• Profil

    Pesantren Terpadu Daru Ulil Albab

  • INFORMASI PENDAFTARAN SANTRI BARU TAHUN 2019

  • Wakaf Tunai

    Gerakan Wakaf Sejuta Umat Ulul Albab

  • Mujahadah

    Jadwal Mujahadah

  • Memahami Akar Sejarah
    timbulnya Aliran-aliran dalam Islam
    Oleh: Kharisuddin Aqib 

    A. Pengantar
    Warna-warni aliran pemikiran dalam Islam seperti yang kita ketahui sekarang ini terjadi melalui proses evolusi yang panjang seiring dengan perkembangan sejarah peradaban Islam itu sendiri. Mulai zaman nabi Muhammad Saw sampai dengan saat ini.
    Agama Islam di awal keberadaannya adalah sebuah dinamika dan komunikasi intensif sebuah komunitas yang terdiri dari Nabi Muhammad dengan keluarga dan para muridnya. Para keluarga (Alihi), dan para muridnya (Ashab). Praktek dinamis dalam kehidupan komunitas inilah yang disebut agama Islam (ma ana 'alaihim alyauma wa ashabihi). Keluarga nabi juga biasa disebut dengan ahlul bait, sedangkan para murid dan pengikutnya disebut sahabat atau ashab. Gambaran sederhana komunikasi antara nabi Muhammad dengan keluarga dan para sahabatnya adalah sebagai mana para kyai dengan keluarganya dan santri.
    Embrio terjadinya persoalan yang kemudian menjadi sebab munculnya aliran-aliran pemikiran dalam semua aspek kehidupan kemasyarakatan umat Islam, adalah meninggalnya Rasulullah Saw.
    Meninggalnya Rasulullah Saw sebagai figur sentral bagi umat Islam berdampak pada munculnya Persoalan Politik Praktis, yakni siapa yang berhak menjadi pengganti beliau sebagai pelanjut pemerintahan atau kepemimpinan. Baik sebagai pemimpin agama maupun pemimpin negara. Pemimpin agama Islam (sebagai Nabi) dan pemimpin negara (kepala negara Madinah). Sebagai Nabi semua umat sepakat, bahwa formal kenabian tidak bisa wariskan, dan sedangkan yang bisa dan harus dilaksanakan adalah menentukan siapa pengganti memimpin dan membimbing umat  sebagai amiril mukminin (pemimpin umat Islam). Maka mulai saat itu terjadilah dua kelompok umat Islam, yang satu sedang merawat jenazah Rasulullah (5-7 orang dari keluarga nabi), yang satunya adalah kelompok para tokoh sahabat (Muhajirin dan Anshar), menyelenggarakan Musyawarah Besar Luar Biasa untuk menentukan siapa yang paling berhak untuk menjadi pengganti Rasullullah.
    Ada beberapa persoalan yang dihadapi oleh umat Islam semenjak meninggal nya Sang Rasul tgl 12 Rabiul awal 632 M. Yang pertama dan monumental adalah persoalan politik, selanjutnya persoalan aqidah (teologi), kemudian baru persoalan syariat atau fiqih dan persoalan akhlak atau tasawuf. Dan akumulasi dari keempat persoalan inilah aliran pemikiran dalam Islam muncul, yang in syaa'a Allah akan diulas dalam kajian bersambung ini.

    B. Persoalan Politik.
    Seperti yang telah saya uraikan di pengantar, bahwa wafatnya Rasulullah menimbulkan persoalan politik yang sangat penting dan monumental. Yakni pengangkatan pelanjut pemerintahan sang Rasul (Khalifah), sebagai Amirul mukminin. Para tokoh sahabat musyawarah sendiri (dari kaum Muhajirin dan Anshar) tanpa kehadiran ahlul bait (keluarga ndalem). Ahlul bait lagi sedang berduka dan merawat jenazah Rasulullah.Keputusan akhir musyawarah para sahabat di Saqifah (tenda pertemuan) Bani Sa'ad mereka mengangkat Abu Bakar as Shiddiq sebagai Amirul mukminin. Sedangkan
    Rasulullah tidak berwasiat secara syar'i dan sharih seperti biasa beliau ajarkan. Ada wasiat Ghodir Khum atas kepemimpinan Ali bin Abi Thalib, yang hanya diakui oleh kalangan ahlul bait dan ada isyarat nabi Muhammad pada para sahabat atas peran Abu Bakar as Shiddiq, sebagai badal  imam shalat, ketika sang Rasul sakit menjelang wafatnya. Inilah faktor psikopolitis yang selanjutnya bermuara pada terjadinya keretakan di kalangan umat Islam. Dan pada akhirnya "dunia Islam" terbelah menjadi dua; Syiah dan Ahli Sunnah (Syi'i dan Sunni). Para pendukung ahlul bait, khususnya yang fanatik dengan Sahabat Ali bin Abi Thalib mengklaim bahwa para sahabat telah Ghoshob (merampas) hak kepemimpinan Sayyidina Ali, begitu juga sebaliknya para pendukung keputusan musyawarah luar biasa para sahabat, khususnya yang fanatik (plus munafik),  menuduh para pendukung 'idiologi' ahlul bait adalah sebagai pembohong (kadzdzaab). Padahal kedua terminologi ini bersifat destruktif (menghancurkan) ketsiqahan (kredibilitas) seorang periwayat hadis. Dan karena itu hadis di dunia Islam juga terbelah dua, hadis Syiah dan hadis Sunnah. Yang keduanya itu tidak  'saling menyapa'.
    Kondisi umat Islam menjadi lebih ruyam setelah kemunculan kelompok-kelompok ektrim (Ghulat) yang keras, dan ahistoris yang mengembangkan ideologi 'takfiri' (mengkafirkan kelompok lain  di luar  kelomponya), baik di kalangan Syi'ah maupun Sunnah.
    Beberapa aliran keras dan ektrim dari kalangan Syi'ah, seperti; syiah Qaramithah, Rofidloh dan hasasin, dan beberapa dari kalangan Sunnah seperti Khawarij, salafi dan wahabi. Aura kontradiksi dan permusuhan diantara belahan dunia Islam masih memancar dari jurang pemisah antara Syiah dan Sunnah, di samping jurang - jurang kecil internal keduanya. Aura tersebut muncul tidak lain karena bara api ; asobiah, jahiliah dan hiqdu wal hasad (dengki dan iri hati)
    yang memancar dari dalam hati kaum muslimin yang lemah ilmu dan imannya.

    C. Persoalan Aqidah (Teologi).
    Persoalan teologi yang muncul dan timbul di dalam diskursus dan polemik umat Islam di zaman klasik (zaman tabi'in awal sd dua generasi di belakangnya) adalah puncak persoalan politik, yaitu terjadinya fitnatul kubro (terbunuhnya Amirul mukminin,  Khalifah Utsman bin Affan), juga terjadinya beberapa peperangan diantara sesama muslim. Perang jamal (antara pasukan Ali bin Abi Thalib dengan pasukan Siti Asiah), perang Shiffin (antara pasukan Ali bin Abi Thalib dengan Muawiyah bin Abi Sufyan), Karbala dll. Yang melibatkan dan mengorbankan banyak pasukan muslimin.
    Polemik tentang bagaimana status hukum seorang muslim yang tidak berhukum dengan menggunakan hukum Allah (Al-Qur'an) ?. bagaimana status hukum pembunuh sesama muslim ? Apakah dia masih mukmin, kafir atau fasiq?. Bagaimana status keislaman dan keimanan seseorang yang berdosa besar ? Para ulama' dan zu'ama' dari kalangan umat Islam, baik yang Syi'ah maupun yang Sunnah memberikan argumentasi sesuai dengan keilmuan dan background psikologi, sosial, akademik dan keagamaan masing-masing. Kelompok orang yang tulus, lurus tetapi kurang luas ilmu dan toleransinya, berpendapat bahwa orang-orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah secara tekstual, mereka itu telah kafir dan keluar dari agama Islam, mereka itu adalah kaum khawarij,  atau kebanyakan mantan pasukan elit Ali bin Abi Thalib yang desersi.
    Para ulama' yang tekstual tetapi tidak politis cenderung berpendapat, bahwa orang-orang yang beriman tetapi tidak berpegang pada hukum Allah, tidak bisa di sebut Kafir, mereka mukmin yang fasiq. Mereka berdosa besar. Nasib mereka di akhirat kelak fii masyiatillah (terserah Allah) tidak di surga dan tidak di neraka. Senada dengan itu, orang-orang yang fatalistis (jabariyah), juga muncul, mereka berpendapat, bahwa kondisi apapun di dunia ini adalah berdasarkan kehendak mutlak Allah SWT, termasuk nasib manusia. Manusia hanyalah wayang dan Allah adalah dalangnya. Sebagai mana firman Allah SWT,
    " والله خلقكم وما تعملون".
    Artinya : "Allah lah yang telah menciptakan kalian dan perbuatan kalian". (QS. As. Shofat 96)

    Sedangkan kaum qadariyah yang cenderung rasional justru berpendapat sebaliknya. Bahwa kondisi apapun yang di alami oleh manusia adalah semata-mata karena ulah perbuatan manusia itu sendiri. Manusia, bebas dan mampu membuat nasibnya sendiri. Sebagai mana firman Allah SWT :

    إن الله لا يغير ما بقوم حتى يغيروا ما بأنفسهم...

    Artinya : "Sesungguhnya Allah tidak merubah nasib suatu kaum, sampai mereka mau merubah nasibnya sendiri" (QS. Ar Ra'd 11)

    Mereka adalah kelompok minor elite dalam Islam yang terkenal dengan sebutan kaum muktazilah.
    Persoalan teologi yang terus berkembang sehingga melahirkan banyak aliran pemikiran yang muncul, baik di zaman klasik, seperti jabariyah, qadariyah, murji'ah. Maupun zaman pertengahan, seperti; Muktazilah, Asy'ariah, maturidiah, ahli Sunnah wal jama'ah. Demikian juga di era modern dan kontemporer.

    D.  Persoalan Fiqh (pemahaman syariat Islam).
    Setelah muncul dan berkembangnya persoalan politik dan aqidah dalam realitas kehidupan umat Islam. Adalah munculnya persoalan baru yang terkait dengan fiqh atau pemahaman dalam syari'at Islam. Baik syariat dhohir (hukum Islam), maupun syariat batin (akhlak islami) atau tasawuf.
    Para ulama' fiqh (hukum Islam), baik di kalangan Sunni, maupun Syiah secara garis besar terbelah menjadi tiga kelompok pemahaman, yakni;  para ahlul hadits (tekstualis), ahlur ro'yi (rasionalis), dan ahlus sunnah (tekstualis-rasionalis).
    Demikian juga para ulama' tasawuf (kerohanian dan kebatinan dalam Islam), juga terbedakan dalam tiga karakter, yakni; sunni, falsafi dan baathini.
    Para ulama' yang konsen terhadap ajaran formal dan aturan-aturan hukum Allah, secara garis besar memiliki tiga sikap mental yang berbeda. Ada yang memahami teks aturan agama (syariat) dalam Al Qur'an dan as Sunnah sangat formal dan tektual. Mereka adalah ahlul hadits, sehingga memunculkan madzhab - madzhab salaf yang tampak lebih formal seperti madzhab Maliki.
    Para ulama' yang cenderung rasional, seperti ulama' Kufah dan Basrah memahami agama lebih kontekstual dan esensial. Seperti imam madzhab Abu Hanifah. Demikian juga para ulama' Sunni yang cenderung konvergensif, akomodatif. Mereka melahirkan madzhab fiqih yang modern dan moderat, seperti Imam Syafi'i.
    Sedangkan dalam bidang kerohanian (tasawuf) sebagai bagian dari pemahaman keagamaan. Juga terdapat tiga kelompok pemahaman yang berkembang dalam kehidupan masyarakat Islam.
    Pertama, kelompok yang cenderung mengikuti pola kesufian Rasulullah Saw. Mereka berusaha menjauhi materialisme dan hedonisme tetapi secara aktif mereka mendakwahkan ajaran Islam, khususnya ajaran akhlak dan kerohaniannya. Mereka adalah para sufi Sunni,  yang gerakannya sukses pertama kali (gerakan i'tizal dan Zuhud atas prakarsa Hasan Basri. Yang selanjutnya diperkokoh oleh Abu Qasim Junaidi Al Baghdadi, juga oleh para tokoh Sufi sunni yang lain.
    Kedua, kelompok yang cenderung mengikuti pola kesufian para
    filosof dan ahli hikmah. Mereka lebih cenderung pada aktivitas berfilsaf dan berteori. Hikmah -hikmah kerohaniannya memenuhi glosarium dunia Islam. Mereka adalah para sufi falsafi, dengan tokoh legendarisnya yang bernama Ibnu Arobi.
    Sedangkan yang ke tiga, adalah para sufi baathini.  Mereka, para sufi baathini adalah orang-orang yang keasikan kebatinannya melampaui batas-batas etika dan estetika apapun, termasuk di dalamnya batasan syariat Islam. Kebatinan transkultural ini yang selanjutnya disebut sebagai aliran tasawuf mabuk dan dianggap sesat oleh para aktivis syariat Islam.

    E. Persoalan Hegemoni Barat.
    Penyebab dan akar Sejarah timbulnya berbagai aliran keagamaan dan politik dan sosial dalam Islam, adalah adanya dominasi dan hegemoni barat atas wilayah sosial politik umat Islam.
    Setelah sekitar dua abad bangsa barat menjajah umat Islam, umat Islam mulai bangkit dan tersadarkan akan pentingnya kebangkitan umat Islam. Mulai dari Turki dan Mesir yang berhubungan dan berhadapan langsung dengan bangsa barat. Turki berhadapan dengan Italia dan Mesir berhubungan dengan Prancis (Ekspedisi Napoleon Bonaparte). Para ulama'  terbelalak melihat peradaban yang jauh lebih tinggi daripada peradaban umat. Padahal mereka sangat yakin pada Sabda nabi "Al Islam ya'lu wala Yu'laa 'alaih" (Islam adalah adalah peradaban tertinggi, tidak ada yang mengunggulinya).
    Tatkala umat Islam masih tertidur lelap di dalam selimut penjajahan barat,   khususnya;  Portugis, Inggris, Spanyol, dan Belanda. Para ulama' Islam Mesir khususnya Sayyid Jamaluddin Al Afghani, Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha, berjuang keras, menggelorakan kebangkitan umat Islam. Demikian juga para Sultan dan Khalifah Dinasti Usmaniyah di Turki, menggelorakan semangat kebangkitan melawan kolonialisme barat.  Maka terjadilah kebangkitan umat Islam di hampir seluruh penjuru dunia, atas prakarsa para sultan dan ulma' pemimpin umat.
    Termasuk kesultanan-kesultanan di wilayah Nusantara (kawasan Asia tenggara).
    Mulai kesultanan Aceh (samudra pasai) sampai dengan kesultanan Ternate dan Tidore. Kesultanan di Pulau Jawa sampai di kepulauan Sulu dan Mindanao. Semuanya bangkit melawan hegemoni dan penjajahan bangsa barat (Belanda, Inggris, Portugis dan Spanyol). Maka akhirnya muncul organisasi dan Jam'iyyah pergerakan dengan berbagai macam warna warni keislamannya.
    Dalam skala internasional, muncul Pan Islam, Ikhwanul muslimin, Wahabi dll. Sedangkan di Indonesia, muncul Serikat Dagang Islam, Budi Utomo, Al Khoiriyah, Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama' dll. Semua organisasi dan Jam'iyyah pergerakan tersebut tujuan utamanya adalah merebut kembali kemerdekaan dari tangan kolonialisme bangsa barat.
    Wallahu a'lam bis showab

    Memahami Akar Sejarah timbulnya Aliran-aliran dalam Islam

    Posted at  07.00  |  in  sejarah islam  |  Read More»

    Memahami Akar Sejarah
    timbulnya Aliran-aliran dalam Islam
    Oleh: Kharisuddin Aqib 

    A. Pengantar
    Warna-warni aliran pemikiran dalam Islam seperti yang kita ketahui sekarang ini terjadi melalui proses evolusi yang panjang seiring dengan perkembangan sejarah peradaban Islam itu sendiri. Mulai zaman nabi Muhammad Saw sampai dengan saat ini.
    Agama Islam di awal keberadaannya adalah sebuah dinamika dan komunikasi intensif sebuah komunitas yang terdiri dari Nabi Muhammad dengan keluarga dan para muridnya. Para keluarga (Alihi), dan para muridnya (Ashab). Praktek dinamis dalam kehidupan komunitas inilah yang disebut agama Islam (ma ana 'alaihim alyauma wa ashabihi). Keluarga nabi juga biasa disebut dengan ahlul bait, sedangkan para murid dan pengikutnya disebut sahabat atau ashab. Gambaran sederhana komunikasi antara nabi Muhammad dengan keluarga dan para sahabatnya adalah sebagai mana para kyai dengan keluarganya dan santri.
    Embrio terjadinya persoalan yang kemudian menjadi sebab munculnya aliran-aliran pemikiran dalam semua aspek kehidupan kemasyarakatan umat Islam, adalah meninggalnya Rasulullah Saw.
    Meninggalnya Rasulullah Saw sebagai figur sentral bagi umat Islam berdampak pada munculnya Persoalan Politik Praktis, yakni siapa yang berhak menjadi pengganti beliau sebagai pelanjut pemerintahan atau kepemimpinan. Baik sebagai pemimpin agama maupun pemimpin negara. Pemimpin agama Islam (sebagai Nabi) dan pemimpin negara (kepala negara Madinah). Sebagai Nabi semua umat sepakat, bahwa formal kenabian tidak bisa wariskan, dan sedangkan yang bisa dan harus dilaksanakan adalah menentukan siapa pengganti memimpin dan membimbing umat  sebagai amiril mukminin (pemimpin umat Islam). Maka mulai saat itu terjadilah dua kelompok umat Islam, yang satu sedang merawat jenazah Rasulullah (5-7 orang dari keluarga nabi), yang satunya adalah kelompok para tokoh sahabat (Muhajirin dan Anshar), menyelenggarakan Musyawarah Besar Luar Biasa untuk menentukan siapa yang paling berhak untuk menjadi pengganti Rasullullah.
    Ada beberapa persoalan yang dihadapi oleh umat Islam semenjak meninggal nya Sang Rasul tgl 12 Rabiul awal 632 M. Yang pertama dan monumental adalah persoalan politik, selanjutnya persoalan aqidah (teologi), kemudian baru persoalan syariat atau fiqih dan persoalan akhlak atau tasawuf. Dan akumulasi dari keempat persoalan inilah aliran pemikiran dalam Islam muncul, yang in syaa'a Allah akan diulas dalam kajian bersambung ini.

    B. Persoalan Politik.
    Seperti yang telah saya uraikan di pengantar, bahwa wafatnya Rasulullah menimbulkan persoalan politik yang sangat penting dan monumental. Yakni pengangkatan pelanjut pemerintahan sang Rasul (Khalifah), sebagai Amirul mukminin. Para tokoh sahabat musyawarah sendiri (dari kaum Muhajirin dan Anshar) tanpa kehadiran ahlul bait (keluarga ndalem). Ahlul bait lagi sedang berduka dan merawat jenazah Rasulullah.Keputusan akhir musyawarah para sahabat di Saqifah (tenda pertemuan) Bani Sa'ad mereka mengangkat Abu Bakar as Shiddiq sebagai Amirul mukminin. Sedangkan
    Rasulullah tidak berwasiat secara syar'i dan sharih seperti biasa beliau ajarkan. Ada wasiat Ghodir Khum atas kepemimpinan Ali bin Abi Thalib, yang hanya diakui oleh kalangan ahlul bait dan ada isyarat nabi Muhammad pada para sahabat atas peran Abu Bakar as Shiddiq, sebagai badal  imam shalat, ketika sang Rasul sakit menjelang wafatnya. Inilah faktor psikopolitis yang selanjutnya bermuara pada terjadinya keretakan di kalangan umat Islam. Dan pada akhirnya "dunia Islam" terbelah menjadi dua; Syiah dan Ahli Sunnah (Syi'i dan Sunni). Para pendukung ahlul bait, khususnya yang fanatik dengan Sahabat Ali bin Abi Thalib mengklaim bahwa para sahabat telah Ghoshob (merampas) hak kepemimpinan Sayyidina Ali, begitu juga sebaliknya para pendukung keputusan musyawarah luar biasa para sahabat, khususnya yang fanatik (plus munafik),  menuduh para pendukung 'idiologi' ahlul bait adalah sebagai pembohong (kadzdzaab). Padahal kedua terminologi ini bersifat destruktif (menghancurkan) ketsiqahan (kredibilitas) seorang periwayat hadis. Dan karena itu hadis di dunia Islam juga terbelah dua, hadis Syiah dan hadis Sunnah. Yang keduanya itu tidak  'saling menyapa'.
    Kondisi umat Islam menjadi lebih ruyam setelah kemunculan kelompok-kelompok ektrim (Ghulat) yang keras, dan ahistoris yang mengembangkan ideologi 'takfiri' (mengkafirkan kelompok lain  di luar  kelomponya), baik di kalangan Syi'ah maupun Sunnah.
    Beberapa aliran keras dan ektrim dari kalangan Syi'ah, seperti; syiah Qaramithah, Rofidloh dan hasasin, dan beberapa dari kalangan Sunnah seperti Khawarij, salafi dan wahabi. Aura kontradiksi dan permusuhan diantara belahan dunia Islam masih memancar dari jurang pemisah antara Syiah dan Sunnah, di samping jurang - jurang kecil internal keduanya. Aura tersebut muncul tidak lain karena bara api ; asobiah, jahiliah dan hiqdu wal hasad (dengki dan iri hati)
    yang memancar dari dalam hati kaum muslimin yang lemah ilmu dan imannya.

    C. Persoalan Aqidah (Teologi).
    Persoalan teologi yang muncul dan timbul di dalam diskursus dan polemik umat Islam di zaman klasik (zaman tabi'in awal sd dua generasi di belakangnya) adalah puncak persoalan politik, yaitu terjadinya fitnatul kubro (terbunuhnya Amirul mukminin,  Khalifah Utsman bin Affan), juga terjadinya beberapa peperangan diantara sesama muslim. Perang jamal (antara pasukan Ali bin Abi Thalib dengan pasukan Siti Asiah), perang Shiffin (antara pasukan Ali bin Abi Thalib dengan Muawiyah bin Abi Sufyan), Karbala dll. Yang melibatkan dan mengorbankan banyak pasukan muslimin.
    Polemik tentang bagaimana status hukum seorang muslim yang tidak berhukum dengan menggunakan hukum Allah (Al-Qur'an) ?. bagaimana status hukum pembunuh sesama muslim ? Apakah dia masih mukmin, kafir atau fasiq?. Bagaimana status keislaman dan keimanan seseorang yang berdosa besar ? Para ulama' dan zu'ama' dari kalangan umat Islam, baik yang Syi'ah maupun yang Sunnah memberikan argumentasi sesuai dengan keilmuan dan background psikologi, sosial, akademik dan keagamaan masing-masing. Kelompok orang yang tulus, lurus tetapi kurang luas ilmu dan toleransinya, berpendapat bahwa orang-orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah secara tekstual, mereka itu telah kafir dan keluar dari agama Islam, mereka itu adalah kaum khawarij,  atau kebanyakan mantan pasukan elit Ali bin Abi Thalib yang desersi.
    Para ulama' yang tekstual tetapi tidak politis cenderung berpendapat, bahwa orang-orang yang beriman tetapi tidak berpegang pada hukum Allah, tidak bisa di sebut Kafir, mereka mukmin yang fasiq. Mereka berdosa besar. Nasib mereka di akhirat kelak fii masyiatillah (terserah Allah) tidak di surga dan tidak di neraka. Senada dengan itu, orang-orang yang fatalistis (jabariyah), juga muncul, mereka berpendapat, bahwa kondisi apapun di dunia ini adalah berdasarkan kehendak mutlak Allah SWT, termasuk nasib manusia. Manusia hanyalah wayang dan Allah adalah dalangnya. Sebagai mana firman Allah SWT,
    " والله خلقكم وما تعملون".
    Artinya : "Allah lah yang telah menciptakan kalian dan perbuatan kalian". (QS. As. Shofat 96)

    Sedangkan kaum qadariyah yang cenderung rasional justru berpendapat sebaliknya. Bahwa kondisi apapun yang di alami oleh manusia adalah semata-mata karena ulah perbuatan manusia itu sendiri. Manusia, bebas dan mampu membuat nasibnya sendiri. Sebagai mana firman Allah SWT :

    إن الله لا يغير ما بقوم حتى يغيروا ما بأنفسهم...

    Artinya : "Sesungguhnya Allah tidak merubah nasib suatu kaum, sampai mereka mau merubah nasibnya sendiri" (QS. Ar Ra'd 11)

    Mereka adalah kelompok minor elite dalam Islam yang terkenal dengan sebutan kaum muktazilah.
    Persoalan teologi yang terus berkembang sehingga melahirkan banyak aliran pemikiran yang muncul, baik di zaman klasik, seperti jabariyah, qadariyah, murji'ah. Maupun zaman pertengahan, seperti; Muktazilah, Asy'ariah, maturidiah, ahli Sunnah wal jama'ah. Demikian juga di era modern dan kontemporer.

    D.  Persoalan Fiqh (pemahaman syariat Islam).
    Setelah muncul dan berkembangnya persoalan politik dan aqidah dalam realitas kehidupan umat Islam. Adalah munculnya persoalan baru yang terkait dengan fiqh atau pemahaman dalam syari'at Islam. Baik syariat dhohir (hukum Islam), maupun syariat batin (akhlak islami) atau tasawuf.
    Para ulama' fiqh (hukum Islam), baik di kalangan Sunni, maupun Syiah secara garis besar terbelah menjadi tiga kelompok pemahaman, yakni;  para ahlul hadits (tekstualis), ahlur ro'yi (rasionalis), dan ahlus sunnah (tekstualis-rasionalis).
    Demikian juga para ulama' tasawuf (kerohanian dan kebatinan dalam Islam), juga terbedakan dalam tiga karakter, yakni; sunni, falsafi dan baathini.
    Para ulama' yang konsen terhadap ajaran formal dan aturan-aturan hukum Allah, secara garis besar memiliki tiga sikap mental yang berbeda. Ada yang memahami teks aturan agama (syariat) dalam Al Qur'an dan as Sunnah sangat formal dan tektual. Mereka adalah ahlul hadits, sehingga memunculkan madzhab - madzhab salaf yang tampak lebih formal seperti madzhab Maliki.
    Para ulama' yang cenderung rasional, seperti ulama' Kufah dan Basrah memahami agama lebih kontekstual dan esensial. Seperti imam madzhab Abu Hanifah. Demikian juga para ulama' Sunni yang cenderung konvergensif, akomodatif. Mereka melahirkan madzhab fiqih yang modern dan moderat, seperti Imam Syafi'i.
    Sedangkan dalam bidang kerohanian (tasawuf) sebagai bagian dari pemahaman keagamaan. Juga terdapat tiga kelompok pemahaman yang berkembang dalam kehidupan masyarakat Islam.
    Pertama, kelompok yang cenderung mengikuti pola kesufian Rasulullah Saw. Mereka berusaha menjauhi materialisme dan hedonisme tetapi secara aktif mereka mendakwahkan ajaran Islam, khususnya ajaran akhlak dan kerohaniannya. Mereka adalah para sufi Sunni,  yang gerakannya sukses pertama kali (gerakan i'tizal dan Zuhud atas prakarsa Hasan Basri. Yang selanjutnya diperkokoh oleh Abu Qasim Junaidi Al Baghdadi, juga oleh para tokoh Sufi sunni yang lain.
    Kedua, kelompok yang cenderung mengikuti pola kesufian para
    filosof dan ahli hikmah. Mereka lebih cenderung pada aktivitas berfilsaf dan berteori. Hikmah -hikmah kerohaniannya memenuhi glosarium dunia Islam. Mereka adalah para sufi falsafi, dengan tokoh legendarisnya yang bernama Ibnu Arobi.
    Sedangkan yang ke tiga, adalah para sufi baathini.  Mereka, para sufi baathini adalah orang-orang yang keasikan kebatinannya melampaui batas-batas etika dan estetika apapun, termasuk di dalamnya batasan syariat Islam. Kebatinan transkultural ini yang selanjutnya disebut sebagai aliran tasawuf mabuk dan dianggap sesat oleh para aktivis syariat Islam.

    E. Persoalan Hegemoni Barat.
    Penyebab dan akar Sejarah timbulnya berbagai aliran keagamaan dan politik dan sosial dalam Islam, adalah adanya dominasi dan hegemoni barat atas wilayah sosial politik umat Islam.
    Setelah sekitar dua abad bangsa barat menjajah umat Islam, umat Islam mulai bangkit dan tersadarkan akan pentingnya kebangkitan umat Islam. Mulai dari Turki dan Mesir yang berhubungan dan berhadapan langsung dengan bangsa barat. Turki berhadapan dengan Italia dan Mesir berhubungan dengan Prancis (Ekspedisi Napoleon Bonaparte). Para ulama'  terbelalak melihat peradaban yang jauh lebih tinggi daripada peradaban umat. Padahal mereka sangat yakin pada Sabda nabi "Al Islam ya'lu wala Yu'laa 'alaih" (Islam adalah adalah peradaban tertinggi, tidak ada yang mengunggulinya).
    Tatkala umat Islam masih tertidur lelap di dalam selimut penjajahan barat,   khususnya;  Portugis, Inggris, Spanyol, dan Belanda. Para ulama' Islam Mesir khususnya Sayyid Jamaluddin Al Afghani, Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha, berjuang keras, menggelorakan kebangkitan umat Islam. Demikian juga para Sultan dan Khalifah Dinasti Usmaniyah di Turki, menggelorakan semangat kebangkitan melawan kolonialisme barat.  Maka terjadilah kebangkitan umat Islam di hampir seluruh penjuru dunia, atas prakarsa para sultan dan ulma' pemimpin umat.
    Termasuk kesultanan-kesultanan di wilayah Nusantara (kawasan Asia tenggara).
    Mulai kesultanan Aceh (samudra pasai) sampai dengan kesultanan Ternate dan Tidore. Kesultanan di Pulau Jawa sampai di kepulauan Sulu dan Mindanao. Semuanya bangkit melawan hegemoni dan penjajahan bangsa barat (Belanda, Inggris, Portugis dan Spanyol). Maka akhirnya muncul organisasi dan Jam'iyyah pergerakan dengan berbagai macam warna warni keislamannya.
    Dalam skala internasional, muncul Pan Islam, Ikhwanul muslimin, Wahabi dll. Sedangkan di Indonesia, muncul Serikat Dagang Islam, Budi Utomo, Al Khoiriyah, Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama' dll. Semua organisasi dan Jam'iyyah pergerakan tersebut tujuan utamanya adalah merebut kembali kemerdekaan dari tangan kolonialisme bangsa barat.
    Wallahu a'lam bis showab

    0 komentar:

    Mengenal Tabiat dan Karakter Diri sendiri
    Oleh:Kharisuddin Aqib

    A. Pengantar
    Ada hikmah yang sangat bagus mengatakan "man 'arofa nafsahu faqad 'arofa robbahu' artinya siapa yang mengenal dirinya sendiri, maka dia pasti bisa mengenal Tuhannya.
    Maksudnya, bagaimana bisa mengenali Tuhannya jika mengenali dirinya sendiri saja tidak bisa.
    Manusia adalah makhluk ruhaniah yang berjisim (berbadan kasar), hakekat dirinya adalah Ruhaninya. Ruhani manusia bersifat suci malaikati, karena berintegrasi (menyatu dengan badan yang material), daya hidup dan kesadarannya (jiwanya) terwarnai oleh sifat material tumbuhan dan binatang. Maka tabiat manusia dan karakternya terwarnai oleh dua karakter primitif yang rendah tersebut, sehingga manusia memiliki tabiat dasar dan karakteristik yang integratif antara daya Ruhani yang suci dan daya materi yang hayawani nan keji.

    Ada 4 dasar tabiat manusia, yakni; kebinatang jinakan, kebinatang buasan, keiblisan dan kemalaikatan. Dari keempat tabiat tersebut, terpancar 7 karakter khas manusia.
    1. Karakter jiwa perusak (amarah).
    2. Karakter jiwa pencela (lawwamah)
    3. Karakter jiwa plin-plan (mulhimah).
    4. Karakter jiwa stabil dan tenang  (Mutmainnah)
    5. Karakter jiwa bahagia dan bangga  (rodliyah).
    6. Karakter jiwa disukai dan dibanggakan (mardliyah).
    7. Karakter jiwa sempurna (Kamilah).
    In syaa'a Allah kajian berikut akan membahas 4 tabiat dasar manusia dan 7 karakternya sebagai sarana introspeksi diri agar hidup menjadi lebih baik dan bernilai.

    B. Tabiat Dasar Manusia.
    Tabiat adalah sifat dasar manusia yang merupakan faktor genetik (bawaan sejak lahir dari faktor keturunan) manusia sebagai seorang individu. Berbeda dengan insting atau ghorizah yang merupakan faktor genetik manusia sebagai spesies (atau rumpun makhluk hidup manusia). Berbeda juga dengan akhlak atau karakter yang merupakan sifat khas manusia yang terbentuk karena faktor genetik (keturu nan) dan eugenetik (lingkungan), sekaligus.
    Tabiat dasar manusia dalam diri setiap manusia ada 4 macam. Kebinatang jinakan (bahimiah), kebinatang buasan (sabuiah), kesetanan (syaitoniyah), dan kemalaikatan (malaikatiyah). Dominasi salah satu dari empat tabiat inilah wujud maknawiy, aura dan perangai orang tersebut.
    1. Tabiat kebinatang jinakan.
    Manusia dengan jenis tabiat ini bahagianya terletak pada makan-minum, tidur dan sek. Bahkan orientasi dan semangat hidupnya adalah untuk mencapai kenikmatan biologis ini. Dan inilah kwalifikasi kebanyakan manusia, sehingga terisyaratkan dalam wujud surat terpanjang, yakni Al Baqarah.
    2. Tabiat kebinatang buasan.
    Jenis tabiat ini menjadikan manusia berorientasi pada melakukan hal-hal yang destruktif (merusak, dan menyakiti orang lain), tidak merasa enak dengan adanya ketentraman dan ketertiban. Manusia dengan kwalifikasi tabiat ini tidak banyak, tetapi selalu ada diantara masyarakat yang ada. Wujud maknawiy manusia jenis tabiat ini adalah jenis binatang buas, seperti; burung predator, ular, kalajengking, dan buaya, dan akan terbaca perangai dan sikap mentalnya.
    3. Tabiat Keiblisan
    Ini adalah tabiat yang juga ada dalam diri manusia, bahkan juga ada manusia yang didominasi oleh tabiat keiblisan ini. Dengan ciri-ciri dan karakteristik, antara lain; suka takabbur, hasud, licik dan picik.
    Tabiat ini merupakan manipulasi tabiat kebinatangannya tetapi berusaha ditampilkan dalam penampilan kemalaikatan. Wujud maknawiy manusia dengan tabiat ini, adalah rupa buruk dan aura yang mengerikan.
    4. Tabiat kemalaikatan.
    Tabiat jenis ini juga ada pada setiap manusia, karena ini adalah bawaan dari unsur ruhaniah manusia yang suci. Tetapi tabiat sangat langka menjadi tabiat yang dominan dalam diri seseorang. Orang yang bertabiat dominan malaikatiyah akan memiliki kecenderungan yang kuat untuk berprilaku seperti malaikat. Ta'at dan selalu mendekatkan diri kepada Allah, serta selalu menjauh dari kemaksiatan dan murka Allah.
    Dari keempat tabiat tersebut, (bahimiah, sabuiah, iblisiah dan malaikatiyah), mana yang paling dekat dengan kita ? Mari kita rasakan dan kita introspeksi diri...
    Tabiat sesungguhnya bisa dirubah, sekalipun dengan sangat berat. Karena itu adalah bagian diri sifat bawaan kita. Untuk merubah tabiat, manusia harus mengalami metamorfosis spiritual, yang dalam bahasa syariat disebut dengan 'lailayul qadar'. Dalam sebuah proses pendidikan spiritual intensif puasa Ramadhan, atau program intensif dalam tarekat yang dikenal dengan istilah SULUK. Dengan puasa Ramadhan yang baik dan benar atau Suluk yang baik dan benar seorang manusia akan 'terlahir kembali' atau mengalami metamorfosis spiritual, sehingga bertabiat malaikatiyah. Badan jasmani manusia, tetapi wujud maknawiy jiwanya adalah malaikat. Itulah profil figur MUTTAQIN. Manusia yang Ahsani taqwim'.

    C. Macam macam Karakter Manusia.
    Ada 7 karakter (akhlak) manusia berdasarkan kenyataan (eksisting) jiwanya. Karakter atau akhlak ini merupakan sifat riil pada saat diberikan penilaian atau penyebutan. Ia merupakan produk terbaru dari interaksi dan integrasi antara tabi'at seseorang dengan lingkungannya. Baik lingkungan keluarga, pendidikan maupun pergaulannya. Ke tujuh karakter itu adalah; Fajir, Fasiq, Munafik, Mukmin, Muslim, Muhsin, MUTTAQIN.
    1. Karakter Fajir.
    Karakter Fajir (Penjahat) ini terbentuk dari jiwa yang suka memerintah pada keburukan (nafsu amarah). Adapun ciri khas manusia dengan karakter ini adalah; emosional, sombong, kikir, bodoh, ambisius, hasud, dan hidonistik (mau enaknya saja). Masalahnya adalah yang bersangkutan biasanya tidak merasa. Dan yang merasa justru orang lain yang di sekitarnya
    Mari kita introspeksi, semoga sifat-sifat tersebut tidak ada pada diri kita.
    2. Karakter Fasiq.
    Karakter Fasiq (pendosa) ini adalah karakter kritis terhadap orang lain.
    Bahkan terkadang juga kepada diri sendiri. Karakter ini terbentuk dan muncul dari dalam jiwa pencela (nafsu lawwamah). Ciri-ciri karakter ini adalah; suka mencela,  menuruti hawa nafsu, suka menipu, ujub, riya' , dlolim, lupa, dan suka menggunjing. Karakter jenis ini banyak terdapat di kalangan masyarakat pada umumnya.
    3. Karakter Munafik.
    Ini adalah karakter tingkat ketiga. Kelihatannya orang yang berkarakter ini sudah sangat baik, karena dia adalah seorang yang dermawan, tidak rakus, bijaksana, rendah hati, taubat, sabar dan menerima Ilham. Tetapi pribadi sebenarnya adalah Plin-plan, dia akan berubah-ubah sesuai dengan Ilham yang masuk, apa Ilham taqwa atau Ilham fujur (jahat), keimanan dan keyakinan tidak terikat kuat di dalam hatinya, bahkan mungkin sebenarnya tidak ada iman di dalam hatinya. Karakter Munafik ini muncul dari jiwa terilhami (nafsu mulhimah), baik Ilham taqwa maupun Ilham fujur silih berganti masuk di dalam jiwa ini. Kondisi jiwa sangat sensitif terhadap Ilham atau intuisi, tetapi los tanpa ada pengait diantara keduanya.
    4. Karakter Mukmin
    Karakter ini muncul dari jiwa yang telah stabil dalam kebaikan (nafsul Muthmainnah)
    Diantara tanda-tanda karakter Mukmin ini adalah; ridlo kepada Allah, banyak bersyukur, suka beribadah, tidak kikir, takut maksiat dan bertawakal kepada Allah.
    5. Karakter Muslim
    Ini adalah karakter yang menjadi cerminan seorang yang benar-benar mencapai hakikat Islam. Dia muncul dari jiwa yang telah diridlo oleh Allah SWT (nafsu mardliyah). Di antara ciri khas dari orang yang telah berkarakter muslim ini adalah; sayang pada semua makhluk, pema'af, mengajak pada kebaikan, lemah lembut, baik budi dan ikhlas. Tidak semua orang Islam memiliki karakter ini, bahkan mungkin sangat sedikit prosentasenya orang Islam yang telah mencapai tingkat karakter muslim ini.
    6. Karakter Muhsin.
    Karakter ini muncul dari jiwa yang tersucikan dalam diri manusia, yaitu jiwa sempurna (nafsu Kamilah). Sempurna dalam pengertian keyakinan kepada Allah, baik secara empiris ('ainul Yaqin), teoritis (ilmul Yaqin), dogmatis (haqqul Yaqin). Dalam realitas, manusia dengan karakter ini belum bisa disebut sebagai insan kamil, tetapi lebih baik jika disebut sebagai manusia yang dijaga kesuciannya oleh Allah SWT (Mahfud atau Maksum).
    7. Karakter MUTTAQIN.
    Inilah karakter manusia sempurna dalam skala realitas.
    Dia adalah manusia yang berkarakter malaikatiyah. Dia adalah manusia dengan keseimbangan yang sempurna, baik aspek dhohir maupun batinnya, sosial dan spiritual, ilmu, penghayatan maupun pengalamannya. Karakter ini muncul dari jiwa yang telah senang dan bahagia dengan ketentuan Allah SWT (nafsu rodliyah). Di antara tanda-tanda dari karakter ini adalah; dermawan, Zuhud, ikhlas, waro' , riyadhoh, dan wafa'.
    Keempat karakter terakhir ini adalah karakter-karakter positif, yang bisa dicapai oleh orang yang menginginkan kenaikan status keruhaniannya dengan perjuangan spiritual (mujahadah), yang serius dan terus menerus, dalam sebuah proses pendidikan yang utuh dan unggul (tarbiyah taammah).
    Melalui pengajaran (ta'lim), pembiasaan (ta'dib) dan  bimbingan spiritual (Irsyad). Semoga kita semua sukses mencapai Maqom Walhamdu lillaahi robbil 'aalamiin.
    MUTTAQIN.
    Wallahu a'lam bis showab.

    Kelutan, 6 Maret 2019
    TTD
    Kharisuddin Aqib

    Mengenal Tabiat dan Karakter Diri sendiri

    Posted at  07.00  |  in  tabiat manusia  |  Read More»

    Mengenal Tabiat dan Karakter Diri sendiri
    Oleh:Kharisuddin Aqib

    A. Pengantar
    Ada hikmah yang sangat bagus mengatakan "man 'arofa nafsahu faqad 'arofa robbahu' artinya siapa yang mengenal dirinya sendiri, maka dia pasti bisa mengenal Tuhannya.
    Maksudnya, bagaimana bisa mengenali Tuhannya jika mengenali dirinya sendiri saja tidak bisa.
    Manusia adalah makhluk ruhaniah yang berjisim (berbadan kasar), hakekat dirinya adalah Ruhaninya. Ruhani manusia bersifat suci malaikati, karena berintegrasi (menyatu dengan badan yang material), daya hidup dan kesadarannya (jiwanya) terwarnai oleh sifat material tumbuhan dan binatang. Maka tabiat manusia dan karakternya terwarnai oleh dua karakter primitif yang rendah tersebut, sehingga manusia memiliki tabiat dasar dan karakteristik yang integratif antara daya Ruhani yang suci dan daya materi yang hayawani nan keji.

    Ada 4 dasar tabiat manusia, yakni; kebinatang jinakan, kebinatang buasan, keiblisan dan kemalaikatan. Dari keempat tabiat tersebut, terpancar 7 karakter khas manusia.
    1. Karakter jiwa perusak (amarah).
    2. Karakter jiwa pencela (lawwamah)
    3. Karakter jiwa plin-plan (mulhimah).
    4. Karakter jiwa stabil dan tenang  (Mutmainnah)
    5. Karakter jiwa bahagia dan bangga  (rodliyah).
    6. Karakter jiwa disukai dan dibanggakan (mardliyah).
    7. Karakter jiwa sempurna (Kamilah).
    In syaa'a Allah kajian berikut akan membahas 4 tabiat dasar manusia dan 7 karakternya sebagai sarana introspeksi diri agar hidup menjadi lebih baik dan bernilai.

    B. Tabiat Dasar Manusia.
    Tabiat adalah sifat dasar manusia yang merupakan faktor genetik (bawaan sejak lahir dari faktor keturunan) manusia sebagai seorang individu. Berbeda dengan insting atau ghorizah yang merupakan faktor genetik manusia sebagai spesies (atau rumpun makhluk hidup manusia). Berbeda juga dengan akhlak atau karakter yang merupakan sifat khas manusia yang terbentuk karena faktor genetik (keturu nan) dan eugenetik (lingkungan), sekaligus.
    Tabiat dasar manusia dalam diri setiap manusia ada 4 macam. Kebinatang jinakan (bahimiah), kebinatang buasan (sabuiah), kesetanan (syaitoniyah), dan kemalaikatan (malaikatiyah). Dominasi salah satu dari empat tabiat inilah wujud maknawiy, aura dan perangai orang tersebut.
    1. Tabiat kebinatang jinakan.
    Manusia dengan jenis tabiat ini bahagianya terletak pada makan-minum, tidur dan sek. Bahkan orientasi dan semangat hidupnya adalah untuk mencapai kenikmatan biologis ini. Dan inilah kwalifikasi kebanyakan manusia, sehingga terisyaratkan dalam wujud surat terpanjang, yakni Al Baqarah.
    2. Tabiat kebinatang buasan.
    Jenis tabiat ini menjadikan manusia berorientasi pada melakukan hal-hal yang destruktif (merusak, dan menyakiti orang lain), tidak merasa enak dengan adanya ketentraman dan ketertiban. Manusia dengan kwalifikasi tabiat ini tidak banyak, tetapi selalu ada diantara masyarakat yang ada. Wujud maknawiy manusia jenis tabiat ini adalah jenis binatang buas, seperti; burung predator, ular, kalajengking, dan buaya, dan akan terbaca perangai dan sikap mentalnya.
    3. Tabiat Keiblisan
    Ini adalah tabiat yang juga ada dalam diri manusia, bahkan juga ada manusia yang didominasi oleh tabiat keiblisan ini. Dengan ciri-ciri dan karakteristik, antara lain; suka takabbur, hasud, licik dan picik.
    Tabiat ini merupakan manipulasi tabiat kebinatangannya tetapi berusaha ditampilkan dalam penampilan kemalaikatan. Wujud maknawiy manusia dengan tabiat ini, adalah rupa buruk dan aura yang mengerikan.
    4. Tabiat kemalaikatan.
    Tabiat jenis ini juga ada pada setiap manusia, karena ini adalah bawaan dari unsur ruhaniah manusia yang suci. Tetapi tabiat sangat langka menjadi tabiat yang dominan dalam diri seseorang. Orang yang bertabiat dominan malaikatiyah akan memiliki kecenderungan yang kuat untuk berprilaku seperti malaikat. Ta'at dan selalu mendekatkan diri kepada Allah, serta selalu menjauh dari kemaksiatan dan murka Allah.
    Dari keempat tabiat tersebut, (bahimiah, sabuiah, iblisiah dan malaikatiyah), mana yang paling dekat dengan kita ? Mari kita rasakan dan kita introspeksi diri...
    Tabiat sesungguhnya bisa dirubah, sekalipun dengan sangat berat. Karena itu adalah bagian diri sifat bawaan kita. Untuk merubah tabiat, manusia harus mengalami metamorfosis spiritual, yang dalam bahasa syariat disebut dengan 'lailayul qadar'. Dalam sebuah proses pendidikan spiritual intensif puasa Ramadhan, atau program intensif dalam tarekat yang dikenal dengan istilah SULUK. Dengan puasa Ramadhan yang baik dan benar atau Suluk yang baik dan benar seorang manusia akan 'terlahir kembali' atau mengalami metamorfosis spiritual, sehingga bertabiat malaikatiyah. Badan jasmani manusia, tetapi wujud maknawiy jiwanya adalah malaikat. Itulah profil figur MUTTAQIN. Manusia yang Ahsani taqwim'.

    C. Macam macam Karakter Manusia.
    Ada 7 karakter (akhlak) manusia berdasarkan kenyataan (eksisting) jiwanya. Karakter atau akhlak ini merupakan sifat riil pada saat diberikan penilaian atau penyebutan. Ia merupakan produk terbaru dari interaksi dan integrasi antara tabi'at seseorang dengan lingkungannya. Baik lingkungan keluarga, pendidikan maupun pergaulannya. Ke tujuh karakter itu adalah; Fajir, Fasiq, Munafik, Mukmin, Muslim, Muhsin, MUTTAQIN.
    1. Karakter Fajir.
    Karakter Fajir (Penjahat) ini terbentuk dari jiwa yang suka memerintah pada keburukan (nafsu amarah). Adapun ciri khas manusia dengan karakter ini adalah; emosional, sombong, kikir, bodoh, ambisius, hasud, dan hidonistik (mau enaknya saja). Masalahnya adalah yang bersangkutan biasanya tidak merasa. Dan yang merasa justru orang lain yang di sekitarnya
    Mari kita introspeksi, semoga sifat-sifat tersebut tidak ada pada diri kita.
    2. Karakter Fasiq.
    Karakter Fasiq (pendosa) ini adalah karakter kritis terhadap orang lain.
    Bahkan terkadang juga kepada diri sendiri. Karakter ini terbentuk dan muncul dari dalam jiwa pencela (nafsu lawwamah). Ciri-ciri karakter ini adalah; suka mencela,  menuruti hawa nafsu, suka menipu, ujub, riya' , dlolim, lupa, dan suka menggunjing. Karakter jenis ini banyak terdapat di kalangan masyarakat pada umumnya.
    3. Karakter Munafik.
    Ini adalah karakter tingkat ketiga. Kelihatannya orang yang berkarakter ini sudah sangat baik, karena dia adalah seorang yang dermawan, tidak rakus, bijaksana, rendah hati, taubat, sabar dan menerima Ilham. Tetapi pribadi sebenarnya adalah Plin-plan, dia akan berubah-ubah sesuai dengan Ilham yang masuk, apa Ilham taqwa atau Ilham fujur (jahat), keimanan dan keyakinan tidak terikat kuat di dalam hatinya, bahkan mungkin sebenarnya tidak ada iman di dalam hatinya. Karakter Munafik ini muncul dari jiwa terilhami (nafsu mulhimah), baik Ilham taqwa maupun Ilham fujur silih berganti masuk di dalam jiwa ini. Kondisi jiwa sangat sensitif terhadap Ilham atau intuisi, tetapi los tanpa ada pengait diantara keduanya.
    4. Karakter Mukmin
    Karakter ini muncul dari jiwa yang telah stabil dalam kebaikan (nafsul Muthmainnah)
    Diantara tanda-tanda karakter Mukmin ini adalah; ridlo kepada Allah, banyak bersyukur, suka beribadah, tidak kikir, takut maksiat dan bertawakal kepada Allah.
    5. Karakter Muslim
    Ini adalah karakter yang menjadi cerminan seorang yang benar-benar mencapai hakikat Islam. Dia muncul dari jiwa yang telah diridlo oleh Allah SWT (nafsu mardliyah). Di antara ciri khas dari orang yang telah berkarakter muslim ini adalah; sayang pada semua makhluk, pema'af, mengajak pada kebaikan, lemah lembut, baik budi dan ikhlas. Tidak semua orang Islam memiliki karakter ini, bahkan mungkin sangat sedikit prosentasenya orang Islam yang telah mencapai tingkat karakter muslim ini.
    6. Karakter Muhsin.
    Karakter ini muncul dari jiwa yang tersucikan dalam diri manusia, yaitu jiwa sempurna (nafsu Kamilah). Sempurna dalam pengertian keyakinan kepada Allah, baik secara empiris ('ainul Yaqin), teoritis (ilmul Yaqin), dogmatis (haqqul Yaqin). Dalam realitas, manusia dengan karakter ini belum bisa disebut sebagai insan kamil, tetapi lebih baik jika disebut sebagai manusia yang dijaga kesuciannya oleh Allah SWT (Mahfud atau Maksum).
    7. Karakter MUTTAQIN.
    Inilah karakter manusia sempurna dalam skala realitas.
    Dia adalah manusia yang berkarakter malaikatiyah. Dia adalah manusia dengan keseimbangan yang sempurna, baik aspek dhohir maupun batinnya, sosial dan spiritual, ilmu, penghayatan maupun pengalamannya. Karakter ini muncul dari jiwa yang telah senang dan bahagia dengan ketentuan Allah SWT (nafsu rodliyah). Di antara tanda-tanda dari karakter ini adalah; dermawan, Zuhud, ikhlas, waro' , riyadhoh, dan wafa'.
    Keempat karakter terakhir ini adalah karakter-karakter positif, yang bisa dicapai oleh orang yang menginginkan kenaikan status keruhaniannya dengan perjuangan spiritual (mujahadah), yang serius dan terus menerus, dalam sebuah proses pendidikan yang utuh dan unggul (tarbiyah taammah).
    Melalui pengajaran (ta'lim), pembiasaan (ta'dib) dan  bimbingan spiritual (Irsyad). Semoga kita semua sukses mencapai Maqom Walhamdu lillaahi robbil 'aalamiin.
    MUTTAQIN.
    Wallahu a'lam bis showab.

    Kelutan, 6 Maret 2019
    TTD
    Kharisuddin Aqib

    0 komentar:

    Mengenal Mapping Umat Islam Versi  Orientalis

    Oleh: Kharisuddin Aqib



    Pemetaan umat Islam oleh orang-orang barat pengkaji bangsa dan peradaban timur, dalam beberapa segi pendekatan, yakni; psikologi, sosiologi dan historiografi.
    1. Psikologi:
    Pluralis, Puritanis, dan moderatis.
    a. Pluralis adalah orang-orang yang mengakui bahwa kebenaran tidak hanya satu, bahkan bisa semua benar.
    Pluralis ada tiga macam: apatis, naturalis, dan transendental.
    1. Pluralis apatis adalah orang-orang yang kurang berilmu dan frustasi.
    2. Pluralis naturalis adalah kaum ilmuwan dan filosof umum (dahriyun).
    3. Pluralis transendental adalah dari kalangan  ilmuwan yang ruhaniawan (Ulul Albab/cendikiawan), ahli fikir, ahli dzikir dan istiqamah dalam amal shaleh.
    Kelompok yang ke tiga inilah 'ulama' yang Rosyidun.
    b. Puritanis.
    Adalah kaum muslimin sangat konsisten pada gerakan pemurnian ajaran Islam, atau kembali pada syariat Islam.
    Puritanis ada tiga macam, yakni: Fanatik, obyektif dan sufistik.
    1. Puritanis Fanatik.
    Mereka adalah kaum puritan taqlid buta kepada firqah atau jama'ah nya. Kebanyakan mereka adalah kaum awam dari firqah (aliran pemikiran aqidah atau teologi) salafi, Wahabi dan Ikhwanul muslimin.
    2. Puritanis Rasionalis
    Mereka adalah kaum puritan yang lebih rasional akademik. Kebanyakan mereka adalah para akademisi yang "mendapatkan hidayah" kemurnian dalam Islam, khususnya dalam masalah aqidah. Mereka biasanya disebut salafi manhaji.
    3. Puritanis Sufistik
    Mereka adalah kaum pemurni yang berasal dari kalangan ahli tasawuf. Mereka juga bisa dikatakan sebagai Sufi sunni. Mereka adalah orang-orang yang mendapatkan rahmat  keluasan ajaran Islam, sekaligus terbimbing di dalam syariat Islam yang benar dan diridhoi Allah SWT.
    c. Moderatis
    Moderatis atau kelompok moderat  adalah mereka yang sikap mentalnya  akomodatif terhadap keyakinan ahli hadis (tektualis) dan keyakinan ahli ro'yu (rasionalis) dalam aliran pemikiran Islam. Tidak ekstrim dalam berislam, khususnya dalam menghadapi peradaban barat. Mereka adalah kaum Sunni, atau firqah ahlussunah wal jama'ah.
    2. Pendekatan Sosiologis.
    Dalam prespektif mapping orientalis umat Islam secara sosiologis, umat Islam ada tiga kelompok; Kelompok keagamaan, Kelompok politik, Kelompok budaya.
    a. Kelompok keagamaan, meliputi; Liberalis, modernis, tradisionalis. fondamentalis.
    1. Kaum liberalis adalah kaum yang berfikir liberal (bebas), melepaskan diri dari sekat-sekat faham keagamaan yang telah ada, secara pribadi. Atau orang-orang yang berpandangan pluralis (bahwa kebenaran tidak hanya satu), kebenaran yang satu dan mutlak hanya milik Allah.
    Sedangkan kebenaran yang diperoleh oleh manusia, semua nisbi.
    2. Kaum modernis.
    Adalah kelompok umat Islam sangat akomodatif (sangat menerima) terhadap kemodernan produk budaya barat. Mereka adalah kaum priyayi dari umat Islam berbudaya kota.
    3. Tradisionalis
    Adalah kelompok umat Islam yang secara sosiologis akomodatif terhadap budaya lokal, sebagai bagian dari warna keagamaannya. Mereka kebanyakan adalah kelompok ahli Sunnah wal jama'ah yang berbasis pesantren atau pedesaan.
    4. Fondamentalis
    Mereka adalah kaum muslimin yang sangat kuat mempertahankan keyakinan keagamaannya dan bersikap sangat keras terhadap hegemoni tradisi dan budaya luar, baik dari barat maupun dari timur.
    b. Kelompok Politik
    Umat Islam dalam peta politik barat di buat dalam tiga kategori; westernis, nasionalis, islamis.
    1. Westernis
    Adalah kelompok umat Islam yang dalam sikap politiknya  sangat barat oriented. Mereka mendukung model pemerintahan barat yang skularistik (memisahkan antara agama dengan politik praktis) mereka kebanyakan adalah umat Islam alumni pendidikan barat.
    2. Kategori Nasionalis
    Kelompok ini, adalah mereka yang semangat nasionalisme (kebangsaannya), melebihi semangat keislaman dan kebarat-baratan dalam berpolitik. Kaum nasionalis berusaha mengkompromikan antara nilai keislaman, budaya barat dengan potensi dasar dan karakteristik bangsa. Mereka kebanyakan kaum tradisionalis yang terpelajar. Baik pendidikan ala barat, maupun ala pesantren

    3. Kategori Islamis.
    Mereka yang dicap oleh orientalis sebagai kelompok politik Islamis adalah, orang-orang yang spirit dalam mengatur politiknya kembali kepada  sejarah politik Islam masa lalu (klasik). Perundang-undangan negara harus merujuk pada hukum Islam formal. Bahkan bentuk negara harus negara agama (dengan pemerintahan teokrasi). Baik bersifat nasional (presiden) maupun trans nasional (raja maupun Khalifah).
    Kelompok ini adalah adalah para pendukung ideologi Ikhwanul muslimin, Hizbut Tahrir dan Kaum salafi Wahabi.
    4. Kategori Militanis
    Militanis atau kaum militan Islam, pada dasarnya adalah kelompok Islam sangat fanatik dan responsif dalam melawan barat. Tetapi di dalamnya ada dua kategori; radikal dan tidak radikal. Militanis radikal melawan hegemoni barat secara politik maupun fisik. Sedangkan yang tidak radikal tidak melawan secara fisik.

    5. Kategori Radikal
    Umat Islam yang dicap sebagai radikalis oleh barat, adalah setiap orang Islam yang terang-terangan melawan hegemoni barat, baik secara fisik, politik dan budaya. Mereka adalah kaum Mujahidin fi Sabilillah di skala politik global. Peperangan Barat -Timur, baik perang dingin maupun perang panas.

    6. Kategori Teroris
    Teroris adalah kategori yang diberikan oleh barat terhadap umat Islam yang militan lagi radikal, tetapi radikalnya tidak dilakukan secara terbuka, mereka melakukan perang gerilya dengan hegemoni barat.
    Secara gradual ketiga kategori muslim ini musuh barat yang sesungguhnya, yakni; Militanis, Radikalis dan Teroris. Mereka inilah kaum muslimin politis formalisme.
    Kondisi mereka sangat memprihatinkan, karena kehebatan barat  dalam membuat kesan dan opini buruk terhadap mereka. Sampai-sampai kebanyakan kaum yang lain, juga  turut memusuhi mereka. Karena barat memiliki teknologi informasi yang canggih. Khususnya di era cyberwarrior  sekarang ini.
    C. Pendekatan Historis
    Dalam pendekatan sejarah, Orang-orang barat memetakan kaum muslimin menjadi dua kategori, yaitu kaum ortodoks dan kaum modernis.
    1. Kaum ortodoks
    Adalah kaum muslimin yang secara historis memegangi dengan fanatik  peradaban masa lalu (klasik) Islam. Dan menolak hegemoni peradaban barat.
    2. Kaum Modernis.
    Adalah kelompok umat Islam yang dalam prespektif barat sangat apresiatif (menerima dengan bangga). Mengikuti dan mengkiblat barat, sebagai sumber sejarah peradaban baru, dan penulisan sejarah baru. Termasuk dalam hal ini adalah teknologi dan kebudayaan.
    Pemetaan sosio, politik dan kultural umat Islam oleh para orientalis (orang-orang barat pengkaji peradaban timur), adalah karena masyarakat timur, khususnya umat Islam adalah obyek kajian sekaligus konsumen produk peradaban mereka.
    Sehingga 'kolonialisme' barat atas bangsa-bangsa timur akan tetap lestari.
    Produk barat yang berupa modernitas, baik teknologi maupun peradaban terus digencarkan, sementara umat Islam dibuat sibuk dengan berbagai issu yang bisa membuat umat berperang sesama muslim sendiri. Dengan teknologi informasi dan dunia Maya sebagai medan laganya.Yang dikenal sebagai cyberwar (perang di dunia Maya). Dengan target memecah belah dan menguasai (Devide at Ampera), sebagai mana VOC menguasai Indonesia.
    Wallahu a'lam bis showab

    Mengenal Mapping Umat Islam Versi Orientalis.

    Posted at  10.02  |  in  pesantren terpadu  |  Read More»

    Mengenal Mapping Umat Islam Versi  Orientalis

    Oleh: Kharisuddin Aqib



    Pemetaan umat Islam oleh orang-orang barat pengkaji bangsa dan peradaban timur, dalam beberapa segi pendekatan, yakni; psikologi, sosiologi dan historiografi.
    1. Psikologi:
    Pluralis, Puritanis, dan moderatis.
    a. Pluralis adalah orang-orang yang mengakui bahwa kebenaran tidak hanya satu, bahkan bisa semua benar.
    Pluralis ada tiga macam: apatis, naturalis, dan transendental.
    1. Pluralis apatis adalah orang-orang yang kurang berilmu dan frustasi.
    2. Pluralis naturalis adalah kaum ilmuwan dan filosof umum (dahriyun).
    3. Pluralis transendental adalah dari kalangan  ilmuwan yang ruhaniawan (Ulul Albab/cendikiawan), ahli fikir, ahli dzikir dan istiqamah dalam amal shaleh.
    Kelompok yang ke tiga inilah 'ulama' yang Rosyidun.
    b. Puritanis.
    Adalah kaum muslimin sangat konsisten pada gerakan pemurnian ajaran Islam, atau kembali pada syariat Islam.
    Puritanis ada tiga macam, yakni: Fanatik, obyektif dan sufistik.
    1. Puritanis Fanatik.
    Mereka adalah kaum puritan taqlid buta kepada firqah atau jama'ah nya. Kebanyakan mereka adalah kaum awam dari firqah (aliran pemikiran aqidah atau teologi) salafi, Wahabi dan Ikhwanul muslimin.
    2. Puritanis Rasionalis
    Mereka adalah kaum puritan yang lebih rasional akademik. Kebanyakan mereka adalah para akademisi yang "mendapatkan hidayah" kemurnian dalam Islam, khususnya dalam masalah aqidah. Mereka biasanya disebut salafi manhaji.
    3. Puritanis Sufistik
    Mereka adalah kaum pemurni yang berasal dari kalangan ahli tasawuf. Mereka juga bisa dikatakan sebagai Sufi sunni. Mereka adalah orang-orang yang mendapatkan rahmat  keluasan ajaran Islam, sekaligus terbimbing di dalam syariat Islam yang benar dan diridhoi Allah SWT.
    c. Moderatis
    Moderatis atau kelompok moderat  adalah mereka yang sikap mentalnya  akomodatif terhadap keyakinan ahli hadis (tektualis) dan keyakinan ahli ro'yu (rasionalis) dalam aliran pemikiran Islam. Tidak ekstrim dalam berislam, khususnya dalam menghadapi peradaban barat. Mereka adalah kaum Sunni, atau firqah ahlussunah wal jama'ah.
    2. Pendekatan Sosiologis.
    Dalam prespektif mapping orientalis umat Islam secara sosiologis, umat Islam ada tiga kelompok; Kelompok keagamaan, Kelompok politik, Kelompok budaya.
    a. Kelompok keagamaan, meliputi; Liberalis, modernis, tradisionalis. fondamentalis.
    1. Kaum liberalis adalah kaum yang berfikir liberal (bebas), melepaskan diri dari sekat-sekat faham keagamaan yang telah ada, secara pribadi. Atau orang-orang yang berpandangan pluralis (bahwa kebenaran tidak hanya satu), kebenaran yang satu dan mutlak hanya milik Allah.
    Sedangkan kebenaran yang diperoleh oleh manusia, semua nisbi.
    2. Kaum modernis.
    Adalah kelompok umat Islam sangat akomodatif (sangat menerima) terhadap kemodernan produk budaya barat. Mereka adalah kaum priyayi dari umat Islam berbudaya kota.
    3. Tradisionalis
    Adalah kelompok umat Islam yang secara sosiologis akomodatif terhadap budaya lokal, sebagai bagian dari warna keagamaannya. Mereka kebanyakan adalah kelompok ahli Sunnah wal jama'ah yang berbasis pesantren atau pedesaan.
    4. Fondamentalis
    Mereka adalah kaum muslimin yang sangat kuat mempertahankan keyakinan keagamaannya dan bersikap sangat keras terhadap hegemoni tradisi dan budaya luar, baik dari barat maupun dari timur.
    b. Kelompok Politik
    Umat Islam dalam peta politik barat di buat dalam tiga kategori; westernis, nasionalis, islamis.
    1. Westernis
    Adalah kelompok umat Islam yang dalam sikap politiknya  sangat barat oriented. Mereka mendukung model pemerintahan barat yang skularistik (memisahkan antara agama dengan politik praktis) mereka kebanyakan adalah umat Islam alumni pendidikan barat.
    2. Kategori Nasionalis
    Kelompok ini, adalah mereka yang semangat nasionalisme (kebangsaannya), melebihi semangat keislaman dan kebarat-baratan dalam berpolitik. Kaum nasionalis berusaha mengkompromikan antara nilai keislaman, budaya barat dengan potensi dasar dan karakteristik bangsa. Mereka kebanyakan kaum tradisionalis yang terpelajar. Baik pendidikan ala barat, maupun ala pesantren

    3. Kategori Islamis.
    Mereka yang dicap oleh orientalis sebagai kelompok politik Islamis adalah, orang-orang yang spirit dalam mengatur politiknya kembali kepada  sejarah politik Islam masa lalu (klasik). Perundang-undangan negara harus merujuk pada hukum Islam formal. Bahkan bentuk negara harus negara agama (dengan pemerintahan teokrasi). Baik bersifat nasional (presiden) maupun trans nasional (raja maupun Khalifah).
    Kelompok ini adalah adalah para pendukung ideologi Ikhwanul muslimin, Hizbut Tahrir dan Kaum salafi Wahabi.
    4. Kategori Militanis
    Militanis atau kaum militan Islam, pada dasarnya adalah kelompok Islam sangat fanatik dan responsif dalam melawan barat. Tetapi di dalamnya ada dua kategori; radikal dan tidak radikal. Militanis radikal melawan hegemoni barat secara politik maupun fisik. Sedangkan yang tidak radikal tidak melawan secara fisik.

    5. Kategori Radikal
    Umat Islam yang dicap sebagai radikalis oleh barat, adalah setiap orang Islam yang terang-terangan melawan hegemoni barat, baik secara fisik, politik dan budaya. Mereka adalah kaum Mujahidin fi Sabilillah di skala politik global. Peperangan Barat -Timur, baik perang dingin maupun perang panas.

    6. Kategori Teroris
    Teroris adalah kategori yang diberikan oleh barat terhadap umat Islam yang militan lagi radikal, tetapi radikalnya tidak dilakukan secara terbuka, mereka melakukan perang gerilya dengan hegemoni barat.
    Secara gradual ketiga kategori muslim ini musuh barat yang sesungguhnya, yakni; Militanis, Radikalis dan Teroris. Mereka inilah kaum muslimin politis formalisme.
    Kondisi mereka sangat memprihatinkan, karena kehebatan barat  dalam membuat kesan dan opini buruk terhadap mereka. Sampai-sampai kebanyakan kaum yang lain, juga  turut memusuhi mereka. Karena barat memiliki teknologi informasi yang canggih. Khususnya di era cyberwarrior  sekarang ini.
    C. Pendekatan Historis
    Dalam pendekatan sejarah, Orang-orang barat memetakan kaum muslimin menjadi dua kategori, yaitu kaum ortodoks dan kaum modernis.
    1. Kaum ortodoks
    Adalah kaum muslimin yang secara historis memegangi dengan fanatik  peradaban masa lalu (klasik) Islam. Dan menolak hegemoni peradaban barat.
    2. Kaum Modernis.
    Adalah kelompok umat Islam yang dalam prespektif barat sangat apresiatif (menerima dengan bangga). Mengikuti dan mengkiblat barat, sebagai sumber sejarah peradaban baru, dan penulisan sejarah baru. Termasuk dalam hal ini adalah teknologi dan kebudayaan.
    Pemetaan sosio, politik dan kultural umat Islam oleh para orientalis (orang-orang barat pengkaji peradaban timur), adalah karena masyarakat timur, khususnya umat Islam adalah obyek kajian sekaligus konsumen produk peradaban mereka.
    Sehingga 'kolonialisme' barat atas bangsa-bangsa timur akan tetap lestari.
    Produk barat yang berupa modernitas, baik teknologi maupun peradaban terus digencarkan, sementara umat Islam dibuat sibuk dengan berbagai issu yang bisa membuat umat berperang sesama muslim sendiri. Dengan teknologi informasi dan dunia Maya sebagai medan laganya.Yang dikenal sebagai cyberwar (perang di dunia Maya). Dengan target memecah belah dan menguasai (Devide at Ampera), sebagai mana VOC menguasai Indonesia.
    Wallahu a'lam bis showab

    0 komentar:

    Tentang Kami-Pendaftaran-Contact
    Copyright © 2013 Pondok Pesantren - DARU ULIL ALBAB. Blogger Template by BloggerTheme9
    Proudly Powered by Blogger.
    back to top