Tafsir Al Quran - Tafsir isyari akhlaqi praktis Surat Al Muzzammil


Pengamalan Surat Ke  73 : Al - Muzzammil
(Orang yang berselimut)
Oleh : Abdulloh Kharisudin Aqib

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Dengan Asma Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
1. Mengetahui, bahwa Allah adalah Maha pengasih (kasih sayang yang bersifat material hidonistik) lagi Maha Penyayang (kasih sayang yang bersifat spiritual edukatif). Begitu juga seharusnya orang tua kita (baik orang tua biologis, sosiologis maupun struktural) sebagai wakil Allah di muka bumi ini.
2. Memahami dan menghayati, bahwa sebagai hamba Allah kita harus yakin dan husnudhon  bahwa Allah adalah Rahman Rahim. Dan sebagai Khalifatullah kita juga harus senantiasa bersikap Rahman dan Rohim.
3. Mendasari sikap mental dan karakter kita dengan dominasi sifat Rahman dan rahim.
1. Ayat 1
يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ
" Wahai orang yang berselimut (nabi Muhammad)".
Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
1.       Mengetahui, bahwa Nabi Muhammad saw yang diseru oleh Allah SWT, pada saat itu sedang berselimut, baik berselimut karena kedinginan dan ketakutan, maupun berselimut masalah-masalah pemikiran, agama dan sosial.
2.      Memahami dan menghayati, betapa pentingnya seruan Allah terhadap solusi persoalan yang sedang menyelimuti kehidupan kita.
3.      Selalu berusaha untuk mendapatkan seruan dari Allah swt, dengan berdoa (sholat, khususnya sholat istikharah), atas segala macam kegalauan yang menyelimuti hati dan pikiran kita.
2.      Ayat 2
قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا
"Bangunlah di waktu malam, kecuali sedikit saja (untuk tidur)".
Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
1.      Mengetahui, bahwa Allah tidak berkenan kita tidur sepanjang malam dan tidak bangun-bangun. khususnya kalau lagi berselimut masalah.
2.      Memahami dan menghayati, betapa pentingnya bangun malam (qiyamullail), khususnya ketika kita lagi berselimut masalah.
3.      Pandai-pandai mengatur waktu di malam hari (4 jam ke 1, 4jam ke 2 dan 4 jam ke 3). kapan harus tidur dan kapan bangun. Sehingga kita bisa melakukan qiyamullail dengan baik dan tidak menggangu aktifitas esok harinya.


3.  Ayat 3
نِصْفَهُ أَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا
"Setengahnya, atau kurang dari setengahnya sedikit".

Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
1.      Mengetahui, bahwa tidur di malam hari yang baik itu cukup 6 jam atau kurang sedikit.
2.      Memahami dan menghayati pentingnya, menjaga keseimbangan tidur-bangun di malam hari. Sehingga Allah SWT perlu memberikan panduan cukup detail.
3.      Dapat membuat jadwal tidur-bangun di malam hari, berdasarkan panduan Allah dan tradisi para rasul, yaitu sepertiga malam yang ke 2: antara jam 21.sampai dengan jam 03

4.      Ayat 4
أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلاً

"Atau tambahlah dari separuh malam itu (6,5-7 jam), dan lantunkan Al-Qur'an dengan baik".

Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
1. Menambah lama tidur lebih dari 6 jam jika dirasa perlu, misalnya karena terlalu capek atau sakit. Tetapi dengan catatan menambahkan amalan, dengan melantunkan bacaan Alquran.
2. Memahami dan menghayati, betapa pentingnya pengaturan waktu tidur dan pentingnya tartilan Al-Qur'an di waktu dini hari.
3. Mengetahui menejemen waktu tidur-bangun, dan aktivitas ibadah dini hari. Qiyaamullail dengan sholat dan Tartilan Al-Qur'an.

5. Ayat 5
إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيلًا

"Sungguh, Kami akan memberikan kepadamu kata-kata yang berbobot".

Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
  1. Mengetahui tata cara mendapatkan hikmah2 atau kata-kata yang berbobot. Yaitu: qiyamullail dan Tartilan Al-Qur'an di waktu dini hari.
  2. Memahami dan menghayati, betapa pentingnya hikmah dan atau kata-kata yang berbobot bagi kehidupan manusia. Khususnya umat manusia yang beriman kepada Allah SWT dan hari akhir.
  3. Membiasakan diri untuk mewiridkan bacaan Alquran. Bisa dengan mengistiqamahkan surat dan atau ayat-ayat tertentu, seperti bacaan hizbul Qur'an Ulul Albab, atau membaca secara linier (terus ke depan sampai khatam). Atau membaca dengan Tartil sambil tadabbur. di waktu dini hari. Setelah qiyamullail

6.  Ayat 6
إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْئًا وَأَقْوَمُ قِيلًا

"Sungguh bangun malam (untuk membaca Alquran) itu masuknya (hikmah) lebih dahsyat dan kata-katanya lebih mudah dihafal".

Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
  1. Mengetahui, bahwa waktu terbaik untuk memahami, menghayati dan menghafalkan Al-Qur'an adalah waktu malam.
  2. Memahami dan menghayati, informasi dari Allah SWT itu bukan sekedar informasi, tetapi sebagai pegangan hidup kita, yang harus benar-benar diamalkan.
  3. Mentradisikan bangun malam, untuk qiyamullail dan qiroatul Qur'an. Di sepertiga malam yang ke 3. Atau sekitar pukul. 02.30 sampai dengan sholat subuh
7.      Ayat 7
إِنَّ لَكَ فِي النَّهَارِ سَبْحًا طَوِيلًا
"Sesungguhnya, bagimu di waktu siang ada kesibukan yang panjang (menyita waktu)”

Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
1.    Mengetahui, bahwa Allah SWT telah mempermaklumkan, bahwa siang hari adalah waktu nya manusia sibuk beraktivitas sosial (mu'asyaroh). Sedangkan waktu malam hari lebih fokus untuk beristirahat dan beribadah.
2.    Memahami dan menghayati, betapa Allah SWT Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sehingga berkenan memberikan bimbingan praktis menejemen waktu. Agar manusia bisa hidup dengan harmonis dan bahagia dunia dan akhirat
3.    Menerima dengan senang hati dan melaksanakan bimbingan Allah, khususnya yang berkaitan dengan kerja di siang hari dan qiyamullail dan Tartilan Al-Qur'an di waktu dini hari

8.   Ayat 8
                        وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ وَتَبَتَّلْ إِلَيْهِ تَبْتِيلًا
"Ingat dan sebutlah asma Tuhanmu, dan ber-sungguh
-sungguhlah dalam beribadah kepada-Nya".

Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
  1. Mengetahui, bahwa Dzikir dan ibadah yang Sungguh2 adalah perintah Allah yang sangat penting dan bermanfaat.
  2. Memahami dan menghayati, tentang pentingnya Dzikir dan ibadah yang sungguh2, khususnya di waktu akhir malam (dini hari).
  3. Mengistiqamahkan Dzikir dan ibadah, khususnya di waktu malam, sepertiga malam terakhir, antara jam 02.30 sampai dengan subuh
9.      Ayat 9
رَبُّ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ فَاتَّخِذْهُ وَكِيلًا

"Tuhannya Barat dan Timur, yang tidak ada Tuhan selain Dia (Allah), maka jadikanlah Dia sebagai wakil (tempat memasrahkan semua urusan)".

Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
  1. Mengetahui, bahwa barat dan timur, baik sebagai wilayah geografis maupun sebagai pola pikir dan peradaban Rob nya (yang mengatur dan mengendalikannya) adalah Allah SWT.
  2. Memahami dan menghayati, tentang kemahakuasaan Allah SWT sebagai Robbil'aalamiin. Sehingga kita selalu bertawakal kepada-Nya.
  3. Senantiasa menyembah, memohon, dan bertawakal hanya kepada-Nya
10.  Ayat 10
وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَاهْجُرْهُمْ هَجْرًا جَمِيلًا

"Bersabarlah dengan apa saja yang mereka katakan, dan tinggalkan mereka dengan cara yang cantik".

Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
  1. Mengetahui cara menyikapi obyek dakwah (yang menolak) atau lawan politik, yakni: sabar dan meninggalkan dengan cara yang cantik.
  2. Memahami dan menghayati penting nya bersabar dan kearifan dalam berdakwah atau dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat pada umumnya.
  3. Bersabar, berhati-hati (tidak ceroboh), dalam menyikapi orang yang tidak senang dengan kita, juga jangan emosional. Karena kata-kata dan fitnah2 yang mungkin disebarkan
11.                   Ayat 11
وَذَرْنِي وَالْمُكَذِّبِينَ أُولِي النَّعْمَةِ وَمَهِّلْهُمْ قَلِيلاً
"Biarkanlah Aku (yang mengatasi orang-orang yang tidak beriman padahal mereka pemilik nikmat dari Allah), beri tunda waktu mereka sedikit".

Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
1. Tidak menghukum orang-orang kafir dan bersabar atas sikap mereka yang menjengkelkan, biarkan Allah sendiri yang menghukum nya, yakinlah tidak lama lagi, hukuman Allah akan segera diterimanya.
2. Memahami dan menghayati, akan kebenaran janji-janji dan ancaman Allah, bahwa semua nya pasti akan terjadi... walaupun mungkin terasa lama sekali.
3. Mengetahui, bahwa hukuman Allah pasti akan terjadi pada orang-orang mendustakan ajaran para rasul, khususnya mereka yang memiliki banyak karunia dan kenikmatan dari Allah SWT
12.  Ayat 12-13
إِنَّ لَدَيْنَا أَنْكَالًا وَجَحِيمًا * وَطَعَامًا ذَا غُصَّةٍ وَعَذَابًا أَلِيمًا
"Sungguh, Kami memiliki belenggu rantai yang berat-berat dan neraka yang menyala-nyala. Juga makanan yang menyumbat kerongkongan serta adzab yang sangat pedih".

Dua ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
  1. Mengetahui, betapa Allah SWT Maha kejam (jabbaar) lagi otoriter (qohhaar), yang siksaannya sangat pedih.
  2. Memahami dan menghayati, betapa sembrononya manusia yang tidak beriman dan ahli maksiat kepada Allah, dan betapa celakanya dia di akhirat kelak, karena dia akan menjalani siksaan Allah SWT yang Maha Pedih, dengan belenggu dan api yang membara.
  3. Senantiasa mengimbangi sikap mental roja' (optimis dan penuh harap) kita, dengan sikap mental khauf (rasa takut kepada Allah sebagai al Jabbar dan Al qohhaar), agar kita tidak sembrono (sembarangan berbuat)


13. Ayat 14
يَوْمَ تَرْجُفُ الْأَرْضُ وَالْجِبَالُ وَكَانَتِ الْجِبَالُ كَثِيبًا مَهِيلًا
"Pada suatu hari nanti, bumi dan gunung-gunung pada berguncang hebat, sehingga gunung-gunung pada runtuh bagaikan bukit pasir yang longsor".

Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
  1. Mengetahui bahwa pada suatu saat nanti, bumi ini akan hancur lebur, sehingga penghuninya pun demikian, termasuk manusia. Itu lah yang disebut hari qiyamat. Sedangkan waktu tidak ada yang tau, kecuali Allah SWT.
  2. Memahami dan menghayati, bahwa selalu siap dan waspada menyambut datangnya hari "qiyamat" adalah cara yang paling efektif untuk menjadikan diri kita manusia yang sholih dan bertaqwa kepada Allah.
  3. Selalu berusaha untuk menjadi orang yang sholih dan bertaqwa kepada Allah SWT, sehingga jika sewaktu-waktu terjadi qiyamat, baik qiyamat besar maupun qiyamat kecil dapat menghadapi nya dengan " sukses dan bahagia
13.  Ayat 15
إِنَّا أَرْسَلْنَا إِلَيْكُمْ رَسُولًا شَاهِدًا عَلَيْكُمْ كَمَا أَرْسَلْنَا إِلَىٰ فِرْعَوْنَ رَسُولًا

"Sungguh Kami telah mengutus seorang rasul untuk kalian, sebagai saksi untuk kalian. Sebagaimana Kami telah mengutus seorang rasul untuk Fir'aun".


Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
  1. Mengetahui bahwa Allah telah mengutus seorang rasul kepada setiap umat dengan tupoksi (tugas pokok dan fungsi) yang sama, diantara nya adalah sebagai saksi. Contohnya di zaman Fir'aun di Mesir Allah mengutus Nabi Musa As.
  2. Memahami dan menghayati, betapa besar kasih sayang Allah kepada manusia, sehingga Allah tidak membiarkan umat manusia hidup di dalam kesesatan karena menurut setan dan hawa nafsunya. Sehingga Allah mengutus seorang rasul sebagai pembimbing.
  3. Selalu bersyukur kepada Allah dengan cara mentaati Rasulullah, juga para rasul-nya beliau sebagai saksi pembimbing kita dalam kehidupan kita
14.  Ayat 16
فَعَصَىٰ فِرْعَوْنُ الرَّسُولَ فَأَخَذْنَاهُ أَخْذًا وَبِيلًا

"Tetapi Fir'aun mendurakai utusan tersebut, maka Kami siksa dia dengan siksaan berlipat-lipat".
Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
  1. Mengetahui sikap Fir'aun terhadap utusan Allah, juga sikap Allah terhadap dirinya yang duraka itu.
  2. Memahami dan menghayati betapa pentingnya bersabar dalam berdakwah. Khususnya dalam memberikan dakwah kepada pejabat atau senior (lebih tua atau orang tua).
  3. Jangan sampai kita seperti Fir'aun dalam menerima dakwah kepada jalan Allah, yaitu menolak (kebenaran dan taqwa) karena status sosial-ekonomi kita. Karena akibat nya akan mendapatkan adzab Allah yang berlipat-lipat.
    Sebagai "Musa-musa yunior" kita harus bersabar menghadapi para "titisan" Fir'aun di wilayah dakwah kita masing-masing
15.  Ayat 17
فَكَيْفَ تَتَّقُونَ إِنْ كَفَرْتُمْ يَوْمًا يَجْعَلُ الْوِلْدَانَ شِيبًا
"Bagaimana kalian bisa bertaqwa jika kalian mengingkari hari yang menjadikan anak-anak mendadak beruban (hari akhir)".
Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
  1. Mengetahui, bahwa keyakinan terhadap hari akhir adalah sebagai pondasi ketaqwaan kepada Allah. Hari yang sangat dahsyat, hingga anak spontan menjadi beruban.
  2. Memahami dan menghayati, betapa dahsyatnya hari kiamat. Dan betapa pentingnya mengingatnya untuk meningkatkan taqwa kepada Allah SWT.
  3. Sering mengingatkan diri sendiri, terhadap hari kiamat, kematian, siksa kubur, serta surga dan neraka. Sebagai motivasi untuk taqwallah
16.  Ayat 18
السَّمَاءُ مُنْفَطِرٌ بِهِ ۚ كَانَ وَعْدُهُ مَفْعُولًا

"Langit terbelah pada hari itu, dan janji Allah terlaksana".

Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
  1.  Mengetahui diantara kondisi hari kiamat. Yaitu terbelahnya langit, sehingga seluruh gugusan tata surya dan galaxy terlepas talinya dengan porosnya. Yang selanjutnya hancur berhamburan. Begitu juga janji-janji Allah terlaksana, seperti: siapa yang beramal kebaikan atau keburukan, walaupun sebutir dzarrah dia pasti akan melihatnya. Oleh karena itu, saat itu disebut "yaumuddin" atau hari agama.
  2. Memahami dan menghayati, betapa pentingnya taqwallah. Karena sesungguhnya hanya taqwallah yang dapat menyelamatkan nasib kita di akhirat.
  3. Yakin akan janji Allah, dan bekerja keras untuk mendapatkan nasib yang baik di dalam kehidupan di akhirat
17.  Ayat 19
إِنَّ هَٰذِهِ تَذْكِرَةٌ ۖ فَمَنْ شَاءَ اتَّخَذَ إِلَىٰ رَبِّهِ سَبِيلًا

" Sungguh ini adalah sebuah peringatan, maka barangsiapa yang berkenan, pasti dia akan mengambil jalan menuju Tuhannya".

Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
  1. Mengetahui sebuah peringatan Allah kepada manusia yang berupa adanya hari kiamat dan kedahsyatannya.
  2. Memahami dan menghayati pentingnya peringatan Allah SWT kepada umat manusia. khususnya yang berkaitan dengan hari kiamat.
  3. Senantiasa berusaha untuk selalu mengikuti jalan hidupnya Rasulullah melalui bimbingan para guru pembimbing
18.  Ayat 20
إِنَّ رَبَّكَ يَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُومُ أَدْنَىٰ مِنْ ثُلُثَيِ اللَّيْلِ وَنِصْفَهُ وَثُلُثَهُ وَطَائِفَةٌ مِنَ الَّذِينَ مَعَكَ ۚ وَاللَّهُ يُقَدِّرُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ ۚ عَلِمَ أَنْ لَنْ تُحْصُوهُ فَتَابَ عَلَيْكُمْ ۖ فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ ۚ عَلِمَ أَنْ سَيَكُونُ مِنْكُمْ مَرْضَىٰ ۙ وَآخَرُونَ يَضْرِبُونَ فِي الْأَرْضِ يَبْتَغُونَ مِنْ فَضْلِ اللَّهِ ۙ وَآخَرُونَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنْهُ ۚ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا ۚ وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا ۚ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
"Sungguh Tuhan mu telah mengetahui, bahwa kamu bangun malam "qiyamullail" kurang dari dua pertiga atau setengah atau bahkan sepertinya, demikian juga sekelompok orang para pengikutmu. Allah-lah yang menentukan ukuran malam dan siang. Dia mengetahui bahwa kalian tidak akan mampu menghitungnya, maka Dia mengembalikan kepada kalian. Maka bacalah oleh kalian bagian Al Qur'an yang ringan-ringan. Dia mengetahui bahwa akan ada diantara kalian yang lagi sakit, sedangkan yang lain bepergian dalam rangka mendapatkan anugerah Allah. Ada juga yang lagi berperang di jalan Allah. Maka bacalah oleh kalian, yang ringan-ringan dari Al-Qur'an. sholat, tunaikanlah zakat dan berikanlah Allah pinjaman yang baik. Dan apa saja yang kalian ajukan untuk dirimu kalian akan temukan disisi Allah, sebagai pahala yang lebih baik dan lebih agung. Mohonlah ampunan kepada Allah, Sungguh Allah maha pengampun lagi maha penyayang".

Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
  1. Mengetahui, bahwa Allah SWT. Benar-benar berharap supaya kita bangun malam (qiyamullail) walaupun sebentar. Sholat sedikit, baca Alquran sedikit atau sekedar ayat-ayat dan surat-surat ringan. Seperti bacaan hizbul Qur'an Ulul Albab. Dan istighfar
  2. . Memahami dan menghayati, penting nya qiyamullail dan Tartilan Al-Qur'an dan istighfar. Konsisten dalam menjalankan shalat, mengeluarkan zakat dan infaq untuk perjuangan fii Sabilillah.
  3.  Melengkapi amal ibadah qiyamullail, Tartilan di waktu malam sepertiga malam terakhir. Serta memperbanyak istighfar. Di samping konsisten dalam menjalankan shalat mengeluarkan zakat dan infaq untuk perjuangan fii Sabilillah.

Bagikan Posting ini

Tentang Kami

Pesantren Terpadu yang didirikan oleh Yayasan Pondok Pesantren Daru Ulil Albab. Insya Allah siap mengemban amanat anda. Untuk menjadikan putra-putri anda pemimpin bangsa, / ulama’/ cendikiawan / konglomerat yg bertaqwa kepada Allah, dan berakhlak mulia Facebook

0 komentar:

Tentang Kami-Pendaftaran-Contact
Copyright © 2013 Pondok Pesantren - DARU ULIL ALBAB. Blogger Template by BloggerTheme9
Proudly Powered by Blogger.
back to top