Kajian Nilai-nilai Al Quran - Pendidikan Karakter dalam Ayat 5 Surat AL Fatihah 2

Posted at  10.03  |  in  اياك نعبد واياك نستعين


Karakter Pengabdi dan Etika Pengabdian
Ada konsep yang bagus di dalam penghambaan dan peribadatan, istilah Indonesianya adalah pengabdian. Artinya, menjadikan diri kita sebagai abdi atau hamba,  maka di dalamnya ada tiga obyek pengabdian, yaitu; kepada orang tua, kepada guru, dan kepada atasan atau pimpinan kita, sebagai manifestasi dari keta’atan kepada Allah, Rasulullah dan ulil amri.
Bisa disebut pengabdian manakala ada empat unsur penting di dalamnya, yang pertama adalah keta’atan dengan penuh (monoloyalitas), yang ke-dua pengharapan atas kebanggaan atau mencari ridho, yang ke-tiga mengagungkan, dan yang ke-empat menjaga nama baik, itulah yang disebut dengan pengabdian. Untuk keta’atan sesuai yang kita bahas kemarin bahwasecara sosiologis kita harus ta’at kepada orang tua, guru, dan atasan.Sedangkan secara yuridis adalah keta’atan pada teks al-Qur’an, as-sunnah, keputusan para ulama, pemimpim kita, dan  ijma.
Selanjutnya adalah mengharapkan ridho atau kebanggaan,dari personal yang kita bakti-in, yakni suatu karya atau amal sholih yang diperbuat bukan dalam rangka mencari  upah atau uang. Jika motifasi perbuatan itu mencari uangnamanya  adalah bekerja, bukan pengabdian. Kalau mencari ridho,  adalah bagaimana supaya guru kita bangga kepada kita, orang tua juga bangga kepada kita, atasan kita pun juga bangga kepada kita.
Maka praktisnya dalam kehidupan ini ada etika-etikanya yang harus kita bangun, dan bagaimana caranya agar mereka tahu kalau kita mencari ridho-nya, misalanya; seperti orang tua kita datang kita harus menyambutnya; (berdiri minimal), kalau bisa kita menyambutnya dan datang menghampirinya, kemudian sungkem, berjabat tangan. Ketika kita di depan nya,  kita mundur, ketika kita di atas kita turun, kalau kita punya yang  baik kita kasih yang terbaik, kalau beliau sudah duduk kita duduk di bawahnya. Kalau mereka tidak ada, (baik masih hidup maupun sudah maupun sudah meninggal dunia), maka kita harus menjaga nama baiknya. Dalam bahasa jawa disebut“mikul duwur mendem jeru”,  semuanya orang-orang yang kita mulyakan; baik guru, atasan, pimpinan kita, kita jaga nama baiknya,  dengan seperti itu,kita mengharap ridhonya. Dan marilah senantiasa kita lakukan,  karena itulah bagian
Orang yang disebut mengabdi atau berbakti itu endhingnya harus bisa mikul duwur mendem jeru (mengangkat tinggi-tinggi dan mengubur dalam-dalam), sehingga kita akan berakhir dengan baik. Mikul duwur artinya kita harus meninggikan namanya, walaupun dia sudah tidak ada atau lagi tidak ada. Kalau terhadap orang tua namanya birrul walidain atau berbakti kepada orang tua, terhadap guru namanya birrul asatidz, kepada atasan namanya birrul ruasa’. Jangan berakhlak pengkhiyanat.Kalau di depan memuji-muji, jika di belakangnya menjelek-jelekkan. Namanya pembohong besar dan penghianat,orang yang seperti itu harus di eksekusi karena sudah menjadi orang munafik. Di dalam tradisi santri,  ada yang namanya manakiban,yaitu membacakan biografi khusus yang baik-baik saja bagi para syekh,orang tua atau gurunya. Itu juga yang di maksud dengan mikul duwurbaik kepada orang tua, guru, dan pemimpinnya.
Selanjutnya mendem jeru adalah menanam dalam-dalam,  maksudnya adalah  kalau kita mengetahui keburukan atau aib orang tua, guru, atau atasan kita,  maka kita tutup rapat-rapat dan kita tanam dalam-dalam. Karena Allah SWT menjajikan barang siapa yang mikul duwur mendem jeru pasti akan dinaikkan dan akan ditutupi pula keburukan atau kejelekannya, barang siapa yang menutupi aib saudaranya maka dia (Allah SWT) akan maenutupi aibnya di akhirat kelak, siapa yang nenunjukkan kebaikan-kebaikan orang lain maka Allah akan menunjukkan kebaikannya kepada orang lain di belakang hari atau di akhirat kelak. Tandanya kalau murid tidak setia dia akan menyebarkan kejelakan gurunya i kepada orang lain, namanya ngorat ngarit dan na’udzubillahimindzalik. Kalau dia murid yang setia maka dia pasti akan melakukan mikul duwur mendem jeru , karena ketiga-tiganya itulah orang tua kita.
Orang tua secara biologis adalah orang tua yang membawa dan menghadirkan kita dari syurga ke dunia ini. Orang tua secara spiritual, atau orang tua ruhani adalah yang membawa kita dari dunia menuju syurga. Sampai ada yang menyebutkan, bahwa guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa, kita bisa mulia, hebat juga karena guru kita. Orang  tua juga adalah atasan kita, jangan dibuat sepele karena itu adalah jabatan dari Allah SWT untuk meng-upgreat kita, meningkatkan kita dari tobaqon an tobaqin (dari satu ke tingkatan ke pada tingkatan  yang lebih tinggi). Tingkatan-tingkatan itu misalnya; dari guru tidak resmi menjadi guru resmi sampai  guru sertifikasi semua jasa seorang atasan, jadi apa saja yang kita lakukan adalah karena ada gurunya, kita harus mengikuti kata Allah SWT; لكل شيئ سبب فأتبع سبب. likulli syaiin sababa wa atsba’a sababa setiap sesuatu itu ada sebabnya maka ikuti sebab itu karena mereka adalah orang tua kita.Bapak itu macam-macam, ada bapak biologis, ruhani, dan bapak karier.  oleh karenanya seperti sabda nabi Muhammad saw.
بروا أباأكم تبركم أبنائكم.
birru abaakum tabirrukum abnaakum (baktilah kalian semuanya kepada bapak-bapak kalian. Kalau kalian sekarang bakti terhadap bapak-bapak kalian maka kelak anak-anak kalian akan berbakti kepada kalian), maka kepada bapak biologis, bapak ruhani, bapak karier, dan bapak keluarga(mertua) kita harus berbakti kepadanya.
Permohonan dan Tatacaranya
Yang selanjutnya adalah isti’anah (permohonan), dan permohonan itu harus dilakukan setelah melakukan peribadatan atau pengabdian, kita harus melakukan pengabdian, baru  kemudian  permohonan. Allah SWT berfirman:واستعينوا بالصبر والصلاة وانها لكبيرة الا على الخاشعين. wasta’iinu bissobri wassholah wa innaaha lakabiirotun illa ‘alal khosyi’in(mohonlah perlindungan dengan cara sabar dan sholat). Sabar itu artinya kalau kita memohon tidak boleh age-age kita harus sabar sesuai prosedur dengan cara terus melakukan apa yang harus kita lakukan terlebih dahulu. Ada yang memaknai sabar ini dengan puasa, karena puasa adalah bentuk dari pada kesabaran yang dapat menahan diri dari sesuatu. Atau kita maknai kedua-duanya,  kita tidak mendesak-desak,mengikuti prosedur dan juga puasa. Kalau kita punya hajat apa saja,  insayaallahAllah SWT juga akan mengijabahi dengan baik, asal kita mau bersabar  dan sholat.
Selanjutnya adalah dengan sholat, saholat telah kalian ketahui dengan baik, sholat artinya do’a, mengapa sholat? Karena di dalam sholat terdapat beberapa do’a, seperti do’a pada waktu duduk di antara dua sujud. Yaitu; robbighfirli, warhamni, wajburni,warfa’ni,  warzuqni , wahdini,  wa’afini wa’fu’anni.inilah delapan permata diri. Delapan permohonan ini insya allah akan diijabahi cukup dengan sholat assholat ay do’a .
Kalau kita masih kurang maka bisa merinci;warzuqni ilman nafia wa ‘amalan mutaqobala wa auladan shoolihahwaqolban khoosi’a  wazaujatan sholihah ,boleh saja tetapi sebenarnya Allah SWT sudah Maha mengerti.Waktunya butuh bayar listrik, sekolah dan lain sebagainya.  Kalau masih kurang puas boleh ditambahi lagi;Rizqonwaasian halaalan toyyiban mubaarokan syakhkhon ghodaqo ........ karena dengan berdo’a adalah mukhhul ‘ibadah (otaknya ibadah), dengan do’a pula kita sambung kepada Allah SWT karena ketika berdoa ingin bermesra-mesraan dengan-Nya.sehingga boleh kita berpanjang-panjang do’a dalam rangka memperlama berkomunikasi dengan Allah.  Boleh juga menambahkan sholat tambahan,  namanya sholat hajat, kemudian membaca doa   sesuai yang kita harapkan.
Dalam nilai-nilai isti’anah pertama,kita harus melaksanakan kewajiban,  yang kedua melakukan komitmen bahwa kita mohon itu hanya kepada Allah jangan sampai memohon kepada yang lain, demikian juga kepada orang tua kita, kita harus mohon hanya kepada orang tua. Jadi jangan sampai tahu, seandainya kita juga minta  kepada orang lain.iyyaka na’budu waiyyakanasta’in, kepada guru juga begitu, ketika kita mau menghadap harus fokus dan konsentrasi, melaksanakan keta’atan dahulu,  kemudian hanya monoloyalitas, yang ketiga bahwa kita harus memohon dengan bissobri wasaholah atau secara sosiologis, sekarang itu namanya prosedural (yang sesuai prosedur), dan proposal, (proposal adalah do’a resmi kita).
Demikian semoga sukses dan ridho Allah SWT senantiasa bersama kita semuanya. 

Bagikan Posting ini

Tentang Kami

Pesantren Terpadu yang didirikan oleh Yayasan Pondok Pesantren Daru Ulil Albab. Insya Allah siap mengemban amanat anda. Untuk menjadikan putra-putri anda pemimpin bangsa, / ulama’/ cendikiawan / konglomerat yg bertaqwa kepada Allah, dan berakhlak mulia Facebook

0 komentar:

Tentang Kami-Pendaftaran-Contact
Copyright © 2013 Pondok Pesantren - DARU ULIL ALBAB. Blogger Template by BloggerTheme9
Proudly Powered by Blogger.
back to top