Nabi Muhammad Profil Figur Teladan

Posted at  08.50  |  in  Profil Nabi Muhammad SAW

A. Muqaddimah.
Umat Islam, khususnya para pemimpin, pada tingkatan dan bidang apapun memiliki figur contoh dan teladan yang sempurna dalam menjalani kehidupan, baik secara pribadi maupun sebagai 'profesional' yaitu seorang anak manusia yang dilahirkan di Padang pasir Saudi Arabia, di kota tua Makkah Al Mukaromah, yang bernama Muhammad bin Abdullah.
Beliau adalah seorang suami, juga bapak, juga kakek yang sukses merintis karir dan perjuangan mulai dari kerja buruh menggembala kambing orang kaya, buruh menyirami kebun kurma dan anggur, menjualkan dagangan saudagar kaya dan menjadi menejer kafilah dagang ke luar negeri. Sampai akhirnya menjadi seorang nabi, Rasulullah, yang otomatis sebagai kepala agama dan kepala negara sekaligus, yang jaya dan berkuasa penuh. Akhirnya menjadi manusia yang paling berpengaruh di alam semesta.
Fenomena umat Islam pada dasa Warsa sekarang ini adalah masa yang sangat memprihatinkan, umat terpecah belah dan saling menghancurkan, di antara firqah-firqah dan aliran-aliran politik dan pemikiran. Di berbagai negara Islam yang seharusnya menjadi negara yang aman dan nyaman sebagai mana adanya di zaman kejayaan. Justru kondisinya sangat pilu dan memprihatikan.
Kondisi seperti ini menimbulkan pertanyaan dalam benak kita, bagaimana peran para pemimpin kita, tidak bisakah mereka kembali membawakan keamanan dan kenyamanan untuk bangsa dan negaranya ? Apakah mereka tidak bisa lagi memprofil diri sebagai mana figur 'sempurna' tuntunan umat Islam yang sempurna lagi bisa menyempurnakan, yaitu Rasulullah Muhammad Saw.
Tulisan ini sebagai usaha untuk menampilkan gambar figur pemberi solusi untuk semua jenis persoalan, yaitu biografi Kanjeng Nabi Muhammad Saw.
B. Latar belakang kehidupan Sang Nabi.
Nabi Muhammad Saw dilahirkan di zaman jahiliah (abad kegelapan), peradaban rimbawi yang berlaku di hampir seluruh penjuru dunia, khususnya di jazirah Arabia. Di hari Senin tanggal 12 robiul Awwal tahun 571 m.
Tahun diserangnya Ka'bah (untuk dihancurkan) oleh Raja Abrahah dari Afrika, seorang Nasrani yang mendirikan gereja yang megah agar bisa menyaingi popularitas Ka'bah, tetapi tidak terwujud.
Muhammad bin Abdullah, lahir sudah tidak ketemu dengan bapaknya. Sang ayah (Abdullah) meninggal tatkala beliau masih baru dua bulan di kandungan sang ibu. Selama dua tahun, sang bayi suci itu disusui dan di asuh oleh Ibu Halimah dari suku Bani Sa'ad, suku Arab yang terkenal paling baik budi dan bahasanya. Kemudian diasuh oleh ibundanya sendiri sampai umur 6 tahun. Ibunda sang calon nabi (Aminah), wanita yang sangat amanah ini meninggalkan putra satu-satunya itu pada usia 6 tahun, sebagai praktis Muhammad kecil ini sudah yatim piatu ketika masih umur 6 tahun tersebut. Selanjutnya sang Nabi kecil diasuh oleh kakeknya (Abdul Muthalib), selama dua tahun, dan di bawah asuhan pamannya (Abu Tholib), mulai umur 8 tahun sampai beliau menikah dengan Khadijah binti Khuwailid, seorang janda yang kaya raya, saudagar (ekspor impor).
Muhammad bin Abdullah, memiliki garis nasab dan silsilah kenabian yang agung dan suci. Melalui bapak dan ibunya, sambung menyambung sampai kepada Nabi Agung Ibrahim sang Abul Anbiya' (bapak para nabi), Melalui Nabi Asmail As. Walaupun hidup di era jahiliah dan kaum penyembah berhala, seluruh jalur lurus dari pihak bapak dan ibunya, serta pengasuhnya terdiri dari orang-orang yang beragama hanif, bersih dan penyembah berhala dan perzinaan. Beliau pernah bersabda "saya punya 500 ibu, semua nya bersih dari perzinaan dan penyembahan berhala". Kakek dan paman yang mengasuh beliau adalah ketua takmir Masjidil haram. Tokoh agama yang paling dihormati di kalangan masyarakat Arab pada saat itu. 

C. Pendidikan Calon Nabi.
Muhammad bin Abdullah, sang kandidat Nabi dan Rasulullah Saw juga super leader,  mengalami proses pendidikan kehidupan dan karakter yang sangat berat. Sekalipun tidak dalam bentuk pendidikan formal.
Masa balita Muhammad pada usia dini dua-tiga hari sampai usia sempurna dua tahun, beliau disusui oleh Ibu Halimah di sebuah kampung suku Sa'ad yang terkenal dengan keaslian bahasa Arabnya. Juga dengan  kehalusan budinya. Ibu Halimah sesuai dengan namanya, beliau juga berkepribadian yang Halim (sederhana, halus Budi lagi santun).
Penitipan bayi untuk disusukan pada "profesional" dari kalangan orang desa adalah merupakan adat dan tradisi dari masyarakat elit Arab (suku Quraisy) pada saat itu. 
Di masa pendidikan usia dini (paud) ini dan di bawah susuan dan asuhan Bu Halimah as Sa'diyyah sang calon rasul,  mengalami operasi spiritual (tazkiyatun nafsi) yang pertama, yang dilakukan oleh malaikat Jibril. Ketika Muhammad kecil lagi bermain dengan saudara sesusuan putra Ibu Halimah. Dengan bentuk animasi yang dilihat dan dirasakan oleh beliau seperti dibelah nya dada dan didicucinya jantung hati beliau, serta diisinya dada dengan betu permata dan mutiara. Sehingga beliau semenjak itu telah memiliki jiwa yang bersih dan hikmah dan kearifan yang luar biasa.
Setelah selesai masa penyusuan, pendidikan sang calon rasul, dilanjutkan oleh ibunya sendiri berada dengan kakeknya. Keduanya sangat sayang kepada Muhammad kecil ini. Siti Aminah, sang ibu adalah penanam pertama dan utama. Sebagai mana namanya sang ibu ini seorang yang sangat amanah, karena itulah pada diri nabi, semenjak kecilnya, sudah populer digelari dengan Al Amin, karena memang beliaulah orang yang paling amanah di muka bumi ini.
Ibunda ini juga yang mengajarkan berbakti kepada orang tua. Diajaknya beliau berziarah ke makam bapaknya (Abdullah suami Aminah), putra Abdul Muthalib yang paling disayang oleh bapaknya. Di daerah perkampungan antara perjalanan Makkah dan Madinah, di Desa Abwak.  Dan ibunda tercinta ini meninggal dunia dalam perjalanan pulang dari ziarah ini. Sehingga Muhammad kecil ini lengkap menyandang gelar yatim piatu ketika beliau masih berumur delapan tahun. Beliau yang sangat halus budi ini terpukul berat dengan kenyataan ini, bahkan beliau sampai mengalami shock dan sakit panas sampai tak sadarkan diri sekitar 2 atau 3 hari. Dan inilah pelajaran hidup yang paling membekas di dalam jiwa manusia yang paling mulia ini, pelajaran tentang rasa cinta dan kemanusiaan.
Setelah meninggalnya Ibunda tercinta Muhammad kecil diasuh oleh kakeknya yang sangat mencintainya. Usia beliau pada saat itu baru 6 tahun. Abdul Muthalib, sang kakek ini orangnya sangat bijaksana, beliaulah yang memberi nama cucunda tercinta ini dengan nama yang sangat tepat dan filosofis "Muhammad" yang artinya orang yang terpuji, sebagai bentuk dhohir yang melengkapi nama "azali" nya yang telah diberikan oleh Allah SWT "Ahmad" yang artinya suka memuji atau berkecenderungan di dalam hal-hal yang terpuji.

Sang kakek inilah yang menorehkan psikologi ke'arifan di dalam jiwa sang Nabinya Akhlak mulia,  yang akhlaknya adalah Al Qur'an. Ditanamkannya dengan penuh cinta kasih, sebagai cucu tercinta yang orang Jawa punya istilah 'gantelane ati" (tambatan hati). Karena sang cucu ini adalah anak dari putra kesayangannya (Abdullah) yang meninggal dunia di usia muda (+-18 tahun), di kala sang calon nabi masih berusia 2 bulan di kandungan ibunya. Muhamad berada di bawah asuhan sang kakek selama dua tahun. Selanjutnya beliau amanahkan langsung dan khusus Muhammad kecil ini kepada putranya yang paling sholih, yang bernama Abu Tholib, paman nabi sekaligus bapaknya sang ksatria agung Ali bin Abi Tholib, karromallaahu wajhahu.
Semenjak usia 8 tahun, setelah meninggalnya sang kakek, Muhammad kecil berada di bawah asuhan dan pendidikan sang paman "Abu Tholib". Seperti halnya bapaknya, Abu Tholib mengasuh keponakan dengan penuh kasih sayang, sebagai mana mengasuh putra sendiri. Abu Thalib senantiasa mengajarkan kemandirian, tanggung jawab dan sikap kesatria. Dilibatkannya sang keponakan dalam berbagai bentuknya kehidupan. Mulai dari kehidupan rumah tangga, bekerja mencari nafkah, membela suku bangsa,  dan kehidupan beragama.

Bersambung insya Allah...
 

Bagikan Posting ini

Tentang Kami

Pesantren Terpadu yang didirikan oleh Yayasan Pondok Pesantren Daru Ulil Albab. Insya Allah siap mengemban amanat anda. Untuk menjadikan putra-putri anda pemimpin bangsa, / ulama’/ cendikiawan / konglomerat yg bertaqwa kepada Allah, dan berakhlak mulia Facebook

0 komentar:

Tentang Kami-Pendaftaran-Contact
Copyright © 2013 Pondok Pesantren - DARU ULIL ALBAB. Blogger Template by BloggerTheme9
Proudly Powered by Blogger.
back to top