Kajian Psikosufistik Pendidikan Islam

Posted at  12.21  |  in  kajian umum



Kajian Psikosufistik Pendidikan Islam
Oleh : Dr. KH. Kharisudin Aqib, M. Ag

A. Pendidikan Islam adalah kelanjutan dari misi dakwah Rasulullah Muhammad Saw, yaitu Li utammima makaarimal akhlaq (menyempurnakan kemuliaan akhlak (kepribadian, atau karakter). Menyempurnakan dalam arti menumbuh kembangkan dengan serasi dan harmonis. Sedangkan kemuliaan berarti  keterpaduan antara keunggulan (ekselensi) dan keberbedaan dengan yang lain (distingsi).
Sehingga pendidikan Islam berarti suatu proses penumbuh kembangan kepribadian manusia menjadi manusia yang berkarakter yang serasi dan harmonis dalam keunggulan dan keunikan.
Akhlak, kepribadian dan karakter adalah sebuah ungkapan atau konsep yang maknanya adalah sebuah totalitas diri seorang manusia yang merupakan integrasi kesadaran (perpaduan antara kesadaran jasmaniah dan kesadaran rohaniah). Sedangkan hal tersebut merupakan wujud maknawi dan hakiki seorang manusia. Yang secara garis besarnya terdiri dari tiga organ penting, yaitu: kepala, badan dan tangan-kaki. Ketiga organ penting ini sekaligus sebagai obyek pendidikan Islam. Karena ketiganya merupakan perwujudan dari tiga potensi dasar manusia, yakni; kognitif (pengetahuan), afektif (penghayatan) dan psikomotorik (perbuatan).
Pendidikan Islam bertugas selain menumbuh kembangkan kepribadian yang serasharmonis antara kognitif, afektif dan psikomotorik dengan baik. Dengan cara memberikan pengetahuan, penghayatan dan praktek dalam keilmuan secara seimbang dan serasi, Sebagai mana keseimbangan perkembangan kepala, badan, tangan dan kaki.
Ilmu pengetahuan seseorang sebaiknya tidak lebih baik daripada penghayatan seseorang terhadap ilmu tersebut, demikian juga halnya praktek dan Pengamalannya juga harus terampil dan baik, dengan menyeimbangkan antara tehnis pengajaran, pembiasaan dan bimbingan praktis. Khususnya dalam bidang pendidikan moral keagamaan.
Di samping tiga aspek tersebut, dalam jiwa sebagai hakekat pemilik akhlak, kepribadian dan karakter seseorang ada tiga dorongan atau kecenderungan, yaitu; keinginan (syahwat), emosi (ghodhob) dan pengetahuan (ilmu). Ketiga hal tersebut berada dan bersifat software (perangkat lunak atau lathifah) yang menempel dalam sistem kerja hardware (perangkat keras) yang disebut dengan: otak kanan, otak kiri dan otak depan. Sedangkan otak belakang sebagai pengendali keseimbangan gerakan badan, dan otak tengah (Mesenchepalon) bertugas mengkoordinasikan kerja semua bagian otak, sehingga menghasilkan kesadaran  majemuk dan meaningtif (kecerdasan spiritual).
Disamping itu semua, pada dasarnya jiwa memiliki empat macam tabiat (sifat bawaan) yang tampak dalam sikap mental dan perilaku seseorang, yaitu: tabi'at bahimiyah (binatang jinak), sabu'iyah (binatang buas), syaithoniyah (kesetanan), dan tabiat malaikatiyah (kemalaikatan).
Keempat macam tabiat tersebut secara potensial ada pada setiap orang dengan dominasi dari salah satu dari keempatnya.
Tabiat yang mendominasi diri seseorang itulah akhlak, kepribadian dan karakter orang tersebut serta wujud maknawi dirinya.
Tabi'at bahimiyah adalah tabiat kebinatang jinakkan, yakni suka makan- minum, bermalas-malasan  atau tidur dan melampiaskan nafsu seksual.
Tabi'at sabu'iyah atau kebinatang buasan adalah kesukaan bertengkar, menyakiti orang lain, mengalahkan dan berbuat onar.
Dan tabi'at syaithoniyah adalah kesukaan untuk berprilaku seperti setan, seperti; iri hati, hasut, dengki, takabur dan licik.
Sedangkan tabi'at malaikatiyah kesukaan berbuat ta'at dan mendekat kepada Allah SWT, serta menjauhi maksiat.
Sehingga orang yang didominasi oleh salah satu dari tabi'at-tabi'at tersebut kepribadian, Karakter dan akhlaknya adalah mungkin bahimi, sabu'i, syaithoni atau malaikati, dan juga wujud maknawi (wujud di alam astral atau alam metafisika), sekitar binatang ternak ( sapi, kambing dll), binatang buas (anjing, ular, buaya dll), setan (genderuwo, kuntilanak dll), serta malaikat (manusia tampan atau cantik yang bercahaya terang).
Disamping menjaga, mengasah dan meningkatkan kualitas kecerdasan spiritual, emosional, intelektual dan kinestetik, pendidikan Islam bertujuan merubah karakter peserta didik (siswa santri), dari berkarakter negatif (bahimiyah, sabu'iyah dan syaithoniyah) menjadi berkarakter positif (malaikatiyah). Dan itulah manusia yang sesungguhnya, yang disebut Muttaqin (orang yang benar-benar bertaqwa), yakni manusia berkarakter malaikat.
Dari segi kualitas kelembutan spiritualnya jiwa memiliki 7 tingkatkan, dan masing-masing tingkat memiliki karakteristik dan kinerja yang berbeda.
Ke tujuh tingkatan itu adalah;
1. Lathifatun nafsi dengan karakter amarah bis su' (memerintahkan kepada keburukan).
2. Lathifah qalbi dengan karakter lawwaamah (suka mencela).
3. Lathifah ruhi, dengan Karakter mulhimah (sensitif intuitif positif dan negatif).
4. Lathifah Sirri dengan karakter Muthmainnah (stabil dalam kebaikan dan kebenaran).
5. Lathifah khofi dengan karakter rodhiyah (puas dengan ketentuan dan pemberian Allah).
6. Lathifah Akhfa dengan karakter Mardhiah (Dapat dibanggakan oleh Allah)
7. Lathifah qalab, dengan karakter Kamilah (sempurna/ memiliki semua karakter2 ilaahiah).
Pada setiap tingkat kelembutan jiwa tersebut memiliki jaringan intuisi positif (taqwallah) dan intuisi negatif (fujur atau duraka kepada Allah).
Nama jiwa seseorang didasarkan pada Karakter yang mendominasi dirinya, yaitu, salah satu dari karakter jiwa (nafsu) berikut ini : nafsu amarah, nafsu lawwaamah, nafsu mulhimah, nafsu Muthmainnah, nafsu rodhiyah, nafsu Mardhiah dan nafsu Kamilah.
Yang penting untuk disadari, bahwa tabi'at jiwa lebih bersifat genotipe (bawaan sejak lahir) sedangkan Akhlak, kepribadian atau pun karakter bersifat edukatif (karena faktor didikan dan lingkungan sekitar. Dengan meningkatnya kwalitas karakter seseorang, meningkat pula kwalitas tabiat seseorang.
Mendidik berarti menumbuhkembangkan totalitas kejiwaan manusia yang terdiri dari hardware dan software dari pikiran, perasaan dan perilaku manusia. Pikiran atau akal manusia pada otak, perasaan manusia pada shudur (dada), dan perilaku manusia pada organ tubuhnya yang diwakili oleh tangan dan kakinya. Atau dalam bahasa pendidikan disebut sebagai aspek kognitif (pengetahuan), afektif (perasaan) dan psikomotorik (perilaku). Dengan tehnik yang bersifat sistemik (rangkaian sistem terpadu), integratif (menyatu) dan simultan (berurutan dan terus menerus) antara pengajaran (ta'lim), pembiasaan (ta'dib) dan bimbingan kerohanian (Irsyad).
 Software perasaan yang namanya shudur (dada) tersebut memiliki tujuh aplikasi penting yang sudah disebutkan, yaitu;
1. Nafsu
2. Qolbu
3. Ruh
4. Sirr
5. Khofi / Lub
6. Akhfa / Fuad
7. Qalab.
Software dan aplikasinya tersebut memiliki tehnis pendidikan atau perawatannya sendiri sehingga menjadi berkembang dan tumbuh dengan  sehat (fungsional dan produktif). Perawatan dan pendidikan bisa juga disebut olah rasa sebagaimana halnya badan perlu olahraga.
Perawatan software (jiwa manusia) adalah dengan dzikrullah,  dengan segala macam bentuknya aktivitasnya, seperti sholat, membaca kitab suci, membaca kalimat thoyyibah, mengamati dan mentafakkuri ayat2 Allah dalam kehidupan (manusia, binatang dan tumbuhan).
Dengan pengasahan tersebut (tazkiyatun nafsi), jiwa manusia menjadi cerdas dan dewasa. Kecerdasan emosional menjadi bagus (stabil,  apresiatif, pemaaf dan toleran), demikian juga kecerdasan spiritualnya menjadi bagus (sensitif terhadap makna2 di balik fenomena dan peristiwa).
B. Neoropsikologi Sufistik.
Manusia adalah makhluk Ruhaniyah yang berjisim, dalam arti bahwa hakekatnya manusia itu adalah ruhnya, sedangkan jisim atau jasadnya hanyalah sebuah wadah dan kendaraan atau baju bagi ruh untuk berwujud dan bereksistensi di dalam dunia ini. Ibaratnya seperti apa yang kita kenal di dalam sistem komputer adanya dua substansi yang terintegrasi dengan baik, yaitu: software (perangkat lunak) dan  hardware (perangkat keras).
Ruh makhluk-makhluk (termasuk manusia) adalah berasal dari ruh Allah, Maka dia membawa sifat-sifat Hb ketuhanan Al hayyu (maha hidup), Al qayyum (maha tegak berdiri), Al qawiy (maha kuat) dll dari  asma2 (karakter) Allah. Maka dengan masuknya ruh Allah, itulah sel-sel dalam organisme menjadi hidup (tumbuh, berkembang, bergerak dan juga berfikir) sesuai dengan kesiapan dan kelengkapan hardware (jasad) makhluk hidup tersebut.
Menempelnya unsur ketuhanan pada unsur material, melalui bagian unsur yang paling lembut dari suatu unsur. Khusus makhluk hidup biologis, unsur ketuhanan (Al hayyu=hidup) adalah menempel pada oksigen, dalam sebuah senyawa H2O (Air). Sehingga hampir dapat dipastikan sebuah organisme akan mati jika tidak menerima oksigen, karena tidak ada media bagi ruh untuk berwujud di situ.
Oleh karena itu, ada korelasi yang sangat kuat antara jasmani dan rohani dalam sebuah wujud kesadaran yang disebut sebagai jiwa (nafs atau soul) yang selanjutnya Secara riil membentuk sebuah kepribadian atau Karakter. Kepribadian maupun perbuatan setiap organisme termasuk manusia dikendalikan melalui pusat pengendalian (sebuah anatomi yang bersifat biologis). Anatomi tersebut untuk makhluk hidup tingkat tinggi disebut dengan nama otak. Sehingga dari organ ini prilaku, karakter dan bahkan gerakan-gerakan di luar kesadarannya diprogram dan dikendalikan, termasuk kerja jantung biologis manusia.
Ruh manusia itu berasal tiupan bagian ruh Allah, dia sangat lembut (lathiif atau soft), sehingga bisa tembus pada semua bagian terkecil dari segala sesuatu. Sehingga bisa sambung dan menempel pada unsur material, sebagai mana esensi (rasa, warna atau bau) pada benda-benda. Seperti wangi pada bunga, atau panas pada bara api dll.
Ruh yang berada dalam diri manusia (jiwa) juga sebagai mediator antara Allah dengan makhluknya, melalui jiwa Allah menghidupkan, menggerakkan, menunjukkan, menyesatkan dlsb. Manusia memiliki kesempurnaan jaringan dengan Allah, baik jaringan intuisi positif (ilham taqwa) dan jaringan intuisi negatif (ilham fujur), maka beruntunglah orang-orang yang mensucikan jiwanya dan Sungguh rugi orang yang mengotorinya (QS: as syams: 7-10)
Sehingga kalau Allah mencabut ruh seseorang, maka berhentilah semua aktivitas dalam dirinya, atau juga sebaliknya, jika aktivitas menyebarnya ruh dalam sebuah organisme maka mati jugalah jadinya organisme tersebut. Karena dengan ruh-Nya Allah menghidupkan dan dengan ruh-Nya pula dia mematikan. Dengan cara memasukkan ruh-Nya (jadilah hidup) dan mengeluarkan ruh-Nya dari dalam diri seseorang (mematikan).

Bagikan Posting ini

Tentang Kami

Pesantren Terpadu yang didirikan oleh Yayasan Pondok Pesantren Daru Ulil Albab. Insya Allah siap mengemban amanat anda. Untuk menjadikan putra-putri anda pemimpin bangsa, / ulama’/ cendikiawan / konglomerat yg bertaqwa kepada Allah, dan berakhlak mulia Facebook

0 komentar:

Tentang Kami-Pendaftaran-Contact
Copyright © 2013 Pondok Pesantren - DARU ULIL ALBAB. Blogger Template by BloggerTheme9
Proudly Powered by Blogger.
back to top