Tafsir Al Quran - Tafsir isyari akhlaqi praktis Surat Luqman


Pengamalan Surat Ke  31  : Luqman
(Luqman)
Oleh : Abdulloh Kharisudin Aqib

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Dengan Asma Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
1. Mengetahui, bahwa Allah adalah Maha pengasih (kasih sayang yang bersifat material hidonistik) lagi Maha Penyayang (kasih sayang yang bersifat spiritual edukatif). Begitu juga seharusnya orang tua kita (baik orang tua biologis, sosiologis maupun struktural) sebagai wakil Allah di muka bumi ini.
2. Memahami dan menghayati, bahwa sebagai hamba Allah kita harus yakin dan husnudhon  bahwa Allah adalah Rahman Rahim. Dan sebagai Khalifatullah kita juga harus senantiasa bersikap Rahman dan Rohim.
3. Mendasari sikap mental dan karakter kita dengan dominasi sifat Rahman dan rahim.

1.      Ayat 1
الم
“Alif laam miim..”

Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
1. Mengetahui, bahwa kitab suci Alquran Qur'an adalah berhuruf atau berbahasa Arab.
2. Memahami dan menghayati, bahwa belajar bahasa Arab adalah sangat penting, karena bahasa Arab adalah bahasa Alquran.
3. Mau belajar dan mendalami bahasa Arab sebagai bahasa 
Alquran. Dimana Alquran sebagai sumber ajaran agama Islam

  1. Ayat 1

تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ الْحَكِيمِ
"Itu (الم) adalah termasuk ayat-ayatnya​ kitab suci yang penuh hikmah (Al-Quran)".

Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
1. Mengetahui, bahwa ayat sebelumnya (الم), termasuk bagian dari ayat-ayat Alquran, bukan tambahan para sahabat penyusun Alquran seperti tuduhan para orientalis. Juga mengetahui bahwa Alquran adalah kitab suci yang penuh hikmah (filsafat hidup).
2. Memahami dan menghayati, bahwa Alquran adalah kitab suci yang agung lagi penuh hikmah. walaupun sekedar susunan huruf-huruf​ yang terputus-putus, seperti: ا ل م   adalah juga mengandung makna dan hikmah, serta mukjizat.
3. Selalu mengkaji ayat-ayat suci Alquran untuk mendapatkan hikmah2 sebagai panduan dan kearifan dalam hidup.

  1. Ayat 1
هُدًى وَرَحْمَةً لِلْمُحْسِنِينَ
"(Ayat-ayat suci Alquran), itu sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang Muhsinin".
Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
1. Mengetahui, bahwa ayat-ayat suci Alquran akan berfungsi sebagai petunjuk dan rahmat hanya bagi orang-orang yang baik hati dan perbuatannya (Muhsinin).
2. Memahami dan menghayati, bahwa menjadi orang yang baik hati dan perbuatannya (Muhsin) adalah sangat penting, karena menjadi syarat untuk dapat memanfaatkan Al-Quran. Baik sebagai petunjuk maupun Rahmat (kebaikan umum, seperti: wasilah doa, terapi, perlindungan/ hizib, dan lain-lain).
3. Menjadi orang yang selalu berusaha menjadi orang yang Muhsin (baik hati dan amal perbuatannya). Sehingga bisa mendapatkan hidayah dan rahmat dari kandungan ayat-ayat suci Alquran.

  1. Ayat 4
الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ بِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ
“(Muhsinin), yaitu orang-orang yang menegakkan sholat dan menunaikan zakat. Sedangkan mereka itu yakin terhadap adanya akhirat".

Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
1.  Mengetahui ciri-ciri orang yang termasuk Muhsinin.
2. Memahami dan menghayati, bahwa standar dhohir kebaikan seseorang bisa dilihat dari kwalitas sholat dan zakat nya. Yang kedua nya bisa tegak berdiri karena keyakinan nya terhadap kehidupan ukhrowi.
3. Memperbaiki keyakinan kepada kehidupan akhirat, menegakkan sholat dan menunaikan zakat. Agar menjadi manusia yang berkarakter 'Muhsinin'  (manusia yang berprilaku baik dengan hati yang baik).






  1. Ayat 5

أُولَٰئِكَ عَلَىٰ هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
" Mereka itu berada di atas petunjuk dari Tuhan nya dan mereka itu adalah orang yang benar-benar beruntung".

Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
1. Mengetahui, bahwa orang yang Muhsin yang bisa istiqamah dalam shalat dan zakat nya dan keyakinan terhadap adanya hari akhirat baik. Adalah benar-benar orang yang mendapat petunjuk dari Allah dan merupakan orang yang beruntung yang sesungguhnya.
2. Memahami dan menghayati, bahwa keberuntungan yang sesungguhnya adalah keberuntungan yang berupa iman, hidayah (petunjuk Allah) dan Inayah (pertolongan Allah) untuk bisa beramal Sholeh seperti sholat dan zakat dengan baik dan istiqamah.
3. Mengikuti jalan hidupnya orang-orang yang Muhsinin dan memprofil diri menjadi orang yang Muhsin.

  1. Ayat 6

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا ۚ أُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ
" Di antara sebagaian manusia ada orang yang membeli kata-kata kosong tanpa makna, untuk menyesatkan orang dari jalan Allah tanpa pengetahuan (tidak dia sadari), dan menjadikan ayat-ayat Allah sebagai olok-olok (melecehkan) , mereka itulah, yang akan mendapatkan adzab yang menghinakan".".



Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
1. Mengetahui, bahwa memang ada  orang yang karena ketidak tahuannya punya profesi atau kesenangan membuat kegiatan-kegiatan yang berdampak melupakan Allah dan menimbulkan kemaksiatan serta menimbulkan pelecehan terhadap ayat-ayat Allah.
2. Memahami dan menghayati, bahwa mendalami agama Islam adalah sangat penting. Agar tidak terjerumus dalam kesesatan, kemaksiatan dan kekufuran. Serta tidak disadari menjerumuskan dan menghalangi orang lain dari jalan hidup yang diridhoi Allah SWT.
3. Mengingatkan  kepada saudara, teman, atau siapapun yang memungkinkan. Jika kita tahu bahwa mereka melakukan hal-hal yang tidak diridhoi oleh Allah sedang mereka tidak mengetahui bahwa hal tersebut dilarang oleh Allah SWT.

  1. Ayat 7

وَإِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِ آيَاتُنَا وَلَّىٰ مُسْتَكْبِرًا كَأَنْ لَمْ يَسْمَعْهَا كَأَنَّ فِي أُذُنَيْهِ وَقْرًا ۖ فَبَشِّرْهُ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ
“Dan apabila dibacakan ayat-ayat Kami kepada nya, dia berpaling dengan angkuhnya, seolah-olah tidak mendengar dan di kedua telinganya ada sumbatan, maka berilah dia kabar 'gembira' dengan adzab yang pedih".

Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
1. Mengetahui, bahwa sifat angkuh dan mbandelnya orang yang fasik adalah seperti orang kafir. Yaitu kalau diberi kabar tentang siksaan yang pedih, dia malah senang dan menantang.
2. Memahami dan menghayati, bahwa kefasikan dan kekufuran mungkin saja timbul karena kebodohannya dalam ilmu agama, sehingga jika sudah terlanjur berbentuk karakter akan sangat sulit  diperbaiki nya. Bahkan diberi ancaman pun berani menantang.
3. Berlapang dada, dalam  berdakwah menghadapi orang-orang fasik dan kafir yang bandel dan sombong.

  1. Ayat 8

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ جَنَّاتُ النَّعِيمِ
"Sungguh orang-orang yang beriman dan beramal Sholeh bagi mereka taman2 kenikmatan surgawi".

Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
1. Mengetahui, bahwa syarat mendapatkan kenikmatan surgawi (masuk surga atau kebahagiaan abadi), adalah iman dan amal Sholeh.
2. Memahami dan menghayati, bahwa pentingnya kesatuan antara iman dan amal Sholeh, sebagai satu kesatuan wujud keagamaan seseorang.
3. Selalu menjaga iman dengan banyak dzikrullah, khususnya dzikir laa ilaaha Illa Allah, dan menjaga amal Sholeh, baik amaliyah pribadi maupun sosial. Khususnya amar Makruf dan nahil Munkar.

9.                            Ayat 9

 خَالِدِينَ فِيهَا ۖ وَعْدَ اللَّهِ حَقًّا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
"Mereka itu abadi di dalam nya (surgawi), janji nya Allah itu benar adanya, dan Dia itu Maha perkasa lagi maha bijaksana".

Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
1. Mengetahui, bahwa Allah pasti menunaikan janjinya.. bila seseorang sudah masuk ke ' surga'  dia akan menjadi penghuni badi di dalam nya. Dan Allah maha perkasa lagi maha bijaksana.
2. Memahami dan menghayati,  bahwa keabadian itu juga berbasis kerohanian dan amal Sholeh.
3. Menurut ajaran Islam, dan Sunnah Rasulullah.g istiqamah, agar kita bisa mendapatkan keridhaan Allah SWT.

  1. Ayat 10

خَلَقَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا , وَأَلْقَىٰ فِي الْأَرْضِ رَوَاسِيَ أَنْ تَمِيدَ بِكُمْ وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ , وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَنْبَتْنَا فِيهَا مِنْ كُلِّ زَوْجٍ كَرِيم
"Dia yang telah menjadikan​ semua lagit tanpa tiang penyangga sebagai mana Kamu telah lihat.dan menebarkan pasak-pasak bumi (gunung-gunung), sebagai hamparan kalian.dan di sana Dia juga mengembang biakkan setiap yang melata.dan Dia yang telah menurunkan air hujan dari langit, sehingga Kami menumbuhkan (tumbuh-tumbuhan​) yang berpasangan yang mulia".
Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
1. Mengetahui, bahwa Allah SWT yang telah mendesain semua kehidupan di langit dan di muka bumi dengan sempurna.
2. Memahami dan menghayati, tentang betapa cermat nya Allah telah mendesain sistem kehidupan semua makhluk di langit dan bumi ini.
3. Bertasbih, tahmid dan takbir mensucikan, memuji dan mengagungkan asma Allah yang menciptakan semua sistem kehidupan dengan rapi, tertib dan harmonis untuk kita semua umat manusia.


  1. Ayat 11

هَٰذَا خَلْقُ اللَّهِ فَأَرُونِي مَاذَا خَلَقَ الَّذِينَ مِنْ دُونِهِ , بَلِ الظَّالِمُونَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
" Inilah ciptaan Allah, maka tunjukkan pada ku apa yang telah diciptakan oleh yang selain Dia. Tapi orang-orang yang dholim itulah yang berada dalam kesesatan yang nyata".

Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
1. Mengetahui, bahwa hanya Allah yang Maha Pencipta..., Sedangkan yang selain Allah hanyalah​ perangkai dari sesuatu yang sudah sebelumnya.
2. Memahami dan menghayati bahwa Allah benar-benar Tuhan Yang Maha Pencipta. Sedangkan manusia adalah sangat lemah dan bodoh jika perbandingkan dengan Allah. apalagi  yang selain manusia.
3. Tidak menuhankan sesuatu yang selain Allah, termasuk diri sendiri. Karena menyekutukan sesuatu dengan Allah adalah sebuah bentuk kedloliman yang nyata.

12.     Ayat 12

وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ , وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ , وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ
"Sungguh Kami telah memberikan Al-Hikmah (intinya ilmu) kepada Lukman ' hendaknya kamu bersyukur kepada Allah' dan siapa saja yang bersyukur maka sesungguhnya dia telah bersyukur untuk dirinya sendiri, dan barang siapa yang kufur, maka sesungguhnya Allah itu tidak membutuhkannya​ dan Dia itu Maha terpuji".

Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
1. Mengetahui, bahwa profil  Lukman al hakim yang namanya diabadikan dalam Al-Quran ini adalah memang Mendapatkan hikmah dari Allah sehingga dia menjadi orang yang bijaksana.
2. Memahami dan menghayati, bahwa syukur atau kufur seseorang itu adalah untuk kepentingan dan kemaslahatan dirinya sendiri, bukan untuk Allah. Allah tidak membutuhkan itu semua. Allah maha kaya lagi maha terpuji.
3. Mengambil pelajaran hikmah dari Lukman al hakim, khususnya untuk pandai bersyukur kepada Allah SWT.

  1. Ayat 13

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ , إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
"Dan tatkala Lukman telah berkata kepada anaknya, seraya memberikan nasihat kepadanya, 'wahai anak ku, janganlah kamu menyekutukan Allah, sesungguhnya kemusyrikan itu adalah benar-benar kedloliman yang besar".

Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
1. Mengetahui, bahwa Lukman adalah benar-benar seorang ayah yang sangat bertanggung jawab atas keselamatan dan keimanan anak nya.
2. Memahami dan menghayati, bahwa pendidikan keimanan adalah benar-benar penting, karena manusia seringkali terjerumus ke dalam kemusyrikan, padahal itu adalah benar-benar merupakan kesalahan yang fatal bagi hidup dan kehidupan seseorang.
3. Menirukan Lukman Al hakim dalam hal kepedulian nya terhadap keimanan dan keselamatan anaknya di dunia dan akhirat.

  1. Ayat 14

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ
" Dan Kami wasiatkan kepada para manusia, agar terhadap kedua orangtuanya, yang mana ibunya telah mengandung nya dengan penuh rasa tidak nyaman, dan menyapihnya dalam waktu dua tahun, hendaknya kamu itu berterima kasih kepada Ku dan kepada kedua orang tua mu. KepadaKulah akhirnya kembali itu".

Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
1. Mengetahui, bahwa Allah mewasiatkan kepada seluruh manusia agar berbuat baik dan bersyukur kepada orang tuanya, setelah kepada Allah.
2. Memahami dan menghayati, tingkat dan kedudukan orangtua terhadap anaknya begitu tinggi, yakni di bawah Allah SWT langsung.
3. Menghormati, memuliakan dan berterima kasih (bersyukur kepada orangtuanya) setelah berbuat baik dan bersyukur kepada Allah.

  1. Ayat 15
وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَىٰ أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا , وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا , وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ , ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
" Jika keduanya memaksamu untuk menyekutukan diri Ku dengan sesuatu yang engkau tidak mengetahui nya, maka jangan kau mentaatinya. Tapi temanilah keduanya di dunia ini dengann layak. Dan ikutilah jalan hidupnya orang yang kembali kepada Ku, kemudian KepadaKulah akhirnya kembali kalian, maka Aku akan memberitahukan kepada kalian terhadap apapun Yang kalian kerjakan​".

Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
1. Mengetahui, cara berbakti kepada orang tua dan kepada Allah yang bersifat dilematis.
2. Memahami dan menghayati, bahwa pentingnya kearifan dalam bersikap kepada orang tua yang tidak sejalan dengan ridlo Allah
3. Bersikap adil dan bijaksana dalam memberikan pelayanan, ketaatan dan penghormatan terhadap orang tua dan Allah SWT.

  1. Ayat 16

يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ , إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ
"Wahai anakku laki-laki, sungguh sekitarnya ada seberkas perbuatan seberat bijih sawi, yang terjatuh di Padang pasir, atau di langit atau di bumi , Allah pasti mengetahuinya, Sungguh Allah Maha lembut lagi mengetahui”.


Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
 1. Mengetahui, bahwa Allah Maha lembut lagi Maha Mengetahui, atas keberadaan makhluk-Nya.
2. Memahami dan menghayati tentang sifat kemaha lembutan dan kemaha tahunan Allah secara batin. Baik diantara yang ada di dalam Padang pasir, di langit maupun di dalam bumi.
3.  Selalu berusaha untuk muroqobah (menghayati) atas sifat lathifnya Allah dan sifat khobir-Nya. Agar senantiasa bisa berakhlak mulia dalam Rahmat dan ridlo Allah.

  1. Ayat 17

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ , إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُور
"Wahai anak laki-lakiku, tegakkan lah sholat, perintahkanlah kebaikan-kebaikan dan cegahlah kemungkaran-kemungkaran , serta bersabarlah terhadap apapun yang menimpa mu. Sungguh itulah sebagian prinsip-prinsip hidup yang utama".

Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
1. Mengetahui sebagian prinsip-prinsip hidup yang utama sebagai seorang muslim, yang harus kita wariskan kepada anak cucu kita, khususnya anak laki-laki.
2. Memahami dan menghayati bahwa, pewarisan nilai-nilai luhur adalah benar-benar penting.khususnya yang terkait dengan keimanan, sikap mental dan amal kerasulan (dakwah).
3. Meniru profil figur Lukman hakim dalam memberikan pendidikan moral pada anak laki-laki nya.



  1. Ayat 18

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ,إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
"Dan janganlah​ kamu palingkan wajahmu karena manusia (dari orang lain), dan jangan pula kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh, Sungguh Allah itu tidak menyukai setiap orang yang congkak lagi membanggakan diri".

Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
1. Mengetahui tentang beberapa etika buruk dalam  pergaulan. Yaitu: angkuh, congkak dan membanggakan diri, dengan segala macam sikap fisik kita.
2. Memahami dan menghayati, bahwa sikap mental dan perilaku buruk penting sekali untuk dikenalkan kepada anak-anak kita, agar bisa menghindarinya​ sedini mungkin.
3. Juga memberikan peringatan kepada anak-anak kita tentang akhlak buruk yang harus dihindari, seperti: bersikap sinis terhadap orang lain, congkak, angkuh dan membanggakan diri.

  1. Ayat 19

 وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ , إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ
" Dan sederhanakan lah dalam berjalan mu, serta tahanlah (atur) suaramu. Sesungguhnya suara yang paling tidak disukai itu adalah suara keledai".



Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
1. Mengetahui estetika dan keindahan penampilan dhohir, seperti cara berjalan dan berbicara. Karena itu adalah kunci awal kesuksesan dalam kehidupan sosial.
2. Memahami dan menghayati, penting nya pengaturan penampilan, khususnya yang terkait dengan cara berjalan (berkendara), dan cara bicara dan berkomunikasi.
3. Berjalan dan berkendara yang sederhana saja, kalau berbicara yang teratur dan santun (rendah, indah dan berfaedah).

20.              Ayat 20

أَلَمْ تَرَوْا أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً , وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُجَادِلُ فِي اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَلَا هُدًى وَلَا كِتَابٍ مُنِيرٍ

“Apakah kalian tidak melihat bahwa Allah telah menundukkan untuk kalian apa saja yang ada di langit dan bumi, serta menyempurnakan nikmat nikmat-Nya untuk kalian, baik lahir maupun batin. Dan sebagian manusia ada yang mendebat tentang keberadaan Allah tanpa ilmu, petunjuk dan kitab referensi yang menerangi".

Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
1. Mengetahui, bahwa betapa banyak nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita, baik lahir maupun batin. Juga supaya kita tahu, bahwa ada saja orang kafir yang bandel dan berani mendebat dan menolak keberadaan Allah tanpa dasar yang kuat.
2. Memahami dan menghayati tentang pentingnya tafakkur atas nikmat Allah kepada kita sebagai manusia.
3. Senantiasa membiasakan bertafakur atas nikmat dan karunia Allah, serta hakekat kebenaran dan keberadaan Allah SWT.


  1. Ayat 21

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا , أَوَلَوْ كَانَ الشَّيْطَانُ يَدْعُوهُمْ إِلَىٰ عَذَابِ السَّعِيرِ
“Dan apabila dikatakan kepada​ mereka 'ikutilah apa yang yang telah diturunkan oleh Allah' , mereka menjawab.'tidak' kami hanya akan mengikuti apa yang kami temukan dalam tradisi nenek moyang kami'. Apakah mereka akan tetap seperti itu, walaupun syetan akan mengajak nya ke dalam adzab neraka saiir".

Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
1. Mengetahui, bahwa orang yang memang tertutup pintu hatinya, lebih cenderung mempertahankan tradisi yang sesat dari pada menerima pembaharuan iman.
2. Memahami dan menghayati, betapa sulit nya tugas dakwah para rasul, juga para da'i.
3. Sabar dalam melaksanakan tugas dakwah dan menghadapi orang-orang kafir, khususnya para pengikut tradisi/ agama lokal yang cenderung syirik.

22.  Ayat 22
وَمَنْ يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ , وَإِلَى اللَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ
"Dan siapa saja yang menundukkan wajahnya kepada Allah, sedangkan dia orang yang baik, maka berarti orang itu telah memegangi prinsip hidup yang kokoh dan kepada Allah lah ending seluruh persoalan".


Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
1. Mengetahui bahwa prinsip hidup yang kokoh adalah berpangkal pada kebaikan, ketulusan hati dan ketundukan kepada Allah.
2. Memahami dan menghayati, bahwa ending seluruh persoalan hidup dan kehidupan adalah di dalam kekuasaan Allah SWT. Yang prinsip-prinsipnya tersimpul dalam ketundukan kepada Allah dan kebaikan yang sesungguhnya (Ihsan).
3. Senantiasa berusaha untuk menjadi orang yang Taslim dan ridlo terhadap hukum dan ketentuan Allah SWT, serta memperbaiki diri, baik dhohir maupun batin kita.

  1. Ayat 23

وَمَنْ كَفَرَ فَلَا يَحْزُنْكَ كُفْرُهُ , إِلَيْنَا مَرْجِعُهُمْ فَنُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا , إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ
"Dan siapa saja Yang telah kafir, maka hendaknya kekafirannya itu tidak menyusahkan mu, kepada Kami lah tempat kembali mereka, nanti Kami akan memberitahukan kabar tentang apa saja yang telah mereka lakukan, Sungguh Allah maha mengetahui terhadap apa saja yang ada di dalam dada".

Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
1. Mengetahui, bahwa keimanan itu tidak bisa dan tidak perlu dipaksakan. Urusan kekafiran seseorang adalah urusan dirinya dengan Allah. Kita hanya bertugas menyampaikan.
2. Memahami dan menghayati, bahwa hidayah itu mutlak urusan Allah, tugas dakwah hanya penyampaian pesan-pesan​ dari Allah SWT.
3. Selalu melakukan tugas dakwah dengan dasar iman, kasih sayang dan tawakal kepada Allah SWT.
  1. Ayat 24

 نُمَتِّعُهُمْ قَلِيلاً ثُمَّ نَضْطَرُّهُمْ إِلَى عَذَابٍ غَلِيظٍ
"Dan Kami beri mereka sedikit kenikmatan, selanjutnya mereka Kami campakkan ke dalam adzab yang keras".

Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
1. Mengetahui bahwa kenikmatan yang diberikan oleh Allah kepada orang-orang kafir itu hanya sedikit sekali (material duniawi), jika dibandingkan dengan kenikmatan yang diberikan kepada orang-orang​yang beriman (spiritual ukhrowi). selanjutnya orang kafir akan dimasukkan neraka dan orang mukmin akan dimasukkan surga).
2. Memahami dan menghayati betapa bahayanya menjadi orang kafir dan durhaka kepada Allah SWT.
3. Tidak 'silau atau iri' terhadap kejayaan dan atau kekayaan orang-orang kafir atau orang yang durhaka kepada Allah, karena itu adalah kamuplase dan fatamorgana saja. Dan tetap istiqamah dalam iman dan taqwa.

  1. Ayat 25

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ , قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ , بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ
"Dan jika mereka kamu tanya 'siapa yang telah menciptakan langit dan bumi ini?' mereka pasti menjawab, ya.. Allah'. Katakanlah 'segala puji hanyalah milik Allah' tetapi sebagian besar mereka itu tidak mengetahui".



Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
1. Mengetahui bahwa, sebagai besar manusia telah mengetahui ke Maha Penciptaan Allah, tetapi tidak mengetahui ke Maha terpujian Allah.
2. Memahami dan menghayati, betapa pentingnya mengajarkan tauhid uluhiyah (ketuhanan Allah), khususnya Sifat kemaha terpujian Allah.
3. Mengajarkan ilmu tauhid dalam rangka pembinaan akhlak mulia, khususnya sifat kemaha terpujian Allah. Agar manusia kebanyakan tidak gila pujian, suka berbuat yang terpuji dan suka memuji. Khususnya memuji Allah, maupun memuji sesamanya.

  1. Ayat 26

لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ,إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ
"Adalah milik Allah, apa saja yang ada di semua langit dan bumi ini, Sungguh Allah itu maha kaya lagi maha terpuji".

Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
1. Mengetahui, bahwa Allah SWT itu Maha kaya lagi maha terpuji.Dia adalah benar-benar pemilik apa saja yang ada di semua langit dan bumi.
2. Memahami dan menghayati, betapa Allah maha kaya lagi maha terpuji, sehingga kita tidak perlu khawatir akan kemiskinan diri kita dan juga tidak sombong atas kekayaan kita.
3. Selalu bertawakal kepada Allah atas nasib perekonomian kita, juga bersikap terpuji di dalam setiap keadaan, di samping selalu memuji Allah. Sehingga Dia ridlo kepada kita.




  1. Ayat 27

وَلَوْ أَنَّمَا فِي الْأَرْضِ مِنْ شَجَرَةٍ أَقْلَامٌ وَالْبَحْرُ يَمُدُّهُ مِنْ بَعْدِهِ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ مَا نَفِدَتْ كَلِمَاتُ اللَّهِ , إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
"Sungguh seandainya sebagian pepohonan di bumi ini dijadikan pena dan lautan dijadikan tinta, bahkan ditambah dengan tujuh lautan lagi, maka kalimat Allah itu tidak akan habis. Sungguh Allah itu maha perkasa lagi maha bijaksana".

Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
1. Mengetahui bahwa Allah SWT itu Maha Mengetahui (berilmu), Maha perkasa lagi Maha bijaksana.
2. Memahami dan menghayati, bahwa betapa banyak nya ilmu Allah dan betapa sedikitnya ilmu kita.
3. Merendahkan diri dan tidak takabur atas ilmu pengetahuan yang kita miliki, serta selalu memohon bertambahnya ilmu yang bermanfaat dari Allah SWT.

  1. Ayat 28

مَا خَلْقُكُمْ وَلَا بَعْثُكُمْ إِلَّا كَنَفْسٍ وَاحِدَةٍ ۗ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ
"Tidaklah Penciptaan kalian dan pembangkitan kalian itu kecuali hanya seperti satu jiwa saja. Sungguh Allah itu Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui".

Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
1. Mengetahui bahwa Allah adalah Maha kuasa, Maha Mendengar juga Maha Mengetahui.
2. Memahami dan menghayati, betapa canggihnya​ ilmu pengetahuan dan teknologi Allah, sehingga Dia menciptakan dan membangkitkan kembali setelah kematian semua umat manusia itu tidak merepotkan Allah, cukup sekali aktifkan program maka berjalan seterusnya sesuai dengan rencana.
3. Tidak takabur dan membangga-banggakan diri, baik secara dhohir maupun batin. Malu dengan Allah yang maha mendengar lagi maha mengetahui.

  1. Ayat 28

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَيُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى وَأَنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
"Apakah kamu tidak melihat, bahwa Allah memasukkan waktu malam kedalam waktu siang dan waktu siang ke dalam waktu malam. Dan Dia menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berlari (berputar) sampai waktu yang telah ditentukan, dan Sungguh Allah Maha Mengetahui (secara batin) terhadap apa saja yang kalian lakukan".

Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
1. Mengetahui bahwa waktu siang-malam itu tidak selalu persis (tetap). Juga Allah itu maha mengetahui terhadap apa saja yang kita lakukan.
2. Memahami dan menghayati tentang pentingnya tafakkur atas peran Allah terhadap dinamika kehidupan manusia dan juga alam semesta.
3. Bersyukur kepada Allah, dan selalu menjaga sikap "wara' atau berhati-hati dalam hidup dan kehidupan ini, karena malu dan atau takut kepada Allah SWT.

30. Ayat 30

 ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ
"Hal tersebut karena sesungguhnya Allah itu adalah kebenaran itu sendiri, dan Sungguh apa saja yang mereka sembah selain Allah itu adalah sebuah kebatilan. Dan  sesungguhnya Allah itu, Dia lah yang maha tinggi lagi maha besar".

Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
1. Mengetahui bahwa Allah itu adalah kebenaran itu sendiri, dan Dia itu Maha tinggi lagi maha besar. Sedangkan sesembahan selain Dia adalah benar-benar kebatilan.
2. Memahami dan menghayati, bahwa sangat penting bagi kita untuk meningkatkan kwalitas iman tauhid kita. Yang sangat rentan mengalami degradasi.
3. Selalu berusaha untuk meningkatkan kualitas iman dan taqwa serta tauhid kita, agar tidak terjerumus ke dalam jurang kesesatan, baik kekufuran maupun kemusyrikan.

  1. Ayat 31

أَلَمْ تَرَ أَنَّ الْفُلْكَ تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِنِعْمَتِ اللَّهِ لِيُرِيَكُمْ مِنْ آيَاتِهِ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ
"Apakah kamu tidak melihat, bahwa kapal itu berjalan di lautan karena nikmat Allah, untuk Dia perlihatkan pada kalian sebagian dari ayat-ayat-Nya. Sungguh di dalam itu semua adalah ayat-ayat Allah bagi setiap orang-orang Yang banyak sabar dan syukur nya".

Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
1. Mengetahui diantara bahan tafakkur, yaitu nikmat Allah atas manusia pada umumnya yang berupa bisa menguasai lautan luas dengan  kapal.
2. Memahami dan menghayati, bahwa betapa pentingnya bisa memiliki karakter penyabar dan ahli syukur. Karena ternyata kedua jenis karakter itu sebagai prasyarat untuk bisa memahami ayat-ayat Allah (cerdas spiritual).
3. Mengusahakan untuk memprofil diri menjadi orang yang penyabar dan ahli syukur, dengan cara sering-sering bertafakur (berfikir mendalam tentang sesuatu yang kita, lihat, kita hadapi atau kita alami, kita cari dan kita singkap hakekat dan hikmah nya).Seperti pemberian ilmu oleh Allah kepada manusia berupa ilmu perkapalan dan navigasi. Sejak zaman nabi Nuh, atau bahkan sebelum nya.

  1. Ayat 32

وَإِذَا غَشِيَهُمْ مَوْجٌ كَالظُّلَلِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ فَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ ۚ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلَّا كُلُّ خَتَّارٍ كَفُورٍ
"Dan ketika gelombang menerpa mereka bagaikan mendung gelap yang menaungi nya,  mereka berdoa kepada Allah dengan penuh keseriusan, dan ketika Allah telah menyelamatkan mereka sampai di daratan, di antara mereka ada yang biasa-biasa saja. Dan tidak ada orang yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang pengkhianat lagi banyak ingkar nya".



Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
1. Mengetahui bahwa Allah mengutuk orang yang tidak tahu diri dan tidak pandai bersyukur.
2. Memahami dan menghayati bahwa, betapa pentingnya mentafakkuri nikmat dan karunia Allah, sehingga kita menjadi hamba Allah yang pandai bersyukur.
3. Berusaha keras untuk tidak dikutuk oleh Allah karena tidak pandai mensyukuri nikmat dan karunia Allah atas diri kita, khususnya nikmat tercapainya cita-cita dan terkabul nya do'a.

  1. Ayat 33

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ وَاخْشَوْا يَوْمًا لَا يَجْزِي وَالِدٌ عَنْ وَلَدِهِ وَلَا مَوْلُودٌ هُوَ جَازٍ عَنْ وَالِدِهِ شَيْئًا ۚ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ ۖ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ
"Wahai sekalian manusia bertaqwalah kalian kepada Tuhan kalian, dan takutlah kalian dengan suatu hari, dimana orang tua tidak bisa membalas anaknya, dan seorang anak tidak bisa membalas orangtuanya sama sekali. Sungguh janji Allah itu pasti benarnya. Maka janganlah kalian tertipu oleh kehidupan dunia, dan janganlah​ pula sang penipu (setan), menipu kalian atas nama Allah".

Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
1. Mengetahui tentang prinsip-prinsip hidup selamat dunia-akhirat. yaitu: taqwallah, takut terhadap nasib diri di hari akhirat. Tidak terpedaya oleh gebyar kehidupan duniawi, serta tidak tertipu oleh bisikan setan.
2. Memahami dan menghayati betapa pentingnya sikap waro' (hati-hati dan waspada terhadap godaan setan, nafsu dan pengaruh duniawi).
3. Senantiasa taqwallah dan takut terhadap nasib kehidupan di alam akhirat. Agar kita bisa selamat dari pengaruh kehidupan duniawi​, juga nafsu dan setan.

  1. Ayat 34

إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

"Sungguh Allah itu adalah sang pemilik pengetahuan tentang waktu (hari kiamat), dan yang menurunkan hujan lebat, yang mengetahui apa saja yang di dalam kandungan. Dan seseorang tidak akan mengetahui secara pasti apa yang akan diusahakannya esok hari. Dan juga tidak akan bisa tahu secara pasti di bumi mana dia akan mati. Sungguh Allah itu maha mengetahui secara dhohir dan maha mengetahui secara batin".

Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
1. Mengetahui bahwa Allah maha mengetahui secara dhohir maupun batin, juga Maha kuasa. Sedangkan manusia sangat terbatas baik pengetahuan maupun kekuasaan nya.
2. Memahami dan menghayati, betapa berbedanya Allah SWT dengan manusia, walaupun secara sepintas seolah-olah sama. Karena memang manusia itu hakekat wujudnya hanyalah  tajalliyatullaah (bayangan nya Allah), sehingga tidak pantas sama sekali bagi manusia untuk takabur.
3. Senantiasa mensucikan, mengagungkan dan memohon petunjuk dan pertolongan Allah dalam semua hal.

Bagikan Posting ini

Tentang Kami

Pesantren Terpadu yang didirikan oleh Yayasan Pondok Pesantren Daru Ulil Albab. Insya Allah siap mengemban amanat anda. Untuk menjadikan putra-putri anda pemimpin bangsa, / ulama’/ cendikiawan / konglomerat yg bertaqwa kepada Allah, dan berakhlak mulia Facebook

0 komentar:

Tentang Kami-Pendaftaran-Contact
Copyright © 2013 Pondok Pesantren - DARU ULIL ALBAB. Blogger Template by BloggerTheme9
Proudly Powered by Blogger.
back to top