Kajian Nilai-nilai Al Quran - Pendidikan Karakter dalam Ayat 5 Surat AL Fatihah

Posted at  18.11  |  in  اياك نعبد واياك نستعين


اياك نعبد واياك نستعين
Ayat yang ke lima adalahاياك نعبد واياك نستعينIyyakana’budu wa iyyakanasta’iin artinya "hanya kepada-Mu lah kami menyembah dan hanya kepada-Mu lah kami mohon pertolongan", ayat ini memberikan pencerahan kepada kita sebagai hamba Allah SWT, dan makhluk-Nya, sesuatu yang berada pada posisi bawah. Pada empat ayat sebelumnya mengungkapkan Allah SWT sebagai tuhan dan kita sebagai kholifahnya(wakil-Nya yang memimpin makhluk lainnya). Pada surat al-Fatehah ini , memiliki tujuh ayat,  maka empat ayat memberikan ilham, isyarat, dan informasi,  bagaimana kita bisa menjadi kholifah yang baik, menjadi raja, dan penguasa di muka bumi ini. Karena kita lebih banyak diperintah oleh Allah SWT untuk menjadi penguasa,  dan setiap kita lebih banyak pula memiliki kecenderungan untuk menjadi raja daripada menjadi hamba, sehingga posisi empat ayat  lawan tiga ayat, kalau tujuh ayat artinya empat ayat ini mengisyaratkan  dan memerintahkan supaya kita menjadi penguasa (khalifah) pada masa depan yang lebih kuat,  kalau tidak mampu, baru menjadi hamba.
            Manusia memang tidak bisa menjadi raja sepenuhnya, karena manusia hanya menjadi raja secara simbolik, raja sesa’at pada waktunya saja namun sesungguhnya raja yang abadi hanyalah Allah SWT, tetapi setidaknya kita pernah menjadi raja di bumi ini. Masa kita saat menjadi raja pun kita juga masih menjadi hamba, sebagai hamba Allah SWT maupun raja – raja yang lain,  maka ayat yang ke lima sampai ayat yang ke tujuh itu memberikan isyarat ketika kita menjadi hamba atau ketika kita menjadi bawahan, disitulah sikap-sikap yang diajarkan oleh Allah swt.
Akhlak dari ayat ke lima sampai ke tujuh ini menuntun kita sebagai seorang hamba, yang pertama pada ayat ke lima memberikan dua isyarat, tuntunan penghambaan atau peribadahan yang kedua tentang permohonan. Hakikat daripada peribadatan adalah keta’atan, dalam ayat yang lain Allah SWT berfirman; أطيعواالله وأطيعوا الرسول و أولى الأمر منكمati’ullah wa atiurrosuul wa ulil amri minkum. Ada tiga orang yang harus kita ta’ati, satu kepada Allah SWT, dua Rosulullah, tiga kepada ulil amri. Ketaatan kpada  ketiga person inilah yang disebut dengan tribakti (bakti terhadap Allah SWT, bakti rosulullah  dan bakti kepada ulil amri).
Ketiga sasaran keta’atan ini termanivestasikan di dalam kehidupan kita, terselenggarakan dalam kehidupan kita, dalam bentuk aturan hukum maka al-Qur’an mewakili Allah, al-Sunnah mewakili Rasulullah dan perundang-undangan mewakili ulil amri. Sedangkan dalam bentuk person atau profil  di mana kita harus ta’at dalam kehidupan sosial terwujud pula dalam suatu simbolik  perwakilan.Siapa yang mewakili Allah SWT di muka bumi ini, siapa yang mewakili rasulullah saw di muka bumi ini, dan siapa yang mewakili ulil amri dalam kehidupan kita semua harus jelas.
Orang tua adalah profil  yang mewakili Allah SWT. kalau dalam filsafat jawa dikatakan:wong tuo pengiran katon atau tuhan yang nampak di muka bumi, sehingga Rosulullah saw bersabda:
 رضى الله فى رضى الوالدين و شخط الله فى شخط الوالدين.                                                                      ridhollahi fi ridhol walidain wasukhtullahi fisukhtul walidain:  artinya “ keridhonya Allah SWT itu terletak pada ridhonya orang tua dan murkanya Allah terletak pada murkanya orang tua” ,   jadi orang tua adalah menivestasi tuhan di muka bumi ini, dialah yang menyebabkan kita ada di dunia ini , maka kita harus ta’at kepadanya sampai pada tingkat mencari keridloannya. Apa yang disebut dengan ridho? Ridho adalah bangga, dan ridho ini berbeda dengan izin,  maka carilah ridho orangtua dan kalian akan mendapatkan ridhonya tuhan.
Siapa manivestasi dan perwujudan Rosulullah saw di muka bumi ini?. Beliau adalah guru-guru kita, beliau adalah utusan Allah SWT untuk memberikan ilmu kepada kita semua. Setiap rosul adalah nabi, nabiyyun itu artinya pembawa berita agung,  sehingga setiap rosul pasti nabi tetapi tidak setiap nabi adalah rosul. Guru-guru kita diibaratkan sebagai rosulullah (utusan Allah),  maka syarat sebagai guru harus ‘alim (berilmu),  karena dia adalah wakilnya Allah SWT untuk menyampaikan ilmu kepada kita. dialah ripiter  informasi yang masuk kepada  kita, dari dialah ilmunya Allah SWT sampai ke kita, dari dialah kita tahu jalan yang benar dan jalan yang salah.
Seorang guru tidak hanya sekedar menyampaikan informasi,(sebagaimana juga para nabi) guru harus menyampaikan informasi sekaligusmotifasi (basiroon wa nadziroon)pemotivator yang bagus, senantiasa mengarahkan ke jalan yang benar dan tidak mengarahkan pada jalan kesesatan. Kalau ingin ikut bersama saya ke jalannya Allah SWT lewat sini.....,Ini ada jalan sebelah kanan, orang-orang yang aktif lewat jalan kanan namanya ashabul yamin  jalan menuju syurga. Sedangkan orang yang selalu melalui jalan sebelah  kiri namanya ashabul shimal, dan orang-orang yang aktif di sana dipandu oleh syetan menuju neraka. Maka jangan ikuti dia, kalau mau  boleh saja,  tapi kalau yang di sini harus ikut ashabul yamin jalan kanan semua,  karena di sini hanya mengajak ke syurga saja.  jadi kalau kalian tidak mau diajak ke syurga ya jangan di sini, di sini khusus untuk yang mau diajak ke syurga.
    Seorang guru harus menyampaikan informasi yang jelas, yang namanya basiroon wa nadziroon. maksudnya,menjeaskan indahnya syurga dan menakut-nakuti adanya neraka, karena dia adalah wakilnya rosulullah. Ada yang yang menyebutkan bahwa seorang guru itu  lebih utama dari pada orang tua,  karena katanya guru adalah orang tua ruhani kita,  dan karena sebab gurulah kita akan bisa kembali ke syurga. Sementara orang tua kita adalah sebab kita dari syurga menuju dunia. Sehingga guru dan orang tua itu lebih tinggi guru jika seandainya orang tua tidak berfungsi sebagaimana guru juga, pokoknya orangtua melahirkan saja membesarkan saja dan tidak mendidik sama sekali, maka statusnya dia hanya orang tua saja. Tetapi orang tua kita hampir tidak ada yang hanya sebatas orang tua,  tetapi kebanyakan  mereka juga sekaligus sebagai guru, bahkan guru pertama kita, sehingga orang tua kita lebih mulia dari guru harian kita, karena orang tua kita adalah madrosatul ula sekolah pertama kita,untuk mengenal Allah. Sehingga nanti ketika kalian kelak menjadi orang tua, jangan sampai hanya menjadi orang tua saja, dan jangan sampai kedahuluan orang lain untuk menjadi guru pertama dari anak-anak kalian untuk mengenal Tuhan dan mengetahui  jalan menuju syurga.
Perwujudan dari ulil amri adalah semua atasan kita, baik atasan kita di dalam kerja, masyarakat, sekolah, maupun kantor. Setiap pihak  yang mengurusi kita,  maka kita harus ta’at kepada mereka,  karena dia yang akan mengurusi kita dan bertanggungjawab kepada atasannya juga kepada Allah SWT. Sehingga Allah SWT mengajarkan keta’atan kita terhadap ketiganya dengan baik dan runtut yaitu kepada Allah SWT, Rosulullah saw dan ulil amri,  serta perwujudan dalam kehidupan sosial kita adalah kepada orang tua, guru dan pemimpin kita, kita  harus ta’ati dengan baik.
Ayatاياك نعبد واياك نستعين iyyaka na’buduu wa iyya kanasta’in , “hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu lah kami mohon pertolongan”, ungkapan ini mengisyaratkan bahwa kita ini harus setia “hanya kepada-Mu” ketika menjadi anakharus betul-betul ta’atnya  harus loyalitas kepada orang tua kita. Ketika kita menjadi murid kita juga harus loyal betul kepada guru-guru kita, supaya mereka tidak cemburu, kita tidak boleh mendua. Ungkapkan, nyatakan dan tumbuhkan di dalam hatinya, bahwa panjenengan adalah  guru saya satu-satunya. Kalau kalian bisa begitu,  sukses akan menyertai kalian, semua guru merasa dia adalah guru satau-satunya,  dan itu adalah sukses yang luar biasa. Karena semua guru akan ada rasa cemburu ketika muridnya itu perbapaling kepada yang lain,  pasti tidak senang, maka ketika pada masing-masing guru secara pribadi,  maka ungkapkanlah bahwa dia adalah guruku satu-satunya. Kepada ulil amri juga begitu jangan kita mendua, ikut sana, ikut sini, karena pasti akan dianggap khianat bermuka dua, sehingga biasakan bahwa kita harus menunjukkan kalau kita setia penuh kepada ulil amri kita, tidak kepada yang lain.
Dari dua ungkapan iyya kana’budu wa iyya kanas ta’in juga mengisyaratkan kepada kita akhlak yang bagus, selain monoliyalitas dan kesetiaan tunggal, juga ayat itu mengajarkan bahwa dalam kita memohon pertolongan, dukungan, gaji, dan hak itu adalah di belakang,setelah menunaikan kuajiban. Kita harus melakukan dulu kewajiban kita dan keta’atan kita (iyya kana’budu) dulu baru (wa iyya kanasta’iin)kita ta’at dulu baru kita meminta sesuatu yang menjadi hak kita, jangan kita menuntut hak sebelum melaksanakan kewajiban, biasakan tradisi ini maka kita akan sukses.
Mudah-mudahan sukses dan ridho Allah SWT senantiasa menyertai kita semuanya sehingga kita akan memiliki akhlak qur’ani yang diharapkan pendidikan rosulullah saw.amin

Bagikan Posting ini

Tentang Kami

Pesantren Terpadu yang didirikan oleh Yayasan Pondok Pesantren Daru Ulil Albab. Insya Allah siap mengemban amanat anda. Untuk menjadikan putra-putri anda pemimpin bangsa, / ulama’/ cendikiawan / konglomerat yg bertaqwa kepada Allah, dan berakhlak mulia Facebook

0 komentar:

Tentang Kami-Pendaftaran-Contact
Copyright © 2013 Pondok Pesantren - DARU ULIL ALBAB. Blogger Template by BloggerTheme9
Proudly Powered by Blogger.
back to top