Tafsir Al Quran - Tafsir isyari akhlaqi praktis Surat Al-Fatihah

Posted at  06.31  |  in  Tafsir isyari akhlaqi praktis Surat Al-Fatihah


Tafsir isyari akhlaqi praktis Surat Al-Fatihah
Oleh:Kharisudin Aqib al-Faqir

Muqaddimah


Al-Qur’an Sebagai Petunjuk bagi Umat Manusia
Sebagai petunjuk , al-qur’an dapat diibaratkan sebagai cermin bagi manusia.karena memang al-qur’an, manusia dan alam semesta merupakan kalamullah (firman Allah), dan sekaligus sebagai tajalliyatullaah (bayangan Allah).Ketiga materi makhluk (“ciptaan” Allah), merupakanshuuroturrohman (gambaran al-Rahman). Sehingga pada diri ketiganya kita dapat melihat;  ‘wajah ,tangan,kaki dan bahkan diri ’ al-Rahman.Begitu juga sebaliknya, manusia dapat melihat dirinya sendiri, pada alam dan pada al-Qur’an.
Mus-haful qur’an (naskah kitab suci al-Qur’an), sebagai totalitas profil alam (word cosmos), atau alam yang berbentuk kata-kata, sebagaimana manusia yang merupakan microkosmos (alam kecil),memiliki bagian-bagian ; yang terdiri dari ; juz,surat,ruku’,ayat, kalimat dan huruf. (30 juz, 114 surat, ….. ruku’, 30 huruf hijaiyah dan  6666 ayat. Adalah gambaran tentang manusia dan juga alam semesta. Sehingga manusia itu hakekatnya (wujud dan berdirinya) berada di depan banyak cermin dan wujud diri yang sebenarnya, yaitu komunitas manusia, alam raya dan Allah swt sendiri.
Oleh karena itu al-Qur’an sebagai hudan (petunjuk) untuk bersikap baik secara lahir maupun batin, bagi manusia. Khususnya sikap batin atau akhlak dan karakter.Baik sikap batin terhadap Allah, sesama manusia maupun kepada makhluk lain. Sikap batin yang harus dilakukan dan dibiasakan hingga bersifat reflektif tetapi edukatif dari inpirasi al-Qur’an adalah;
1.     Sikap batin kepada Allah, manusia sebagai hamba dan kholifah-Nya.
2.     Sikap batin kepada sesama manusia (sebagai kholifah maupun hamba Allah)
3.     Sikap batin kepada alam semesta, termasuk flora dan fauna.

Surat Al-Fatihah
(Termasuk Surat Makkiyah juga Madaniyah, tujuh (7) ayat dan satu (1) ruku’).
Redaksi:
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ ﴿١﴾ الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ﴿٢﴾ الرَّحْمـنِ الرَّحِيمِ ﴿٣﴾ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ ﴿٤﴾ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ﴿٥﴾ اهدِنَــــا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ ﴿٦﴾ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمتَ عَلَيهِمْ غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ ﴿٧﴾
A.Terjemah:
001. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
002. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam,
003. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang,
004. Yang menguasai hari pembalasan.
005. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan
006. Tunjukilah kami jalan yang lurus,
007. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni`mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

B. Sekilas Tentang Surat  Al-Fatihah
Nama surat yang pertama dalam mushaf al-qur’an ini “al-fatihah”  yang berarti suatu pembuka. Surat al-fatihah ini adalah surat pertama yang diturunkan secara lengkap, surat al-fatihah harus dibaca di setiap roka’at dalam semua sholat (baik sholat wajib maupun solat sunnah), kata Nabi; Laa sholata  illaa bi faatihatil kitaab,(tidak ada sholat kecuali mesti harus dengan membaca al-fatihah).Sehingga al-Fatihah disebut sebagai as-sab’ul matsaani  (tujuh ayat yang diulang-ulang). Surat yang pendek ini bisa dijadikan sebagai do’a , ruqyah dan hadiah pahala (transfer energy spiritual untuk orang lain).
Surat al-Fatihah bagi al-qur’an adalahbagai muqaddimahnya UUD 1945,  bagi program computer, bagai layar deskop…, sehingga dari surat al-fatihah ini terurai ke dalam ayat-ayat dalam semua surat yang ada sesudahnya, mulai surat al-baqarah sampai dengan surat an-nas.

C. Isyarat-isyarat Penting dan penjelasan singkatnya.
Surat al-Fatihah (pembukaan) diturunkan kepada kita , agar kita mau membuka diri dan selanjutnya mengukir diri (jiwa) kita dengan platform  muqaddimah al-qur’an ini. Sehingga  gambaran  wujud dan gambaran jiwa kita adalah surat pembuka al-qur’an ini.Oleh karena itu surat al-fatihah ini harus selalu dibaca minimal dalam  setiap roka’at  sholat seorang muslim, agar terjadi proses internalisasi  nilai-nilai surat ini ke dalam jiwa setiap muslim. Inilah isyarat paling pentingdari Surat Al-fatihah.
Surat al-Fatihah terdiri dari tujuh (7) ayat, sebagaiisyarat  bahwa gambaran jiwa manusia yang berlapis-lapis sebagai isyarat dari Rasul “arruuhu junuudun mujannadah” (jiwa itu adalah pasukan yang berlapis-lapis). Jumlah ayat surat ini  sama persis  dengan jumlah lapisan diri (jiwa) manusia.Sehingga masing-masing ayat harus melekat, terukir atau tergambar dalam lapisan diri atau lapisan jiwa setiap muslim.
Ayat 1, (karakter- rahman-rahim) harus tergambar dalam totalitas raga/ badan (qalab), sekaligus jiwa yang paling dalam (lapisan jiwa ke 6 sampai dengan ke 1).ayat 2, (karakter suka hal-hal yang baik, dan ingin yang terbaik dan suka memuji) tergambar dalam lapisan  jiwa 1 (nafs).
Ayat 3, (karakter rahman-rahim)  tergambar secara khusus dalam lapisan jiwa ke 2 (qalb),Ayat ke 4, (karakter futuristik atau orientasi masa depan) harus  tergambar dalam lapisan jiwa ke 3 (ruh),Ayat ke 5, (karakter tauhid atau monoloyalitas) harus tergambar dalam lapisan jiwa ke 4 (sir),Ayat ke 6, (karakter perilaku lurus dan jujur) harus tergambar dalam lapisan jiwa ke 5 (khofi)Ayat ke 7, (karakter ekselen atau  unggul dan berbeda dengan yang lain) akan tergambar dalam lapisan jiwa ke 6 (akhfa).
Ayat 1;
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
“Atas nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”

Ayat ini mengisyaratkan agar setiap mukmin memerankan diri sebagai wakil Allah (khalifatullah), dalam kehidupan di dunia ini, dengan senantiasa memakai sifat Allah (karakter) yang rahmaan dan rahiim, dalam semua sikap,kebijakan  dan perbuatannya. Rahman dalam arti kasih sayang secara material sedangkan rahiim dalam arti kasih sayang secara spiritual (lebih maknawi dan hakiki).
Melakukan apa saja harus disertai I’tiqat (penghayatan)mempresentasikan sifat rahman dan rahiim Allah. Kita harus pandai-pandai mengatur, Kapan kita harus bersikap rahman, dan kapan harus bersikap rahim.Sikap rahman lebih merupakan presentasi dari sikap keibuan,sedangkan sikap rahim lebih merupakan sikap kebapakan. Ayat 1ini harus  tergambar dalam totalitas raga/ badan (qalab), sekaligus jiwa yang paling dalam (lapisan jiwa ke 6 sampai dengan ke 1).
Isyarat lain yang juga harus ditangkap dari ini adalah kita sebagai hamba harus senantiasa mengagungkan asma Allah swt.

Ayat ;2
الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Segala puji bagi Allah, Tuhan pemelihara semua  alam”
Isyarat Allah dalam ayat ini adalah agar manusia tidak gila pujian. Karena pada dasarnya yang berhak mendapatkan pujian adalah Allah. Karena Allah lah yang mengatur segala kejadian di alam semesta ini, bukan diri kita.tetapi hendaknya kita juga harus menyadari bahwa pada dasarnya semua manusia suka dipuji karena sifat ketuhanan yagada pada diri manusia, maka pujilah orang lain agarmereka senang (idkholus surur ) termasuk akhlak mulia. Kembalikan pujian kepada Allah jika menerima pujian dari orang lain. ayat 2 tergambar dalam lapisan  jiwa 1 (nafs), sehingga pujian adalah sesuatu yang sangat berkesan dalam jiwa manusia.
Ayat; 3
الرَّحْمـنِ الرَّحِيمِ
“Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”
Ayat di atas mengisyaratkan, supaya kita memakai dua sifat ini,dan dengan dua sifat Allah inilah yang harus dominan dalam diri manusia sebagai khalifah-Nya. Dengan kearifan menerapkan kedua sifat inilah manusia akan sukses sebagai khalifatullah dan mendapatkan ridlo-Nya.  Allah memakai sifat rahman kepada semua hambanya (baik yang ta’at maupun yang duraka), tetapi memakai sifat rahiim hanya untuk hamba-Nya yang dikasihinya (yang ta’at kepada-Nya). Isyarat ayat ini agar manusia bersikap seperti diri-Nya. Kepada semua pihak kita harus ar rahmaan dan kepada orang yang  yang percaya atau ‘orang dalam’ kita harus ar rohiim.Seperti dicontohkan oleh rasulullah saw dalam bersikap terhadap para sahabat dan keluarganya. ).  Ayat 3 ini harus tergambar dalam lapisan jiwa ke 2 (qalb),maka hati kita haruskita penuhi dengan sifat rahmah  (kasih sayang), dengan menejemen kearifan, kapan harus rahman, (material) dan kapan harus rahiim (hakiki dan spiritual).

Ayat ; 4
مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
“Yang menguasai hari agama ”.
Ayat ini mengisyaratkan agar manusia mengingat hari agama (hari datangnya sesuatu yang dijanjikan oleh agama, ) yaitu hari kiamat atau hari kematian, agar dirinya menyadari sehebat apapun dia pasti mati dan tidak berdaya sama sekali, yang berdaya dan menguasai dirinya pada hari itu adalah hanya Allah saja. ayat ke 4 tergambar dalam lapisan jiwa ke 3 (ruh). Ruh kita harus terukir dengan kemahakuasaan Allah di hari kiamat, serta ketidak berdayaan kita sebagai manusia, pada sa’at itu nanti.

Ayat; 5
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
“ Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan”
Isyarat yang dapat ditangkap dari ayat ini adalah, agar manusia itu menyembah dan memohon hanya kepada Allah, sebagai Tuhan Yang Maha Esa.Jangan sampai manusia itu terkecoh mentuhankan yang selain Allah dengan menggantungkan harapan dan penyembahan.Dengan memurnikan pengharapan dan penyembahan manusia akan memiliki kekuatan yang Maha dahsyat.ayat ke 5 tergambar dalam lapisan jiwa ke 4 (sir), jiwa kita yang tersembunyi ini harus terlukisi ikrar kepada Allah untuk senantiasa menjaga sikap dan prilaku kehambaan, seperti yang menjadi target penciptaan manusia dan jin oleh Allah swt.
Ayat; 6
اهدِنَــــا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ
“Tunjukilah kami jalan yang lurus”
Ayat ini mengisyaratkan bahwa, pada dasarnya manusia itu tidak mengetahui jalan yang lurus menuju kepada kebenaran (al-Haq atau Allah), kebenaran yang bisa dicapai oleh manusia melalui indra maupun akal manusia adalah kebenaran yang masih nisbi dan semu.Oleh karena itu seorang mukmin harus senantiasa memohon petunjuk dan bimbingan Allah swt untuk dapat mencapai shirotol mustaqiim.dan do’a ini sekaligus sebagai bentuk peribadatan yang sangat inti.ayat ke 6 tergambar dalam lapisan jiwa ke 5 (khofi).Di dalam jiwa yang paling dalam ini, kita harus senantiasa memohon petunjukAllah ke jalan hidup yang lurus menuju ridlo Allah dan surge-Nya.ayat ke 6 tergambar dalam lapisan jiwa ke 5 (khofi)
Ayat; 7
صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمتَ عَلَيهِمْ غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ
”(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni`mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”
Ayat ini mengisyaratkan pentingnya membaca sejarah umat-umat terdahulu dengan para nabi dan rasul-Nya.agar kita tahu siapa yang mendapat nikmat-Nya dan untuk kita jadikan figur, dan siapa yang mendapat murka dan tersesat jalan hidupnya, (orang-orang yang tidak percaya dan memusuhi para nabi dan rasulullaah).untuk dihindari pola hidup dan keagamaannya. Orang yang mendapat nikmat Allah, khususnya yang berupa iman dan amal sholeh, akan merasakan kenikmatan dan kebahagiaan hidup di dunia, berupa kebahagiaan (rasa tentram, damai, aman dan nyaman), sedangkan di akhirat ia amndapatkan kebahagian yang lebih hakiki dan abadi yang biasa disebut dengan jannah (taman surgawi). 
Mereka  orang yang dimurkai oleh Allah dan tersesat jalan hidupnya,   jangan  diikuti jalan hidupnya, karena itu dimurkai oleh Allah swt. dan cara hidup ini yang sesat (tidak sampai kepada Allah), yang pada akhirnya akan mendapatkan adzab Allah di dunia berupa penderitaan hidup,mungkin sakit,celaka , kesempitan rizki dan lain-lain.Juga adzab di akhirat, berupa penderitaan hidup di alam ukhrowi yang sangat pedih dan sangat lama, yang biasa disebut dengan neraka.

Bagikan Posting ini

Tentang Kami

Pesantren Terpadu yang didirikan oleh Yayasan Pondok Pesantren Daru Ulil Albab. Insya Allah siap mengemban amanat anda. Untuk menjadikan putra-putri anda pemimpin bangsa, / ulama’/ cendikiawan / konglomerat yg bertaqwa kepada Allah, dan berakhlak mulia Facebook

0 komentar:

Tentang Kami-Pendaftaran-Contact
Copyright © 2013 Pondok Pesantren - DARU ULIL ALBAB. Blogger Template by BloggerTheme9
Proudly Powered by Blogger.
back to top