Kajian Nilai-nilai Al Quran - Pendidikan Karakter dalam Ayat 3 Surat Al-Fatihah


Surat Al-Fatehah ayat ke-3, yaitu Arrohmannirrohiimالرَّحْمـنِالرَّحِيمِ ﴿٣﴾adalah ayat yang sangat penting kita internalisasikan nilai-nilainya di dalam akhlak kita sehari-hari. Kata ini sepertinya sederhana,  tetapi ini adalah kata yang sangat menentukan  terhadap kesuksesan  hidup kita di dunia ini , karena ketika kita menyikapai segala sesuatu, melaksanakan segala sesuatu harus berbasis dengan kata ini , yaitu Arrohman-arrohiim, kita sebagai hamba Allah SWT maka senantiasalah kita berakhlak kepada-Nya dengan  meyakini, bahwa Allah adalah rohman  dan rohim , sehingga apa saja yang diberikan oleh Allah SWT kepada kita, kita berhusnudzon (berbaik sangka)  kalau bukan karena rohmannya  juga pasti karena rohimnya atau mungkin kita selalu hati-hati, ketika kita tidak mendapatkan kebaikan menurut kita,  maka yakinlah bahwa itu sifat rohimnya Allah SWT (karena menyayangi kita), yakinlah bahwa itu ada maksud baik Allah SWT di balik itu semua,  karena Allah SWT punya banyak cara untuk memberi pelajaran kepada kita, baik tentang sesuatu khususnya yang tidak mengenakkan, itu merupakan pelajaran yang terbaik untuk kita dan itu juga merupakan nasehat terbaik, ilmu terbaik  yang Allah SWT berikan.
Oleh karena itu kita harus berhusnudzonkepada rohman-rohim-Nya. Begitu juga sebaliknya ketika kita mendapatkan kebaikan-kebaikan,maka juga begitu jangan sampai kita menjadi sombong,  karena  bisa jadi itu adalah ujian bagi kita,  atau justru kita menjadi terperosok ke dalam kebaikan itu. Sudah banyak sekali contoh orang yang sukses, orang yang kelihatannya mendapat kebaikan tetapi sebenarnya itu adalah awal dari pada kehancurannya,  karena tidak bisa menyikapinya dengan baik, mereka lupa bahwa itu adalah sifat rohmannya Allah SWT bukan rohimnya Allah SWT.
Kondisi yang baik itu sebetulnya adalah ujian  bagi kita,  apakah  kita dapat menyikapi kebaikan yang Allah telah berikan itu dengan bijak, karena  akibat dari segala sesuatu itu lebih banyak  sesuai dengan sikap kita. Seperti karunia mendapat kaya, pinter, ganteng, dan cantik atau yang lainnya,  kalau kita tidak mensyukurinya atau menyikapinya dengan bijaksana, bisa jadi itu akan menjadi bumerang bagi kita selanjutnya. Dan itu semua adalah misteri bagi kita, kita harus selalu berhusnudzon kepada Allah SWT  bahwa itu adalah kebaikannya Allah SWT.
Istidroj atau dielu-elu itu adalahsuatu kebaikan, yang sebenarnya adalah penghancur dan penyesat diri kita. Sehingga jika  kita mendapat sesuatu yang baik menurut anggapan kita, maka kita harus berhati-hati jangan-jangan itu bumerang, kita harus ber-istighfar Astaghfirullahal’adzim ya Allah.. jadikanlah kebaikan ini betul-betul membawa berkah, bahwa ini adalah amanat-Mu ya Allah maka aku akan laksanakan sebaik-baiknya”. Kalau kita lupa dan menyombongkan diri, “OOhh aku kok” nanti akhirnya ‘mlentung’ seperti ‘plenthus’ sehingga selesailah kesuksesan seseorang dan dia akan jatuh ke dalam kehancuran.
 Ketika ada kebaikan kita sikapi dengan hati – hati, karena  bisa jadi itu adalah sifat rohmannya  Allah SWT saja,  di mana itu sebetulnya bukanlah yang terbaik untuk kita, ketika kita tidak baik “ Ya Allah kenapa saya masih bodoh, ya Allah kenapa saya masih jelek”, inilah maksud baik Allah SWT di balik kenyataan itu dan itu merupakan rahasia Allah SWT. Maka kita harus belajar keras ketika gagal akhirnya mencoba terus, ketika sakit akhirnya menganalisa kekurangannya apa, teruslah intropeksi diri, itulah cara Allah SWT memberi ilmu bermacam-macam caranya dan itu adalah sifat Arrohmannirrohiimnya Allah SWT
Ketika kita sebagai hamba Allah SWT dan kholifatullah atau wakilnya Allah SWT dalam bentuk apa saja, kita harus senantiasa bersikap rahman-rohim oleh karena itu dalam surat al-Fatehah diulang dua kali  arrahman arrohim itu. Karena begitu pentingnya maka rosulullah saw menyatakan setiap perbuatan yang bernilai dan tidak diikuti dengan pernyataan ini maka Allah SWT tidak bertanggungjawab, dibiarkan oleh Nya fahua aqtok aw abtar dia  akan terputus , maka kita harus selalu beroriantasi terhadap rahman rohim nya Allah SWT.
 Bapak ibu guru,  kita semua harus rahman rohim,sedangkan kita yang jadi calon kholifah ,  yang masih jadi anak-anak dan murid atau jadi santri juga harus senantiasa berhusnudzon pada ulil amri kita , yaitu orang tua dan guru-guru kita, di mana mereka yang mengurus kita, mendidik kita. Terhadap sikap  guru kita, seperti misalnya bapak ibu guru kita ‘kereng’ (galak) pada kita,  maka kita harus berhusnudzon, karena itu adalah sifat rohimnya yang muncul. Kamu dipukul, dijewer, semuanya harus diterima dengan sikap mental yang bagus, karena  begitulah cara guru memasukkan ilmu pada kalian , mungkin karena sulitnya kalian ditegur. Ketika guru memuji dan berbuat baik terhadap kita, orang tua kita baik terhadap kita, kita harus hati-hati jangan-jangan ini ‘ngelulu’ “Aku kok disangoni akeh terus”  (saya kok dikasih uang saku banyak terus), sebenarnya kita sedang diuji, apakah anak  ini  pemboros atau anak yang pintar, apakah dia pujian maniak (gila pujian) atau anak yang cerdas sehingga kita harus bisa menyikapinya dengan hati-hati. Jangan dilihat baiknya saja, apakah benar baik ini karena beliau menggunakan ilmu rohimnya jangan-jangan itu adalah rohmannya dia yang memberikan atau menuruti semua, kalau kita telan bulat-bulat,  jadilah kita seperti ayam potong, yang mana ayam potong itu hanya ‘glinak-glinuk’ saja,  yang tidak kuat melakukan apa-apa, jadilah kita pohon yang rapuh,  pohon yang besar tetapi ketika terhempas angin langsung patah,  maka kita akan jatuh, itulah ibaratnya, kalau  kita menelan bulat-bulat sifat rohmannya orang tua kita.
Menyayangi untuk kebaikannya,  bukan menyayangi untuk keinginannya itulah  orang tua yang sedang memberikan rohimnya kepada anaknya. Kalau setiap kali keinginan anaknya diberikan maka sebagai anak kita harus berhati-hati, kalau setiap kali keinginan kita tidak  juga dikabulkan,  kita harus berbangga berarti mereka menginginkan kita kreatif,  bagaiman caranya menggunakan uang yang sedikit untuk bisa cukup, atau tidak dikasih uang saku sama sekali,  agar kita bisa kreatif mencari sendiri. misalkan di sekolah kita membawa jajan untuk dijual, karena banyak orang yang sukses karena hal kecil seperti itu.
Hampir semua orang yang sukses itu,  karena uang sakunya sedikit, dan kebalikannya dimana seseorang yang mempunyai uang saku banyak kebanyakan justru  tidak sukses. Kepada siapa saja, (ketika kita menjadi ulil amrinya) kita juga harus melaksanakannya dengan sifar rohman . Dan secara khusussifat rohim, yang diberikan kepada siapa saja yang kita cintai dengan sepenuh hati, seperti  terhadap;  istri, suami, murid, dan lain sebagainya, tidak semua yang mereka inginkan kita berikan,  tapi semua yang dia butuhkan betul-betul kita harus turuti.
Kemampuan untuk bisa memenejemeni,   bagaimana bisa menyikapi dengan tepat,  kapan harus rohman,kapan harusrohim , inilah yang disebut dengan kecerdasan spiritual. Kita manusia ini diberi oleh Allah SWT banyak kecerdasan yang secara garis besar kedalamannya ada empat tingkatan,  yang disebut dengan kecerdasan kinestetik, kecerdasan intelgensi, kecerdasan emosi, dan kecerdasan spiritual. Dari kesemuanya itu yang paling penting adalah kecerdasan spiritual, karena kecerdasan spiritual adalah kecerdasan kepekaan isyarat-asyarat ilahi, kemampuan meanning (memberi makna-makna dalam setiap peristiwa).
Sedangkan kecerdasan adalah kemampuan untuk memberi respon dengan cepat, dan tepat  dalam setiap sesuatu. Orang yang cerdas bisa merespon sesuatu dengan cepat dan tepat dalam bidang apa saja sesuai dengan rangsangan yang diterima. Misalkan dalam bidang yang bersifat emosi, kepekaan  kita dalam  merespon perasaan teman,dan atau perasaan orang lain,itu namanya kecerdasan emosionalnya tinggi. Kalau kita bisa merespon pukulan dengan cepat dan tepat, ada bola datang langsung tendang dengan cepat dan tepat, itu namanya cerdas kinestetik.  Kalau ada pelajaran matematika, biologi, mengahafal dan lain sebagainya dan kita bisa menjawab dengan cepat dan tepat itu namanya kecerdasan intelgensi. Dan yang disebut kecerdasan spiritual adalah kecerdasan atau kemampuan kecepatan dan ketepatan merespon sesuatu yang bersifat intergratif dan  mengkorelasikan atau menghubung-hubungkan antar peristiwa dengan baik.
Kecerdasan spiritual adalah  jembatan untuk semua kecerdasan, dan ini yang paling kita butuhkan dan harus kembangkan, dan kita asah. Setiap kita punya kecerdasan ini, kalau dalam peta ilmu neoropsikologi atau neorotika yaitu ilmu tentang peta otak, peta neuron atau serabut-serabut saraf. Seperti ada otak kanan otak kiri, otak tengah, otak belakang dan lain sebagainya. Dan pengendalinya otak tengahlah yang menjadi sentral kecerdasan spiritual. Kalau orang jawa dulu sudah mengenal dengan bagus,  sehingga mereka banyak yang menjadi winasis, atau orang-orang ahli hikmah,  atau orang bijaksana, itu karena kecerdasan spiritualnya lebih bagus dari kecerdasan lainnya. Sehingga mereka bisa bertahan dalam kehidupan yang panjang, terdesak, misalnya miskin tetapi tetap bahagia, terjajah bisa tetap bahagia, sakit bisa bersyukur, semua itu karena orang-orang yang cerdas dalam spiritual. Dalam peta otak kita, bagian  itu kalau orang jawa menamainya ‘mbon-mbonan’ atau  ubun-ubun, bagian kepala tempatnya yang paling lama kerasnya, paling baru untuk terbentuk menjadi satu, pada umur berapa bulan itu masih ‘endhut-endhut’ ,  itulah tempatnya untuk ‘disuwuk’ atau ditimbul oleh orang jawa dulu, yang maksud dan  fungsinya untuk menguatkan kecerdasan spiritual,  menyatukan multi kecerdasannya. Oleh karena ketika berjabat tangan kepada orang tua, guru, supaya menunduk betul,  agar ubun-ubun nya juga ke’sebul’ ketiup do’a,  biar cerdas spiritualnya. 
Bagaimana kita mengasah kecerdasan spiritual kita ini , dengan baik tidak ada lain jalannya kecuali mengasah kecerdasan spiritual dengan dzikrullah  mengingat Allah SWT, menyambungkan tempat atau peta god spot (titik tuhan) mengfungsikan titik tuhan itu, menghubungkan titik itu dengan tuhan namanya dzikrullah, merenung, tafakkur, itu mempercerdas spiritual kita,  agar kita menjadi lebih baik dan mampu bertahan dalam semua kondisi kita, membaca al-Qur’an juga bagus. Sholat khusunya, adalah media yang paling bagus untuk mengasah kecerdasan spiritual itu, kemudian dzikrullah ‘formal’ setiap selesai sholat. Untuk mengaktifkan otak tengah kita , maka kita harus konsentrasi dalam sholat dan dzikir-dzikir ,  jangan bercanda saja, jangan ikut-ikutan saja.
 Kalian lihat gambarnya orang-orang yang meditasi itu,  konsentrasi yang sukses itu manakala sudah ubun-ubunnya menyala atau bercahaya, itu tandanya bahwa ubun-ubunnya orang itu atau pada “god spot”nya  sudah connecteddengan tuhan, orang yang selalu seperti itu maka di mana saja dia ada lampunya ada diteksinya. Tetapi juga jangan salah,  ada orang-orang yang lebih bijak lagi , malah tidak kelihatan auronya.Tapi itu justru yang lebih tinggi, karena dia sudah bisa mengkombinasikan seluruh cahaya atau auranya dalam bentuk yang sempurna, tidak ada warnanya lagi. kalau kitamelihat orang yang cahayanya atau auranya berwarna ungu,  maka orang itu berarti ilmunya tinggi, kecerdasan spiritualnya sudah hidup walaupun mungkin tidak sempurna atau tidak berkombinasi dengan kecerdasan yang lain dengan baik,  atau dengan akhlak yang lain secara harmonis.

Bagikan Posting ini

Tentang Kami

Pesantren Terpadu yang didirikan oleh Yayasan Pondok Pesantren Daru Ulil Albab. Insya Allah siap mengemban amanat anda. Untuk menjadikan putra-putri anda pemimpin bangsa, / ulama’/ cendikiawan / konglomerat yg bertaqwa kepada Allah, dan berakhlak mulia Facebook

0 komentar:

Tentang Kami-Pendaftaran-Contact
Copyright © 2013 Pondok Pesantren - DARU ULIL ALBAB. Blogger Template by BloggerTheme9
Proudly Powered by Blogger.
back to top