Tafsir Al Quran - Tafsir isyari akhlaqi praktis Surat Al 'Alaq

Posted at  10.17  |  in  Tafsir isyari akhlaqi praktis Surat Al 'Alaq

Pengamalan Surat Ke 96 : Al-'Alaq
(Segumpal Darah)
Oleh : Abdulloh Kharisudin Aqib

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Dengan Asma Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
1. Mengetahui, bahwa Allah adalah Maha pengasih (kasih sayang yang bersifat material hidonistik) lagi Maha Penyayang (kasih sayang yang bersifat spiritual edukatif). Begitu juga seharusnya orang tua kita (baik orang tua biologis, sosiologis maupun struktural) sebagai wakil Allah di muka bumi ini.
2. Memahami dan menghayati, bahwa sebagai hamba Allah kita harus yakin dan husnudhon  bahwa Allah adalah Rahman Rahim. Dan sebagai Khalifatullah kita juga harus senantiasa bersikap Rahman dan Rohim.
3. Mendasari sikap mental dan karakter kita dengan dominasi sifat Rahman dan rahim.

  1. Ayat 1

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ , بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
"Bacalah dengan nama Tuhanmu​ yang telah menciptakan".

Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
1.      Mengetahui bahwa Allah adalah Maha Pencipta.
2.      Memahami dan menghayati, bahwa membaca dengan disertai menyebutkan Asma Allah (berdzikir) adalah sangat penting. Dan dengan kebersamaan antara membaca dan berdzikir ilmu akan menjadi manfaat dan berkah.
3.      Selalu berusaha untuk menyatukan antara membaca dan berdzikir. Setidaknya membiasakan membaca ta'awud atau basmalah atau berdoa sebelum membaca.

  1. Ayat 2
خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ
"Dia telah menciptakan manusia dari 'alaq (gumpalan darah yang menempel di dinding rahim)".

Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
  1. Mengetahui, bahwa manusia itu diciptakan oleh Allah dari sel telur yang telah dibuahi oleh sperma (yang membentuk gumpalan darah dan menempel di dinding rahim seorang ibu).
  2. Memahami dan menghayati, tentang pentingnya ilmu biologi dan kedokteran, khususnya bidang kandungan.
  3. Berusaha melakukan penelitian, mentafakkuri dan atau merenungkan asal kejadian diri kita sebagai manusia, yang sering kali bersikap tidak terpuji bahkan takabur

  1. Ayat 3
اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ
"Bacalah, dan Tuhanmu itu adalah Maha Mulia".

Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
  1. Mengetahui, bahwa Allah adalah Maha Mulia. Tidak ada yang lebih mulia daripada diri-Nya.
  2. Memahami dan menghayati, bahwa kemuliaan manusia adalah kemuliaan semu atau pinjaman Allah saja. Dia lah yang memiliki kemuliaan dan Maha Mulia.
  3. Tidak takabur dan menyombongkan diri. Tetapi juga tidak minder dengan orang "besar" atau orang yang takabur. Karena yang maha mulia hanyalah Allah SWT.

  1. Ayat 4
الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ
"Dia, yang telah mengajarkan ilmu dengan qalam (pena)".

Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
  1. Mengetahui, bahwa Allah adalah yang telah mengajarkan ilmu juga menggunakan alat dan teknologi, yaitu tekhnologi qalam.
  2. Memahami dan menghayati, betapa pentingnya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi bagi manusia. Khususnya tekhnologi informasi.
  3. Meniru cara kerja Allah sebagai Robbul 'aalamiin, dalam menyebarkan ilmu atau informasi,  harus dengan menggunakan alat dan teknologi yang terbaik pada zamannya.

  1. Ayat 5
عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
"Dia yang telah mengajari manusia, apa saja yang tidak diketahuinya".

Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
  1. Mengetahui bahwa hakekatnya, yang mengajari manusia sesuatu yang sebelumnya belum diketahui adalah Allah SWT. Baik sebagai inspirator langsung, maupun menggunakan mediator
  2.  Memahami dan menghayati, betapa sombongnya​ manusia yang kebanyakan melupakan peran Allah sebagai pengajar dan pemberi ilmu pada dirinya, yang tanpa peran-Nya tidak mungkin bisa mempunyai pengetahuan.
  3. Selalu mengingat Allah (dzikrullah), khususnya dalam kaitan peran-Nya sebagai pengajar kita.dan bersyukur kepada-Nya

  1. Ayat 6
كَلَّا إِنَّ الْإِنسَانَ لَيَطْغَى
"Sekali-kali tidak, Sungguh semua manusia itu benar-benar suka melampaui batas".

Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
  1. Mengetahui, bahwa semua orang itu memiliki kecenderungan untuk melampaui batas kebutuhannya. Itulah yang disebut dengan istilah nafsu syahwat.
  2. Memahami dan menghayati, betapa pentingnya kemampuan mengendalikan diri dan menjaga keseimbangan hidup, dan bahayanya melampaui batas, atau menuruti nafsu syahwat.
  3. Berusaha dan berjuang keras, untuk bisa hidup dalam keseimbangan dan keharmonisan dalam segala hal (tawasut, tawazun dan i'tidal), Sekalipun kita tahu bahwa itu adalah sesuatu yang sangat berat, karena melawan sifat bawaan sebagai manusia yang memang dilengkapi dengan nafsu syahwat

  1. Ayat 7
أَنْ رَآهُ اسْتَغْنَىٰ
"Bahwa, manusia memandang dirinya serba cukup".

Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
  1. Mengetahui bahwa manusia memandang dirinya serba cukup, sehingga seringkali melupakan berdoa dan memohon kepada Allah.
  2. Memahami dan menghayati, betapa sombongnya​ manusia, yang sering kali lupa bahwa dirinya serba kurang dan lemah. Karena sebenarnya manusia itu tidak bisa apa-apa dan tidak tahu apa-apa, kecuali diberikan daya, kekuatan dan pengetahuan oleh Allah SWT.
  3. Senantiasa menjaga kesadaran akan kelemahan diri seraya memohon pertolongan, petunjuk dan taufik dari Allah SWT

  1. Ayat 8
إِنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ الرُّجْعَىٰ
"Sungguh kepada Tuhan mu, tempat kembali itu".

Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
  1. Mengetahui, bahwa pada hakikatnya, Allah adalah tempat kembali segala sesuatu, termasuk diri kita sendiri.
  2. Memahami dan menghayati, bahwa Allah adalah tempat kembali dalam arti yang sesungguhnya dan seluas-luasnya. Allah solusi terakhir, hakim terbaik, wakil terbaik dan juga pewaris terakhir. Di samping juga Dia adalah tempat kembali nya hakikat diri kita (ruh kita).
  3. Selalu mengingat Allah sebagai penguasa dan penentuan segala-galanya. Kita pasti akan kembali ke hadirat Allah SWT. Seluruh persoalan hidup yang kita hadapi hendaknya kita adukan dan kita mohonkan petunjuk dan pertolongan Nya

  1. Ayat 9-10
أَرَأَيْتَ الَّذِي يَنْهَىٰ * عَبْدًا إِذَا صَلَّىٰ
"Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang,
Seorang hamba yang melakukan shalat".
Dua ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
  1. Mengetahui, bahwa Allah tidak menyukai orang yang melarang orang yang berusaha (sholat), karena itu bagian dari kebutuhan dan hak asasi manusia.
  2. Memahami dan menghayati, bahwa pentingnya kebebasan beragama dan melaksanakan peribadatan dan kegiatan-kegiatan ritual sebagai kebutuhan rohani.
  3. Tidak menghalanginya orang lain untuk sholat dan atau ibadah-ibadah yang lain. Bahkan seharusnya kita selalu mengajak dan memasyarakatkan kegiatan-kegiatan kerohanian itu. Sebagai upaya membangun kepribadian bangsa Indonesia yang utuh dan sempurna

10.  Ayat 11-12
أَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ عَلَى الْهُدَىٰ * أَوْ أَمَرَ بِالتَّقْوَىٰ
" Bagaimana pendapatmu jika dia (orang yang ibadah) itu dalam hidayah (petunjuk Allah), atau dia memerintahkan kepada ketaqwaan?".

Kedua ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
  1. Mengetahui, bahwa ada orang yang secara apriori karena ashobiyahnya, melarang orang lain beribadah walaupun orang tersebut jelas-jelas dalam kebenaran dan mengajak kepada taqwallah. Dan itu contoh sikap yang kita hindari.
  2. Memahami dan menghayati, bahwa sindiran Allah dalam ayat tersebut adalah sebuah perintah dan peringatan agar kita senantiasa bersikap Shidiq (jujur atau obyektif) dan toleran di dalam kehidupan beragama. Khususnya peribadatan dan taqwa.
  3. Bersikap mendukung terhadap aktivitas peribadatan dan amal sosial yang didasarkan atas petunjuk Allah dan dalam rangka ajakan kepada taqwallah

  1. Ayat 13-14

أَرَأَيْتَ إِنْ كَذَّبَ وَتَوَلَّىٰ * أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللَّهَ يَرَىٰ
"Bagaimana pendapatmu, jika dia (orang yang melarang..) tidak percaya dan berpaling dari peringatan Allah. Apakah dia tidak tahu, bahwa Allah itu melihat?".

Dua ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
  1. Mengetahui, bahwa orang-orang yang memusuhi para rasul (seruan dakwah), itu memang sengaja tidak mau beriman dan sengaja berpaling dari ajaran agama. Mungkin karena tidak suka, hasut gengsi, dan lain-lain. Tentu itu membuat hati kita tidak suka
  2.  Memahami dan menghayati, betapa pentingnya hidayah Allah terhadap keimanan seseorang. Disamping pentingnya sikap ikhlas dan tawakkal dalam berdakwah. Karena dakwah kita tidak bisa menjamin keimanan seseorang. Dakwah sekedar tugas Syariah.
  3. Tidak terlalu bersedih terhadap tanggapan negatif dari masyarakat, atas usaha dakwah kita. Tetapi tetap istiqamah dalam berdakwah (amar Makruf nahi Munkar) sebagai kewajiban agama. Karena sesungguhnya mereka juga sudah tahu kebenaran tsb

  1. Ayat 15-16
كَلَّا لَئِنْ لَمْ يَنْتَهِ لَنَسْفَعًا بِالنَّاصِيَةِ * نَاصِيَةٍ كَاذِبَةٍ خَاطِئَةٍ
" Sekali-kali tidak, jika dia tidak mau berhenti, Kami pasti akan mencabut ubun-ubunnya. Ubun-ubun sang pendusta lagi tukang berbuat salah".


Dua ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
  1. Mengetahui bahwa Allah sangat murka terhadap orang menentang ajaran agama dan menghalangi orang melakukan kebaikan-kebaikan.
  2. Memahami dan menghayati, betapa pentingnya sholat, sehingga orang yang melarang atau menghalang-halanginya akan dihukum keras. Dicabut ubun-ubunnya. Atau akan dihilangkan kecerdasan spiritualnya​, yang hardwarenya ada di ubun-ubun (otak tengah/ Mesenchepalon).
  3. Menghindari sikap keras kepala di dalam kejahatan. Juga mau mengingatkan orang yang menghalangi orang yang mau beribadah dan menentang ajaran agama Islam, dengan cara yang bijaksana

  1. Ayat 17-18
فَلْيَدْعُ نَادِيَهُ * سَنَدْعُ الزَّبَانِيَةَ
" Biarkan dia memanggil seruannya (yang dipertuhankan)* nanti Kami akan memanggil Zabaniyah (tim malaikat penjaga neraka)".

Dua ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:

  1. Mengetahui bahwa Allah sungguh sangat marah terhadap orang yang melarang seorang hamba untuk melakukan ibadah, khususnya sholat.
  2.  Memahami dan menghayati, gaya bahasa sindiran yang sangat halus dengan maksud yang sangat keras. Sehingga kita tahu, betapa menderitanya orang-orang kafir nanti di akhirat, karena mereka akan berhadapan dengan tim malaikat penjaga neraka (Zabaniyah).
  3. Tidak berani-berani menentang ajaran agama Islam, hanya karena ego dan kesombongan diri semata. Karena apapun yang kita andalkan atau kita pertuhankan selain Allah nanti pasti tidak akan ada artinya bila berhadapan dengan Zabaniyah (tim malaikat penjaga neraka)

  1. Ayat 19
كَلَّا لَا تُطِعْهُ وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ
"Sekali-kali janganlah engkau mentaatinya (orang kafir lagi durhaka itu), bersujud dan mendekatlah kamu (kepada Allah)".

Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
  1. Mengetahui bahwa kita tidak boleh mentaati dan mengikuti jalan hidupnya orang kafir lagi duraka kepada Allah.
  2. Memahami dan menghayati, bahwa beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah adalah jalan menuju kebahagiaan yang sesungguhnya. Sedangkan mentaati dan mengikuti jalan hidupnya orang kafir lagi duraka adalah jalan menuju penderitaan dan kemurkaan Allah SWT.
  3. Senantiasa membiasakan bersujud dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dan tidak mengikuti jalan hidupnya orang-orang yang tersesat.

Bagikan Posting ini

Tentang Kami

Pesantren Terpadu yang didirikan oleh Yayasan Pondok Pesantren Daru Ulil Albab. Insya Allah siap mengemban amanat anda. Untuk menjadikan putra-putri anda pemimpin bangsa, / ulama’/ cendikiawan / konglomerat yg bertaqwa kepada Allah, dan berakhlak mulia Facebook

0 komentar:

Tentang Kami-Pendaftaran-Contact
Copyright © 2013 Pondok Pesantren - DARU ULIL ALBAB. Blogger Template by BloggerTheme9
Proudly Powered by Blogger.
back to top