Tafsir Al Quran - Tafsir isyari akhlaqi praktis Surat Al Muddatstsir



Pengamalan Surat Ke  74 : Al- Muddatstsir
        (Orang yang Berkemul)
Oleh : Abdulloh Kharisudin Aqib

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Dengan Asma Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
1. Mengetahui, bahwa Allah adalah Maha pengasih (kasih sayang yang bersifat material hidonistik) lagi Maha Penyayang (kasih sayang yang bersifat spiritual edukatif). Begitu juga seharusnya orang tua kita (baik orang tua biologis, sosiologis maupun struktural) sebagai wakil Allah di muka bumi ini.
2. Memahami dan menghayati, bahwa sebagai hamba Allah kita harus yakin dan husnudhon  bahwa Allah adalah Rahman Rahim. Dan sebagai Khalifatullah kita juga harus senantiasa bersikap Rahman dan Rohim.
3. Mendasari sikap mental dan karakter kita dengan dominasi sifat Rahman dan rahim.

1.     Ayat 1

يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ
"Wahai orang yang berselimut di pagi/siang hari".

Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
  1. Mengetahui bahwa sebenarnya Allah menyapa setiap orang yang berselimut masalah, khususnya yang terkait dengan masalah sosial (mu'amalah dan mu'asyarah).
  2. Memahami dan menghayati akan pentingnya mengindahkan sapaan dan petunjuk Allah dalam menyelesaikan persoalan-persoalan hidup yang kita hadapi. Khususnya yang terkait dengan masalah social, budaya dan lain-lain, bidang mu'asyarah dan mu'amalah.
  3. Selalu mengingat Allah dan mengadukan persoalan hidup yang menyelimuti kehidupan kita kepada Allah, selanjutnya melakukan petunjuk dan resep yang diberikan oleh Allah SWT tersebut
2.      Ayat 2
قُمْ فَأَنْذِرْ
"Bangkit dan berilah peringatan".

Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
  1. Mengetahui bahwa solusi persoalan kehidupan sosial masyarakat, adalah kita harus bangkit dan berdakwah.
  2. Memahami dan menghayati pentingnya gerakan dakwah dalam memberikan solusi persoalan sosial. Khususnya yang terkait dengan worning terhadap bahayanya kemaksiatan dan semua perilaku yang menyalahi aturan Allah SWT.
  3. Selalu menghidupukulan semangat dakwah (amar makruf nahi Munkar) dan kepedulian sosial dan moralitas anak bangsa
3.  Ayat 3
وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ
"Dan Rob (Tuhan atau pendidik) mu, maka agungkanlah".


Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
1.      Mengetahui Etika kepada Tuhan sebagai pendidik/ pembimbing kita, yaitu mengagungkan. Demikian juga kepada wakil-wakil Allah yang bertanggung jawab untuk membimbing atau mendidik kita, seperti: orang tua, guru dan pimpinan kita, kita juga harus mengagungkan.
2.      Memahami dan menghayati, tentang pentingnya sikap mengagungkan Allah dan pendidik kita (guru, orangtua dan pimpinan) sebagai Khalifatullah.
3.      Berusaha untuk mengagungkan Allah dan juga para Khalifah-Nya yang membina dan mendidik diri kita. Baik mengagungkan dengan hati, perkataan maupun perbuatan
4. Ayat 4         
وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ
"Dan pakaianmu (pakaian badan dan pakaian Ruhani atau akhlak), maka sucikanlah".

Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
  1. Mengetahui tentang wajibnya mensucikan pakaian, khususnya pakaian Ruhani, yaitu Akhlak, atau kondisi jiwa.
  2. Memahami dan menghayati tentang pentingnya menjaga kesucian pakaian, baik pakaian jasmani maupun pakaian Ruhani. Yakni Akhlak atau kondisi jiwa kita.
  3. Selalu berusaha untuk menjaga kesucian jiwa dari dosa dan sikap mental negatif. demikian juga pakaian jasmani disucikan dari najis

5. Ayat 5
وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ
" Dan terhadap perbuatan dosa, maka jauhilah".

Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
  1. Mengetahui, bahwa Allah memerintahkan kepada kita untuk menjauhi perbuatan dosa. Apalagi melakukan, tentu lebih tidak disukai lagi.
  2. Memahami dan menghayati, bahwa semua perbuatan yang menimbulkan murkanya Allah harus kita jauhi.
  3. Berusaha keras untuk menjauhi segala bentuk aktivitas yang tidak diridhoi oleh Allah SWT
6. Ayat 6
وَلَا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ
“Dan janganlah kamu memberi dengan maksud untuk
memperoleh yang lebih banyak".
Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
1.      Mengetahui, bahwa kita harus meninggalkan perbuatan segala macam bentuk kemunafikan, khususnya money politik.
2.      Memahami dan menghayati, tentang buruknya perbuatan money politik dengan segala macam bentuk penampakannya.
3.      Berusaha keras untuk ikhlas dalam beramal, khususnya dalam amal shodaqoh. Jangan sampai kelihatannya memberi tapi sebenarnya Membeli

7. Ayat 7
وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ
"Dan karena Rob (Tuhan atau pendidik) mu, maka bersabarlah".

Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
  1. Mengetahui, tentang sikap mental yang harus dipakai oleh seorang hamba kepada Tuhannya, yaitu sabar dalam bertakwa (melaksanakan perintah dan menjauhi larangaNya.
  2. Memahami dan menghayati, betapa pentingnya sikap sabar dalam mentaati Allah dan rasul-nya.
  3. Selalu berusaha untuk menjadi hamba Allah yang termasuk golongan min asshobirin. Khususnya dalam hal melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah. Demikian juga kepada para"Wakil Allah" yang menjadi pemimpin dan pembimbing kita, seperti: orang tua, guru dan atasan kita. Kita juga harus bersabar dalam melaksanakan tugas dan bimbingan mereka
8.  Ayat 8
فَإِذَا نُقِرَ فِي النَّاقُورِ
"Maka apabila sangkakala telah ditiup".

Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
  1. Mengetahui bahwa tiupan sangkakala atau penombolan bel atau pengetokan palu, sebagai simbol dimulainya era baru, adalah penting untuk diperhatikan dan dipersiapukulan.
  2. Memahami dan menghayati, betapa pentingnya perhatian dan persiapan menghadapi eksekusi, penetapan dan perubahan era baru dalam kehidupan. Khususnya era baru dari kehidupan duniawi ke dalam kehidupan ukhrowi / akhirat. Yang dimulai dari tiupan sangkakala.
  3. Memperhatikan dan mempersiapukulan diri untuk menghadapi tiupan sangkakala, baik tiupan tanda masuk era alam barzakh (Kematian), maupun tiupan sangkakala, sebagai tanda masuk era alam baqa' , alam akhirat (hari kebangkitan)
9.      Ayat 9
فَذَٰلِكَ يَوْمَئِذٍ يَوْمٌ عَسِيرٌ

"Karena itulah, saat itu (ketika sangkakala sedang ditiup), adalah hari yang sulit".

Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
  1. Mengetahui bahwa hari peniupan sangkakala (hari eksekusi atau hari penetapan status hukum baru sebagai hasil dan balasan amal perbuatan seseorang) adalah hari yang sulit. Khususnya bagi orang-orang yang tidak beriman dan hati serta perilakunya tidak baik.
  2. Memahami dan menghayati betapa pentingnya mengingat dan mempersiapukulan diri untuk menghadapi hari yang sulit itu. Yaitu hari ditiup nya sangkakala.
  3. Meningkatkan kualitas iman dan taqwa kepada Allah SWT, untuk menghadapi hari-hari sulit. Seperti hari pengumuman hasil ujian, hari pembacaan keputusan hakim, hari pernikahan dan lain-lain. Khususnya hari kematian dan hari kebangkitan

10.  Ayat 10
عَلَى الْكَافِرِينَ غَيْرُ يَسِيرٍ
"Atas orang-orang kafir tidak ada kemudahan".

Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
  1. Mengetahui bahwa, nasib orang yang tidak beriman (tidak percaya dan sengaja menentang aturan dan ketentuan Allah). adalah sangat sulit, karena akan berhadapan dengan para petugas Allah (malaikat) yang tidak mengenal kompromi.
  2. Memahami dan menghayati betapa pentingnya menghindari sikap mental kufur dan i'tirod (menentang ajaran agama Islam), dalam berbagai bentuk dan tingkatannya.
  3. Senantiasa membiasakan diri untuk bersikap: yakin (iman), taslim (menyerah kepada hukum dan kehendak Allah), qona'ah (merasa cukup dengan pemberian Allah) dan Ridlo (menerima dengan senang hati) terhadap hukum dan irodah Allah SWT
11.  Ayat 11
ذَرْنِي وَمَنْ خَلَقْتُ وَحِيدًا
"Biarkan Aku sendiri (yang akan menghukum) orang yang telah Aku ciptakan sendiri (orang yang kafir itu)".

Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
  1. Mengetahui, bahwa hukuman terhadap orang kafir itu nanti yang ngurus Allah sendiri, itu otoritas Allah SWT.
  2. Memahami dan menghayati, bahwa Allah pasti akan memberikan hukuman kepada orang yang kafir lagi menentang para rasul, cepat atau lambat. Kita tidak perlu khawatir dan repot-repot menghukum mereka.
  3. Bersabar dengan pertentangan dan pelecehan orang-orang kafir terhadap dakwah kita, jangan terpancing emosi kita sehingga kita berbuat anarkis.
    Juga jangan sampai kita menjadi orang yang kafir terhadap ajaran Rasulullah, khususnya yang terkait dengan adanya hari ditiup nya sangkakala
12.  Ayat 12
وَجَعَلْتُ لَهُ مَالاً مَّمْدُوداً
"Dan Aku telah jadikan untuknya harta yang berlimpah".

Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:

1. Mengetahui, bahwa memang banyak orang yang tidak beriman itu justru mendapatkan harta kekayaan yang berlimpah.
2. Memahami dan menghayati, bahwa nikmat yang berupa harta benda tidak serta menjadikan seseorang beriman dan bersyukur kepada Allah SWT. Bahkan justru seringkali kebalikannya.
3. Senantiasa meningkatkan syukur dan iman kita kepada Allah SWT, ketika kita mendapatkan karunia berupa harta yang berlimpah, janganlah kita mengingkari nikmat Allah tsb, walaupun itu berupa harta kekayaan.






13.  Ayat 13
وَبَنِينَ شُهُودًا
"Dan anak-anak laki-laki selalu menyertainya".

Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
  1. Mengetahui bahwa karunia yang berupa anak-anak laki-laki yang selalu menyertai kita, belum jaminan dapat menjadikan orang beriman dan bersyukur kepada Allah SWT. Ternyata banyak orang yang punya anak laki-laki yang hebat atau anak perempuan yang membanggakan, tetapi mereka tetap saja kafir.
  2. Memahami dan menghayati betapa pentingnya Rahmat yang berupa iman dan hidayah, sedangkan Rahmat yang berupa anak-anak laki-laki atau perempuan yang membanggakan, adalah ujian bagi orang-orang yang beriman, bagaimana kita membina anak-anak agar menjadi manusia yang berkualitas.
  3. Mensyukuri karunia Allah yang berupa anak-anak laki-laki atau perempuan yang membanggakan, dengan cara menyiapukulan mereka menjadi orang-orang yang beriman dan berkualitas, dalam segala aspek kehidupan
14.  Ayat 14
وَمَهَّدْتُ لَهُ تَمْهِيدًا
"Dan Aku telah lapang kan (kehidupannya), se lapang-lapangnya".

Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
  1. Mengetahui bahwa Allah juga telah memberikan kelapangan hidup kepada semua orang, termasuk kepada orang-orang kafir. Tetapi dia juga tetap saja kafir.
  2. Memahami dan menghayati, bahwa Rahmat material dalam kehidupan sehari-hari (seperti kelapangan hidup), tidak menjamin seseorang menjadi lebih baik, (dapat beriman dan bersyukur sehingga bahagia dunia akhirat). Tetapi Rahmat ruhiyyah yang berupa iman dan hidayah Allah lah yang akan mampu memberikan kebaikan hakiki kepada seseorang.
  3. Selalu bersemangat untuk memohon hidayah (petunjuk) dan ma'unah (pertolongan) Allah, untuk bisa selalu ingat Allah, bisa bersyukur dan memperbaiki peribadatan kita kepada Allah SWT. Dan tidak hanya terimajinasikan tentang kelapangan hidup duniawi nya saja
15.  Ayat 15
ثُمَّ يَطْمَعُ أَنْ أَزِيدَ

"Kemudian dia sangat berharap untuk Aku tambahi".


Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
  1. Mengetahui bahwa Rahmat Allah yang bersifat material sering kali tidak bisa membuat orang menjadi cukup atau puas dan bersyukur, khususnya bagi orang-orang yang tidak beriman. Dia akan selalu berharap untuk mendapatkan tambahan dan tambahan lagi.
  2. Memahami dan menghayati, betapa pentingnya karunia hati yang pandai bersyukur. Karena sesungguhnya hanya karena hati yang kufur, seseorang tidak bisa merasakan kenikmatan Rahmat Allah SWT.
  3. Selalu berusaha untuk menjadi hamba Allah yang pandai bersyukur atas nikmat dan karunia Allah SWT. Tidak seperti orang yang tidak beriman, selalu meminta tambahan Rahmat-rahmat Allah yang bersifat material, sementara itu dia tidak mau beriman dan bertaqwa kepada-Nya
16.  Ayat 16
كَلَّا ۖ إِنَّهُ كَانَ لِآيَاتِنَا عَنِيدًا
“Sekali-kali tidak (akan Aku tambah), karena sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami (Al Qur'an)”.
Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita :
1.  Mengetahui bahwa orang yang selalu menentang ayat-ayat Allah, pasti tidak akan pernah mendapatkan Rahmat dan Barokah dari Allah dalam arti yang sesungguhnya
2. Memahami dan menghayati betapa pentingnya memahami dan menghayati ayat-ayat Allah SWT, sehingga dapat menjalani hidup dalam bimbingan dan Ridho Allah SWT
3. Tidak selalu menentang Ayat-ayat Allah, tetapi sebaliknya selalu berusaha untuk memahami dan menghayati dengan Taslim(tunduk dan patuh terhadap Allah) dan Ridho(menerima ketentuan dan kehendak Allah dengan senang hati)


17.  Ayat 17
سَأُرْهِقُهُ صَعُودًا
"Aku akan memberikan beban hidup yang penuh dengan pendakian (berat lagi memayahkan)".

Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
  1. Mengetahui bahwa hukuman Allah atas orang yang mengingkari ayat-ayat dan aturan-Nya adalah kehidupan yang penuh dengan pendakian (berat lagi payah) yang tidak kunjung berhenti. Di dunia apalagi di akhirat kelak.
  2. Memahami dan menghayati betapa bahayanya kekufuran dalam kehidupan manusia. Karena kekufuran itulah yang membuat manusia terjebak dalam hukuman Allah yang berupa penderitaan dalam hidup dan kehidupan, baik di dunia apalagi di akhirat.
  3. Berusaha untuk selalu menjauhkan diri dari hukuman Allah yang berupa penderitaan hidup dengan cara meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah SWT
18.  Ayat 18
إِنَّهُ فَكَّرَ وَقَدَّرَ
"Sungguh dia telah berfikir dan menetapukulan ukurannya".

Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
  1. Mengetahui, bahwa orang kafir membuat standar penilaian apa saja tidak berdasarkan petunjuk Allah, tetapi berdasarkan pikirannya sendiri (akal).
  2. Memahami dan menghayati betapa pentingnya introspeksi, terhadap pemikiran dan perilaku kita, sudah berdasarkan pada petunjuk Allah ataukah masih mengikuti pikiran dan hawa nafsu kita sendiri.
  3. Senantiasa berusaha untuk menjadikan petunjuk Allah (Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah) sebagai standar penilaian atas pemikiran dan perilaku kita. Agar tidak seperti pemikiran dan perilaku orang yang tidak beriman
19.  Ayat 19-20
فَقُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ * ثُمَّ قُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ

" maka celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan?,
Kemudian celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan?,".

Kedua ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
  1. Mengetahui, betapa Allah SWT mengutuk orang yang menggunakan standar nilai (ilmu dan seni) dalam hidupnya adalah akal dan pikirannya sendiri. Tidak merujuk pada petunjuk Allah SWT.
  2. Memahami dan menghayati, peringatan dan sindiran Allah atas orang yang mengingkari ajaran Islam adalah Allah sedang murka.
  3. Selalu berusaha keras untuk mendapatkan ridho Allah, dengan cara selalu mengikuti aturan dan petunjuk Allah dalam kehidupan sehari-hari
20.  Ayat 21-22
ثُمَّ نَظَرَ * ثُمَّ عَبَسَ وَبَسَرَ

"Kemudian dia memperhatikan (instrospeksi). Kemudian dia bermuka masam dan cemberut".



Dua ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
  1. Mengetahui kebiasaan sikap dan perilaku orang kafir setelah membuat keputusan yang bertentangan dengan yang diridhoi Allah.Yakni; introspeksi, sedih dan kemudian menyesal.
  2. Memahami dan menghayati, betapa detailnya Allah memberikan hidayah kepada kita tentang sikap orang-orang kafir.
  3. Menghindari maksiat dan menentang ajaran-ajaran Allah atau kufur. Khususnya dalam hal menetapukulan standar hukum dalam berbagai penilaian, baik masalah benar-salah ( nilai ilmiah), maupun baik-buruk (nilai seni)
21.  Ayat 23-23
ثُمَّ أَدْبَرَ وَاسْتَكْبَرَ * فَقَالَ إِنْ هَٰذَا إِلَّا سِحْرٌ يُؤْثَرُ

"Kemudian dia membelakangi dan menyombongkan diri, bahkan dia menyatakan "ini hanyalah praktek sihir (hipnotis)".

Kedua ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
  1. Mengetahui tentang tindak lanjut penyesalan dan kekecewaan orang kafir atas segala instrospeksi dari keputusan dan tindakannya adalah negatif. Yakni berupa membelakangi (meninggalkan dengan hati yang inkar dan prustasi), dan takabur (merasa dirinya lebih benar atau lebih yang lainnya, sehingga tidak perlu mengikuti aturan Allah).
  2. Memahami dan menghayati betapa bahayanya su'udhon (berpikiran negatif), khususnya kepada Allah dan para "Khalifah-Nya" agar tidak seperti orang-orang yang tidak beriman. Dan pentingnya positif thinking dan husnudhon kepada Allah SWT. Agar tidak berkesimpulan dan berkesudahan negatif, seperti orang yang tidak beriman.
  3. Berusaha keras untuk selalu bisa berlari dan kembali dengan merunduk dan bersujud kepada Allah dalam setiap urusan dan persoalan hidup yang kita hadapi
22.  Ayat 25
إِنْ هَٰذَا إِلَّا قَوْلُ الْبَشَرِ
"Ini hanyalah kata-kata manusia biasa".

Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
  1. Mengetahui betapa sombong dan dangkalnya pandangan orang yang tidak beriman itu. Dia melihat Al-Qur'an dengan sangat dangkal dan sombongnya.
  2. Memahami dan menghayati psikologi orang-orang yang tidak percaya (kufur). Adanya mental blok yang menghalangi masuknya hidayah Allah ke dalam hatinya Yang dikenal dengan istilah kufur.
  3. Jangan sampai memandang bahwa Alquran sebagai kata kata manusia biasa. Tetapi Al-Qur'an adalah mu'jizat agung Nabi Muhammad yang hakiki dan abadi. Yang merupakan Kalamullah dan tajalliyatullaah sebagai mana alam semesta dan manusia
23.  Ayat 26
سَأُصْلِيهِ سَقَرَ
"Aku akan mendorong dia sampai ke neraka saqar".



Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
  1. Mengetahui, bahwa orang kafir yang sukses dan tetap tidak mau beriman dan bersyukur kepada Allah, pasti Allah akan mendorongnya (semakin tua justru semakin jauh dari jalan kebenaran), sampai kemudian mati dalam keadaan su'ul khotimah dan akhirnya masuk neraka saqar.
  2. Memahami dan menghayati, betapa beratnya ancaman Allah, bagi orang-orang yang kufrun nikmat (meninggalkan dan melupakan Allah dalam setiap kenikmatan yang ia dapatkan).
  3. Senantiasa membiasakan untuk mensyukuri nikmat-nikmat Allah, dengan cara berfikir yang positif- transendental (berfikir positif dengan senantiasa menempatkan posisi Allah sebagai primakausa (penyebab dari segala sesuatu)
24.  Ayat 27-28
وَمَا أَدْرَاكَ مَا سَقَرُ * لَا تُبْقِي وَلَا تَذَرُ
"Tahukah kamu apa saqar itu?, yaitu neraka yang tidak menyisakan (semua penghuninya dihabisi/ disiksa sampai habis), dan tidak membiarkan (tidak kenal kompromi)".

Kedua ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
  1. Mengetahui bahwa Allah mempunyai tempat penyiksaan yang sangat sadis yang namanya neraka saqar. Tempat penyiksaan orang-orang kufrun nikmat.
  2. Memahami dan menghayati, betapa pentingnya pemberitahuan Allah tentang adanya neraka saqar, sebagai tempat penyiksaan orang-orang yang kufrun nikmat.
  3. Agar kita menghindari kekufuran, khususnya kufrun nikmat, sehingga kita tidak didorong oleh Allah masuk ke dalam neraka saqar yang sangat dahsyat, sadis dan menyeramkan
25.  Ayat 29-30
لَوَّاحَةٌ لِلْبَشَرِ * عَلَيْهَا تِسْعَةَ عَشَرَ

"Yang siap membakar hangus, jasad manusia* yang diatasnya ada 19 malaikat".

Kedua ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
  1. Mengetahui bahwa Allah telah menyiapukulan dengan sangat sempurna dengan rumus angka 19. Sebuah tempat penyiksaan orang-orang yang kufrun nikmat yaitu tempat yang namanya saqar dengan kesiapan yang sempurna, dengan rumus bilangan paling unik (19).
  2. Memahami dan menghayati, betapa pedihnya adzab Allah di neraka saqar, yang tidak mungkin dihindari, bagi orang-orang kafir. Khususnya orang yang kufrun nikmat.
  3. Tidak berani-berani mengingkari anugrah yang telah kita terima dari Allah, sekecil apapun adanya. Karena memang sebenarnya semua kenikmatan adalah semata-mata anugrah Allah. Bukan prestasi murni kita sendiri
26.  Ayat 31
وَمَا جَعَلْنَا أَصْحَابَ النَّارِ إِلَّا مَلَائِكَةً ۙ وَمَا جَعَلْنَا عِدَّتَهُمْ إِلَّا فِتْنَةً لِلَّذِينَ كَفَرُوا لِيَسْتَيْقِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَيَزْدَادَ الَّذِينَ آمَنُوا إِيمَانًا ۙ وَلَا يَرْتَابَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَالْمُؤْمِنُونَ ۙ وَلِيَقُولَ الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ وَالْكَافِرُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلًا ۚ كَذَٰلِكَ يُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَا يَعْلَمُ جُنُودَ رَبِّكَ إِلَّا هُوَ ۚ وَمَا هِيَ إِلَّا ذِكْرَىٰ لِلْبَشَرِ
"Kami tidak menjadikan penjaga neraka itu kecuali para malaikat, juga Kami tidak menjadikan jumlah mereka itu kecuali sebagai fitnah bagi orang-orang kafir, agar orang-orang yang beriman itu dari kalangan ahli kitab itu menjadi lebih yakin dan bertambah imannya. Dan agar orang-orang ahli kitab dan orang-orang mukmin (muslimiin) tidak menjadi ragu. Juga agar orang-yang di hatinya ada "penyakit" berikut orang-orang kafir pada berkata "untuk apa Allah menjadikan jumlah 19 itu" sebagai tamsil. Demikian lah Allah menyesatkan orang yang dikehendaki atau memberikan hidayah kepada orang yang dikehendaki. Tidak ada yang mengetahui pasukan Tuhan mu kecuali Dia, dan tidak lain dia itu "jumlah bilangan 19" ada peringatan bagi manusia".

Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
  1. Mengetahui bahwa penjaga neraka adalah para malaikat sebagai pasukan Allah yang sangat metafisik, sehingga tidak bisa diketahui oleh selain Allah. Juga agar kita mengetahui tentang keunikan angka dan jumlah bilangan "19".
  2. Memahami dan menghayati, betapa pentingnya sikap husnudhon (berpikiran positif), terhadap ayat-ayat Allah. Khususnya yang terkait dengan ayat-ayat mutasyabihat, seperti jumlah bilangan 19 sebagai password Al-Qur'an.
  3. Meyakini dengan sepenuh hati, tentang kemukjizatan Alquran, termasuk di dalamnya ayat-ayat mutasyabihat yang harus dimaknai positif.
    Tidak menambah atau mengurangi ayat-ayat suci Alquran, walaupun satu huruf. Karena pada setiap hurufnya ada malaikat penjaga nya. Seperti kalimat basmallah yang terdiri dari 19 huruf, yang masing-masing ada khadam penjaganya
27.  Ayat 32-34
كَلَّا وَالْقَمَرِ * وَاللَّيْلِ إِذْ أَدْبَرَ * وَالصُّبْحِ إِذَا أَسْفَرَ
“Sungguh tidak, demi bulan* Demi malam apabila telah membelakangi* Demi waktu pagi apabila telah menguning”
Ketiga ayat tersebut mengisyaratkan agar kita :
  1. Mengetahui akan pentingnya bulan, waktu malam yang sudah mulai larut dan waktu subuh yang telah menguning terhadap kehidupan dan alam semesta pada umumnya
  2. Memahami dan menghayati betapa pentingnya bertafakur tentang penciptaan bulan, tentang waktu malam yang mulai larut. Serta waktu subuh yang telah beranjak siang dan hubungannya dengan alam semesta dan kehidupan umat manusia, khususnya yang terkait dengan psikologi dan biologis manusia
  3. Mentafakkuri kejadian alam semesta, khususnya Penciptaan bulan, serta pergantian waktu. Malam hari dan pagi hari, serta kaitannya dengan kehidupan umat manusia secara menyeluruh. Sehingga kita bisa menjadi manusia yang ma'rifatullah (mengenal Allah) dan bijaksana


28.  Ayat 35-36
إِنَّهَا لَإِحْدَى الْكُبَرِ * نَذِيرًا لِلْبَشَرِ
"Sungguh saqar itu adalah salah satu yang besar* sebagai peringatan untuk semua manusia".

Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
  1. Mengetahui bahwa Allah memberi warning manusia atas akibat buruk yang akan menimpa orang yang bersikap buruk yakni kufur, khususnya kufrun nikmat adalah masuk ke dalam neraka saqar yang sangat dahsyat, dan sadis siksaannya.
  2. Memahami dan menghayati, betapa pentingnya mengingat dahsyatnya siksaan Allah di dalam neraka saqar, bagi orang-orang yang kufrun nikmat.
  3. Menjadikan peringatan Allah tentang adanya neraka saqar, sebagai bahan renungan dan warning agar kita bisa selalu bersyukur kepada Allah atas segala nikmat yang telah kita terima
29.  Ayat 37
لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَتَقَدَّمَ أَوْ يَتَأَخَّرَ
"Bagi diantara kalian yang ingin maju atau mundur".

Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
  1. Mengetahui, bahwa petunjuk dan peringatan Allah itu tidak memaksa. Bebas, mau sukses menuju surga atau celaka atau mundur dan masuk neraka.
  2. Memahami dan menghayati, betapa Allah maha pengasih, sehingga Dia memberikan petunjuk begitu detail agar kita selamat dan sukses terhindar dari siksaan neraka saqar.
  3. Bersikap positif terhadap peringatan Allah, dengan cara melakukan perbaikan diri (maju terus pantang mundur) untuk menggapai sukses, selamat dari siksaan neraka saqar
30.  Ayat 38
كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ
"Setiap diri manusia terhadap apa yang telah diusahakan harus bertanggung jawab".

Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
  1. Tidak sembarangan berbuat, tetapi benar-benar memikirkan akibat dan pertanggungjawaban nya sebelum berbuat.
  2. Mengetahui, bahwa Allah telah menunjukkan sikap mental positif dan bijaksana, yakni berfikir yang serius sebelum bertindak.
  3. Memahami dan menghayati, betapa sempurnanya al Qur'an sebagai petunjuk Allah bagi orang-orang yang beriman
31.  Ayat 39-41
إِلَّا أَصْحَابَ الْيَمِينِ * فِي جَنَّاتٍ يَتَسَاءَلُونَ *
عَنِ الْمُجْرِمِينَ
" Kecuali para ahli kanan (kebaikan)* Mereka ada di taman-taman pada saling tanya-jawab* tentang orang-orang yang jahat".

Ketiga ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
  1. Menjadi seorang yang ahli kanan (ahli kebaikan) sehingga nantinya akan menjadi ahli surga.
  2. Mengetahui, bahwa orang yang istiqamah dalam jalur kanan (kebaikan), nanti tempat kembalinya adalah surga. Dan di surga orang itu akan teringat dengan kehidupan di dunia, bahkan mereka bisa saling mendiskusikan tentang nasib teman-teman di dunia nya yang jahat-jahat dulu "bagaimana nasibnya dia sekarang".
  3. Memahami dan menghayati, betapa pentingnya sikap istiqamah dalam kebaikan. Alangkah bahagianya mereka yang telah bisa istiqamah dalam kebaikan
32.  Ayat 42
مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ
"Apakah yang menjalankan diri kalian sampai di dalam neraka saqar ini".

Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
  1. Memperhatikan dengan baik, dialog emajiner antara penduduk surga dan penghuni neraka, sebagai bahan renungan dan introspeksi diri.
  2. Mengetahui, bahwa di alam akhirat juga terdapat alat komunikasi (medsos) yang canggih, yang bisa menghubungkan komunikasi antara penghuni surga dan penghuni neraka, yang berada di dua 'tempat' yang tidak sama frekuensinya.
  3. Memahami dan menghayati, betapa pentingnya menghindari sesuatu yang bisa menghantarkan diri kita masuk ke dalam neraka saqar





33.  Ayat 43-44
قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ * وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ
"Mereka menjawab, kami tidak termasuk orang-orang yang ahli sholat. Dan tidak termasuk orang yang suka memberi makan orang-orang miskin".

Dua ayat tersebut mengisyaratkan agar kita;
  1. Menjaga hubungan baik kita dengan Allah dan dengan sesama manusia, khususnya fakir miskin. Dalam bentuk aktif sholat dan gemar berbagi Rizki.
  2. Mengetahui, bahwa ketidak aktifan sholat dan ketidak pedulian dengan orang miskin adalah penyebab utama orang masuk neraka saqar.
  3. Memahami dan menghayati, pentingnya menjaga keseimbangan antara Hablum minallaah dan Hablum minannaas. Khususnya dalam bentuk sholat dan infaq atau zakat
34.  Ayat 46
وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ الْخَائِضِينَ
"Dan kami suka ngerumpi dan gosip bersama dengan tukang gosip dan tukang ngerumpi".

Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
1.      Menghindari gosip dan ngerumpi dan orang-orang tukang gosip dan tukang ngerumpi.
2.      Mengetahui, bahwa perbuatan gosip dan ngerumpi termasuk penyebab utama orang terjatuh ke dalam neraka saqar.
3.      Memahami dan menghayati, betapa bahayanya kebiasaan ngerumpi dan gosip, bagi keselamatan dan kesehatan Ruhani dan nasib kita di alam akhirat
35.  Ayat 46
وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّين
“Dan adalah kami mendustakan hari pembalasan(hari kiamat)”

Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
  1. Meyakini akan adanya hari agama (hari dimana pernyataan dan informasi agama terbukti atau terlaksana), sehingga selalu mentaati peraturan dan Syariah Islam dengan senang hati.
  2. Mengetahui, bahwa diantara sebab seseorang masuk neraka saqar adalah mendustakan adanya hari agama
  3. Memahami dan menghayati, pentingnya iman kepada hari agama, atau hari kiamat atau hari akhir. Sebagai hari pembalasan.Agar selamat dari neraka saqar
36.  Ayat 47-48
 حَتَّىٰ أَتَانَا الْيَقِينُ * فَمَا تَنْفَعُهُمْ شَفَاعَةُ الشَّافِعِينَ

"Sampai datang kepada kami keyakinan (kematian)* Sehingga pertolongan dari para penolong tidak bisa bermanfaat lagi".

Kedua ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
  1. Segera memperbaiki diri, tidak membiarkan diri dalam ketidak baikan, sampai mati. Seperti: tidak sholat, suka gosip dan ngerumpi, pelit tidak yakin dengan adanya hari agama (hari kiamat).
  2. Mengetahui, bahwa orang-orang yang masuk neraka saqar itu adalah orang-orang kufrun nikmat dan bergelimang dengan dosa sampai mati, dan belum sempat taubat. Sehingga tidak bisa ditolong lagi.
  3. Memahami dan menghayati, betapa pentingnya bersegera memperbaiki diri dan bahayanya menunda taubat. Seperti para penghuni neraka saqar. Karena jika sampai keduluan mati, maka tidak bisa lagi untuk ditolong
37.  Ayat 49
فَمَا لَهُمْ عَنِ التَّذْكِرَةِ مُعْرِضِينَ

“Maka tidak ada (manfaat) bagi mereka peringatan itu, karena mereka menentang”
Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita :
1.   Menerima dengan baik (sikap dan pikiran) peringatan atau       nasehat, khususnya tentang ajaran agama Islam  
2. Mengetahui, bahwa sikap i'tirod (menentang) nasehat agama adalah penyebab utama orang menjadi tidak baik dan masuk neraka saqar
3. Memahami dan menghayati, betapa bahayanya sikap mental i'tirod (menentang nasehat agama), bagi keselamatan hidup di dunia dan akhirat
38.  Ayat 50-51
كَأَنَّهُمْ حُمُرٌ مُسْتَنْفِرَةٌ * فَرَّتْ مِنْ قَسْوَرَةٍ
"Seakan-akan mereka seperti himar-himar yang lagi terkaget-kaget. Dan berlari karena ada singa”
Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita :
  1. Dalam menanggapi peringatan agama tidak seperti orang-orang kafir, yang terkejut-kejut dan berlari menghindar, seperti himar-himar yang melihat ada singa yang dating
  2. Mengetahui, tentang gambaran orang yang menentang peringatan dari Allah, seperti himar-himar liar yang terkaget-kaget oleh kedatangan singa yang mendadak
  3. Memahami dan menghayati kiasan tersebut sebagai sindiran keras. Bahwa sikap mental suka i'tirod (menentang) peringatan Allah adalah sangat buruk dan harus di hindari
39.  Ayat 52
بَلْ يُرِيدُ كُلُّ امْرِئٍ مِنْهُمْ أَنْ يُؤْتَىٰ
صُحُفًا مُنَشَّرَةً
"Tetapi setiap orang dari mereka itu, ingin mendapatkan lembar-lembar (kitab suci) dengan terbuka (seperti yang diterima oleh Nabi Muhammad)

Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita;
  1. Tidak heran dan juga tidak ketularan sikap orang kafir yaitu:, ingin enaknya sendiri, tidak mau berpayah-payah dalam ta'at, dan cenderung sinis dan menantang terhadap kebenaran.
  2. Mengetahui, bahwa orang kafir itu memandang Nabi Muhammad,rendah dan tidak istimewa. Mereka merasa lebih berhak untuk mendapatkan kitab suci atau Wahyu seperti Nabi Muhammad.
  3. Memahami dan menghayati, betapa jeleknya sikap mental orang kafir, yang tidak menginginkan sesuatu yang tidak mungkin terlaksana,angkuh dan takabur.
40.  Ayat 53
كَلَّا ۖ بَلْ لَا يَخَافُونَ الْآخِرَةَ
“Sungguh tidak mungkin, bahkan sebenarnya mereka itu tidak takut akhirat”
Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita :
  1. Mengerti dan memahami, bahwa orang kafir yang menantang informasi tentang akhirat memang mereka itu tidak takut dan tidak percaya dengan hal ini
  2. Mengetahui dan tidak perlu kaget dengan sikap orang yang mungkin kita temukan dalam kehidupan sehari-hari, yang seperti itu
  3. Tidak meniru sikap yang tidak baik orang yang tidak beriman, yaitu tidak takut akhirat
41.  Ayat 54-55
كَلَّا إِنَّهُ تَذْكِرَةٌ * فَمَنْ شَاءَ ذَكَرَهُ
“ Sekali-kali tidak demikian halnya. Sesungguhnya Al Qur'an itu adalah peringatan. Maka barangsiapa menghendaki, niscaya dia mengambil pelajaran daripadanya (Al Qur'an)”.
Dua ayat tersebut mengisyaratkan agar kita :
  1. Betul-betul menjadikan Al-Qur'an sebagai panduan (peringatan, perintah, himbauan dan larangan) baik secara tersurat maupun tersirat
  2. Mengetahui, bahwa Al quran adalah berfungsi sebagai peringatan, khususnya bagi orang-orang yang maksiat atau duraka serta inkar dengan aturan Allah SWT
  3. Memahami dan menghayati, betapa Allah Maha Penyayang kepada manusia, sehingga Dia menurunkan Al-Qur'an sebagai peringatan, agar kita tetap selamat di dunia dan akhirat
42.  Ayat 56
وَمَا يَذْكُرُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ ۚ هُوَ أَهْلُ التَّقْوَىٰ وَأَهْلُ الْمَغْفِرَةِ
"Dan mereka itu tidak akan dapat mengingat (peringatan itu) kecuali jika Allah menghendaki. Dialah otoritas taqwa dan otoritas ampunan".

Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:
  1. Selalu berusaha untuk bertaqwa kepada Allah, dengan cara senantiasa mengingat-ingat peringatan Allah, dan memohon ampunan-Nya. Agar kiranya Allah berkenan memberikan hidayah untuk bisa Dzikirullah.
  2. Mengetahui, bahwa Allah lah otoritas (pemilik hak mutlak) untuk ditaati dan pengampunan. Disamping masiatillaah (kehendak dan ijin Allah) adalah otoritas segala macam bentuk kejadian.
  3. Memahami dan menghayati, betapa lemahnya kita sebagai manusia, dan betapa Maha Kuasa nya Allah, Tuhan Yang Maha Esa.

Bagikan Posting ini

Tentang Kami

Pesantren Terpadu yang didirikan oleh Yayasan Pondok Pesantren Daru Ulil Albab. Insya Allah siap mengemban amanat anda. Untuk menjadikan putra-putri anda pemimpin bangsa, / ulama’/ cendikiawan / konglomerat yg bertaqwa kepada Allah, dan berakhlak mulia Facebook

0 komentar:

Tentang Kami-Pendaftaran-Contact
Copyright © 2013 Pondok Pesantren - DARU ULIL ALBAB. Blogger Template by BloggerTheme9
Proudly Powered by Blogger.
back to top