Kajian Nilai-nilai Al Quran - Pendahuluan

Posted at  08.30  |  in  Pesantren Terpadu daru Ulil Albab


Puji syukur pada Allah SWT atas segala rahmat-Nya. Sholawat salam atas nabi Muhammad saw semoga kita mendapat syafa’at kelak, amin.
Dalam rangka menanamkan nilai-nilai Al-Qur’an yang mana ini merupakan inti pendidikan kita,  karena isi dari pada kerosulan nabi besar Muhammad saw adalah mengkaji al-Qur’an dan dalam rangka menyempurnakan akhlak saja. serta selama 23 tahun yang diajarkan hanyalah Al-Qur’an pula. Oleh karena itu rosulullah bersabda:[1]
انما بعثت لاتمم مكارم الاخلاق.
Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak.
Seperti yang digambarkan oleh A’isyah bahwasannya rosulullah adalah uswatun hasanah bagi kita semua, akhlak rosulullah adalah Al-Qur’an, yang membentuk pribadi beliau adalah al-Qur’an:[2]
لقد كان لكم فى رسول الله أسوة حسنة لمن كان يرجو الله واليوم الآخر وذكر الله كثيرا
كان (رسول الله ) خلقه القران.
“Sungguh pada diri rosulullah itu adalah contoh suri tauladan yang baik bagi orang-orang yang mengharap bertemu Allah dan selalu ingat pada Allah SWT sebanyak-banyaknya”.
Oleh karena itu bagaimana ini bisa terjadi pada diri kita sekalian, dan ini mungkin yang banyak disimpusiumkan, diseminarkan sampai sekarang tidak kunjung selesai. Apa yang disebut dengan akhlak dan karakter itu >
yang akan menjadi target pendidikan kita yang insya allah jawabannya adalah kita yaitu karakter pendidikan al-Qur’an. Jadi para pakar pendidikan mohon maaf mungkin tidak segera kembali kepada al-Qur’an karena masih sibuk berdebat, bagi orang mukmin yang baik adalah segera kembali kepada al-Qur’an, berpendidikan akhlak dan karakter al-Qur’an. Maka kami berharap supaya istiqomah sampai seterusnya, kita bisa sebagai cerminan atau bayangan pada rosulullah, karena rosulullah diciptakan untuk dicontoh. Beliau bukanlah superman, bukan malaikat, tapi manusia biasa (basyar).  maka tidak ada hal mustahil yang dapat kita contoh dari beliau.
Rosulullah membuat kurikulumnya adalah al-Qur’an, bukan hanya dibaca, dihafalkan,  tetapi juga diresapi, dihayati dan diamalkan. Ingat nabi Muhammad saw diperintahkan untuk iqro (bacalah) bukan tilawah. Artinya tilawah itu adalah tala – yatlu – tilawatan,  artinya membunyikan atau melafadkan.
Tilawaahitu dalam arti bunyi bacaan, tapi kalau qiro’ah adalah bacaan dalam pengertian ada analisis dan penghayatan kita. Tetapi tilawah juga penting,  asal tidak berhenti disitu saja, harus ada bacaan, penafsiran, dan  kajian,  sehingga kita bisa melanjutkan ketingkat qiro’ah nantinya. Selain itu al-Qur’an juga bisa sebagai penolong bagi pembacanya, seperti yang disabdakan Rasulullah saw. bahwa

al-Qur’an bisa menjadi penolong kalian di dunia agar sukses di akhiratpun juga sukses.caranya dengan mengadakan kajian al-qur’an, dan penghayatan nilai-nilai akhlakinya. Maka pendidikan ini penting sehingga pendidikan ini disebut  Pendidikan Karakter Qur’ani (PKQ).Pendidikan ini harus dibarengi dengan pembiasaan, dan pembiasaan ini adalahsangat membutuhkan intensitas interaksi di antara kita., sebuah konsep qur’ani yang sangat jenius, watawaasoubil haqqi wa tawaasoubissobr.
Salingmengingatkan inilah yang kita butuhkan, kita masih saling membutuhkan guru untuk belajar bersama. Maka untuk itu, para tenaga pendidik hendaknya menjadikan generasi al-Qur’an, pendidik yang betul-betul  ulul albab, pendidik yang ”berpesan binamurah” yaitu berilmu, pengasih, santun, bijaksana, murah hati dan amanah. Serta siswa-santri yang “Grapiyak” yaitu ; gemar berdzikir, rajin belajar, aktif kegiatan sosial, pandai bergaul, ikhlas dalam berjuang dan berderma, yakin danmengamalkan firman-firman Allah, amanah dalam melaksanakan tugas, kreatif dan inovatif. Ini semua juga isi dari al-Qur’an, karena itu kita nanti akan mencari makna dan isyarat apa saja yang terkandung dalam al-Qur’an, sehingga apa yang sudah kita baca selama ini bisa kita amalkan di dalam kehidupan sehari-hari,  dan itu membutuhkan proses. Kita ambil dari pemahaman nabi,wa hifdhal mursalin wailhamal malaikatil muqorrobin. Semoga kita selalu dalam bimbingan Allah SWT dalam setiap apa yang akan kita lakukan.
Dimana dalam hal ini, penting untuk kita kembangkan dalam pendidikan kita adalah ta’lim yakni pemberian informasi, danirsyad yakni bimbingan (langsung maupun tidak langsung) dan ta’dib(pembiasaan), dan untuk itu kita akan membentuk kebersamaan. Kalau dalam lingkungan kecil ini misalnya, maka harus ada guru, pengurus, santri yang tergabung dalam sebuah sistem sebagaimana digambarkan dalam pendidikan nasional, ini semua tidak lepas dengan yang namanya proses,sehingga terbentukah satu karakter permanen yaitu yang disebut akhlak qur’ani.
Karakter dalam sebuah  pendidikan artinya inner behavior, yaitu sikap dalam, sikap mental kita, sikap kepribadian kita. Seperti yang digambarkan oleh Al-ghozali yaitu Haiatun Nafsi atau kondisi kejiwaan, kondisi ruhaniyyah dalam mengapresiasi semua yang ada, sehingga menimbulkan sifat yang otomatis dan reflektif. Yang berasal dari sebuah proses yang edukatif. Berbeda dengan sifat yang masih asli atau keturunan, misalnya seseorang itu keturunannya orang sabar maka menyikapi sesuatupun dengan sabar dan sebaliknya.
Selain itu juga ada sikap insting atau ghorizah yaitu sikap seseorang yang reflektif sebagai makhluk hidup, seperti; ketika merasa lapar maka ia menangis, kalau senang tertawa dan lain sebagainya. Sedangkan tabi’at yakni karakter yang reflektif yang terbentuk lebih banyak karena proses sinergi sifat-sifat keturunan dari kedua ibu-bapak, kondisi lingkungan, bukan pendidikan yang “diprogramkan” pendidikan.Inilah mengapa, kita membutuhkan pendidikan yang keras, pengajaran yang keras, sehingga kita selalu dalam kebaikan yang namanya akhlaqul karimah.
Akhlaqul karimah yaitu,  sikap mental yang melahirkan perilaku reflektif sikap yang mulia, seperti;  suka menolong, suka membantu, apresiatif terhadap segala sesuatu yang dia ketahui dan dia sadari, dan bukan reflektif karena insting. Reflektif karena insting itu bukan akhlaq, reflektif karena thobi’in, natural itu juga bukan akhlaq, tapi akhlak adalah karakter yang reflektif dan edukatif baik formal maupun non formal. Suatu proses edukasi yang melahirkan akhlaqul karimah itu adalah yang ditargetkan oleh rasululloh SAW diutus di bumi ini,  dan cukup setelah selesai beliau diambil kembali oleh Allah SWT.
Dalam surah al-Maidah, ayat 3,Allah SWT berfirman:[3]
اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتى ورضيت لكم الاسلام دينا
,maka ayat tersebut menggambarkan  kesempurnaan agama islam. Kelengkapan semua yang ada di dalam al-Qur’anjuga digambarkan dengan ungkapan; maa farrothna fil kitabi min shaiin[4]. (tidaklah kami tinggalkan di dalam al-qur’an sesuatu apapun).
Selama 2 dasawarsa dimana 13 tahun di Makkah dan 10 tahun di Madinah merupakan model dan cerminan operasional agama kita.  Dan apa saja yang diajarkan semua sudah termaktub dan termuat dalam al-Qur’an baik yang berupa  peradaban, pemerintahan, kejayaan,ilmu pengetahuan  dan lain sebagainya. Oleh karena itu sebelum kita membaca al-Qur’an hendaklah kita memohon perlindungan kepada Allah SWT , agar senenatiasa mendapatkan perlindungan dari intuisi negatif dalam memahami al-qur’an.
Selanjutnya kita akan membahas lebih dalam lagi tentang pendidikan seperti apa yang harus kita pelajari dari al-Qur’an nanti. Insya allah...   


[4]QS: al-An’am ; 38.

Bagikan Posting ini

Tentang Kami

Pesantren Terpadu yang didirikan oleh Yayasan Pondok Pesantren Daru Ulil Albab. Insya Allah siap mengemban amanat anda. Untuk menjadikan putra-putri anda pemimpin bangsa, / ulama’/ cendikiawan / konglomerat yg bertaqwa kepada Allah, dan berakhlak mulia Facebook

0 komentar:

Tentang Kami-Pendaftaran-Contact
Copyright © 2013 Pondok Pesantren - DARU ULIL ALBAB. Blogger Template by BloggerTheme9
Proudly Powered by Blogger.
back to top