• Profil

    Pesantren Terpadu Daru Ulil Albab

  • INFORMASI PENDAFTARAN SANTRI BARU TAHUN 2019

  • Wakaf Tunai

    Gerakan Wakaf Sejuta Umat Ulul Albab

  • Mujahadah

    Jadwal Mujahadah

  • MANAQIB BANI AQIB
    Oleh: Kharisuddin Aqib

    Mbah Kyai haji Abdullah Aqib Umar (Mbah Ngakib), menikah tahun 1940, dengan putrinya  seorang kyai calak kondang dari desa Sumberdadi Sumber Gempol Tulungagung, Kyai Ngalimun atau KH. Abdul Malik.  Putri yang paling cantik dan menik-menik, Mbah haji Abdul Malik itu bernama Siti Marchamah. Beliau itu punya 6 orang saudara kandung (se-ibu se-bapak), dan 5 orang saudara se -bapak saja. Beliau 12 bersaudara itu sangat rukun, khususnya mereka semua sangat sayang kepada Siti Marhamah. Siti Marhamah kecil belajar dan sekolah di Tulungagung. Dengan diantar oleh kakaknya (Ma'ruf, Subakir dan Akhyar), dengan dibonceng sepeda pancal. Seringkali Marhamah kecil harus dongkol dan berangkat dengan berjalan kaki, karena kakaknya, khususnya yang bernama Ma'ruf. Karena kakaknya itu, sangat 'mbleler' , pagi-pagi masih sibuk dengan burung-burungnya, 'mulut, mulut, mulut' , memanggil-manggil burung - burung-burungnya.
    Setelah selesai dan tamat sekolah, beliau mondok di Mangun Sari Tulungagung, bersama dengan mbakyu nya (Siti Romlah), pada masa Kyai Mbah Wali Fattah, dan Mbah nyai Mukhin.
    Siti Marhamah, menikah setelah menikahnya mbakyu nya 'Siti Romlah'. Siti Romlah menikah dengan seorang jejaka nggantheng dan gagah, dari dusun Mindi, desa Kelutan Kec. Ngronggot, Nganjuk, yang bernama Moh. Sholeh.
    Siti Marhamah, dipertemukan oleh Allah dengan suaminya yang bernama 'Aqib Umar. Melalui kakak iparnya, yang bernama Moh. Sholeh, karena 'Aqib adalah teman waktu kecilnya Moh. Sholeh, di pondok suluk 'Mbah Kyai Misri Mindi desa Kelutan Kec. Ngronggot Nganjuk.
    Pernikahan Siti Marchamah, di buat sangat meriah, ada hiburannya gramapun (qasidah atau shalawatan zaman sekarang), hiburan yang sudah sangat mewah pada saat itu, disembelih kan kerbau bunting, dan dihadiri banyak sekali undangan dan pengiring manten putra. Pengiring manten putra naik kereta api, sepur kluthuk atau sepur kuno. Mulai stasiun Papar sampai  sampai Sumber Gempol. Hampir di setiap stasiun ada pengiring dari teman atau saudara manten putra (Ngakib dari Papar atau Kelutan).
    Siti Marhamah menikah sekitar umur 16-17 tahun, dan baru dikaruniai keturunan setelah dua tahun pernikahan. Selama belum memiliki anak penganten baru ini tinggal di rumah orang tuanya, Mbah kyai Ngalimun, kyai haji Abdul Malik. Selama nderek mertua, Sang menantu berusaha membantu sang mertua dalam mengerjakan sawah, tebang tebu, atau giling tebu. Tetapi sering kali mertua kurang berkenan, karena sering kali sang menantu membantu mertua dengan cara mengerjakan orang lain, atau teman-temannya, padahal maksudnya mertua adalah agar menantu bisa bekerja dengan baik, sementara itu, menantu tidak biasa bekerja keras, biasanya menyuruh dan memimpin orang.
    Perbedaan pola pikir, dan pola kerja antara sang mertua dan menantu, menjadikan komunikasi antara keduanya agak kurang bagus, sehingga Marhamah dan Ngakib, di suruh belajar mandiri, 'Mah, Kamah, Saiki awakmu belajar ngliwet dhewe' kata Mbah Haji Ngalimun, pada Siti Marhamah. Karena tersinggung sang menantu pamitan pulang dan mengajak istrinya, pulang ke Kelutan. Sebagai istri yang Sholihah Siti Marhamah, ikut keputusan yang suami, walaupun ia tahu bahwa suaminya belum punya rumah dan pekerjaan yang jelas.
    Siti Marhamah mengikuti suami pindah ke Kelutan. Dengan membuat rumah mungil dan sederhana (gubukan), Ngakib mengajak Marhamah (sang istri), menempati rumah mungil tersebut, tepatnya sekarang di barat teras rumah yang saya tempati saat ini. Dan di rumah itu, Marhamah melahirkan anak-anak, yang pertama sampai dengan yang ke tiga. Semua anak siti Marhamah lahir di Kelutan, kecuali dua anak perempuannya, Nihayah (anak yang ke empat), lahir di Sumber Gempol, Tulung Agung dan Mahmudah (anak yang ke enam), lahir di Banjarsari Metro Lampung Tengah.
    Keseluruhan dari putra-putri Siti Marhamah dengan Ngakib Umar ada 10 orang, yaitu;
    1. Nurul Aini (meninggal dunia sekitar usia 5 tahun).
    2. Ali Imron
    3. Ali Ridho (meninggal dunia.....)
    4. Nihayah
    5. Mudhofir
    6. Mahmudah
    7. Maklum (meninggal dunia balita).
    8. Minnikmatin Tujza (meninggal dunia sekitar 5 tahun).
    9. Kharisuddin
    10. Fauzan Adhim (meninggal dunia waktu lahir).
    Alhamdulillah, semua putra-putri Siti Marhamah (Ali Aqib), sejak kecil dan masa kanak-kanak,  sholih dan Sholihah, dan juga sangat rukun dan peduli terhadap sesama saudara, khususnya kepada saya, misalnya:
    1. Mas Ali Imron.
    Mas Imron, adalah kakak pertama yang saya kenal, karena saya belum mengenal kakak pertama saya yang sesungguhnya (Nurul Aini ALM). Dia kakak pertama yang benar-benar kakak. Semua adiknya berada di dalam 'momongannya', khususnya saya. Dia yang mendampingi ibunya tatkala bapak di dalam perjuangannya, baik perjuangan ekonomi maupun perjuangan untuk agama dan negaranya. Mas Imron yang mendampingi emak memelihara adik-adiknya, khususnya di tahun-tahun sulit, mulai tahun 1960-1970.
    Ketika bapak dan keluarganya (istri dan 4 orang anaknya yang masih kecil-kecil) harus hijrah dari Kelutan ke Sumatera. Kondisi ini adalah akibat dari kebangkrutan dalam berbisnis, jual beli sapi dan kuda. Kebangkrutan karena terkena imbas depaluasi mata uang, tahun 1958. Mbah Ngakib dan keluarganya pindah dan hidup di Lampung selama 4 tahun.
    Mas Imron, turut mbantu bapak ke sawah, di samping kegiatan sekolah dan momong adik-adiknya. Khususnya Nihayah dan Mudhofir. Di Lampung, bapak bekerja jual beli bambu, di samping tugas pengabdian masyarakatnya, pak kaum atau Modin. Setelah 4 tahun emak Siti Marhamah, di sambangi oleh kakaknya yang sangat sayang kepadanya, yaitu pakde Ndan (Sulaiman Romadlon), dan beliau tidak tega menyaksikan adiknya hidup di dalam kemiskinan. Maka kemudian beliau memboyong adiknya sekeluarga kembali ke Kelutan. "Kowe kudu, melok aku muleh, aku engko njegur Segoro nek awakmu gak gelem melok muleh, wes ben, seng mbiaya-i anak-anak mu kabeh aku".
    Menurut pak PANDI (adiknya bude Monah), yang disuruh menjemput keluarga Mbah Ngakib adalah beliau, pak PANDI.
    Mas Imron,  sejak aku bayi sudah ikut merawat aku, waktu aku masih kecil sering dimandikan oleh beliau, dipacak i. Setelah mas Imron kerja di Surabaya, Stap KUA, ingat saya dulu di gentheng kali. Kalau hari raya dibelikan baju baru, alat-alat sekolah yang baik-baik. Kalau liburan, diajak ke THR, dan kebon binatang.
    Waktu saya mondok, beliau bersama mas Dhofir dan yu Nihayah, yang membiayai saya secara rutin (mas Imron dan mas Dhofir, masing 10 ribuan, per bulan, sedangkan yu Nihayah, memberi beras 10 kg, dan janganan, atau kelapa).  Waktu saya kuliah S1, di Surabaya,  bahkan setelah kuliah, sampai saya menikah, mas Imron, kakak mbareb saya ini adalah orang yang paling berjasa menghantarkan saya menjadi manusia.
    2. Mas Ali Ridho.
    Dia adalah kakak ku yang paling cerdas, dan bijaksana. Dia juga orang yang paling sosialis diantara kakak-kakak ku, akrab dengan saudara, teman dan tetangga. Satu-satunya saudaraku yang mewarisi bakat ilmu Kanuragan dari bapakku. Ilmu kebal dan macam ragam nya. Badan dan kemauannya paling kuat, juga paling mandiri. Pikiran dan cara berfikirnya, melampaui kebanyakan orang.
    Semenjak kecil sudah sangat mandiri, sekolah dan mondok tanpa buku dan sangu, tetapi selalu lulus paling baik.
    Lulus PGAN enam tahun, dia langsung dikirim untuk menjadi guru agama Islam di Mantup Lamongan, dan kemudian, diambil menantu oleh perangkat desa. Istrinya nama nya mbak Munawaroh.
    Pernikahan mas Ali Ridho dengan mbak Munawaroh, kurang mendapatkan restu dari orang tua. Sehingga pernikahannya gagal di tengah jalan.
    Ketika di Lamongan, setelah nikah beliau mulai belajar bekerja, di samping mengajar ngaji di masyarakat. Beliau berdagang tembakau, partai besar. Yang saya tahu dulu ada yang dijalankan oleh bapak (Mbah Ngakib), barang dagangan tembakau sampai memenuhi ruangan rumah full. Sepertinya itu yang menyebabkan kebangkrutan beliau dan akhirnya harus hijrah ke Sumatra.
    Tapi kakak ku yang satu ini selain paling cerdas dan kreatif, juga paling ulet dan gigih, sehingga dia betul-betul sukses menjadi pahlawan bagi anak-anaknya
    Alhamdulillah... kakakku yang kedua ini, telah meninggal dalam keadaan Husnul khatimah. Dan sudah selesai melaksanakan tugas-tugasnya dengan baik. Segudang prestasi dan jasa telah di dapatkan....
    Istri (mbak Rusmi Mawar alias Khadijah) dan anak laki-lakinya sudah dihajikan.  Semua anaknya sudah dinikahkan. Tiga dari empat anaknya sudah bergelar sarjana. Masih juga meninggalkan untuk anak-anaknya, rumah dan tanah pekarangan dan perkebunan yang cukup luas dan berharga. Pak Ali ridho ini anak Sholeh yang sangat berbakti dan peduli dengan orang tua dan saudara-saudaranya. Saya sangat sering diajak bapak, naik sepeda onthel ke Kertosono, untuk mengambil wesel (kiriman uang) dari 'kang rid' ini, juga paket, berupa kopi atau mrica dan lada. Kang Rid ini anak yang sangat dirindukan oleh emak. Kalau datang, emak saya selalu memeluknya dan tangisan haru dan bahagia.
    Tetapi tidak kalah hebatnya, kakakku yang ke tiga, yang bernama Nihayah.
    3. Nihayah.
    Nama kakakku ini cukup pendek 'nihayah', bapak dan emak, memanggilnya 'Yah' saja. Sayapun juga ikut memanggilnya 'yu yah'. Tetapi dia adalah saudara perempuanku yang paling sakti. Bayangkan dia menikah sekitar umur 16 tahun, dapat suami kyainya sendiri yang sudah punya anak 4 orang. Selama berumah tangga dengan kyai Abdillah, sekitar 13 tahun, yu Nihayah ini tambah punya anak 3 orang, semuanya laki-laki dan hebat-hebat (ganteng, sholih dan uangnya banyak).
    Pak kyai Abdillah, meninggal dunia, sedangkan tiga anak yu Nihayah ini masih yatim. Bahkan yang paling kecil masih dalam kandungan, namanya Abid Muzahim (Sang konglomerat yang tidak ngawak-i).
    Yu Nihayah umur sekitar 29 tahun sudah janda dengan 7 anak, empat anak tiri dan 3 anak kandung. Dengan tanpa nikah lagi dan menjadi orang tua sendiri (single parents), dapat sukses menghantarkan semua putra-putrinya berumah tangga.
    Yu Nihayah ini sangat disayangi oleh bapak, selalu 'didampingi' dan dido'akan oleh beliau.
    Dalam kehidupan saya, yu Nihayah, juga sangat berjasa, dia sangat mencintai saya, sejak saya kecil beliau selalu mendampingi emak  menjaga saya, kalau saya sakit, pasti saya dibuatkan jenang atau dibelikan soto, padahal saya waktu kecil sering sakit. Pernah saya sakit parah sampai tidak sadarkan diri (koma), saya terdengar panggilan mbakyu saya ini samar-samar, 'yaa Allah njenengan uripaken...Kharis Niki adik Kulo seng paling kulo sayangi...)'. Saya itu beberapa kali parah seperti itu, sepertinya yang dibisiki oleh yu Nihayah ini adalah sakit parah saya yang terakhir.
    Perjuangan yu Nihayah untuk keluarga dan anak-anaknya sangat luar biasa hebat, karena dia harus menggantikan tugas dan tanggung jawab suaminya, di kala anak-anaknya harus memulai pendidikan, maka dia harus menjaga keberlangsungan kehidupan keluarganya, yakni; menegakkan ekonomi keluarga, Pendidikan anak-anaknya, dan nama besar pondok pesantrennya. Dan hebatnya ketiga-tiganya sukses.Tanpa 'bantuan' saya, adiknya yang paling disayangi dan didambakan. Putra bapak yang sangat hebat sekali lagi adalah kakak ku yang ke empat, namanya Mudhofir.

    4. Mudhofir
    Mas Dhohir ini sebenarnya kakakku yang ke lima, tetapi yang saya alami dia adalah kakak ku yang ke empat, karena kakak pertama ku meningal dunia ketika masih kecil dan saya belum lahir. Mas Dhofir kakak ku yang hebat dan Bejo. Sejak sekolah PGA enam tahun bea siswa (dibiayai oleh negara), waktu jadi pegawai (PNS), dibayar negara, bahkan sampai sekarang. Sebelum menjadi pegawai, dia harus tes di tiga instansi, PT. Perhutani, Pengangkatan guru Depag dan pegawai KUA. Dan hebatnya ketiga-tiganya lulus. Tetapi beliau pilih pegawai KUA kecamatan. Dan sampai puncak karier pensiun Kepala KUA kecamatan Wonokromo Surabaya.
    Perjuangan mas Dhofir ini lebih banyak dialami di masa-masa remajanya. Karena dia harus membantu bapak mencari uang di zaman yang serba sulit. Dia harus membantu jualan tikar keliling, jualan tembakau kerjasama bapak dengan pak Ali Ridho di Lamongan, juga dagangan bapak yang kerjasama dengan pak Srangi Njuwono, Kertosono. Seperti sabit, pacul dan lencek. Juga di kala perkuliahannya di IAIN Kediri kandas, sehingga harus bekerja kasar, sebelum diterima jadi PNS. Kakakku ini juga sangat sayang dengan saya. Sejak saya mondok, kuliah dan sampai sekarang selalu nyangoni (memberi uang kepada saya), memang dia adalah saudaraku yang paling dermawan, kepada siapapun. Dia sangat mendukung pendidikan saya, khususnya waktu saya kuliah S1 di Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel Surabaya. Aku ikut ngrusuhi beliau sejak semester dua. Karena harus ikut tinggal di kos-kosan nya yang sangat sempit. Bagaimana tidak sempit kos satu kamar 'disingget' jadi dua, yang depan saya tempati dan yang belakang beliau tempati dengan mbak komik istrinya yang Sholihah itu. Sedangkan masaknya di teras kamar...rumah kontrakannya pak Suwono, Kedung Baruk Rungkut lor Surabaya. Dari sini saya berangkat kuliah naik sepeda pancal super sederhana, sedangkan sebelumnya saya berangkat dari pondok sidoresmo, Wonokromo. Satu semester di Kedung Baruk, mas Dhofir pindah kos di Barata jaya Bratang, itu juga saya ikut bersamanya. Kontrakan rumah sosoran tetapi lebih panjang dan lengkap. Heranku aku ini kok yo nekad, padahal tidurku di samping bawah ranjangnya mas Dhofir. Sampai kemudian kira-kira Arsy Allah goncang gara-gara mas Dhofir menangis, karena melihat saya kebanjiran dan akhirnya harus tidur di atas meja tamu.
    5. Mahmudah
    Mbakyuku yang satu ini, sama dengan aku, tidak pernah menangi atau mengalami masa kejayaan bapakku. Dia dan aku lahir dalam keadaan ekonomi keluarga sangat memprihatikan. Bahkan yu Mahmudah satu-satunya anaknya bapak yang lahir di desa Banjarsari Metro Lampung Tengah. Dalam keadaan sangat miskin. Rumahnya gedhek dan jebol-jebol.
    Yu Mahmudah lahir di Lampung, tetapi masa kanak-kanaknya di Kelutan. Dan di masa kanak-kanak itu pas ada wabah penyakit cacar, Alhamdulillahirobbil beliau masih bisa sembuh, sekalipun bekasnya masih kelihatan sampai sekarang. Karena beberapa saudara dekat kita tak tertolong lagi.
    Yu Mahmudah sama dengan yu Nihayah, dapat suami kyainya atau ustadz nya sendiri. Namanya pak Puguh, orang yang sangat Zuhud lagi sabar. Sekalipun sudah agak tua, pak Puguh ini masih jejaka dan pinter ngaji. Mbakyuku Mahmudah ini sukses, bisa menunaikan ibadah  haji  masih dalam keadaan sehat. Tetapi suaminya sudah meninggal beberapa tahun sebelumnya.
    Kelima saudaraku Alhamdulillah semuanya rukun sejak kecil. Kami semua biasa makan bersama dan tidur bersama. Mereka semuanya menyayangi aku, sebagai adik yang terkecil. Sejak saya mondok, mereka urunan membiayai saya, bahkan urunan juga untuk memeriahkan resepsi pernikahan saya. Dalam rangka berbakti kepada kedua orang tua, agar emak dan bapak tidak repot dan susah mengurusi saya. Karena beliau berdua sudah tua dan tidak bekerja... Alhamdulillah, semua saudaraku mempunyai anak dan cucu yang sholih dan Sholihah, mas Imron (KH. Ali Imron Aqib, SH), mempunyai 4 orang anak, dua orang pria dan dua orang wanita. Yang kesemuanya sudah mempunyai anak. Sedangkan jumlah cucunya ada 13 orang anak.
    Pak Ridho (Ali Ridho Aqib, SPd). Mempunyai 4 orang anak, tiga wanita dan satu orang pria, yang kesemuanya sudah mempunyai anak. Sedangkan cucunya juga 11 orang anak. Yu Nihayah (Nyai Hj. Nihayah Abdillah), mempunyai tiga orang anak, dan semuanya pria. Semua sudah menikah, tetapi anak yang paling kecil masih belum mempunyai anak. Dengan jumlah cucu 5 orang anak.
    Mas Dhofir (KH. Mudhofir Aqib, M.Hi), mempunyai tiga orang anak, dua wanita dan satu pria. Anak perempuan yang pertama mempunyai dua orang anak yatim, karena menantunya mas Dhofir sudah meninggal dunia. Sedangkan anak perempuan yang kedua sudah meninggal dunia, dengan meninggalkan seorang anak perempuan. Jadi jumlah cucunya 3 orang anak.  Sedangkan anak bungsu mas Dhofir belum nikah.
    Mbakyuku Mahmudah anaknya tiga orang, dua perempuan dan satu laki-laki, dan cucunya 7 orang anak. Sedangkan anak saya empat orang, satu perempuan dan tiga laki-laki. Sedangkan cucu saya baru 1 orang anak perempuan.

    Manaqib Bani Aqib.

    Posted at  09.00  |  in  manaqib bani aqib  |  Read More»

    MANAQIB BANI AQIB
    Oleh: Kharisuddin Aqib

    Mbah Kyai haji Abdullah Aqib Umar (Mbah Ngakib), menikah tahun 1940, dengan putrinya  seorang kyai calak kondang dari desa Sumberdadi Sumber Gempol Tulungagung, Kyai Ngalimun atau KH. Abdul Malik.  Putri yang paling cantik dan menik-menik, Mbah haji Abdul Malik itu bernama Siti Marchamah. Beliau itu punya 6 orang saudara kandung (se-ibu se-bapak), dan 5 orang saudara se -bapak saja. Beliau 12 bersaudara itu sangat rukun, khususnya mereka semua sangat sayang kepada Siti Marhamah. Siti Marhamah kecil belajar dan sekolah di Tulungagung. Dengan diantar oleh kakaknya (Ma'ruf, Subakir dan Akhyar), dengan dibonceng sepeda pancal. Seringkali Marhamah kecil harus dongkol dan berangkat dengan berjalan kaki, karena kakaknya, khususnya yang bernama Ma'ruf. Karena kakaknya itu, sangat 'mbleler' , pagi-pagi masih sibuk dengan burung-burungnya, 'mulut, mulut, mulut' , memanggil-manggil burung - burung-burungnya.
    Setelah selesai dan tamat sekolah, beliau mondok di Mangun Sari Tulungagung, bersama dengan mbakyu nya (Siti Romlah), pada masa Kyai Mbah Wali Fattah, dan Mbah nyai Mukhin.
    Siti Marhamah, menikah setelah menikahnya mbakyu nya 'Siti Romlah'. Siti Romlah menikah dengan seorang jejaka nggantheng dan gagah, dari dusun Mindi, desa Kelutan Kec. Ngronggot, Nganjuk, yang bernama Moh. Sholeh.
    Siti Marhamah, dipertemukan oleh Allah dengan suaminya yang bernama 'Aqib Umar. Melalui kakak iparnya, yang bernama Moh. Sholeh, karena 'Aqib adalah teman waktu kecilnya Moh. Sholeh, di pondok suluk 'Mbah Kyai Misri Mindi desa Kelutan Kec. Ngronggot Nganjuk.
    Pernikahan Siti Marchamah, di buat sangat meriah, ada hiburannya gramapun (qasidah atau shalawatan zaman sekarang), hiburan yang sudah sangat mewah pada saat itu, disembelih kan kerbau bunting, dan dihadiri banyak sekali undangan dan pengiring manten putra. Pengiring manten putra naik kereta api, sepur kluthuk atau sepur kuno. Mulai stasiun Papar sampai  sampai Sumber Gempol. Hampir di setiap stasiun ada pengiring dari teman atau saudara manten putra (Ngakib dari Papar atau Kelutan).
    Siti Marhamah menikah sekitar umur 16-17 tahun, dan baru dikaruniai keturunan setelah dua tahun pernikahan. Selama belum memiliki anak penganten baru ini tinggal di rumah orang tuanya, Mbah kyai Ngalimun, kyai haji Abdul Malik. Selama nderek mertua, Sang menantu berusaha membantu sang mertua dalam mengerjakan sawah, tebang tebu, atau giling tebu. Tetapi sering kali mertua kurang berkenan, karena sering kali sang menantu membantu mertua dengan cara mengerjakan orang lain, atau teman-temannya, padahal maksudnya mertua adalah agar menantu bisa bekerja dengan baik, sementara itu, menantu tidak biasa bekerja keras, biasanya menyuruh dan memimpin orang.
    Perbedaan pola pikir, dan pola kerja antara sang mertua dan menantu, menjadikan komunikasi antara keduanya agak kurang bagus, sehingga Marhamah dan Ngakib, di suruh belajar mandiri, 'Mah, Kamah, Saiki awakmu belajar ngliwet dhewe' kata Mbah Haji Ngalimun, pada Siti Marhamah. Karena tersinggung sang menantu pamitan pulang dan mengajak istrinya, pulang ke Kelutan. Sebagai istri yang Sholihah Siti Marhamah, ikut keputusan yang suami, walaupun ia tahu bahwa suaminya belum punya rumah dan pekerjaan yang jelas.
    Siti Marhamah mengikuti suami pindah ke Kelutan. Dengan membuat rumah mungil dan sederhana (gubukan), Ngakib mengajak Marhamah (sang istri), menempati rumah mungil tersebut, tepatnya sekarang di barat teras rumah yang saya tempati saat ini. Dan di rumah itu, Marhamah melahirkan anak-anak, yang pertama sampai dengan yang ke tiga. Semua anak siti Marhamah lahir di Kelutan, kecuali dua anak perempuannya, Nihayah (anak yang ke empat), lahir di Sumber Gempol, Tulung Agung dan Mahmudah (anak yang ke enam), lahir di Banjarsari Metro Lampung Tengah.
    Keseluruhan dari putra-putri Siti Marhamah dengan Ngakib Umar ada 10 orang, yaitu;
    1. Nurul Aini (meninggal dunia sekitar usia 5 tahun).
    2. Ali Imron
    3. Ali Ridho (meninggal dunia.....)
    4. Nihayah
    5. Mudhofir
    6. Mahmudah
    7. Maklum (meninggal dunia balita).
    8. Minnikmatin Tujza (meninggal dunia sekitar 5 tahun).
    9. Kharisuddin
    10. Fauzan Adhim (meninggal dunia waktu lahir).
    Alhamdulillah, semua putra-putri Siti Marhamah (Ali Aqib), sejak kecil dan masa kanak-kanak,  sholih dan Sholihah, dan juga sangat rukun dan peduli terhadap sesama saudara, khususnya kepada saya, misalnya:
    1. Mas Ali Imron.
    Mas Imron, adalah kakak pertama yang saya kenal, karena saya belum mengenal kakak pertama saya yang sesungguhnya (Nurul Aini ALM). Dia kakak pertama yang benar-benar kakak. Semua adiknya berada di dalam 'momongannya', khususnya saya. Dia yang mendampingi ibunya tatkala bapak di dalam perjuangannya, baik perjuangan ekonomi maupun perjuangan untuk agama dan negaranya. Mas Imron yang mendampingi emak memelihara adik-adiknya, khususnya di tahun-tahun sulit, mulai tahun 1960-1970.
    Ketika bapak dan keluarganya (istri dan 4 orang anaknya yang masih kecil-kecil) harus hijrah dari Kelutan ke Sumatera. Kondisi ini adalah akibat dari kebangkrutan dalam berbisnis, jual beli sapi dan kuda. Kebangkrutan karena terkena imbas depaluasi mata uang, tahun 1958. Mbah Ngakib dan keluarganya pindah dan hidup di Lampung selama 4 tahun.
    Mas Imron, turut mbantu bapak ke sawah, di samping kegiatan sekolah dan momong adik-adiknya. Khususnya Nihayah dan Mudhofir. Di Lampung, bapak bekerja jual beli bambu, di samping tugas pengabdian masyarakatnya, pak kaum atau Modin. Setelah 4 tahun emak Siti Marhamah, di sambangi oleh kakaknya yang sangat sayang kepadanya, yaitu pakde Ndan (Sulaiman Romadlon), dan beliau tidak tega menyaksikan adiknya hidup di dalam kemiskinan. Maka kemudian beliau memboyong adiknya sekeluarga kembali ke Kelutan. "Kowe kudu, melok aku muleh, aku engko njegur Segoro nek awakmu gak gelem melok muleh, wes ben, seng mbiaya-i anak-anak mu kabeh aku".
    Menurut pak PANDI (adiknya bude Monah), yang disuruh menjemput keluarga Mbah Ngakib adalah beliau, pak PANDI.
    Mas Imron,  sejak aku bayi sudah ikut merawat aku, waktu aku masih kecil sering dimandikan oleh beliau, dipacak i. Setelah mas Imron kerja di Surabaya, Stap KUA, ingat saya dulu di gentheng kali. Kalau hari raya dibelikan baju baru, alat-alat sekolah yang baik-baik. Kalau liburan, diajak ke THR, dan kebon binatang.
    Waktu saya mondok, beliau bersama mas Dhofir dan yu Nihayah, yang membiayai saya secara rutin (mas Imron dan mas Dhofir, masing 10 ribuan, per bulan, sedangkan yu Nihayah, memberi beras 10 kg, dan janganan, atau kelapa).  Waktu saya kuliah S1, di Surabaya,  bahkan setelah kuliah, sampai saya menikah, mas Imron, kakak mbareb saya ini adalah orang yang paling berjasa menghantarkan saya menjadi manusia.
    2. Mas Ali Ridho.
    Dia adalah kakak ku yang paling cerdas, dan bijaksana. Dia juga orang yang paling sosialis diantara kakak-kakak ku, akrab dengan saudara, teman dan tetangga. Satu-satunya saudaraku yang mewarisi bakat ilmu Kanuragan dari bapakku. Ilmu kebal dan macam ragam nya. Badan dan kemauannya paling kuat, juga paling mandiri. Pikiran dan cara berfikirnya, melampaui kebanyakan orang.
    Semenjak kecil sudah sangat mandiri, sekolah dan mondok tanpa buku dan sangu, tetapi selalu lulus paling baik.
    Lulus PGAN enam tahun, dia langsung dikirim untuk menjadi guru agama Islam di Mantup Lamongan, dan kemudian, diambil menantu oleh perangkat desa. Istrinya nama nya mbak Munawaroh.
    Pernikahan mas Ali Ridho dengan mbak Munawaroh, kurang mendapatkan restu dari orang tua. Sehingga pernikahannya gagal di tengah jalan.
    Ketika di Lamongan, setelah nikah beliau mulai belajar bekerja, di samping mengajar ngaji di masyarakat. Beliau berdagang tembakau, partai besar. Yang saya tahu dulu ada yang dijalankan oleh bapak (Mbah Ngakib), barang dagangan tembakau sampai memenuhi ruangan rumah full. Sepertinya itu yang menyebabkan kebangkrutan beliau dan akhirnya harus hijrah ke Sumatra.
    Tapi kakak ku yang satu ini selain paling cerdas dan kreatif, juga paling ulet dan gigih, sehingga dia betul-betul sukses menjadi pahlawan bagi anak-anaknya
    Alhamdulillah... kakakku yang kedua ini, telah meninggal dalam keadaan Husnul khatimah. Dan sudah selesai melaksanakan tugas-tugasnya dengan baik. Segudang prestasi dan jasa telah di dapatkan....
    Istri (mbak Rusmi Mawar alias Khadijah) dan anak laki-lakinya sudah dihajikan.  Semua anaknya sudah dinikahkan. Tiga dari empat anaknya sudah bergelar sarjana. Masih juga meninggalkan untuk anak-anaknya, rumah dan tanah pekarangan dan perkebunan yang cukup luas dan berharga. Pak Ali ridho ini anak Sholeh yang sangat berbakti dan peduli dengan orang tua dan saudara-saudaranya. Saya sangat sering diajak bapak, naik sepeda onthel ke Kertosono, untuk mengambil wesel (kiriman uang) dari 'kang rid' ini, juga paket, berupa kopi atau mrica dan lada. Kang Rid ini anak yang sangat dirindukan oleh emak. Kalau datang, emak saya selalu memeluknya dan tangisan haru dan bahagia.
    Tetapi tidak kalah hebatnya, kakakku yang ke tiga, yang bernama Nihayah.
    3. Nihayah.
    Nama kakakku ini cukup pendek 'nihayah', bapak dan emak, memanggilnya 'Yah' saja. Sayapun juga ikut memanggilnya 'yu yah'. Tetapi dia adalah saudara perempuanku yang paling sakti. Bayangkan dia menikah sekitar umur 16 tahun, dapat suami kyainya sendiri yang sudah punya anak 4 orang. Selama berumah tangga dengan kyai Abdillah, sekitar 13 tahun, yu Nihayah ini tambah punya anak 3 orang, semuanya laki-laki dan hebat-hebat (ganteng, sholih dan uangnya banyak).
    Pak kyai Abdillah, meninggal dunia, sedangkan tiga anak yu Nihayah ini masih yatim. Bahkan yang paling kecil masih dalam kandungan, namanya Abid Muzahim (Sang konglomerat yang tidak ngawak-i).
    Yu Nihayah umur sekitar 29 tahun sudah janda dengan 7 anak, empat anak tiri dan 3 anak kandung. Dengan tanpa nikah lagi dan menjadi orang tua sendiri (single parents), dapat sukses menghantarkan semua putra-putrinya berumah tangga.
    Yu Nihayah ini sangat disayangi oleh bapak, selalu 'didampingi' dan dido'akan oleh beliau.
    Dalam kehidupan saya, yu Nihayah, juga sangat berjasa, dia sangat mencintai saya, sejak saya kecil beliau selalu mendampingi emak  menjaga saya, kalau saya sakit, pasti saya dibuatkan jenang atau dibelikan soto, padahal saya waktu kecil sering sakit. Pernah saya sakit parah sampai tidak sadarkan diri (koma), saya terdengar panggilan mbakyu saya ini samar-samar, 'yaa Allah njenengan uripaken...Kharis Niki adik Kulo seng paling kulo sayangi...)'. Saya itu beberapa kali parah seperti itu, sepertinya yang dibisiki oleh yu Nihayah ini adalah sakit parah saya yang terakhir.
    Perjuangan yu Nihayah untuk keluarga dan anak-anaknya sangat luar biasa hebat, karena dia harus menggantikan tugas dan tanggung jawab suaminya, di kala anak-anaknya harus memulai pendidikan, maka dia harus menjaga keberlangsungan kehidupan keluarganya, yakni; menegakkan ekonomi keluarga, Pendidikan anak-anaknya, dan nama besar pondok pesantrennya. Dan hebatnya ketiga-tiganya sukses.Tanpa 'bantuan' saya, adiknya yang paling disayangi dan didambakan. Putra bapak yang sangat hebat sekali lagi adalah kakak ku yang ke empat, namanya Mudhofir.

    4. Mudhofir
    Mas Dhohir ini sebenarnya kakakku yang ke lima, tetapi yang saya alami dia adalah kakak ku yang ke empat, karena kakak pertama ku meningal dunia ketika masih kecil dan saya belum lahir. Mas Dhofir kakak ku yang hebat dan Bejo. Sejak sekolah PGA enam tahun bea siswa (dibiayai oleh negara), waktu jadi pegawai (PNS), dibayar negara, bahkan sampai sekarang. Sebelum menjadi pegawai, dia harus tes di tiga instansi, PT. Perhutani, Pengangkatan guru Depag dan pegawai KUA. Dan hebatnya ketiga-tiganya lulus. Tetapi beliau pilih pegawai KUA kecamatan. Dan sampai puncak karier pensiun Kepala KUA kecamatan Wonokromo Surabaya.
    Perjuangan mas Dhofir ini lebih banyak dialami di masa-masa remajanya. Karena dia harus membantu bapak mencari uang di zaman yang serba sulit. Dia harus membantu jualan tikar keliling, jualan tembakau kerjasama bapak dengan pak Ali Ridho di Lamongan, juga dagangan bapak yang kerjasama dengan pak Srangi Njuwono, Kertosono. Seperti sabit, pacul dan lencek. Juga di kala perkuliahannya di IAIN Kediri kandas, sehingga harus bekerja kasar, sebelum diterima jadi PNS. Kakakku ini juga sangat sayang dengan saya. Sejak saya mondok, kuliah dan sampai sekarang selalu nyangoni (memberi uang kepada saya), memang dia adalah saudaraku yang paling dermawan, kepada siapapun. Dia sangat mendukung pendidikan saya, khususnya waktu saya kuliah S1 di Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel Surabaya. Aku ikut ngrusuhi beliau sejak semester dua. Karena harus ikut tinggal di kos-kosan nya yang sangat sempit. Bagaimana tidak sempit kos satu kamar 'disingget' jadi dua, yang depan saya tempati dan yang belakang beliau tempati dengan mbak komik istrinya yang Sholihah itu. Sedangkan masaknya di teras kamar...rumah kontrakannya pak Suwono, Kedung Baruk Rungkut lor Surabaya. Dari sini saya berangkat kuliah naik sepeda pancal super sederhana, sedangkan sebelumnya saya berangkat dari pondok sidoresmo, Wonokromo. Satu semester di Kedung Baruk, mas Dhofir pindah kos di Barata jaya Bratang, itu juga saya ikut bersamanya. Kontrakan rumah sosoran tetapi lebih panjang dan lengkap. Heranku aku ini kok yo nekad, padahal tidurku di samping bawah ranjangnya mas Dhofir. Sampai kemudian kira-kira Arsy Allah goncang gara-gara mas Dhofir menangis, karena melihat saya kebanjiran dan akhirnya harus tidur di atas meja tamu.
    5. Mahmudah
    Mbakyuku yang satu ini, sama dengan aku, tidak pernah menangi atau mengalami masa kejayaan bapakku. Dia dan aku lahir dalam keadaan ekonomi keluarga sangat memprihatikan. Bahkan yu Mahmudah satu-satunya anaknya bapak yang lahir di desa Banjarsari Metro Lampung Tengah. Dalam keadaan sangat miskin. Rumahnya gedhek dan jebol-jebol.
    Yu Mahmudah lahir di Lampung, tetapi masa kanak-kanaknya di Kelutan. Dan di masa kanak-kanak itu pas ada wabah penyakit cacar, Alhamdulillahirobbil beliau masih bisa sembuh, sekalipun bekasnya masih kelihatan sampai sekarang. Karena beberapa saudara dekat kita tak tertolong lagi.
    Yu Mahmudah sama dengan yu Nihayah, dapat suami kyainya atau ustadz nya sendiri. Namanya pak Puguh, orang yang sangat Zuhud lagi sabar. Sekalipun sudah agak tua, pak Puguh ini masih jejaka dan pinter ngaji. Mbakyuku Mahmudah ini sukses, bisa menunaikan ibadah  haji  masih dalam keadaan sehat. Tetapi suaminya sudah meninggal beberapa tahun sebelumnya.
    Kelima saudaraku Alhamdulillah semuanya rukun sejak kecil. Kami semua biasa makan bersama dan tidur bersama. Mereka semuanya menyayangi aku, sebagai adik yang terkecil. Sejak saya mondok, mereka urunan membiayai saya, bahkan urunan juga untuk memeriahkan resepsi pernikahan saya. Dalam rangka berbakti kepada kedua orang tua, agar emak dan bapak tidak repot dan susah mengurusi saya. Karena beliau berdua sudah tua dan tidak bekerja... Alhamdulillah, semua saudaraku mempunyai anak dan cucu yang sholih dan Sholihah, mas Imron (KH. Ali Imron Aqib, SH), mempunyai 4 orang anak, dua orang pria dan dua orang wanita. Yang kesemuanya sudah mempunyai anak. Sedangkan jumlah cucunya ada 13 orang anak.
    Pak Ridho (Ali Ridho Aqib, SPd). Mempunyai 4 orang anak, tiga wanita dan satu orang pria, yang kesemuanya sudah mempunyai anak. Sedangkan cucunya juga 11 orang anak. Yu Nihayah (Nyai Hj. Nihayah Abdillah), mempunyai tiga orang anak, dan semuanya pria. Semua sudah menikah, tetapi anak yang paling kecil masih belum mempunyai anak. Dengan jumlah cucu 5 orang anak.
    Mas Dhofir (KH. Mudhofir Aqib, M.Hi), mempunyai tiga orang anak, dua wanita dan satu pria. Anak perempuan yang pertama mempunyai dua orang anak yatim, karena menantunya mas Dhofir sudah meninggal dunia. Sedangkan anak perempuan yang kedua sudah meninggal dunia, dengan meninggalkan seorang anak perempuan. Jadi jumlah cucunya 3 orang anak.  Sedangkan anak bungsu mas Dhofir belum nikah.
    Mbakyuku Mahmudah anaknya tiga orang, dua perempuan dan satu laki-laki, dan cucunya 7 orang anak. Sedangkan anak saya empat orang, satu perempuan dan tiga laki-laki. Sedangkan cucu saya baru 1 orang anak perempuan.

    0 komentar:

    Tentang Kami-Pendaftaran-Contact
    Copyright © 2013 Pondok Pesantren - DARU ULIL ALBAB. Blogger Template by BloggerTheme9
    Proudly Powered by Blogger.
    back to top