Memahami Akar Sejarah timbulnya Aliran-aliran dalam Islam

Posted at  07.00  |  in  sejarah islam

Memahami Akar Sejarah
timbulnya Aliran-aliran dalam Islam
Oleh: Kharisuddin Aqib 

A. Pengantar
Warna-warni aliran pemikiran dalam Islam seperti yang kita ketahui sekarang ini terjadi melalui proses evolusi yang panjang seiring dengan perkembangan sejarah peradaban Islam itu sendiri. Mulai zaman nabi Muhammad Saw sampai dengan saat ini.
Agama Islam di awal keberadaannya adalah sebuah dinamika dan komunikasi intensif sebuah komunitas yang terdiri dari Nabi Muhammad dengan keluarga dan para muridnya. Para keluarga (Alihi), dan para muridnya (Ashab). Praktek dinamis dalam kehidupan komunitas inilah yang disebut agama Islam (ma ana 'alaihim alyauma wa ashabihi). Keluarga nabi juga biasa disebut dengan ahlul bait, sedangkan para murid dan pengikutnya disebut sahabat atau ashab. Gambaran sederhana komunikasi antara nabi Muhammad dengan keluarga dan para sahabatnya adalah sebagai mana para kyai dengan keluarganya dan santri.
Embrio terjadinya persoalan yang kemudian menjadi sebab munculnya aliran-aliran pemikiran dalam semua aspek kehidupan kemasyarakatan umat Islam, adalah meninggalnya Rasulullah Saw.
Meninggalnya Rasulullah Saw sebagai figur sentral bagi umat Islam berdampak pada munculnya Persoalan Politik Praktis, yakni siapa yang berhak menjadi pengganti beliau sebagai pelanjut pemerintahan atau kepemimpinan. Baik sebagai pemimpin agama maupun pemimpin negara. Pemimpin agama Islam (sebagai Nabi) dan pemimpin negara (kepala negara Madinah). Sebagai Nabi semua umat sepakat, bahwa formal kenabian tidak bisa wariskan, dan sedangkan yang bisa dan harus dilaksanakan adalah menentukan siapa pengganti memimpin dan membimbing umat  sebagai amiril mukminin (pemimpin umat Islam). Maka mulai saat itu terjadilah dua kelompok umat Islam, yang satu sedang merawat jenazah Rasulullah (5-7 orang dari keluarga nabi), yang satunya adalah kelompok para tokoh sahabat (Muhajirin dan Anshar), menyelenggarakan Musyawarah Besar Luar Biasa untuk menentukan siapa yang paling berhak untuk menjadi pengganti Rasullullah.
Ada beberapa persoalan yang dihadapi oleh umat Islam semenjak meninggal nya Sang Rasul tgl 12 Rabiul awal 632 M. Yang pertama dan monumental adalah persoalan politik, selanjutnya persoalan aqidah (teologi), kemudian baru persoalan syariat atau fiqih dan persoalan akhlak atau tasawuf. Dan akumulasi dari keempat persoalan inilah aliran pemikiran dalam Islam muncul, yang in syaa'a Allah akan diulas dalam kajian bersambung ini.

B. Persoalan Politik.
Seperti yang telah saya uraikan di pengantar, bahwa wafatnya Rasulullah menimbulkan persoalan politik yang sangat penting dan monumental. Yakni pengangkatan pelanjut pemerintahan sang Rasul (Khalifah), sebagai Amirul mukminin. Para tokoh sahabat musyawarah sendiri (dari kaum Muhajirin dan Anshar) tanpa kehadiran ahlul bait (keluarga ndalem). Ahlul bait lagi sedang berduka dan merawat jenazah Rasulullah.Keputusan akhir musyawarah para sahabat di Saqifah (tenda pertemuan) Bani Sa'ad mereka mengangkat Abu Bakar as Shiddiq sebagai Amirul mukminin. Sedangkan
Rasulullah tidak berwasiat secara syar'i dan sharih seperti biasa beliau ajarkan. Ada wasiat Ghodir Khum atas kepemimpinan Ali bin Abi Thalib, yang hanya diakui oleh kalangan ahlul bait dan ada isyarat nabi Muhammad pada para sahabat atas peran Abu Bakar as Shiddiq, sebagai badal  imam shalat, ketika sang Rasul sakit menjelang wafatnya. Inilah faktor psikopolitis yang selanjutnya bermuara pada terjadinya keretakan di kalangan umat Islam. Dan pada akhirnya "dunia Islam" terbelah menjadi dua; Syiah dan Ahli Sunnah (Syi'i dan Sunni). Para pendukung ahlul bait, khususnya yang fanatik dengan Sahabat Ali bin Abi Thalib mengklaim bahwa para sahabat telah Ghoshob (merampas) hak kepemimpinan Sayyidina Ali, begitu juga sebaliknya para pendukung keputusan musyawarah luar biasa para sahabat, khususnya yang fanatik (plus munafik),  menuduh para pendukung 'idiologi' ahlul bait adalah sebagai pembohong (kadzdzaab). Padahal kedua terminologi ini bersifat destruktif (menghancurkan) ketsiqahan (kredibilitas) seorang periwayat hadis. Dan karena itu hadis di dunia Islam juga terbelah dua, hadis Syiah dan hadis Sunnah. Yang keduanya itu tidak  'saling menyapa'.
Kondisi umat Islam menjadi lebih ruyam setelah kemunculan kelompok-kelompok ektrim (Ghulat) yang keras, dan ahistoris yang mengembangkan ideologi 'takfiri' (mengkafirkan kelompok lain  di luar  kelomponya), baik di kalangan Syi'ah maupun Sunnah.
Beberapa aliran keras dan ektrim dari kalangan Syi'ah, seperti; syiah Qaramithah, Rofidloh dan hasasin, dan beberapa dari kalangan Sunnah seperti Khawarij, salafi dan wahabi. Aura kontradiksi dan permusuhan diantara belahan dunia Islam masih memancar dari jurang pemisah antara Syiah dan Sunnah, di samping jurang - jurang kecil internal keduanya. Aura tersebut muncul tidak lain karena bara api ; asobiah, jahiliah dan hiqdu wal hasad (dengki dan iri hati)
yang memancar dari dalam hati kaum muslimin yang lemah ilmu dan imannya.

C. Persoalan Aqidah (Teologi).
Persoalan teologi yang muncul dan timbul di dalam diskursus dan polemik umat Islam di zaman klasik (zaman tabi'in awal sd dua generasi di belakangnya) adalah puncak persoalan politik, yaitu terjadinya fitnatul kubro (terbunuhnya Amirul mukminin,  Khalifah Utsman bin Affan), juga terjadinya beberapa peperangan diantara sesama muslim. Perang jamal (antara pasukan Ali bin Abi Thalib dengan pasukan Siti Asiah), perang Shiffin (antara pasukan Ali bin Abi Thalib dengan Muawiyah bin Abi Sufyan), Karbala dll. Yang melibatkan dan mengorbankan banyak pasukan muslimin.
Polemik tentang bagaimana status hukum seorang muslim yang tidak berhukum dengan menggunakan hukum Allah (Al-Qur'an) ?. bagaimana status hukum pembunuh sesama muslim ? Apakah dia masih mukmin, kafir atau fasiq?. Bagaimana status keislaman dan keimanan seseorang yang berdosa besar ? Para ulama' dan zu'ama' dari kalangan umat Islam, baik yang Syi'ah maupun yang Sunnah memberikan argumentasi sesuai dengan keilmuan dan background psikologi, sosial, akademik dan keagamaan masing-masing. Kelompok orang yang tulus, lurus tetapi kurang luas ilmu dan toleransinya, berpendapat bahwa orang-orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah secara tekstual, mereka itu telah kafir dan keluar dari agama Islam, mereka itu adalah kaum khawarij,  atau kebanyakan mantan pasukan elit Ali bin Abi Thalib yang desersi.
Para ulama' yang tekstual tetapi tidak politis cenderung berpendapat, bahwa orang-orang yang beriman tetapi tidak berpegang pada hukum Allah, tidak bisa di sebut Kafir, mereka mukmin yang fasiq. Mereka berdosa besar. Nasib mereka di akhirat kelak fii masyiatillah (terserah Allah) tidak di surga dan tidak di neraka. Senada dengan itu, orang-orang yang fatalistis (jabariyah), juga muncul, mereka berpendapat, bahwa kondisi apapun di dunia ini adalah berdasarkan kehendak mutlak Allah SWT, termasuk nasib manusia. Manusia hanyalah wayang dan Allah adalah dalangnya. Sebagai mana firman Allah SWT,
" والله خلقكم وما تعملون".
Artinya : "Allah lah yang telah menciptakan kalian dan perbuatan kalian". (QS. As. Shofat 96)

Sedangkan kaum qadariyah yang cenderung rasional justru berpendapat sebaliknya. Bahwa kondisi apapun yang di alami oleh manusia adalah semata-mata karena ulah perbuatan manusia itu sendiri. Manusia, bebas dan mampu membuat nasibnya sendiri. Sebagai mana firman Allah SWT :

إن الله لا يغير ما بقوم حتى يغيروا ما بأنفسهم...

Artinya : "Sesungguhnya Allah tidak merubah nasib suatu kaum, sampai mereka mau merubah nasibnya sendiri" (QS. Ar Ra'd 11)

Mereka adalah kelompok minor elite dalam Islam yang terkenal dengan sebutan kaum muktazilah.
Persoalan teologi yang terus berkembang sehingga melahirkan banyak aliran pemikiran yang muncul, baik di zaman klasik, seperti jabariyah, qadariyah, murji'ah. Maupun zaman pertengahan, seperti; Muktazilah, Asy'ariah, maturidiah, ahli Sunnah wal jama'ah. Demikian juga di era modern dan kontemporer.

D.  Persoalan Fiqh (pemahaman syariat Islam).
Setelah muncul dan berkembangnya persoalan politik dan aqidah dalam realitas kehidupan umat Islam. Adalah munculnya persoalan baru yang terkait dengan fiqh atau pemahaman dalam syari'at Islam. Baik syariat dhohir (hukum Islam), maupun syariat batin (akhlak islami) atau tasawuf.
Para ulama' fiqh (hukum Islam), baik di kalangan Sunni, maupun Syiah secara garis besar terbelah menjadi tiga kelompok pemahaman, yakni;  para ahlul hadits (tekstualis), ahlur ro'yi (rasionalis), dan ahlus sunnah (tekstualis-rasionalis).
Demikian juga para ulama' tasawuf (kerohanian dan kebatinan dalam Islam), juga terbedakan dalam tiga karakter, yakni; sunni, falsafi dan baathini.
Para ulama' yang konsen terhadap ajaran formal dan aturan-aturan hukum Allah, secara garis besar memiliki tiga sikap mental yang berbeda. Ada yang memahami teks aturan agama (syariat) dalam Al Qur'an dan as Sunnah sangat formal dan tektual. Mereka adalah ahlul hadits, sehingga memunculkan madzhab - madzhab salaf yang tampak lebih formal seperti madzhab Maliki.
Para ulama' yang cenderung rasional, seperti ulama' Kufah dan Basrah memahami agama lebih kontekstual dan esensial. Seperti imam madzhab Abu Hanifah. Demikian juga para ulama' Sunni yang cenderung konvergensif, akomodatif. Mereka melahirkan madzhab fiqih yang modern dan moderat, seperti Imam Syafi'i.
Sedangkan dalam bidang kerohanian (tasawuf) sebagai bagian dari pemahaman keagamaan. Juga terdapat tiga kelompok pemahaman yang berkembang dalam kehidupan masyarakat Islam.
Pertama, kelompok yang cenderung mengikuti pola kesufian Rasulullah Saw. Mereka berusaha menjauhi materialisme dan hedonisme tetapi secara aktif mereka mendakwahkan ajaran Islam, khususnya ajaran akhlak dan kerohaniannya. Mereka adalah para sufi Sunni,  yang gerakannya sukses pertama kali (gerakan i'tizal dan Zuhud atas prakarsa Hasan Basri. Yang selanjutnya diperkokoh oleh Abu Qasim Junaidi Al Baghdadi, juga oleh para tokoh Sufi sunni yang lain.
Kedua, kelompok yang cenderung mengikuti pola kesufian para
filosof dan ahli hikmah. Mereka lebih cenderung pada aktivitas berfilsaf dan berteori. Hikmah -hikmah kerohaniannya memenuhi glosarium dunia Islam. Mereka adalah para sufi falsafi, dengan tokoh legendarisnya yang bernama Ibnu Arobi.
Sedangkan yang ke tiga, adalah para sufi baathini.  Mereka, para sufi baathini adalah orang-orang yang keasikan kebatinannya melampaui batas-batas etika dan estetika apapun, termasuk di dalamnya batasan syariat Islam. Kebatinan transkultural ini yang selanjutnya disebut sebagai aliran tasawuf mabuk dan dianggap sesat oleh para aktivis syariat Islam.

E. Persoalan Hegemoni Barat.
Penyebab dan akar Sejarah timbulnya berbagai aliran keagamaan dan politik dan sosial dalam Islam, adalah adanya dominasi dan hegemoni barat atas wilayah sosial politik umat Islam.
Setelah sekitar dua abad bangsa barat menjajah umat Islam, umat Islam mulai bangkit dan tersadarkan akan pentingnya kebangkitan umat Islam. Mulai dari Turki dan Mesir yang berhubungan dan berhadapan langsung dengan bangsa barat. Turki berhadapan dengan Italia dan Mesir berhubungan dengan Prancis (Ekspedisi Napoleon Bonaparte). Para ulama'  terbelalak melihat peradaban yang jauh lebih tinggi daripada peradaban umat. Padahal mereka sangat yakin pada Sabda nabi "Al Islam ya'lu wala Yu'laa 'alaih" (Islam adalah adalah peradaban tertinggi, tidak ada yang mengunggulinya).
Tatkala umat Islam masih tertidur lelap di dalam selimut penjajahan barat,   khususnya;  Portugis, Inggris, Spanyol, dan Belanda. Para ulama' Islam Mesir khususnya Sayyid Jamaluddin Al Afghani, Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha, berjuang keras, menggelorakan kebangkitan umat Islam. Demikian juga para Sultan dan Khalifah Dinasti Usmaniyah di Turki, menggelorakan semangat kebangkitan melawan kolonialisme barat.  Maka terjadilah kebangkitan umat Islam di hampir seluruh penjuru dunia, atas prakarsa para sultan dan ulma' pemimpin umat.
Termasuk kesultanan-kesultanan di wilayah Nusantara (kawasan Asia tenggara).
Mulai kesultanan Aceh (samudra pasai) sampai dengan kesultanan Ternate dan Tidore. Kesultanan di Pulau Jawa sampai di kepulauan Sulu dan Mindanao. Semuanya bangkit melawan hegemoni dan penjajahan bangsa barat (Belanda, Inggris, Portugis dan Spanyol). Maka akhirnya muncul organisasi dan Jam'iyyah pergerakan dengan berbagai macam warna warni keislamannya.
Dalam skala internasional, muncul Pan Islam, Ikhwanul muslimin, Wahabi dll. Sedangkan di Indonesia, muncul Serikat Dagang Islam, Budi Utomo, Al Khoiriyah, Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama' dll. Semua organisasi dan Jam'iyyah pergerakan tersebut tujuan utamanya adalah merebut kembali kemerdekaan dari tangan kolonialisme bangsa barat.
Wallahu a'lam bis showab

Bagikan Posting ini

Tentang Kami

Pesantren Terpadu yang didirikan oleh Yayasan Pondok Pesantren Daru Ulil Albab. Insya Allah siap mengemban amanat anda. Untuk menjadikan putra-putri anda pemimpin bangsa, / ulama’/ cendikiawan / konglomerat yg bertaqwa kepada Allah, dan berakhlak mulia Facebook

0 komentar:

Tentang Kami-Pendaftaran-Contact
Copyright © 2013 Pondok Pesantren - DARU ULIL ALBAB. Blogger Template by BloggerTheme9
Proudly Powered by Blogger.
back to top