudz (Bagian 1)

Posted at  09.47  |  in  pondok pesantren


Berlindung Kepada Allah
 Menifestasinya dalam Kehidupan
(Bagian 1)
Oleh : Dr. KH. Kharisudin Aqib, M. Ag

Allah SWT mengajarkan kepada kita semua dalam Al-Qur’an surah An-Nahl ayat 98:[1]

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

Artinya; “Apabila kamu membaca Al Qur'an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk”.
Kita akan mengkaji hal yang pertama tentang sesuatu yang diperintahkan Allah SWT , kata-Nya “apabila kamu membaca Al-Qur’an maka mohonlah perlindungan pada Allah SWT dari syiton yang terkutuk” sehingga muncul tradisi dan adat kita sebelum membaca Al-Qur’an adalah membaca ta’awudz baru kemudian membaca basmalah. Bahkan dalam surah tertentu dan ditengah-tengah ayat tertentu tanpa membaca basmalah. Maksudnya adalah Allah SWT mengajarkan pada kita beretika, berkarakter yang baik yaitu karakter qur’ani.
Yang pertama kali disosialisasikan oleh Allah SWT dengan nama ta’awud. Dari konsep ta’awud tersebut muncul istilah-istilah akhlaki berikut ini; Tadhorru’, Ta’dhim wal hurmat dan Tawadhu’. Itulah yang harus kita tanamkan pada diri kita.
Kepada Allah SWT kita harus Taqorrub atau depe-depe,  dengan mengatakan a’udzubillahiminassyaitonnirrojiim. Sebelum membaca al-Qur’a . Kenapa harus ta’awudz, apa al-Qur’an ini ayat-ayat syaiton?? Bukan. Tetapi Al-Qur’an ini adalah kalamullah yang sangat  interpretatif (karena kata-katanya simpel tetapi  bermakna banyak). Tetapi al-Qur’an ini menggunakan kata-kata yang namanya mustarok (satu kata banyak arti). Maka kalau ada orang yang hatinya kotor, tidak bagus, tidak sholeh,  maka al-qur’an bisa jadi dibuat untuk membela diri atau untuk kepentingan dirinya. Rosulullah saw sudah me-warning yang artinya

Siapa yang menafsirkan al-Qur’an se-enaknya sendiri,  maka dia harus siap-siap menjadi pejabat neraka di akhirat kelak. Oleh  karena itu orang yang betul-betul menafsirkan al-Qur’an ini betul-betul yang harus ulul albab(dzufikrotin saalimatin khooliyatin ‘anilhawa) yaitu orang yang memiliki fikiran yang sehat  dan  bebas dari hawa nafsu.
Kita harus selalu mempunyai pijakan sebelum membaca al-Qur’an yaitu harus fasta’idzbillah (mintalah perlindungan kepada Allah)agar penafsirannya tidak dibarengi dengan nafsu dan tidak karena kepentingan duniawi atas nama agama atau menjual agama. Na’udzubillahi min dzalik.
Ta’awud Ini harus kita tanamkan pada diri kita,  dari syaiton yang yuwaswisufisudurinnas.(memberikan bisikan atau intuisi di dalam hati setiap orang),minal jinnati wannas(baik berupa jin maupun manusia), Ayat yang harus kita baca adalah ta’awudz yaitu meminta perlindungan dan kita bisa bertadabbur, mangapa harus seperti itu ? ternyata itu ada rahasianya yang besar sekali, yakni supaya kita berkarakter yang baik  yaitu karakter qur’ani.  Bahwa kita ini berdiri antara Allah SWT dan manusiaatau berada dialam barzah. Nyatanya kita berada di alam bawah,  tapi hati kita ada di alam tengah, begitu pula obyek komunikasi kita ada dua,  yaitu Allah SWT, manusia  dan alam semesta, maka akhlak kepada Allah SWT juga ada dua  posisi, satu posisi sebagai hamba dan satu posisi sebagai kholifah Allah SWT atau wakilnya Allah SWT.
Sebagai hamba,  dari  bacaan ta’awudzitu , kita harus bersihkan hati dengan cara depe-depe, sehingga ta’awudz ini untuk banyak hal,  yang penting adalah kita selalu minta perlindungan dari syaiton,  karena syaiton adalah makhluk Allah juga,  maka caranya adalah dengan mengadukannya  kepada yang punya. Jadi nanti Allah lah yang akan menghalau, tidak usah kita lawan sendiri,  karena kita akan kalah dengan syaiton . Apalagi yang namanya iblis, itu sangat senior, seulama’ apapun seseorang itu,  akan kalah dengan iblis bahkan nabi Adam as pun juga kalah dari iblis, bagaimana caranya agar kita bisa menang,  yaitu kembalikan pada pemiliknya, Allah SWT.
Yang kedua,  manusia adalah sebagai kholifah Allah kita harus tawadhu’ dan hurmat, Allah yang maha tinggi kita harus hurmat, dalam arti maninggikan kalimat Allah SWT, kita hanya melaksanakan tugas Allah seperti tugas Allah di bidang pendidikan,  bagaimana kepala sekolah melakukan tugasnya, guru menyampaikan ilmunya, dll. Khususnya tentang ilmu,adalah sangat dimulyakan,  karena semuanya membutuhan ilmu, rosulullah saw bersabda:[2]
من اراد الدنيا فعليه بالعلم ومن اراد الأخرة فعليه بالعلم ومن اراد هما فعليه بالعلم.
Artinya:‘Barang siapa yang ingin sukses dunia maka harus mempunyai ilmu, barang siapa yang ingin sukses di akhirat maka harus dengan ilmu, barang siapa yang ingin sukses keduanya maka harus dengan ilmu”.
Sehingga seorang gurupenting untuk menjadi seorang distributor ilmu, sebagai hasil dari penghayatan hurmat ta’dhim pada Allah SWT,  karena itu adalah ilmunya Allah yang dipinjamkan, begitu pula sebaliknya Allah akan mencabut dengan mudahnya ilmu tersebut seperti misalnya dengan kecelakaan di kepala seseorang akhirnya ilmunya hilang. Seorang alim atau ulama juga harus meninggikan asma Allah SWT atau merendahkan dirinya, selalu menyammpaikan rasa hurmat kepada Allah karena kita adalah kholifah. Dan sebagai akhlaknya kita kita harus hurmat dan  ta’dhim terhadap kebesaran Allah SWT.
Sedangkan posisi kita dihadapan manusia bagaimana implementasi dari pada ta’awudz adalah kita hadapi manusia yang lebih tinggi jabatannya dengan hormat dan ta’dhim. Karena  semua yang diatas kita yang namanya ulul amri(yang mengurusi diri kita) adalah bapak kita,baik bapak kepala sekolah, bapak mertua, bapak kandung kita, yang mengasuh, mewakili kita, melindungi kita, kita harus melakukan ta’awudzdengan hormat dan mengagungkan.
Ingatlah nak-anak , kalian sekarang adalah orang kecil, tapi kalian kelak akan menjadi orang besar pada zamannya, maka sekarang berbaktilah kalian, berakhlaklah kalian, agungkan dan hurmati dia para bapak-bapak kalian, karena suatu saat kalian juga akan menjadi bapak-bapak, kalau kalian sekarang bakti kepada bapak-bapak kalian, nanti kalian akan dibaktiin oleh anak-anak kalian. Jadi kalau ada apa-apa yang penting, izinlah, minta petunjuk, pamit, itu akan membantumu dalam bentuk hurmat dan ta’dhim pada atasan atau bapak-bapak kalian
Birru abaa akum tabirrukum abnaa ukum, itulah pesan Rasulullah saw.
Semua orang yang menyebabkan mengatur kita adalah bapak-bapak kita maka berbaktilah kamu kepada mereka, pengen dibakteni orang maka baktilah sekarang kepada bapak kalian . itulah karakter pendidikan qur’ani yang harus ditanamkan pada diri kita masing-masing.
Sedangkan tawadhu’ itu adalah untuk orang yang setara dengan kita,  artinya adalah saling merendahkan diri sendiri,  bukan merendahkan diri orang lain, jika  ada saudara,  utamakan dia, ada teman sebaya dahulukan dia.  dan tawadhu’ inilah  kunci sukses
Man tawadho’a rofa’ahullah wamantakabbaro wadho’ahullah
Artinya: “Siapa yang bertawadhu’ maka Allah SWT akan mengangkat atau meninggikan dia dan siapa yang menyombongkan diri, maka Allah SWT akan merendahkannya”.
Itu adalah sistem alam,  karena setiap orang ada dalam dirinya karakter ketuhanan, menurut kitab Insan Kamilnya syeikh Al-Jilli,  bahwa ; setiap diri manusia ada yang namanya sifat Lahut dan nasut. Dan dalam diri Allah SWT juga ada Lahut dan Nasut, yang artinya lahut sifat ketuhanan dan nasut sifat kemanusiaan .
Bahwa setiap manusia ada kecenderungan diperlakukan bagaimana tuhan diperlakukan, seringkali kemanusiaan yang mempunyai sifat kebinatangan dan ketumbuh-tumbuhan  ataupun ketuhanan, maka perlakukan dia seperti apa yang seharusnya diperlakukan kepada Allah, tetapi tidak boleh sama. Seperti halnya kita mensikapi terhadap wakil pimpinan kita,  cukup kita menghormati dan mengagungkan tidak sampai maksimal, seperti terhadap pemimpin kita yang sesungguhnya,  tetapi tetap harus kita agungkan. Karena manusia cenderung senang bila kita agungkan dari pada dihinakan , karena  pada dirinya ada sifat lahut. Maka itu berikan penghurmatan dan kemulyaan pada saudara kita, kita ngalah, pasti manusia-manusia yang ada di sekitar kita akan  senang pada kita, sehingga kita akan sukses
Yang ketiga, jika kita sebagai kholifah,  maka karakter kita harus menjadi yang lebih tinggi,   harus melindungi dan bertanggung jawab atas keselamatan  anak buah kita, semakin tinggi jabatan seseorang semakin besar tanggung jawab terhadap anak buahnya, sebagaimana sikap Allah kepada kita, yaitu manusia. Sebagaimana  diri kita masing-masing untuk meminta dan mengharapkan perlindungan kepada Allah dari syaiton. Maka setiap pemimpin ini nanti akan dimintai pertanggungjawaban, nabi bersabda:[3]
كلكم راع,وكل راع مسؤل عن رعيته
Setiap kalian adalah pengembala atau pemimpin, dan setiap pengembala atau pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban terhadap gembalaannya kepemimpinannya. Maka ingat-ingat bahwa orangtua tanggungjawabnya terhadap anak-anaknya, suami tangungjawabnya terhadap istri dan keluarganya, guru tanggungjawabnya terhadap anak didiknya. Konsekwensinya sehingga semakin tinggi jabatannya honornya harusnya semakin besar karena tangungjawabnya besar,  bukan hanya di dunia saja tetapi di akhirat juga,  karena juga manusia adalah kholifatul fil ardhi. Jadi tidak boleh pesimis, wis saya tak dadi wong biasa ae. Tidak  boleh, Honor pemimpin yang tinggi  nanti upahnya juga besar dihadapan Allah dan semakin banyak peluangnya beramal sholeh yang nantinya akan dibanggakan Allah SWT dan rosulnya  

Bagikan Posting ini

Tentang Kami

Pesantren Terpadu yang didirikan oleh Yayasan Pondok Pesantren Daru Ulil Albab. Insya Allah siap mengemban amanat anda. Untuk menjadikan putra-putri anda pemimpin bangsa, / ulama’/ cendikiawan / konglomerat yg bertaqwa kepada Allah, dan berakhlak mulia Facebook

0 komentar:

Tentang Kami-Pendaftaran-Contact
Copyright © 2013 Pondok Pesantren - DARU ULIL ALBAB. Blogger Template by BloggerTheme9
Proudly Powered by Blogger.
back to top