Kajian Nilai-nilai Al Quran - Pendidikan Karakter dalam Bacaan Hamdalah

Posted at  13.31  |  in  Pendidikan Akhlaq


Nilai-nilai akhlaqi di  dalam ayat yang pertama atau yang  kedua yaitu hamdalahungkapannya adalah alhamdulillahirobbil’alamiinyang artinya; “segala pujian adalah milik Allah SWT yang memelihara dan  membimbing seluruh alam” . Kita harus yakin pernyataan Allah bahwa seluruhnya ini hanya milik Allah SWT, pemeliharanya juga Allah SWT, dan yang mengendalikan adalah Allah SWT, ketika kita mau melakukan apa saja dengan alam semesta ini kita tinggal menghubungi Allah SWT,  maka seluruhnya insyaAllah (kalau Allah SWT berkenan), selesailah semuanya, alhamdulillahirobbil’alamiin.
Hamdalah merupakan bagian dari pada pujian, ajaran untuk memuji,  bahwa seluruh pujian adalah hak miliknya Allah SWT mutlak, sedangkan yang lain adalah pinjaman dari Allah SWT. untuk kita bisa terpuji, maka kita harus selalu berakhlak mahmudah akhlak yang terpuji, selain itu kita juga harus selalu memuji Allah SWT dan itu merupakan bagian penghambaan kita yang tulus kepada-Nya. Sebuah kejujuran terhadap Allah SWT , bahwa kita memang butuh memuji Allah SWT karena memang semuanya, prestasi kita, apa saja yang kita miliki bukanlah hak kita yang sesungguhnya tetapi hak nya Allah SWT, oleh karena itu kita wajib mengucapkan alhamdulillahirobbil’alamiin ‘ala kulli hallin.
Senantiasa dan sering-seringlah kita mengucapakan alhamdulillahirobbil’alamiinkarena Allah SWT akan malu ketika meng’adzab atau akan meng’adzab atau tidak memberikan sesuatu kepada orang yang senantiasa memujinya,  di samping itu manusia diciptakan sebagai tajiliyyatullah (bayangan Allah SWT) karena dia adalah kholifahnya (wakil-Nya) di muka bumi ini, diberikan oleh Allah SWT potensi kecenderungan yang mirip Allah SWT yang namanya sifat lahut (ketuhanan) di dalam dirinya, sehingga ada kecenderungan juga manusia ini senang dipuji, makanya kita juga begitu kepada orang lain juga harus senang memuji selain yang paling utama kita harus bersifat  terpuji, hal-hal apa saja yang termasuk terpuji menurut syari’at khususnya menurut hati nurani adalah baik maka kita harus lakukan agar kita menjadi orang yang terpuji. Nabi Muhammad saw pun namanya adalah Muhammad dalam arti terpuji, itu adalah do’a dari orang tuanya,  dari kakeknya Abdul Mutholib,  beliau memberi nama Muhammad agar beliau menjadi orang yang terpuji. Tetapi sesungguhnya Allah SWT sendiri telah memberi nama kepada beliau namanya Ahmad,  yang artinya suka memuji dari ahmada artinya selalu memuji, maka nabi Muhammad pinter memuji dan suka memuji namanya dengan bahasa keren sekarang apresiatif  suka memberi penghargaan, kebaikan kepada orang lain. Jangan mudah mencela karena semua orang benci dan tidak suka dicela melainkan suka dipuji, maka kita harus selalu memuji tetapi kita ingat bahwa kita tidak boleh gila akan pujian,   karena kalau kita gila akan pujian akan menyebabkan kita hancur sedangkan kita hanya wakilnya Allah SWT tidak berhak untuk dipuji sungguh-sungguh, sedangkan kecenderungan kita masing-masing juga ingin dipuji, maka dari dalam kita jangan sampai kita gila pujian tetapi kepada orang lain selalulah beri pujian kepada mereka agar mereka senang. Cara memuji harus secara proposional dan tidak mengada-ada, kalau kita memuji tidak proposional namanya ‘bombong’ yang itu bukanlah perbuatan terpuji, pujilah yang seharusnya dipuji, tetapi kita yang dipuji janganlah gila pujian karena akan menghancurkan kita. Kalau terpuji kita diuji itu namanya ‘mongkrog’ yaitu menjadi besar hidungnya, kalau ditusuk itu langsung kempes. Orang kalau suka dipuji itu  seperti ‘plentus’ bahwa dia merasa dirinya berhak untuk dipuji, senang dipuji dan dia merasa dunia ini betul-betul miliknya sendiri, sehingga dia diletakkan di luar komunitasnya ternyata dia hanya seekor ‘plentus’ yang kalau ditusuk itu hilang energinya.
Ujian juga termasuk diantara trik untuk menjatuhkan orang, maka berhati-hatilah juga selain jangan gila pujian ingat bahwa pujian juga merupakan trik mengalahkan seseorang. Yang pandai akan hal itu salah satunya syaiton atau jin mereka berhasil mengalahkan orang-orang sakti dengan diberi pujian dengan begitu mereka akan mongkrok sehingga mudah untuk ditusuk dan akhirnya jablas. Maka kita sendiri tidak boleh gila akan pujian tetapi kita harus suka memuji karena pujian adalah bagian dari pada kebutuhan orang, mengapa? Karena naturalnya dan dalam diri manusia ada sifat ketuhanan yang memang pemilik dan suka untuk dipuji, jadi kita harus berlaku terpuji, suka memuji, tetapi kita tidak boleh gila pujian. Ingat karena pujian itu biasanya mematikan, memabukkan, bahkan banyak orang yang mabuk ketika dipuji, maka berhati-hatilah terhadap pujian-pujian barangkali ada maunya, kita harus tahu strategi orang termasuk strateginya syaitan, jin dan sebagainya.
Ketika kita dipuji bagaimana sikap kita?, kita harus mengembalikan, bahwa pujian itu hanyalah milik Allah SWT dengan mengungkapkan alhamdulillahirobbil’alamiin, dengan kesadaran, bahwa pujian itu bukan hak saya, tetapi haknya Allah SWT . kita hanya sekedar diberikan titipan, amanah, prestasi apa saja itu dari Allah SWT, karena pernyataan Allah alhamdulillahirobbil’alamiinselalulah bersikap terpuji, berakhlak terpuji, terpuji menurut syari’at agama, terpuji menurut Allah SWT jangan terpuji menurut syari’atnya syaitan, jangan terpuji menurut komunitas orang-orang yang tidak sholeh. Terpuji ukurannya adalah standar syari’at agama ketetapan Allah SWT , akhlakul karimah menurut versinya Allah, sehingga kita harus mempelajari apa akhlakul karimahnya menurut Allah SWT dan apa akhlakul karimahnya menurut syaitan. Ini yang harus kita lakukan bagaimana berlaku terpuji, suka memuji dan tidak boleh gila pujian. Berhati-hatilah dengan pujian karena pujian adalah bagian yang memabukkan, apalagi pujiannya ‘menggombal’ , perempuan laki-laki yang biasanya sering memuji itu biasanya namanya rayuan gombal dan itu pasti mematikan, kita tidak boleh gampang mabuk karena itu bisa jadi orang jahat, seorang laki-laki yang bukan muhrimnya itu 90%nya kita harus waspada, bisa jadi itu adalah senjata untuk melemahkan kita agar kita takhluk di dalam pujian tersebut.
Dari hamdalah, alhamdulillahirobbil’alamiin ini juga terkandung maksud sebagai ungkapan rasa syukur, hamdalah ini pujian, maka kita harus selalu mengungkapkan pujian alhamdulillahirobbil’alamiinini yang merupakan rasa syukur, apapun bahasanya, apapun bentuknya, kita  senantiasa harus bersyukur kepada banyak pihak khususnya kepada Allah SWT   dan kedua kepada menusia. Manusia-manusia yang berjasa kepada kita, kita harus syukuri. Rosulullah saw bersabda “Siapa yang tidak bisa bersyukur kepada manusia maka dia tidak bersyukur kepada Allah SWT” Man lam yashkurinnas lam yashkurillah” siapa yang tidak pandai bersyukur kepada orang tidak akan dinilai dan dianggap bisa pandai bersyukur kepada Allah SWT. Maka ahklak kita kepada orang-orang yang berjasa kepada kita walaupun kecil, kita harus selalu bersyukur dan berterimakasih jangan lupa selalu mengatakan terimakasih atas bantuan apapun walaupun sangat kecil, karena kecil itu masing-masing kita mempunyai kecenderungan yang berbeda. Orang yang memberi jasa kepada kita itu seringkali dan kebanyakan berkeyakinan bahwa pemberiannya  itu adalah besar, nilainya besar sementara kita yang diberi cenderung menganggap bahwa pemberian itu kecil. Karena kondisi yang kontradiktif inilah kita harus hati-hati (ihtiyat) selalu bersyukur dan berterima kasih walaupun menurut kita sebenarnya kecil, jangan kita menilai kecilnya pemberian itu, tetapi nilailah siapa yang memberi itu. Kepada manusia atau kepada Allah SWT jangan menilai pemberian dari besar kecilnya tapi nilailah siapa orang yang memberi, maka itu harus selalu kita ucapkan terima kasih. Orang yang tidak pernah berterimakasih baik dengan kata apalagi dengan perbuatan tidak akan dinilai sebagai orang yang berterima kasih kepada AllahSWT, syukurnya kepada Allah SWT  dianggap dusta, hanya lisannya saja. Maka kita harus pandai bersyukur kepada siapa saja yang kita anggap memberi jasa kepada kita, diberi sms peringatan, pinjaman bulpoin sebentar, hanya dikasih kesempatan duduk di depannya yang mana semua itu kelihatannya kecil, tapikita harus tetap berterima kasih.
Terima kasih itu ungkapan bahasa Indonesia yang sangat bagus, terdiri dari dua kata yaitu ‘terima’ dan ‘kasih’, ketika kita menerima harus ganti mengasihi, pengungkapan atau pemaknaan dari kata terima kasih juga harus diamalkan itulah ta’awun tolong menolong tidak ada yang boleh gratis, kamu menerima apa dari saudaramu maka kamu harus memberi apa pada saudaramu dan berilah yang lebiih baik dari yang kamu terima apalagi diberi penghormatan.
 Allah SWT  berfirman “waidza huyitum bitahiyyatin fahayyu biahsana min ha au rudduha”kalau kamu diberi penghormatan oleh saudaramu maka balaslah penghormatan itu dengan lebih baik atau paling tidak sama.
Ini berlaku bukan hanya urusan uluk salam , tetapi dalam semua urusan kita, kita diberi makan ketika di rumah teman dengan tahu-tempe maka , ketika teman kita datang kepada kita,  maka berilah dengan tambahan tahu tempe dan ikan itu namanya biahsani minhaatau sama tahu tempe lagi, kalau kita di ‘bos’ i satu kali oleh teman kita maka kita gantian menge’bos’i satu kali kalau bisa dua kali, tetapi kalau belum bisa membalas, kita harus memohon kepada Allah SWT untuk bisa membalas, dan berazam akan membalas. Kalian harus bisa bercita-cita memberi yang lebih baik, kepada orang yang telah memberi kebaikan kepada kita, nyatakan hutang kepada dirimu sendiri. Kepada guru-guru kita, kita telah berhutang budi maka nyatakan dalam diri kita bahwa  kita akan membalas budi baik guru-guru kita tersebut,  kalau bisa 10 kali lebih baik dari pada yang telah mereka berikan. Minimal saya akan selalu doakan,  semoga Allah SWT menbalasnya dengan berlipat-lipat, itu namanya konsep dalam bahasa indonesia terima kasih, kalau kita menerima harus ganti mengasihi.

Bagikan Posting ini

Tentang Kami

Pesantren Terpadu yang didirikan oleh Yayasan Pondok Pesantren Daru Ulil Albab. Insya Allah siap mengemban amanat anda. Untuk menjadikan putra-putri anda pemimpin bangsa, / ulama’/ cendikiawan / konglomerat yg bertaqwa kepada Allah, dan berakhlak mulia Facebook

0 komentar:

Tentang Kami-Pendaftaran-Contact
Copyright © 2013 Pondok Pesantren - DARU ULIL ALBAB. Blogger Template by BloggerTheme9
Proudly Powered by Blogger.
back to top